Consort of A Thousand Faces
Chapter 420 : Malam Pengantin
Di
atas puncak gunung, Pei Qian Hao terus memeluk Su Xi-er dengan erat, sementara
ia menempelkan keningnya ke kening Su Xi-er. Beberapa saat setelahnya, ia
mengangkat tangan kanannya dan menangkup wajahnya, dengan lembut memanggil,
"Xi-er."
"Aku
di sini." Su Xi-er menjawab dengan lembut sebelum mendongakkan kepala
untuk mencium bibirnya. Pei Qian Hao dapat mengendus aroma samarnya, sekaligus
rasa yang tersisa dari sup kurma merah yang diminumnya sebelumnya.
Tatapan
Pei Qian Hao mendalam, dan pelukannya jadi semakin erat. Menyelipkan lidahnya
ke dalam mulut Su Xi-er, ia pun menggendongnya sementara napas mereka saling
terjalin, tubuh mereka menjadi semakin panas bersamaan dengan itu.
"Xi-er."
Pei Qian Hao berhenti dan menatap mata cemerlangnya dengan saksama.
Namun,
Su Xi-er mendadak merasa agak pusing. Tanpa adanya kehadiran dari bahaya yang
terus-menerus, tubuhnya dengan cepat mulai merasa lemah lagi. Sudah suatu
prestasi baginya, bisa tetap sadar hingga sekarang dengan bantuan dari luka
tusukan di lengannya dan angin dingin pegunungan. Menyadari bahwa Su Xi-er
mendadak 'kelelahan', Pei Qian Hao meraupnya ke dalam pelukannya sebelum mulai
menggendongnya turun gunung.
Setelah
memasuki hutan dan sampai di jalan setapak pegunungan, Pei Qian Hao menemukan
Qin Ling yang tertegun, menyapukan pandangannya sekilas padanya sebelum
meneruskan jalannya. Setelah beberapa langkah, ia menggendong Su Xi-er ke dalam
kereta kuda dan merobek jubah pengantin pria merah terangnya, membungkuskannya
pada Su Xi-er untuk menjaganya tetap hangat. Kemudian, ia mengangkat cemetinya
sambil mengarahkan keretanya menuruni jalur pegunungan.
Setelah
sampai di bagian bawah gunung, ia melihat Yu Chi Mo yang mendekat bersama
sekelompok pengawal. Melihat Pei Qian Hao, Yu Chi Mo bersiap-siap untuk turun
dan memberikan hormatnya. Namun, sebelum ia dapat melakukannya, ia merasakan
embusan angin melewati telinganya. Ketika ia berbalik, ia hanya melihat sosok
yang mencolok berbalut jubah merah yang berlari di tengah malam.
"Komandan,
Pangeran Hao sudah melewati kita." Salah satu bawahannya hanya bisa
mengingatkan Yu Chi Mo ketika ia melihat orang itu melongo.
Yu
Chi Mo melambaikan tangannya dan memerintahkan, "Kembali dan lanjutkan
menjaga gerbang kota!" Ia melecut cemetinya, mendorong sekelompok pengawal
untuk berbalik dan memulai perjalanan kembali mereka ke ibu kota di tengah
gumpalan debu yang dijejak oleh kuda-kuda mereka.
Tetapi,
meskipun urutan kejadian yang tampaknya mengguncang bumi ini hanya dalam dua jam,
hampir tidak ada yang mengetahui tentang apa yang terjadi. Semua orang mengira
bahwa Su Xi-er sudah tinggal di kamar pengantin dalam diam selama ini.
Sewaktu
Pei Qian Hao mengantarkan Su Xi-er ke kamar pengantin, seseorang tiba dan
berteriak dari luar pintu, "Pangeran Hao, bawahan biasa Anda, secara
berani datang untuk mengganggu kamar pengantin malam ini!" Dengan semua
orang yang mabuk, mereka sudah mendapatkan keberanian tanpa berpikir,
melontarkan apa yang biasanya tak berani mereka ucapkan. Semua orang
bersemangat sekali sewaktu mereka bersiap untuk mengganggu kamar pengantin.
***
Di
dalam kamar, Pei Qian Hao menurunkan Su Xi-er di atas ranjang dengan hati-hati.
Hanya ketika ia tanpa sengaja menyentuh lengannya, baru ia menemukan luka yang
dalam itu, menyebabkan matanya menggelap.
Su
Xi-er menggenggam tangan Pei Qian Hao. "Itu aneh sekali. Aku hanya minum
dua mangkuk sup kurma merah hari ini; satu dari Consort Dowager Guo,
dan yang satunya dari Wu Ling. Biar begitu, tubuhku tetap saja mulai merasa lemah
setelah beberapa waktu."
"Apakah
karena itu kau menusuk dirimu sendiri? Agar tetap sadar?" Pei Qian Hao
merasa hatinya berdenyut sewaktu ia bertanya dengan suara rendah. Ia
dipojokkan oleh Yun Ruo Feng karena ia melemah, membuatnya menusuk dirinya
sendiri agar tetap berpikir jernih.
"Tidak
apa-apa, hanya luka kecil." Su Xi-er tak lagi bersikap sembunyi-sembunyi
sekarang, karena ia tahu bahwa Pei Qian Hao sudah mengetahui tentang
identitasnya. Dibandingkan dengan luka yang kudapatkan di medan perang,
ini tidak bisa dianggap apa-apa.
Saat
ini, para pejabat masih berteriak di luar pintu. "Ganggu kamar
pengantinnya! Ganggu kamar pengantinnya! Hao Wang Fei, keluarlah
dan biarkan pejabat-pejabat biasa ini melihatnya!"
Su
Xi-er tersenyum dan menepuk tangan Pei Qian Hao. "Kau harus keluar dan
mengatasinya. Aku takut kalau mereka tidak akan bisa mengganggu kamar
pengantinnya seperti ini."
Memahami
apa maksudnya, Pei Qian Hao mengangguk dan keluar untuk membukakan pintu.
"Pangeran
ini belum pernah menyentuh wanita selama dua puluh lima tahun. Semuanya, mohon
pengertiannya. Pengawal, antarkan para pejabat pulang." Dengan itu, ia
menutup pintu.
Para
pengawal dari Kediaman Pangeran Hao segera maju ke depan dan mengulurkan tangan
mereka. "Tuan-Tuan, tidak nyaman bagi Pangeran Hao hari ini. Akan lebih
baik untuk lupakan saja soal mengganggu kamar pengantinnya."
Para
menteri yang awalnya mabuk, seketika sadar setelah mendengarkan kata-kata Pei
Qian Hao. Apa?! Tidak pernah menyentuh wanita selama dua puluh
lima tahun?! Tidak mungkin, kan?! Bagaimana dengan tujuh puluh
dua wanita di Istana Kecantikan? Ia belum menyentuh seorang pun dari
mereka?
Ini
... tidak bisa dipercaya! Para menteri pun berseru terkejut
sewaktu mereka berjalan keluar. Dua puluh lima tahun! Kita memang harus
menunjukkan pengertian. Keluarga terpandang akan menyiapkan dayang selir kamar
untuk putra-putra mereka di usia lima belas tahun, tetapi, Pangeran Hao sudah
menahannya sekian lama. Ada banyak hal yang harus dilakukannya untuk malam
pengantin!
Keheningan
langsung menyelimuti halaman utama. Su Xi-er sudah mendengarkan semuanya, dan
tidak sanggup menahan tawanya ketika ia melihat Pei Qian Hao berjalan mendekat.
"Kau
punya tenaga untuk tersenyum sekarang?" Pei Qian Hao duduk di tepi ranjang
dan memungut tudung pengantin merahnya. "Sini, pakai ini; kita tidak boleh
melewatkan bagian ini. Apa kau sudah lebih bertenaga?"
Su
Xi-er mengangguk; setelah bepergian sepanjang jalan dari pinggiran kota dan dan
berbaring di ranjang beberapa waktu, ia sudah mendapatkan lagi tenaganya. Ini
juga membuatnya memastikan bahwa seseorang memang telah ikut campur dengan
sesuatu hingga menyebabkan hilangnya tenaganya secara tiba-tiba, tetapi ia
masih perlu menyelidiki lebih jauh, apa itu tepatnya.
Meskipun
sulit untuk didapatkan, momen kebahagiaannya akhirnya di sini, selagi Su Xi-er
memakai tudung pengantin merahnya. Di waktu yang sama, Ruo Yuan dan Hong Li,
yang dengan grogi siuman setelah dibuat pingsan tadi, langsung memberikan
hormat mereka setelah melihat Pei Qian Hao, dan praktisnya berlari keluar dari
dalam kamar dengan panik.
Melihat
ke pintu yang sekali lagi tertutup, mata Pei Qian Hao menggelap. Aku
harus menyelidiki masalah ini. Selain dari pria berjubah hitam, pasti ada orang
lain juga yang sudah membantu Yun Ruo Feng.
Setelah
merenung, Pei Qian Hao berbalik dan memasang senyum riang sewaktu ia berjalan
ke arah Su Xi-er, mengambil tongkat upacara ru yi dengan
sepotong kain merah yang menggantung di sana.
Pernapasan
mereka saat ini dangkal, dan rasanya seolah udara di dalam kamar sudah membeku;
saat dimana tudung pengantin akan diangkat dipenuhi dengan penantian,
kegugupan, dan rasa yang manis.
Wajah
memerah Su Xi-er pun muncul sewaktu tudungnya diangkat, tenaganya sudah
sepenuhnya pulih, dengan efek obat yang menghilang.
Di
bawah penerangan cahaya lilin, Pei Qian Hao diam-diam memerhatikan ekspresi
murni dan menawannya. Aku sudah menemukan sebuah harta.
"Bukankah
kau bilang kalau kau belum menyentuh wanita selama dua puluh lima tahun? Apa
kau hanya akan memandangiku malam ini?" Su Xi-er tersenyum dengan manis
padanya.
Pei
Qian Hao agak terpana. Ia ... tempat itu sudah sembuh? Tabib Kekaisaran
Zhao sudah mengatakan bahwa ia tidak akan pulih, setidaknya dalam 10 hari.
Meski
diliputi dengan emosi, Pei Qian Hao juga mengkhawatirkan tentang luka di tangan
Su Xi-er. Oleh sebab itu, ia membungkuk dan meraih tangannya. "Tanganmu
terluka. Kau tidak bisa membuat pergerakan besar."
Su
Xi-er menggulung lengan jubahnya. "Lukanya sudah berkeropeng; jenis luka
semacam ini bukan apa-apa." Kemudian, ia menyadari kecemasan di mata Pei
Qian Hao. Aku sudah mengatakan sebanyak ini, tetapi ia masih belum
bertindak .... Bagaimana bisa kami tidak berhubungan intim di malam
pengantin? Selain itu, kami juga harus mengikuti adat istiadatnya.
Kelicikan
pun muncul di mata Su Xi-er sewaktu ia menggunakan tangannya yang tidak terluka
untuk mendorong Pei Qian Hao ke ranjang, menggunakan tangan yang sama untuk
menekan dadanya sementara ia mulai menelanjangi Pei Qian Hao. "Tidak
masalah selama kita tidak menyentuh luka di tanganku. Itulah mengapa, kau akan
berada di bawah, dan aku yang akan berada di atas malam ini."
(T/N
: Neng Xi-er, 😏😏)
Pei
Qian Hao merasa jantungnya berdebar-debar. Aku belum pernah melihatnya
bertindak begitu 'lancang'. Ia dapat merasakan tubuhnya memanas dengan
tangan Su Xi-er yang tetap menekan dadanya.
Karenanya,
ia melingkarkan tangannya di pinggang Su Xi-er. "Mari lakukan secara
perlahan. Aku akan menyangga pinggangmu dalam pergerakannya."
Pernah
mengalaminya satu kali, tentunya Su Xi-er tahu perubahan apa yang sedang
dialami tubuh Pei Qian Hao. Posisi ini terlalu berani. Aku tidak
merasakan apa-apa ketika aku membicarakannya barusan ini, tetapi sekarang
karena kami sungguh melakukannya .... Telinga Su Xi-er segera merona
merah.

0 comments:
Posting Komentar