Pearl Light
9
Namun, Shen Tong Guang, meletakkan jarinya di bibirku, menghentikanku, "Salah. Ia tidak berhasil dalam cobaannya. Ia menipu Tao Surgawi, dan Tao Surgawi menipunya sebagai balasannya."
Aku jadi mengantuk, mengucek mataku, tak repot-repot menyelami apa maksudnya gagal dalam cobaannya.
"Jadi, Shen Tong Guang, bagaimana keadaanmu beberapa tahun ini?"
Shen Tong Guang tidak menjawabku, hanya menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.
Rasa kantuk melanda diriku, dan aku memegangi keliman pakaiannya.
Ia tidak membicarakan tentang masa lalunya sendiri, tetapi malah menceritakan sebuah kisah padaku.
Ada seekor kucing yang telah berkultivasi selama bertahun-tahun dan menumbuhkan sembilan ekor.
Ia pergi menemui gurunya untuk memohon sebuah gelar, berharap menjadi seorang dewa kucing.
Gurunya mengatakan bahwa, ia sudah melakukan perbuatan buruk di masa lalu, dan tidak bisa menggunakan kekuatan ilahi sembilan ekornya untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, ia harus mengabulkan permintaan manusia. Hanya ketika seseorang bersedia menyelamatkannya, barulah bisa mendapatkan Tao.
Manusia pertama mengharapkan keabadian, yang kedua mengharapkan kekayaan .... Delapan harapan sudah terkabul, hanya menyisakan kucing itu satu ekornya.
Aku berpikir serius, "Kenapa tidak ada orang yang mengharapkan supaya harapan dewa kucing itu sendiri terkabul, untuk membuatnya menjadi seorang dewa?"
Shen Tong Guang terdiam, senyumannya makin dalam.
Pada akhirnya, ia bertemu seorang anak yang seperti mutiara. Anak itu tidak menginginkan emas, perak, atau harta benda, juga tidak menginginkan keabadian. Ia berkata, "Aku berharap agar kau, dewa kucing, untuk menjadi makhluk abadi."
(T/N: Huruf mandarin untuk mutiara (珍珠), sama dengan nama FL, Zhen Zhu.)
Aku pasti terlalu mengantuk.
Aku seolah melihat pola binatang buas, mirip dewa kucing itu, muncul di wajah tampan Shen Tong Guang.
Ia menopang dagu dengan satu tangan dan menunjuk ke jantungkuku dengan cakar tajamnya, "Aku seperti dewa kucing itu, memenuhi harapan manusia ditukarkan dengan jantung orang yang tulus untuk disantap."
"Xiao Zhen Zhu, aku lapar sekali."
*
*
*
10
Selama Shen Tong Guang tinggal di rumahku, seolah-olah ia melakukan sihir.
Setiap pagi ketika aku bangun, kayu bakar di luar sudah dibelah, ayam dan bebek sudah diberi makan, dan rumah pun bersih bersinar.
Bahkan Da Huang pun dimandikan, dan bulunya jadi licin dan berkilau.
Shen Tong Guang tahu bahwa banyak orang di Desa Keluarga Li telah menunjukkan kebaikan padaku.
Jadi, kapan pun ia melihat ada yang butuh bantuan, ia akan menolongnya.
"Oh, sekarang, ini baru pria sejati," kata Bibi Zhao, mencengkeram saputangannya dan tertawa, "Zhen Zhu, kau benar-benar diberkati."
Shen Tong Guang bahkan sempat membuatkan buku akun untukku.
Ia mengajariku bagaimana cara menggunakannya, tetapi bahkan setelah dua kali penjelasan, aku tetap saja tidak begitu memahaminya.
"Zhen Zhu, apa kau mengerti?"
Aku tidak mengerti, tetapi aku tidak mau disebut orang bodoh lagi, ".... Iya."
Shen Tong Guang mengetahui pemikiranku dan menepuk-nepuk kepalaku, "Ke depannya, saat kau berjualan, aku akan membuatkan akunnya untukmu. Tidak apa-apa kalau kau tidak mengerti. Aku akan mengajarimu perlahan-lahan, dan kau bisa belajar sesuai dengan kecepatanmu sendiri."
Selama siang hari, ia menyingkirkan sikap yang memikat itu, tak lagi mirip rubah, tetapi lebih seperti sarjana serius dari akademi.
"Jangan sampai kau kelelahan. Aku akan membelah kayu bakar, dan memberi makan ayam juga pekerjaan yang kotor."
"Tidak melelahkan; hanya masalah mantra." Shen Tong Guang bertopanag dagu, mata panjang sipitnya menyipit bagaikan seekor rubah. "Apakah Zhen Zhu memiliki keinginan lainnya? Apa kau ingin pergi berjualan bersama-sama? Kalau ada yang menindasmu, aku akan menangani mereka."
Aku berpikir sejenak dan menggelengkan kepalaku.
Sebenarnya, aku ingin Shen Tong Guang untuk pergi bersamaku menjual telur, tetapi aku takut ia merasa itu memalukan.
Shen Tong Guang sangat baik; bahkan jika ia tidak mau, ia tidak akan menolak.
Aku tidak mau merepotkannya.
"Kalau begitu, mari kita pergi ke pasar untuk membeli beberapa kain dan membuatkan pakaian baru untuk Zhen Zhu."
*
*
*
11
Shen Tong Guang sangat memesona, menarik perhatian wanita muda dan yang sudah menikah di sepanjang jalan.
Ada beberapa gadis pemberani yang mengabaikanku dan melemparkan tatapan genit mereka padanya, "Tuan Muda-nya siapa ini? Kau sudah bertunangan?"
Shen Tong Guang menggandeng tanganku dan tersenyum tipis ke arah mereka, "Iya, sudah! Aku dari keluarga Li Zhen Zhu."
Aku tidak tahu mengapa, namun ketika Shen Tong Guang mengatakan ini, hatiku dipenuhi kebanggaan, dan aku bahkan berani berjalan dengan kepala terangkat tinggi-tinggi.
Shen Tong Guang memiliki banyak uang dan membawaku ke sebuah toko sutra.
Dikelilingi oleh sutra-sutra bagus, aku tidak berani melihat, hanya menarik-narik lengan jubahnya, "Shen Tong Guang, aku tidak sanggup membeli ini."
Ia mengedip ke arahku, mengisyaratkan agar tidak usah cemas, "Suamimu sanggup membelinya."
Shen Tong Guang membayarkan sepuluh tael perak untuk dua set jubah merah yang indah sekali, mengatakan kami akan mengenakannya di hari pernikahan kami.
Itu adalah pertama kalinya aku mengenakan sutra, merasa senyaman air sejuk mengalir di seluruh kulitku.
Shen Tong Guang menggandeng tanganku di pasar, membelikan banyak kosmetik, tusuk rambut, dan perhiasan.
Memandangi diriku di cermin, aku menyadari, aku sudah menjadi gadis besar umur sembilan belas tahun.
Kami berbelanja dari siang hingga gelap, dan Shen Tong Guang bahkan membelikan dua guci anggur yang bagus untuk dibawa pulang.
"Anggur ini luar biasa. Saat kita menikah, kita akan membeli anggur seenak ini."
Ini juga pertama kalinya dalam hidupku, aku mencicipi anggur.
Shen Tong Guang memiliki nafsu makan yang besar, tetapi toleransi alkoholnya rendah, bahkan lebih rendah dariku.
"Zhen Zhu, apa kau senang? Apa kau puas? Apa ada lagi yang kau inginkan?"
Aku mengangguk kuat-kuat, lalu menggelengkan kepalaku, "Aku tidak menginginkan yang lainnya. Ini sudah sangat bagus."
Shen Tong Guang, mabuk dan dengan mata berkabut, mengangkat dagunya dengan bangga, "Ini semua yang kau inginkan? Bahkan jika kau menginginkan kekayaan dan kehormatan, atau gelar bangsawan, aku bisa mengabulkannya. Bahkan jika rakyat jelata ingin menjadi kaisar, hanya perlu anggukan kepala dariku, si makhluk ilahi."
Aku menggigit sumpitku, tidak begitu paham, tetapi sangat mengagumi Shen Tong Guang, "Suami, kau luar biasa."
Shen Tong Guang mabuk berat.
Ia mencondong mendekat, mengamatiku dengan saksama di bawah cahaya bulan, "Kalau begitu, berikan jantungmu untuk kumakan, boleh?"
Aku mengangguk, "Baiklah."
Jawabanku terlalu jujur, dan Shen Tong Guang tidak senang, "Zhen Zhu konyol, apa kau tahu apa maksudku?"
"Aku tahu."
Meskipun aku bodoh, aku tidak setolol itu sampai-sampai tidak mengerti.
Shen Tong Guang bukan manusia; ia adalah siluman yang mendapatkan kekuatan dengan menyantap jantung manusia.
Tetapi, memangnya kenapa? Tak seorang pun pernah sebaik ini kepadaku.
Ia menggigit wajahku ringan dan mendesah, "Ck, kau terlalu gampang dikibuli, hampir membuatku merasa bersalah."
*
*
*
12
Shen Tong Guang dan aku akan menikah.
Tidak seperti cara sembunyi-sembunyi dengan Xie Wu Chen.
Shen Tong Guang memiliki tulisan tangan yang indah; ia mengirimkan undangan kepada semua orang di Desa Keluarga Li.
Shen Tong Guang mahir; ia menggunting huruf 囍 (Xi), bahkan menempelkannya di rumah anjing Da Huang.
(T/N : Huruf 囍 (Xi) adalah simbol yang biasanya digunakan dalam pernikahan dan perayaan untuk melambangkan kebahagiaan dan berkah perkawinan.)
Shen Tong Guang juga sangat perhatian. Ia khawatir kalau orang-orang di kedai mungkin tidak berhati-hati, jadi ia menyewa kereta sapi bersamaku untuk membawa pulang anggurnya.
Cuaca musim gugur sejuk menyenangkan, kereta sapi bergerak perlahan, tetapi kami tidak terburu-buru.
Shen Tong Guang memetik sekuntum bunga kuning kecil dan menyisipkannya di rambutku.
Guci anggur saling berdenting, menciptakan lagu ding-ding-dong-dong.
Shen Tong Guang mengunyah sehelai rumput ekor rubah, menopang kepalanya, memerhatikan angsa di langit, "Zhen Zhu, tiba-tiba saja, aku merasa sangat senang. Sepertinya, menjadi manusia biasa tidak begitu buruk."
Pada hari pernikahan kami, semua dermawan Li Zhen Zhu datang. Da Huang menggonggong penuh semangat.
"Zhen Zhu memiliki keluarga sekarang. Orang tuanya bisa istirahat dengan tenang." Kepala Desa Li mengusap air matanya.
"Ini hari yang membahagiakan, tidak usah membicarakan hal seperti itu," Bibi Liu menatap Shen Tong Guang, tersenyum lebar, "Sungguh mempelai pria yang tampan, kebodohan Zhen Zhu membawakannya keberuntungan yang besar."
Shen Tong Guang meremas tanganku ringan di bawah lengan jubahnya.
Sewaktu kami memberi hormat pada langit dan bumi, sebelum Shen Tong Guang dan aku bangun, pedang beraura menghancurkan meja perayaan.
Aku mengenali pedang itu—itu pedang Xie Wu Chen.
Aku berbalik dan melihat Xie Wu Chen, jubahnya berkibar.
Melihat si makhluk abadi dengan ekspresi muram datang mempertanyakan, para tamu pun kabur.
Ketika Xie Wu Chen melihatku dalam balutan busana pengantin, ia tampak tertegun sesaat.
Ia dengan cepat mendapatkan kembali ketenangannya dan mencibir, "Li Zhen Zhu, apa kau benar-benar ingin menikahi iblis ini?"

0 comments:
Posting Komentar