Selasa, 20 Januari 2026

Pearl Light : Chapter 15 & 16

Pearl Light


15

Ada orang di depan pintu.

Itu adalah Xie Wu Chen.

Ia berdiri diam di sana, memerhatikan kami tertawa dan bermain untuk waktu yang lama, jadi pakaiannya diselimuti embun.

Ia memegang keranjang telur dan berdiri di depanku.

Karena ia tidak terbiasa bersikap ramah, ia menolehkan kepalanya dengan tidak nyaman, "Telurmu, aku mengambilkannya kembali untukmu."

Aku terkejut karena Xie Wu Chen akan membelaku.

Ia selalu bilang ia ingin menjauh dari urusan duniawi, jadi ia tidak bisa terlibat dengan siapa pun.

"Terima kasih, tetapi aku tidak membutuhkannya lagi."

"Bukankah kau selalu terganggu—"

Jadi selama ini ia tahu.

Ia tahu betapa sakit hatiku karena kehilangan telur-telur itu.

Aku melihat ke pedang di belakangnya dan pakaiannya yang bersih tanpa noda.

Kurasa, ia mungkin hanya mengucapkan sepatah dua patah kata kepada Zhang Ma Zi, dan pria itu akan dengan hormat mengembalikan telurnya.

Ternyata, apa yang tampaknya begitu sulit bagiku, sebegitu gampang baginya.

Aku tidak tahu mengpa, tetapi memikirkan soal masa lalu membuatku sedih lagi.

"Xie Wu Chen, tak peduli apa pun yang kau lakukan, aku tidak akan memberikan Shen Tong Guang kepadamu."

"Tetapi ia menipumu," tekan Xie Wu Chen, "Aku bukannya memintamu agar menukarkan Shen Tong Guang untukku, aku ...."

Ia ragu-ragu sejenak, kemudian akhirnya membulatkan tekad untuk bicara, "Selain Shen Tong Guang, kau adalah cobaan cintaku. Aku mempelajari cinta dari hati yang murni darimu. Aku ingin membalas cinta ini kepadamu. Kita harusnya menjadi suami-istri seumur hidup. Membelah kayu bakar, memberi makan ayam, pergi ke pasar bersamamu, apa pun yang dilakukannya, aku bisa melakukan yang lebih baik."

Ini berbeda dari hawa dingin dan angkuhnya lima tahun yang lalu.

Ketika Xie Wu Chen mengatakan ini, bahkan telinganya pun memerah.

Ia sudah menyadari perasaannya, tetapi terus kenapa?

Lima tahun ini, aku tidak menyalahkannya bersikap dingin, juga karena memandang rendah diriku.

Aku menyelamatkannya, dan aku mengejarnya selama lima tahun.

Namun perasaan tak bisa dipaksakan. Tidak ada prinsipnya di dunia ini bahwa, jika seseorang memberi, yang lainnya harus menerima.

Ia tidak berutang apa-apa kepadaku.

Ia boleh menolak hatiku.

Tetapi tidak seharusnya ia menginjak-injak hatiku.

"Xie Wu Chen, aku tidak mau jadi orang bodoh. Aku juga ingin menjadi cantik dan pintar seperti Shi Yu. Hari itu, kau bertanya kepadaku, kenapa orang lain hanya menipuku dan bukannya menipu orang lain. Aku sudah mengetahuinya.

"Di dunia ini, dimana ada makhluk abadi, ada manusia fana. Kalau ada yang pintar, maka yang lainnya bodoh. Shen Tong Guang baik kepadaku, jadi aku rela menjadi orang bodoh. Aku rela untuk ditipu olehnya."

Ketika menyangkut kesukarelaan bersama, semua penalaran dan perhitungan menjadi tak ada artinya dan tidak bisa diukur.

Xie Wu Chen lama sekali tak sanggup bicara, matanya dipenuhi separuh keraguan, separuhnya penyesalan.

Akhirnya ia sadar, ia berutang maaf kepadaku.

".... Maafkan aku. Tidak semestinya aku bicara seperti itu kepadamu waktu itu."

"Tidak apa-apa, kau menyelamatkan Da Huang, jadi kau tidak berutang lagi padaku."

Aku tidak mau membencinya.

Sama seperti mengkhawatirkan apakah kandang ayam akan diterbangkan oleh angin utara, terbangun berkali-kali di malam musim dingin.

Itu terlalu melelahkan.

Shen Tong Guang, gugup, menarik-narik lengan pakaianku, "Zhen Zhu, aku tidak akan pernah berbohong lagi kepadamu, aku bersumpah."

*

*

*

16

Musim dingin lainnya terlewati, dan musim semi pun tiba, memenuhi desa dengan bunga-bunga persik bermekaran.

Ada sekolah yang dibuka di desa, dan Shen Tong Guang menjadi guru.

Xie Wu Chen juga tetap tinggal di Desa Keluarga Li, membuka klinik gratis untuk merawat dan mengobati penduduk desa.

Shi Yu datang mencarinya beberapa kali, tetapi tidak bisa membujuknya untuk pergi.

"Aku harus tinggal di sini untuk merenungi hatiku, mencari Tao-ku, dan mengekang kesombongan serta kekasaranku," ucap Xie Wu Chen. "Kini aku paham mengapa Guru ingin aku datang kemari."

Saat aprikot hijau masih kuncup di ranting-ranting, Shen Tong Guang dan aku mengadakan upacara pernikahan lainnya.

Para tamu, yang masih sedikit khawatir, melirik waswas ke arah Xie Wu Chen di dekat sana.

Xie Wu Chen mengobati yang sakit dan sudah lama sekali tidak mengayunkan pedangnya.

Dengan pakaian sederhana dan sandal jeraminya, ia hampir tidak kelihatan seperti seorang kultivator.

Kalau bukan karena ia mengganggu pernikahan waktu itu, penduduk desa Keluarga Li mungkin sudah lupa bahwa tabib bersuara lembut ini bisa mengayunkan pedang.

Ada banyak tamu.

Bahkan Zhang Ma Zi saja datang, menurunkan dua ekor ayam, terlalu malu untuk duduk.

"Ada tempat duduk untukmu," aku tersenyum. "Tamu adalah tamu. Paman Zhang, masuk dan duduklah."

Musuh harusnya diajak berdamai bukannya malah diciptakan, terutama ketika tidak ada kebencian yang mendalam.

Seorang pengemis tua berselimut borok meninggalkan dua puluh wen sebagai hadiah.

Aku memikirkannya dengan saksama; ia tampak akrab, tetapi aku tidak bisa mengingat siapakah dirinya.

Namun Xie Wu Chen, tercengang.

Pengemis tua itu melambaikan tangannya, menyela kata-kata Xie Wu Chen yang terperangah, "Gur—"

Pria tua itu mengibaskan lengan pakaiannya dan pergi dengan anggun.

Hari pun berlalu dengan para tamu yang datang dan pergi. Malam harinya, akhirnya hening.

Da Huang, kelelahan gara-gara mengibas-ngibaskan ekornya sepanjang hari, berbaring tenang di sarangnya, tertidur.

Kamar diterangi dengan hangat oleh cahaya lilin, hanya menyisakan Shen Tong Guang dan aku.

Shen Tong Guang mengenakan jubah merah, sama sekali tidak terlihat seperti guru yang pantas.

Ia lebih mirip siluman penggoda, memikat dan haus darah.

Pakaian merah membuat fiturnya berkilauan, dan aku tidak bisa memalingkan pandangan darinya.

"Shen Tong Guang, pernahkah kau melakukan sesuatu yang buruk?"

Aku takut ia bisa saja telah melakukan sesuatu yang begitu buruk hingga ia disambar petir.

Shen Tong Guang panik, "Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk! Taotie yang jahat yang melakukan pembunuhan-lah yang akan dihukum oleh langit! Tetapi, klan Taotie yang pintar belajar untuk menggunakan harapan demi mendapatkan jantung untuk dimakan.

"Tiga tahun yang lalu, akhirnya aku cukup umur, seratus tahun, dan bisa pergi ke dunia manusia untuk makan jantung manusia. Tanpa terduga, segera setelah aku meninggalkan gunung, aku disambar oleh pedang gurunya Xie Wu Chen.

"Orang tua itu tidak membiarkanku makan jantung manusia. Ia bilang aku bodoh, bahwa meskipun aku sudah mengambil wujud manusia, aku tetaplah makhluk buas yang tak tahu apa-apa dan tidak akan mendapatkan Tao bahkan dalam sepuluh ribu tahun.

"Aku, yang pintar ini, tentu saja tidak percaya dan harus menanyainya. Ia bilang, ketika aku bertemu jantung orang yang rela membiarkanku menyantapnya, tetapi aku menolak untuk melakukannya, barulah aku akan memperoleh pencerahan."

Shen Tong Guang berpikir sejenak, lalu memelukku erat-erat dengan ketakutan, "Untungnya aku tidak makan jantung; kalau tidak, aku tidak akan bisa makan roti pipih manis buatanmu."

Aku memikirkannya. Saat itu, Shen Tong Guang sudah seratus tahunan, dan ia bisa hidup beberapa ribu tahun lagi.

Nafsu makannya sebesar itu; apa yang akan dilakukannya jika tidak ada yang membuatkannya roti pipih manis selama beberapa ribu tahun itu?

"Apa yang akan kau lakukan saat aku menua dan meninggal?"

Shen Tong Guang mengecup pipiku, "Aku sudah memikirkan soal itu! Aku akan menunggu, menunggu sampai kau jadi nenek tua seratus tahun, dan saat kau meninggal, aku akan menyantap jantungmu. Lalu aku akan menjadi makhluk ilahi yang paling kuat, Raja Taotie yang perkasa yang dapat memanggil angin dan hujan! Raja Taotie bisa pergi kemanapun yang ia inginkan; tak ada yang bisa mengendalikannya, dan tak seorang pun bisa melukainya."

Aku menatap Shen Tong Guang yang bangga dengan kagum, "Dan apa yang akan kau lakukan begitu kau menjadi Raja Taotie?"

Saat itu, Shen Tong Guang akan perkasa sekali.

Tetapi sepertinya, aku tidak akan bisa melihatnya.

"Raja Taotie akan menunggu di dekat Jembatan Naihe, ia akan menunggu di dunia manusia, dan tak seorang pun yang berani mengusirnya. Ia akan menunggu dan menunggu, dan orang-orang akan bertanya, 'Tuan Muda-nya siapa ini? Siapa yang kau tunggu?'"

(T/N: Jembatan Naihe (奈何), jembatan yang harus diseberangi oleh setiap jiwa sebelum bereinkarnasi, katanya mereka akan minum Sup Mengpo (孟婆) di Jembatan Nai He, supaya mereka melupakan segala sesuatu di kehidupan saat ini dan bersiap untuk reinkarnasi.)

Shen Tong Guang mengangkat dagunya dengan bangga, "Aku adalah Tuan Muda-nya Li Zhen Zhu, tentu saja aku menunggu Li Zhen Zhu!"

*

*

*

-Akhir dari Cerita Utama Pearl Light-

Judul Zhen Zhu Guang / Pearl Light, tidak punya makna yang berarti, karena ini hanya kombinasi dari nama FL (Zhen Zhu) dan nama ML (Shen Tong Guang), menjadi Zhen Zhu Guang.

Masih ada 2 ekstra lagi yang akan membuat cerita ini dari sekadar bagus, menjadi luar biasa.


0 comments:

Posting Komentar