Selasa, 20 Januari 2026

Pearl Light : Chapter 13 & 14

Pearl Light


13

Xie Wu Chen sepertinya tahu persis bagaimana caranya menyakitiku.

Dengan satu ayunan pedangnya, ia dengan mudah menghancurkan pesta pernikahan yang Shen Tong Guang dan aku siapkan dengan susah payah selama setengah bulan.

Anggur yang secara khusus kami beli dari kota hancur berkeping-keping di tanah.

Xie Wu Chen, dengan jubah berkibarnya, menghunuskan pedang ke arah Shen Tong Guang, "Ia menipumu. Kebaikannya adalah trik."

Xie Wu Chen membawa keluar artefak sihir dari Puncak Ling Chen.

Ketika kantong emas muncul di depan Shen Tong Guang, ia bahkan tak sanggup mempertahankan setengah wujud manusianya.

Shen Tong Guang duduk berantakan di sana, setengah wajahnya manusia, setengahnya lagi berubah jadi makhluk buas.

Persis seperti monster yang digambarkan oleh para pendongeng, dengan wajah hijau, taring, dan cakar makhluk buas yang panjang.

"Ia adalah makhluk buas Taotie, momok bagi umat manusia. Tiga tahun yang lalu, guruku melukainya dengan parah dengan satu serangan. Demi mengembalikan kultivasinya, ia harus memakan jantung manusia."

Menahan air mataku, aku menatap tanpa ekspresi ke arah Xie Wu Chen, "Terus kenapa?"

Reaksiku membuat Xie Wu Chen tertegun.

Aku tak sanggup lagi menahan air mataku, dan mulai berjatuhan tak terkendali.

Xie Wu Chen yang membenci dan meremehkanku benar-benar mengulurkan tangan untuk mengusap air mataku.

Melembutkan nada suaranya, Xie Wu Chen berkata, "Dasar bodoh, ia ingin memakan jantungmu. Kebaikannya kepadamu adalah untuk mencelakaimu ...."

Aku dengan galak mengusap air mataku dengan lengan jubahku dan berdiri di depan Shen Tong Guang, menghadang pedang Xie Wu Chen, "Ia adalah suamiku. Jika kau ingin membunuhnya, kau harus membunuhku dulu."

"Zhen Zhu, jangan keras kepala, jangan ditipu oleh penampilan." Xie Wu Chen mencengkeram pedangnya, matanya menggelap, "Bukankah kau menginginkan suami, guruku akan mengizinkanku untuk naik ke keabadian dan menjadi suamimu seumur hidup. Aku sudah mengerti ...."

"Aku tidak menginginkanmu."

Tanpa melihat ke Xie Wu Chen, aku mengambil saputanganku dan menyeka darah dari kening Shen Tong Guang.

Shen Tong Guang, berusaha keras, mengangkat tangannya yang masih berwujud manusia untuk mengusap air mataku, ".... Zhen Zhu, jangan menangis. Tidak sakit karena ia belum makan."

Demi menenangkanku, Shen Tong Guang berusaha beberapa kali untuk berubah kembali ke wujud manusia, yang mana sia-sia.

Ia tersenyum kikuk.

"Ia tak bisa lagi menggunakan kekuatan iblisnya, membuatnya menjadi iblis setengah cacat. Apa kau masih ingin menikahi makhluk tak berguna ini?"

Xie Wu Chen benar.

Shen Tong Guang telah kehilangan sihirnya.

Kekacauan itu tak bisa lagi dibereskan hanya dengan jentikan jarinya lagi.

Mengabaikan Xie Wu Chen, aku berlutut, pelan-pelan memunguti pecahan porselen.

Shen Tong Guang berdiri dan mulai membantuku, tersenyum, "Bahkan tanpa sihir, aku masih punya cukup tenaga untuk ini."

Da Huang berjongkok di kaki Shen Tong Guang, memelototi Xie Wu Chen.

"Zhen Zhu ... apa kau mendambakan ilusi yang diciptakannya? Sutra indah, anggur enak, dan hidangan-hidangan itu semuanya hanyalah trik untuk menipumu." Xie Wu Chen berdiri tak percaya, "Tanpa sihirnya, ia bukan apa-apa selain orang cacat."

Betapa menggelikannya.

Xie Wu Chen, kau selalu memandang rendah diriku.

Kau kira aku tak lebih dari sekadar manusia yang mendambakan ketiadaan.

Mendambakan kehadiran ilahimu, berharap menggunakan kultivasimu demi memperoleh kehormatan palsu.

Sekarang kau berpikir aku mendambakan kayu bakar yang sudah dibelah, pakaian sutra, bahkan penampilan yang tampan.

Aku menatap Xie Wu Chen dengan tenang, "Xie Wu Chen, kau tahu aku ini bodoh dan tolol. Jadi, tanpa akar spiritual seorang makhluk abadi, aku hanyalah manusia fana yang melindungi miliknya. Manusia tidak mengerti prinsip agung para makhluk abadi, mereka hanya tahu untuk melindungi pasangan mereka. Xie Wu Chen, jika kau ingin membunuhnya, kau harus membunuhku lebih dulu."

*

*

*

14

Makhluk abadi dapat menaklukkan iblis, tetapi tidak boleh membunuh manusia.

Aku melindungi Shen Tong Guang, dan Xie Wu Chen tidak bisa menemukan kesempatan untuk menyerang.

Tanpa sihirnya, Shen Tong Guang hanyalah manusia biasa.

Kami harus bangun pagi-pagi sekali untuk membersihkan kandang ayam.

Kemudian kami berjalan jauh ke pasar untuk jual-beli barang, mendapatkan sejumlah uang untuk mencukupi kebutuhan.

Hari demi hari, kehidupan manusia biasa berulang dengan sendirinya.

Namun, kapanpun kami pergi, Xie Wu Chen mengikuti, tidak terlalu dekat, tidak begitu jauh.

Bahkan tanpa sihir, Shen Tong Guang bisa membaca dan menghitung buku akun.

Ketika tidak ada pelanggan, ia mengajariku dengan sabar.

"Hei, kudengar, Zhen Zhu sudah menikah."

Aku mendongak dan melihat Zhang Ma Zi, orang yang pernah menipu uang telurku.

Aku melindungi kantong uangku dan Shen Tong Guang dengan waspada.

"Jangan gugup. Kau menjual telur-telur ini?"

"Tidak kepadamu!"

"Ayo selesaikan ini. Melakukan bisnis denganku adalah kesepakatan yang bagus. Kau, orang dungu, tidak bisa mengingat semuanya dan menyalahkanku karena menipumu ...."

Aku tidak mau mendengar.

"Istriku berhati murni dan tidak suka berdebat dengan preman sepertimu. Jika kau tidak mengerti hitung-hitungan," Shen Tong Guang melangkah ke depanku, mengangkat dagunya sambil tersenyum dingin, "Aku tahu sedikit juga soal berkelahi."

Rupanya, Zhang Ma Zi tahu sedikit lebih banyak soal berkelahi ketimbang Shen Tong Guang.

Shen Tong Guang kalah berkelahi, dan aku kehilangan sekeranjang telur lagi.

Di perjalanan pulang, hari sudah larut.

Langitnya penuh bintang, dan jalanan sunyi.

"Saat aku mendapatkan kembali kekuatanku, akan kukoyak jantung dan paru-parunya dan memakannya!"

Shen Tong Guang berjalan tertatih-tatih, mengucapkan kata-kata kasar, kemudian merasa malu, "Maafkan aku, Zhen Zhu .... Aku ingin membelamu. Kukira, aku bisa mengalahkannya ...."

Aku tidak tahu mengapa.

Aku hanya merasa sedih karena Shen Tong Guang dipukuli.

Aku sama sekali tidak merasa sedih gara-gara telur.

Ternyata, memiliki seseorang bersamamu, bahkan kehilangan telur dan menjadi orang bodoh pun bukanlah hal yang sulit untuk ditanggung.

"Aku—aku sudah hidup selama seratus tahun, meskipun itu masih muda untuk Taotie, aku tidak pernah kalah dalam bertarung."

Ia berbohong. Aku ingat ia kalah dari gurunya Xie Wu Chen dan Xie Wu Chen sendiri.

"Zhen Zhu, biarpun aku dipukuli, menurutku, menjadi manusia tidak seburuk itu." Shen Tong Guang berpikir, "Lihat saja Zhang Ma Zi, ia menang berkelahi tetapi tidak punya istri untuk mengurusinya. Kasihan sekali."

Da Huang menunggu kami di pintu masuk desa.

Ia berlari dengan gembira, menggigit kaki celana Shen Tong Guang.

"Aw, aw .... Da Huang, hentikan!"

Melihat penampilan kikuk Shen Tong Guang, entah kenapa, tetapi kami saling berpandangan dan tidak bisa berhenti tertawa.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Aku tidak tahu."

"Apa yang kau tertawakan?"

"Aku juga tidak tahu."

Da Huang juga tidak tahu kenapa kami tertawa, tetapi ia mengibas-ngibaskan ekornya dengan bodoh, bergabung dengan senang hati.

Pada saat ini, tampak seolah Taotie dan makhluk abadi hanyalah legenda.

Kami hanyalah sepasang suami istri biasa yang saling mengandalkan di dunia ini.

Di bawah sinar bulan, Shen Tong Guang diam-diam menggandeng tanganku.

Inisiatif canggungnya membuat jantungku berdebar-debar melebihi tindangan yang disengaja sebelumnya.

Aneh sekali.

Kenapa aku merasa Shen Tong Guang tampak seperti siluman yang memikat malam itu?

Aku terkejut, cepat-cepat menarik kembali tanganku, tergagap, "Shen Tong Guang, aku ... kurasa aku sakit. Jantungku berdebar kencang sekali."

Mata kami bersirobok, kemudian dengan cepat buang muka.

Malam itu, bulan barunya pucat dan belum berpengalaman, tak pandai dalam menyembunyikan rahasia.

Bulan memungkinkan kami melihat wajah satu sama lain, yang tanpa diduga, dua-duanya memerah.

"Aku—kurasa aku juga mungkin sakit." Shen Tong Guang menatapku dengan gugup, menunjuk ke dadanya, "Zhen Zhu, aku belum memakan roti pipih manis, tetapi rasanya manis sekali di sini."

Da Huang tidak mengerti, hanya memiringkan kepalanya dan memandangi kami.

Kemudian ia menggonggong tiga kali dengan marah.

Da Huang selalu menggonggong tiga kali kalau sudah kenyang.


0 comments:

Posting Komentar