Selasa, 20 Januari 2026

Pearl Light : Chapter 3 - 5


Pearl Light


3

Malam itu, aku bahagia, berbaring di tempat tidur, merencanakan bagaimana menjalani kehidupan masa depan kami.

Baguslah karena Shen Tong Guang bisa membaca; aku tidak perlu lagi menggambar untuk buku akun.

Tetapi, bagaimana jika ia tidak mau membantu dengan buku akun?

Xie Wu Chen bisa melakukan perhitungan, tetapi ia tidak mau membantuku.

Empat tahun yang lalu, Zhang Ma Zi, yang mengumpulkan telur, mencurangi dan menipuku sebanyak setengah keranjang telur. Saat aku menangis pulang ke rumah, Xie Wu Chen hanya melirikku acuh tak acuh.

"Kau hanya bisa salahkan diri sendiri karena bodoh."

"Kenapa orang lain tidak kena tipu?"

Aku memberitahu Xie Wu Chen bahwa aku bukan terlahir bodoh. Saat aku lima tahun, demam tinggi membuatku jadi tidak begitu pintar.

Aku tertipu saat berjualan, dan aku tertipu saat tidak berjualan juga.

Tiga tahun yang lalu, aku menjual dua ekor ayam. Dalam perjalanan pulang, aku melihat seorang pengemis yang tubuhnya penuh luka, tergeletak di sana, meminta makanan. Merasa kasihan, aku memberinya separuh dari penghasilanku.

Ketika Xie Wu Chen melihat ini, ia mencibir, "Itu penipu. Luka-luka di tubuhnya dicat dengan pewarna, dan akan luntur begitu hujan turun."

Aku menghela napas lega, memerhatikan sosok pengemis yang pincang itu, "Baguslah kalau begitu. Selama ia tidak sakit, kalau tidak, itu akan sangat menyakitkan."

Setelah hening beberapa saat, Xie Wu Chen mencemoohku, "Bodoh."

Idiot, dungu, tolol, bodoh.

Aku sudah terbiasa dirinya menyebutku begitu.

Lupakan saja, ia sudah pergi sekarang. Tidak perlu memusingkannya lagi.

Aku baru merenungkan bagaimana caranya membujuk Shen Tong Guang di kamar sebelah agar membantu menghitung akun.

Tiba-tiba saja, embusan angin membuat pintu terbuka. Aku turun dari tempat tidur untuk menutupnya.

Satu bayangan menyusup masuk secepat seekor kucing.

Sebelum aku berbalik, tubuh yang panas membara menempel di punggungku, dan desahan puas berbisik di telingaku, ".... Wanginya enak sekali ... bagaimana bisa kau sewangi ini."

Itu adalah Shen Tong Guang.

Dalam cahaya bulan, pakaian dalamnya yang longgar memperlihatkan sebagian besar kulitnya, membuatnya tampak bagaikan siluman yang memikat.

Tangannya tampak kurus dan panjang, seolah rapuh, tetapi mencengkeram sabukku dengan kuat seperti cakar hewan buas.

Ia memelukku dari belakang, berbisik menggoda, "Zhen Zhu, Tuan Muda Xie sudah naik ke keabadian. Apa kau tidak kesepian?"

*

*

*

4

"Sama sekali tidak. Aku punya Da Huang dan ayam, bebek, serta angsa di halaman belakang. Sangat ramai."

Aku menatapnya kosong, "Tetapi bagaimana denganmu? Kau tidak dingin?"

Ia bersandar di pintu, memerhatikanku sewaktu aku merapikan pakaiannya.

Aku fokus, tidak menyadari bayang-bayang besar makhluk buas yang terpantul di dinding, seolah berusaha menelanku bulat-bulat.

Shen Tong Guang memiringkan kepalanya, mengamatiku, tersenyum tipis.

Senyumannya memesona, dan aku mulai merasa pusing lagi.

Memikirkan bagaimana ia datang ke rumahku sendirian, bahkan tanpa satu pun baju ganti.

"Besok, aku akan pergi ke pasar untuk menjual telur dan membeli kain untuk membuatkanmu beberapa pakaian yang bagus." Aku merenung, "Karena makin dingin, kau memerlukan baju musim dingin lebih dulu, dan aku akan mengambil kain merah untuk pernikahan kita."

Begitu Shen Tong Guang berpakaian, ia jadi patuh lagi, "Zhen Zhu, aku lapar."

Untungnya, aku telah menyiapkan adonan di dapur untuk membuat pangsit.

Aku mengulen adonan dan menyalakan tungku, mencampurkan gula halus ke dalam adonan, yang berubah berwarna kuning muda dan mendesis jadi cokelat keemasan di kedua sisinya.

Kayu bakar musim gugur mengandung bau berminyak, terbakar dengan aroma yang wangi.

Shen Tong Guang bertopang dagu, memerhatikanku dengan lekat.

Aku menyeka keringat dari keningku, "Dapurnya kotor, tunggulah di luar sana."

"Aku akan menemanimu."

Cahaya lilin terpantul di mata dan alis Shen Tong Guang. Ketika ia mencium aroma itu, kilat hijau melintasi matanya, "Proses menunggu makanan itu matang lebih memuaskan daripada saat kau memakannya."

"Hati-hati, masih panas." Aku menatapnya dengan gelisah, "Bagian luar roti pipihnya hanya gosong, bukannya kotor."

Aku takut ia akan mengernyit seperti Xie Wu Chen setelah melihat roti pipih cokelat keemasan dan tanganku lalu mengatakan itu kotor.

"Mana mungkin itu kotor?"

Shen Tong Guang menggigit isian manis itu, matanya menyipit tersenyum.

Aku akhirnya ingat, Shen Tong Guang mengingatkanku akan apa.

Seperti seorang sarjana yang bertransformasi dari seekor rubah.

Setelah makan sampai kenyang, ia meringkuk di pinggir kang-ku dan berbaring.

(T/N:  (kang) tempat tidur dari batu bata yang dihangatkan, biasa ditemukan di rumah-rumah Tiongkok zaman dulu.)

Aku hampir curiga ia akan menjilati ekor rubah khayalan selanjutnya.

"Zhen Zhu, kenapa kau tidak menceritakan padaku tentang kisahmu?"

*

*

*

5

Kisahku?

Tak ada banyak hal yang bisa diceritakan mengenai kisahku.

Namaku Li Zhen Zhu, dan aku tidak ingat apa-apa sebelum aku berumur lima tahun.

Saat aku lima tahun, wabah menyerang seluruh Desa Keluarga Li, membunuh orang tuaku dan hanya menyisakan diriku seorang.

Namun, demam yang panjang itu merusak otakku.

Tetangga akan memberiku sedikit makanan.

Para petani baik hati, dan anak-anak petani dewasa lebih cepat.

Aku memungut kayu bakar patah, mengumpulkan gandum yang tercecer, bahkan pernah menemukan dua ayam sakit.

Pada hari hujan deras musim gugur ketika aku tujuh tahun, aku memeluk kedua ayam itu, menunggu seseorang mengambil kembali mereka.

"Ayam sakit bisa menyebarkan penyakit, tidak ada yang menginginkannya. Kau bisa mengambilnya."

Dua ayam sakit itu sembuh, kemudian ayam-ayam itu bertelur, dan telurnya menetas jadi anak ayam.

"Langit tidak membiarkan orang baik kelaparan! Lihat, meskipun Zhen Zhu agak ceroboh, ia lumayan jago dalam memelihara hewan."

"Ayam-ayam dari keluarga lain tidak bertelur, tetapi ayam Zhen Zhu menghasilkan telur berkuning ganda."

Saat aku dua belas tahun, aku menemukan Da Huang, yang ditimpuk batu oleh anak-anak.

"Apa kau juga tidak ada yang merawatmu?"

Da Huang mengibaskan ekornya dan merengek.

Saat Da Huang datang, aku memiliki anggota keluarga pertamaku.

Kemudian, ketika aku empat belas tahun, aku menemukan Xie Wu Chen.

Pakaiannya compang-camping, dan ia tak sadarkan diri, memegang sebilah pedang panjang berkarat dalam pelukannya.

Bahkan dalam kondisi begitu, ia tidak bisa menyembunyikan penampilan surgawinya, dengan kulit bagaikan giok, tampak seperti bunga teratai yang muncul tanpa noda dari lumpur.

Matahari panas menyengat hari itu, dan aku takut ia akan terbakar sinar matahari, jadi aku memayunginya dengan dua daun teratai.

Aku menunggu seharian, tetapi tidak ada yang datang mengambilnya, dan berkata, "Ini barang tak ada yang mau, Zhen Zhu, kau boleh mengambilnya."

Kepala Desa Li memberitahuku bahwa jika tidak ada yang bilang barang ini tidak ada yang mau, kau tidak boleh mengambilnya, kalau tidak, itu namanya mencuri.

Saat matahari terbenam, aku diam-diam melihat sekeliling.

Di bawah gelapnya malam, aku mencuri Xie Wu Chen kembali ke rumah.

Aku bertopang dagu dan menatapnya, berpikir itu sayang sekali.

Pria sebesar ini, dan tidak ada yang menginginkannya.

Aku menghitung dengan jariku.

Ada tiga orang di keluargaku sebelumnya: ayahku, ibuku, dan aku.

Kepala Desa Li bilang, tiga orang akan menjadi rumah.

Sekarang aku punya Da Huang, dan pria ini.

Jadi, ia akan menjadi si ayah, aku akan jadi si ibu, dan Da Huang akan menjadi Zhen Zhu.

Hehe, Li Zhen Zhu punya rumah lagi.

Namun, Xie Wu Chen terluka parah.

Aku memasakkan bubur dan sup ayam, menyuapinya sedikit demi sedikit.

Pada hari ketiga, ia membuka matanya.

Hal pertama yang diperbuatnya adalah meraih pedangnya dan menghunuskannya ke arahku, melihat sekitar dengan waspada, "Dimana aku? Siapa kau?"

Kemudian, aku mengetahui bahwa ia adalah seorang kultivator pedang dari Puncak Ling Chen, telah jatuh ke alam fana setelah gagal naik ke keabadian.

Pantas saja ada badai petir akhir-akhir ini; para kultivator Puncak Ling Chen sedang menjalani cobaan.

Xie Wu Chen yang terluka tinggal di rumahku, menunggu untuk membuktikan Tao-nya lagi kepada Langit dalam waktu lima tahun.

Aku tidak tega membiarkan tangan yang mengayunkan pedangnya untuk melakukan pekerjaan di ladang.

Bibi Liu, yang menjual tahu, menertawakanku, "Zhen Zhu, kenapa kau malah tidak menyuruh suamimu bekerja?"

Aku menggelengkan kepalaku dan mengusap keringat dari alisku, "Ia bukan petani, itu akan melelahkannya."

"Pria macam apa yang makan gratis? Setidaknya ia harus membantumu membelah kayu bakar." Bibi Liu mendengus, "Hanya Zhen Zhu yang cukup bodoh untuk menganggap sebongkah batu sebagai harta."

"Ia ... kau tidak ada saat ia membelah kayu bakar. Ia bisa membaca dan menulis, ia seorang sarjana, dan ia membantuku menghitung akun. Bibi, jangan khawatir."

Itu adalah pertama kalinya aku berbohong.

Xie Wu Chen tidak akan membelah kayu atau membantu menghitung akun.

Ia tetap tinggal karena ia mendapati bahwa energi spiritual di Desa Keluarga Li melimpah, membuat kultivasinya dua kali lebih efektif dengan setengah usaha saja.

Aku menyajikan puding telur kepada Xie Wu Chen, menatapnya penuh pujian, "Jika dalam lima tahun, kau masih belum kembali, bisakah kau tinggal bersamaku?"

Ia memberiku tatapan dingin, "Aku akan kembali ke Ling Chen. Saat waktunya tiba, aku akan membalas budimu."

"Kau tidak berutang apa pun kepadaku. Jika tidak masalah bagimu, bisakah kau membantuku dengan buku akun?" Aku merasa sedih, "Aku tidak bisa menghitung akun, jadi aku selalu ditipu."

"Bodoh," cibir Xie Wu Chen, "Kenapa mereka hanya menipumu dan bukannya orang lain?"

Iya, kenapa mereka hanya menipuku dan bukannya orang lain?

Aku merenunginya sepanjang malam tetapi tidak bisa menerkanya.

Namun, aku tidak merasa Xie Wu Chen membenciku; ia hanya membenci orang dan hal-hal yang bodoh.

Karena pada tahun ketiga, adik seperguruannya, Shi Yu, datang berkunjung.

Barulah saat itu aku sadar bahwa Xie Wu Chen, juga bisa tersenyum.


0 comments:

Posting Komentar