Sabtu, 27 Juni 2026

CTF - Chapter 416

Consort of A Thousand Faces

Chapter 416 : Tidak Melangkahi Lubang Api


Sorak-sorai yang memekakkan telinga mengguncang ibu kota Bei Min. Jalanan dihiasi dengan sutra merah di kedua sisi, dan warga dari semua lapisan masyarakat berdiri dalam barisan teratur dengan ekspresi yang gembira. Beberapa pria berhasil memungut permen pernikahan itu dan memberikan mereka kepada anak-anak mereka yang menanti dengan senang hati.

Bagian dari iring-iringan pernikahan, tandu pengantinnya diangkat oleh empat pria kuat yang kekar. Iring-iringannya itu sendiri begitu panjang, bahkan sewaktu bagian depannya tiba di Kediaman Pangeran Hao, bagian belakangnya baru saja meninggalkan istana kekaisaran. Skala pernikahannya begitu besar hingga itu mengejutkan, bahkan para penguasa dari kerajaan lain.

Putra Mahkota Dong Ling, Chu Ling Long, mengenakan jubah keunguan yang memikat. Matanya tampak sedikit membelalak kaget. "Ck, ck, itu mewah sekali. Pangeran Hao benar-benar membuang-buang seribu batang emas demi si cantik. Ini pasti keberuntungan Su Xi-er, yang dikumpulkannya dari banyak kehidupannya yang sebelumnya."

Hua Zi Rong, penguasa Xi Liu, memasang ekspresi acuh tak acuh selagi ia melihat sekilas ke arah Chu Ling Long. "Aura mengagumkan Pangeran Hao benar-benar membuat Kaisar ini terkesan." Ia mengadakan sebuah pernikahan dengan skala sebesar ini, hingga beritanya sudah menyebar kemana-mana, memicu banyak perbincangan. Tetapi, meskipun banyak rumor tak sedap yang bermunculan, Pei Qian Hao betul-betul mengabaikan mereka dan melakukan sesuai keinginannya.

"Pangeran ini setuju. Aku juga terkesan dengan aura semengagumkan itu." Chu Ling Long tersenyum menawan.

Di antara kerumunan, seorang pria berjubah putih berdiri di bagian belakang keramaian sementara ia memerhatikan tandu pengantin yang lewat dengan emosi rumit yang berputar-putar di matanya.

Iringan pernikahan yang agung dan mewah itu perlahan-lahan memenuhi seluruh ibu kota, ditemani dengan kebisingan dan musik, praktisnya mengguncang langit dan bumi. Jalannya dipenuhi dengan suasana yang meriah, sementara sanjungan dari rakyat jelata terus-terusan berterbangan di udara.

Qin Ling melihat ekspresi tenang Yun Ruo Feng, tetapi juga keseriusan di matanya. "Tuan, mari kita kembali ke penginapan."

Yun Ruo Feng melambaikan tangannya. "Aku akan menontonnya sebentar lagi." Tidak ada yang tahu seberapa keras ia mengepalkan tangan di bawah lengan jubahnya. Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari, ia akan menikahi orang lain. Tetapi, yang dapat kulakukan hanyalah menyaksikannya tak berdaya. Siang hari tidak cocok bagi kami untuk bertindak, jadi kami hanya bisa menunggu.

Tidak jelas berapa lama Yun Ruo Feng tinggal di sana sebelum ia menghilang dari keramaian dan kembali ke Penginapan Ye.

Setelah mereka kembali, Qin Ling langsung pergi ke penginapan lainnya untuk memeriksa Mei Jin Xiu. Namun, setelah ia membuka pintu ke kamarnya, ia menemukan itu kosong melompong.

Qin Ling mengerutkan alisnya. Ini gawat. Mei Jin Xiu pasti sudah melarikan diri, dan akan memberitahukan yang lainnya. Bagaimana bisa aku membiarkannya menghancurkan rencana Pangeran Yun?! Oleh sebab itu, ia segera meninggalkan penginapan dan menyembunyikan dirinya di antara massa sementara ia menuju ke Kediaman Pangeran Hao.

***

Tandu pengantin sudah berhenti di depan pintu masuk Kediaman Pangeran Hao, Pei Qian Hao melompat turun dari kuda dan berhenti di sebelah tandunya. Para warga sipil pun bersorak saat mereka menyaksikan sikapnya yang luar biasa dan elegan.

Selanjutnya, seorang pengawal memberikan Pei Qian Hao sebuah busur dan anak panah untuk menembak pintu tandunya sebagai tampilan dari kehebatan si mempelai pria.

Ketika Pei Qian Hao melirik panah itu, ia mendadak teringat tentang bagaimana Ning Ru Lan meninggal. Sebuah anak panah menembus jantungnya.

Ia langsung melambaikan tangannya agar si pengawal membawa pergi panahnya, dan di bawah tatapan tercengang orang banyak, secara pribadi maju ke depan untuk menyibakkan tirai tandu.

Mata para warga sipil pun terbelalak kaget. Mengapa ia tidak menembak pintu tandunya? Bahkan ia secara pribadi menyibakkan tirainya?

Akan tetapi, tindakan Pei Qian Hao selanjutnya jauh lebih mengejutkan mereka. Pangeran Hao sungguh menggendong Hao Wang Fei keluar dari tandu di punggungnya, bahkan ia memerintahkan seseorang supaya menyingkirkan wadah apinya dari depan kediaman!

(T/N : Melangkahi wadah berisi arang yang menyala hingga berapi, melambangkan menyingkirkan kesialan dan kemalangan.)

Menurut adat istiadat Bei Min, si pria harus menampilkan kehebatannya di depan si wanita. Ini ... bagaimana ini bisa benar?! Rakyat jelata pun tidak tahan untuk mulai berdiskusi penuh semangat. "Pangeran Hao tidak tega membiarkan Hao Wang Fei sampai menderita apa pun, jadi ia mengabaikan adat istiadat. Tingkat kasih sayangnya sungguh mengagumkan!"

"Selama Pangeran Hao menyukainya, siapa yang peduli seperti apa kepribadian Hao Wang Fei? Ia menyukai segala sesuatu tentangnya, baik atau buruk!"

Tepat saat orang itu bicara, Su Xi-er mengeluarkan saputangan dari lengan jubahnya dan melemparkannya keluar. Para wanita di dalam kerumunan langsung mengalihkan tatapan mereka dan mulai berebut untuk itu. Orang yang bisa mendapatkan saputangan Hao Wang Fei akan mendapatkan keberuntungan!

Kerumunannya menjadi sangat hidup, dan setelah beberapa ronde pertukaran, seorang wanita akhirnya berhasil mendapatkannya. Dengan gembira ia mengangkat saputangannya tinggi-tinggi dan berteriak, "Wanita biasa ini mengucapkan terima kasih kepada Hao Wang Fei!"

Dengan Su Xi-er yang sudah melemparkan saputangannya, massa pun mulai bergosip lagi. "Hao Wang Fei memiliki rasa sopan santun. Meski jika Pangeran Hao memanjakannya, ia tidak jadi arogan karena itu. Itu merupakan keberuntungan Pangeran Hao dan Bei Min, untuk mendapatkan wanita yang berbudi luhur seperti itu!"

Segera saja, warga pun memuji-muji Su Xi-er. Memangnya kenapa kalau ia terlahir dari latar belakang yang biasa? Tidak masalah selama Pangeran Hao menyukainya! Selain itu, rumornya mengatakan bahwa Hao Wang Fei berbakat dan cantik. Ia sudah pasti sesuai untuk posisinya!

Mengenakan gaun berwarna merah jambu, Liu Yin Yin dengan gembira menaburkan bunga kain berwarna merah terang di depan pintu masuk sementara Ning Lian Chen dengan tenang memerhatikannya dari samping. Namun, ketika tatapannya beralih pada Su Xi-er, itu langsung dipenuhi dengan kegembiraan. Su Xi-er berpegangan erat di bahu Pei Qian Hao sementara ia membawanya masuk ke aula utama. Ketika tangannya menyentuh punggung hangat Pei Qian Hao, Su Xi-er tak lagi merasa gugup, dan ia menundukkan kepalanya untuk bersandar padanya.

Di dalam aula utama Kediaman Pangeran Hao, Pei Zheng dan Consort Dowager Guo duduk di kursi teratas, sementara Guru Agung Kong duduk di kursi yang lebih rendah. Ia sudah sampai duluan sebelum iringannya setelah menaiki kereta kuda dari Kediaman Pangeran Hao.

Sudah tradisinya bahwa kursi paling atas diduduki oleh seorang pria dan wanita. Mempelai pria akan mengirimkan senior pria, sementara mempelai wanita akan mengirimkan senior wanita. Wajah Consort Dowager Guo dihiasi dengan senyuman sementara ia mendengarkan suara menggema bernada tinggi milik petugas pernikahan dari Menteri Ritus.

"Sujud pertama, kepada langit dan bumi! Sujud kedua kepada orang tua!"

Senyuman Consort Dowager Guo sampai di kedalaman matanya sementara kepalanya diisi dengan bayang-bayang akan kemungkinan pernikahan putranya di masa depan. Matanya mulai lembap, tetapi ia berhasil menahan air matanya.

"Mengantarkan ke dalam kamar pengantin!" Dengan pengumuman terakhir dari petugas pernikahan, Ruo Yuan dan Hong Li muncul untuk membawa Su Xi-er pergi dari Pangeran Hao dan menuntunnya ke kamar pengantin.

Sementara untuk Pei Qian Hao, ia harus tetap tinggal, untuk menjamu para pejabat mahkamah dan utusan dari berbagai kerajaan. Situ Lin mengenakan jubah naganya sambil tersenyum lebar dan tampak ramah. Namun, ia berhasil menjaga sikap seorang Kaisar, terlepas dari kesukaannya akan peristiwa yang meriah.

Perjamuan diadakan di lokasi terbesar di dalam kediaman itu, dan tetap pemandangan yang ramai, dengan para pengawal dan dayang istana yang lalu-lalang.

Sementara itu, sekelompok pengawal di aula utama berdiri dengan hormat di samping selagi Su Xi-er perlahan-lahan berjalan masuk ke kamar pengantin dan duduk di pinggir ranjang.

Takut kalau Su Xi-er akan merasa lapar, Ruo Yuan bertanya, "Kau harus tetap duduk di sini sampai Pangeran Hao datang di malam hari. Aku akan mengambilkanmu buah-buahan untuk dimakan."

Su Xi-er memang lapar, dan mengulurkan tangannya untuk mengambil buah-buahan dari Ruo Yuan meskipun tahu bahwa mempelai wanita semestinya tidak makan.

"Kehebohan dari aula utama begitu keras sampai kita dapat mendengarnya bahkan dari sini." Hong li berkomentar sebelum berjalan ke sisi Su Xi-er. "Apa bahumu sakit? Biar kubantu kau memijatnya."

Tanpa menunggu tanggapan Su Xi-er, Hong Li mulai memijat bahunya.

Su Xi-er makan buah itu sementara ia memandangi tudung pengantin merah di depannya. Pei Qian Hao baru akan datang di malam hari, yang artinya aku harus menunggunya di sini.

Su Xi-er yang sekarang, sama seperti wanita lainnya, dengan malu-malu dan diam, menunggu orang tercinta mereka untuk datang di kamar pengantin.

***

Di perjamuan, Pei Zheng sedang menyembunyikan kegelisahannya di balik ekspresi gembiranya. Commandery Prince Xie terjebak sejauh tiga puluh kilometer. Ia bilang bahwa aku harus menunda Pei Qian Hao, tetapi apa yang harus kulakukan sekarang karena tidak ada Xie Yun?

Terlepas dari kecemasannya, Pei Zheng terus makan dan bersulang dengan berbagai pejabat selagi ia mengungkapkan rasa terima kasihnya. Sebagian besar menteri sudah hadir, sementara Situ Li merupakan satu-satunya pangeran kekaisaran Bei Min yang datang, dan saat ini, ia sedang duduk di samping Consort Dowager Guo.

 

0 comments:

Posting Komentar