Consort of A Thousand Faces
Chapter 419 : Awan dan Angin Berangsur Menghilang di Kejauhan
Tanpa
sadar, Yun Rou Feng tersenyum selagi matanya tertuju pada pemandangan yang
jauh, kemudian menoleh untuk menatap Su Xi-er. "Lan-er, seberapa besar kau
mencintaiku dulu?" Ia berpura-pura untuk berjalan mendekatinya dengan
santai, mengulurkan tangan untuk menangkap pergelangan tangan Su Xi-er sewaktu
ia berbicara.
Tatapannya
langsung jadi berbeda. "Tidak ada yang boleh mendapatkan apa yang tidak
bisa kudapatkan." Suaranya kini dihiasi kejahatan, dan matanya tak
terbaca.
"Yun
Ruo Feng, aku tidak menyangka kalau kau akan merosot hingga ke tahap ini; bukan
manusia, bukan pula hantu." Su Xi-er mempertahankan ketenangannya meski
aura dingin ada di matanya.
Yun
Ruo Feng tertawa meresponsnya. "Aku mengatakan kalau aku akan membawamu
pergi. Sekarang, karena aku akan mati, aku juga akan menyeretmu turun
bersamaku. Itu juga bukan ide yang buruk bagi kita, menjadi pasangan
suami-istri hantu." Kemudian, ia menarik Su Xi-er.
Namun,
Su Xi-er sudah menyembunyikan sebongkah batu di tangannya. Ketika Yun Ruo Feng
mencoba menariknya, ia menggunakan tangannya yang bebas untuk menyerang titik
akupuntur kebasnya.
Menangkapnya
dengan terkejut, Yun Ruo Feng agak mengendurkan cengkeramannya, hanya untuk menyerang
sekali lagi ketika Su Xi-er sudah akan melepaskan dirinya. "Lan-er,
setelah berada di ketentaraan selama bertahun-tahun, aku kaya akan pengalaman
tempur. Mana bisa trik kecil ini menipuku?"
Segera
setelah ia berbicara, mereka berdua merasakan getaran dari derap langkah yang
mendekat di bawah kaki mereka. Beberapa saat kemudian, Pei Qian Hao muncul
sembari masih mengenakan jubah pengantin pria merah terangnya. Sekujur tubuhnya
memancarkan aura dingin yang berbahaya, dan ekspresi serius di wajahnya tak
menyelubungi niat membunuhnya.
Matanya
mendalam sewaktu ia berjalan mendekat dan melihat kalau Yun Ruo Feng sedang
berpegangan erat pada Su Xi-er sementara mereka berdiri di dekat tepi jurang.
Namun, ia memastikan untuk menyembunyikan keresahannya.
"Pangeran
Hao, kau benar-benar cepat. Pangeran ini masih belum berhasil mengatakan banyak
hal pada Xi-er." Yun Ruo Feng tersenyum tipis sementara tangannya tetap
melingkar erat di pergelangan tangan Su Xi-er.
Su
Xi-er mengangguk kecil pada Pei Qian Hao untuk meyakinkannya bahwa ia baik-baik
saja.
Gerakannya
yang tak terlihat tidak luput dari mata Yun Ruo Feng, dan dengan lembut, ia
tersenyum. "Kau akan segera menjadi pasangan hantu yang menikah dengan
Pangeran ini, tetapi kau masih tidak bisa melupakan Pangeran Hao?" Ia
mengalihkan pandangannya saat rasa dingin yang suram menyelimuti matanya.
"Pei Qian Hao, apa kau tahu, siapa wanita yang sedang Pangeran ini
pegang?"
Akan
seperti apa ekspresi Pei Qian Hao jika ia mengetahui bahwa ia adalah Ning Ru
Lan? Aku tahu kalau ia tidak suka wanita yang berkemauan keras.
Su
Xi-er merasa ada tangan yang dingin membungkus hatinya, dan ia langsung melihat
ke arah Pei Qian Hao dengan tatapan yang emosional. Namun, apa yang diucapkan
Pei Qian Hao selanjutnya, betul-betul mengejutkannya.
"Pangeran
ini tidak peduli apakah ia adalah Ning Ru Lan atau Su Xi-er. Yang Pangeran ini
pedulikan adalah bahwa sekarang ia adalah Hao Wang Fei; ia adalah
wanita milik Pangeran ini." Nada suaranya percaya diri, dan tatapannya
dipenuhi dengan tekad.
Keterkejutan
melintas di mata Yun Ruo Feng sebelum ia menoleh untuk menatap Su Xi-er.
"Aku tidak menduga, ia sudah mengetahui tentang identitasmu." Ia
terdiam dan melihat ke arah Pei Qian Hao. "Karena kau sudah mengetahui
bahwa ia adalah Ning Ru Lan, maka kau juga seharusnya mengetahui bahwa ia
adalah tunangan Pangeran ini. Sekarang, Pangeran ini berencana untuk membawanya
pergi!"
Pei
Qian Hao sambil mengejek, berkata, "Setelah menembus jantungnya dengan
satu anak panah; kau tak lagi punya hubungan dengannya. Tidak ada obat
penyesalan di dunia ini."
Dengan
kilatan merah, ia sudah meraih Su Xi-er, dan bersiap untuk merebutnya.
Namun,
Yun Ruo Feng menarik Su Xi-er dengan sama cepatnya. "Pei Qian Hao, kau
tidak akan bisa mendapatkannya!" Ia langsung menyeret Su Xi-er ke tepi dan
melompat saat Su Xi-er berada dalam genggamannya.
Pei
Qian Hao merasa, seolah ada embusan angin yang bertiup di telinganya saat gaun
pengantin merah itu terlepas dari jarinya.
Inilah
tepatnya pemandangan yang menyambut Ning Lian Chen ketika ia bergegas ke tempat
kejadian. Ia berteriak tak terkendali, "Kakak Perempuan!" Suaranya
menggema di seluruh pegunungan.
Tatapan
Pei Qian Hao berubah muram. Ia tidak akan mati! Aku akan mencarinya di
bawah tebing! Berbalik, ia baru saja hendak berlari menggila ke bawah
tebing ketika ia merasakan sesuatu mengguncang tanah di dekat kakinya.
Satu
tangan kurus sedang berpegangan di sebongkah batu di tepinya.
Pei
Qian Hao melebarkan matanya dalam keterkejutan dan suka cita. Ia langsung
berjongkok dan menarik tangan itu, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik
Su Xi-er ke dalam pelukannya.
Menyaksikan
mereka dari samping, air mata mengalir dari mata Ning Lian Chen untuk pertama
kalinya setelah sekian lama. Benaknya jadi kosong ketika ia berpikir kalau Kakak
Perempuannya sudah jatuh bersama Yun Ruo Feng. Satu-satunya keluargaku
.... Sekarang, karena ia aman dan selamat, Ning Lian Chen langsung
menghela napas lega.
Pei
Qian Hao diam saja saat ia memeluk Su Xi-er dengan erat. Tangannya gemetaran,
dan untuk sesaat, ia benar-benar ketakutan. Bagi seseorang yang tidak akan
mengedipkan bulu mata ketika berhadapan dengan ribuan pasukan, tidak takut
dikepung oleh prajurit musuh, dan tidak peduli tentang terjebak dalam situasi
genting, Pei Qian Hao telah merasakan cengkeraman dingin yang mengoyak di
hatinya, untuk pertama kalinya.
Bahkan
sekarang, tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari perasaan mengerikan yang
menguasainya untuk sesaat.
Su
Xi-er menepuk-nepuk punggungnya. "Aku tidak apa-apa. Saat kami jatuh dari
tebing, aku menendang titik akupuntur sakit di kakinya."
Dalam
situasi kritis itu, ia berhasil menendang Yun Ruo Feng, meraih tebing tepat
pada waktunya. Keterkejutan dan keputusasaan yang terpampang di roman wajah Yun
Ruo Feng dalam sekejap itu, sudah membawa kembali kesedihan di hati Su Xi-er.
Merusak
apa yang tidak bisa didapatkannya; ternyata hati Yun Ruo Feng sehitam ini.
Pei
Qian Hao menatapnya lekat-lekat dan bertanya dengan lembut, "Kau adalah
Ning Ru Lan di kehidupanmu yang lalu, tetapi bisakah kau hanya menjadi Xi-er
milik Pangeran ini di kehidupan ini?"
"Kau
... kapan kau mengetahui tentang identitasku yang sebenarnya? Apa kau terkejut?
Hal gaib ...."
Ia
menyelanya. "Aku sudah lama curiga, dan baru-baru ini aku bisa
memastikannya dengan Ning Lian Chen. Terlepas dari itu, kau adalah kau, dan kau
hanya akan menjadi milikku di kehidupan ini."
Ia
tak lagi menyebut dirinya sebagai 'Pangeran ini' dan menggunakan 'aku' untuk
menyebut dirinya sendiri. Saat ini, ia bukanlah si Pangeran Hao yang tegas,
bijak, dan hebat, melainkan seorang pria biasa, yang telah mengabdikan seluruh
hatinya kepada istrinya.
Su
Xi-er mengangguk, suaranya lebih ceria. "Tentu saja aku adalah milikmu
sekarang, karena aku sudah menikahimu; jangan lupakan bahwa kita sudah bersujud
pada langit dan bumi. Meski jika kau membenci Ning Ru Lan, aku tidak akan
pernah melepaskanmu di kehidupan ini."
Sudut
mulut Pei Qian Hao pun melengkung ke atas. "Itulah tepatnya yang
kuinginkan." Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Namun, Pangeran
ini selalu mengagumi Ning Ru Lan. Kapan aku pernah bilang kalau aku
membencinya?" Ia mulai dengan tidak tahu malunya, menyangkal kesalahan apa
pun.
Su
Xi-er tertawa dan menyodok hidungnya. "Kau mengatakannya beberapa kali,
bahwa kau tidak menyukai wanita berkemauan keras seperti Ning Ru Lan."
"Begitukah?
Ingatan Pangeran ini tidak bagus. Aku tidak ingat mengatakan itu."
Mengabaikan keberadaan Ning Lian Chen, ia menundukkan kepalanya dan dengan
hati-hati mencium bibir ceri Su Xi-er, memperlakukannya seperti hartanya.
Ning
Lian Chen tersenyum, hatinya dipenuhi dengan restu untuk mereka. Pada akhirnya,
ia memutuskan agar tidak mengganggu mereka, dan diam-diam pergi. Namun, hanya
setelah beberapa langkah, ia berpapasan dengan Qin Ling.
"Bawahan
ini memberi hormat kepada Yang Mulia. Dimana ... Pangeran Yun?" Mata Qin
Ling dipenuhi dengan kecemasan. Aku sudah bekerja dengan setia untuknya
selama sepuluh tahun. Biarpun ia jahat, ia tetaplah majikanku.
"Komandan
Qin, Pangeran Yun sudah mati. Kaisar ini menghormati kesetiaan yang kau miliki
untuk majikanmu, tetapi mahkamah tak lagi bisa menggunakanmu mulai sekarang.
Kau akan diberhentikan dari posisimu sebagai komandan, dan dihukum menjadi
orang biasa." Meski jika Qin Ling adalah orang berbakat, Ning Lian Chen
tidak dapat memaafkannya.
Tatapan
Qin Ling jadi kosong, tetapi bukan karena ia kehilangan jabatan dan
kekuasaannya, melainkan karena kematian Yun Ruo Feng. Tuan ... sudah
meninggal.

0 comments:
Posting Komentar