Consort of A Thousand Faces
Chapter 410 : Jatuh Karena Tipuannya
Ning
Lian Chen terkekeh kecil. "Itu karena ia adalah Kakak Peri, sementara kau
bukan."
Jadi
begitu. Liu
Yin Yin mengangguk dan menjawab pelan, "Terlepas dari siapa pun itu,
mereka akan menjadi lembut ketika mereka melihat Kakak Peri. Bahkan Anda pun
begitu; Anda begitu galak padaku, tetapi kepada Kakak Peri ...."
Sebelum
ia bisa selesai, Ning Lian Chen sudah mulai menegurnya. "Omong kosong, aku
akan menghukummu untuk menulis kalimat jika kau terus bersikap membangkang."
"Kalau
begitu aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Aku tidak mau menulis kalimat.
Anda bisa menulisnya jika Anda mau." Liu Yin Yin buru-buru memelototinya
sebelum membuat jarak di antara mereka.
Kesal
dengan Ning Lian Chen, Liu Yin Yin mengabaikan tatapan dingin Pei Qian Hao
sewaktu ia berjalan ke sisi Su Xi-er dan berkata dengan manis, "Kakak
Peri, bagaimana kalau aku membantumu untuk menaburkan kelopak bunga warna merah
pada hari pernikahan?"
Liu
Yin Yin sudah mempelajari ini dari sebuah skenario lakon, tidak menyadari bahwa
Bei Min tidak punya tradisi semacam ini.
Tanpa
menunggu jawaban Su Xi-er, Ning Lian Chen menyeretnya. "Jangan mengacau.
Tidak ada kerajaan yang punya adat ini."
Namun,
Su Xi-er tersenyum. "Ide ini kedengarannya cukup bagus." Lalu, ia
menatap Pei Qian Hao. "Aku benar, kan?"
Pei
Qian Hao akan menyetujui apa pun yang dikatakan Su Xi-er. Siapa yang
peduli apakah itu adalah adat atau bukan? Kita akan melakukannya selama ia
menyukainya.
Oleh
sebab itu, Pei Qian Hao menjawab, "Jika kau menyukainya, Pangeran ini akan
memerintahkan orang untuk mengumpulkan kelopak bunga warna merah."
Ning
Lian Chen tercengang. Ini sudah musim dingin, dan bunga sudah layu.
Satu-satunya bunga yang masih bermekaran adalah bunga prem, tetapi
warnanya bukan merah, membuat mereka tidak cocok untuk digunakan dalam
pernikahan.
Namun,
orang yang paling senang adalah Liu Yin Yin, yang tersenyum seraya dengan
sombongnya menatap Ning Lian Chen. "Apa Anda dengar itu? Kakak Peri
setuju! Bayangkan saja akan seberapa meriahnya itu! Aku ingin menjadi orang
yang menaburkan kelopak bunga untuknya hari itu; itu akan menjadi sesuatu yang
hanya dimiliki pernikahan Kakak Peri, satu-satunya di dunia!"
Senyuman
tersungging di mulut Pei Qian Hao sewaktu apresiasi muncul dalam matanya.
"Kau mengatakannya dengan bagus. Pangeran ini benar-benar menyukai bagian
'satu-satunya di dunia'."
Liu
Yin Yin terkejut. Aku tidak menyangka si pria dingin akan memujiku!
Ia
menjadi lebih sombong lagi sebagai hasilnya, menyodok-nyodok Ning Lian Chen
dengan sikunya. Namun, itu tak lama sebelum Ning Lian Chen menangkap
pergelangan tangannya, memberi sinyal agar ia berhenti main-main.
"Pangeran
ini mengizinkanmu untuk bermalam di rumah pos, dan kau juga sudah berhasil
mendengarkan apa yang ingin dikatakan putri Guru Agung Liu kepadamu. Sekarang,
kau bisa kembali bersama Pangeran ini." Pei Qian Hao mengambil gaun
pengantin itu dan dengan sungguh-sungguh melipatnya.
Su
Xi-er mengangguk kepada Ning Lian Chen sebelum melihat Liu Yin Yin. "Kalau
begitu, datang dan taburkanlah kelopak bunga pada hari pernikahanku."
"Kakak
Peri, kau benar-benar baik sekali." Liu Yin Yin tersenyum penuh suka cita.
***
Akhirnya,
Pei Qian Hao meraih tangan Su Xi-er sebelum mengangguk pada Ning Lian Chen.
Kemudian, ia meninggalkan rumah pos bersama Su Xi-er, menaiki kereta kuda,
menuju ke istana kekaisaran.
Di
dalam kereta, Pei Qian Hao mengamati Su Xi-er dengan cermat, dan menyadari
bahwa roman mukanya telah membaik. Ia pasti merasa sangat bahagia dapat
bertemu dengan adik lelakinya kemarin.
"Apa
kau menyukai gaun pengantinnya?" Pei Qian Hao mendekatinya dan bertanya.
Su
Xi-er mendongakkan kepalanya. "Gaun pengantin yang dijahitkan Bibi Liu
sangat bagus, dan aku sangat menyukainya. Namun, biarpun kita menjanjikan Liu
Yin Yin bahwa ia dapat menaburkan kelopak bunga merah selama pernikahan, dimana
kita akan menemukannya sekarang karena ini musim dingin?"
"Tentu
saja Pangeran ini punya caranya." Tatapan Pei Qian Hao dalam.
Sebuah
ide muncul dalam benak Su Xi-er. "Kita bisa menggunakan sutra merah untuk
membuat bunga kain merah."
Idenya
persis sama dengan apa yang ada dalam benaknya. Pei Qian Hao memeluknya dan
menempelkan bibir hangatnya di kening Su Xi-er. "Kau sudah belajar untuk
membaca pikiran Pangeran ini."
Su
Xi-er balas memeluknya dan tertawa. "Bagaimana aku akan mengendalikanmu
jika aku tidak memahami pemikiranmu?"
(T/N
: Sekarang saya ganti sebutan Su Xi-er untuk Pei Qian Hao pakai kau/kamu ya,
karena mereka sudah mau nikah dan makin akrab. Jadi ngga ber-Anda-Anda mania lagi.
Wkwkwk.)
"Mengendalikan
Pangeran ini? Bagaimana kau berencana untuk melakukan itu? Apa kau mengacu pada
uangku, harta bendaku, atau ....?" Tatapan menggoda muncul di mata Pei
Qian Hao sewaktu ia menarik satu helaian rambut ke belakang telinga Su Xi-er.
"Aku
akan mengendalikan apa pun yang kau miliki. Jika kau takut, kau boleh minta
ampun, dan aku bisa mempertimbangkan agar bersikap lunak."
"Pangeran
ini tidak akan takut, tak peduli betapa mengendalikannya dirimu." Ia
mencium kening Su Xi-er, kemudian matanya, dan secara perlahan-lahan turun
untuk menangkap bibirnya, memperdalam ciuman itu.
Su
Xi-er membuka bibirnya untuk menerimanya, memejamkan mata selagi ia merasakan
napas hangat Pei Qian Hao di wajahnya.
Suhu
di dalam kereta kuda meningkat dengan cepat, dengan Pei Qian Hao yang
menekannya ke dinding. Tangan kanannya menyentuh sabuk di pinggang Su Xi-er,
dan dengan sedikit tarikan, tangannya menyentuh kulit halusnya.
Tangan
Pei Qian Hao terus mengelus-elus Su Xi-er, selagi ciuman mereka makin dalam,
baru berhenti ketika Su Xi-er melepaskan erangan lembut.
Mengingat
kata-kata Tabib Kekaisaran Zhao, Pei Qian Hao menekan api internalnya,
memberikan kecupan terakhir di bibir Su Xi-er sebelum mengikatkan lagi
sabuknya. Aku hampir tidak bisa mengendalikan diriku dan melakukan itu
dengannya di dalam kereta.
***
Kontras
dengan kehangatan di dalam kereta kuda, itu sepenuhnya adegan yang berbeda di
kuil pegunungan Bei Min.
Pei
Ya Ran sudah tinggal di kuil selama berhari-hari, tetapi masih belum melihat
ataupun mendengarkan kabar dari Xie Yun. Tanpa adanya informasi dan teman,
bukan hanya ia merasa kesepian, tetapi menjadi semakin resah!
Apakah
mereka mengirimkan pengawal untuk mencariku? Masih bisakah Pei Qian Hao dan Su
Xi-er menikah? Semakin
ia memikirkan tentang itu, semakin cemas pulalah dirinya. Aku tidak
bisa tetap berada di sini begitu saja.
Ia
memutuskan untuk mengurusnya sendiri, tetapi dihentikan di pintu masuk halaman
tempatnya tinggal oleh salah satu pengawal dari Kediaman Commandery
Prince.
"Ibu
Suri ini ingin meninggalkan pegunungan!" Pei Ya Ran mengibaskan lengan
jubahnya dan memandang tajam pada si pengawal.
"Commandery
Prince sudah memerintahkan bahwa Anda tidak boleh meninggalkan
pegunungan, Ibu Suri."
"Ibu
Suri ini juga punya perintah! Aku harus meninggalkan pegunungan. Minggir!"
Pei Ya Ran melangkah ke samping, berencana untuk keluar dari pintu.
Akan
tetapi, si pengawal pun menghadangnya lagi. "Ibu Suri, apabila Anda
bersikeras untuk meninggalkan pegunungan, bawahan ini hanya bisa terpaksa
menggunakan kekerasan." Ia menghunuskan pedang di pinggangnya untuk
memperlihatkan maksudnya.
Ekspresi
Pei Ya Ran menegang. Xie Yun! Sulit dipercaya bahwa ia memerintahkan
para pengawal supaya memperlakukanku seperti ini! Bagaimana bisa aku jatuh
dalam tipuannya?! Tinggal di sebuah tempat yang dikelilingi oleh gunung, mirip
dengan ditahan! Bagaimana mungkin aku sebodoh ini hingga dengan
mudah memercayainya?
Aku
harus mencari cara untuk pergi. Jika memaksakan jalanku tidak bekerja, maka aku
akan menunggu kesempatan ketika para pengawal tidak memerhatikan untuk
menyelinap keluar secara diam-diam!
Dengan
keputusannya yang diambil, Pei Ya Ran berpura-pura mengalah, dan berbalik
kembali ke kamarnya. Ia tinggal di sana sepanjang hari, menunggu sampai malam
turun sebelum meminta untuk mengikuti sang kepala biara ke aula Buddha.
Pengawal
itu tidak begitu memedulikannya, dan hanya membiarkannya melakukan itu.
Setelah
masuk sebentar, Pei Ya Ran berbohong bahwa perutnya merasa sakit, dan dibawa ke
pintu belakang.
Si
pengawal terus menunggu di luar pintu masuk aula Buddha untuk waktu yang sangat
lama. Hanya ketika si kepala biara datang dan memberitahukannya kalau Pei Ya
Ran sudah menghilang, barulah ia segera turun gunung untuk mencarinya.
***
Sementara
itu, Pei Ya Ran sedang menapaki jalan pegunungan. Keadaan sekitarnya berselimut
kegelapan, dan pekikan dari berbagai macam serangga pun menakutinya. Namun,
segera setelah wajah Su Xi-er melintas dalam benaknya, kebencian menggantikan
rasa takutnya.
Setelah
waktu yang lama, ia mendadak mendengarkan suara langkah kaki yang mendekat.
Takut kalau ia akan tertangkap dan dibawa kembali ke kuil, ia memanjat satu
lereng dan masuk ke dalam semak-semak.
Jantungnya
berdebar-debar dengan kencang di dadanya tanpa adanya jalan untuk diikuti, dan
ia baru saja mengambil beberapa langkah sebelum ia tersandung sebongkah batu.
"Ah!"
Ia mendengking selagi berguling tak terkendali turun dari lereng. Kepalanya
membentur sebongkah batu besar dalam perjalanan turunnya, langsung membuatnya
pingsan.
Mendengarkan
jeritannya, si pengawal langsung berjalan masuk ke dalam hutan, tetapi tidak
menemukan siapa-siapa. Aku harus melaporkan pada Commandery Prince Xie
bahwa Ibu Suri sudah diam-diam turun gunung sendiri!

0 comments:
Posting Komentar