Selasa, 20 Januari 2026

Pearl Light : Extra Shen Tong Guang

Pearl Light

Extra : Shen Tong Guang


1

Anak-anak sekolah dari desa-desa terdekat mengetahui ini: Ada seorang guru yang tampan sekali di Desa Keluarga Li.

Tak ada guru yang lebih tampan dari dirinya, dan tak ada guru yang membuat telapak tangan lebih sakit saat ia memukulnya.

"Zhao Tie Niu, kau dalam masalah! Kau sudah membuat guru itu begitu marah hingga tanduknya keluar!"

Teman-teman sekelas yang lewat menertawakan Tie Niu, "Siap-siap saja untuk pukulan tangan! Hehehe!"

Liu Cui Cui, tetangga Zhao Tie Niu, seorang anak perempuan yang adil dan penuh semangat, berkacak pinggang dan berkata, "Tie Niu, tunggu di sini, aku akan pergi memohon pada Nyonya Li untukmu! Tetapi, apa yang kau lakukan hingga membuat guru itu begitu marah sampai-sampai ia menunjukkan wujud aslinya?"

"Aku tidak mengerjakan PR-ku," Tie Niu berpikir sejenak.

"Semestinya itu tidak membuat Guru Shen semarah itu," Cui Cui merasa itu aneh, "Tebus saja."

"Aku, aku juga bilang bahwa roti pipih Nyonya Li tidak enak, tetapi aku mengatakannya pelan sekali ...."

Cui Cui berhenti berjalan.

Tie Niu dengan gugup menarik-narik lengan pakaian Cui Cui, "Kenapa kau tidak pergi?"

Cui Cui menepis tangannya, "Hmph, menyinggung Guru Shen itu bukan masalah besar. Untuk sebagian besar urusan serius, memohon pada Nyonya Li akan menyelesaikan masalahnya. Tetapi karena kau bicara buruk tentang Nyonya Li, bahkan dewa pun tidak akan bisa menyelamatkanmu. Tunggu saja untuk dipukuli."

Semua orang di Desa Keluarga Li mengetahui ini: Guru Shen bukanlah manusia; ia adalah monster yang seharusnya makan orang.

Tetapi setelah bertemu istrinya Li Zhen Zhu, ia malah mulai makan roti pipih manis.

Sepuluh tahun yang lalu, ada manusia datang setelah mencium aroma Taotie.

Manusia itu berkata sungguh-sungguh, "Raja Taotie, bolehkah aku menukar jantungku untuk sebuah permintaan? Jantungku segar dan ...."

Mendengar seseorang memanggilnya raja, Shen Tong Guang berhenti.

Mendengar si manusia menawarkan jantungnya, Shen Tong Guang mengusirnya, "Zhen Zhu tidak akan mengizinkannya."

"Siapa Zhen Zhu? Apakah ia dewi dari langit yang mengendalikanmu?"

"Bukan dewi, ia istriku yang membuatkan roti pipih manis untukku."

Manusia itu bergumam, menatap Shen Tong Guang dengan skeptis, "Taotie macam apa yang tidak makan jantung manusia? Bagaimana bisa itu masih dianggap iblis?"

Shen Tong Guang, yang dibuat marah oleh kata-kata itu, memelototi si manusia, "Lancang! Taotie-nya Li Zhen Zhu tidak makan jantung manusia seperti yang lainnya!"

Hidup di Desa Keluarga Li itu santai dan sederhana.

Da Huang memiliki Xiao Huang (Si Kuning Kecil), dan Xiao Huang memiliki Xiao Xiao Huang (Si Kecilnya Kuning Kecil), yang termasuk peristiwa yang patut diingat.

Semua orang mengatakan bahwa Li Zhen Zhu adalah gadis paling beruntung di Desa Keluarga Li.

Ia memiliki seorang suami yang tampan untuk menua bersamanya, dan ia hidup sampai seratus tahun tanpa penyakit atau bencana.

Tiga hari sebelum Li Zhen Zhu meninggal dunia, ia masih dengan gesit membuatkan roti pipih manis untuk Shen Tong Guang.

Tiga hari sebelumnya, Shen Tong Guang menemaninya ke kota, membeli banyak sekali tepung dan gula hingga mereka harus mengangkutnya kembali ke rumah perlahan-lahan dengan sebuah gerobak sapi.

Hari itu adalah hari musim gugur yang hangat, dengan pinggir jalan penuh dengan bunga-bunga kecil kuning yang tak diketahui jenisnya, bermekaran.

Shen Tong Guang menghiasi rambut Zhen Zhu dengan bunga-bunga kecil kuning itu.

Penjaga toko bilang bahwa Nenek Zhen Zhu jadi makin tua dan selalu agak linglung, dan sekarang ia bahkan semakin tidak masuk akal bicaranya.

Ia sebenarnya ingin membuat seribu roti pipih.

"Siapa yang bisa makan seribu roti pipih manis?" Si penjaga toko tertawa.

"Suamiku akan memakannya pelan-pelan," kata Zhen Zhu sambil tersenyum.

Selama hari-hari itu, seluruh Desa Keluarga Li larut dalam aroma roti pipih manis.

Li Zhen Zhu yang berumur seratus tahun berbaring di kursi goyangnya, menunggu seribu roti pipih manis jadi dingin.

Roti pipihnya sudah dingin, tetapi Li Zhen Zhu tidak pernah bangun lagi.

*

*

*

2

Pada hari Zhen Zhu meninggal dunia, banyak orang datang ke Desa Keluarga Li.

Ada penduduk desa dari segala penjuru.

Ada mereka yang pernah kabur ke Desa Keluarga Li selama masa-masa sulit dan pernah memakan roti pipih manis Zhen Zhu.

Ada murid-murid Shen Tong Guang, dan murid dari murid-muridnya.

Dan ada seorang gadis surgawi cantik.

Gadis surgawi itu menyerahkan satu kantong kepada Shen Tong Guang, "Ini adalah kantong Qiankun. Aku tidak memerlukannya, jadi aku memberikannya untukmu."

(T/N: Kantong Qiankun (乾坤袋) adalah kantong yang mampu menampung jauh lebih banyak dari yang terlihat. Digunakan oleh kultivator untuk membawa barang-barang besar.)

Gadis surgawi itu berbohong.

Itu bukanlah kantong yang tidak diperlukannya.

Karena kantong itu pas sekali ukurannya, tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, untuk menyimpan seribu roti pipih manis itu.

Waktu itu kejam sekaligus pemaaf, seperti minuman keras dengan efek yang tahan lama.

Pada hari yang teramat cerah, Zhen Zhu berbaring di peristirahatan terakhirnya di bawah sebatang pohon persik, tepat di sebelah Da Huang.

Di Desa Keluarga Li, ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa, saat orang baik yang telah mengumpulkan jasa pahala meninggal dunia, langit akan tetap cerah selama tujuh hari untuk memudahkan perpisahan tersebut.

Para penduduk desa takjub akan betapa baik hati dan ramahnya Zhen Zhu, sehingga cuacanya sebagus itu.

Sementara semua orang menangis sedih, hanya Shen Tong Guang yang tidak menitikkan air mata.

Usai menyelesaikan semua masalah terkait Zhen Zhu, Shen Tong Guang hanya mengusap matanya dan mengemas seribu roti pipih manis ke dalam kantong Qiankun, "Semuanya, jangan khawatir. Raja Taotie akan pergi mencari Zhen Zhu."

Penduduk desa berdiri di jembatan, menyaksikan sosok Shen Tong Guang yang berangkat.

Mereka merasakan ada yang hilang, kehampaan yang tak bisa digambarkan.

"Merindukan Nenek Zhen Zhu," kata anak Tie Niu, bersembunyi dalam dekapan Cui Cui. "Ia dan Guru Tua Shen selalu berjalan bersama-sama, bergandengan tangan, perlahan-lahan."

Setelah Shen Tong Guang pergi, turun hujan di Desa Keluarga Li selama tujuh hari.

Guntur bergemuruh, bagaikan binatang buas kesepian meratap di awan.

Di alam baka, semua orang takut pada Raja Taotie.

Wuchang takut ia akan mencuri arwah yang hidup untuk disantap, Mengpo takut ia akan mencuri supnya untuk diminum.

(T/N: Heibai Wuchang (黑白无常) adalah dua dewa dalam legenda agama Tiongkok yang bertugas mengantarkan arwah orang mati ke alam baka. Sedangkan Meng Po (孟婆) adalah dewi melupakan dalam mitologi Tiongkok, yang memberikan Sup Mengpo di Jembatan Naihe.)

Mereka tidak akan membiarkan Raja Shen menunggu di Jembatan Naihe dan mencoba mengusirnya.

Hari itu, Raja Shen berlajar untuk bersikap keras kepala.

Ia memeluk pilar Jembatan Naihe dan menolak melepaskannya.

"Li Zhen Zhu sudah lama pergi dari sini. Ketua Puncak Ling Chen tahu kau akan datang. Ia ingin kau pergi ke Puncak Ling Chen untuk mencarinya. Ia tahu segalanya tentang Li Zhen Zhu," Wuchang berusaha membujuknya.

Raja Shen berhenti bersikap keras kepala, melepaskan pilar dan pergi.

"Terus, kalau Ketua Ling Chen sudah tahu, kenapa ia membiarkannya melakukan perjalanan yang sia-sia?"

"Ketua Ling Chen tahu ini akan terjadi. Ia bilang, bahkan jika ia memberitahunya lebih dulu, ia tetap akan datang."

Shen Tong Guang berjalan sendirian.

Saat ia lapar, ia memakan satu roti pipih Zhen Zhu.

Kadang-kadang, saat ia sangat amat merindukannya, ia akan makan satu juga.

Semakin banyak roti pipih yang dimakannya, semakin sedikit sisanya, tetapi semakin dalam pula kerinduannya.

Roti pipihnya harus dimakan dengan hemat, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya menghemat dalam merindukan seseorang.

Suatu malam, dengan bulan purnama, Shen Tong Guang merasa lapar, mengulurkan tangan ke dalam kantong, kemudian menarik tangannya kembali.

Tidak lapar, ia memutuskan. Tidak akan makan.

Kalau tidak, sisa roti pipih manis itu tidak akan cukup baginya untuk memikirkannya.

*

*

*

3

Guru itu tidak ada di sana, hanya meninggalkan pesan kepada Shi Yu, menyuruhnya agar berkelana di dunia manusia selama tiga puluh tahun, mencari tempat dimana roti pipihnya lebih enak dari yang dibuat Zhen Zhu, kemudian kembali ke Puncak Ling Chen.

"Kenapa membiarkan si bodoh ini berkelana di dunia manusia selama tiga puluh tahun? Bukankah kau sudah meramalkan semuanya? Tidak bisakah kau beritahu saja dia bahwa Zhen Zhu akan menyeberangi jembatan itu berberapa puluh tahun lagi?" tanya Shi Yu, bertopang dagu.

"Apabila aku memberitahunya, ia akan menunggu dengan pahit di jembatan itu selama berpuluh-puluh tahun. Dunia manusia itu ramai, ia harus mencari sesuatu untuk dilakukan."

"Kau bilang dunia manusia itu ramai. Apa kau tidak takut ia akan bertemu seseorang yang lebih baik dan jatuh cinta padanya selama tiga puluh tahun ini?"

"Zhen Zhu yang bereinkarnasi itu bebas, begitu pula dengan Shen Tong Guang." Sang Guru tersenyum tipis. "Harus menunggu dan memilih untuk menunggu itu berbeda."

Shi Yu, sepintar dirinya pun, tak sanggup memahami ini.

Harus menuunggu, memilih untuk menunggu, bukankah sama-sama hanya menunggu?

Apa bedanya?

Shen Tong Guang turun gunung, mencari roti pipih yang lebih enak dari roti pipih Zhen Zhu.

Pertama-tama ia pergi ke restoran terbesar di ibu kota, yang mempekerjakan koki kue terbaik dari Yang Zhou.

Roti pipih manis indah dengan rasa harum yang memenuhi mulut.

Orang lain memuji tiada habisnya, tetapi Shen Tong Guang hanya menggelengkan kepalanya.

Roti pipih si koki itu luar biasa, tetapi tidak cukup enak.

Namun, ia tidak bisa menunjukkan apanya yang kurang, jadi ia melanjutkan pencariannya.

Pada hari musim gugur yang indah, bunga-bunga kecil kuning mekar lagi di pinggir jalan.

Shen Tong Guang, merindukan Li Zhen Zhu, berubah menjadi Taotie dan mendaki hingga ke puncak gunung yang sangat tinggi.

Ia kira tidak akan ada orang di sana, tetapi tanpa diduga, ia bertemu seorang pengembara.

Pengembara itu mengenali Shen Tong Guang dan cepat-cepat membuat sketsanya, "Taotie, persis seperti yang digambarkan dalam buku-buku kuno, memiliki tubuh domba, wajah manusia, gigi harimau, dan cakar manusia."

Shen Tong Guang, yang telah berubah ke wujud aslinya, menangis dengan pedih, dan cuaca bagus pun menghilang, digantikan hujan lebat.

Pengembara itu mengangguk dan mencatat, "Saat ia mengangis, hujan pun turun."

Malu, Shen Tong Guang berhenti menangis, takut si pengembara akan menuliskan "Taotie suka menangis", yang mana akan lumayan memalukan.

Shen Tong Guang memandangi si pengembara, membuatnya agak malu, "Taotie suka makan. Nih, makanlah separuh roti pipih yang istriku buatkan untukku."

Roti pipih buatan si istri pengembara, meski tidak manis, mengejutkannya, memiliki sedikit rasa roti pipih Li Zhen Zhu.

Shen Tong Guang merasa seperti ingin menangis lagi.

"Kenapa kau menangis barusan ini?"

"Aku merindukan istriku. Kau tidak merindukan istrimu?"

"Tentu saja, tetapi aku suka berkelana, mencintai gunung dan sungai, tetapi aku tidak suka terikat." Si pengembara bersandar di pohon, menunjuk ke lautan awan yang bergulir di kejauhan, "Ada begitu banyak pemandangan indah di dunia ini, sayang sekali kalau tidak mengunjunginya. Lihat, bukankah itu cantik?"

"Benar, memang cantik. Aku juga ingin menunjukkan ini kepada istriku, tetapi ia tidak ada di sini sekarang." Shen Tong Guang berpikir, "Tetapi tidak apa-apa, aku akan mencarinya di kehidupan selanjutnya dan membawanya untuk melihatnya."

Memikirkan ini, Shen Tong Guang merasa gembira lagi.

Taotie tak lagi bersedih, tetapi si pengembara jadi melankolis, "Kau benar, seharusnya aku membawanya bersama ...."

Hujan berhenti, dan pengembara itu memutuskan untuk pulang ke rumah.

Sewaktu mereka pisah jalan, ia melambai ke Shen Tong Guang dan mengucapkan satu-satunya kalimat yang suka didengar oleh Shen Tong Guang, "Kita sama, sama-sama mencari jalan pulang ke rumah."

4

Shen Tong Guang juga akan pergi ke pegunungan Taotie, mencari sesama temannya yang suka makan dan menanyakan tentang roti pipih manis terbaik di dunia.

Para Taotie membanding-bandingkan yang terbaik yang pernah mereka makan untuk memilih seorang Raja Taotie.

"Yang terbaik yang pernah kumakan adalah jantung orang yang berambisi."

"Bodoh, yang terbaik pastinya jantung wanita yang tergila-gila."

Shen Tong Guang tidak pernah memakan apa pun yang mereka sebutkan, jadi ia tetap diam.

Seseorang mengenalinya, "Hei, bukankah kau orang yang dicerahkan oleh si orang tua dari Puncak Ling Chen? Kau sudah melihat dunia. Apa makanan terbaik yang pernah kau makan?"

"Kenapa kau tidak bilang apa-apa? Mungkinkah kau sudah pernah memakan jantung sejati?"

"Itu adalah hidangan legendaris. Mengharuskan seseorang secara sukarela, tanpa adanya kebencian atau penyesalan, memberikan jantung mereka kepadamu."

Para Taotie mengobrol penuh semangat, menanti Shen Tong Guang untuk menyebutkan sesuatu yang menggiurkan.

"Roti pipih manis."

Para makhluk buas itu bingung: Apa itu? Roti pipih manis?

"Roti pipih manis."

Roti pipih manis dengan jantung berlumuran darah di dalamnya pasti rasanya luar biasa.

"Itu roti pipih manis!" Shen Tong Guang agak tidak sabar, "Istriku yang membuatkannya, dan rasanya enak."

Makhluk buas itu saling pandang dengan bingung.

Mereka belum pernah mendengarnya, melihatnya, atau mencicipinya.

"Lupakan saja! Kalian tidak akan mengerti!"

Shen Tong Guang berjalan pergi dengan kesal, bahkan menolak gelar Raja Taotie yang mereka berikan kepadanya.

*

*

*

5

Tiga puluh tahun berlalu, dan Shen Tong Guang menjelajahi dunia manusia, tidak bisa menemukan roti pipih manis yang lebih baik daripada roti pipih manis Li Zhen Zhu.

Shen Tong Guang kembali ke Puncak Ling Chen.

Guru bilang Zhen Zhu telah memasuki siklus reinkarnasi.

Shen Tong Guang dengan gelisah menanyakan ia terlahir di keluarga mana.

"Di keluarga yang baik dengan dua orang tua, baik dan berbudi," sang Guru mengelus janggutnya sembari tersenyum. "Sekarang ia berusia tiga tahun dan sedang belajar bicara."

"Karena ia sudah reinkarnasi, Shen Tong Guang, turunlah ke dunia manusia bersamaku. Zhen Zhu bisa menjadi istrimu lagi!" Shi Yu mengguncang-guncangkan lengan Gurunya dengan ceria. "Guru, ayo pergi cerahkan pikiran Zhen Zhu, supaya ia mengingat segala sesuatu dari kehidupan masa lalunya!"

"Kalau begitu, aku akan menunggu enam belas tahun lagi, itu tidak masalah," Shen Tong Guang menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak yakin apa yang akan terjadi dalam enam belas tahun. Mungkin ia akan datang, mungkin ia tidak mau ...." Sang Guru, untuk pertama kalinya, tidak bisa memprediksi dan mengerutkan dahi.

Shi Yu tercengang, "Bukankah kau merindukannya? Kau sudah menunggu tiga puluh tahun, sekarang enam belas tahun lagi, bukankah kau sudah tidak sabar? Bagaimana kalau ia jatuh hati pada orang lain?"

"Tetapi kali ini Zhen Zhu memiliki orang tua." Shen Tong Guang berpikir sejenak, lalu tersenyum, "Tidak apa-apa, aku punya banyak waktu. Aku bisa menggunakannya untuk menunggunya."

Shi Yu terdiam.

"Selain itu, aku sudah berkelana di dunia manusia selama tiga puluh tahun, tetapi ia hanya memiliki sembilan belas tahun, jadi ia yang kena sial."

Untuk beberapa alasan, mendengar Shen Tong Guang mengatakan ini, Shi Yu mendadak merasakan kesedihan dalam hatinya, seolah-olah ialah yang akan menangis mewakili orang lain.

"Hei, Shen Tong Guang, kau hanya menunggu selama tiga puluh tahun? Bukankah itu membosankan?"

Shi Yu ingin bertanya, setelah menunggu sekian lama, bukankah seharusnya kau merasa kesal?

Kisah cinta tak pernah berakhir, karena dunia penuh dengan kesedihan dan penyesalan.

"Sama sekali tidak membosankan. Selama tiga puluh tahun ini, aku telah bertemu banyak orang dan mengalami banyak hal. Ketika aku melihat Zhen Zhu, aku tidak perlu khawatir tidak punya bahan pembicaraan."

"Bagaimana kalau ia tidak datang ...."

"Kalau begitu, akan kusimpan kisah yang ingin kuceritakan padanya, dan menceritakannya saat ia sudah siap untuk mendengar."

Shi Yu tidak tahu kenapa, tetapi air mata mulai berjatuhan menuruni wajahnya.

"Jadi, ini arti dari kata 'cinta'."

Sang Guru setuju dengan Shen Tong Guang untuk mencerahkan Zhen Zhu dalam enam belas tahun lagi dan tidak membiarkannya mengingat masa lalu hingga saat itu.

Shen Tong Guang pergi, menuju Jembatan Takdir Masa Lalu untuk memenuhi janjinya, enam belas tahun kemudian.

"Guru, akankah Zhen Zhu benar-benar datang enam belas tahun lagi?" Shi Yu tidak bisa berhenti mengusap air matanya. "Tetapi aku baru saja meramal, dan tidak ada tanda-tanda Bintang Phoenix Merah di jembatan itu enam belas tahun lagi. Mungkin, mungkinkah ...."

"Ramalan langit tidak bisa menandingi keinginan manusia."

*

*

*

6

Sejak saat itu, di Jembatan Takdir Masa Lalu ada Raja Shen.

Raja Shen menunggu di jembatan, menunggu di tengah angin, menunggu di tengah hujan.

Segala macam orang berjalan melewati jembatan.

Anak-anak, orang tua.

Wanita, pria.

Manusia, makhluk abadi.

Tetapi tak seorang pun yang seperti Li Zhen Zhu.

Awalnya, orang-orang membicarakannya, berkata, pria setampan ini pastinya orang bodoh, tidak tahu pulang ke rumah bahkan di tengah angin dan hujan.

Raja Shen menggelengkan kepalanya, "Kau tidak mengerti. Aku sedang menunggu rumahku."

Orang-orang pun melanjutkan hidup mereka, jadi terbiasa melihatnya, dan berhenti bertanya.

Di tahun kedua, seorang anak lelaki berkepang dua dengan takut-takut menyerahkannya payung di tengah hujan, "Mereka bilang kau orang bodoh, berdiri diguyur hujan tanpa payung."

"Merekalah yang bodoh. Memegang payung akan menghalangi wajahku, dan ia tidak akan bisa melihatku."

Anak lelaki yang menyerahkan payung pun berteman dengan Raja Shen.

Namanya adalah Er Zhu, dan keluarganya menjalankan pabrik penyulingan minuman keras.

Er Zhu suka membual, jadi tak seorang pun ingin menjadi temannya.

Raja Shen berteman dengan Er Zhu karena Er Zhu membual dan membuat janji besar, "Saat kau akhirnya bertemu dengan istrimu, aku akan menanggung semua anggur untuk pesta pernikahanmu!"

Raja Shen gembira mendengar itu.

Raja Shen akan menceritakan soal Zhen Zhu kepada Er Zhu.

Er Zhu sebenarnya tidak begitu mengerti apa yang begitu istimewa tentang Zhen Zhu.

Jadi, Raja Shen akan membelikan Er Zhu permen.

"Apakah permennya enak?"

"Iya!"

"Zhen Zhu sebaik permen itu."

Sejujurnya, Er Zhu tetap tidak mengerti seberapa baik dirinya, tetapi memiliki permen untuk dimakan memang baik.

Raja Shen tahu Er Zhu masih belum mengerti, tetapi ada seseorang yang mau mendengarkan kisah-kisah tentang Zhen Zhu sudah bagus.

Pada musim panas tahun kesepuluh, Er Zhu menikahi seorang gadis pendiam yang selalu menundukkan kepalanya.

"Apakah gadis itu baik?"

"Iya. Ia memercayai semua yang kukatakan."

Raja Shen berpura-pura tidak mengerti dan tertawa.

Er Zhu tersipu dan menyodorkan segenggam permen pernikahan ke tangan Raja Shen, "Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tetapi ia sebaik permen ini."

Er Zhu menikah, dan tak ada lagi yang mau mendengarkan Raja Shen membicarakan soal Zhen Zhu.

*

*

*

7

Orang lalu lalang di jembatan.

Raja Shen sendirian lagi.

Di sore harinya, ada angin dan salju di Jembatan Takdir Masa Lalu.

Kadang-kadang, hujan turun tiba-tiba.

Tak ada yang penasaran lagi tentang siapakah dirinya, atau siapa yang dinantikannya.

Tiga tahun kemudian, pada hari musim gugur yang indah, bunga kecil kuning itu mekar lagi di bawah Jembatan Takdir Masa Lalu.

Pagi harinya, langit cerah, tetapi mendadak, langit dipenuhi awan mendung.

"Raja Taotie merindukan istrinya! Akan turun hujan deras!"

Pejalan kaki pun bergegas pulang ke rumah.

Di jembatan, hanya duduk seorang Raja Shen yang penyendiri.

Di musim gugur, ketika Raja Shen kembali ke wujud aslinya, langit akan menurunkan hujan lebat.

Seorang sarjana terpelajar yang lewat berkomentar, "Aku tahu, 'Berkelana bersama Istriku' menyebutkan bahwa ini adalah Taotie; saat ia menangis, hujan turun."

Selama lebih dari empat puluh tiga tahun, ia telah mengulang kenangannya bersama Zhen Zhu, berulang-ulang kali.

Roti pipih manis itu sudah lama habis dimakan, hanya menyisakannya dengan kenangan.

Kenangan-kenangaan ini bagaikan roti pipih manis, membuatnya enggan untuk berpikir terlalu banyak sekaligus.

Shen Tong Guang merencanakan bahwa di kehidupan lalunya, ia menghabiskan delapan puluh satu tahun bersama Zhen Zhu.

Jika ia bertemu Zhen Zhu tiga tahun kemudian, ia akan menyimpan sisa tiga puluh lima tahun kenangan dan menghargainya di kemudian hari.

Shen Tong Guang berhenti menangis.

Asyik berpikir, ia tiba-tiba merasa ada yang memegangi payung untuknya dari belakang.

Untuk beberapa alasan, melihat payung itu, Shen Tong Guang merasakan campuran rasa manis dan sedih dalam hatinya.

Rasanya seperti memakan roti pipih manis buah hawthorn yang dibuatkan Zhen Zhu pada musim dingin.

"Terima kasih, tetapi dengan payung, orang yang kutunggu tidak akan mengenali ...."

Shen Tong Guang berbalik dan tertegun.

Gadis yang memegang payung menuntun seekor anjing kuning kecil.

Si anjing kuning kecil, melihat bahwa ia tidak menghargai gestur itu, menggonggonginya tiga kali.

Hujan berhenti, dan sinar matahari menyebar di atas genangan air, membuat bunga-bunga kecil berwarna keemasan bermekaran di dalam air.

Payung itu sedikit diangkat.

Wajah di bawah payung itu secerah bunga kecil kuning di rambutnya.

Ia tidak menangis, hanya menyeka matanya dan tersenyum ke Shen Tong Guang dengan alis melengkung, "Tuan Muda-nya siapa ini? Siapa yang kau tunggu?"

-TAMAT-

*

*

*

T/N: T_________T akhirnya happy end guys!

Waktu pertama kali baca short story ini, mata saya berkaca-kaca, merasa terharu. Kisah pasangan yang sama-sama tulus dan saling mencintai.

Zhen Zhu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, gadis manis yang baik hati luar biasa. Kebaikannya adalah kekuatannya. Dan ia menerima segala kekurangan dirinya sendiri.

Shen Tong Guang, si Taotie, biarpun ia monster, tetapi kasihnya, perhatiannya, cintanya untuk Zhen Zhu, luar biasa. Penantiannya, kegigihannya, semua terbayar.

Sedangkan Xie Wu Chen, hmm, mulutnya menyebalkan, bikin darah tinggi, hanya ada sedikit simpati buat dia.

Anyway, semoga kisah ini menghibur kalian sama seperti menghibur saya juga. Sampai ketemu di terjemahan lainnya, bye~

Aling, 20 Januari 2026

Continue reading Pearl Light : Extra Shen Tong Guang

Pearl Light : Extra Xie Wu Chen

Pearl Light

Extra : Xie Wu Chen


Aku membenci Li Zhen Zhu.

Bukan hanya karena kebodohannya, tetapi juga karena Guruku mengatakan ia adalah cobaan cintaku.

Guruku mengatakan, aku kurang memahami perasaan dan tidak mengasihi seluruh makhluk hidup, jadi Tao Surgawi tidak akan mengakuiku.

Lima tahun yang lalu, Zhen Zhu menemukanku saat aku tidak sadarkan diri.

Pertama kali melihatnya, aku mendadak mengerti kenapa murid-murid seperguruanku bilang bahwa cinta itu tidak masuk akal.

Aku tahu ia murni dan baik hati, aku tahu ia polos.

Namun aku harus memberitahu diriku sendiri bahwa kemurniaan dan kebaikan hati itu hanyalah kebodohan, dan kepolosan hanyalah ketololan.

Aku adalah Xie Wu Chen, kultivator pedang terbaik di Puncak Ling Chen, dikagumi oleh ribuan orang, dan aku tidak boleh terjerat oleh cobaan cinta.

Apalagi, seseorang yang pantas untuk Xie Wu Chen seharusnya, setidaknya, seperti Shi Yu—pintar, cantik, dan berbakat.

Namun Li Zhen Zhu sangat bodoh.

Ia tidak bisa melihat tipuan orang lain atau rasa jijikku.

Akan tetapi ia masih saja bekerja keras untuk menutup-nutupiku, menipu orang lain dan dirinya sendiri.

Bibi Liu mengejekku karena makan gratis, dan ia berbohong demi menyelamatkan mukaku.

Kenapa repot-repot berbohong?

Aku tidak peduli dengan gosip tak berguna manusia biasa.

"Xie Wu Chen, kenapa aku tidak menceritakan kisahku padamu?"

"Apa hubungannya kisahmu denganku?"

Aku sudah tahu apa yang hendak dikatakannya.

Ia akan bilang bahwa ia tidak terlahir sebodoh ini, membicarakan soal ayam, bebek, angsa, dan Da Huang, dan betapa ia menginginkan sebuah keluarga.

Aku tidak mau mendengarkan, tidak ingin ada hubungan apa pun dengannya.

Sarung pedang dan rumbai-rumbai buatannya, aku memotongnya jadi beberapa bagian.

Roti pipih manis dan makanan yang dibuatnya, aku menyebutnya kotor dan bau.

Terlepas dari kekasaranku, ia masih bersedia membantuku mencapai Tao-ku, bahkan jika itu berarti menjadi pasangan suami-istri palsu.

Ia menyentuh gaun pengantin itu dengan iri, tetapi uangnya hanya cukup untuk membeli segulung kain merah.

Ia menggunakan semua kain merah itu untuk membuat pakaianku, hanya meminta kerudung merah untuk dirinya sendiri.

Pemilik toko kain melihatnya mendambakan dan mencoba membujuknya agar membeli gaun pengantin lain.

Li Zhen Zhu menundukkan matanya dan berbohong lagi, "Aku ... aku tidak menyukainya."

Kultivator paling membenci berbohong.

Aku memiliki alasan lain untuk tidak menyukai Li Zhen Zhu.

Ketika ia sadar ia telah ditipu oleh pengemis, kesedihan di wajahnya tanpa terduga membuat hatiku sakit.

Tetapi Li Zhen Zhu, bagaimanapun juga, adalah orang bodoh. Ia cepat-cepat menghibur dirinya sendiri, "Tidak apa-apa, selama ia tidak sakit, kalau tidak, itu akan sangat menyakitkan."

Ada pemikiran usil yang memberitahuku bahwa jika aku menghiburnya saja, segalanya masih bisa diperbaiki.

Tetapi aku membuka mulutku dan berkata, "Bodoh."

Ia tercengang.

Aku tahu ia menangis di belakangku.

Aku tahu bahwa, jika aku menghiburnya, ia akan melupakan semua kekasaranku.

Suami biasa Li Zhen Zhu bisa saja menghiburnya, tetapi Xie Wu Chen tidak akan.

Bahkan jika emosi melonjak bagaikan laut tak berujung, aku memiliki kekuatan untuk memindahkan gunung dan menjinakkan air.

Bahkan jika Bintang Phoenix Merah seperti nyala api yang membakar segalanya, aku pasti bisa memadamkannya.

Guruku-lah yang melihat tembus diriku, "Wu Chen, kau takut."

"Aku tidak takut."

Takut? Benar, aku takut.

Perasaan yang tak diketahui ini bagaikan Tao Surgawi yang tak bisa diprediksi, menanamkan ketakutan pada manusia.

"Tanpa memahami perasaan, tanpa belas kasih kepada semua makhluk hidup, Wu Chen, kau tidak bisa memperoleh pencerahan."

Kenapa aku tidak bisa mendapatkan pencerahan?

Bukankah itu hanya karena aku berutang lima tahun kebaikan Li Zhen Zhu?

Aku bisa saja membalas budinya!

"Guru bilang bahwa kau membantuku. Janji seorang abadi tak ternilai harganya. Apa pun yang kau pinta, akan kukabulkan."

Sejujurnya, aku sedikit mengharapkannya.

Aku tahu ia selalu ingin aku untuk tetap bersamanya.

Jika ia meminta, aku bisa dengan enggan dan dengan alasan yang tepat untuk tetap tinggal.

Namun, ia sudah tak menginginkanku lagi.

Ia berpikir sekian lama dan saat ia mendongak ke arahku lagi, obsesi itu telah sirna.

"Sembuhkan saja penyakit Da Huang, dan kau tidak berutang apa-apa padaku."

Aku menatapnya linglung.

Bagaimana bisa hatiku sakit padahal tidak ada lukanya?

Namun, Shen Tong Guang juga bukan orang baik.

Membelah kayu bakar, memberi makan ayam, bahkan sutra dan satin itu, semuanya hanyalah mantra biasa.

Ia memperlakukan Li Zhen Zhu dengan baik hanya karena ia ingin memperdayanya dan menyantap jantungnya.

Tetapi Li Zhen Zhu bodoh; ia tidak mengetahuinya.

Aku menggunakan artefak sihir dari guruku untuk menekan kekuatan Shen Tong Guang.

Tanpa sihirnya, Shen Tong Guang tidak bisa menggunakan trik-trik itu untuk menipunya.

Aku berpikir dengan begini, Li Zhen Zhu akan melihat sifat aslinya.

Tetapi kenapa sepertinya, ini membuat mereka semakin dekat?

Shen Tong Guang mengajarinya hitung-hitungan, membawakan barang-barang untuknya.

Namun, bagaimanapun juga, tanpa sihirnya, Shen Tong Guang tidak punya cara untuk membelanya.

Shen Tong Guang yang dipukuli sangat memalukan dan dalam keadaan yang menyedihkan.

Aku hanya mengucapkan sepatah kata kepada Zhang Ma Zi, dan ia, dalam ketakutan dan kegelisahan, mengkompensasikanku dengan telur.

Membawa sekeranjang telur itu, aku kira Li Zhen Zhu pasti akan menyukaiku, membenci Shen Tong Guang karena bersikap bodoh dan membuatnya hilang muka.

Kemudian, melihat aku mencari keadilan untuknya, ia akan meninggalkan kegelapan untuk cahaya dan memilihku.

Tetapi ia tidak memilihku.

Ia memapah Shen Tong Guang, dan mereka berdua berjalan tertatih-tatih bersama.

Terlepas dari luka-luka di wajah mereka, meskipun terhina akibat dipukuli.

Bagaimana bisa mereka masih tetap tersenyum dengan begitu bahagianya?

Apa yang diinginkan Li Zhen Zhu itu sederhana, tetapi aku tidak pernah memahaminya.

Zhen Zhu tidak mendendam; ia dengan mudahnya memaafkanku.

Namun, aku tidak sanggup memaafkan diriku sendiri.

Aku menetap di Desa Keluarga Li, memberikan bantuan pengobatan kepada penduduk desa yang telah berbaik hati kepada Li Zhen Zhu.

Rasa syukur di mata murni mereka menonjolkan betapa dangkal dan arogannya Xie Wu Chen yang dulu.

Aku tiba-tiba mengerti kenapa Li Zhen Zhu menjadi cobaan cintaku.

Ternyata, kepolosan murni yang dimiliki orang bodoh semenjak lahir adalah sesuatu yang harus dipahami orang bijak menggunakan seumur hidupnya.


Continue reading Pearl Light : Extra Xie Wu Chen

Pearl Light : Chapter 15 & 16

Pearl Light


15

Ada orang di depan pintu.

Itu adalah Xie Wu Chen.

Ia berdiri diam di sana, memerhatikan kami tertawa dan bermain untuk waktu yang lama, jadi pakaiannya diselimuti embun.

Ia memegang keranjang telur dan berdiri di depanku.

Karena ia tidak terbiasa bersikap ramah, ia menolehkan kepalanya dengan tidak nyaman, "Telurmu, aku mengambilkannya kembali untukmu."

Aku terkejut karena Xie Wu Chen akan membelaku.

Ia selalu bilang ia ingin menjauh dari urusan duniawi, jadi ia tidak bisa terlibat dengan siapa pun.

"Terima kasih, tetapi aku tidak membutuhkannya lagi."

"Bukankah kau selalu terganggu—"

Jadi selama ini ia tahu.

Ia tahu betapa sakit hatiku karena kehilangan telur-telur itu.

Aku melihat ke pedang di belakangnya dan pakaiannya yang bersih tanpa noda.

Kurasa, ia mungkin hanya mengucapkan sepatah dua patah kata kepada Zhang Ma Zi, dan pria itu akan dengan hormat mengembalikan telurnya.

Ternyata, apa yang tampaknya begitu sulit bagiku, sebegitu gampang baginya.

Aku tidak tahu mengpa, tetapi memikirkan soal masa lalu membuatku sedih lagi.

"Xie Wu Chen, tak peduli apa pun yang kau lakukan, aku tidak akan memberikan Shen Tong Guang kepadamu."

"Tetapi ia menipumu," tekan Xie Wu Chen, "Aku bukannya memintamu agar menukarkan Shen Tong Guang untukku, aku ...."

Ia ragu-ragu sejenak, kemudian akhirnya membulatkan tekad untuk bicara, "Selain Shen Tong Guang, kau adalah cobaan cintaku. Aku mempelajari cinta dari hati yang murni darimu. Aku ingin membalas cinta ini kepadamu. Kita harusnya menjadi suami-istri seumur hidup. Membelah kayu bakar, memberi makan ayam, pergi ke pasar bersamamu, apa pun yang dilakukannya, aku bisa melakukan yang lebih baik."

Ini berbeda dari hawa dingin dan angkuhnya lima tahun yang lalu.

Ketika Xie Wu Chen mengatakan ini, bahkan telinganya pun memerah.

Ia sudah menyadari perasaannya, tetapi terus kenapa?

Lima tahun ini, aku tidak menyalahkannya bersikap dingin, juga karena memandang rendah diriku.

Aku menyelamatkannya, dan aku mengejarnya selama lima tahun.

Namun perasaan tak bisa dipaksakan. Tidak ada prinsipnya di dunia ini bahwa, jika seseorang memberi, yang lainnya harus menerima.

Ia tidak berutang apa-apa kepadaku.

Ia boleh menolak hatiku.

Tetapi tidak seharusnya ia menginjak-injak hatiku.

"Xie Wu Chen, aku tidak mau jadi orang bodoh. Aku juga ingin menjadi cantik dan pintar seperti Shi Yu. Hari itu, kau bertanya kepadaku, kenapa orang lain hanya menipuku dan bukannya menipu orang lain. Aku sudah mengetahuinya.

"Di dunia ini, dimana ada makhluk abadi, ada manusia fana. Kalau ada yang pintar, maka yang lainnya bodoh. Shen Tong Guang baik kepadaku, jadi aku rela menjadi orang bodoh. Aku rela untuk ditipu olehnya."

Ketika menyangkut kesukarelaan bersama, semua penalaran dan perhitungan menjadi tak ada artinya dan tidak bisa diukur.

Xie Wu Chen lama sekali tak sanggup bicara, matanya dipenuhi separuh keraguan, separuhnya penyesalan.

Akhirnya ia sadar, ia berutang maaf kepadaku.

".... Maafkan aku. Tidak semestinya aku bicara seperti itu kepadamu waktu itu."

"Tidak apa-apa, kau menyelamatkan Da Huang, jadi kau tidak berutang lagi padaku."

Aku tidak mau membencinya.

Sama seperti mengkhawatirkan apakah kandang ayam akan diterbangkan oleh angin utara, terbangun berkali-kali di malam musim dingin.

Itu terlalu melelahkan.

Shen Tong Guang, gugup, menarik-narik lengan pakaianku, "Zhen Zhu, aku tidak akan pernah berbohong lagi kepadamu, aku bersumpah."

*

*

*

16

Musim dingin lainnya terlewati, dan musim semi pun tiba, memenuhi desa dengan bunga-bunga persik bermekaran.

Ada sekolah yang dibuka di desa, dan Shen Tong Guang menjadi guru.

Xie Wu Chen juga tetap tinggal di Desa Keluarga Li, membuka klinik gratis untuk merawat dan mengobati penduduk desa.

Shi Yu datang mencarinya beberapa kali, tetapi tidak bisa membujuknya untuk pergi.

"Aku harus tinggal di sini untuk merenungi hatiku, mencari Tao-ku, dan mengekang kesombongan serta kekasaranku," ucap Xie Wu Chen. "Kini aku paham mengapa Guru ingin aku datang kemari."

Saat aprikot hijau masih kuncup di ranting-ranting, Shen Tong Guang dan aku mengadakan upacara pernikahan lainnya.

Para tamu, yang masih sedikit khawatir, melirik waswas ke arah Xie Wu Chen di dekat sana.

Xie Wu Chen mengobati yang sakit dan sudah lama sekali tidak mengayunkan pedangnya.

Dengan pakaian sederhana dan sandal jeraminya, ia hampir tidak kelihatan seperti seorang kultivator.

Kalau bukan karena ia mengganggu pernikahan waktu itu, penduduk desa Keluarga Li mungkin sudah lupa bahwa tabib bersuara lembut ini bisa mengayunkan pedang.

Ada banyak tamu.

Bahkan Zhang Ma Zi saja datang, menurunkan dua ekor ayam, terlalu malu untuk duduk.

"Ada tempat duduk untukmu," aku tersenyum. "Tamu adalah tamu. Paman Zhang, masuk dan duduklah."

Musuh harusnya diajak berdamai bukannya malah diciptakan, terutama ketika tidak ada kebencian yang mendalam.

Seorang pengemis tua berselimut borok meninggalkan dua puluh wen sebagai hadiah.

Aku memikirkannya dengan saksama; ia tampak akrab, tetapi aku tidak bisa mengingat siapakah dirinya.

Namun Xie Wu Chen, tercengang.

Pengemis tua itu melambaikan tangannya, menyela kata-kata Xie Wu Chen yang terperangah, "Gur—"

Pria tua itu mengibaskan lengan pakaiannya dan pergi dengan anggun.

Hari pun berlalu dengan para tamu yang datang dan pergi. Malam harinya, akhirnya hening.

Da Huang, kelelahan gara-gara mengibas-ngibaskan ekornya sepanjang hari, berbaring tenang di sarangnya, tertidur.

Kamar diterangi dengan hangat oleh cahaya lilin, hanya menyisakan Shen Tong Guang dan aku.

Shen Tong Guang mengenakan jubah merah, sama sekali tidak terlihat seperti guru yang pantas.

Ia lebih mirip siluman penggoda, memikat dan haus darah.

Pakaian merah membuat fiturnya berkilauan, dan aku tidak bisa memalingkan pandangan darinya.

"Shen Tong Guang, pernahkah kau melakukan sesuatu yang buruk?"

Aku takut ia bisa saja telah melakukan sesuatu yang begitu buruk hingga ia disambar petir.

Shen Tong Guang panik, "Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk! Taotie yang jahat yang melakukan pembunuhan-lah yang akan dihukum oleh langit! Tetapi, klan Taotie yang pintar belajar untuk menggunakan harapan demi mendapatkan jantung untuk dimakan.

"Tiga tahun yang lalu, akhirnya aku cukup umur, seratus tahun, dan bisa pergi ke dunia manusia untuk makan jantung manusia. Tanpa terduga, segera setelah aku meninggalkan gunung, aku disambar oleh pedang gurunya Xie Wu Chen.

"Orang tua itu tidak membiarkanku makan jantung manusia. Ia bilang aku bodoh, bahwa meskipun aku sudah mengambil wujud manusia, aku tetaplah makhluk buas yang tak tahu apa-apa dan tidak akan mendapatkan Tao bahkan dalam sepuluh ribu tahun.

"Aku, yang pintar ini, tentu saja tidak percaya dan harus menanyainya. Ia bilang, ketika aku bertemu jantung orang yang rela membiarkanku menyantapnya, tetapi aku menolak untuk melakukannya, barulah aku akan memperoleh pencerahan."

Shen Tong Guang berpikir sejenak, lalu memelukku erat-erat dengan ketakutan, "Untungnya aku tidak makan jantung; kalau tidak, aku tidak akan bisa makan roti pipih manis buatanmu."

Aku memikirkannya. Saat itu, Shen Tong Guang sudah seratus tahunan, dan ia bisa hidup beberapa ribu tahun lagi.

Nafsu makannya sebesar itu; apa yang akan dilakukannya jika tidak ada yang membuatkannya roti pipih manis selama beberapa ribu tahun itu?

"Apa yang akan kau lakukan saat aku menua dan meninggal?"

Shen Tong Guang mengecup pipiku, "Aku sudah memikirkan soal itu! Aku akan menunggu, menunggu sampai kau jadi nenek tua seratus tahun, dan saat kau meninggal, aku akan menyantap jantungmu. Lalu aku akan menjadi makhluk ilahi yang paling kuat, Raja Taotie yang perkasa yang dapat memanggil angin dan hujan! Raja Taotie bisa pergi kemanapun yang ia inginkan; tak ada yang bisa mengendalikannya, dan tak seorang pun bisa melukainya."

Aku menatap Shen Tong Guang yang bangga dengan kagum, "Dan apa yang akan kau lakukan begitu kau menjadi Raja Taotie?"

Saat itu, Shen Tong Guang akan perkasa sekali.

Tetapi sepertinya, aku tidak akan bisa melihatnya.

"Raja Taotie akan menunggu di dekat Jembatan Naihe, ia akan menunggu di dunia manusia, dan tak seorang pun yang berani mengusirnya. Ia akan menunggu dan menunggu, dan orang-orang akan bertanya, 'Tuan Muda-nya siapa ini? Siapa yang kau tunggu?'"

(T/N: Jembatan Naihe (奈何), jembatan yang harus diseberangi oleh setiap jiwa sebelum bereinkarnasi, katanya mereka akan minum Sup Mengpo (孟婆) di Jembatan Nai He, supaya mereka melupakan segala sesuatu di kehidupan saat ini dan bersiap untuk reinkarnasi.)

Shen Tong Guang mengangkat dagunya dengan bangga, "Aku adalah Tuan Muda-nya Li Zhen Zhu, tentu saja aku menunggu Li Zhen Zhu!"

*

*

*

-Akhir dari Cerita Utama Pearl Light-

Judul Zhen Zhu Guang / Pearl Light, tidak punya makna yang berarti, karena ini hanya kombinasi dari nama FL (Zhen Zhu) dan nama ML (Shen Tong Guang), menjadi Zhen Zhu Guang.

Masih ada 2 ekstra lagi yang akan membuat cerita ini dari sekadar bagus, menjadi luar biasa.


Continue reading Pearl Light : Chapter 15 & 16