Sabtu, 27 Juni 2026

CTF - Chapter 419

Consort of A Thousand Faces

Chapter 419 : Awan dan Angin Berangsur Menghilang di Kejauhan


Tanpa sadar, Yun Rou Feng tersenyum selagi matanya tertuju pada pemandangan yang jauh, kemudian menoleh untuk menatap Su Xi-er. "Lan-er, seberapa besar kau mencintaiku dulu?" Ia berpura-pura untuk berjalan mendekatinya dengan santai, mengulurkan tangan untuk menangkap pergelangan tangan Su Xi-er sewaktu ia berbicara.

Tatapannya langsung jadi berbeda. "Tidak ada yang boleh mendapatkan apa yang tidak bisa kudapatkan." Suaranya kini dihiasi kejahatan, dan matanya tak terbaca.

"Yun Ruo Feng, aku tidak menyangka kalau kau akan merosot hingga ke tahap ini; bukan manusia, bukan pula hantu." Su Xi-er mempertahankan ketenangannya meski aura dingin ada di matanya.

Yun Ruo Feng tertawa meresponsnya. "Aku mengatakan kalau aku akan membawamu pergi. Sekarang, karena aku akan mati, aku juga akan menyeretmu turun bersamaku. Itu juga bukan ide yang buruk bagi kita, menjadi pasangan suami-istri hantu." Kemudian, ia menarik Su Xi-er.

Namun, Su Xi-er sudah menyembunyikan sebongkah batu di tangannya. Ketika Yun Ruo Feng mencoba menariknya, ia menggunakan tangannya yang bebas untuk menyerang titik akupuntur kebasnya.

Menangkapnya dengan terkejut, Yun Ruo Feng agak mengendurkan cengkeramannya, hanya untuk menyerang sekali lagi ketika Su Xi-er sudah akan melepaskan dirinya. "Lan-er, setelah berada di ketentaraan selama bertahun-tahun, aku kaya akan pengalaman tempur. Mana bisa trik kecil ini menipuku?"

Segera setelah ia berbicara, mereka berdua merasakan getaran dari derap langkah yang mendekat di bawah kaki mereka. Beberapa saat kemudian, Pei Qian Hao muncul sembari masih mengenakan jubah pengantin pria merah terangnya. Sekujur tubuhnya memancarkan aura dingin yang berbahaya, dan ekspresi serius di wajahnya tak menyelubungi niat membunuhnya.

Matanya mendalam sewaktu ia berjalan mendekat dan melihat kalau Yun Ruo Feng sedang berpegangan erat pada Su Xi-er sementara mereka berdiri di dekat tepi jurang. Namun, ia memastikan untuk menyembunyikan keresahannya.

"Pangeran Hao, kau benar-benar cepat. Pangeran ini masih belum berhasil mengatakan banyak hal pada Xi-er." Yun Ruo Feng tersenyum tipis sementara tangannya tetap melingkar erat di pergelangan tangan Su Xi-er.

Su Xi-er mengangguk kecil pada Pei Qian Hao untuk meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja.

Gerakannya yang tak terlihat tidak luput dari mata Yun Ruo Feng, dan dengan lembut, ia tersenyum. "Kau akan segera menjadi pasangan hantu yang menikah dengan Pangeran ini, tetapi kau masih tidak bisa melupakan Pangeran Hao?" Ia mengalihkan pandangannya saat rasa dingin yang suram menyelimuti matanya. "Pei Qian Hao, apa kau tahu, siapa wanita yang sedang Pangeran ini pegang?"

Akan seperti apa ekspresi Pei Qian Hao jika ia mengetahui bahwa ia adalah Ning Ru Lan? Aku tahu kalau ia tidak suka wanita yang berkemauan keras.

Su Xi-er merasa ada tangan yang dingin membungkus hatinya, dan ia langsung melihat ke arah Pei Qian Hao dengan tatapan yang emosional. Namun, apa yang diucapkan Pei Qian Hao selanjutnya, betul-betul mengejutkannya.

"Pangeran ini tidak peduli apakah ia adalah Ning Ru Lan atau Su Xi-er. Yang Pangeran ini pedulikan adalah bahwa sekarang ia adalah Hao Wang Fei; ia adalah wanita milik Pangeran ini." Nada suaranya percaya diri, dan tatapannya dipenuhi dengan tekad.

Keterkejutan melintas di mata Yun Ruo Feng sebelum ia menoleh untuk menatap Su Xi-er. "Aku tidak menduga, ia sudah mengetahui tentang identitasmu." Ia terdiam dan melihat ke arah Pei Qian Hao. "Karena kau sudah mengetahui bahwa ia adalah Ning Ru Lan, maka kau juga seharusnya mengetahui bahwa ia adalah tunangan Pangeran ini. Sekarang, Pangeran ini berencana untuk membawanya pergi!"

Pei Qian Hao sambil mengejek, berkata, "Setelah menembus jantungnya dengan satu anak panah; kau tak lagi punya hubungan dengannya. Tidak ada obat penyesalan di dunia ini."

Dengan kilatan merah, ia sudah meraih Su Xi-er, dan bersiap untuk merebutnya.

Namun, Yun Ruo Feng menarik Su Xi-er dengan sama cepatnya. "Pei Qian Hao, kau tidak akan bisa mendapatkannya!" Ia langsung menyeret Su Xi-er ke tepi dan melompat saat Su Xi-er berada dalam genggamannya.

Pei Qian Hao merasa, seolah ada embusan angin yang bertiup di telinganya saat gaun pengantin merah itu terlepas dari jarinya.

Inilah tepatnya pemandangan yang menyambut Ning Lian Chen ketika ia bergegas ke tempat kejadian. Ia berteriak tak terkendali, "Kakak Perempuan!" Suaranya menggema di seluruh pegunungan.

Tatapan Pei Qian Hao berubah muram. Ia tidak akan mati! Aku akan mencarinya di bawah tebing! Berbalik, ia baru saja hendak berlari menggila ke bawah tebing ketika ia merasakan sesuatu mengguncang tanah di dekat kakinya.

Satu tangan kurus sedang berpegangan di sebongkah batu di tepinya.

Pei Qian Hao melebarkan matanya dalam keterkejutan dan suka cita. Ia langsung berjongkok dan menarik tangan itu, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik Su Xi-er ke dalam pelukannya.

Menyaksikan mereka dari samping, air mata mengalir dari mata Ning Lian Chen untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Benaknya jadi kosong ketika ia berpikir kalau Kakak Perempuannya sudah jatuh bersama Yun Ruo Feng. Satu-satunya keluargaku .... Sekarang, karena ia aman dan selamat, Ning Lian Chen langsung menghela napas lega.

Pei Qian Hao diam saja saat ia memeluk Su Xi-er dengan erat. Tangannya gemetaran, dan untuk sesaat, ia benar-benar ketakutan. Bagi seseorang yang tidak akan mengedipkan bulu mata ketika berhadapan dengan ribuan pasukan, tidak takut dikepung oleh prajurit musuh, dan tidak peduli tentang terjebak dalam situasi genting, Pei Qian Hao telah merasakan cengkeraman dingin yang mengoyak di hatinya, untuk pertama kalinya.

Bahkan sekarang, tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari perasaan mengerikan yang menguasainya untuk sesaat.

Su Xi-er menepuk-nepuk punggungnya. "Aku tidak apa-apa. Saat kami jatuh dari tebing, aku menendang titik akupuntur sakit di kakinya."

Dalam situasi kritis itu, ia berhasil menendang Yun Ruo Feng, meraih tebing tepat pada waktunya. Keterkejutan dan keputusasaan yang terpampang di roman wajah Yun Ruo Feng dalam sekejap itu, sudah membawa kembali kesedihan di hati Su Xi-er.

Merusak apa yang tidak bisa didapatkannya; ternyata hati Yun Ruo Feng sehitam ini.

Pei Qian Hao menatapnya lekat-lekat dan bertanya dengan lembut, "Kau adalah Ning Ru Lan di kehidupanmu yang lalu, tetapi bisakah kau hanya menjadi Xi-er milik Pangeran ini di kehidupan ini?"

"Kau ... kapan kau mengetahui tentang identitasku yang sebenarnya? Apa kau terkejut? Hal gaib ...."

Ia menyelanya. "Aku sudah lama curiga, dan baru-baru ini aku bisa memastikannya dengan Ning Lian Chen. Terlepas dari itu, kau adalah kau, dan kau hanya akan menjadi milikku di kehidupan ini."

Ia tak lagi menyebut dirinya sebagai 'Pangeran ini' dan menggunakan 'aku' untuk menyebut dirinya sendiri. Saat ini, ia bukanlah si Pangeran Hao yang tegas, bijak, dan hebat, melainkan seorang pria biasa, yang telah mengabdikan seluruh hatinya kepada istrinya.

Su Xi-er mengangguk, suaranya lebih ceria. "Tentu saja aku adalah milikmu sekarang, karena aku sudah menikahimu; jangan lupakan bahwa kita sudah bersujud pada langit dan bumi. Meski jika kau membenci Ning Ru Lan, aku tidak akan pernah melepaskanmu di kehidupan ini."

Sudut mulut Pei Qian Hao pun melengkung ke atas. "Itulah tepatnya yang kuinginkan." Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Namun, Pangeran ini selalu mengagumi Ning Ru Lan. Kapan aku pernah bilang kalau aku membencinya?" Ia mulai dengan tidak tahu malunya, menyangkal kesalahan apa pun.

Su Xi-er tertawa dan menyodok hidungnya. "Kau mengatakannya beberapa kali, bahwa kau tidak menyukai wanita berkemauan keras seperti Ning Ru Lan."

"Begitukah? Ingatan Pangeran ini tidak bagus. Aku tidak ingat mengatakan itu." Mengabaikan keberadaan Ning Lian Chen, ia menundukkan kepalanya dan dengan hati-hati mencium bibir ceri Su Xi-er, memperlakukannya seperti hartanya.

Ning Lian Chen tersenyum, hatinya dipenuhi dengan restu untuk mereka. Pada akhirnya, ia memutuskan agar tidak mengganggu mereka, dan diam-diam pergi. Namun, hanya setelah beberapa langkah, ia berpapasan dengan Qin Ling.

"Bawahan ini memberi hormat kepada Yang Mulia. Dimana ... Pangeran Yun?" Mata Qin Ling dipenuhi dengan kecemasan. Aku sudah bekerja dengan setia untuknya selama sepuluh tahun. Biarpun ia jahat, ia tetaplah majikanku.

"Komandan Qin, Pangeran Yun sudah mati. Kaisar ini menghormati kesetiaan yang kau miliki untuk majikanmu, tetapi mahkamah tak lagi bisa menggunakanmu mulai sekarang. Kau akan diberhentikan dari posisimu sebagai komandan, dan dihukum menjadi orang biasa." Meski jika Qin Ling adalah orang berbakat, Ning Lian Chen tidak dapat memaafkannya.

Tatapan Qin Ling jadi kosong, tetapi bukan karena ia kehilangan jabatan dan kekuasaannya, melainkan karena kematian Yun Ruo Feng. Tuan ... sudah meninggal.

 

0 comments:

Posting Komentar