Consort of A Thousand Faces
Chapter 418 : Sulit Menahan Sakit di Hati
Pei
Qian Hao memahami apa yang dimaksud Yun Ruo Feng, dan berbalik untuk menatap Su
Xi-er dan menggenggam tangannya sebelum dengan lembut berkata, "Pejamkan
matamu; jangan lihat." Kemudian, ia mengangkat tangan lainnya untuk
menutup matanya.
Menerima
sinyalnya, para pengawal pun mengarahkan panah mereka pada Yun Ruo Feng, tali
busur mereka kencang. Akan tetapi, sebelum mereka dapat menembak, satu sosok
berpakaian serba hitam mendadak melintas, melemparkan badai jarum dari
tangannya. Dalam sekejap mata, para pengawal semuanya mencengkeram lutut mereka
sebelum pada akhirnya ambruk di tanah.
"Pangeran
Hao, pada akhirnya, ini tetaplah Pangeran Yun. Bukankah itu tidak bisa
diterima, untuk menembaknya sampai mati tanpa berpikir dua kali?" Suara si
pria misterius itu serak, dan selesai ia berbicara, ia mengarahkan telapak
tangannya lurus kepada Pei Qian Hao.
Ia
lumayan hebat, menyebabkan Pei Qian Hao mengerutkan alisnya dan mendorong Su
Xi-er menjauh untuk bertarung dengannya. Mereka berdua terus bertukar pukulan,
tetapi tidak ada pemenang yang dapat ditentukan.
Saat
Su Xi-er melihat pria itu baik-baik, ekspresinya berubah suram. Pria
berwajah separuh! Siapa sebenarnya dia? Ia sudah muncul berkali-kali,
menargetkanku juga Pei Qian Hao!
Bukan
orang yang tetap tidak bergerak, Yun Ruo Feng pun menangkap kesempatan untuk
dengan cepat berpindah ke sebelah Su Xi-er.
Meskipun
kemampuan Su Xi-er memadai, kombinasi dari bubuk obat dan lukanya membuatnya
sulit untuk melawan. Setelah beberapa adu pukulan, ia didorong paksa ke pintu
belakang. Kereta kuda Qin Ling muncul di waktu yang tepat sekali, dan Su Xi-er
ditarik naik begitu saja.
Pei
Qian Hao memancarkan aura membekukan selagi niat membunuh melintas di
matanya. Aku harus mengakhiri pertarungan ini sesegera mungkin! Serangannya
menjadi semakin ganas saat kejengkelannya bertambah. Sementara untuk Shi Mo
sendiri, ia tidak berencana untuk tetap tinggal; tujuannya hanyalah untuk
menunda Pei Qian Hao cukup lama agar Yun Ruo Feng bisa kabur. Karena itu, ia
melarikan diri dari pertarungan itu dan dengan cepat menghilang pada kesempatan
pertama.
Pei
Qian Hao menghentikan serangannya dan bersiul dengan kuat, mendorong
tunggangannya untuk berderap datang. Ia langsung naik ke atas kuda dan mengejar
ke arah perginya kereta kuda itu.
***
Sementara
Shi Mo, saat ini ia sedang berjalan melalui gang yang sepi. Ia baru mengambil
beberapa langkah sebelum ia terpaksa bersandar di dinding, muntah darah segera
setelahnya. Kilat kasar berkedip di matanya selagi ia mengangkat satu tangan
untuk mengusap mulutnya. Pei Qian Hao benar-benar hebat! Sulit
dipercaya kalau ia berhasil melukaiku!
Tatapan
Shi Mo mendalam, dan sudut mulutnya melengkung ke atas membentuk senyuman
jahat. Menarik. Semakin kuat lawannya, semakin itu dapat memancing
semangat bertarungku. Pei Zheng sungguh membesarkan putra yang baik. Kediaman
Pei mungkin berada di puncaknya saat ini, tetapi pada akhirnya, itu akan runtuh
dan ambruk!
***
Kereta
Qin Ling dengan cepat berjalan melintasi ibu kota, tetapi dihadang oleh
beberapa pengawal ketika mereka sampai di gerbang pintu masuk. Biar begitu,
hanya dibutuhkan beberapa ayunan dari pedangnya untuk mengatasi mereka,
membiarkan kereta terus bergegas ke arah ke tujuannya.
Yu
Chi Mo yang sedang bertugas menjaga gerbang ibu kota, langsung mengumpulkan
sekelompok pasukan dan kuda saat ia mengetahui akibatnya. Tepat saat ia baru
saja akan memberikan perintah untuk mengejarnya, ia merasakan embusan angin
yang lewat, diikuti dengan suara tapal kuda yang dengan ganasnya menjejak
tanah.
Setelah
dilihat lebih dekat, ia menyadari bahwa itu adalah Pei Qian Hao! Ekspresi Yu
Chi Mo langsung menjadi serius. Hao Wang Fei ada di dalam kereta kuda
itu! Ia diculik!
Berbekal
pengetahuan ini, rasa urgensi di hatinya hanya semakin tinggi selagi ia
mendesak bawahannya untuk maju.
"Pangeran
Yun, ada banyak orang yang berkuda mengejar kita." Qin Ling berteriak
dengan kencang selagi ia mengemudikan kereta kudanya.
Yun
Ruo Feng menatap Su Xi-er yang sedang duduk di pojok. Ia sangat tenang.
Wanita yang malu-malu di depan Pei Qian Hao, sekali lagi menjadi berkemauan
keras di depanku.
Kenapa
ia tidak mau menunjukkan sisi lembutnya kepadaku?
Mata
Yun Ruo Feng mendalam sewaktu ia menginstruksikan, "Pergi ke
pegunungan."
Mematuhi
perintahnya, Qin Ling membelokkan keretanya untuk menuju ke jalur pegunungan.
"Lan-er,
tidak bisakah kau jadi lebih lembut kepadaku? Hari-hariku bisa dihitung."
Yun Ruo Feng tersenyum pahit, tatapannya menjadi lebih lembut.
"Yun
Ruo Feng, aku adalah Su Xi-er di kehidupan ini, dan aku tidak ada hubungannya
denganmu. Lian Chen bilang kalau kau sudah menyerah untuk memperebutkan
kekuasaan, dan ia akan memaafkanmu atas apa yang telah kau perbuat. Selama kau
dengan patuh tetap tinggal di dalam Kediaman Pangeran Yun, ia tidak akan
mencoba melakukan apa pun terhadapmu. Kejadian malam ini benar-benar
mengecewakan." Tatapan Su Xi-er tenang.
Aku
sudah tidak punya perasaan apa pun terhadapnya.
Aku
selalu membencinya, berharap untuk membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri
dan menyaksikan sewaktu kehidupan mengering dari matanya. Tetapi kini, aku
merasa sangat tenang. Di mataku, ia hanyalah orang yang menyedihkan.
Kekehan
pelan lolos dari bibir Yun Ruo Feng. "Itu hanya cara lain untuk mengurung
seseorang. Sekalian saja kau bunuh Pangeran ini. Daripada hidup dengan
menyakitkan, akan lebih baik untuk mati."
Kewaspadaan
melintas di mata Su Xi-er. Ide tentang kematian sudah melintasi
benaknya, dan kereta kudanya juga menuju ke arah pegunungan. Mungkinkah ia
sedang memikirkan untuk ....
"Ada
apa? Aku menyaksikanmu sewaktu kau mati di kehidupanmu yang sebelumnya.
Sekarang, kau akan menyaksikan saat aku mati. Bukankah itu lumayan bagus? Aku
ingin kau untuk mengingatku selamanya!" Yun Ruo Feng tertawa. Tadinya,
aku ingin membawa Su Xi-er kembali, tetapi tidak segala sesuatunya berjalan
sesuai dengan rencana.
Jelas
bahwa keadaan mental Yun Ruo Feng compang-camping, tetapi ekspresinya masih
tetap kalem, dengan senyuman yang selalu ada di wajahnya.
Tepat
saat kereta kudanya sudah akan sampai di puncak gunung, Qin Ling
menghentikannya. "Pangeran Yun, tidak ada jalan di depan; kita tidak bisa
pergi lebih jauh lagi."
"Begitukah?
Lan-er, kemari dan berjalanlah bersama Pangeran ini." Dengan cepat ia
mengulurkan tangannya untuk menangkap Su Xi-er.
Mengibaskan
tangan Yun Ruo Feng di dalam kereta yang sempit itu, Su Xi-er dengan cepat
turun sendiri. Tempat yang diraih Yun Ruo Feng, tepat dimana ia menusuk dirinya
sendiri.
Melihat
ke darah di ujung jarinya, Yun Ruo Feng seketika mengerti kenapa Su Xi-er masih
punya tenaga. Jadi, itu karena rasa sakit sudah menggantikan
ketidakberdayaannya. Lan-er, kau mengatakan bahwa aku kejam terhadap
diriku sendiri, tetapi deskripsi ini lebih tepat untukmu. Seberapa dalamnya
luka ini, agar membuat dirimu tetap sadar begitu lama?
Berdiri
di jalan setapak pegunungan, Su Xi-er melihat ke kejauhan. Hanya
beberapa ratus langkah hingga kami tiba di puncaknya.
"Lan-er,
ayo naik ke atas. Qin Ling, jaga di sini." Lalu, Yun Ruo Feng merebut
pedang di pinggang Qing Ling dan mengarahkannya kepada Su Xi-er.
"Naik."
Ia mengancam meski ada senyuman di matanya.
Su
Xi-er menatapnya. "Yun Ruo Feng, kau berencana untuk membunuhku
lagi?"
"Mana
mungkin? Mana mungkin aku sanggup membunuhmu? Naik." Suara Yun Ruo Feng
jadi lebih kasar selagi ia mendorong ujung pedangnya mendekat pada Su Xi-er.
Sebaliknya,
Su Xi-er mempertahankan sikap tenangnya, angin dingin pegunungan membantunya
tetap sadar. Ia tidak mengatakan apa-apa sementara ia menuju ke puncak
selangkah demi selangkah.
Memerhatikan
sosok mereka yang beranjak, Qin Ling merasa rumit. Kenapa aku merasa
sepertinya mereka berdua tidak akan pernah kembali?
***
Segera,
keduanya sampai di puncak. Yun Ruo Feng menurunkan pedangnya dan tersenyum
padanya. "Lan-er, melihat ke bawah dari sudut pandang ini, rumah-rumah
yang tinggi dan dindingnya sudah jadi pendek dan kecil. Tiap manusia sudah jadi
lebih kecil daripada satu titik."
"Bukannya
kau mau mati? Kau lompat saja ke bawah." Su Xi-er mundur beberapa langkah
dan menatapnya dengan tenang.
"Tadinya,
aku sudah merencanakan sebuah rencana yang sangat bagus untuk membawamu
kembali. Aku rela melakukan apa saja yang dibutuhkan, meski jika aku berakhir
lumpuh. Aku sudah terlambat menyadari kegagalanku, dan aku menuai apa yang
telah kutabur." Wajah Yun Ruo Feng berhiaskan senyuman selagi ia
melanjutkan. "Lan-er, aku akan segera mati. Apa ada yang ingin kau
sampaikan padaku?"
Membawa
senyuman samar yang lembut di roman mukanya, aura jahat pada dirinya sudah lama
lenyap. Akankah ia mengingatku jika aku mati di depannya? Mungkin ia
akan mengingatnya, meski jika itu hanyalah kenangan yang kecil.
Su
Xi-er menatap lurus ke dalam matanya. "Sebagai Ning Ru Lan, aku akan
memberitahukan padamu bahwa waktumu sudah habis."
Mendengarkan
ucapan itu, Yun Ruo Feng tertegun sejenak sebelum ia tersenyum. "Terlepas
dari identitasmu, kau masih sama seperti sebelumnya, mengingat semua dendam.
Apabila ada yang menyinggungmu, kau akan membalas mereka ratusan kali
lipat."
Aku
ingat memberitahukannya bahwa waktunya sudah habis sebelum ia mati. Aku hanya
bisa merasa bahwa itu sangatlah ironis, bagi dirinya, untuk mengatakan hal yang
sama padaku sekarang.

0 comments:
Posting Komentar