Sabtu, 27 Juni 2026

CTF - Chapter 418

Consort of A Thousand Faces

Chapter 418 : Sulit Menahan Sakit di Hati


Pei Qian Hao memahami apa yang dimaksud Yun Ruo Feng, dan berbalik untuk menatap Su Xi-er dan menggenggam tangannya sebelum dengan lembut berkata, "Pejamkan matamu; jangan lihat." Kemudian, ia mengangkat tangan lainnya untuk menutup matanya.

Menerima sinyalnya, para pengawal pun mengarahkan panah mereka pada Yun Ruo Feng, tali busur mereka kencang. Akan tetapi, sebelum mereka dapat menembak, satu sosok berpakaian serba hitam mendadak melintas, melemparkan badai jarum dari tangannya. Dalam sekejap mata, para pengawal semuanya mencengkeram lutut mereka sebelum pada akhirnya ambruk di tanah.

"Pangeran Hao, pada akhirnya, ini tetaplah Pangeran Yun. Bukankah itu tidak bisa diterima, untuk menembaknya sampai mati tanpa berpikir dua kali?" Suara si pria misterius itu serak, dan selesai ia berbicara, ia mengarahkan telapak tangannya lurus kepada Pei Qian Hao.

Ia lumayan hebat, menyebabkan Pei Qian Hao mengerutkan alisnya dan mendorong Su Xi-er menjauh untuk bertarung dengannya. Mereka berdua terus bertukar pukulan, tetapi tidak ada pemenang yang dapat ditentukan.

Saat Su Xi-er melihat pria itu baik-baik, ekspresinya berubah suram. Pria berwajah separuh! Siapa sebenarnya dia? Ia sudah muncul berkali-kali, menargetkanku juga Pei Qian Hao!

Bukan orang yang tetap tidak bergerak, Yun Ruo Feng pun menangkap kesempatan untuk dengan cepat berpindah ke sebelah Su Xi-er.

Meskipun kemampuan Su Xi-er memadai, kombinasi dari bubuk obat dan lukanya membuatnya sulit untuk melawan. Setelah beberapa adu pukulan, ia didorong paksa ke pintu belakang. Kereta kuda Qin Ling muncul di waktu yang tepat sekali, dan Su Xi-er ditarik naik begitu saja.

Pei Qian Hao memancarkan aura membekukan selagi niat membunuh melintas di matanya. Aku harus mengakhiri pertarungan ini sesegera mungkin! Serangannya menjadi semakin ganas saat kejengkelannya bertambah. Sementara untuk Shi Mo sendiri, ia tidak berencana untuk tetap tinggal; tujuannya hanyalah untuk menunda Pei Qian Hao cukup lama agar Yun Ruo Feng bisa kabur. Karena itu, ia melarikan diri dari pertarungan itu dan dengan cepat menghilang pada kesempatan pertama.

Pei Qian Hao menghentikan serangannya dan bersiul dengan kuat, mendorong tunggangannya untuk berderap datang. Ia langsung naik ke atas kuda dan mengejar ke arah perginya kereta kuda itu.

***

Sementara Shi Mo, saat ini ia sedang berjalan melalui gang yang sepi. Ia baru mengambil beberapa langkah sebelum ia terpaksa bersandar di dinding, muntah darah segera setelahnya. Kilat kasar berkedip di matanya selagi ia mengangkat satu tangan untuk mengusap mulutnya. Pei Qian Hao benar-benar hebat! Sulit dipercaya kalau ia berhasil melukaiku!

Tatapan Shi Mo mendalam, dan sudut mulutnya melengkung ke atas membentuk senyuman jahat. Menarik. Semakin kuat lawannya, semakin itu dapat memancing semangat bertarungku. Pei Zheng sungguh membesarkan putra yang baik. Kediaman Pei mungkin berada di puncaknya saat ini, tetapi pada akhirnya, itu akan runtuh dan ambruk!

***

Kereta Qin Ling dengan cepat berjalan melintasi ibu kota, tetapi dihadang oleh beberapa pengawal ketika mereka sampai di gerbang pintu masuk. Biar begitu, hanya dibutuhkan beberapa ayunan dari pedangnya untuk mengatasi mereka, membiarkan kereta terus bergegas ke arah ke tujuannya.

Yu Chi Mo yang sedang bertugas menjaga gerbang ibu kota, langsung mengumpulkan sekelompok pasukan dan kuda saat ia mengetahui akibatnya. Tepat saat ia baru saja akan memberikan perintah untuk mengejarnya, ia merasakan embusan angin yang lewat, diikuti dengan suara tapal kuda yang dengan ganasnya menjejak tanah.

Setelah dilihat lebih dekat, ia menyadari bahwa itu adalah Pei Qian Hao! Ekspresi Yu Chi Mo langsung menjadi serius. Hao Wang Fei ada di dalam kereta kuda itu! Ia diculik!

Berbekal pengetahuan ini, rasa urgensi di hatinya hanya semakin tinggi selagi ia mendesak bawahannya untuk maju.

"Pangeran Yun, ada banyak orang yang berkuda mengejar kita." Qin Ling berteriak dengan kencang selagi ia mengemudikan kereta kudanya.

Yun Ruo Feng menatap Su Xi-er yang sedang duduk di pojok. Ia sangat tenang. Wanita yang malu-malu di depan Pei Qian Hao, sekali lagi menjadi berkemauan keras di depanku.

Kenapa ia tidak mau menunjukkan sisi lembutnya kepadaku?

Mata Yun Ruo Feng mendalam sewaktu ia menginstruksikan, "Pergi ke pegunungan."

Mematuhi perintahnya, Qin Ling membelokkan keretanya untuk menuju ke jalur pegunungan.

"Lan-er, tidak bisakah kau jadi lebih lembut kepadaku? Hari-hariku bisa dihitung." Yun Ruo Feng tersenyum pahit, tatapannya menjadi lebih lembut.

"Yun Ruo Feng, aku adalah Su Xi-er di kehidupan ini, dan aku tidak ada hubungannya denganmu. Lian Chen bilang kalau kau sudah menyerah untuk memperebutkan kekuasaan, dan ia akan memaafkanmu atas apa yang telah kau perbuat. Selama kau dengan patuh tetap tinggal di dalam Kediaman Pangeran Yun, ia tidak akan mencoba melakukan apa pun terhadapmu. Kejadian malam ini benar-benar mengecewakan." Tatapan Su Xi-er tenang.

Aku sudah tidak punya perasaan apa pun terhadapnya.

Aku selalu membencinya, berharap untuk membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri dan menyaksikan sewaktu kehidupan mengering dari matanya. Tetapi kini, aku merasa sangat tenang. Di mataku, ia hanyalah orang yang menyedihkan.

Kekehan pelan lolos dari bibir Yun Ruo Feng. "Itu hanya cara lain untuk mengurung seseorang. Sekalian saja kau bunuh Pangeran ini. Daripada hidup dengan menyakitkan, akan lebih baik untuk mati."

Kewaspadaan melintas di mata Su Xi-er. Ide tentang kematian sudah melintasi benaknya, dan kereta kudanya juga menuju ke arah pegunungan. Mungkinkah ia sedang memikirkan untuk ....

"Ada apa? Aku menyaksikanmu sewaktu kau mati di kehidupanmu yang sebelumnya. Sekarang, kau akan menyaksikan saat aku mati. Bukankah itu lumayan bagus? Aku ingin kau untuk mengingatku selamanya!" Yun Ruo Feng tertawa. Tadinya, aku ingin membawa Su Xi-er kembali, tetapi tidak segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencana.

Jelas bahwa keadaan mental Yun Ruo Feng compang-camping, tetapi ekspresinya masih tetap kalem, dengan senyuman yang selalu ada di wajahnya.

Tepat saat kereta kudanya sudah akan sampai di puncak gunung, Qin Ling menghentikannya. "Pangeran Yun, tidak ada jalan di depan; kita tidak bisa pergi lebih jauh lagi."

"Begitukah? Lan-er, kemari dan berjalanlah bersama Pangeran ini." Dengan cepat ia mengulurkan tangannya untuk menangkap Su Xi-er.

Mengibaskan tangan Yun Ruo Feng di dalam kereta yang sempit itu, Su Xi-er dengan cepat turun sendiri. Tempat yang diraih Yun Ruo Feng, tepat dimana ia menusuk dirinya sendiri.

Melihat ke darah di ujung jarinya, Yun Ruo Feng seketika mengerti kenapa Su Xi-er masih punya tenaga. Jadi, itu karena rasa sakit sudah menggantikan ketidakberdayaannya. Lan-er, kau mengatakan bahwa aku kejam terhadap diriku sendiri, tetapi deskripsi ini lebih tepat untukmu. Seberapa dalamnya luka ini, agar membuat dirimu tetap sadar begitu lama?

Berdiri di jalan setapak pegunungan, Su Xi-er melihat ke kejauhan. Hanya beberapa ratus langkah hingga kami tiba di puncaknya.

"Lan-er, ayo naik ke atas. Qin Ling, jaga di sini." Lalu, Yun Ruo Feng merebut pedang di pinggang Qing Ling dan mengarahkannya kepada Su Xi-er.

"Naik." Ia mengancam meski ada senyuman di matanya.

Su Xi-er menatapnya. "Yun Ruo Feng, kau berencana untuk membunuhku lagi?"

"Mana mungkin? Mana mungkin aku sanggup membunuhmu? Naik." Suara Yun Ruo Feng jadi lebih kasar selagi ia mendorong ujung pedangnya mendekat pada Su Xi-er.

Sebaliknya, Su Xi-er mempertahankan sikap tenangnya, angin dingin pegunungan membantunya tetap sadar. Ia tidak mengatakan apa-apa sementara ia menuju ke puncak selangkah demi selangkah.

Memerhatikan sosok mereka yang beranjak, Qin Ling merasa rumit. Kenapa aku merasa sepertinya mereka berdua tidak akan pernah kembali?

***

Segera, keduanya sampai di puncak. Yun Ruo Feng menurunkan pedangnya dan tersenyum padanya. "Lan-er, melihat ke bawah dari sudut pandang ini, rumah-rumah yang tinggi dan dindingnya sudah jadi pendek dan kecil. Tiap manusia sudah jadi lebih kecil daripada satu titik."

"Bukannya kau mau mati? Kau lompat saja ke bawah." Su Xi-er mundur beberapa langkah dan menatapnya dengan tenang.

"Tadinya, aku sudah merencanakan sebuah rencana yang sangat bagus untuk membawamu kembali. Aku rela melakukan apa saja yang dibutuhkan, meski jika aku berakhir lumpuh. Aku sudah terlambat menyadari kegagalanku, dan aku menuai apa yang telah kutabur." Wajah Yun Ruo Feng berhiaskan senyuman selagi ia melanjutkan. "Lan-er, aku akan segera mati. Apa ada yang ingin kau sampaikan padaku?"

Membawa senyuman samar yang lembut di roman mukanya, aura jahat pada dirinya sudah lama lenyap. Akankah ia mengingatku jika aku mati di depannya? Mungkin ia akan mengingatnya, meski jika itu hanyalah kenangan yang kecil.

Su Xi-er menatap lurus ke dalam matanya. "Sebagai Ning Ru Lan, aku akan memberitahukan padamu bahwa waktumu sudah habis."

Mendengarkan ucapan itu, Yun Ruo Feng tertegun sejenak sebelum ia tersenyum. "Terlepas dari identitasmu, kau masih sama seperti sebelumnya, mengingat semua dendam. Apabila ada yang menyinggungmu, kau akan membalas mereka ratusan kali lipat."

Aku ingat memberitahukannya bahwa waktunya sudah habis sebelum ia mati. Aku hanya bisa merasa bahwa itu sangatlah ironis, bagi dirinya, untuk mengatakan hal yang sama padaku sekarang.

 

0 comments:

Posting Komentar