3L3W Lotus Step 1
Chapter 11 part 1
Karena
Halaman Chun Shen bersebelahan dengan Halaman Song He milik Ibu Suri, maka
halaman tersebut dijaga ketat, jadi Su Ji sedikit terkejut saat melihat Ji Ming
Feng di luar kediaman Cheng Yu.
Saat
ini, kecil kemungkinannya Ji Shizi bisa masuk melalui gerbang
halaman yang dijaga ketat, dan kemungkinannya, ia akan melompati tembok,
seperti dirinya. Meskipun Guru Kekaisaran bukanlah seorang penggosip, ia adalah
orang dengan keterampilan pergaulan yang sangat kaya. Ketika ia melihat Ji Ming
Feng dari kejauhan, ia teringat bahwa Putri Hong Yu pernah mengunjungi Li Chuan
tempat Ji Shizi tinggal selama lebih dari setahun. Sewaktu
Yang Mulia Pangeran memanggilnya dari sisi kaisar dan memintanya untuk membantu
memancing Li Xiang pergi, ia mendengarnya berkata bahwa Putri Hong Yu memang
sakit.
Yang
jelas, kunjungan Ji Shizi di malam berbintang itu bukan karena
mabuk dan tersesat, melainkan mungkin untuk menjenguk.
Namun
menerobos masuk ke kamar tidur seorang putri yang belum menikah pada larut malam
bukanlah hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria sejati, jadi Ji Shizi terdiam
sejenak di depan Guru Kekaisaran.
Guru
Kekaisaran mengangguk kepada Ji Shizi dengan sikap yang
bermartabat, "Shizi berdiri di sini, aku khawatir kau tidak
dapat melihat apa pun, kan?"
Ji Shizi:
"....?"
Guru
Kekaisaran mengingatkannya lagi dengan cara yang ahli, "Jika Shizi khawatir
ketahuan oleh Jenderal saat akan mendekat, itu tidak perlu. Ia mengetahuinya
ketika kau dan aku pertama kali melangkah masuk ke halaman ini. Jika ia tidak
bereaksi, itu artinya, ia tidak peduli. Maka tidak ada bedanya apakah kau
berdiri dekat atau jauh. Menurutku, apabila kau ingin melihat Putri Hong Yu
dengan serius, sebaiknya kau berdiri lebih dekat."
Ji Shizi:
"...."
Ji Shizi memandang
Guru Kekaisaran dengan curiga dan waspada, "Aku datang untuk menemui Hong
Yu. Sebagai Guru Kekaisaran, kau adalah seorang pendeta Tao, kenapa kau masuk
ke kamar tidur Hong Yu saat larut malam? Jangan bilang, kau juga
mengkhawatirkannya, makanya datang mengunjunginya."
Di
hadapannya, Guru Kekaisaran, mempertahankan sikap mulia yang tidak berdebat
dengan orang biasa, tetapi memutar matanya dalam hati dan berkata, 'Kau
tahu juga bahwa aku adalah seorang Pendeta Tao!'. Tetapi Guru
Kekaisaran hanya mengangguk kepada Ji Shizi dengan acuh tak
acuh dan berkata dengan tenang, "Shizi, jangan kesal. Aku di sini
hanya untuk melapor pada Jenderal."
Pintu
ruangannya terbuka, begitu pula jendelanya.
Ketika
Guru Kekaisaran berjalan ke pintu, ia mendengar suara Yang Mulia Ketiga,
kalimat yang tak berawalan dan tak tahu akhirannya, "Ini salahku. Jika kau
tidak ingin mengatakannya, jangan katakan."
Guru
Kekaisaran belum pernah mendengar Yang Mulia Ketiga mengakui kesalahannya
kepada siapa pun dalam hidupnya, dan mau tak mau jadi tercengang.
Yang
Mulia Ketiga di ruangan itu melanjutkan, "Kau baru saja bangun belum lama
ini. Apa kau ingin makan?"
Pihak
lain mungkin menolak, dan Yang Mulia Ketiga tidak menganggapnya serius.
"Kalau begitu aku akan menemanimu keluar untuk berjalan-jalan. Ada hutan
murad kain sutera di halaman air. Mereka sudah tertata rapi dan cocok untuk
berjalan-jalan."
Demikian
pula, Guru Kekaisaran belum pernah mendengar Yang Mulia Ketiga membujuk siapa
pun dalam hidupnya, jadi mau tak mau, ia terkejut lagi. Setelah tertegun, guru
kekaisaran terdiam. Ia merasa ini bukan waktunya untuk masuk, jadi ia pindah ke
jendela.
Kemudian
ia mendengar seorang gadis di ruangan itu akhirnya menjawab, "Menurutku
segalanya tidak akan lebih baik dari di istana." Suaranya agak lembut dan
serak, seolah-olah ia baru saja menangis, dan suaranya tidak terlalu keras atau
berminat, seolah-olah ia tidak mau. 'Ini pasti Putri Hong Yu',
pikir sang Guru Kekaisaran dalam hati.
Segera,
gadis itu dengan berani menambahkan, "Aku ingin sendirian, di sini, tidak
keluar."
Ini
adalah memerintahkan tamu untuk pergi. Kelopak mata Guru Kekaisaran bekedut,
dan diam-diam ia mengagumi putri kecil ini. Ia adalah orang pertama yang pernah
dikenalnya dalam hidupnya yang berani mengambil inisiatif mengeluarkan perkataan
memerintah tamu agar pergi kepada Yang Mulia Pangeran Ketiga.
Ada
keheningan sesaat di ruangan itu. Setelah hening beberapa saat, Yang Mulia
Pangeran Ketiga perlahan berkata, "Apakah kau mengusirku?"
Sang
putri tampak ragu-ragu sejenak, "Aku ...." dan akhirnya berkata tanpa
percaya diri, "... hanya sebentar ...."
"Sebentar?"
Sang
putri melanjutkan tanpa rasa percaya diri, "Hanya sebentar."
Yang
Mulia Pangeran Ketiga melambat sejenak dan berkata, "Kau terlihat seperti
ini, dan kau masih ingin sendirian, bahkan untuk waktu yang singkat. Apakah
menurutmu, aku akan menyetujuinya?"
Guru
Kekaisaran merasa bahwa ia telah mendengar sedikit bujukan yang lembut, dan mau
tidak mau menggosok telinganya.
Sang
putri menjawab dengan lemah, ".... tidak akan setuju."
Yang
Mulia Pangeran Ketiga menyarankan, "Pergilah ke jalanan."
Sang
putri jelas tertegun sejenak, "Apa?"
Yang
Mulia Ketiga menjelaskan, "Malam ini adalah Festival Qi Qiao, dan jalanan
seharusnya sangat ramai. Bukankah kau menyukai keramaian?"
Kesabaran
Yang Mulia seperti itu membuat Guru Kekaisaran menggosok lagi telinganya dengan
curiga.
Setelah
beberapa saat, sang putri menjawab dengan lembut, "Seharusnya ada banyak
gadis yang berkumpul saat Qi Qiao." Ia sepertinya tertarik dengan saran
ini.
Yang
Mulia Pangeran Ketiga berkata dengan tenang, "Ya, ini akan sangat
menarik."
Sang
putri ragu-ragu lagi, "Tetapi Kakak Sepupu Kaisar tidak mengizinkanku
meninggalkan istana sesuka hati."
Yang
Mulia Ketiga seolah tidak percaya, "Kenapa kau mau memberitahunya?"
Sang
putri sangat frustasi, "Tetapi, kalaupun aku tidak memberitahunya, ia
mungkin akan tetap mengetahuinya. Jika itu terjadi, apa yang harus
kulakukan?"
Yang
Mulia Pangeran Ketiga berhenti sejenak dan berkata, "Jika itu masalahnya,
salahkan saja aku."
Sang
putri sedikit terkejut, "Kalau begitu, jika diarahkan padamu, bukankah
Kakak Sepupu Kaisar akan menyalahkanmu?"
Yang
Mulia Pangeran Ketiga berkata dengan tenang, "Tidak akan menyalahkanmu,
tetapi akan menyalahkanku."
Sang
putri khawatir, "Kalau begitu ...."
Yang
Mulia Pangeran Ketiga tidak terlalu peduli, "Aku akan menyalahkan Guru
Kekaisaran."
Guru
Kekaisaran, yang sedang menggosok telinganya, sedikit tersandung, berpegangan
pada ambang jendela untuk menenangkan diri, mendorong dirinya agar tetap tenang.
***
Mengikuti
Lian San dan Cheng Yu sampai ke Jalan Bao Lou, pasar malam paling makmur di
istana, Guru Kekaisaran memikirkan, berapa lama ia harus mengikuti.
Lebih
dari setengah jam yang lalu, ketika Yang Mulia Ketiga memimpin putri muda
keluar dari Halaman Chun Shen, Guru Kekaisaran berpikir bahwa Li Xiang dijebak
olehnya di bebatuan di Taman Barat dan tidak akan bisa melarikan diri sampai
ayam jago berkokok besok, jadi ia baru saja ingin melaporkan ini di sini.
Tampaknya tidak pantas mengganggu Yang Mulia Pangeran Ketiga saat ini. Yang
Mulia Ketiga tidak akan mengajak putri kecil itu keluar sepanjang malam.
Mungkin tidak ada gunanya jika ia melaporkanya. Sehingga, Guru Kekaisaran
berencana untuk mundur.
Tanpa
diduga, Ji Ming Feng mengikutinya. Melihat tampang Ji Shizi yang
tidak bagus, Guru Kekaisaran khawatir sesuatu akan terjadi, jadi ia tak punya
pilihan selain mengikutinya.
***
Kota
Ping'an sangat ramai malam ini.
Ada
bulan sabit di langit, dan ada tiga ribu toko anggur dan jalan di dunia
manusia, dengan lentera digantung dan dihias di sana-sini, tampak seperti
sebuah festival.
Selain
kios-kios yang biasa menjual hewan buruan, buah-buahan, dan kue-kue, banyak
juga kios-kios yang menjual barang-barang musiman menarik di pinggir jalan.
Seperti, patung tanah liat Mo Shu Luo yang dihiasi manik-manik emas, ada wayang
tanah yang "mengambang di atas air" yang terbuat dari lilin kuning,
"biji" yang terbuat dari sutra berwarna merah dan biru, "bunga
melon" yang diukir dari berbagai buah-buahan dan sayur-mayur, dan
lain-lain.
Lian
San masih ingat saat bertemu Cheng Yu di jalan beberapa hari yang lalu, ia
terlihat terobsesi dengan hal-hal menarik di jalan. Meskipun ia berjalan-jalan
malam ini, melihat ke timur dan barat, caranya memandang barang-barang ini
benar-benar berbeda dari hari itu. Matanya tidak berkilau seperti waktu itu.
Di
depannya ada kios yang menjual "papan biji-bijian". Cheng Yu
mengikuti arus manusia dan berdiri di dekat kios, memandangi biji-bijian
terbesar dengan ayam yang mematuk nasi di atasnya dalam waktu lama. Ia pendiam
malam ini dan tak banyak bicara.
Lian
San adalah orang pertama yang memecah keheningan dan bertanya padanya,
"Mau yang ini?"
Namun,
ia sepertinya tiba-tiba terbangun dari mimpinya. Ia tertegun sejenak sebelum
menjawab pertanyaan, "Mmm, ayo kita menjelajah tempat
lainnya." Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan meninggalkan kios
biji-bijian dan mengikuti orang banyak untuk berdiri di kios lain di
sebelahnya.
Yang
Mulia Ketiga menatap punggungnya dan sedikit mengernyit. Setelah sekian lama,
ia memanggilnya, "Ah Yu."
Cheng
Yu, yang berdiri di kios sebelah, berbalik dengan bingung dan melihat Lian San
mengangkat tangannya, "Berikan tanganmu, jangan terpisah."
Meskipun
ada banyak orang di jalan, mereka jauh dari titik terpisah jika tanpa
berpegangan tangan. Cheng Yu tidak curiga dan berjalan kembali dengan patuh dan
berinisiatif untuk memegang tangan Lian San.
Saat
ia memegang tangan Lian San, angin kencang tiba-tiba muncul di jalan yang
panjang.
Cheng
Yu mendongak dengan bingung dan melihat wajah putih seperti batu giok Lian San
dan sepasang matanya yang cerah.
Mata
kuningnya dalam tetapi tidak mengandung emosi, bibirnya mengerucut secara
alami, dan wajahnya tenang dan acuh tak acuh. Berlawanan dengan ketenangannya
adalah angin kencang di belakangnya yang menyapu sepanjang malam. Angin kencang
memiliki kekuatan dan keberanian untuk menelan segalanya, yang agak menakutkan.
Cheng Yu tiba-tiba teringat akan patung-patung giok yang diabadikan di istana
Ibu Suri. Patung-patung itu begitu indah, begitu khusyuk, dan begitu acuh tak
acuh.
Memandang
dari balik bahu Lian San, ia melihat bahwa seluruh pasar malam tampak telah
berubah menjadi laut dalam, dengan lentera jauh dan dekat yang bergoyang
tertiup angin, seperti lentera pemancingan yang menjulang di laut. Pikirannya
linglung, dan ia tidak tahu apakah ia dalam kenyataan atau mimpi. Malam berubah
keruh dalam sekejap. Ia tampak menyatu dengan malam dan laut dalam. Sesuatu
menyelinap ke dalam pikirannya dalam keadaan remang-remang itu. Dua orang
sepertinya muncul di tubuhnya, dan ia merasa takut. "Mengerikan." Ia
sedikit gemetar, tetapi tidak mengatakannya.
Mata
kuning Lian San tiba-tiba menyipit, dan ia mengulurkan tangan untuk memeluknya.
"Aku
di sini, jangan takut," bisiknya di telinganya.
Cheng
Yu tidak bisa melihat ekspresinya, dan bertanya-tanya apakah wajah tampan itu
sama acuh tak acuhnya seperti sebelumnya, tetapi suaranya menenangkan, dan
tangannya memegang bahunya, membuatnya membenamkan seluruh tubuhnya di dadanya,
membuatnya merasa aman.
Tetapi
yang tidak diketahuinya adalah, ialah yang membuatnya merasa aman, namun ia
juga yang membuatnya merasa takut.
Karena
dalam sekejap saat ia memeluknya di tengah angin kencang, Lian San menyusup
masuk ke dalam pikirannya. Melalui teknik terlarang, Cang Wu. Gadis ini tidak
ingin memberitahunya hal-hal yang membuatnya tidak normal, jadi ia menggunakan
metodenya sendiri.
Ia
bukanlah seseorang yang bisa tertipu oleh kata-katanya yang tidak jelas,
seperti semua teman fana yang memperlakukannya dengan baik, Tabib Li, Nona Qi
dan sebagainya. Seperti yang disimpulkan Cheng Yu sendiri sebelumnya, Lian San
kritis terhadap dirinya sendiri dan tidak membiarkan orang lain tidak
menaatinya. Ia memang begitu. Ia adalah dewa air yang bisa melakukan apa pun.
Jika ia ingin mengetahui sesuatu, ia akan selalu menemukan cara untuk
melakukannya.
Seperti
apa seharusnya gadis kecil yang periang seperti Cheng Yu di dalam hatinya?
Setelah melewati pertahanan diri Cheng Yu, Yang Mulia Ketiga memandangi langit
biru dan rumput hijau yang terpampang di depannya, serta hewan-hewan yang
lincah dan hidup berlari di atas rumput tersebut, merasa itu mirip dengan apa
yang dibayangkannya.
Bisa
diketahui bahwa ini musim semi. Yang Mulia Ketiga melihat sekeliling, tetapi
tidak menemukan Cheng Yu.
Sebuah
gunung besar menjulang di depan, dan setelah melewati celah tersebut, matahari
bersinar terang di langit, pohon-pohon tinggi ditanam di seluruh tanah, dan
burung-burung berkicau pelan.
Ini
musim panas.
Cheng
Yu masih belum ada di sini.
Ketika
ia berjalan keluar dari lembah, ia langsung disambut oleh pohon maple merah.
Yang Mulia Ketiga akhirnya mengerti bahwa gadis ini lebih rumit dari yang
dikiranya sebelumnya.
Selama
ribuan tahun, Yang Mulia Ketiga tidak pernah benar-benar tertarik dengan
pikiran batin orang lain, jadi mengenai Cang Wu, ia hanya menggunakannya
beberapa kali untuk latihan ketika pertama kali mempelajari mantra ini saat ia
masih muda.
Ia
telah melihat pikiran makhluk abadi di Istana Yuan Ji, pikiran dewi kecil yang
naksir Dong Hua Dijun, dan pikiran iblis jahat yang terperangkap di Menara
Pengunci Iblis Dua Puluh Tujuh Hari. Menyeberangi pertahanan mental mereka
adalah kesulitan terbesar, tetapi begitu mereka menyeberangi pertahanan mental
itu, bahkan iblis jahat yang paling licik pun selalu dapat segera ketahuan jati
diri di dalam hati mereka.
Dibandingkan
dengan Cheng Yu, pertahanan mental mereka lebih sulit ditembus. Tampaknya semua
tekad mereka digunakan untuk membangun tembok tinggi untuk melindunginya dari
orang lain. Adapun Cheng Yu, pertahanannya terlalu gampang untuk ditembus.
Namun, di balik tembok pertahanan asal-asalan itu, ia menelusuri empat musim
untuk menyembunyikan dirinya.
Adanya
pertahanan mental adalah untuk melindungi dari orang lain, sama seperti
orang-orang yang pernah dilihat Lian San menggunakan Cang Wu, namun pertahanan
mental Cheng Yu sepertinya untuk melindungi dari dirinya sendiri.
Yang
Mulia Ketiga berjalan melewati pemandangan musim gugur di depannya dan melihat
sungai panjang di Gunung Botak; berjalan melalui Gunung Botak, ia melihat salju
putih menutupi pasir kuning pegunungan. Pemandangan seperti itu sebenarnya
tidak cocok dengan Cheng Yu, tetapi ini memang pemandangan yang ada di hatinya.
Masih
belum ada Cheng Yu di sini.
Yang
Mulia Ketiga berdiri di samping sungai yang membeku untuk waktu yang lama dan
berbisik, "Ah Yu."
Ia
tidak dapat menemukannya. Ini adalah tanah kerajaan Cheng Yu, jadi ia hanya
bisa membuat gadis itu menemukannya.
Ketika
suaranya menyebar ke dalam angin, pemandangan empat musim menghilang seketika,
dan pasar malam, seperti malam ini di dunia nyata, perlahan-lahan membentang di
depan matanya seperti lukisan panjang. Ia akhirnya melihat Cheng Yu.
Ia
mungkin tidak waspada terhadapnya, jadi alam bawah sadarnya memungkinkannya
untuk melihat keadaan batinnya yang sebenarnya saat ini.
Ia
berdiri sendirian di jalan yang panjang. Jalanannya masih jalan yang sama,
lenteranya masih sama, dan kios festival tetaplah kios festival yang sama.
Namun, kerumunan orangnya entah kemana perginya, dan ialah satu-satunya orang
di sepanjang jalan yang panjang itu.
"Hari
ini hari libur," bisiknya sambil menggosok-gosokkan tangannya saat terkena
hawa dingin. Ya, saat ini bukan musim panas. Saat ia menggosok tangannya, angin
utara bertiup, dan salju halus beterbangan di langit malam.
"Oh,
ini Festival Qi Qiao," ia berceloteh pada dirinya sendiri sambil berjalan.
"Apa yang akan kita lakukan selama Festival Qi Qiao? Ya, kita harus
mendirikan bangunan berwarna-warni di rumah dan mempersembahkan Mo Shu Luo,
bunga melon, anggur, makanan, dan menjahit dengan memasang benang, lalu duduk
bersama orang tuaku untuk berdoa pada dewa." Ia mengoceh, "Qi Qiao
ah, omong-omong, tanganmu sangat terampil, kan? Tangan Qing Ling dibandingkan
dengan tangan ibu ...."
Tiba-tiba
ia berhenti, dan angin seakan menjadi sesuatu yang nyata bersamaan dengan
langkahnya yang terhenti. Tiba-tiba terdengar suara di antara lentera yang
berkibar di salju halus terdengar, hampir dengan tajam memperingatkannya,
"Jangan diingat, tidak boleh diingat." Itu adalah alam bawah
sadarnya.
Lian
San melihat Cheng Yu dengan kepala menunduk, menutupi separuh wajahnya dengan
tangan membeku yang memerah. Ia tidak berbicara untuk beberapa saat, tetapi ia
sepertinya mengikuti peringatan itu. Ketika ia mengambil langkah lagi, ia mulai
berbicara dengannya tentang sesuatu yang lain. Lingkaran matanya merah,
hidungnya memerah, dan suaranya bergetar ketika berbicara. Topiknya sangat
acak-acakan, dan tidak ada jejak kesedihan. Terkadang, soal kaligrafi dan
lukisan di kamar Zhu Jin. Di saat lain tentang keterampilan memasak Li Xiang,
dan saat berikutnya tentang masa berbunga Yao Huang, lalu tiba-tiba berubah
menjadi kebun obat Li Mu Zhou.
Namun
ia tidak berbicara lama. Ketika angin utara meniup lentera di jalan, ia memeluk
kakinya dan berjongkok. Lian Song mencoba mendekat padanya dan mendengar
tangisannya yang lemah, "Aku tidak ingin memikirkan semua orang yang
meninggalkanku, Ayah, Ibu, Qing Ling, aku bahkan tidak mau mengingatnya, jangan
biarkan aku mengingatnya. Tolong, jangan biarkan aku mengingatnya, huhuhuhu."
Suara itu mengandung keputusasaan, kesepian yang menyedihkan, dan rasa sakit.
Lian
Song tidak pernah mengira itu adalah suara Cheng Yu. Ia hanya mengingat
kesederhanaan dan kepolosannya, kebahagiaannya hanya karena hal-hal sepele, dan
depresinya semua karena hal-hal sepele. Ia jelas berusia enam belas tahun,
tetapi ia seperti anak kecil yang tidak akan pernah tumbuh dewasa dan tidak
akan pernah memahami penderitaan di dunia ini.
Penderitaan
manusia biasa tak lebih dari delapan penderitaan yaitu kelahiran, usia tua,
penyakit, kematian, cinta dan kebencian, perpisahan dari cinta, kegagalan
mencari, dan kelebihan lima yin. Yang Mulia Ketiga terlahir sebagai makhluk
abadi dan tidak pernah mengalami penderitaan manusia. Mengandalkan
kebijaksanaan bawaannya, ia telah lama memahami mengapa manusia terjebak dalam
delapan penderitaan ini, tetapi ia benar-benar tidak dapat berempati dengan
mereka.
Jadi
malam ini, bahkan ketika ia melihat Cheng Yu menangis dalam mimpi buruknya, ia
tahu ada rasa sakit yang tersegel jauh di dalam hatinya, tetapi ia tidak
menganggap itu masalah besar. Ia adalah dewa yang transparan. Melihat
kebingungan manusia, ia pasti merasa bahwa itu tidak layak untuk disebutkan.
Penderitaan di dunia ini benar-benar kosong.
Matanya
tertuju pada Cheng Yu, mengawasinya berjongkok sendirian di malam bersalju ini,
menderita kebingungan di hatinya, seperti bunga You Tan kecil dan rapuh yang
ditindas oleh angin dingin dan harus menutup semua kelopaknya, namun tetap saja
tidak bisa menghentikan angin dingin yang mengamuk. Ia mengerti di dalam
hatinya bahwa rasa sakit Cheng Yu, tidak peduli apa jenis rasa sakitnya,
sebenarnya tidak ada bedanya dengan rasa sakit bunga You Tan yang tidak mampu
menahan angin dingin.
Namun
saat ini, ia tidak merasa bahwa rasa sakit itu konyol atau tidak pantas untuk
disebutkan.
Ia
melihat air matanya mengalir ke tanah. Cheng Yu menangis sangat sedih, tetapi
air mata itu sepertinya tidak meresap ke dalam lumpur, namun tenggelam ke dalam
hatinya. Ia tidak bisa memikirkan apakah itu juga semacam kehampaan. Air
matanya begitu nyata. Saat meleleh ke lubuk hatinya, ia merasa hangat. Ia belum
pernah mengalami hal seperti ini.
Ia
tertegun beberapa saat, dan akhirnya mengulurkan tangannya.
Saat
ia mengulurkan tangannya, malam bersalju di depannya tiba-tiba menghilang, dan
gurun di musim dingin, pohon maple merah di musim gugur, pepohonan hijau di
musim panas, dan rumput hijau di musim semi dengan cepat melewatinya. Setelah
melewati empat musim di hatinya, akhirnya ia kembali ke malam musim panas di
dunia ini.
Di
malam musim panas di dunia ini, Cheng Yu masih bersandar di pelukannya dengan
patuh, dan tangan kirinya masih di telapak tangannya. Memegang tangan putih
yang lembut, seperti memegang menara salju putih di tengah hujan, penuh namun
rapuh.
Ia
melepaskannya, tetapi jari-jarinya terbungkus di sekelilingnya. Cheng Yu
mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan bingung. Jari-jarinya terjalin
dengan jari-jari Lian San, seperti wisteria yang melingkari pohon pinus hijau,
sebuah isyarat ketergantungan penuh. Tentu saja Lian San tahu bahwa Cheng Yu
hanya mengandalkannya, dan ia ketakutan, tetapi ia sepertinya tidak dapat
menahan tangannya yang bebas untuk tidak menyentuh bagian atas rambut sehitam
bulu gagaknya. Ketika Cheng Yu mencoba bergerak lagi, ia menariknya ke dalam
pelukannya.
"Jangan
takut," ia membelai rambutnya dan menghiburnya dengan hangat,
"Anginnya sudah berhenti, tidak apa-apa."
Angin
berhenti, lentera di kedua sisi jalan panjang itu meredup, dan pejalan kaki
mulai kembali ramai. Cheng Yu bersandar di bahunya dan meletakkan tangan
kanannya di dadanya. Sedikit ke kiri dari tengah tulang dada, tempat jantung
berada. Ia menatapnya dengan heran dan kemudian bergumam aneh, "Kakak Lian
San, jantungmu berdebar sangat kencang."
Lian
San segera mundur selangkah, dan telapak tangan Cheng Yu tiba-tiba jatuh. Cheng
Yu tersandung, memandangi jari-jarinya dengan bingung, dan kemudian menatapnya,
"Kakak Lian San, kau kenapa?"
"Tidak
kenapa-kenapa." Ia menyangkal dengan cepat.
"Tidak..."
Cheng Yu tidak begitu percaya, "Karena berdebar sangat kencang."
Tiba-tiba
saja, terdengar suara di gang depan, dan kembang api berwarna-warni membubung
ke langit. Cheng Yu menoleh dan melihat, tetapi karena ia lebih memedulikan
Lian San, ia hanya melihat sekilas dan mengembalikan pandangannya padanya.
Namun, ia melihat Lian San berbalik ke samping untuk menghindarinya. Ia tidak
bisa melihat wajahnya dari sudut ini, tetapi ia hanya bisa mendengarnya berkata
dengan acuh tak acuh, "Kau suka menonton kembang api, ayo kita lihat lebih
dekat." Setelah itu, ia segera berjalan menuju pintu masuk gang.
Cheng
Yu mengejarnya dengan cemas, "Tidak, Kakak Lian San, jangan ubah topik
pembicaraannya. Jantungmu berdebar kencang sekali. Apa kau sakit?"
- Bersambung -
Tang
Qi mengobrol:
Yah,
akhirnya masuk ke dalam hatiku.

0 comments:
Posting Komentar