Sabtu, 27 Juni 2026

CTF - Chapter 410

Consort of A Thousand Faces

Chapter 410 : Jatuh Karena Tipuannya


Ning Lian Chen terkekeh kecil. "Itu karena ia adalah Kakak Peri, sementara kau bukan."

Jadi begitu. Liu Yin Yin mengangguk dan menjawab pelan, "Terlepas dari siapa pun itu, mereka akan menjadi lembut ketika mereka melihat Kakak Peri. Bahkan Anda pun begitu; Anda begitu galak padaku, tetapi kepada Kakak Peri ...."

Sebelum ia bisa selesai, Ning Lian Chen sudah mulai menegurnya. "Omong kosong, aku akan menghukummu untuk menulis kalimat jika kau terus bersikap membangkang."

"Kalau begitu aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Aku tidak mau menulis kalimat. Anda bisa menulisnya jika Anda mau." Liu Yin Yin buru-buru memelototinya sebelum membuat jarak di antara mereka.

Kesal dengan Ning Lian Chen, Liu Yin Yin mengabaikan tatapan dingin Pei Qian Hao sewaktu ia berjalan ke sisi Su Xi-er dan berkata dengan manis, "Kakak Peri, bagaimana kalau aku membantumu untuk menaburkan kelopak bunga warna merah pada hari pernikahan?"

Liu Yin Yin sudah mempelajari ini dari sebuah skenario lakon, tidak menyadari bahwa Bei Min tidak punya tradisi semacam ini.

Tanpa menunggu jawaban Su Xi-er, Ning Lian Chen menyeretnya. "Jangan mengacau. Tidak ada kerajaan yang punya adat ini."

Namun, Su Xi-er tersenyum. "Ide ini kedengarannya cukup bagus." Lalu, ia menatap Pei Qian Hao. "Aku benar, kan?"

Pei Qian Hao akan menyetujui apa pun yang dikatakan Su Xi-er. Siapa yang peduli apakah itu adalah adat atau bukan? Kita akan melakukannya selama ia menyukainya.

Oleh sebab itu, Pei Qian Hao menjawab, "Jika kau menyukainya, Pangeran ini akan memerintahkan orang untuk mengumpulkan kelopak bunga warna merah."

Ning Lian Chen tercengang. Ini sudah musim dingin, dan bunga sudah layu. Satu-satunya bunga yang masih bermekaran adalah bunga prem, tetapi warnanya bukan merah, membuat mereka tidak cocok untuk digunakan dalam pernikahan.

Namun, orang yang paling senang adalah Liu Yin Yin, yang tersenyum seraya dengan sombongnya menatap Ning Lian Chen. "Apa Anda dengar itu? Kakak Peri setuju! Bayangkan saja akan seberapa meriahnya itu! Aku ingin menjadi orang yang menaburkan kelopak bunga untuknya hari itu; itu akan menjadi sesuatu yang hanya dimiliki pernikahan Kakak Peri, satu-satunya di dunia!"

Senyuman tersungging di mulut Pei Qian Hao sewaktu apresiasi muncul dalam matanya. "Kau mengatakannya dengan bagus. Pangeran ini benar-benar menyukai bagian 'satu-satunya di dunia'."

Liu Yin Yin terkejut. Aku tidak menyangka si pria dingin akan memujiku!

Ia menjadi lebih sombong lagi sebagai hasilnya, menyodok-nyodok Ning Lian Chen dengan sikunya. Namun, itu tak lama sebelum Ning Lian Chen menangkap pergelangan tangannya, memberi sinyal agar ia berhenti main-main.

"Pangeran ini mengizinkanmu untuk bermalam di rumah pos, dan kau juga sudah berhasil mendengarkan apa yang ingin dikatakan putri Guru Agung Liu kepadamu. Sekarang, kau bisa kembali bersama Pangeran ini." Pei Qian Hao mengambil gaun pengantin itu dan dengan sungguh-sungguh melipatnya.

Su Xi-er mengangguk kepada Ning Lian Chen sebelum melihat Liu Yin Yin. "Kalau begitu, datang dan taburkanlah kelopak bunga pada hari pernikahanku."

"Kakak Peri, kau benar-benar baik sekali." Liu Yin Yin tersenyum penuh suka cita.

***

Akhirnya, Pei Qian Hao meraih tangan Su Xi-er sebelum mengangguk pada Ning Lian Chen. Kemudian, ia meninggalkan rumah pos bersama Su Xi-er, menaiki kereta kuda, menuju ke istana kekaisaran.

Di dalam kereta, Pei Qian Hao mengamati Su Xi-er dengan cermat, dan menyadari bahwa roman mukanya telah membaik. Ia pasti merasa sangat bahagia dapat bertemu dengan adik lelakinya kemarin.

"Apa kau menyukai gaun pengantinnya?" Pei Qian Hao mendekatinya dan bertanya.

Su Xi-er mendongakkan kepalanya. "Gaun pengantin yang dijahitkan Bibi Liu sangat bagus, dan aku sangat menyukainya. Namun, biarpun kita menjanjikan Liu Yin Yin bahwa ia dapat menaburkan kelopak bunga merah selama pernikahan, dimana kita akan menemukannya sekarang karena ini musim dingin?"

"Tentu saja Pangeran ini punya caranya." Tatapan Pei Qian Hao dalam.

Sebuah ide muncul dalam benak Su Xi-er. "Kita bisa menggunakan sutra merah untuk membuat bunga kain merah."

Idenya persis sama dengan apa yang ada dalam benaknya. Pei Qian Hao memeluknya dan menempelkan bibir hangatnya di kening Su Xi-er. "Kau sudah belajar untuk membaca pikiran Pangeran ini."

Su Xi-er balas memeluknya dan tertawa. "Bagaimana aku akan mengendalikanmu jika aku tidak memahami pemikiranmu?"

(T/N : Sekarang saya ganti sebutan Su Xi-er untuk Pei Qian Hao pakai kau/kamu ya, karena mereka sudah mau nikah dan makin akrab. Jadi ngga ber-Anda-Anda mania lagi. Wkwkwk.)

"Mengendalikan Pangeran ini? Bagaimana kau berencana untuk melakukan itu? Apa kau mengacu pada uangku, harta bendaku, atau ....?" Tatapan menggoda muncul di mata Pei Qian Hao sewaktu ia menarik satu helaian rambut ke belakang telinga Su Xi-er.

"Aku akan mengendalikan apa pun yang kau miliki. Jika kau takut, kau boleh minta ampun, dan aku bisa mempertimbangkan agar bersikap lunak."

"Pangeran ini tidak akan takut, tak peduli betapa mengendalikannya dirimu." Ia mencium kening Su Xi-er, kemudian matanya, dan secara perlahan-lahan turun untuk menangkap bibirnya, memperdalam ciuman itu.

Su Xi-er membuka bibirnya untuk menerimanya, memejamkan mata selagi ia merasakan napas hangat Pei Qian Hao di wajahnya.

Suhu di dalam kereta kuda meningkat dengan cepat, dengan Pei Qian Hao yang menekannya ke dinding. Tangan kanannya menyentuh sabuk di pinggang Su Xi-er, dan dengan sedikit tarikan, tangannya menyentuh kulit halusnya.

Tangan Pei Qian Hao terus mengelus-elus Su Xi-er, selagi ciuman mereka makin dalam, baru berhenti ketika Su Xi-er melepaskan erangan lembut.

Mengingat kata-kata Tabib Kekaisaran Zhao, Pei Qian Hao menekan api internalnya, memberikan kecupan terakhir di bibir Su Xi-er sebelum mengikatkan lagi sabuknya. Aku hampir tidak bisa mengendalikan diriku dan melakukan itu dengannya di dalam kereta.

***

Kontras dengan kehangatan di dalam kereta kuda, itu sepenuhnya adegan yang berbeda di kuil pegunungan Bei Min.

Pei Ya Ran sudah tinggal di kuil selama berhari-hari, tetapi masih belum melihat ataupun mendengarkan kabar dari Xie Yun. Tanpa adanya informasi dan teman, bukan hanya ia merasa kesepian, tetapi menjadi semakin resah!

Apakah mereka mengirimkan pengawal untuk mencariku? Masih bisakah Pei Qian Hao dan Su Xi-er menikah? Semakin ia memikirkan tentang itu, semakin cemas pulalah dirinya. Aku tidak bisa tetap berada di sini begitu saja.

Ia memutuskan untuk mengurusnya sendiri, tetapi dihentikan di pintu masuk halaman tempatnya tinggal oleh salah satu pengawal dari Kediaman Commandery Prince.

"Ibu Suri ini ingin meninggalkan pegunungan!" Pei Ya Ran mengibaskan lengan jubahnya dan memandang tajam pada si pengawal.

"Commandery Prince sudah memerintahkan bahwa Anda tidak boleh meninggalkan pegunungan, Ibu Suri."

"Ibu Suri ini juga punya perintah! Aku harus meninggalkan pegunungan. Minggir!" Pei Ya Ran melangkah ke samping, berencana untuk keluar dari pintu.

Akan tetapi, si pengawal pun menghadangnya lagi. "Ibu Suri, apabila Anda bersikeras untuk meninggalkan pegunungan, bawahan ini hanya bisa terpaksa menggunakan kekerasan." Ia menghunuskan pedang di pinggangnya untuk memperlihatkan maksudnya.

Ekspresi Pei Ya Ran menegang. Xie Yun! Sulit dipercaya bahwa ia memerintahkan para pengawal supaya memperlakukanku seperti ini! Bagaimana bisa aku jatuh dalam tipuannya?! Tinggal di sebuah tempat yang dikelilingi oleh gunung, mirip dengan ditahan! Bagaimana mungkin aku sebodoh ini hingga dengan mudah memercayainya?

Aku harus mencari cara untuk pergi. Jika memaksakan jalanku tidak bekerja, maka aku akan menunggu kesempatan ketika para pengawal tidak memerhatikan untuk menyelinap keluar secara diam-diam!

Dengan keputusannya yang diambil, Pei Ya Ran berpura-pura mengalah, dan berbalik kembali ke kamarnya. Ia tinggal di sana sepanjang hari, menunggu sampai malam turun sebelum meminta untuk mengikuti sang kepala biara ke aula Buddha.

Pengawal itu tidak begitu memedulikannya, dan hanya membiarkannya melakukan itu.

Setelah masuk sebentar, Pei Ya Ran berbohong bahwa perutnya merasa sakit, dan dibawa ke pintu belakang.

Si pengawal terus menunggu di luar pintu masuk aula Buddha untuk waktu yang sangat lama. Hanya ketika si kepala biara datang dan memberitahukannya kalau Pei Ya Ran sudah menghilang, barulah ia segera turun gunung untuk mencarinya.

***

Sementara itu, Pei Ya Ran sedang menapaki jalan pegunungan. Keadaan sekitarnya berselimut kegelapan, dan pekikan dari berbagai macam serangga pun menakutinya. Namun, segera setelah wajah Su Xi-er melintas dalam benaknya, kebencian menggantikan rasa takutnya.

Setelah waktu yang lama, ia mendadak mendengarkan suara langkah kaki yang mendekat. Takut kalau ia akan tertangkap dan dibawa kembali ke kuil, ia memanjat satu lereng dan masuk ke dalam semak-semak.

Jantungnya berdebar-debar dengan kencang di dadanya tanpa adanya jalan untuk diikuti, dan ia baru saja mengambil beberapa langkah sebelum ia tersandung sebongkah batu.

"Ah!" Ia mendengking selagi berguling tak terkendali turun dari lereng. Kepalanya membentur sebongkah batu besar dalam perjalanan turunnya, langsung membuatnya pingsan.

Mendengarkan jeritannya, si pengawal langsung berjalan masuk ke dalam hutan, tetapi tidak menemukan siapa-siapa. Aku harus melaporkan pada Commandery Prince Xie bahwa Ibu Suri sudah diam-diam turun gunung sendiri!

 

0 comments:

Posting Komentar