Sabtu, 10 Januari 2026

CTF - Chapter 215

 Consort of A Thousand Faces

Chapter 215 : Memikirkan Jalan Keluar


Suara dari orang-orang semakin kuat dan hingga akhirnya, mereka semua menunjukkan tanda-tanda mengerti. Seorang pelayan dari Kediaman Wei yang ada di dalam kerumunan mendengar kabar itu dan mengatupkan bibirnya. Kemudian, ia membungkuk dan menggeliat keluar dari kerumunan, menuju ke Kediaman Wei dengan terburu-buru.

Semenjak kematian dua Nona Wei tanpa alasan dan sebab, Tuan Besar selalu mengerutkan alisnya. Ia tidak memedulikan bisnis keluarga, maupun menunjukkan perhatian pada masalah finansial. Jika ia tidak segera melewatinya, kami, para pelayan juga akan menderita.

Sementara beberapa anggota dari kerumunan pergi setelah para bangsawan menaiki teras untuk mengamati, yang lainnya tetap tinggal untuk menonton. Dari mereka yang tetap tinggal, tak di ragukan lagi, mereka semua menunggu agar malam tiba.

Kapal rumah tangga kekaisaran sangat mencolok, bahkan lebih mencolok lagi saat lentera di atasnya dinyalakan di malam hari. Banyak rakyat jelata yang akan membawa sebuah bangku ke sana dan makan kudapan sambil mendengarkan musik yang datang dari kapal.

Malam ini ditakdirkan menjadi malam yang meriah dan ramai.

***

Dibandingkan dengan dengungan yang perlahan-lahan senyap di sini, bahkan jauh lebih hening dan kosong lagi di dalam istana kekaisaran; terutama di istana peristirahatan Putri Pertama Kekaisaran. Lapisan demi lapisan pengawal kekaisaran menjaga istana itu, tampak sangat serius. Jauh berbeda dari atmofer hidup yang ada di perjamuan kerajaan.

Piao Xu sudah memberitahukan Ning An Lian semua yang dilihatnya. Dalam kemarahannya, ia tidak lagi mencoba untuk membujuk Ning An Lian untuk bertindak secara hati-hati. "Putri Pertama, Su Xi-er sudah merebut semua perhatian dari Anda. Selama perjamuan kerajaan, Yang Mulia-lah satu-satunya orang yang pantas bergaun merah. Tetapi, mempertimbangkan busana Su Xi-er, ia sama sekali tidak menghormati Anda."

Kilat kedengkian menyala di mata Ning An Lian. Aku kira, bahwa dengan matinya Ning Ru Lan, aku akan menjadi wanita yang berdiri di puncak Nan Zhao, atau bahkan seluruh dunia.

Tetapi, siapa yang tahu bahwa seorang Su Xi-er akan muncul entah darimana dan mencuri semua pusat perhatian milikku. Apa yang paling kubenci adalah orang yang mengambil apa yang menjadi hakku!

Belum lagi, orang yang melakukan ini semua hanyalah seorang dayang rendahan. Bagaimana mungkin aku tidak menggebu-gebu?!

(T/N : sumpah, saya mabok banget sama jalan pikiran ning an lian yang halunya uda ga ada obat.)

Oleh sebab itu, ia segera menanyai Piao Xu. "Jam berapa sekarang? Mengapa orang dari Dapur Kekaisaran masih belum kemari?"

"Jangan cemas, Putri Pertama, akan segera siang, dan mereka akan tiba tepat waktu. Yang lebih penting, apakah Yang Mulia memiliki cara untuk meninggalkan istana?"

Ning An Lian tersenyum. "Ketika dayang istana dari Dapur Kekaisaran masuk, segera buat ia pingsan. Putri ini akan berganti mengenakan pakaiannya dan pergi sebagai dirinya. Lalu, Putri ini akan menaiki kereta yang akan mengirimkan suplai dari Dapur Kekaisaran keluar setiap jam 12.10 setiap harinya. Semuanya akan baik-baik saja selama Putri ini menaiki kereta kuda itu."

"Putri Pertama, Piao Xu tidak bisa berada di sisi Anda. Yang Mulia ...."

Ning An Lian menghentikannya dengan satu lambaian dari tangannya. "Jangan khawatir, Putri ini sudah jelas punya rencanaku sendiri."

Piao Xu mengangguk dan mundur untuk mengambilkan bungkusan obat dari Biro Tabib Kekaisaran. "Putri Pertama, Anda sudah pasti akan banyak berjalan hari ini. Biarkan pelayan ini memasangkan bungkusan obat itu di pergelangan kaki Anda lagi."

"Mmm." Ning An Lian menjawab dan memperlihatkan pergelangan kakinya. Piao Xu segera meraih sebuah bangku untuk Ning An Lian meletakkan kakinya.

Ia memijat pergelangan kaki Ning An Lian sebentar sebelum mencelupkan bungkusan obat itu ke dalam air hangat dan menempelkannya pada cederanya.

"Putri Pertama, Anda perlu memakan potongan ginseng lainnya." Piao Xu mengambil potongan ginseng dari atas meja sementara ia berbicara.

Ning An Lian mengambil sepotong dan mengemutnya di dalam mulutnya. Saat ini, ia hanya bisa memikirkan Su Xi-er. Ia dapat membayangkan apa yang terjadi dari deskripsi Piao Xu. Su Xi-er mengenakan gaun berwarna merah. Di perjamuan kerajaan ini, seorang dayang berani mengenakan gaun merah!

Su Xi-er yang terlalu berani, atau Pangeran Hao yang terlalu memanjakannya?!

"Piao Xu, bawakan Putri ini, gaun merah yang paling menyilaukan. Putri ini mau membawanya keluar."

Piao Xu jelas sekali memahami apa yang sedang dipikirkan Ning An Lian. Ia segera pergi ke kamar bagian dalam dan mengemasi gaun merah paling memesona.

Tak lama setelah persiapan mereka selesai, seorang dayang pun tiba untuk mengantarkan makanan.

Ning An Lian menggesturkan Piao Xu untuk beraksi, dan orang itu cepat-cepat mengambil tongkat kayu dari bawah meja. Tadinya, itu untuk memukuli dayang istana yang tidak patuh, tetapi kali ini, bisa digunakan untuk membuat orang pingsan.

Ning An Lian memanggil si dayang istana untuk masuk sementara Piao Xu tetap tersembunyi di balik pintu. Setelah dayang itu masuk, Piao Xu segera mengayunkan tongkat kayu yang telah disembunyikannya di balik punggungnya.

Tetapi, siapa yang tahu bahwa dayang istana yang berasal dari Dapur Kekaisaran ini akan segera menyadari apa yang terjadi dan mencoba berteriak pada Pasukan Tentara Kekaisaran di luar sana?

Piao Xu dengan cepat mendekati si dayang sebelum dengan tegas membekap mulutnya dan mengancamnya. "Diam. Kalau kau berani berteriak, tidak akan semudah hanya membuatmu pingsan. Aku akan langsung membunuhmu!"

Si dayang istana pun ketakutan dan menganggukkan kepalanya ngeri.

Suara Ning An Lian terdengar. "Jika kau tidak bersedia untuk mendengarkan perintahku, Putri ini akan memastikan kalau kau tidak akan bisa berjalan keluar dari sini hari ini. Lepaskan pakaian luaranmu."

Kalau bukan karena aku mau meninggalkan istana, aku tidak akan pernah mengenakan pakaian seorang dayang istana!

Si dayang istana mengerti tujuan Putri Pertama Kekaisaran, dan gemetaran sewaktu ia melepaskan baju luarannya. Ia memerhatikan sewaktu Piao Xu menyerahkan baju itu kepada Putri Pertama dan orang itu masuk ke dalam ruangan dalam. Setelah beberapa waktu, Putri Pertama muncul dengan baju yang baru dicuri dan gaya rambut seperti seorang dayang istana.

Dayang istana itu melihat sepintas dan segera berlutut. "Putri Pertama, pelayan ini hanyalah seorang dayang istana kecil di dalam Dapur Kekaisaran, dan tidak bisa meninggalkan istana. Bahkan, meski jika Yang Mulia berganti dengan pakaianku, itu tidak ada gunanya!"

Segera setelah ia mengatakan itu, Piao Xu mengangkat tangannya dan menamparnya. "Seharusnya, kau menutup mulut besarmu itu dan duduk diam di sana; berhenti mencemaskan hal yang tidak ada hubungannya denganmu!"

Piao Xu menampar si dayang dengan begitu kuat sampai-sampai orang itu merasa pening. Ia tidak berani bicara lagi.

Ning An Lian membuka tutup kotak makan dan mengeluarkan hidangan di dalamnya, buru-buru memakan apa yang ia bisa. Setelah selesai, ia menutup lagi penutup kotak makannya, membawa kotak makan tersebut dan buntalan bajunya bersamanya sewaktu ia menuju ke luar pintu segera setelahnya.

Ia dihentikan oleh pengawal setelah mencapai pinggiran istana peristirahatan. "Apa yang ada di dalam buntalan bajumu itu?"

Sebelum Ning An Lian menjawab, Piao Xu berjalan keluar dari dalam aula. "Gaun Putri Pertama robek. Tidak ada satu pun dayang di istana peristirahatan yang boleh meninggalkan istana, jadi kami hanya bisa menyerahkannya pada dayang istana yang berasal dari Dapur Kekaisaran ini untuk membawakannya ke penjahit wanita istana. Ia akan mengantarkanya kembali saat mereka selesai memperbaikinya."

Mendengarkan penjelasannya, pengawal itu berpikir sejenak sebelum mengizinkan Ning An Lian lewat tanpa masalah lagi. Piao Xu memerhatikannya menghilang di kejauhan dan diam-diam menghela napas lega sebelum terjebak dalam gelombang kecemasan lainnya. Putri Pertama melawan Su Xi-er, siapakah yang akan menjadi pemenangnya? Meskipun status Su Xi-er hanyalah seorang dayang, ia tidak bertingkah seperti itu sama sekali.

***

Ning An Lian baru saja sampai di Dapur Kekaisaran dan meletakkan kotak makanannya saat ia melihat kereta kuda yang akan keluar untuk suplai.

Ia segera berjalan, menundukkan kepala, dan diam-diam menyelinap ke dalam kereta kuda saat tidak ada yang melihat.

Dua pengawal yang mengemudikan kereta kuda, keduanya duduk di depan, jadi, tidak ada di antara mereka yang menyadari Ning An Lian menyelinap masuk ke bagian belakang sewaktu keretanya keluar dari istana kekaisaran.

Perjalanan rahasia Ning An Lian keluar dari istana, termasuk lancar. Satu-satunya bagian tak terduga adalah keranjang besar untuk sayuran yang dimasukkan ke dalam bagian belakang keretanya. Menggeser dirinya ke samping, Ning An Lian menatap keranjang itu dengan jijik.

Segera setelah keretanya berhenti, pengawal kekaisaran masuk ke sebuah toko untuk melihat-lihat sayuran, bernegosiasi, dan membayarnya.

Ning An Lian langsung turun dari kereta, berhati-hati agar tidak membuat pergelangan kakinya keseleo lagi. Kemudian, ia mulai berjalan menuju Sungai Air Caltrop, menganyam jalannya, menembus gerombolan orang dan teriakan para pedagang keliling.

Saat ia lewat di depan sebuah kedai teh kecil, Ning An Lian mendengar percakapan di antara beberapa pria kekar yang membuatnya menghentikan langkah kakinya. Ia menjadi semakin marah setelah mendengarkannya dengan cermat.

"Wanita itu benar-benar cantik, tetapi apa tidak aneh? Bukannya Putri Pertama Kekaisaran kita, mengapa yang memakai warna merah, warna bangsawan, adalah wanita yang disayangi oleh Pangeran Hao?"

Di mata mereka, Su Xi-er sudah menjadi wanita yang sangat dilindungi dan disayangi oleh Pangeran Hao.

0 comments:

Posting Komentar