Selasa, 20 Januari 2026

Pearl Light : Chapter 6 - 8

Pearl Light


6

Ketika Shi Yu dengan penuh kasih sayang melingkarkan lengannya di tangan Xie Wu Chen.

Sebenarnya aku bukannya tidak senang.

Aku menghitung jumlah orang di rumah; ada tiga orang sekarang. Persis seperti yang Kepala Desa Li bilang, itulah keluarga.

Da Huang tidak bisa menjadi Li Zhen Zhu, jadi ia harus terus menjadi Da Huang.

Ketika aku memberitahu Xie Wu Chen dan Shi Yu bahwa aku harap kami bertiga akan menjadi keluarga dan hidup berbahagia di Desa Keluarga Li, Shi Yu pertama-tama membelalakkan mata indahnya, kemudian tertawa hingga air matanya keluar.

Ia menunjuk ke arah Xie Wu Chen, yang wajahnya menggelap, dan membuat ekspresi wajah berlebihan, "Kakak Senior, gadis desa ini ingin menikahimu, hahahahaha!"

Shi Yu salah paham. Ini bukan soal menikah.

Aku menginginkan anggota keluarga, seseorang yang bisa diandalkan untuk waktu yang lama.

Jika itu bisa selamanya, menjadi suami-istri juga tidak apa-apa.

"Otaknya sakit, jangan dengarkan omong kosongnya," ucap Xie Wu Chen dengan marah.

Setelah Xie Wu Chen jadi marah, Shi Yu tidak berani bercanda lagi.

Shi Yu duduk di dinding, memetik ranting bunga persik, dan menghela napas, "Guru bilang, cobaan cintamu lebih sulit dari yang lain, makanya aku khawatir untuk waktu yang lama."

(T/N: Cobaan cinta (情劫) mengacu pada kesulitan dan rintangan yang dihadapi pasangan kekasih dalam hubungan romantis mereka. Istilah ini sering digunakan dalam novel kultivasi, untuk menggambarkan takdir atau ujian romantis yang ditakdirkan yang dialami karakter itu sebagai bagian dari kisah cinta mereka.)

"Cobaan cinta yang lain adalah dengan putri atau gadis bangsawan, terjerat selama tiga kehidupan. Bagaimana bisa, sebagai kultivator pedang terkemuka, kau harus ...."

Xie Wu Chen tampak terhina, menebas pohon persik liar di luar dinding rendah dengan satu serangan, mengucapkan setiap katanya dengan disengaja, "Ia bukan cobaan cintaku."

Aku tidak begitu paham, apa itu cobaan cinta.

Namun aku secara kasar bisa menebak bahwa Shi Yu itu spesial bagi Xie Wu Chen.

*

*

*

7

Shi Yu cantik dan pintar.

Ketika ia dengan penasaran pergi ke pasar bersamaku, hanya berdiri dekat kios saja, telur yang biasanya butuh satu hari untuk dijual, habis dalam satu pagi.

Tak ada yang berpikir untuk menipunya; mereka bahkan tidak menawar. Banyak camilan dan kantong wewangian yang dijejalkan ke saku Shi Yu, membuatnya terkikik.

Di perjalanan pulang, aku membawa keranjang kosong, tetapi hatiku terasa berat.

Aku merasa Xie Wu Chen benar lagi.

Kalau tidak, kenapa mereka akan menipuku, tetapi tidak dengan Shi Yu?

"Kakak Senior, tidak baik terus seperti ini. Kenapa kau tidak menikahinya, pura-pura jadi pasangan untuk menipu Tao surgawi? Kalau tidak, kau tidak akan selamat dalam cobaan petir dua tahun lagi." Shi Yu menghela napas, "Begitu kau naik ke keabadian, kau bisa memberikannya emas, perak, dan perhiasan sesukamu."

Xie Wu Chen enggan, tetapi tidak punya pilihan.

Setengah tahun kemudian, aku dengan senang hati membeli segulung kain merah, membuatkan satu set pakaian untuk Xie Wu Chen, dan menjahit kerudung untukku sendiri.

Usai memberi hormat kepada langit dan bumi, kami dianggap sudah menikah.

Shi Yu kegirangan, mengatakan ia melihat "Bintang Phoenix Merah" milik Xie Wu Chen berkilau sebentar, memastikan ia telah melewati cobaan cintanya.

(T/N: Bintang Phoenix Merah (红鸾星) adalah bintang keberuntungan dalam astrologi Tiongkok yang berkaitan dengan cinta, romansa, dan pernikahan, kerap menandakan kondisi baik untuk hubungan dan kebahagiaan pernikahan, dan dapat digunakan dalam ramalan untuk memprediksi aspek-aspek ini dalam kehidupan.)

"Bintang Phoenix Merah" berkilat sejenak seperti percikan di tumpukan rumput kering di perapian.

Aku mencuri pandang beberapa kali ke arah Xie Wu Chen.

Yang kulihat adalah mata dingin dan acuh tak acuhnya.

Ia tidak memiliki sejejak pun keinginan duniawi, bahkan pakaian merah menyalanya tampak polos.

Bagaikan bunga teratai di kolam bulan Agustus, tak peduli seberapa nyatanya mereka bermekaran, tetap saja menjaga jarak.

Setelah menikah, Xie Wu Chen tidak membiarkanku mendekatinya, atau memanggilnya suami.

Baiklah, suami, aku berpikir diam-diam.

Aku kira, setelah menikah, kami akan hidup harmonis sebagai pasangan.

Ketika Xie Wu Chen berlatih kultivasi ilmu pedangnya, aku ingin latihan juga, supaya tidak menghambatnya.

Aku mencoba meniru gayanya mengajari Shi Yu, memfokuskan energiku dan melemparkan beras seolah-olah itu adalah teknik pedang.

Namun tanganku tergelincir, dan mangkuk makanan ayam jatuh ke tanah.

Mangkuk itu jatuh ke tanah, berputar-putar dengan bunyi berderak.

Aku bergegas memungutnya, tetapi berakhir tersandung dan jatuh.

Aku menepuk-nepuk pakaianku dan mendengar tawa Shi Yu, melihat ekspresi gelap Xie Wu Chen.

Shi Yu tertawa hingga ia lelah, lalu mendesah, "Zhen Zhu kasihan sekali, ia bahkan tidak membuatku cemburu sedikit pun."

Xie Wu Chen melirikku dingin. Ia tidak menyebutku bodoh seperti biasanya.

Namun itu membuatku merasa semakin malu, "Kau tidak punya akar spiritual, jangan buang-buang tenagamu."

Biarpun demikian, aku belum menyerah pada Xie Wu Chen.

Aku menjahitkan sarung pedang untuknya dan membuatkan rumbai-rumbai.

Ia tidak menginginkannya dan membuang semuanya.

Aku memohon padanya agar pergi ke pasar bersamaku untuk menjual ayam, berpikir bahwa kehadirannya akan mencegah orang menindasku karena ia punya pedang.

Xie Wu Chen menolak.

Shi Yu-lah yang menyebut bahwa ia telah mencim aroma binatang buas Taotie ganas di pasar terakhir kali.

Barulah kemudian Xie Wu Chen menemaniku.

Ia tidak mau ada yang berpikir kami berhubungan, jadi ia menjauh dariku.

Jika ada orang usil bertanya padanya apakah ia mengenal Li Zhen Zhu, si penjual ayam, Xie Wu Chen akan menggelengkan kepalanya dan membantah adanya hubungan, "Aku tidak mengenalnya."

Banyak gadis yang mencuri pandang ke arahnya sewaktu mereka lewat, melemparkan saputangan ke dalam pelukannya.

Meskipun ia tetap tidak bergerak, memegang pedangnya, ia tidak menghindari mereka dengan rasa jijik yang sama seperti yang ditunjukkannya kepadaku.

*

*

*

8

Di perjalanan pulang, bulan tampak bundar dan terang. Aku mencoba memulai percakapan.

Aku menyebutkan bahwa aku mendapatkan empat puluh wen dengan menjual ayam hari ini, tetapi aku melihat seorang pengemis tua dengan luka-luka borok di pinggir jalan.

Jadi, aku memberi si pengemis dua puluh wen.

Karena tubuhnya penuh dengan borok, yang telah ditunjukkannya kepada orang lain, itu benar-benar menyedihkan.

"Itu penipu; borok di tubuhnya dicat dengan pewarna. Kau sudah ditipu lagi."

"Bagaimana kau mengetahuinya?"

Sebagai kultivator, Xie Wu Chen memiliki mata yang jeli, jadi jika ia bilang itu trik, maka pasti begitu.

Tetapi ia tidak repot-repot menjelaskannya padaku.

"Tidak apa-apa, selama ia tidak sakit, kalau tidak, itu akan sangat menyakitkan."

Aku sendiri pernah sakit, aku hanya berharap orang lain tidak jatuh sakit; itu adalah pengalaman yang tidak mengenakkan.

Aku tidak menyebutkan bahwa aku memberikan uang juga karena si pengemis mengingatkanku akan diriku sendiri.

Menunjukkan luka-lukanya untuk mengemis.

Persis seperti bagaimana aku melompat kesana-kemari, mencoba membuat Xie Wu Chen tetap bersamaku.

Sepertinya tidak jauh berbeda.

Mendengarku berkata begini, Xie Wu Chen hanya tertegun sejenak sebelum ia melontarkan, "Bodoh."

Aku sudah mendengar banyak sekali ejekan dari Xie Wu Chen, tetapi tidak ada yang sesakit yang satu ini.

Aku tetap diam dan berjalan semakin lambat.

Xie Wu Chen tidak menyadari kalau aku tidak mengikuti, atau barangkali, ia menyadari tetapi tak sabar untuk menyingkirkanku.

Di saat aku sampai di pintu masuk desa, menangis sepanjang jalan, hari sudah larut sekali.

Tak ada siapa-siapa di jalan, hanya Da Huang yang mengibas-ngibaskan ekornya dan berlari ke arahku dari punggung bukit.

Sejak hari itu, aku mengerti.

Aku tidak menginginkan Xie Wu Chen lagi.

Tak peduli seberapa baik dirinya, aku tidak menginginkannya lagi.



0 comments:

Posting Komentar