Jumat, 03 Juli 2026

3L3W Lotus Step 1 - Chapter 11 part 1

3L3W Lotus Step 1

Chapter 11 part 1


Karena Halaman Chun Shen bersebelahan dengan Halaman Song He milik Ibu Suri, maka halaman tersebut dijaga ketat, jadi Su Ji sedikit terkejut saat melihat Ji Ming Feng di luar kediaman Cheng Yu.

Saat ini, kecil kemungkinannya Ji Shizi bisa masuk melalui gerbang halaman yang dijaga ketat, dan kemungkinannya, ia akan melompati tembok, seperti dirinya. Meskipun Guru Kekaisaran bukanlah seorang penggosip, ia adalah orang dengan keterampilan pergaulan yang sangat kaya. Ketika ia melihat Ji Ming Feng dari kejauhan, ia teringat bahwa Putri Hong Yu pernah mengunjungi Li Chuan tempat Ji Shizi tinggal selama lebih dari setahun. Sewaktu Yang Mulia Pangeran memanggilnya dari sisi kaisar dan memintanya untuk membantu memancing Li Xiang pergi, ia mendengarnya berkata bahwa Putri Hong Yu memang sakit.

Yang jelas, kunjungan Ji Shizi di malam berbintang itu bukan karena mabuk dan tersesat, melainkan mungkin untuk menjenguk.

Namun menerobos masuk ke kamar tidur seorang putri yang belum menikah pada larut malam bukanlah hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria sejati, jadi Ji Shizi terdiam sejenak di depan Guru Kekaisaran.

Guru Kekaisaran mengangguk kepada Ji Shizi dengan sikap yang bermartabat, "Shizi berdiri di sini, aku khawatir kau tidak dapat melihat apa pun, kan?"

Ji Shizi: "....?"

Guru Kekaisaran mengingatkannya lagi dengan cara yang ahli, "Jika Shizi khawatir ketahuan oleh Jenderal saat akan mendekat, itu tidak perlu. Ia mengetahuinya ketika kau dan aku pertama kali melangkah masuk ke halaman ini. Jika ia tidak bereaksi, itu artinya, ia tidak peduli. Maka tidak ada bedanya apakah kau berdiri dekat atau jauh. Menurutku, apabila kau ingin melihat Putri Hong Yu dengan serius, sebaiknya kau berdiri lebih dekat."

Ji Shizi: "...."

Ji Shizi memandang Guru Kekaisaran dengan curiga dan waspada, "Aku datang untuk menemui Hong Yu. Sebagai Guru Kekaisaran, kau adalah seorang pendeta Tao, kenapa kau masuk ke kamar tidur Hong Yu saat larut malam? Jangan bilang, kau juga mengkhawatirkannya, makanya datang mengunjunginya."

Di hadapannya, Guru Kekaisaran, mempertahankan sikap mulia yang tidak berdebat dengan orang biasa, tetapi memutar matanya dalam hati dan berkata, 'Kau tahu juga bahwa aku adalah seorang Pendeta Tao!'. Tetapi Guru Kekaisaran hanya mengangguk kepada Ji Shizi dengan acuh tak acuh dan berkata dengan tenang, "Shizi, jangan kesal. Aku di sini hanya untuk melapor pada Jenderal."

Pintu ruangannya terbuka, begitu pula jendelanya.

Ketika Guru Kekaisaran berjalan ke pintu, ia mendengar suara Yang Mulia Ketiga, kalimat yang tak berawalan dan tak tahu akhirannya, "Ini salahku. Jika kau tidak ingin mengatakannya, jangan katakan."

Guru Kekaisaran belum pernah mendengar Yang Mulia Ketiga mengakui kesalahannya kepada siapa pun dalam hidupnya, dan mau tak mau jadi tercengang.

Yang Mulia Ketiga di ruangan itu melanjutkan, "Kau baru saja bangun belum lama ini. Apa kau ingin makan?"

Pihak lain mungkin menolak, dan Yang Mulia Ketiga tidak menganggapnya serius. "Kalau begitu aku akan menemanimu keluar untuk berjalan-jalan. Ada hutan murad kain sutera di halaman air. Mereka sudah tertata rapi dan cocok untuk berjalan-jalan."

Demikian pula, Guru Kekaisaran belum pernah mendengar Yang Mulia Ketiga membujuk siapa pun dalam hidupnya, jadi mau tak mau, ia terkejut lagi. Setelah tertegun, guru kekaisaran terdiam. Ia merasa ini bukan waktunya untuk masuk, jadi ia pindah ke jendela.

Kemudian ia mendengar seorang gadis di ruangan itu akhirnya menjawab, "Menurutku segalanya tidak akan lebih baik dari di istana." Suaranya agak lembut dan serak, seolah-olah ia baru saja menangis, dan suaranya tidak terlalu keras atau berminat, seolah-olah ia tidak mau. 'Ini pasti Putri Hong Yu', pikir sang Guru Kekaisaran dalam hati.

Segera, gadis itu dengan berani menambahkan, "Aku ingin sendirian, di sini, tidak keluar."

Ini adalah memerintahkan tamu untuk pergi. Kelopak mata Guru Kekaisaran bekedut, dan diam-diam ia mengagumi putri kecil ini. Ia adalah orang pertama yang pernah dikenalnya dalam hidupnya yang berani mengambil inisiatif mengeluarkan perkataan memerintah tamu agar pergi kepada Yang Mulia Pangeran Ketiga.

Ada keheningan sesaat di ruangan itu. Setelah hening beberapa saat, Yang Mulia Pangeran Ketiga perlahan berkata, "Apakah kau mengusirku?"

Sang putri tampak ragu-ragu sejenak, "Aku ...." dan akhirnya berkata tanpa percaya diri, "... hanya sebentar ...."

"Sebentar?"

Sang putri melanjutkan tanpa rasa percaya diri, "Hanya sebentar."

Yang Mulia Pangeran Ketiga melambat sejenak dan berkata, "Kau terlihat seperti ini, dan kau masih ingin sendirian, bahkan untuk waktu yang singkat. Apakah menurutmu, aku akan menyetujuinya?"

Guru Kekaisaran merasa bahwa ia telah mendengar sedikit bujukan yang lembut, dan mau tidak mau menggosok telinganya.

Sang putri menjawab dengan lemah, ".... tidak akan setuju."

Yang Mulia Pangeran Ketiga menyarankan, "Pergilah ke jalanan."

Sang putri jelas tertegun sejenak, "Apa?"

Yang Mulia Ketiga menjelaskan, "Malam ini adalah Festival Qi Qiao, dan jalanan seharusnya sangat ramai. Bukankah kau menyukai keramaian?"

Kesabaran Yang Mulia seperti itu membuat Guru Kekaisaran menggosok lagi telinganya dengan curiga.

Setelah beberapa saat, sang putri menjawab dengan lembut, "Seharusnya ada banyak gadis yang berkumpul saat Qi Qiao." Ia sepertinya tertarik dengan saran ini.

Yang Mulia Pangeran Ketiga berkata dengan tenang, "Ya, ini akan sangat menarik."

Sang putri ragu-ragu lagi, "Tetapi Kakak Sepupu Kaisar tidak mengizinkanku meninggalkan istana sesuka hati."

Yang Mulia Ketiga seolah tidak percaya, "Kenapa kau mau memberitahunya?"

Sang putri sangat frustasi, "Tetapi, kalaupun aku tidak memberitahunya, ia mungkin akan tetap mengetahuinya. Jika itu terjadi, apa yang harus kulakukan?"

Yang Mulia Pangeran Ketiga berhenti sejenak dan berkata, "Jika itu masalahnya, salahkan saja aku."

Sang putri sedikit terkejut, "Kalau begitu, jika diarahkan padamu, bukankah Kakak Sepupu Kaisar akan menyalahkanmu?"

Yang Mulia Pangeran Ketiga berkata dengan tenang, "Tidak akan menyalahkanmu, tetapi akan menyalahkanku."

Sang putri khawatir, "Kalau begitu ...."

Yang Mulia Pangeran Ketiga tidak terlalu peduli, "Aku akan menyalahkan Guru Kekaisaran."

Guru Kekaisaran, yang sedang menggosok telinganya, sedikit tersandung, berpegangan pada ambang jendela untuk menenangkan diri, mendorong dirinya agar tetap tenang.

***

Mengikuti Lian San dan Cheng Yu sampai ke Jalan Bao Lou, pasar malam paling makmur di istana, Guru Kekaisaran memikirkan, berapa lama ia harus mengikuti.

Lebih dari setengah jam yang lalu, ketika Yang Mulia Ketiga memimpin putri muda keluar dari Halaman Chun Shen, Guru Kekaisaran berpikir bahwa Li Xiang dijebak olehnya di bebatuan di Taman Barat dan tidak akan bisa melarikan diri sampai ayam jago berkokok besok, jadi ia baru saja ingin melaporkan ini di sini. Tampaknya tidak pantas mengganggu Yang Mulia Pangeran Ketiga saat ini. Yang Mulia Ketiga tidak akan mengajak putri kecil itu keluar sepanjang malam. Mungkin tidak ada gunanya jika ia melaporkanya. Sehingga, Guru Kekaisaran berencana untuk mundur.

Tanpa diduga, Ji Ming Feng mengikutinya. Melihat tampang Ji Shizi yang tidak bagus, Guru Kekaisaran khawatir sesuatu akan terjadi, jadi ia tak punya pilihan selain mengikutinya.

***

Kota Ping'an sangat ramai malam ini.

Ada bulan sabit di langit, dan ada tiga ribu toko anggur dan jalan di dunia manusia, dengan lentera digantung dan dihias di sana-sini, tampak seperti sebuah festival.

Selain kios-kios yang biasa menjual hewan buruan, buah-buahan, dan kue-kue, banyak juga kios-kios yang menjual barang-barang musiman menarik di pinggir jalan. Seperti, patung tanah liat Mo Shu Luo yang dihiasi manik-manik emas, ada wayang tanah yang "mengambang di atas air" yang terbuat dari lilin kuning, "biji" yang terbuat dari sutra berwarna merah dan biru, "bunga melon" yang diukir dari berbagai buah-buahan dan sayur-mayur, dan lain-lain.

Lian San masih ingat saat bertemu Cheng Yu di jalan beberapa hari yang lalu, ia terlihat terobsesi dengan hal-hal menarik di jalan. Meskipun ia berjalan-jalan malam ini, melihat ke timur dan barat, caranya memandang barang-barang ini benar-benar berbeda dari hari itu. Matanya tidak berkilau seperti waktu itu.

Di depannya ada kios yang menjual "papan biji-bijian". Cheng Yu mengikuti arus manusia dan berdiri di dekat kios, memandangi biji-bijian terbesar dengan ayam yang mematuk nasi di atasnya dalam waktu lama. Ia pendiam malam ini dan tak banyak bicara.

Lian San adalah orang pertama yang memecah keheningan dan bertanya padanya, "Mau yang ini?"

Namun, ia sepertinya tiba-tiba terbangun dari mimpinya. Ia tertegun sejenak sebelum menjawab pertanyaan, "Mmm, ayo kita menjelajah tempat lainnya." Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan meninggalkan kios biji-bijian dan mengikuti orang banyak untuk berdiri di kios lain di sebelahnya.

Yang Mulia Ketiga menatap punggungnya dan sedikit mengernyit. Setelah sekian lama, ia memanggilnya, "Ah Yu."

Cheng Yu, yang berdiri di kios sebelah, berbalik dengan bingung dan melihat Lian San mengangkat tangannya, "Berikan tanganmu, jangan terpisah."

Meskipun ada banyak orang di jalan, mereka jauh dari titik terpisah jika tanpa berpegangan tangan. Cheng Yu tidak curiga dan berjalan kembali dengan patuh dan berinisiatif untuk memegang tangan Lian San.

Saat ia memegang tangan Lian San, angin kencang tiba-tiba muncul di jalan yang panjang.

Cheng Yu mendongak dengan bingung dan melihat wajah putih seperti batu giok Lian San dan sepasang matanya yang cerah.

Mata kuningnya dalam tetapi tidak mengandung emosi, bibirnya mengerucut secara alami, dan wajahnya tenang dan acuh tak acuh. Berlawanan dengan ketenangannya adalah angin kencang di belakangnya yang menyapu sepanjang malam. Angin kencang memiliki kekuatan dan keberanian untuk menelan segalanya, yang agak menakutkan. Cheng Yu tiba-tiba teringat akan patung-patung giok yang diabadikan di istana Ibu Suri. Patung-patung itu begitu indah, begitu khusyuk, dan begitu acuh tak acuh.

Memandang dari balik bahu Lian San, ia melihat bahwa seluruh pasar malam tampak telah berubah menjadi laut dalam, dengan lentera jauh dan dekat yang bergoyang tertiup angin, seperti lentera pemancingan yang menjulang di laut. Pikirannya linglung, dan ia tidak tahu apakah ia dalam kenyataan atau mimpi. Malam berubah keruh dalam sekejap. Ia tampak menyatu dengan malam dan laut dalam. Sesuatu menyelinap ke dalam pikirannya dalam keadaan remang-remang itu. Dua orang sepertinya muncul di tubuhnya, dan ia merasa takut. "Mengerikan." Ia sedikit gemetar, tetapi tidak mengatakannya.

Mata kuning Lian San tiba-tiba menyipit, dan ia mengulurkan tangan untuk memeluknya.

"Aku di sini, jangan takut," bisiknya di telinganya.

Cheng Yu tidak bisa melihat ekspresinya, dan bertanya-tanya apakah wajah tampan itu sama acuh tak acuhnya seperti sebelumnya, tetapi suaranya menenangkan, dan tangannya memegang bahunya, membuatnya membenamkan seluruh tubuhnya di dadanya, membuatnya merasa aman.

Tetapi yang tidak diketahuinya adalah, ialah yang membuatnya merasa aman, namun ia juga yang membuatnya merasa takut.

Karena dalam sekejap saat ia memeluknya di tengah angin kencang, Lian San menyusup masuk ke dalam pikirannya. Melalui teknik terlarang, Cang Wu. Gadis ini tidak ingin memberitahunya hal-hal yang membuatnya tidak normal, jadi ia menggunakan metodenya sendiri.

Ia bukanlah seseorang yang bisa tertipu oleh kata-katanya yang tidak jelas, seperti semua teman fana yang memperlakukannya dengan baik, Tabib Li, Nona Qi dan sebagainya. Seperti yang disimpulkan Cheng Yu sendiri sebelumnya, Lian San kritis terhadap dirinya sendiri dan tidak membiarkan orang lain tidak menaatinya. Ia memang begitu. Ia adalah dewa air yang bisa melakukan apa pun. Jika ia ingin mengetahui sesuatu, ia akan selalu menemukan cara untuk melakukannya.

Seperti apa seharusnya gadis kecil yang periang seperti Cheng Yu di dalam hatinya? Setelah melewati pertahanan diri Cheng Yu, Yang Mulia Ketiga memandangi langit biru dan rumput hijau yang terpampang di depannya, serta hewan-hewan yang lincah dan hidup berlari di atas rumput tersebut, merasa itu mirip dengan apa yang dibayangkannya.

Bisa diketahui bahwa ini musim semi. Yang Mulia Ketiga melihat sekeliling, tetapi tidak menemukan Cheng Yu.

Sebuah gunung besar menjulang di depan, dan setelah melewati celah tersebut, matahari bersinar terang di langit, pohon-pohon tinggi ditanam di seluruh tanah, dan burung-burung berkicau pelan.

Ini musim panas.

Cheng Yu masih belum ada di sini.

Ketika ia berjalan keluar dari lembah, ia langsung disambut oleh pohon maple merah. Yang Mulia Ketiga akhirnya mengerti bahwa gadis ini lebih rumit dari yang dikiranya sebelumnya.

Selama ribuan tahun, Yang Mulia Ketiga tidak pernah benar-benar tertarik dengan pikiran batin orang lain, jadi mengenai Cang Wu, ia hanya menggunakannya beberapa kali untuk latihan ketika pertama kali mempelajari mantra ini saat ia masih muda.

Ia telah melihat pikiran makhluk abadi di Istana Yuan Ji, pikiran dewi kecil yang naksir Dong Hua Dijun, dan pikiran iblis jahat yang terperangkap di Menara Pengunci Iblis Dua Puluh Tujuh Hari. Menyeberangi pertahanan mental mereka adalah kesulitan terbesar, tetapi begitu mereka menyeberangi pertahanan mental itu, bahkan iblis jahat yang paling licik pun selalu dapat segera ketahuan jati diri di dalam hati mereka.

Dibandingkan dengan Cheng Yu, pertahanan mental mereka lebih sulit ditembus. Tampaknya semua tekad mereka digunakan untuk membangun tembok tinggi untuk melindunginya dari orang lain. Adapun Cheng Yu, pertahanannya terlalu gampang untuk ditembus. Namun, di balik tembok pertahanan asal-asalan itu, ia menelusuri empat musim untuk menyembunyikan dirinya.

Adanya pertahanan mental adalah untuk melindungi dari orang lain, sama seperti orang-orang yang pernah dilihat Lian San menggunakan Cang Wu, namun pertahanan mental Cheng Yu sepertinya untuk melindungi dari dirinya sendiri.

Yang Mulia Ketiga berjalan melewati pemandangan musim gugur di depannya dan melihat sungai panjang di Gunung Botak; berjalan melalui Gunung Botak, ia melihat salju putih menutupi pasir kuning pegunungan. Pemandangan seperti itu sebenarnya tidak cocok dengan Cheng Yu, tetapi ini memang pemandangan yang ada di hatinya.

Masih belum ada Cheng Yu di sini.

Yang Mulia Ketiga berdiri di samping sungai yang membeku untuk waktu yang lama dan berbisik, "Ah Yu."

Ia tidak dapat menemukannya. Ini adalah tanah kerajaan Cheng Yu, jadi ia hanya bisa membuat gadis itu menemukannya.

Ketika suaranya menyebar ke dalam angin, pemandangan empat musim menghilang seketika, dan pasar malam, seperti malam ini di dunia nyata, perlahan-lahan membentang di depan matanya seperti lukisan panjang. Ia akhirnya melihat Cheng Yu.

Ia mungkin tidak waspada terhadapnya, jadi alam bawah sadarnya memungkinkannya untuk melihat keadaan batinnya yang sebenarnya saat ini.

Ia berdiri sendirian di jalan yang panjang. Jalanannya masih jalan yang sama, lenteranya masih sama, dan kios festival tetaplah kios festival yang sama. Namun, kerumunan orangnya entah kemana perginya, dan ialah satu-satunya orang di sepanjang jalan yang panjang itu.

"Hari ini hari libur," bisiknya sambil menggosok-gosokkan tangannya saat terkena hawa dingin. Ya, saat ini bukan musim panas. Saat ia menggosok tangannya, angin utara bertiup, dan salju halus beterbangan di langit malam.

"Oh, ini Festival Qi Qiao," ia berceloteh pada dirinya sendiri sambil berjalan. "Apa yang akan kita lakukan selama Festival Qi Qiao? Ya, kita harus mendirikan bangunan berwarna-warni di rumah dan mempersembahkan Mo Shu Luo, bunga melon, anggur, makanan, dan menjahit dengan memasang benang, lalu duduk bersama orang tuaku untuk berdoa pada dewa." Ia mengoceh, "Qi Qiao ah, omong-omong, tanganmu sangat terampil, kan? Tangan Qing Ling dibandingkan dengan tangan ibu ...."

Tiba-tiba ia berhenti, dan angin seakan menjadi sesuatu yang nyata bersamaan dengan langkahnya yang terhenti. Tiba-tiba terdengar suara di antara lentera yang berkibar di salju halus terdengar, hampir dengan tajam memperingatkannya, "Jangan diingat, tidak boleh diingat." Itu adalah alam bawah sadarnya.

Lian San melihat Cheng Yu dengan kepala menunduk, menutupi separuh wajahnya dengan tangan membeku yang memerah. Ia tidak berbicara untuk beberapa saat, tetapi ia sepertinya mengikuti peringatan itu. Ketika ia mengambil langkah lagi, ia mulai berbicara dengannya tentang sesuatu yang lain. Lingkaran matanya merah, hidungnya memerah, dan suaranya bergetar ketika berbicara. Topiknya sangat acak-acakan, dan tidak ada jejak kesedihan. Terkadang, soal kaligrafi dan lukisan di kamar Zhu Jin. Di saat lain tentang keterampilan memasak Li Xiang, dan saat berikutnya tentang masa berbunga Yao Huang, lalu tiba-tiba berubah menjadi kebun obat Li Mu Zhou.

Namun ia tidak berbicara lama. Ketika angin utara meniup lentera di jalan, ia memeluk kakinya dan berjongkok. Lian Song mencoba mendekat padanya dan mendengar tangisannya yang lemah, "Aku tidak ingin memikirkan semua orang yang meninggalkanku, Ayah, Ibu, Qing Ling, aku bahkan tidak mau mengingatnya, jangan biarkan aku mengingatnya. Tolong, jangan biarkan aku mengingatnya, huhuhuhu." Suara itu mengandung keputusasaan, kesepian yang menyedihkan, dan rasa sakit.

Lian Song tidak pernah mengira itu adalah suara Cheng Yu. Ia hanya mengingat kesederhanaan dan kepolosannya, kebahagiaannya hanya karena hal-hal sepele, dan depresinya semua karena hal-hal sepele. Ia jelas berusia enam belas tahun, tetapi ia seperti anak kecil yang tidak akan pernah tumbuh dewasa dan tidak akan pernah memahami penderitaan di dunia ini.

Penderitaan manusia biasa tak lebih dari delapan penderitaan yaitu kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, cinta dan kebencian, perpisahan dari cinta, kegagalan mencari, dan kelebihan lima yin. Yang Mulia Ketiga terlahir sebagai makhluk abadi dan tidak pernah mengalami penderitaan manusia. Mengandalkan kebijaksanaan bawaannya, ia telah lama memahami mengapa manusia terjebak dalam delapan penderitaan ini, tetapi ia benar-benar tidak dapat berempati dengan mereka.

Jadi malam ini, bahkan ketika ia melihat Cheng Yu menangis dalam mimpi buruknya, ia tahu ada rasa sakit yang tersegel jauh di dalam hatinya, tetapi ia tidak menganggap itu masalah besar. Ia adalah dewa yang transparan. Melihat kebingungan manusia, ia pasti merasa bahwa itu tidak layak untuk disebutkan. Penderitaan di dunia ini benar-benar kosong.

Matanya tertuju pada Cheng Yu, mengawasinya berjongkok sendirian di malam bersalju ini, menderita kebingungan di hatinya, seperti bunga You Tan kecil dan rapuh yang ditindas oleh angin dingin dan harus menutup semua kelopaknya, namun tetap saja tidak bisa menghentikan angin dingin yang mengamuk. Ia mengerti di dalam hatinya bahwa rasa sakit Cheng Yu, tidak peduli apa jenis rasa sakitnya, sebenarnya tidak ada bedanya dengan rasa sakit bunga You Tan yang tidak mampu menahan angin dingin.

Namun saat ini, ia tidak merasa bahwa rasa sakit itu konyol atau tidak pantas untuk disebutkan.

Ia melihat air matanya mengalir ke tanah. Cheng Yu menangis sangat sedih, tetapi air mata itu sepertinya tidak meresap ke dalam lumpur, namun tenggelam ke dalam hatinya. Ia tidak bisa memikirkan apakah itu juga semacam kehampaan. Air matanya begitu nyata. Saat meleleh ke lubuk hatinya, ia merasa hangat. Ia belum pernah mengalami hal seperti ini.

Ia tertegun beberapa saat, dan akhirnya mengulurkan tangannya.

Saat ia mengulurkan tangannya, malam bersalju di depannya tiba-tiba menghilang, dan gurun di musim dingin, pohon maple merah di musim gugur, pepohonan hijau di musim panas, dan rumput hijau di musim semi dengan cepat melewatinya. Setelah melewati empat musim di hatinya, akhirnya ia kembali ke malam musim panas di dunia ini.

Di malam musim panas di dunia ini, Cheng Yu masih bersandar di pelukannya dengan patuh, dan tangan kirinya masih di telapak tangannya. Memegang tangan putih yang lembut, seperti memegang menara salju putih di tengah hujan, penuh namun rapuh.

Ia melepaskannya, tetapi jari-jarinya terbungkus di sekelilingnya. Cheng Yu mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan bingung. Jari-jarinya terjalin dengan jari-jari Lian San, seperti wisteria yang melingkari pohon pinus hijau, sebuah isyarat ketergantungan penuh. Tentu saja Lian San tahu bahwa Cheng Yu hanya mengandalkannya, dan ia ketakutan, tetapi ia sepertinya tidak dapat menahan tangannya yang bebas untuk tidak menyentuh bagian atas rambut sehitam bulu gagaknya. Ketika Cheng Yu mencoba bergerak lagi, ia menariknya ke dalam pelukannya.

"Jangan takut," ia membelai rambutnya dan menghiburnya dengan hangat, "Anginnya sudah berhenti, tidak apa-apa."

Angin berhenti, lentera di kedua sisi jalan panjang itu meredup, dan pejalan kaki mulai kembali ramai. Cheng Yu bersandar di bahunya dan meletakkan tangan kanannya di dadanya. Sedikit ke kiri dari tengah tulang dada, tempat jantung berada. Ia menatapnya dengan heran dan kemudian bergumam aneh, "Kakak Lian San, jantungmu berdebar sangat kencang."

Lian San segera mundur selangkah, dan telapak tangan Cheng Yu tiba-tiba jatuh. Cheng Yu tersandung, memandangi jari-jarinya dengan bingung, dan kemudian menatapnya, "Kakak Lian San, kau kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa." Ia menyangkal dengan cepat.

"Tidak..." Cheng Yu tidak begitu percaya, "Karena berdebar sangat kencang."

Tiba-tiba saja, terdengar suara di gang depan, dan kembang api berwarna-warni membubung ke langit. Cheng Yu menoleh dan melihat, tetapi karena ia lebih memedulikan Lian San, ia hanya melihat sekilas dan mengembalikan pandangannya padanya. Namun, ia melihat Lian San berbalik ke samping untuk menghindarinya. Ia tidak bisa melihat wajahnya dari sudut ini, tetapi ia hanya bisa mendengarnya berkata dengan acuh tak acuh, "Kau suka menonton kembang api, ayo kita lihat lebih dekat." Setelah itu, ia segera berjalan menuju pintu masuk gang.

Cheng Yu mengejarnya dengan cemas, "Tidak, Kakak Lian San, jangan ubah topik pembicaraannya. Jantungmu berdebar kencang sekali. Apa kau sakit?"

- Bersambung -

Tang Qi mengobrol:

Yah, akhirnya masuk ke dalam hatiku.

 

0 comments:

Posting Komentar