Pearl Light
1
Pada hari Xie Wu Chen naik ke keabadian, seluruh Desa Keluarga Li datang untuk merayakan.
(T/N: X家村 (Desa Keluarga X) mengacu pada desa yang dinamai dengan marga keluarga yang lebih dominan. Sebagian besar penduduk desa berasal dari keluarga itu, dengan 'X' melambangkan si marga. Misalnya, 李家村 (Desa Keluarga Li) artinya sebagian besar penduduk desa bermarga 李 (Li).)
Ambang pintu rumahku hampir roboh karena diinjak-injak, menakuti Da Huang habis-habisan sampai-sampai ia berbaring dekat pintu, terlalu takut untuk menggonggong.
(T/N: 大黄 (Da Huang) artinya 'Si Kuning Besar'. Nama yang lumrah untuk anjing di desa-desa Tiongkok.)
"Zhen Zhu sangat beruntung. Dulu, ketika ia memungut Immortal Xie, kita bahkan menertawainya karena bersikap bodoh."
Ketika aku dibuat kehabisan kata-kata oleh kereta phoenix emas yang gemerlap milik sang makhluk abadi.
Xie Wu Chen yang naik ke keabadian memandangku dengan angkuh, "Guru bilang bahwa kau sudah menolongku. Janji seorang abadi tak ternilai harganya. Apa pun yang kau pinta, akan kukabulkan."
Selama lima tahun aku mengurus Xie Wu Chen, aku memimpikannya menikahiku setiap hari.
Ia berlatih ilmu pedang kultivator sedangkan aku berladang.
Ia berkultivasi sementara aku mencari uang.
Aku hanya berharap agar suatu hari nanti, aku bisa memenangkan hati Xie Wu Chen.
Xie Wu Chen tidak menyukaiku; ia hanya menyukai adik seperguruannya yang pintar, Shi Yu.
Adik Seperguruan Shi Yu itu pintar dan cantik.
Xie Wu Chen hanya perlu mendemonstrasikan teknik pedangnya satu kali, bagi Shi Yu untuk menguasainya.
Aku diam-diam melatihnya lebih dari lusinan kali, tetapi aku hanya bisa melempar makanan ayam sedikit lebih jauh.
Aku bahkan tertangkap basah oleh Xie Wu Chen dan Shi Yu. Shi Yu menutup mulutnya, tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar.
Xie Wu Chen membenci orang bodoh, jadi ia mengerutkan dahi, "Li Zhen Zhu, kau tidak memiliki akar spiritual, jangan buang-buang tenagamu."
"Kakak Senior, hidup manusia biasa itu singkat, seumur hidup mereka hanyalah sekejap mata," Shi Yu menasihatinya. "Seumur hidup sebagai pasangan suami istri hanyalah momen yang singkat bagi makhluk abadi. Itu tidak akan menunda kita untuk menyegel Taotie."
(T/N: 饕餮 (Taotie) adalah makhluk Tiongkok yang kerap digambarkan sebagai monster tukang makan dengan mulut besar dan tak berbadan, melambangkan keserakahan dan ketamakan dalam seni dan mitologi Tiongkok.)
Ekspresi Xie Wu Chen suram.
Ia takut aku akan memintanya untuk tetap di sisiku seumur hidup.
Pada saat ini, jubahnya berkibar dengan anggun, memancarkan kebangsawanan dan rasa elegan yang dingin.
Ia sama sekali berbeda dari Xie Wu Chen miskin dari lima tahun yang lalu, yang hampir kehilangan nyawanya dan membutuhkanku untuk menyuapinya bubur sesuap demi sesuap.
Immortal Xie tidak akan pernah menjadi suami Li Zhen Zhu.
Jadi kuputuskan untuk tidak menempel padanya lagi.
Aku memikirkannya dan mengangkat Da Huang.
"Sembuhkan saja penyakit Da Huang, dan kau tidak berutang apa-apa padaku."
Xie Wu Chen tertegun, tetapi dengan cepat ia menyadari, itu adalah pertukaran yang adil.
Dengan lambaian tangannya, Da Huang, yang tidak makan selama tiga hari, berguling-guling dan berlari untuk memakan sisa makanan di mangkuknya.
Shi Yu dengan gembira menarik-narik lengan jubahnya.
"Kakak Senior, ikatan masa lalumu sudah putus, mari kita kembali dan melapor."
Xie Wu Chen berbalik dan melirikku, matanya diliputi emosi yang rumit.
Para makhluk abadi pun berangkat, dan awan di cakrawala menyebar dalam sekejap.
Yang merayakan pun menghela napas sembari diam-diam memasukkan kembali kado-kado ke dalam saku mereka, "Zhen Zhu benar-benar tolol, menggunakan janji seorang makhluk abadi untuk menyelamatkan seekor anjing."
Aku menghentikan Bibi Zhao, si mak comblang, yang sudah akan pergi, "Bibi Zhao, bantu aku."
"Ada apa?"
"Carikan aku seorang suami," ucapku serius. "Suami yang tampan dan jujur, yang tidak akan menelantarkan istri dan anaknya setelah sukses."
Mau tak mau Bibi Zhao tertawa, melambaikan tangannya berulang kali, "Mana berani aku membantumu soal itu? Immortal Xie bisa saja menyambarku dengan petir!"
Aku menghela napas, sedikit menyesal karena menyelamatkan Da Huang.
Kalau tahu, aku akan meminta Xie Wu Chen agar mencarikanku suami.
*
*
*
2
"Li Zhen Zhu, apa kau masih mau seorang suami?" Bibi Zhao mengetuk pintu, "Tak ada biayanya."
Apa yang bisa datang dari gratisan?
"Seorang pria terhormat berwajah pucat dari desa dekat sini, tidak bisa membawa atau mengangkat barang, terlahir untuk menjadi menantu lelaki."
Apa bagusnya itu?
Aku membuka pintu dan melihat wajah pria itu. Kata-kata penolakan yang berniat kuucapkan tertelan bulat-bulat, "Aku menginginkannya, aku menginginkannya."
Semakin orang kekurangan sesuatu, semakin orang itu menginginkannya.
Aku tidak terpikirkan sesuatu yang enak didengar, tetapi pria di hadapanku tampak seperti pria terhormat yang sempurna, bagaikan lukisan pemandangan di sebuah kipas, membawakan angin sepoi-sepoi akademi ketika dibuka.
Sewaktu Bibi Zhao bicara, ia sedikit membungkuk, dan ketika ia mengangkat mata untuk menatapku, telinganya memerah.
Pembawaan orang terpelajar begini membuatku menatapnya kosong.
Dalam keluargaku, tak seorang pun orang terpelajar yang muncul selama tiga generasi terakhir.
Bibi Zhao melirik gugup ke arah si pemuda, mengusap keringatnya, dan menyimpan kembali saputangan ke dalam pakaiannya.
"Shen Tong Guang, tak beristri, tak punya ayah, tak punya ibu, tidak punya utang, dua puluh lima tahun, kenal beberapa kata."
"Li Zhen Zhu, tidak punya ayah, tidak punya ibu, tidak berutang, suami sebelumnya naik tingkat ke keabadian, dan kabur, tentunya tidak akan pernah kembali." Aku menggaruk kepalaku, "Aku bisa memelihara babi dan berladang. Kau bisa menangani pekerjaan rumah tangga, menjahit, dan belajar. Mari kita jalani hidup kita baik-baik. Bagaimana menurutmu?"
Mata penuh kasih sayangnya tersenyum sewaktu ia mengangguk.
Senyumannya membuatku merasa seolah aku berjalan di udara.
"Kalau begitu sudah diputuskan," Bibi Zhao menghela napas lega.
"Bibi Zhao, biaya comblangnya ...."
"Tidak perlu, tidak perlu."
Aku heran, karena kenapa Bibi Zhao yang biasanya pelit itu tidak menginginkan uang, tetapi ia sudah buru-buru pergi.
Aku melihat ke Shen Tong Guang.
Semakin kulihat pinggang rampingnya, semakin enak dipandang jadinya.
Bagaimana ia tidak lebih baik daripada Xie Wu Chen?
Aku pun mengangguk puas.
Perut Shen Tong Guang keroncongan di saat yang tepat.
Ia tersipu lagi.
Aku tidak tahan melihat orang setampan ini begitu kelaparan, jadi aku menyingsingkan lengan pakaianku, "Aku akan membuatkanmu semangkuk sup mi dengan dua telur rebus."
Shen Tong Guang makan dengan anggun dan elegan.
Ia makan sampai bersih sekali, tampak seolah mangkuknya bahkan tidak perlu dicuci.
Ketika ia menyadari aku memerhatikannya, ia pun mengusap mulutnya dengan malu-malu.
Tidak seperti Xie Wu Chen dan Shi Yu.
Xie Wu Chen melakukan puasa, selalu mengatakan masakanku bau.
Shi Yu, takut berat badannya naik, pilih-pilih makanan, hanya makan sayuran.

0 comments:
Posting Komentar