Consort of A Thousand Faces
Chapter 411 : Liontin Giok
Keesokan
harinya, sebagian besarnya, tubuh Tan Ge sudah pulih, dan ia merasa bertenaga
setelah mendapatkan kembali seluruh energinya. Ia juga sudah selesai
menjahitkan saputangan, dan hanya sedang menunggu Su Xi-er untuk datang ke
Perpustakaan Kekaisaran untuk mengambilnya. Warnanya merah, dengan sulaman
bunga anggrek di sudut bawahnya.
Bunga
ini mencerminkan kesan Tan Ge terhadap Su Xi-er. Sifat elegan dan luhur
yang langka, menarik orang lain dengan wataknya yang unik.
Secara
tulus ia menjahitkan saputangan itu, setiap benangnya mencakup restunya untuk
Su Xi-er. Meski jika mereka berdua menapaki jalan yang berbeda, ia tetap
menghormati Su Xi-er.
Dengan
tubuhnya yang sudah hampir sembuh, Tan Ge memutuskan bahwa itu saatnya bagi
dirinya untuk bekerja. Oleh sebab itu, ia meletakkan saputangan tersebut di
bawah bantalnya dan meninggalkan kamar.
Guru
Agung Kong kebetulan lewat dan melihatnya. "Bagaimana keadaanmu?"
"Jauh
lebih baik. Hamba bisa bekerja sekarang." Tan Ge menjawab dengan hormat.
Guru
Agung Kong mengangguk. "Kalau begitu, lakukan sesuatu yang ringan saja.
Pergi dan ambilkan dua sapu baru dari Departemen Rumah Tangga Kekaisaran."
"Hamba
mematuhi perintah." Tan Ge membungkuk dan pergi.
Melihat
ke Perpustakaan Kekaisaran, Guru Agung Kong pun menghela napas. Dikarenakan
hujan deras, Ruo Yuan dan Hong Li harus cepat-cepat menurunkan sutra merahnya.
Ahli Geomansi Cina mengatakan bahwa tidak akan turun hujan
selama beberapa hari ke depan, setelah mengamati penampakan meteorologi, jadi
aku harus meminta mereka agar menggantungkannya kembali hari ini.
(T/N
: Dikenal juga sebagai Fengsui.)
Tepat
selagi ide itu terlintas dalam benaknya, ia melihat Ruo Yuan dan Hong Li sedang
membawa sejumlah kain sutra merah di tangan mereka, bersiap untuk
menggantungkannya.
***
Sementara
itu, Tan Ge sudah sampai di Departemen Rumah Tangga Kekaisaran. Setelah
menjelaskan tujuan dari kedatangannya, kasim di pintu masuk pun membiarkannya
masuk.
"Sapu
ada di ruang penyimpanan yang terletak di halaman belakang Departemen Rumah
Tangga Kekasiaran." Si kasim menunjukkan satu arah.
Tan
Ge berterima kasih padanya dan berjalan ke halaman belakang, secara kebetulan
mendengar dua dayang istana yang sedang menggerutu sambil memindahkan beberapa
benda ke ruangan lain. "Kita harus mengelap semua debu di rak itu hari
ini, tetapi itu juga bukannya benda-benda yang ada di dalam sana
berharga."
"Jangan
bilang begitu. Ini adalah benda-benda yang dibawa dari rumah oleh setiap dayang
istana ketika mereka memasuki istana. Saat aku tiba, aku membawa sebuah tusuk
rambut yang diwariskan oleh leluhurku."
"Berapa
banyak uang yang bisa kau tukarkan dengan tusuk rambut itu?"
"Meski
jika itu tidak berharga, itu adalah kenang-kenangan." Si dayang istana
maju ke depan, bersiap untuk mengambil sebuah kemoceng dari ruang penyimpanan.
Tan
Ge melihat mereka berdua pergi, sementara membiarkan pintu ruangan tempat
mereka berada tadi terbuka lebar. Ada kilatan di matanya, dan setelah
memastikan tidak ada orang di sekitar, ia cepat-cepat menyelinap masuk.
Ada
deretan rak tinggi dan besar, dengan nama dari tiap dayang istana yang
ditempelkan pada buntalan kain kecil yang membungkus mereka. Setiap bagiannya
diberi label dengan nama-nama dari berbagai istana.
Tan
Ge segera melihat bagian untuk Perpustakaan Kekaisaran. Karena hanya ada
beberapa dayang istana di Perpustakaan Kekaisaran, tidak butuh usaha baginya
untuk menemukan buntalan kain milik Su Xi-er.
Karena
kedua dayang istana itu masih belum kembali, ia segera menurunkan buntalan kain
itu.
Tan
Ge tahu bahwa, selain dari benda-benda yang dibawa dari rumah mereka, setiap
buntalan kain dayang istana akan mengandung selembar kertas yang menyatakan
informasi kelahiran mereka, alamat rumah, dan keadaan dari orang tua mereka.
Ia
ingin menjadi lebih kuat, tetapi ia mengerti bahwa saat ini ia sangat jauh dari
tujuannya. Aku harus berpura-pura untuk mematuhi Xie Yun, jadi aku
harus menyelesaikan tugas yang diberikan olehnya. Barulah setelahnya, aku bisa
membuatnya lengah.
Dengan
cepat membuka buntalan kain itu, Tan Ge melihat ada sebuah kantong kecil di
dalamnya, berisi liontin giok hijau. Itu dibuat dengan indah, dan sangat halus
dan bundar.
Ia
berusaha untuk melihat lebih cermat pada huruf yang tidak terlihat yang terukir
di pinggir liontin giok tersebut, tetapi terlalu pudar baginya untuk bisa
melihat apa-apa.
Aku
harus cepat; tidak ada banyak waktu yang tersisa sebelum dayang-dayang istana
itu kembali. Dengan
cepat ia mengeluarkan selembar kertas di dalam buntalan dan membacanya, matanya
melebar. Keluarga yang miskin, masa kecil yang tragis. Seseorang yang
berlatar belakang seperti ini, seharusnya tidak memiliki liontin giok semacam
ini!
Selama
masa-masa kejayaan Kediaman Tan dulu, Tan Ge menjadi ahli dalam membedakan giok
dan hiasan-hiasan rambut sebagai si Nona Pertama. Ia mengidentifikasi bahwa
liontin giok itu terbuat dari kualitas terbaik segera setelah ia menyentuhnya.
Namun,
bagaimana mungkin bagi sebuah keluarga yang bahkan tak sanggup memenuhi
kebutuhan pokok mereka, memiliki liontin giok seperti ini?! Tercengang,
Tan Ge memasukkan liontin giok itu ke dalam lengan bajunya, mengikat buntalan
kain itu, dan dengan cepat mengembalikannya pada posisinya semula di atas rak.
Dua
dayang istana itu sudah kembali membawa kemoceng, dan tertegun ketika mereka
melihat Tan Ge.
Segera
saja, salah satu dayang istana bertanya. "Kenapa kau di sini? Kau bukanlah
dayang istana dari Departemen Rumah Tangga Kekaisaran. Apa kau tidak tahu bahwa
orang biasa tidak boleh masuk kemari?"
Tan
Ge berpura-pura takut. "Aku adalah dayang dari Perpustakaan Kekaisaran.
Guru Agung Kong memerintahkanku agar datang dan mengambil sapu, tetapi aku
tidak tahu dimana ruang penyimpanannya. Ketika aku melihat pintunya dibiarkan
terbuka dengan sederetan rak di dalamnya, aku kira ini adalah tempat yang
tepat. Aku minta maaf karena salah masuk."
"Salah
masuk? Kau benar-benar terlalu bernyali. Jika Kasim Zhang mengetahuinya, kau
pasti akan mendapatkan pukulan papan. Cepatlah pergi, aku akan menganggap
seolah aku tidak pernah melihatmu." Dayang istana lainnya mengangkat
kemoceng tersebut, menatapnya tajam, berusaha untuk menakutinya.
Tan
Ge mengangguk berulang kali. "Aku akan keluar sekarang juga." Dengan
cepat ia melesat keluar dari ruangan tersebut dan pergi ke ruang penyimpanan.
"Mengapa
kau tidak melaporkan ini pada Kasim Zhang? Tidak ada yang boleh masuk ke
ruangan ini tanpa izin."
Dayang
istana yang menakuti Tan Ge barusan ini menggelengkan kepalanya pada temannya.
"Ia adalah seorang dayang dari Perpustakaan Kekaisaran; Hao Wang
Fei adalah seorang court lady dari Perpustakaan
Kekaisaran. Bagaimana kalau mereka punya hubungan yang baik? Apakah kita
sanggup menyinggung orangnya Hao Wang Fei?"
Temannya
langsung mengerti. "Kau memang lebih teliti. Aku hampir saja ingin
memukulinya."
Tiba-tiba
saja, seorang pria tinggi memasuki ruangan.
Ketika
kedua dayang istana itu berbalik dan melihat siapakah itu, mereka segera
membungkuk. "Hamba memberi hormat kepada Komandan Wu."
Wu
Ling mengangkat tangannya untuk memberi sinyal agar mereka bangun. "Cepat
bersihkan tempat ini dan rapikan barang-barangnya." Kemudian, ia berjalan
ke satu rak yang ada di samping.
Pei
Qian Hao telah memerintahkannya untuk datang dan mengambil barang-barang Su
Xi-er. Sudah pernah dikirim untuk menyelidiki Su Xi-er, tentunya Wu Ling sudah
pernah kemari sebelumnya, karena itulah, mengetahui latar belakang mengenaskan
Su Xi-er dari buntalan kain dan catatan Departemen Rumah Tangga Kekaisaran. Ia
bahkan sampai pergi ke kampung halaman Su Xi-er untuk memastikan informasi tersebut.
Akan
tetapi, Wu Ling tidak menyadari bahwa ada sebuah liontin giok di dalam buntalan
kain itu, karena perhatiannya terfokus pada selembar kertas yang berisi
informasi pribadi Su Xi-er.
Wu
Ling menemukan buntalan kain Su Xi-er dan membawanya turun dari rak. Pangeran
Hao memerintahkan agar semua bukti tentang latar belakang Su Xi-er dihancurkan.
Dengan
semua bukti yang dibakar, tentunya ia harus menyerahkan buntalan kain itu
kepada Pei Qian Hao untuk diamankan.
Setelah
melipat buntalan kain itu, Wu Ling menaruhnya di dalam lengan jubahnya yang
lebar dan meninggalkan Departemen Rumah Tangga Kekaisaran, melihat Tan Ge di
depannya.
Ia
berjalan dengan langkah yang lambat karena ia masih belum sepenuhnya pulih,
membuat Wu Ling bisa menyusulnya dan memanggilnya.
Tan
Ge tersesat dalam pikirannya ketika panggilan dadakan itu membawanya kembali
pada realita. Kembali ke akal sehatnya, ia segera membungkuk. "Hamba
memberi hormat kepada Komandan Wu."
Wu
Ling melihat sapu di tangannya. "Kau masih belum sepenuhnya pulih, tetapi
Guru Agung Kong sudah menyuruhmu untuk mengambil barang dari Departemen Rumah
Tangga Kekaisaran?"
"Hanya
ada sedikit orang di Perpustakaan Kekaisaran. Kini, karena hamba sudah
mendingan, aku harus mulai bekerja sekarang juga." Ada sedikit senyuman di
sudut mulutnya. "Ruo Yuan dan Hong Li seharusnya sedang menggantungkan
sutra merah hari ini."

0 comments:
Posting Komentar