Sabtu, 04 Desember 2021

CTF - Chapter 150

Consort of A Thousand Faces

Chapter 150 : Melirik Pangeran Ini Diam-Diam


Su Xi-er membeku selama beberapa waktu, mengirimkannya tatapan kebingungan sebelum pada akhirnya ia bergerak maju.

Pei Qian Hao melihatnya bersikap waspada dan bertanya mengejek, "Apakah kau sedang melirik Pangeran ini?"

Dihampiri oleh pertanyaan mendadak Pei Qian Hao, Su Xi-er hanya menjawabnya setelah beberapa waktu. "Pangeran Hao, Anda adalah pria berbakat, mana mungkin hamba berani melirik Anda?"

"Dengan kata lain, inilah yang tepatnya kau lakukan. Selama kau melihat sambil sembunyi-sembunyi, itu berarti sama saja dengan melirik Pangeran ini diam-diam."

Pei Qian Hao tidak berkomentar lebih jauh, tetapi matanya tetap terfokus pada Su Xi-er agak lama sebelum meninggalkannya.

Kereta kudanya berkendara selama kurang lebih tiga puluh menit lagi sebelum mencapai ladang bunganya.

Mengangkat tirainya, mereka turun dari kereta kuda, dan disambut dengan pemandangan lautan bunga-bunga yang menari di tengah angin.

Di antara lautan warna, orang bisa melihat siluet-siluet sibuk dari para petani bunga sewaktu mereka menyelesaikan berbagai macam pekerjaan seperti menyiangi ladang dan menambahkan pupuk.

Pei Qian Hao menatap jauh ke depan dan melihat hamparan bunga berwarna kuning—Bunga Ling Rui.

Kebetulan Su Xi-er juga melihat ke arah itu. Lautan bunga berwarna kuning, seperti negeri dongeng.

Menyadari mata bersemangat dan penuh harapnya, Pei Qian Hao berujar lembut, "Ayo."

Si pengawal tetap berada di jalan utama sementara Pei Qian Hao dan Su Xi-er memasuki ladang tersebut.

Berjalan di sepanjang jalur yang memotong ladang, Su Xi-er merasa sangat rileks, langkahnya ringan dan riang.

Tak lama, pasangan itu tiba di ladang bunga Ling Rui, memerhatikan setiap bunga kuning berkibar layaknya rok mungil seorang gadis yang tertiup angin.

Dalam suasana hati baik yang langka, Su Xi-er berlari kecil di sepanjang petak-petak bunga Ling Rui, tanpa mempedulikan soal dunia.

Pei Qian Hao mengikuti di belakang selagi ia memerhatikan Su Xi-er berkeliaran di dalam ladang, tanpa sadar, ikut merasa rileks sewaktu napasnya pun jadi semakin tenang.

Saat Su Xi-er berjongkok untuk mengamati bunga Ling Rui dengan saksama, keceriaan di ceruk matanya bahkan jauh lebih terlihat lagi.

Kecantikan Su Xi-er sudah menggetarkan tak peduli apakah ia tersenyum atau tidak. Namun, sekalinya ia tersenyum, pesona yang tak dapat dijelaskan itu menambahkannya, bahkan cukup untuk membuat Pei Qian Hao tidak mampu mengalihkan pandangannya.

Ia mengikuti Su Xi-er, memerhatikannya selagi gadis itu berkeliaran di tengah bunga-bunga. Tanpa disadari, sudut bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyuman.

Su Xi-er bangun, tetapi menginjak setumpuk tanah yang digunakan sebagai perbatasan ladangnya. Tak berhasil mendapatkan keseimbangannya, tubuhnya pun jatuh ke belakang.

Sewaktu ia jatuh ke belakang, Su Xi-er memekik.

Su Xi-er sudah mempersiapkan dirinya dengan benturan tak terhindarkan di tanah, tetapi tidak menduga kalau ia akan langsung menemukan satu lengan kuat melingkari pinggangnya, menahannya.

Mendongak, Su Xi-er bertemu dengan mata agak cemas milik Pei Qian Hao.

Dikelilingi oleh bunga-bunga yang harum, Su Xi-er membeku di tempatnya selagi ia menatap Pei Qian Hao, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

"Kau memang ceroboh." Suara dalam dan tenang Pei Qian Hao sampai di telinganya.

Tubuhnya agak tersentak. Baru ketika itulah ia menyadari Pei Qian Hao sedang memeluknya dan belum melepaskannya.

Su Xi-er meringis saat tiba-tiba pinggangnya dicubit. Bertatap mata dengan Pei Qian Hao, ia berupaya keras untuk melepaskan diri.

Tetapi pria tersebut sepertinya tidak ingin melepaskannya.

"Lepaskan aku." Su Xi-er berusaha membebaskan diri, rasa jijik terlihat di wajahnya, entah apakah itu disengaja atau tidak.

"Jangan bergerak." Pei Qian Hao berbicara, suaranya arogan, tidak menoleransi penolakan.

Melalui jubah mereka, keduanya dapat merasakan embusan napas masing-masing. Su Xi-er merasa agak jengkel.

"Cepat lepaskan aku." Semakin Su Xi-er meronta, semakin kencang pula tangan yang memeluk pinggangnya. Bahkan napas pria itu tampaknya jadi lebih tidak wajar.

Menghadap matahari, bulu mata panjang Pei Qian Hao akan bersilangan kapan pun matanya menyipit, memancarkan pesona yang aneh. Sebagian besar, wanita hanya bisa terkesima akan hal semacam itu.

Tetapi, Su Xi-er hanya dapat mengingat kembali adegan dari mimpi buruk masa lalu saat berhadapan dengan pemandangan begini. Kian banyaknya kenangan membanjiri pikirannya, ekspresinya mendadak berubah, dan ia pun hanya dapat meronta bahkan lebih kuat lagi.

Meningkatnya kontak antara jubah mereka membuat Pei Qian Hao menarik napas dalam-dalam, "Jangan bergerak."

Sebenarnya Su Xi-er tidak berhenti bergerak, tetapi ia membuka bibirnya dan meminta, "Mohon lepaskan hamba, Pangeran Hao."

"Aku menyuruhmu agar tidak bergerak." Aura Pei Qian Hao menekan, dan melawan semua rintangan, Su Xi-er berhenti bergerak.

Tiba-tiba saja, wajahnya mendekat ke arahnya, mata mereka saling mengunci.

"Apa yang Anda lihat ...."

Su Xi-er menelan sisa kata-katanya. Bukan karena ia tidak ingin melanjutkannya, tetapi karena mulutnya mendadak terhambat ....

Su Xi-er memukuli dada Pei Qian Hao, meronta dan memprotes, tetapi orang satunya berpura-pura tidak menyadarinya. Saat akhirnya ia membuka bibirnya untuk mengambil napas, pria itu mengambil kesempatan untuk menginvasi teritorinya.

Su Xi-er akan memotong-motong Pei Qian Hao jadi delapan bagian kalau saja ia punya tenaga, tetapi kini ia hanya bisa membiarkan pria ini menciumnya!

Setelah beberapa saat, Su Xi-er merasa kalau ia sudah mati dan hidup kembali. Wajahnya merona, biarpun tidak jelas apakah disebabkan oleh kemarahan ataukah rasa malu.

Di saat Pei Qian Hao melepaskannya, Su Xi-er memukul dadanya dengan cepat, membuat dirinya yang tidak siap itu mundur beberapa langkah ke belakang sebelum terhenti.

Su Xi-er menatapnya dengan mata lebar dan mengeluarkan sumpah serapah di tengah napasnya, "Bajingan."

Sebaliknya, dengan tenang Pei Qian Hao memerhatikannya tanpa ada sedikit pun rasa bersalah atas apa yang baru saja terjadi.

Matanya berkabut sewaktu ia memandangi bibir Su Xi-er yang agak membengkak, dan perlahan-lahan ia pun mendekat.

"Jangan kemari!" perintah Su Xi-er.

"Kenapa Pangeran ini tidak boleh ke sana?" Pei Qian Hao membalas.

Su Xi-er bingung. "Hamba ...."

Tanpa terduga, ia tidak mampu menjawabnya di saat itu. Mengabaikan ini, Pei Qian Hao sudah berjalan melewatinya dan menuju jauh ke dalam ladang bunga tersebut, meninggalkan Su Xi-er di belakang selagi ia memerhatikan punggungnya.

Hebat sekali Pei Qian Hao! Kau mengambil keuntungan dariku dan masih bertingkah seolah itu memang sudah sepantasnya! Walaupun ia marah akibat malu, Su Xi-er tetap membuntuti di belakangnya.

***

Sementara Pei Qian Hao tengah mengenang pengalaman tersebut dan menantikan apa yang akan terjadi berikutnya, di tempat tinggal Pangeran Yun yang jauh, sudah memanggil seorang tabib kekaisaran untuk memeriksa luka Pangeran Yun.

Si tabib kekaisaran baru saja mendudukkan dirinya dan memeriksa denyut nadi Pangeran Yun ketika orang itu bertanya gelisah, "Bagaimanakah keadaan Pangeran ini?"

Tabib kekaisaran terdiam sejenak sebelum ia menjawab, "Pangeran Yun, Anda sudah tidak lagi berada dalam kondisi yang serius. Sisa bisa ularnya telah dihilangkan, dan Anda bisa segera pulih setelah lukanya menutup. Selama masa ini, Anda boleh keluar dan berjalan-jalan, membantu pemulihan Anda."

Sepertinya Yun Ruo Feng sangat puas dengan diagnosis tabib kekaisaran dan mengangguk. "Baiklah, Pangeran ini mengerti. Seseorang, kemari dan antarkan tabib kekaisaran pulang."

Setelah tabib kekaisaran pergi, Yun Ruo Feng memanggil lagi, "Seseorang, siapkan kereta kudanya!"

Ia bersiap untuk pergi memeriksa ke Provinsi Bulan. Sementara tujuannya pergi ke sana? Ia juga tidak tahu.

Tak lama sebelum Pangeran Yun menaiki kereta kuda tersebut dan memerintahkan si pengawal, "Berangkat."

Si pengawal membungkuk dan menjawab dengan hormat. "Mengerti, Pangeran Yun."

Para pengawal berangkat segera setelah perintahnya diturunkan. Tertinggal seorang diri di dalam kereta, mata Yun Ruo Feng jadi berkabut penuh niat tersembunyi.

Mengindahkan perintah Yun Ruo Feng, sepasang pengemudi keretanya memilih satu jalan yang sunyi dan terpencil, pelan-pelan berkendara menuju ke gerbang kota.

 

Silakan lanjut chapter 151 di sini.

Atau cek ke TOC.

Continue reading CTF - Chapter 150

CTF - Chapter 149

Consort of A Thousand Faces

Chapter 149 : Datanglah Pada Pangeran Ini


Provinsi Bulan. Di Dalam Toko Bunga Zhao.

Paman Zhao dengan hati-hati memerhatikan kedua orang di belakangnya sewaktu ia berjalan. Aku tidak boleh meremehkan tamu-tamu penting ini!

Keduanya kini berada di depan bunga-bunga Ling Rui, dimana satu rumpun bunga kuning berbentuk bintang bermekaran dalam pot bunga.

Paman Zhao menunjuk ke arah bunga-bunga tersebut. "Pelanggan. Tidak ada banyak bunga Ling Rui di toko ini, tetapi ini ada beberapa pot yang kumiliki. Ada lebih banyak lagi yang ditanam di padang oleh para petani bunganya. Faktanya, bunga-bunga Ling Rui jauh terlihat lebih baik di padang. Mereka tampak seperti bintang-bintang di dalam langit malam, berkilauan dengan cemerlangnya di malam hari."

Paman Zhao mendesah seraya berbicara. "Bunga Ling Rui tidak mahal dan mereka dapat dengan mudahnya bertahan hidup di Nan Zhao. Mereka tahan baik terhadap suhu dingin maupun panas, tetapi harus terkena angin, kalau tidak mereka akan layu."

Su Xi-er tidak mendengarkan kata-kata Paman Zhao dan hanya memandangi bunga Ling Rui di depannya. Setiap kuntum bunga kuning ini sangat indah. Ibuku menamai mereka 'Wei Yi' ....

Tatapan Pei Qian Hao mengikuti Su Xi-er dan tertuju pada bunga Ling Rui di depannya.

Ia menunjuk ke arah bunga Ling Rui dan bertanya pada Paman Zhao. "Apakah sudah dipastikan kalau bunga-bunga ini tidak akan bertahan hidup apabila dipindahkan keluar dari Nan Zhao?"

Paman Zhao melihat kalau Pangeran Hao tampan dan pandai berbicara sementara memiliki aura seorang kaisar, sehingga ia pun tidak berani bersikap ceroboh.

Paman Zhao bergumam sendiri seolah ia tengah berpikir dengan sangat hati-hati.

Setelah agak lama, ia membalas, "Sebenarnya, tidak pasti. Ada beberapa bagian penting untuk menanam bunga Ling Rui; pertama adalah aerasinya, kedua adalah tanah khusus dari Provinsi Bulan dan ketiga adalah airnya. Semua air di Provinsi Bulan ini berasal dari Danau Bulan, dan ada satu legenda yang sangat kuno mengenai Danau Bulan tersebut."

Paman Zhao berbicara tanpa henti dan menceritakan pada mereka tentang legendanya.

Dahulu kala, Provinsi Bulan merupakan suatu tempat yang sangat miskin dengan banyaknya orang miskin dan kelaparan yang berkeliaran. Dikatakan bahwa, ini disebabkan oleh Hakim Provinsi menyinggung seorang dewi, yang kemudian mendatangkan malapetaka pada seluruh provinsi. Selain dari membawa kemiskinan pada Provinsi Bulan, ada pula banjir bandang yang menghancurkan ladang, membuat semua orang melarikan diri atau mati kelaparan.

Setelahnya, seorang wanita cantik tiba-tiba datang ke Provinsi Bulan, keliman gaunnya penuh dengan bunga. Dikatakan bahwa bunga apa pun dari roknya itu cerah dan cantik, tidak pernah layu meskipun dipetik.

Ia penuh dengan belas kasihan dan mengasihani warga. Handal dalam ilmu pengobatan, ia membantu merawat penduduk Provinsi Bulan. Semua orang mengenalnya sebagai seorang dewi.

Setelah itu, dewi tersebut memberitahukan para penduduk kalau mereka harus menanam bunga. Mempercayai ucapannya, para penduduk pun mulai menanam berbagai macam jenis bunga.

Para penduduk hidup melewati kelaparan dan sedikit demi sedikit menjadi lebih makmur. Bunga-bunga yang mereka tanam juga berbeda dari bunga-bunga di tempat lainnya. Setiap bunganya indah dan cantik, tidak peduli warna ataupun jenisnya, akan jadi peringkat pertama.

Saat waktunya para penduduk berterima kasih pada sang dewi bunga, ia telah menghilang, dan tak ada seorang pun yang pernah melihatnya lagi.

Kemudian, dikatakan bahwa ada orang yang melihatnya di Danau Bulan. Ia hanya mengambang di udara dengan ringannya dan menatap ke bawah ke arah para penduduk Provinsi Bulan.

Beberapa orang mengatakan bahwa si dewi bunga berasal dari Danau Bulan, dan kembali untuk melindunginya. Kabar bahwa bunga-bunga dari Provinsi Bulan adalah yang paling indah baru tumbuh selama bertahun-tahun setelahnya, dan kini semua orang mengetahuinya.

Di saat Paman Zhao selesai menceritakan legendanya, masing-masing memasang ekspresi berbeda.

Wajah Pei Qian Hao acuh tak acuh. Pada akhirnya, legenda hanyalah sebuah legenda. Perbedaannya adalah air, tanah, dan kondisi berbeda di sini. Sama seperti bagaimana mereka mengatakan kalau tangarine tumbuh di selatan dan jeruk tumbuh di utara dikarenakan perbedaan lingkungan, perbedaan dalam kondisinya menyebabkan pertumbuhan bunganya berubah.

Su Xi-er pernah mendengarkan legenda ini dulu sekali. Tentu saja, legendanya tidak nyata; tidak seorang pun pernah benar-benar mengalaminya sendiri. Ini hanya satu legenda indah tentang apa yang diharapkan orang-orang.

Provinsi Bulan sudah menjual bibit bunga ketika ia dilahirkan.

Saat Paman Zhao melihat ekspresi mereka, ia tahu kalau mereka tidak benar-benar mempercayai legenda dari si dewi bunga.

Mau tak mau, ia menjelaskan di samping. "Legenda ini diturunkan dari generasi terdahulu, membuat kami tidak yakin juga apakah ini benar atau tidak. Walau begitu, apa yang kami yakini adalah bahwa air dari Danau Bulan sangat sublim, dan bahwa bunga-bunga tersebut disiram dengan air danaunya, benar-benar berbeda dari bunga-bunga yang disiram dengan air dari sumber lainnya."

"Apakah Danau Bulan sungguh seajaib itu?" Pei Qian Hao tampaknya bertanya pada Paman Zhao, tetapi matanya terfokus pada Su Xi-er.

Wanita ini benar-benar punya koneksi tak terjelaskan dengan Nan Zhao. Aku tidak dapat menjelaskan firasat ini, tetapi aku tahu kalau ia pasti pernah tinggal di Nan Zhao sebelumnya.

Ketika Paman Zhao mendengarkan pertanyaannya, ia langsung mengangguk. "Benar, Danau Bulan memang istimewa. Bahkan saat menanam di lahan yang sama, bunga yang disiram dengan air Danau Bulan tumbuh lebih cepat, dan lebih tahan hama dan penyakit."

"Semua orang menggunakan air dari Danau Bulan untuk menyirami bunga-bunga kami sekarang. Saat dibandingkan dengan bunga-bunga dari provinsi terdekat lainnya, milik kami layaknya lautan bunga, jauh lebih baik ketimbang yang lainnya ... hehe."

Paman Zhao agak malu karena memuji dirinya sendiri. Ia menggaruk kepalanya dan tidak tahu apa yang mesti diucapkan lagi.

"Dimana padang bunga terdekat?" Pei Qian Hao bertanya.

"Tuan, apakah Anda ingin melihat-lihat?"

"Mmm."

"Yang terdekat ada di sebelah selatan, tetapi mereka tidak menanam bunga Ling Rui di sana," Paman Zhao memberitahu. Para pelanggan ini pasti ingin pergi melihat bunga Ling Rui.

"Kalau begitu ada dimana mereka?"

"Menuju ke arah utara. Agak jauh, tetapi petani bunga di sana menanam banyak sekali ladang bunga Ling Rui; lautan kekuningan, dan sangat indah. Tuan, apabila kalian ingin pergi, aku akan meminta penjaga tokoku untuk membawa kalian ke sana."

Paman Zhao antusias, tetapi Pei Qian Hao melambaikan tangannya. "Tidak perlu. Pemilik toko, kau hanya perlu memberitahukan pada kami arahnya dan kami bisa pergi ke sana sendiri."

"Oh, baik, baiklah."

Menerima ucapan Pei Qian Hao, Paman Zhao pergi mendekati pengawal kekaisaran yang mengendari kereta kudanya untuk memberikan petunjuk arah. "Apabila kau benar-benar tersesat, kau bisa bertanya pada siapa pun yang ada di sekitarnya. Setiap petani bunga di Provinsi Bulan mengetahui soal ladang bunga Ling Rui itu."

Pengawal tersebut mengangguk. "Baiklah, aku mengerti."

Melihat kereta kudanya sudah menanti di luar sana, Pei Qian Hao dan Su Xi-er tidak menetap lebih lama, ingin buru-buru pergi menuju ladang bunga tersebut.

Ketika mereka menaiki kereta kudanya, kebetulan Su Xi-er melihat awalnya Pei Qian Hao mendekati pengawal tersebut untuk menyampaikan beberapa patah kata.

Ia tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan, tetapi melihat si pengawal mengangguk ke arah Pei Qian Hao sebelum ia pergi dengan cepat.

Pei Qian Hao baru berbalik dan bertemu pandang dengan Su Xi-er, yang sedang duduk di dalam kereta.

Su Xi-er merasa jantungnya berdebar saat mata mereka bertemu. Cepat-cepat ia menurunkan tirai keretanya dan memalingkan wajah.

Tak lama setelahnya, kereta kuda tersebut bergerak sedikit, dan tirainya pun terangkat. Pei Qian Hao berjalan masuk tanpa ekspresi.

Meskipun ia tidak melihat ke arahnya, bayangan akan Pei Qian Hao yang mendesaknya hingga ke dinding kereta kuda mau tak mau berkedip di benak Su Xi-er. Memikirkan tentang itu, ia segera berpindah ke sisi berlawanan kereta kudanya.

Pei Qian Hao menatap sisi sampingnya dan bertanya, "Kenapa kau pergi jauh sekali? Apakah Pangeran ini akan memakanmu?"

"Tidak, hamba hanya berpikir kalau Pangeran Hao tinggi dan kuat, sehingga hamba ingin memberi sedikit ruang untuk Anda."

Pei Qian Hao mendengus. "Memaksakan logika dengan perkataanmu." Kemudian ia pun mengulurkan tangannya. "Datanglah pada Pangeran ini!" 

Continue reading CTF - Chapter 149

CTF - Chapter 148

Consort of A Thousand Faces

Chapter 148 : Dimanakah Kakak Perempuan Pertama Kekaisaran


Kilau tak menyenangkan berkerlip di mata Ning An Lian. Tinjunya terkepal di dalam lengan jubahnya selagi dadanya kembang-kempis seiring dengan napas terengahnya, berusaha tenang sekuat tenaga. "Yang Mulia, bagaimana mungkin Anda mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Putri ini? Berlajarlah dengan giat dari Guru Besar, kalau tidak, aku tak akan tenang apabila kerajaan ini diserahkan pada Anda di masa mendatang."

Perkataan ini sepenuhnya merupakan penghinaan terhadap Ning Lian Chen. Mana mungkin aku, si Putri Pertama Kekaisaran, tahu lebih sedikit daripada kaisar yang dikurung sepertimu?

Ning Lian Chen di masa lalu pasti sudah meledak akibat provokasi ini, tetapi semenjak Ning Ru Lan meninggal dunia, ia sudah berubah menjadi orang yang berbeda. Ia masih tampak muda di luar, tetapi kepribadiannya telah berubah. Ia mulai bersikap lebih dingin, tidak pernah benar-benar berbicara maupun tersenyum dari hatinya.

Ia belajar untuk berbohong. Ia belajar untuk bersembunyi. Ia belajar untuk menanti kesempatan yang tepat untuk membalas dendam.

"Sepertinya, cinta Kakak Perempuan Pertama Kaisar ini, untuk Pangeran Yun, sungguh teramat dalam. Tetapi, tidak mudah untuk menebak apa yang ada dalam benaknya. Meski jika kau tidak mempercayai apa yang diucapkan oleh Kaisar ini, semestinya kau mencoba melihat kenyataannya. Dengan sejarang itu kau berjumpa dengan Pangeran Yun, Kaisar ini kaget jikalau ia masih memikirkan dirimu. Sementara untuk menikahimu? Berapa lama lagi kau akan menunggu?" Ning Lian Chen berbicara seolah ia hanya sedang bergosip dengan seorang teman, tetapi setiap ucapannya seperti belati tajam yang menancap dalam di hati Ning An Lian.

Hatiku sudah berdarah. Aku akan hancur apabila aku terus mendengarkan ini.

Ning An Lian mengacungkan satu jarinya ke arah Ning Lian Chen, "Keluar dari sini! Kembali ke istana peristirahatanmu! Putri ini tidak ingin melihatmu! Enyah!" Ia pun mengamuk, jarinya bergetar seraya menunjuk ke arah pintu.

Ning Lian Chen tersenyum enteng. "Kakak, apa gunanya marah-marah pada Kaisar ini. Sebaliknya, mengapa tidak pergi mencari Pangeran Yun saja? Barangkali, ia akan memberitahukan padamu kapan ia akan menikahimu; atau mungkin saja ia akan menjelaskan mengapa ia memblokir semua informasi mengenai hubungan kalian agar jangan sampai tersebar. Apakah ia bahkan ingin menikahimu ....?"

"Cukup! Kalau bukan karena dirimu, ia sudah lama menikahiku. Kalau ...."

Ning Lian Chen menyelanya. "Kakak, Pangeran Yun merupakan anak tunggal. Calon Wang Fei-nya harus bisa melahirkan anak untuknya, tetapi, apakah kau bisa?"

"Apa!" Kepala Ning An Lian langsung terangkat. Bagaimana ia mengetahuinya? Hanya Yun Ruo Feng, dirinya, dan beberapa tabib kekaisaran berpangkat tinggi di dalam Institut Tabib Kekaisaran saja yang mengetahui ini. Bagaimana Ning Lian Chen mengetahuinya?!

"Jangan kaget begitu. Meski jika Kaisar ini mengetahuinya, aku tidak akan membocorkannya. Kakak, terkadang, kau tidak bisa hidup dalam penyangkalan. Itu saja yang ingin Kaisar ini sampaikan hari ini. Kau tidak perlu mengantarku keluar." Ning Lian Chen awalnya tidak tahu kalau Ning An Lian tidak bisa punya anak, tetapi kini setelah ia mengetahuinya dengan pasti, ia pun puas, beranjak pergi dengan tujuannya yang tercapai.

Ning Lian Chen baru berjalan beberapa langkah ketika ia mendengarkan jeritan kencang datang dari belakangnya. Pikiran Ning An Lian sudah gila. Setelah mendengarkan semua yang diucapkan Ning Lian Chen, ia tak mampu lagi menahan api yang membumbung di dalam hatinya.

Ini sangat memuaskan Ning Lian Chen. Kakak Pertamaku sudah tiada, jadi aku akan pastikan kalau hari-hari Ning An Lian di dalam istana kekaisaran akan lebih buruk daripada kematian. Yun Ruo Feng, jangan pikir kau bisa lolos juga. Aku pasti akan membalas dendam padamu karena membunuh Kakakku dengan begitu kejamnya.

Ning Lian Chen membubarkan semua kasim dan berjalan seorang diri di jalan setapak istana. Sebelum ia menyadarinya, ia sudah tiba di tengah-tengah Taman Kekaisaran. Melihat ke arah paviliun kecil di tengahnya, ia merasakan nostalgia, seakan-akan Kakaknya masih berada di sisinya.

Saat ia nakal, Kakaknya tidak akan memarahinya, tetapi menepuk pelan kepalanya dan tersenyum. "Lian Chen, kalau kau terus-terusan nakal, kakakmu ini akan mengabaikanmu."

Ia tidak takut Ayahanda Kaisar, Ibunda Permaisuri mengabaikannya. Ia takut kalau Kakaknya akan mengabaikannya. Kebanyakan, selama masa kecilnya, Kakaknya adalah temannya.

Ibunda Permaisuri sudah meninggal dunia, Ayahanda Kaisar pun telah mangkat. Peperangan pecah di Nan Zhao, dan kerusuhan menyebar baik di dalam dan di luar istana. Aku ingat bahwa alis Kakak selalu tertaut.

Pada akhirnya, Kakak, seorang diri, menurunkan beberapa pejabat. Setelahnya, ia menuju ke medan perang bersama Yun Ruo Feng untuk merencanakan peperangan. Dulu, aku selalu menunggu Kakak di dalam istana kekaisaran; tetapi saat aku mulai terlalu merindukannya, aku akan mengabaikan semuanya, dan pergi mengunjunginya ke kemah militer.

Kapan pun Kakak melihatnya, ia akan menegurnya dengan mata dipenuhi kebahagiaan. Kakaknya tak membiarkannya berada di sana, mengatakan kalau ia adalah masa depan—harapan Nan Zhao.

Masa depan dan harapannya masih ada di sini, tetapi Kakak, kemanakah perginya dirimu? Bagaimana bisa kau meninggalkan Lian Chen seorang diri? Nan Zhao sudah tidak lagi berada dalam keadaan rusuh, tetapi tanpa adanya Kakaknya, semua tak ada arti baginya.

Satu-satunya keterikatan emosionalnya hilang. Benar-benar hilang. Ning Lian Chen merasakan gelombang kesedihan membanjiri hatinya. Sewaktu ia melihat ke arah paviliun di kejauhan, tanpa diketahui, air mata memenuhi matanya, mengancam untuk menitik menuruni wajahnya.

Ning Lian Chen mengangkat kepalanya ke atas dan menatap ke arah langit biru, air matanya langsung jatuh lagi ke dalam matanya. Bahkan, sebagai seorang Kaisar, hasrat yang paling dihargainya namun sederhana dalam hatinya adalah untuk bertemu lagi dengan orang paling penting dalam hidupnya. Tetapi, ia sudah tiada.

Ia begitu benci menerima kematian Kakaknya, bahkan sampai sekarang, ia masih dalam penyangkalan. Kakak sangat mencintaiku, bagaimana bisa ia meninggalkanku? Kakak sangat kuat, tidak mungkin ia meninggal. Ia tidak akan ....

Merasakan aura menyedihkan mengelilingi majikannya, kasim kecil yang berdiri di kejauhan pun hanya bisa mengerutkan alisnya. Ia sudah melayani Kaisar semenjak Putri Pertama Kekaisaran terdahulu masih hidup.

Ia tahu betapa dalamnya hubungan kasih sayang di antara Putri Pertama terdahulu dan sang Kaisar. Yang Mulia tidak bisa menerima fakta bahwa kakaknya telah tiada, bahkan akan menjeritkan namanya di tengah malam.

Setiap kali ia berjaga di luar kamar tidurnya, hatinya akan merasa sakit. Kasihan sekali Yang Mulia. Saat Putri Pertama terdahulu meninggal dunia, Yang Mulia terkurung di istana peristirahatannya dan dijaga oleh Pasukan Tentara Kekaisaran. Sama sekali tidak mungkin baginya untuk keluar.

Yang Mulia menyerahkan cap kekaisaran, berpikir bahwa Pangeran Yun akan melepaskan Ning Ru Lan. Siapa sangka kalau Pangeran Yun akan berbohong pada Yang Mulia dan dengan kejamnya tetap membunuh Ning Ru Lan.

Si kasim kecil tidak akan mampu melupakan kepedihan yang tergurat di roman wajah Kaisar malam itu. Saat ia mendengar kabar kematian Ning Ru Lan, ia bahkan tidak menangis. Ia hanya bediri dingin di sana, seolah ia sudah kehilangan jiwanya.

Si kasim kecil tidak ingin melihat Kaisar berada dalam keadaan semacam itu lagi. Terlalu tragis. Terlalu menyedihkan.

Pada saat itu, anginnya bertiup dan si kasim kecil menghela napas. Aku tidak boleh membiarkan Yang Mulia berdiri di sana terlalu lama.

Oleh sebab itulah, dengan berani ia melangkah maju dan membungkuk hormat, "Yang Mulia, sudah waktunya kembali ke istana peristirahatan Anda."

Ning Lian Chen menjawab dengan senyum masam. "Benar, sudah waktunya kembali, atau Guru Besar Liu akan mengomeli Kaisar ini lagi."

Guru Besar Liu membantunya menghalangi Yun Ruo Feng menikahi Ning An Lian, jadi terkena dampaknya selama prosesnya.

Mulai saat itu, tugasnya adalah untuk mendidik Kaisar di Istana Kekaisaran, tidak diizinkan untuk pulang ke rumah. Tak ada bedanya dengan penjara.

Meski berusia tua, Guru Besar Liu punya seorang putri yang sekarang ini berusia sepuluh tahun. Ia telah menantikan ayahnya pulang selama ini, tetapi sudah berapa siang dan malam berlalu tanpa adanya tanda-tanda dari ayahnya?

Ning Lian Chen merasa Guru Besar Liu patut dikasihani, tetapi iri juga padanya. Paling tidak, putrinya masih menunggunya di rumah. Bagaimana denganku? Dimanakah Kakak? Apakah ia sedang menungguku?

"Kembali ke istana peristirahatanku." Ning Lian Chen berujar pelan dan melanjutkan perjalanan.

Si kasim kecil langsung mengikutinya. Ia merasakan bahwa setiap langkah yang diambil Kaisar itu berat. Alangkah luar biasanya apabila Putri Pertama terdahulu masih hidup? Paling tidak, Yang Mulia tidak akan berada dalam keadaan seperti ini.

Akan tetapi, apa yang tidak diketahui oleh si kasim kecil adalah hipotesis beraninya itu benar. Kakak yang begitu dirindukan oleh Ning Lian Chen sekarang ini tengah berada di Provinsi Bulan.

Continue reading CTF - Chapter 148

CTF - Chapter 147

Consort of A Thousand Faces

Chapter 147 : Ning Lian Chen


Ning An Lian menatap Piao Xu di tengah amukannya, melihat kening orang itu yang berdarah dan dengan kasar memakinya, "Kau ini tolol, ya? Memangnya kau tidak tahu caranya menghindar? Putri ini melemparkannya padamu, dan kau menerimanya begitu saja?"

"Putri Pertama, mohon redakan amarah Anda. Pelayan ini bersedia menanggungnya." Piao Xu mengabaikan rasa sakit di keningnya, maju ke depan untuk membujuk Ning An Lian.

"Seseorang, panggil tabib kekaisaran." Ning An Lian berujar cukup keras untuk didengar dari luar pintu.

Satu kasim menerima perintah tersebut dan langsung menuju ke Institut Tabib Kekaisaran, jantungnya berdebar kencang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi Putri Pertama jadi berang setelah kembali ke istana peristirahatan. Ia menghancurkan semua benda yang ada di dalam ruangan, tidak peduli seberapa mahalnya itu. Kasihan sekali Kepala Dayang Piao Xu. Hah, memang sulit melayani Putri Pertama.

Ning An Lian duduk di kursi terdepan di aula utama dan melihat ke arah kening Piao Xu yang berdarah. Darah mengalir menuruni pipinya, dengan beberapa menetes ke lantainya sebelum Piao Xu buru-buru mencoba mengelap mereka.

Memandangi noda darah di atas lantai tersebut, Ning An Lian mengerutkan alisnya. Piao Xu segera mulai memohon ampun, "Putri Pertama, hamba tidak sengaja melakukannya. Hamba akan mengelap lantainya sampai berkilau bersih."

Mengabaikan Piao Xu dengan gerakan tangannya, Ning An Lian berkata, "Putri ini tidak akan menghukummu. Lain kali, jauh-jauh saat Putri ini sedang marah, jangan sampai kau terkena imbasnya." Ning An Lian tahu dengan jelas kalau ia tidak mampu mengendalikan temperamennya kapan pun ia mengamuk.

Yang lebih buruknya, orang yang paling dihargainyalah yang telah melukai perasaannya kali ini. Sudah berapa kali aku keguguran demi Yun Ruo Feng? Dulunya karena Ning Ru Lan, aku tidak punya pilihan selain menggugurkan kandunganku.

Dengan kematian Ning Ru Lan, aku mengharapkan anak keempatku akan terlahir dengan selamat. Tetapi, siapa yang tahu kalau takdir akan mempermainkanku lagi?

Di hari kematian Ning Ru Lan, perutnya mulai kesakitan di dalam sel penjara, dan pendarahannya tidak mau berhenti. Setelah diperiksa oleh tabib kekaisaran, diagnosisnya lebih menghancurkan hatinya.

Dalam kehidupan ini, aku mungkin tidak akan pernah menjadi seorang ibu lagi.

Wajah Ning An Lian terpilin. Ia mengangkat tangannya dan mengelus perutnya. Kalau bukan karena Ning Ru Lan, aku tidak perlu menggugurkan kandungan, dan sudah punya banyak anak sekarang.

Kenapa Langit memperlakukanku begini! Kenapa aku tidak bisa mempunyai kehidupan yang baik bahkan dengan kematian Ning Ru Lan! Mengapa Yun Ruo Feng memperlakukanku seperti ini!

Dengan membuatku tetap berada di luar pintu masuk Kediaman Pangeran Yun, apakah ia bahkan memikirkan soal perasaanku barang secuil pun!

Melihat roman muka Ning An Lian yang patah hati, Piao Xu merasakan tarikan di hatinya. Ia pun hanya bisa menghiburnya. "Putri Pertama, barangkali, Pangeran Yun benar-benar sibuk. Tenanglah dulu, dan jangan terlalu marah. Pangeran Yun memperlakukan Anda dengan sangat baik hingga tidak akan adil untuk mengabaikan semua yang telah dilakukannya untuk Anda hanya karena Anda tidak bisa menemuinya hari ini."

Ning An Lian merenung dalam-dalam. Walaupun apa yang dikatakan Piao Xu masuk akal, ia masih mengizinkan Ning Ru Lan untuk menemuinya kapan saja dulu ketika ia masih berpura-pura kalau ia menyukai Ning Ru Lan. Apakah ia sungguh belum melupakan Ning Ru Lan, ataukah ia juga berpura-pura menyukaiku?

Tidak mungkin! Ia pasti mencintaiku. Kalau tidak, kenapa ia tidur denganku? Ia selalu begitu lembut dan takut membuatku kesakitan kapan pun kami melakukannya.

Ning An Lian merasa agak tenang, tetapi kemudian segera tegang lagi. Sudah lama sekali semenjak kami melakukan itu.

"Putri Pertama, berhenti membiarkan pikiran Anda menjadi liar." Piao Xu berbicara lagi, pendarahan di keningnya sudah berhenti.

"Putri ini merasa gelisah, seakan sedang terjadi sesuatu. Tingkah laku Yun Ruo Feng hanya memperburuknya." Alis Ning An Lian tertaut lagi sewaktu ia berbicara.

"Nan Zhao berkembang dari hari ke hari. Para menteri di mahkamah semuanya terkesan oleh Pangeran Yun, dan semuanya berjalan dengan baik. Putri Pertama, Anda pasti kebanyakan berpikir."

Ning An Lian memandangi Piao Xu dan melepaskan napas lega, hatinya pun perlahan-lahan jadi tenang. Semoga saja Piao Xu benar, dan aku memang kebanyakan berpikir.

Saat itu juga, suara yang bermartabat dan jelas dari seorang pria menggema di luar pintu masuk aula istana. "Kakak, dengan berpikir negatif sepanjang hari, apakah kau mengharapkan agar kejadian buruk menimpa Nan Zhao?" Satu sosok berpakaian kuning terang muncul seiring dengan suaranya yang berhenti, diikuti seorang tabib kekaisaran yang sedang memegangi satu kotak obat.

Piao Xu langsung berbalik dan menyapa hormat. "Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia."

Sosok itu memang adalah Ning Lian Chen, sekarang ini mengenakan jubah naga. Ia bisa melewati upacara kedewasaannya dalam dua atau tiga tahun. Sesuai dengan peraturan Nan Zhao, ia berada di usia dimana ia semestinya mulai membaca laporan-laporan dan mengambil keputusan untuk urusan kerajaan. Namun, sekarang ini, semua ini diambil alih oleh Yun Ruo Feng. Sebaliknya, posisi Ning Lian Chen di istana kekaisaran adalah untuk belajar dan berlatih ilmu bela diri. Itu merupakan suatu kehidupan yang santai tetapi menyesakkan.

Dengan kata lain, ia adalah sebuah boneka. Bahkan, cap giok kekaisaran saja jatuh ke tangan Yun Ruo Feng.

Ning An Lian menghadiahkan dengusan dingin setelah melihat tamunya, "Mengapa Yang Mulia tidak belajar dengan giat bersama Guru Besar, melainkan datang ke istana peristirahatan Putri ini?"

Kematangan Ning Lian Chen tidak sesuai dengan usianya, dan itu jelas bahwa ia hanya akan tumbuh jadi semakin menarik seiring berjalannya waktu. Di saat ia cukup usia menjadi Kaisar, mungkin tak akan berlebihan apabila menyebutnya sebagai pria tertampan di Nan Zhao.

"Rumah tangga kekaisaran Ning hanya terdiri dari Kaisar ini dan dirimu di generasi ini, Kakak. Sudah lama semenjak Kaisar ini berjumpa denganmu. Tidak bolehkah aku merindukanmu?" Sudut bibir Ning Lian Chen terangkat, membentuk satu senyuman.

Senyum tersebut tampak tulus, sampai di kedalaman matanya, tetapi tidak ke hatinya. Dalam hatiku, aku hanya punya satu Kakak Perempuan, Ning Ru Lan. Meskipun ia sudah meninggal, tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya.

Ia ingin membunuh Ning An Lian setiap kali ia melihatnya, untuk membalaskan dendam kakak perempuannya, tetapi ia tidak bodoh. Sekarang ini belum waktunya. Sayapku masih belum tumbuh sepenuhnya, dan aku masih belum punya cukup kekuatan. Dengan Yun Ruo Feng menguasai kendali penuh atas mahkamah dan militer, aku hanya bisa diam menunggu saja sekarang.

"Haha, Yang Mulia merindukan Putri ini?" Kilatan kebencian muncul di mata Ning An Lian. Dengan satu lambaian tangannya, ia memerintahkan si tabib kekaisaran, "Piao Xu, bawa tabibnya keluar bersamamu untuk membalutkan lukamu."

Piao Xu tahu kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan Putri Pertama Kekaisaran pada Kaisar, dan menganggukkan kepalanya ringan sebelum membungkuk dan beranjak pergi. Tabib kekaisarannya pun mengikuti, merasakan kalau atmosfernya aneh.

Hanya Ning An Lian dan Ning Lian Chen yang tertinggal di aula tersebut.

"Hanya ada kita berdua sekarang. Yang Mulia boleh mengatakan apa yang Anda inginkan, dan tak perlu berbelit-belit dengan Putri ini. Mana mungkin Putri ini melupakan hal-hal baik yang telah Anda perbuat?" Rasa permusuhan dalam suara Ning An Lian meninggi, sama sekali tak menganggap hubungan mereka sebagai saudara.

Ning Lian Chen sudah pasti mengetahui apakah hal baik yang dimaksudkannya ini. Ketika Kakak Perempuan Pertama baru saja meninggal dunia, Yun Ruo Feng ingin segera menikahi Ning An Lian. Akulah orang yang berusaha keras mengumpulkan pejabat mahkamah sipil untuk menyebarkan rumor di dalam dan di luar istana.

Dikarenakan kurangnya pilihan, pernikahannya pun akhirnya ditunda. Bahkan sekarang, tampaknya Yun Ruo Feng masih belum menganggap serius urusan untuk menikahi Ning An Lian.

Sudut bibir Ning Lian Chen masih terangkat. "Kau sungguh-sungguh berpikir kalau Pangeran Yun akan menikahimu?"

"Kalau bukan karena Anda yang membuat masalah, Putri ini sudah menjadi Yun Wang Fei."

"Kakak, Kaisar ini menyarankan padamu agar berhenti memikirkan tentang hal-hal semacam itu. Walaupun ada rumor tentang kalian berdua yang menyebar di seluruh penjuru istana, hubunganmu dengannya akhirnya ditutup rapat-rapat. Semua ini merupakan perintah dari Pangeran Yun tercintamu itu. Siapa pun yang menyebarkan kabarnya akan dipenggal!"

Continue reading CTF - Chapter 147

Jumat, 03 Desember 2021

CTF - Chapter 146

Consort of A Thousand Faces

Chapter 146 : Dibiarkan di Luar Pintu


"Bunga magnolia coconya sangat cantik," Su Xi-er bergumam.

Di sisinya, Paman Zhao nyengir. "Walaupun bunga magnolia coco ini cantik, mereka sangat biasa dikarenakan betapa mudahnya mereka tumbuh. Di lain pihak, bunga Ling Rui tidak ada harganya di Nan Zhao, tetapi sangat berharga di kerajaan lain. Ini dikarenakan mereka hanya dapat tumbuh di Nan Zhao. Banyak orang dari kerajaan lain datang ke Nan Zhao, ingin mentransplantasikan bunga itu di kerajaan mereka, tetapi tak satu pun dari mereka yang berhasil."

Paman Zhao teringat, "Dulu, ada seorang wanita cantik di Nan Zhao yang sangat menyukai bunga Ling Rui hingga ia datang sendiri ke Provinsi Bulan untuk membeli dan membawa mereka ke istana kekaisaran. Semua orang menyebutnya dewi dari kahyangan, tetapi ingatanku sudah cacat setelah sekian lama, dan aku tidak bisa mengingat wajahnya."

Senyum Su Xi-er membeku, tangannya sedang menyentuh kelopak bunga lembut dan halus dari bunga magnolia coconya.

Su Xi-er tahu jelas siapakah wanita yang tengah dibicarakannya. Itu adalah Ibunda Permaisurinya, Permaisuri Nan Zhao. Ia sendiri masih menjadi Putri Pertama Kekaisaran, Ning Ru Lan, dan bukannya Su Xi-er.

Ibunda Permaisuri merupakan salah satu Man yi, dan ia sangat cantik. Ketika Ayahanda Kaisar melihat Ibunda Permaisuri, ia jatuh hati pada pandangan pertama. Akhirnya ia menikahinya dan menyayanginya.

(T/N: sebutan yang merujuk pada kelompok etnis minoritas di Cina kuno.)

Tetapi, setelah Ibunda Permaisuri meninggal dunia, Ayahanda Kaisar melupakan wanita yang pernah sangat dicintainya. Kemudian, ia sepenuhnya mengabaikan segala sesuatu di antara dirinya dan Ibunda Permaisuri, mengangkat selir silih berganti, masuk ke dalam istana kekaisaran.

Biasanya, Ayahanda Kaisar kerap mengutarakan seberapa besar ia mencintai Ibunda Permaisuri, dan bagaimana ia akan membuatnya menjadi wanita paling bahagia di muka bumi ini. Meski pada akhirnya, ia berpindah hati dengan begitu cepatnya dan mengkhianati kepercayaan wanita yang sangat mencintainya, hingga ajalnya!

Pria adalah lelucon. Mereka akan bilang bahwa mereka mencintaimu, kemudian melupakannya saat diperlukan; bahkan sampai membunuhmu tanpa ada sejejak pun penyesalan. Ayahanda Kaisarku plin-plan dalam cinta. Meskipun jika Ayahanda Kaisar mencintaiku, aku tetap tak sanggup memaafkannya karena hal ini.

Tangannya mendadak mengetat dan mematahkan batang bunga magnolia coco tersebut.

Perubahan tiba-tiba Su Xi-er menakuti Paman Zhao, dan jantungnya berdebar-debar. Saat ia melihat si pria terhormat perlahan-lahan mendekat kemari, buru-buru ia berpindah ke samping. 

Su Xi-er menyadari kalau Pei Qian Hao menghampiri ketika ia sudah masuk ke dalam toko, berhasil mengendalikan emosinya tepat waktu. Akan tetapi, apa yang tak mampu disembunyikannya adalah, si bunga magnolia coco yang patah di tangannya.

"Apa yang terjadi? Kau marah?" Pei Qian Hao bertanya, nada suara datarnya terisi oleh ketegasan yang tak terbantahkan.

Su Xi-er menggelengkan kepalanya sembari memasang senyum kecil di wajahnya. "Mana mungkin? Hamba hanya terlalu gembira dan tanpa sengaja mematahkan batang bunganya."

Pei Qian Hao mempertahankan ketenangannya sewaktu ia mengambil bunga magnolia coco dari tangannya dan berjalan di depan Paman Zhao. "Aku dengar, ada satu jenis bunga yang bernama bunga Ling Rui, yang hanya bisa tumbuh di Nan Zhao. Penjaga toko, apakah kau punya bunga itu di sini?"

Paman Zhao segera mengangguk. "Benar, benar, benar. Pelanggan yang terhormat, silakan ikuti aku."

***

Sementara itu di Kediaman Pangeran Yun.

Yun Ruo Feng sedang duduk di ruang depan ketika seseorang mendadak datang.

Orang itu langsung berlutut. "Pangeran Yun, Pangeran Hao dari Bei Min membawa dayangnya menuju Provinsi Bunga."

Ekspresi Yun Ruo Feng tidak berubah sewaktu ia mendengarkan ini, hanya melambaikan tangannya seraya menyuruh orang itu keluar. "Mmm, Pangeran ini sudah mengingatnya. Mundurlah."

Tangannya menopang rahangnya enteng, dan tak seorang pun mengetahui apa yang sedang dipikirkan olehnya.

Ketika ia memikirkan tentang Su Xi-er yang minum-minum malam itu, Yun Ruo Feng menyadari kalau ia sudah menghabiskan banyak waktu pada wanita ini.

Pikirannya jadi berantakan karena ia terpikirkan tentang Ning Ru Lan. Alasan mengapa aku memerhatikan Su Xi-er adalah karena auranya mirip dengan Ning Ru Lan.

Kalau bukan karena itu, mengapa aku bahkan akan memerhatikan seorang dayang? Walaupun ia sangat cantik, itu hanya kulit luarnya saja.

Namun, biarpun dayang tersebut mirip dengan Ning Ru Lan, aku tetap terlalu memerhatikan dirinya.

Mungkinkah itu karena aku masih merasakan sesuatu terhadapnya ....?

Mana mungkin? Aku sendiri yang membunuhnya dan mengakhiri hubungan kami. Mana mungkin aku masih menyimpan perasaan untuk dirinya setelah menginjak-injak kebanggaannya dan segala hal yang diterapkannya di kerajaan ini?

Tetapi, selain dari ini, mengapa aku begitu perhatian terhadap seorang dayang yang mirip dengan Ning Ru Lan?

Kepala Yun Ruo Feng sakit; ia tidak mampu memahaminya. Aura lembut yang biasanya mengelilinginya pun berangsur berubah menjadi rasa frustasi yang dingin. Jika ada seseorang di sekitar, mereka dapat melihat bahwa keadaannya kini jauh berbeda daripada dirinya yang biasa.

Di saat ini, pengawal lainnya tiba-tiba saja maju ke depan.

"Pangeran Yun, Putri Pertama Kekaisaran sudah tiba dan sedang menunggu di luar pintu."

Satu jejak kejengkelan yang tak terlihat melintas di wajah Yun Ruo Feng sewaktu ia melambaikan tangannya. "Suruh Putri Pertama kembali. Beritahu padanya bahwa Pangeran ini sibuk dengan urusan negara dan tidak menemui siapa pun hari ini."

Si pengawal terdiam sedetik sebelum mengangguk ketika ia melihat ekspresi tidak senang di wajah Pangeran Yun. "Baik!"

***

Ning An Lian sedang menunggu penuh semangat di luar ruangan. Saat ia melihat si pengawal keluar, ia pun maju dua langkah dan bertanya, "Bagaimana? Apakah Pangeran Yun mengundang Putri ini untuk masuk?"

Ning An Lian sudah siap berjalan masuk bahkan sebelum si pengawal menjawabnya.

Biarpun ia menggunakan statusnya sebagai Putri Pertama Kekaisaran untuk menekan si pengawal, Ning An Lian tetap tidak akan bisa menerobos masuk ke dalam Kediaman Pangeran Yun. Mengingat bagaimana pengawal sebelumnya yang dipecat karena dipaksa menerima perak dari Piao Xu, tak ada satu pun dari mereka yang akan mempedulikan status agungnya. Sebagai hasilnya, ia tak punya pilihan selain menunggu dengan sabar di pintu masuk utama seperti orang lainnya.

Si pengawal menggelengkan kepalanya dan menghadang jalan Ning An Lian. "Putri Pertama, mohon ampuni aku. Pangeran Yun mengatakan bahwa ia sibuk dengan urusan negara, dan tidak akan bertemu dengan siapa pun hari ini. Silakan kembali, Yang Mulia."

"Apa?" Ning An Lian ingin menghentakkan kakinya marah. "Apakah Pangeran Yun benar-benar mengatakan itu?"

"Benar. Putri Pertama, silakan kembali!" Si pengawal mengulurkan tangannya untuk menghadang jalannya.

Ning An Lian menatap ke pengawal yang kaku dan merasakan amarahnya mengancam untuk meluber. Ia ingin masuk secara paksa, tetapi tidak bisa.

"Tidak bisakah Putri ini masuk saat akulah Putri Pertama Kekaisaran kerajaan ini?" Ning An Lian bertanya geram.

Si pengawal mengabaikannya dan kembali ke tempatnya semula. Apabila Ning An Lian mencoba masuk secara paksa, maka ia akan naik dan menghadangnya.

Saat Piao Xu melihat ini, ia hanya bisa menghadang Ning An Lian dan menghiburnya. "Putri Pertama, kita kembali saja dulu. Pangeran Yun sedang sibuk sekarang, dan tidak punya waktu untuk menyambut Anda. Saat Pangeran Yun telah menyelesaikan urusannya, ia pasti akan masuk ke istana kekaisaran dan meminta maaf pada Anda."

Ning An Lian tak berdaya dan hanya bisa pergi dengan marah.

Walau aku tidak tahu kapankah ini dimulai, aku dapat mengetahui dengan pasti bahwa jarak antara Yun Ruo Feng dan diriku melebar. Mungkinkah aku benar-benar tidak mampu lagi menangkap hati pria ini?

Ning An Lian geram ketika ia kembali ke istana kekaisaran. Satu-satunya yang ada dalam benaknya adalah masa-masa yang mereka habiskan bersama, begitu pula dengan berbagai pertengkaran kecil antara ia dan Yun Ruo Feng yang mana membawanya pada keadaan sekarang ini.

Ia memikirkan Ning Ru Lan lagi. Si jalang itu. Yun Ruo Feng pasti sedang memikirkan tentang si jalang Ning Ru Lan.

Ia tidak berani melakukan hal semacam ini pada Ning Ru Lan, tetapi ini sudah terjadi padaku beberapa kali!

Ning An Lian dengan marah mengambil satu vas di dalam istana peristirahatannya dan melemparkannya ke lantai, membuatnya pecah berkeping-keping.

Lalu, ia pun terus melakukan hal yang sama pada teko teh, glasir keramik, ornamen berukir, dan beberapa benda lainnya yang ada di dalam ruangan tersebut. Ning An Lian tidak menghemat energinya.

Piao Xu memerhatikan Putri Pertama melempar-lempar barang dan mencoba menghentikannya. "Putri, jangan hancurkan mereka, jangan hancurkan mereka lagi."

Akan tetapi, Ning An Lian tengah mengamuk dan tak akan repot-repot mendengarkan orang lain. Ketika Piao Xu mencoba menghentikannya, Ning An Lian baru saja mengambil satu vas porselen. Daripada melemparkannya ke lantai seperti yang lainnya, vas porselen itu berakhir pecah di kepala Piao Xu.

Prang! Darah langsung mulai mengalir dari sayatan baru di kepala Piao Xu.

Kesakitan, Piao Xu pun menutupi kepalanya, dan tak mampu melakukan apa-apa selain meyaksikan majikannya terus saja melampiaskan amarahnya.

Continue reading CTF - Chapter 146

CTF - Chapter 145

Consort of A Thousand Faces

Chapter 145 : Lebih Baik Jangan


Hanya dengan pemandangan dan keharuman dari banyaknya bunga segar yang dijual sudah mampu membuat orang merasa tenang dan rileks.

Mata Su Xi-er setengah terpejam selagi ia tampaknya menikmati keheningan saat ini.

Pei Qian Hao memerhatikannya saat sudut mulutnya agak terangkat; Su Xi-er kelihatan ceria.

"Kenapa? Apakah kau sangat senang?" Pei Qian Hao bertanya.

Su Xi-er membuka sedikit matanya ketika ia mendengar Pei Qian Hao dan tersenyum padanya. "Pangeran Hao, tidakkah menurut Anda harumnya bunga-bunga ini mampu membuat Anda merasa senang?"

Kebanyakan, setiap kali Su Xi-er tersenyum, itu adalah topeng senyuman sopan palsu yang selalu dikenakannya. Apa yang dilihat Pei Qian Hao hari ini merupakan senyuman asli Su Xi-er.

Untuk menenangkan dirinya, ia meniru Su Xi-er dan menghirup harumnya bunga-bunga yang melayang dari luar. Memang benar-benar harum.

"Pangeran Hao, bukankah Anda merasa lebih santai?" Su Xi-er bertanya dan menatap Pei Qian Hao seolah ia harus mendengarkan sebuah jawaban darinya.

Pei Qian Hao melihat bahwa ia sedang memerhatikannya dengan serius, dan jantungnya berdebar-debar sebelum kembali normal.

Ia menjawab, "Pangeran ini memang merasa jauh lebih santai, tetapi Pangeran ini bahkan akan merasa jauh lebih santai apabila Pangeran ini bisa menamparmu satu-dua kali."

Apakah ia tengah mengatakan kalau aku terlalu banyak bicara? Pikir Su Xi-er. Aku bukan orang bodoh yang meminta untuk ditampar.

Ia pun mengangkat tirai keretanya diam-diam, berpura-pura ia tidak memahami apa maksud Pei Qian Hao dan berujar, "Pangeran Hao, Anda sedang mempermainkan hamba lagi."

Pei Qian Hao mendengus pelan, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi.

Su Xi-er tahu kalau pria ini bukanlah seseorang yang dapat disinggung dengan santainya. Aku memanggilnya 'jalang kecil' sebelumnya, dan takutnya ia masih marah. Aku sungguh tidak boleh menyinggungnya di saat begini. Kalau aku tetap diam, maka ia tidak punya alasan untuk marah.

Selain bunga-bunga, ada banyak sekali pedagang dan pejalan kaki di luar sana, menciptakan suasana hiruk-pikuk yang ramai.

Dengan aroma dari bunga magnolia coco, melati, dan juga berbagai bunga yang berada di sekitarnya, Su Xi-er nyaris bisa membayangkan kalau dirinya sedang berdiri di tengah-tengah satu lapangan penuh dengan bunga bermekaran, banyak kupu-kupu berterbangan di sekelilingnya. Membuatnya merasa benar-benar santai.

Akan tetapi, senyumnya menghilang dengan cepat. Aku tidak bisa tinggal dan menikmati masa yang disebut kedamaian ini. Lian Chen masih dikendalikan oleh Yun Ruo Feng; Ning An Lian masihlah si Putri Pertama Kekaisaran; dan Yun Ruo Feng masih si Prince Regent.

Aura damai yang tadinya menyelimutinya menghilang dalam sekejap, digantikan dengan aura dingin mirip iblis yang langsung datang dari neraka.

Berada begitu dekat dengannya, secara alami Pei Qian Hao menyadari hawa dingin di sekitar Su Xi-er. Dalam keadaannya saat ini, pergerakan tiba-tiba apa pun akan langsung membuatnya waspada.

Sebagai Prince Regent dari Bei Min, ia sudah pernah melalui berbagai macam situasi, dan dipaksa untuk membuat keputusan sepersekian detik di bawah kondisi mengancam nyawa. Niat membunuh yang terpancar dari Su Xi-er sangatlah jelas, tetapi niatan membunuh itu bukan terarah kepadanya.

Dengan Pei Qian Hao yang tak repot-repot menyembunyikan tatapan panas membaranya itu, Su Xi-er bisa merasakannya dengan jelas. Ia memutar kepalanya dan bertemu dengan mata gelapnya yang tampak seolah mereka mampu menghisap orang ke dalamnya dengan kemampuan ajaib mereka.

Jantung Su Xi-er berdebar, dan dendam di matanya langsung lenyap.

Ia memandanginya dan bertanya dengan nada kebingungan. "Pangeran Hao, apa yang Anda lihat? Apakah ada sesuatu yang kotor di wajah hamba?"

Su Xi-er sengaja mengusap pipinya sewaktu ia berbicara, berpura-pura bodoh.

"Pangeran ini hanya sedang penasaran saja, apa yang sedang diam-diam kau sumpah-serapahi. Apakah kau sedang mengatakan sesuatu yang buruk tentang Pangeran ini?"

"Mana mungkin hamba berani?" Su Xi-er menjawab dengan hormat.

"Lebih baik jangan ...." Pei Qian Hao tidak meneruskannya, tetapi tatapan penuh makna di matanya memperjelas implikasi dalam perkataannya.

Mengingat masa-masa yang mereka habiskan bersama, Pei Qian Hao tahu kalau Su Xi-er merupakan seorang wanita unik, yang tidak takut mengutarakan pikirannya, dan bukan orang yang pemalu dan penakut seperti dayang lainnya. Meskipun aku bisa membaca banyak orang dengan mudahnya, dialah satu-satunya yang tak bisa kutebak dengan sekilas pandang saja.

***

Kereta kudanya berjalan agak lama sebelum akhirnya berhenti di satu tempat yang bernama 'Toko Bunga Zhao'.

Pei Qian Hao baru turun dari kereta, ketika ia berbalik, ingin membantu Su Xi-er turun juga.

Akan tetapi, Su Xi-er tidak melihatnya. Sebaliknya, ia mengangkat tirai kereta sebelum dengan gesit turun sendiri.

Wajah Pei Qian Hao menggelap sewaktu ia menarik tangannya yang terulur tanpa kata. Mengalihkan perhatiannya pada toko bunga, samar-samar ia dapat melihat bunga-bunga yang menjulurkan kepala mereka keluar layaknya gadis cantik kecil yang pemalu.

Pengawal kekaisaran di sebelah mereka menyadari kalau aura di sekitar mereka terasa aneh, tetapi wajah Su Xi-er tetap tenang.

Ketika Paman Zhao, si pemilik toko, melihat para tamu terhormat tiba, ia langsung keluar dari ruangannya dan tersenyum lebar menyambut mereka. "Hei, pelanggan yang terhormat, apakah kalian kemari untuk mencari bunga? Toko kecilku ini punya berbagai jenis bunga berbeda yang semuanya bermekaran, dan sangat cantik."

Pei Qian Hao menatap Su Xi-er dan berujar dengan suara dalam. "Ayo, masuk ke dalam dan melihat-lihat."

Sebelum ia melangkah maju, suara tapak kuda terdengar di depan mereka. Seorang pengawal kekaisaran dari Kediaman Pangeran Hao datang dengan seekor kuda, berekspresi serius. Dengan cepat turun dari kuda, ia menyerahkan satu surat kepada Pangeran Hao dan berbisik, "Yang Mulia, surat dari Komandan Wu."

Pei Qian Hao mengambil surat tersebut, melirik Su Xi-er, dan menginstruksikan, "Masuklah duluan, Pangeran ini akan segera ke sana."

"Oh." Su Xi-er tidak tetap tinggal, dan mengikuti Paman Zhao ke dalam toko.

Walaupun Paman Zhao tidak pernah meninggalkan Provinsi Bulan, ia masih bisa mengetahui orang yang ada di depannya adalah seorang bangsawan. Hanya melihat watak pria itu saja, ia tahu, entah apakah ia adalah orang kaya atau seorang bangsawan dari tempat besar seperti ibu kota.

Ditambah lagi, gadis di sebelahnya cantik dan mengenakan pakaian mahal. Tidak sulit mengetahui kalau pasangan ini luar biasa.

Mengingat ini, Paman Zhao tidak berani bertindak ceroboh, dan dengan hati-hati menjawab para tamu terhormat ini.

"Nona, ada semua jenis bunga di toko kecil ini. Jenis bunga apa yang kau butuhkan? Orang rendahan ini bisa membawamu ke sana untuk melihat-lihatnya."

Su Xi-er melambaikan tangannya. "Tidak perlu. Aku hanya melihat-lihat saja sampai Tuan Muda dari kediamanku masuk."

"Oh, bagus, bagus." Meski ia berkata begitu, Paman Zhao masih tidak berani bersikap ceroboh, dan dengan hati-hati melayaninya. Ia mengikuti dua langkah di belakang Su Xi-er dan menjelaskan berbagai hal.

***

Di luar sana, Pei Qian Hao memegangi surat dari Wu Ling di tangannya. Seluruhnya berisi tentang tulisan Wu Ling mengenai setiap kejahatan yang diperbuat oleh Pei Yong. Bahkan, salah satu dari kejahatan ini saja sudah cukup untuk menjatuhi Pei Yong dengan hukuman mati yang mengerikan!

Wajahnya berubah gelap dan dingin. Ia melihat ke arah pengawal di sebelahnya dan menginstruksikan, "Kau, sampaikan titah lisan Pangeran ini dan pergilah ke provinsi kecil lewat perbatasan. Temui Wu Ling dan kembali ke ibu kota Bei Min untuk menangkap Pei Yong!"

Pengawal tersebut mengangguk tergesa. "Baik."

Pei Qian Hao baru berbalik dan masuk ke dalam toko bunga ketika pengawalnya sudah jauh.

Su Xi-er hanya melihat-lihat sambil lalu dan tidak melihatnya berjalan masuk dari luar.

Ia baru saja berjalan ke hadapan satu tandan bunga magnolia coco, tampak seperti nona muda yang tenang seraya memandangi kelopak bunga mereka yang putih alami.

Continue reading CTF - Chapter 145