Sabtu, 27 Juni 2026

CTF - Chapter 420

Consort of A Thousand Faces

Chapter 420 : Malam Pengantin


Di atas puncak gunung, Pei Qian Hao terus memeluk Su Xi-er dengan erat, sementara ia menempelkan keningnya ke kening Su Xi-er. Beberapa saat setelahnya, ia mengangkat tangan kanannya dan menangkup wajahnya, dengan lembut memanggil, "Xi-er."

"Aku di sini." Su Xi-er menjawab dengan lembut sebelum mendongakkan kepala untuk mencium bibirnya. Pei Qian Hao dapat mengendus aroma samarnya, sekaligus rasa yang tersisa dari sup kurma merah yang diminumnya sebelumnya.

Tatapan Pei Qian Hao mendalam, dan pelukannya jadi semakin erat. Menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Su Xi-er, ia pun menggendongnya sementara napas mereka saling terjalin, tubuh mereka menjadi semakin panas bersamaan dengan itu.

"Xi-er." Pei Qian Hao berhenti dan menatap mata cemerlangnya dengan saksama.

Namun, Su Xi-er mendadak merasa agak pusing. Tanpa adanya kehadiran dari bahaya yang terus-menerus, tubuhnya dengan cepat mulai merasa lemah lagi. Sudah suatu prestasi baginya, bisa tetap sadar hingga sekarang dengan bantuan dari luka tusukan di lengannya dan angin dingin pegunungan. Menyadari bahwa Su Xi-er mendadak 'kelelahan', Pei Qian Hao meraupnya ke dalam pelukannya sebelum mulai menggendongnya turun gunung.

Setelah memasuki hutan dan sampai di jalan setapak pegunungan, Pei Qian Hao menemukan Qin Ling yang tertegun, menyapukan pandangannya sekilas padanya sebelum meneruskan jalannya. Setelah beberapa langkah, ia menggendong Su Xi-er ke dalam kereta kuda dan merobek jubah pengantin pria merah terangnya, membungkuskannya pada Su Xi-er untuk menjaganya tetap hangat. Kemudian, ia mengangkat cemetinya sambil mengarahkan keretanya menuruni jalur pegunungan.

Setelah sampai di bagian bawah gunung, ia melihat Yu Chi Mo yang mendekat bersama sekelompok pengawal. Melihat Pei Qian Hao, Yu Chi Mo bersiap-siap untuk turun dan memberikan hormatnya. Namun, sebelum ia dapat melakukannya, ia merasakan embusan angin melewati telinganya. Ketika ia berbalik, ia hanya melihat sosok yang mencolok berbalut jubah merah yang berlari di tengah malam.

"Komandan, Pangeran Hao sudah melewati kita." Salah satu bawahannya hanya bisa mengingatkan Yu Chi Mo ketika ia melihat orang itu melongo.

Yu Chi Mo melambaikan tangannya dan memerintahkan, "Kembali dan lanjutkan menjaga gerbang kota!" Ia melecut cemetinya, mendorong sekelompok pengawal untuk berbalik dan memulai perjalanan kembali mereka ke ibu kota di tengah gumpalan debu yang dijejak oleh kuda-kuda mereka.

Tetapi, meskipun urutan kejadian yang tampaknya mengguncang bumi ini hanya dalam dua jam, hampir tidak ada yang mengetahui tentang apa yang terjadi. Semua orang mengira bahwa Su Xi-er sudah tinggal di kamar pengantin dalam diam selama ini.

Sewaktu Pei Qian Hao mengantarkan Su Xi-er ke kamar pengantin, seseorang tiba dan berteriak dari luar pintu, "Pangeran Hao, bawahan biasa Anda, secara berani datang untuk mengganggu kamar pengantin malam ini!" Dengan semua orang yang mabuk, mereka sudah mendapatkan keberanian tanpa berpikir, melontarkan apa yang biasanya tak berani mereka ucapkan. Semua orang bersemangat sekali sewaktu mereka bersiap untuk mengganggu kamar pengantin.

***

Di dalam kamar, Pei Qian Hao menurunkan Su Xi-er di atas ranjang dengan hati-hati. Hanya ketika ia tanpa sengaja menyentuh lengannya, baru ia menemukan luka yang dalam itu, menyebabkan matanya menggelap.

Su Xi-er menggenggam tangan Pei Qian Hao. "Itu aneh sekali. Aku hanya minum dua mangkuk sup kurma merah hari ini; satu dari Consort Dowager Guo, dan yang satunya dari Wu Ling. Biar begitu, tubuhku tetap saja mulai merasa lemah setelah beberapa waktu."

"Apakah karena itu kau menusuk dirimu sendiri? Agar tetap sadar?" Pei Qian Hao merasa hatinya berdenyut sewaktu ia bertanya dengan suara rendah. Ia dipojokkan oleh Yun Ruo Feng karena ia melemah, membuatnya menusuk dirinya sendiri agar tetap berpikir jernih.

"Tidak apa-apa, hanya luka kecil." Su Xi-er tak lagi bersikap sembunyi-sembunyi sekarang, karena ia tahu bahwa Pei Qian Hao sudah mengetahui tentang identitasnya. Dibandingkan dengan luka yang kudapatkan di medan perang, ini tidak bisa dianggap apa-apa.

Saat ini, para pejabat masih berteriak di luar pintu. "Ganggu kamar pengantinnya! Ganggu kamar pengantinnya! Hao Wang Fei, keluarlah dan biarkan pejabat-pejabat biasa ini melihatnya!"

Su Xi-er tersenyum dan menepuk tangan Pei Qian Hao. "Kau harus keluar dan mengatasinya. Aku takut kalau mereka tidak akan bisa mengganggu kamar pengantinnya seperti ini."

Memahami apa maksudnya, Pei Qian Hao mengangguk dan keluar untuk membukakan pintu.

"Pangeran ini belum pernah menyentuh wanita selama dua puluh lima tahun. Semuanya, mohon pengertiannya. Pengawal, antarkan para pejabat pulang." Dengan itu, ia menutup pintu.

Para pengawal dari Kediaman Pangeran Hao segera maju ke depan dan mengulurkan tangan mereka. "Tuan-Tuan, tidak nyaman bagi Pangeran Hao hari ini. Akan lebih baik untuk lupakan saja soal mengganggu kamar pengantinnya."

Para menteri yang awalnya mabuk, seketika sadar setelah mendengarkan kata-kata Pei Qian Hao. Apa?! Tidak pernah menyentuh wanita selama dua puluh lima tahun?! Tidak mungkin, kan?! Bagaimana dengan tujuh puluh dua wanita di Istana Kecantikan? Ia belum menyentuh seorang pun dari mereka?

Ini ... tidak bisa dipercaya! Para menteri pun berseru terkejut sewaktu mereka berjalan keluar. Dua puluh lima tahun! Kita memang harus menunjukkan pengertian. Keluarga terpandang akan menyiapkan dayang selir kamar untuk putra-putra mereka di usia lima belas tahun, tetapi, Pangeran Hao sudah menahannya sekian lama. Ada banyak hal yang harus dilakukannya untuk malam pengantin!

Keheningan langsung menyelimuti halaman utama. Su Xi-er sudah mendengarkan semuanya, dan tidak sanggup menahan tawanya ketika ia melihat Pei Qian Hao berjalan mendekat.

"Kau punya tenaga untuk tersenyum sekarang?" Pei Qian Hao duduk di tepi ranjang dan memungut tudung pengantin merahnya. "Sini, pakai ini; kita tidak boleh melewatkan bagian ini. Apa kau sudah lebih bertenaga?"

Su Xi-er mengangguk; setelah bepergian sepanjang jalan dari pinggiran kota dan dan berbaring di ranjang beberapa waktu, ia sudah mendapatkan lagi tenaganya. Ini juga membuatnya memastikan bahwa seseorang memang telah ikut campur dengan sesuatu hingga menyebabkan hilangnya tenaganya secara tiba-tiba, tetapi ia masih perlu menyelidiki lebih jauh, apa itu tepatnya.

Meskipun sulit untuk didapatkan, momen kebahagiaannya akhirnya di sini, selagi Su Xi-er memakai tudung pengantin merahnya. Di waktu yang sama, Ruo Yuan dan Hong Li, yang dengan grogi siuman setelah dibuat pingsan tadi, langsung memberikan hormat mereka setelah melihat Pei Qian Hao, dan praktisnya berlari keluar dari dalam kamar dengan panik.

Melihat ke pintu yang sekali lagi tertutup, mata Pei Qian Hao menggelap. Aku harus menyelidiki masalah ini. Selain dari pria berjubah hitam, pasti ada orang lain juga yang sudah membantu Yun Ruo Feng.

Setelah merenung, Pei Qian Hao berbalik dan memasang senyum riang sewaktu ia berjalan ke arah Su Xi-er, mengambil tongkat upacara ru yi dengan sepotong kain merah yang menggantung di sana.

Pernapasan mereka saat ini dangkal, dan rasanya seolah udara di dalam kamar sudah membeku; saat dimana tudung pengantin akan diangkat dipenuhi dengan penantian, kegugupan, dan rasa yang manis.

Wajah memerah Su Xi-er pun muncul sewaktu tudungnya diangkat, tenaganya sudah sepenuhnya pulih, dengan efek obat yang menghilang.

Di bawah penerangan cahaya lilin, Pei Qian Hao diam-diam memerhatikan ekspresi murni dan menawannya. Aku sudah menemukan sebuah harta.

"Bukankah kau bilang kalau kau belum menyentuh wanita selama dua puluh lima tahun? Apa kau hanya akan memandangiku malam ini?" Su Xi-er tersenyum dengan manis padanya.

Pei Qian Hao agak terpana. Ia ... tempat itu sudah sembuh? Tabib Kekaisaran Zhao sudah mengatakan bahwa ia tidak akan pulih, setidaknya dalam 10 hari.

Meski diliputi dengan emosi, Pei Qian Hao juga mengkhawatirkan tentang luka di tangan Su Xi-er. Oleh sebab itu, ia membungkuk dan meraih tangannya. "Tanganmu terluka. Kau tidak bisa membuat pergerakan besar."

Su Xi-er menggulung lengan jubahnya. "Lukanya sudah berkeropeng; jenis luka semacam ini bukan apa-apa." Kemudian, ia menyadari kecemasan di mata Pei Qian Hao. Aku sudah mengatakan sebanyak ini, tetapi ia masih belum bertindak .... Bagaimana bisa kami tidak berhubungan intim di malam pengantin? Selain itu, kami juga harus mengikuti adat istiadatnya.

Kelicikan pun muncul di mata Su Xi-er sewaktu ia menggunakan tangannya yang tidak terluka untuk mendorong Pei Qian Hao ke ranjang, menggunakan tangan yang sama untuk menekan dadanya sementara ia mulai menelanjangi Pei Qian Hao. "Tidak masalah selama kita tidak menyentuh luka di tanganku. Itulah mengapa, kau akan berada di bawah, dan aku yang akan berada di atas malam ini."

(T/N : Neng Xi-er, 😏😏)

Pei Qian Hao merasa jantungnya berdebar-debar. Aku belum pernah melihatnya bertindak begitu 'lancang'. Ia dapat merasakan tubuhnya memanas dengan tangan Su Xi-er yang tetap menekan dadanya.

Karenanya, ia melingkarkan tangannya di pinggang Su Xi-er. "Mari lakukan secara perlahan. Aku akan menyangga pinggangmu dalam pergerakannya."

Pernah mengalaminya satu kali, tentunya Su Xi-er tahu perubahan apa yang sedang dialami tubuh Pei Qian Hao. Posisi ini terlalu berani. Aku tidak merasakan apa-apa ketika aku membicarakannya barusan ini, tetapi sekarang karena kami sungguh melakukannya .... Telinga Su Xi-er segera merona merah.

 

0 comments:

Posting Komentar