Pearl Light
Extra : Shen Tong Guang
1
Anak-anak sekolah dari desa-desa terdekat mengetahui ini: Ada seorang guru yang tampan sekali di Desa Keluarga Li.
Tak ada guru yang lebih tampan dari dirinya, dan tak ada guru yang membuat telapak tangan lebih sakit saat ia memukulnya.
"Zhao Tie Niu, kau dalam masalah! Kau sudah membuat guru itu begitu marah hingga tanduknya keluar!"
Teman-teman sekelas yang lewat menertawakan Tie Niu, "Siap-siap saja untuk pukulan tangan! Hehehe!"
Liu Cui Cui, tetangga Zhao Tie Niu, seorang anak perempuan yang adil dan penuh semangat, berkacak pinggang dan berkata, "Tie Niu, tunggu di sini, aku akan pergi memohon pada Nyonya Li untukmu! Tetapi, apa yang kau lakukan hingga membuat guru itu begitu marah sampai-sampai ia menunjukkan wujud aslinya?"
"Aku tidak mengerjakan PR-ku," Tie Niu berpikir sejenak.
"Semestinya itu tidak membuat Guru Shen semarah itu," Cui Cui merasa itu aneh, "Tebus saja."
"Aku, aku juga bilang bahwa roti pipih Nyonya Li tidak enak, tetapi aku mengatakannya pelan sekali ...."
Cui Cui berhenti berjalan.
Tie Niu dengan gugup menarik-narik lengan pakaian Cui Cui, "Kenapa kau tidak pergi?"
Cui Cui menepis tangannya, "Hmph, menyinggung Guru Shen itu bukan masalah besar. Untuk sebagian besar urusan serius, memohon pada Nyonya Li akan menyelesaikan masalahnya. Tetapi karena kau bicara buruk tentang Nyonya Li, bahkan dewa pun tidak akan bisa menyelamatkanmu. Tunggu saja untuk dipukuli."
Semua orang di Desa Keluarga Li mengetahui ini: Guru Shen bukanlah manusia; ia adalah monster yang seharusnya makan orang.
Tetapi setelah bertemu istrinya Li Zhen Zhu, ia malah mulai makan roti pipih manis.
Sepuluh tahun yang lalu, ada manusia datang setelah mencium aroma Taotie.
Manusia itu berkata sungguh-sungguh, "Raja Taotie, bolehkah aku menukar jantungku untuk sebuah permintaan? Jantungku segar dan ...."
Mendengar seseorang memanggilnya raja, Shen Tong Guang berhenti.
Mendengar si manusia menawarkan jantungnya, Shen Tong Guang mengusirnya, "Zhen Zhu tidak akan mengizinkannya."
"Siapa Zhen Zhu? Apakah ia dewi dari langit yang mengendalikanmu?"
"Bukan dewi, ia istriku yang membuatkan roti pipih manis untukku."
Manusia itu bergumam, menatap Shen Tong Guang dengan skeptis, "Taotie macam apa yang tidak makan jantung manusia? Bagaimana bisa itu masih dianggap iblis?"
Shen Tong Guang, yang dibuat marah oleh kata-kata itu, memelototi si manusia, "Lancang! Taotie-nya Li Zhen Zhu tidak makan jantung manusia seperti yang lainnya!"
Hidup di Desa Keluarga Li itu santai dan sederhana.
Da Huang memiliki Xiao Huang (Si Kuning Kecil), dan Xiao Huang memiliki Xiao Xiao Huang (Si Kecilnya Kuning Kecil), yang termasuk peristiwa yang patut diingat.
Semua orang mengatakan bahwa Li Zhen Zhu adalah gadis paling beruntung di Desa Keluarga Li.
Ia memiliki seorang suami yang tampan untuk menua bersamanya, dan ia hidup sampai seratus tahun tanpa penyakit atau bencana.
Tiga hari sebelum Li Zhen Zhu meninggal dunia, ia masih dengan gesit membuatkan roti pipih manis untuk Shen Tong Guang.
Tiga hari sebelumnya, Shen Tong Guang menemaninya ke kota, membeli banyak sekali tepung dan gula hingga mereka harus mengangkutnya kembali ke rumah perlahan-lahan dengan sebuah gerobak sapi.
Hari itu adalah hari musim gugur yang hangat, dengan pinggir jalan penuh dengan bunga-bunga kecil kuning yang tak diketahui jenisnya, bermekaran.
Shen Tong Guang menghiasi rambut Zhen Zhu dengan bunga-bunga kecil kuning itu.
Penjaga toko bilang bahwa Nenek Zhen Zhu jadi makin tua dan selalu agak linglung, dan sekarang ia bahkan semakin tidak masuk akal bicaranya.
Ia sebenarnya ingin membuat seribu roti pipih.
"Siapa yang bisa makan seribu roti pipih manis?" Si penjaga toko tertawa.
"Suamiku akan memakannya pelan-pelan," kata Zhen Zhu sambil tersenyum.
Selama hari-hari itu, seluruh Desa Keluarga Li larut dalam aroma roti pipih manis.
Li Zhen Zhu yang berumur seratus tahun berbaring di kursi goyangnya, menunggu seribu roti pipih manis jadi dingin.
Roti pipihnya sudah dingin, tetapi Li Zhen Zhu tidak pernah bangun lagi.
*
*
*
2
Pada hari Zhen Zhu meninggal dunia, banyak orang datang ke Desa Keluarga Li.
Ada penduduk desa dari segala penjuru.
Ada mereka yang pernah kabur ke Desa Keluarga Li selama masa-masa sulit dan pernah memakan roti pipih manis Zhen Zhu.
Ada murid-murid Shen Tong Guang, dan murid dari murid-muridnya.
Dan ada seorang gadis surgawi cantik.
Gadis surgawi itu menyerahkan satu kantong kepada Shen Tong Guang, "Ini adalah kantong Qiankun. Aku tidak memerlukannya, jadi aku memberikannya untukmu."
(T/N: Kantong Qiankun (乾坤袋) adalah kantong yang mampu menampung jauh lebih banyak dari yang terlihat. Digunakan oleh kultivator untuk membawa barang-barang besar.)
Gadis surgawi itu berbohong.
Itu bukanlah kantong yang tidak diperlukannya.
Karena kantong itu pas sekali ukurannya, tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, untuk menyimpan seribu roti pipih manis itu.
Waktu itu kejam sekaligus pemaaf, seperti minuman keras dengan efek yang tahan lama.
Pada hari yang teramat cerah, Zhen Zhu berbaring di peristirahatan terakhirnya di bawah sebatang pohon persik, tepat di sebelah Da Huang.
Di Desa Keluarga Li, ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa, saat orang baik yang telah mengumpulkan jasa pahala meninggal dunia, langit akan tetap cerah selama tujuh hari untuk memudahkan perpisahan tersebut.
Para penduduk desa takjub akan betapa baik hati dan ramahnya Zhen Zhu, sehingga cuacanya sebagus itu.
Sementara semua orang menangis sedih, hanya Shen Tong Guang yang tidak menitikkan air mata.
Usai menyelesaikan semua masalah terkait Zhen Zhu, Shen Tong Guang hanya mengusap matanya dan mengemas seribu roti pipih manis ke dalam kantong Qiankun, "Semuanya, jangan khawatir. Raja Taotie akan pergi mencari Zhen Zhu."
Penduduk desa berdiri di jembatan, menyaksikan sosok Shen Tong Guang yang berangkat.
Mereka merasakan ada yang hilang, kehampaan yang tak bisa digambarkan.
"Merindukan Nenek Zhen Zhu," kata anak Tie Niu, bersembunyi dalam dekapan Cui Cui. "Ia dan Guru Tua Shen selalu berjalan bersama-sama, bergandengan tangan, perlahan-lahan."
Setelah Shen Tong Guang pergi, turun hujan di Desa Keluarga Li selama tujuh hari.
Guntur bergemuruh, bagaikan binatang buas kesepian meratap di awan.
Di alam baka, semua orang takut pada Raja Taotie.
Wuchang takut ia akan mencuri arwah yang hidup untuk disantap, Mengpo takut ia akan mencuri supnya untuk diminum.
(T/N: Heibai Wuchang (黑白无常) adalah dua dewa dalam legenda agama Tiongkok yang bertugas mengantarkan arwah orang mati ke alam baka. Sedangkan Meng Po (孟婆) adalah dewi melupakan dalam mitologi Tiongkok, yang memberikan Sup Mengpo di Jembatan Naihe.)
Mereka tidak akan membiarkan Raja Shen menunggu di Jembatan Naihe dan mencoba mengusirnya.
Hari itu, Raja Shen berlajar untuk bersikap keras kepala.
Ia memeluk pilar Jembatan Naihe dan menolak melepaskannya.
"Li Zhen Zhu sudah lama pergi dari sini. Ketua Puncak Ling Chen tahu kau akan datang. Ia ingin kau pergi ke Puncak Ling Chen untuk mencarinya. Ia tahu segalanya tentang Li Zhen Zhu," Wuchang berusaha membujuknya.
Raja Shen berhenti bersikap keras kepala, melepaskan pilar dan pergi.
"Terus, kalau Ketua Ling Chen sudah tahu, kenapa ia membiarkannya melakukan perjalanan yang sia-sia?"
"Ketua Ling Chen tahu ini akan terjadi. Ia bilang, bahkan jika ia memberitahunya lebih dulu, ia tetap akan datang."
Shen Tong Guang berjalan sendirian.
Saat ia lapar, ia memakan satu roti pipih Zhen Zhu.
Kadang-kadang, saat ia sangat amat merindukannya, ia akan makan satu juga.
Semakin banyak roti pipih yang dimakannya, semakin sedikit sisanya, tetapi semakin dalam pula kerinduannya.
Roti pipihnya harus dimakan dengan hemat, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya menghemat dalam merindukan seseorang.
Suatu malam, dengan bulan purnama, Shen Tong Guang merasa lapar, mengulurkan tangan ke dalam kantong, kemudian menarik tangannya kembali.
Tidak lapar, ia memutuskan. Tidak akan makan.
Kalau tidak, sisa roti pipih manis itu tidak akan cukup baginya untuk memikirkannya.
*
*
*
3
Guru itu tidak ada di sana, hanya meninggalkan pesan kepada Shi Yu, menyuruhnya agar berkelana di dunia manusia selama tiga puluh tahun, mencari tempat dimana roti pipihnya lebih enak dari yang dibuat Zhen Zhu, kemudian kembali ke Puncak Ling Chen.
"Kenapa membiarkan si bodoh ini berkelana di dunia manusia selama tiga puluh tahun? Bukankah kau sudah meramalkan semuanya? Tidak bisakah kau beritahu saja dia bahwa Zhen Zhu akan menyeberangi jembatan itu berberapa puluh tahun lagi?" tanya Shi Yu, bertopang dagu.
"Apabila aku memberitahunya, ia akan menunggu dengan pahit di jembatan itu selama berpuluh-puluh tahun. Dunia manusia itu ramai, ia harus mencari sesuatu untuk dilakukan."
"Kau bilang dunia manusia itu ramai. Apa kau tidak takut ia akan bertemu seseorang yang lebih baik dan jatuh cinta padanya selama tiga puluh tahun ini?"
"Zhen Zhu yang bereinkarnasi itu bebas, begitu pula dengan Shen Tong Guang." Sang Guru tersenyum tipis. "Harus menunggu dan memilih untuk menunggu itu berbeda."
Shi Yu, sepintar dirinya pun, tak sanggup memahami ini.
Harus menuunggu, memilih untuk menunggu, bukankah sama-sama hanya menunggu?
Apa bedanya?
Shen Tong Guang turun gunung, mencari roti pipih yang lebih enak dari roti pipih Zhen Zhu.
Pertama-tama ia pergi ke restoran terbesar di ibu kota, yang mempekerjakan koki kue terbaik dari Yang Zhou.
Roti pipih manis indah dengan rasa harum yang memenuhi mulut.
Orang lain memuji tiada habisnya, tetapi Shen Tong Guang hanya menggelengkan kepalanya.
Roti pipih si koki itu luar biasa, tetapi tidak cukup enak.
Namun, ia tidak bisa menunjukkan apanya yang kurang, jadi ia melanjutkan pencariannya.
Pada hari musim gugur yang indah, bunga-bunga kecil kuning mekar lagi di pinggir jalan.
Shen Tong Guang, merindukan Li Zhen Zhu, berubah menjadi Taotie dan mendaki hingga ke puncak gunung yang sangat tinggi.
Ia kira tidak akan ada orang di sana, tetapi tanpa diduga, ia bertemu seorang pengembara.
Pengembara itu mengenali Shen Tong Guang dan cepat-cepat membuat sketsanya, "Taotie, persis seperti yang digambarkan dalam buku-buku kuno, memiliki tubuh domba, wajah manusia, gigi harimau, dan cakar manusia."
Shen Tong Guang, yang telah berubah ke wujud aslinya, menangis dengan pedih, dan cuaca bagus pun menghilang, digantikan hujan lebat.
Pengembara itu mengangguk dan mencatat, "Saat ia mengangis, hujan pun turun."
Malu, Shen Tong Guang berhenti menangis, takut si pengembara akan menuliskan "Taotie suka menangis", yang mana akan lumayan memalukan.
Shen Tong Guang memandangi si pengembara, membuatnya agak malu, "Taotie suka makan. Nih, makanlah separuh roti pipih yang istriku buatkan untukku."
Roti pipih buatan si istri pengembara, meski tidak manis, mengejutkannya, memiliki sedikit rasa roti pipih Li Zhen Zhu.
Shen Tong Guang merasa seperti ingin menangis lagi.
"Kenapa kau menangis barusan ini?"
"Aku merindukan istriku. Kau tidak merindukan istrimu?"
"Tentu saja, tetapi aku suka berkelana, mencintai gunung dan sungai, tetapi aku tidak suka terikat." Si pengembara bersandar di pohon, menunjuk ke lautan awan yang bergulir di kejauhan, "Ada begitu banyak pemandangan indah di dunia ini, sayang sekali kalau tidak mengunjunginya. Lihat, bukankah itu cantik?"
"Benar, memang cantik. Aku juga ingin menunjukkan ini kepada istriku, tetapi ia tidak ada di sini sekarang." Shen Tong Guang berpikir, "Tetapi tidak apa-apa, aku akan mencarinya di kehidupan selanjutnya dan membawanya untuk melihatnya."
Memikirkan ini, Shen Tong Guang merasa gembira lagi.
Taotie tak lagi bersedih, tetapi si pengembara jadi melankolis, "Kau benar, seharusnya aku membawanya bersama ...."
Hujan berhenti, dan pengembara itu memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sewaktu mereka pisah jalan, ia melambai ke Shen Tong Guang dan mengucapkan satu-satunya kalimat yang suka didengar oleh Shen Tong Guang, "Kita sama, sama-sama mencari jalan pulang ke rumah."
4
Shen Tong Guang juga akan pergi ke pegunungan Taotie, mencari sesama temannya yang suka makan dan menanyakan tentang roti pipih manis terbaik di dunia.
Para Taotie membanding-bandingkan yang terbaik yang pernah mereka makan untuk memilih seorang Raja Taotie.
"Yang terbaik yang pernah kumakan adalah jantung orang yang berambisi."
"Bodoh, yang terbaik pastinya jantung wanita yang tergila-gila."
Shen Tong Guang tidak pernah memakan apa pun yang mereka sebutkan, jadi ia tetap diam.
Seseorang mengenalinya, "Hei, bukankah kau orang yang dicerahkan oleh si orang tua dari Puncak Ling Chen? Kau sudah melihat dunia. Apa makanan terbaik yang pernah kau makan?"
"Kenapa kau tidak bilang apa-apa? Mungkinkah kau sudah pernah memakan jantung sejati?"
"Itu adalah hidangan legendaris. Mengharuskan seseorang secara sukarela, tanpa adanya kebencian atau penyesalan, memberikan jantung mereka kepadamu."
Para Taotie mengobrol penuh semangat, menanti Shen Tong Guang untuk menyebutkan sesuatu yang menggiurkan.
"Roti pipih manis."
Para makhluk buas itu bingung: Apa itu? Roti pipih manis?
"Roti pipih manis."
Roti pipih manis dengan jantung berlumuran darah di dalamnya pasti rasanya luar biasa.
"Itu roti pipih manis!" Shen Tong Guang agak tidak sabar, "Istriku yang membuatkannya, dan rasanya enak."
Makhluk buas itu saling pandang dengan bingung.
Mereka belum pernah mendengarnya, melihatnya, atau mencicipinya.
"Lupakan saja! Kalian tidak akan mengerti!"
Shen Tong Guang berjalan pergi dengan kesal, bahkan menolak gelar Raja Taotie yang mereka berikan kepadanya.
*
*
*
5
Tiga puluh tahun berlalu, dan Shen Tong Guang menjelajahi dunia manusia, tidak bisa menemukan roti pipih manis yang lebih baik daripada roti pipih manis Li Zhen Zhu.
Shen Tong Guang kembali ke Puncak Ling Chen.
Guru bilang Zhen Zhu telah memasuki siklus reinkarnasi.
Shen Tong Guang dengan gelisah menanyakan ia terlahir di keluarga mana.
"Di keluarga yang baik dengan dua orang tua, baik dan berbudi," sang Guru mengelus janggutnya sembari tersenyum. "Sekarang ia berusia tiga tahun dan sedang belajar bicara."
"Karena ia sudah reinkarnasi, Shen Tong Guang, turunlah ke dunia manusia bersamaku. Zhen Zhu bisa menjadi istrimu lagi!" Shi Yu mengguncang-guncangkan lengan Gurunya dengan ceria. "Guru, ayo pergi cerahkan pikiran Zhen Zhu, supaya ia mengingat segala sesuatu dari kehidupan masa lalunya!"
"Kalau begitu, aku akan menunggu enam belas tahun lagi, itu tidak masalah," Shen Tong Guang menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak yakin apa yang akan terjadi dalam enam belas tahun. Mungkin ia akan datang, mungkin ia tidak mau ...." Sang Guru, untuk pertama kalinya, tidak bisa memprediksi dan mengerutkan dahi.
Shi Yu tercengang, "Bukankah kau merindukannya? Kau sudah menunggu tiga puluh tahun, sekarang enam belas tahun lagi, bukankah kau sudah tidak sabar? Bagaimana kalau ia jatuh hati pada orang lain?"
"Tetapi kali ini Zhen Zhu memiliki orang tua." Shen Tong Guang berpikir sejenak, lalu tersenyum, "Tidak apa-apa, aku punya banyak waktu. Aku bisa menggunakannya untuk menunggunya."
Shi Yu terdiam.
"Selain itu, aku sudah berkelana di dunia manusia selama tiga puluh tahun, tetapi ia hanya memiliki sembilan belas tahun, jadi ia yang kena sial."
Untuk beberapa alasan, mendengar Shen Tong Guang mengatakan ini, Shi Yu mendadak merasakan kesedihan dalam hatinya, seolah-olah ialah yang akan menangis mewakili orang lain.
"Hei, Shen Tong Guang, kau hanya menunggu selama tiga puluh tahun? Bukankah itu membosankan?"
Shi Yu ingin bertanya, setelah menunggu sekian lama, bukankah seharusnya kau merasa kesal?
Kisah cinta tak pernah berakhir, karena dunia penuh dengan kesedihan dan penyesalan.
"Sama sekali tidak membosankan. Selama tiga puluh tahun ini, aku telah bertemu banyak orang dan mengalami banyak hal. Ketika aku melihat Zhen Zhu, aku tidak perlu khawatir tidak punya bahan pembicaraan."
"Bagaimana kalau ia tidak datang ...."
"Kalau begitu, akan kusimpan kisah yang ingin kuceritakan padanya, dan menceritakannya saat ia sudah siap untuk mendengar."
Shi Yu tidak tahu kenapa, tetapi air mata mulai berjatuhan menuruni wajahnya.
"Jadi, ini arti dari kata 'cinta'."
Sang Guru setuju dengan Shen Tong Guang untuk mencerahkan Zhen Zhu dalam enam belas tahun lagi dan tidak membiarkannya mengingat masa lalu hingga saat itu.
Shen Tong Guang pergi, menuju Jembatan Takdir Masa Lalu untuk memenuhi janjinya, enam belas tahun kemudian.
"Guru, akankah Zhen Zhu benar-benar datang enam belas tahun lagi?" Shi Yu tidak bisa berhenti mengusap air matanya. "Tetapi aku baru saja meramal, dan tidak ada tanda-tanda Bintang Phoenix Merah di jembatan itu enam belas tahun lagi. Mungkin, mungkinkah ...."
"Ramalan langit tidak bisa menandingi keinginan manusia."
*
*
*
6
Sejak saat itu, di Jembatan Takdir Masa Lalu ada Raja Shen.
Raja Shen menunggu di jembatan, menunggu di tengah angin, menunggu di tengah hujan.
Segala macam orang berjalan melewati jembatan.
Anak-anak, orang tua.
Wanita, pria.
Manusia, makhluk abadi.
Tetapi tak seorang pun yang seperti Li Zhen Zhu.
Awalnya, orang-orang membicarakannya, berkata, pria setampan ini pastinya orang bodoh, tidak tahu pulang ke rumah bahkan di tengah angin dan hujan.
Raja Shen menggelengkan kepalanya, "Kau tidak mengerti. Aku sedang menunggu rumahku."
Orang-orang pun melanjutkan hidup mereka, jadi terbiasa melihatnya, dan berhenti bertanya.
Di tahun kedua, seorang anak lelaki berkepang dua dengan takut-takut menyerahkannya payung di tengah hujan, "Mereka bilang kau orang bodoh, berdiri diguyur hujan tanpa payung."
"Merekalah yang bodoh. Memegang payung akan menghalangi wajahku, dan ia tidak akan bisa melihatku."
Anak lelaki yang menyerahkan payung pun berteman dengan Raja Shen.
Namanya adalah Er Zhu, dan keluarganya menjalankan pabrik penyulingan minuman keras.
Er Zhu suka membual, jadi tak seorang pun ingin menjadi temannya.
Raja Shen berteman dengan Er Zhu karena Er Zhu membual dan membuat janji besar, "Saat kau akhirnya bertemu dengan istrimu, aku akan menanggung semua anggur untuk pesta pernikahanmu!"
Raja Shen gembira mendengar itu.
Raja Shen akan menceritakan soal Zhen Zhu kepada Er Zhu.
Er Zhu sebenarnya tidak begitu mengerti apa yang begitu istimewa tentang Zhen Zhu.
Jadi, Raja Shen akan membelikan Er Zhu permen.
"Apakah permennya enak?"
"Iya!"
"Zhen Zhu sebaik permen itu."
Sejujurnya, Er Zhu tetap tidak mengerti seberapa baik dirinya, tetapi memiliki permen untuk dimakan memang baik.
Raja Shen tahu Er Zhu masih belum mengerti, tetapi ada seseorang yang mau mendengarkan kisah-kisah tentang Zhen Zhu sudah bagus.
Pada musim panas tahun kesepuluh, Er Zhu menikahi seorang gadis pendiam yang selalu menundukkan kepalanya.
"Apakah gadis itu baik?"
"Iya. Ia memercayai semua yang kukatakan."
Raja Shen berpura-pura tidak mengerti dan tertawa.
Er Zhu tersipu dan menyodorkan segenggam permen pernikahan ke tangan Raja Shen, "Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tetapi ia sebaik permen ini."
Er Zhu menikah, dan tak ada lagi yang mau mendengarkan Raja Shen membicarakan soal Zhen Zhu.
*
*
*
7
Orang lalu lalang di jembatan.
Raja Shen sendirian lagi.
Di sore harinya, ada angin dan salju di Jembatan Takdir Masa Lalu.
Kadang-kadang, hujan turun tiba-tiba.
Tak ada yang penasaran lagi tentang siapakah dirinya, atau siapa yang dinantikannya.
Tiga tahun kemudian, pada hari musim gugur yang indah, bunga kecil kuning itu mekar lagi di bawah Jembatan Takdir Masa Lalu.
Pagi harinya, langit cerah, tetapi mendadak, langit dipenuhi awan mendung.
"Raja Taotie merindukan istrinya! Akan turun hujan deras!"
Pejalan kaki pun bergegas pulang ke rumah.
Di jembatan, hanya duduk seorang Raja Shen yang penyendiri.
Di musim gugur, ketika Raja Shen kembali ke wujud aslinya, langit akan menurunkan hujan lebat.
Seorang sarjana terpelajar yang lewat berkomentar, "Aku tahu, 'Berkelana bersama Istriku' menyebutkan bahwa ini adalah Taotie; saat ia menangis, hujan turun."
Selama lebih dari empat puluh tiga tahun, ia telah mengulang kenangannya bersama Zhen Zhu, berulang-ulang kali.
Roti pipih manis itu sudah lama habis dimakan, hanya menyisakannya dengan kenangan.
Kenangan-kenangaan ini bagaikan roti pipih manis, membuatnya enggan untuk berpikir terlalu banyak sekaligus.
Shen Tong Guang merencanakan bahwa di kehidupan lalunya, ia menghabiskan delapan puluh satu tahun bersama Zhen Zhu.
Jika ia bertemu Zhen Zhu tiga tahun kemudian, ia akan menyimpan sisa tiga puluh lima tahun kenangan dan menghargainya di kemudian hari.
Shen Tong Guang berhenti menangis.
Asyik berpikir, ia tiba-tiba merasa ada yang memegangi payung untuknya dari belakang.
Untuk beberapa alasan, melihat payung itu, Shen Tong Guang merasakan campuran rasa manis dan sedih dalam hatinya.
Rasanya seperti memakan roti pipih manis buah hawthorn yang dibuatkan Zhen Zhu pada musim dingin.
"Terima kasih, tetapi dengan payung, orang yang kutunggu tidak akan mengenali ...."
Shen Tong Guang berbalik dan tertegun.
Gadis yang memegang payung menuntun seekor anjing kuning kecil.
Si anjing kuning kecil, melihat bahwa ia tidak menghargai gestur itu, menggonggonginya tiga kali.
Hujan berhenti, dan sinar matahari menyebar di atas genangan air, membuat bunga-bunga kecil berwarna keemasan bermekaran di dalam air.
Payung itu sedikit diangkat.
Wajah di bawah payung itu secerah bunga kecil kuning di rambutnya.
Ia tidak menangis, hanya menyeka matanya dan tersenyum ke Shen Tong Guang dengan alis melengkung, "Tuan Muda-nya siapa ini? Siapa yang kau tunggu?"
-TAMAT-
*
*
*
T/N: T_________T akhirnya happy end guys!
Waktu pertama kali baca short story ini, mata saya berkaca-kaca, merasa terharu. Kisah pasangan yang sama-sama tulus dan saling mencintai.
Zhen Zhu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, gadis manis yang baik hati luar biasa. Kebaikannya adalah kekuatannya. Dan ia menerima segala kekurangan dirinya sendiri.
Shen Tong Guang, si Taotie, biarpun ia monster, tetapi kasihnya, perhatiannya, cintanya untuk Zhen Zhu, luar biasa. Penantiannya, kegigihannya, semua terbayar.
Sedangkan Xie Wu Chen, hmm, mulutnya menyebalkan, bikin darah tinggi, hanya ada sedikit simpati buat dia.
Anyway, semoga kisah ini menghibur kalian sama seperti menghibur saya juga. Sampai ketemu di terjemahan lainnya, bye~
Aling, 20 Januari 2026
