Sabtu, 27 Juni 2026

CTF - Chapter 411

Consort of A Thousand Faces

Chapter 411 : Liontin Giok


Keesokan harinya, sebagian besarnya, tubuh Tan Ge sudah pulih, dan ia merasa bertenaga setelah mendapatkan kembali seluruh energinya. Ia juga sudah selesai menjahitkan saputangan, dan hanya sedang menunggu Su Xi-er untuk datang ke Perpustakaan Kekaisaran untuk mengambilnya. Warnanya merah, dengan sulaman bunga anggrek di sudut bawahnya.

Bunga ini mencerminkan kesan Tan Ge terhadap Su Xi-er. Sifat elegan dan luhur yang langka, menarik orang lain dengan wataknya yang unik.

Secara tulus ia menjahitkan saputangan itu, setiap benangnya mencakup restunya untuk Su Xi-er. Meski jika mereka berdua menapaki jalan yang berbeda, ia tetap menghormati Su Xi-er.

Dengan tubuhnya yang sudah hampir sembuh, Tan Ge memutuskan bahwa itu saatnya bagi dirinya untuk bekerja. Oleh sebab itu, ia meletakkan saputangan tersebut di bawah bantalnya dan meninggalkan kamar.

Guru Agung Kong kebetulan lewat dan melihatnya. "Bagaimana keadaanmu?"

"Jauh lebih baik. Hamba bisa bekerja sekarang." Tan Ge menjawab dengan hormat.

Guru Agung Kong mengangguk. "Kalau begitu, lakukan sesuatu yang ringan saja. Pergi dan ambilkan dua sapu baru dari Departemen Rumah Tangga Kekaisaran."

"Hamba mematuhi perintah." Tan Ge membungkuk dan pergi.

Melihat ke Perpustakaan Kekaisaran, Guru Agung Kong pun menghela napas. Dikarenakan hujan deras, Ruo Yuan dan Hong Li harus cepat-cepat menurunkan sutra merahnya. Ahli Geomansi Cina mengatakan bahwa tidak akan turun hujan selama beberapa hari ke depan, setelah mengamati penampakan meteorologi, jadi aku harus meminta mereka agar menggantungkannya kembali hari ini.

(T/N : Dikenal juga sebagai Fengsui.)

Tepat selagi ide itu terlintas dalam benaknya, ia melihat Ruo Yuan dan Hong Li sedang membawa sejumlah kain sutra merah di tangan mereka, bersiap untuk menggantungkannya.

***

Sementara itu, Tan Ge sudah sampai di Departemen Rumah Tangga Kekaisaran. Setelah menjelaskan tujuan dari kedatangannya, kasim di pintu masuk pun membiarkannya masuk.

"Sapu ada di ruang penyimpanan yang terletak di halaman belakang Departemen Rumah Tangga Kekasiaran." Si kasim menunjukkan satu arah.

Tan Ge berterima kasih padanya dan berjalan ke halaman belakang, secara kebetulan mendengar dua dayang istana yang sedang menggerutu sambil memindahkan beberapa benda ke ruangan lain. "Kita harus mengelap semua debu di rak itu hari ini, tetapi itu juga bukannya benda-benda yang ada di dalam sana berharga."

"Jangan bilang begitu. Ini adalah benda-benda yang dibawa dari rumah oleh setiap dayang istana ketika mereka memasuki istana. Saat aku tiba, aku membawa sebuah tusuk rambut yang diwariskan oleh leluhurku."

"Berapa banyak uang yang bisa kau tukarkan dengan tusuk rambut itu?"

"Meski jika itu tidak berharga, itu adalah kenang-kenangan." Si dayang istana maju ke depan, bersiap untuk mengambil sebuah kemoceng dari ruang penyimpanan.

Tan Ge melihat mereka berdua pergi, sementara membiarkan pintu ruangan tempat mereka berada tadi terbuka lebar. Ada kilatan di matanya, dan setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, ia cepat-cepat menyelinap masuk.

Ada deretan rak tinggi dan besar, dengan nama dari tiap dayang istana yang ditempelkan pada buntalan kain kecil yang membungkus mereka. Setiap bagiannya diberi label dengan nama-nama dari berbagai istana.

Tan Ge segera melihat bagian untuk Perpustakaan Kekaisaran. Karena hanya ada beberapa dayang istana di Perpustakaan Kekaisaran, tidak butuh usaha baginya untuk menemukan buntalan kain milik Su Xi-er.

Karena kedua dayang istana itu masih belum kembali, ia segera menurunkan buntalan kain itu.

Tan Ge tahu bahwa, selain dari benda-benda yang dibawa dari rumah mereka, setiap buntalan kain dayang istana akan mengandung selembar kertas yang menyatakan informasi kelahiran mereka, alamat rumah, dan keadaan dari orang tua mereka.

Ia ingin menjadi lebih kuat, tetapi ia mengerti bahwa saat ini ia sangat jauh dari tujuannya. Aku harus berpura-pura untuk mematuhi Xie Yun, jadi aku harus menyelesaikan tugas yang diberikan olehnya. Barulah setelahnya, aku bisa membuatnya lengah.

Dengan cepat membuka buntalan kain itu, Tan Ge melihat ada sebuah kantong kecil di dalamnya, berisi liontin giok hijau. Itu dibuat dengan indah, dan sangat halus dan bundar.

Ia berusaha untuk melihat lebih cermat pada huruf yang tidak terlihat yang terukir di pinggir liontin giok tersebut, tetapi terlalu pudar baginya untuk bisa melihat apa-apa.

Aku harus cepat; tidak ada banyak waktu yang tersisa sebelum dayang-dayang istana itu kembali. Dengan cepat ia mengeluarkan selembar kertas di dalam buntalan dan membacanya, matanya melebar. Keluarga yang miskin, masa kecil yang tragis. Seseorang yang berlatar belakang seperti ini, seharusnya tidak memiliki liontin giok semacam ini!

Selama masa-masa kejayaan Kediaman Tan dulu, Tan Ge menjadi ahli dalam membedakan giok dan hiasan-hiasan rambut sebagai si Nona Pertama. Ia mengidentifikasi bahwa liontin giok itu terbuat dari kualitas terbaik segera setelah ia menyentuhnya.

Namun, bagaimana mungkin bagi sebuah keluarga yang bahkan tak sanggup memenuhi kebutuhan pokok mereka, memiliki liontin giok seperti ini?! Tercengang, Tan Ge memasukkan liontin giok itu ke dalam lengan bajunya, mengikat buntalan kain itu, dan dengan cepat mengembalikannya pada posisinya semula di atas rak.

Dua dayang istana itu sudah kembali membawa kemoceng, dan tertegun ketika mereka melihat Tan Ge.

Segera saja, salah satu dayang istana bertanya. "Kenapa kau di sini? Kau bukanlah dayang istana dari Departemen Rumah Tangga Kekaisaran. Apa kau tidak tahu bahwa orang biasa tidak boleh masuk kemari?"

Tan Ge berpura-pura takut. "Aku adalah dayang dari Perpustakaan Kekaisaran. Guru Agung Kong memerintahkanku agar datang dan mengambil sapu, tetapi aku tidak tahu dimana ruang penyimpanannya. Ketika aku melihat pintunya dibiarkan terbuka dengan sederetan rak di dalamnya, aku kira ini adalah tempat yang tepat. Aku minta maaf karena salah masuk."

"Salah masuk? Kau benar-benar terlalu bernyali. Jika Kasim Zhang mengetahuinya, kau pasti akan mendapatkan pukulan papan. Cepatlah pergi, aku akan menganggap seolah aku tidak pernah melihatmu." Dayang istana lainnya mengangkat kemoceng tersebut, menatapnya tajam, berusaha untuk menakutinya.

Tan Ge mengangguk berulang kali. "Aku akan keluar sekarang juga." Dengan cepat ia melesat keluar dari ruangan tersebut dan pergi ke ruang penyimpanan.

"Mengapa kau tidak melaporkan ini pada Kasim Zhang? Tidak ada yang boleh masuk ke ruangan ini tanpa izin."

Dayang istana yang menakuti Tan Ge barusan ini menggelengkan kepalanya pada temannya. "Ia adalah seorang dayang dari Perpustakaan Kekaisaran; Hao Wang Fei adalah seorang court lady dari Perpustakaan Kekaisaran. Bagaimana kalau mereka punya hubungan yang baik? Apakah kita sanggup menyinggung orangnya Hao Wang Fei?"

Temannya langsung mengerti. "Kau memang lebih teliti. Aku hampir saja ingin memukulinya."

Tiba-tiba saja, seorang pria tinggi memasuki ruangan.

Ketika kedua dayang istana itu berbalik dan melihat siapakah itu, mereka segera membungkuk. "Hamba memberi hormat kepada Komandan Wu."

Wu Ling mengangkat tangannya untuk memberi sinyal agar mereka bangun. "Cepat bersihkan tempat ini dan rapikan barang-barangnya." Kemudian, ia berjalan ke satu rak yang ada di samping.

Pei Qian Hao telah memerintahkannya untuk datang dan mengambil barang-barang Su Xi-er. Sudah pernah dikirim untuk menyelidiki Su Xi-er, tentunya Wu Ling sudah pernah kemari sebelumnya, karena itulah, mengetahui latar belakang mengenaskan Su Xi-er dari buntalan kain dan catatan Departemen Rumah Tangga Kekaisaran. Ia bahkan sampai pergi ke kampung halaman Su Xi-er untuk memastikan informasi tersebut.

Akan tetapi, Wu Ling tidak menyadari bahwa ada sebuah liontin giok di dalam buntalan kain itu, karena perhatiannya terfokus pada selembar kertas yang berisi informasi pribadi Su Xi-er.

Wu Ling menemukan buntalan kain Su Xi-er dan membawanya turun dari rak. Pangeran Hao memerintahkan agar semua bukti tentang latar belakang Su Xi-er dihancurkan.

Dengan semua bukti yang dibakar, tentunya ia harus menyerahkan buntalan kain itu kepada Pei Qian Hao untuk diamankan.

Setelah melipat buntalan kain itu, Wu Ling menaruhnya di dalam lengan jubahnya yang lebar dan meninggalkan Departemen Rumah Tangga Kekaisaran, melihat Tan Ge di depannya.

Ia berjalan dengan langkah yang lambat karena ia masih belum sepenuhnya pulih, membuat Wu Ling bisa menyusulnya dan memanggilnya.

Tan Ge tersesat dalam pikirannya ketika panggilan dadakan itu membawanya kembali pada realita. Kembali ke akal sehatnya, ia segera membungkuk. "Hamba memberi hormat kepada Komandan Wu."

Wu Ling melihat sapu di tangannya. "Kau masih belum sepenuhnya pulih, tetapi Guru Agung Kong sudah menyuruhmu untuk mengambil barang dari Departemen Rumah Tangga Kekaisaran?"

"Hanya ada sedikit orang di Perpustakaan Kekaisaran. Kini, karena hamba sudah mendingan, aku harus mulai bekerja sekarang juga." Ada sedikit senyuman di sudut mulutnya. "Ruo Yuan dan Hong Li seharusnya sedang menggantungkan sutra merah hari ini."

 

0 comments:

Posting Komentar