Consort of A Thousand Faces
Chapter 416 : Tidak Melangkahi Lubang Api
Sorak-sorai
yang memekakkan telinga mengguncang ibu kota Bei Min. Jalanan dihiasi dengan
sutra merah di kedua sisi, dan warga dari semua lapisan masyarakat berdiri
dalam barisan teratur dengan ekspresi yang gembira. Beberapa pria berhasil
memungut permen pernikahan itu dan memberikan mereka kepada anak-anak mereka
yang menanti dengan senang hati.
Bagian
dari iring-iringan pernikahan, tandu pengantinnya diangkat oleh empat pria kuat
yang kekar. Iring-iringannya itu sendiri begitu panjang, bahkan sewaktu bagian
depannya tiba di Kediaman Pangeran Hao, bagian belakangnya baru saja
meninggalkan istana kekaisaran. Skala pernikahannya begitu besar hingga itu
mengejutkan, bahkan para penguasa dari kerajaan lain.
Putra
Mahkota Dong Ling, Chu Ling Long, mengenakan jubah keunguan yang memikat.
Matanya tampak sedikit membelalak kaget. "Ck, ck, itu mewah
sekali. Pangeran Hao benar-benar membuang-buang seribu batang emas demi si
cantik. Ini pasti keberuntungan Su Xi-er, yang dikumpulkannya dari banyak
kehidupannya yang sebelumnya."
Hua
Zi Rong, penguasa Xi Liu, memasang ekspresi acuh tak acuh selagi ia melihat
sekilas ke arah Chu Ling Long. "Aura mengagumkan Pangeran Hao benar-benar
membuat Kaisar ini terkesan." Ia mengadakan sebuah pernikahan
dengan skala sebesar ini, hingga beritanya sudah menyebar kemana-mana, memicu
banyak perbincangan. Tetapi, meskipun banyak rumor
tak sedap yang bermunculan, Pei Qian Hao betul-betul mengabaikan
mereka dan melakukan sesuai keinginannya.
"Pangeran
ini setuju. Aku juga terkesan dengan aura semengagumkan itu." Chu Ling
Long tersenyum menawan.
Di
antara kerumunan, seorang pria berjubah putih berdiri di bagian belakang
keramaian sementara ia memerhatikan tandu pengantin yang lewat dengan emosi rumit
yang berputar-putar di matanya.
Iringan
pernikahan yang agung dan mewah itu perlahan-lahan memenuhi seluruh ibu kota,
ditemani dengan kebisingan dan musik, praktisnya mengguncang langit dan bumi.
Jalannya dipenuhi dengan suasana yang meriah, sementara sanjungan dari rakyat
jelata terus-terusan berterbangan di udara.
Qin
Ling melihat ekspresi tenang Yun Ruo Feng, tetapi juga keseriusan di matanya.
"Tuan, mari kita kembali ke penginapan."
Yun
Ruo Feng melambaikan tangannya. "Aku akan menontonnya sebentar lagi."
Tidak ada yang tahu seberapa keras ia mengepalkan tangan di bawah lengan
jubahnya. Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari, ia akan menikahi
orang lain. Tetapi, yang dapat kulakukan hanyalah menyaksikannya tak berdaya.
Siang hari tidak cocok bagi kami untuk bertindak, jadi kami hanya bisa
menunggu.
Tidak
jelas berapa lama Yun Ruo Feng tinggal di sana sebelum ia menghilang dari
keramaian dan kembali ke Penginapan Ye.
Setelah
mereka kembali, Qin Ling langsung pergi ke penginapan lainnya untuk memeriksa
Mei Jin Xiu. Namun, setelah ia membuka pintu ke kamarnya, ia menemukan itu
kosong melompong.
Qin
Ling mengerutkan alisnya. Ini gawat. Mei Jin Xiu pasti sudah melarikan
diri, dan akan memberitahukan yang lainnya. Bagaimana bisa aku membiarkannya
menghancurkan rencana Pangeran Yun?! Oleh sebab itu, ia segera
meninggalkan penginapan dan menyembunyikan dirinya di antara massa sementara ia
menuju ke Kediaman Pangeran Hao.
***
Tandu
pengantin sudah berhenti di depan pintu masuk Kediaman Pangeran Hao, Pei Qian
Hao melompat turun dari kuda dan berhenti di sebelah tandunya. Para warga sipil
pun bersorak saat mereka menyaksikan sikapnya yang luar biasa dan elegan.
Selanjutnya,
seorang pengawal memberikan Pei Qian Hao sebuah busur dan anak panah untuk
menembak pintu tandunya sebagai tampilan dari kehebatan si mempelai pria.
Ketika
Pei Qian Hao melirik panah itu, ia mendadak teringat tentang bagaimana Ning Ru
Lan meninggal. Sebuah anak panah menembus jantungnya.
Ia
langsung melambaikan tangannya agar si pengawal membawa pergi panahnya, dan di
bawah tatapan tercengang orang banyak, secara pribadi maju ke depan untuk
menyibakkan tirai tandu.
Mata
para warga sipil pun terbelalak kaget. Mengapa ia tidak menembak pintu
tandunya? Bahkan ia secara pribadi menyibakkan tirainya?
Akan
tetapi, tindakan Pei Qian Hao selanjutnya jauh lebih mengejutkan mereka. Pangeran
Hao sungguh menggendong Hao Wang Fei keluar dari tandu di punggungnya, bahkan
ia memerintahkan seseorang supaya menyingkirkan wadah apinya dari
depan kediaman!
(T/N
: Melangkahi wadah berisi arang yang menyala hingga
berapi, melambangkan menyingkirkan kesialan dan kemalangan.)
Menurut
adat istiadat Bei Min, si pria harus menampilkan kehebatannya di depan si
wanita. Ini ... bagaimana ini bisa benar?! Rakyat jelata
pun tidak tahan untuk mulai berdiskusi penuh semangat. "Pangeran Hao tidak
tega membiarkan Hao Wang Fei sampai menderita apa pun, jadi ia
mengabaikan adat istiadat. Tingkat kasih sayangnya sungguh mengagumkan!"
"Selama
Pangeran Hao menyukainya, siapa yang peduli seperti apa kepribadian Hao Wang
Fei? Ia menyukai segala sesuatu tentangnya, baik atau buruk!"
Tepat
saat orang itu bicara, Su Xi-er mengeluarkan saputangan dari lengan jubahnya
dan melemparkannya keluar. Para wanita di dalam kerumunan langsung mengalihkan
tatapan mereka dan mulai berebut untuk itu. Orang yang bisa mendapatkan
saputangan Hao Wang Fei akan mendapatkan keberuntungan!
Kerumunannya
menjadi sangat hidup, dan setelah beberapa ronde pertukaran, seorang wanita
akhirnya berhasil mendapatkannya. Dengan gembira ia mengangkat saputangannya
tinggi-tinggi dan berteriak, "Wanita biasa ini mengucapkan terima kasih
kepada Hao Wang Fei!"
Dengan
Su Xi-er yang sudah melemparkan saputangannya, massa pun mulai bergosip lagi.
"Hao Wang Fei memiliki rasa sopan santun. Meski jika
Pangeran Hao memanjakannya, ia tidak jadi arogan karena itu. Itu merupakan
keberuntungan Pangeran Hao dan Bei Min, untuk mendapatkan wanita yang berbudi
luhur seperti itu!"
Segera
saja, warga pun memuji-muji Su Xi-er. Memangnya kenapa kalau ia
terlahir dari latar belakang yang biasa? Tidak masalah selama Pangeran Hao
menyukainya! Selain itu, rumornya mengatakan bahwa Hao Wang Fei berbakat dan
cantik. Ia sudah pasti sesuai untuk posisinya!
Mengenakan
gaun berwarna merah jambu, Liu Yin Yin dengan gembira menaburkan bunga kain
berwarna merah terang di depan pintu masuk sementara Ning Lian Chen dengan
tenang memerhatikannya dari samping. Namun, ketika tatapannya beralih pada Su
Xi-er, itu langsung dipenuhi dengan kegembiraan. Su Xi-er berpegangan erat di
bahu Pei Qian Hao sementara ia membawanya masuk ke aula utama. Ketika tangannya
menyentuh punggung hangat Pei Qian Hao, Su Xi-er tak lagi merasa gugup, dan ia
menundukkan kepalanya untuk bersandar padanya.
Di
dalam aula utama Kediaman Pangeran Hao, Pei Zheng dan Consort Dowager Guo
duduk di kursi teratas, sementara Guru Agung Kong duduk di kursi yang lebih
rendah. Ia sudah sampai duluan sebelum iringannya setelah menaiki kereta kuda
dari Kediaman Pangeran Hao.
Sudah
tradisinya bahwa kursi paling atas diduduki oleh seorang pria dan wanita.
Mempelai pria akan mengirimkan senior pria, sementara mempelai wanita akan
mengirimkan senior wanita. Wajah Consort Dowager Guo dihiasi
dengan senyuman sementara ia mendengarkan suara menggema bernada tinggi milik
petugas pernikahan dari Menteri Ritus.
"Sujud
pertama, kepada langit dan bumi! Sujud kedua kepada orang tua!"
Senyuman Consort
Dowager Guo sampai di kedalaman matanya sementara kepalanya diisi
dengan bayang-bayang akan kemungkinan pernikahan putranya di masa depan.
Matanya mulai lembap, tetapi ia berhasil menahan air matanya.
"Mengantarkan
ke dalam kamar pengantin!" Dengan pengumuman terakhir dari petugas
pernikahan, Ruo Yuan dan Hong Li muncul untuk membawa Su Xi-er pergi dari
Pangeran Hao dan menuntunnya ke kamar pengantin.
Sementara
untuk Pei Qian Hao, ia harus tetap tinggal, untuk menjamu para pejabat mahkamah
dan utusan dari berbagai kerajaan. Situ Lin mengenakan jubah naganya sambil
tersenyum lebar dan tampak ramah. Namun, ia berhasil menjaga sikap seorang
Kaisar, terlepas dari kesukaannya akan peristiwa yang meriah.
Perjamuan
diadakan di lokasi terbesar di dalam kediaman itu, dan tetap pemandangan yang
ramai, dengan para pengawal dan dayang istana yang lalu-lalang.
Sementara
itu, sekelompok pengawal di aula utama berdiri dengan hormat di samping selagi
Su Xi-er perlahan-lahan berjalan masuk ke kamar pengantin dan duduk di pinggir
ranjang.
Takut
kalau Su Xi-er akan merasa lapar, Ruo Yuan bertanya, "Kau harus tetap
duduk di sini sampai Pangeran Hao datang di malam hari. Aku akan mengambilkanmu
buah-buahan untuk dimakan."
Su
Xi-er memang lapar, dan mengulurkan tangannya untuk mengambil buah-buahan dari
Ruo Yuan meskipun tahu bahwa mempelai wanita semestinya tidak makan.
"Kehebohan
dari aula utama begitu keras sampai kita dapat mendengarnya bahkan dari
sini." Hong li berkomentar sebelum berjalan ke sisi Su Xi-er. "Apa
bahumu sakit? Biar kubantu kau memijatnya."
Tanpa
menunggu tanggapan Su Xi-er, Hong Li mulai memijat bahunya.
Su
Xi-er makan buah itu sementara ia memandangi tudung pengantin merah di
depannya. Pei Qian Hao baru akan datang di malam hari, yang artinya aku
harus menunggunya di sini.
Su
Xi-er yang sekarang, sama seperti wanita lainnya, dengan malu-malu dan diam,
menunggu orang tercinta mereka untuk datang di kamar pengantin.
***
Di
perjamuan, Pei Zheng sedang menyembunyikan kegelisahannya di balik ekspresi
gembiranya. Commandery Prince Xie terjebak sejauh tiga puluh kilometer.
Ia bilang bahwa aku harus menunda Pei Qian Hao, tetapi apa yang harus kulakukan
sekarang karena tidak ada Xie Yun?
Terlepas
dari kecemasannya, Pei Zheng terus makan dan bersulang dengan berbagai pejabat
selagi ia mengungkapkan rasa terima kasihnya. Sebagian besar menteri sudah
hadir, sementara Situ Li merupakan satu-satunya pangeran kekaisaran Bei Min
yang datang, dan saat ini, ia sedang duduk di samping Consort Dowager Guo.

0 comments:
Posting Komentar