Consort of A Thousand Faces
Chapter 211 : Memesona
Pei
Qian Hao melihat ke hutan di sebelah jalur istana dan terkekeh. Dengan dirinya
yang diam saja hingga sekarang, tawa mendadak Pei Qian Hao membuat semua orang
mengalihkan pandangan mereka padanya.
Takut
membuat lebih banyak kesalahan, Yun Ruo Feng segera berkata, "Pangeran
Hao, akan ada kereta kuda yang menunggumu. Kita akan mengunjungi sungai induk
Nan Zhao, Sungai Air Caltrop."
"Pangeran
Yun, Pangeran ini mengetahui soal Sungai Air Caltrop dan tidak perlu kau untuk
memberitahukan padaku soal itu. Namun, sepertinya, peraturan istana Nan Zhao
tidak begitu ketat."
Penyebutan
tiba-tiba soal peraturan istana membingungkan semua orang. terutama bagi si
pecinta drama, Chu Ling Long; semakin kacau situasinya, semakin besar pula
kenikmatannya.
Oleh
sebab itu, sebelum Yun Ruo Feng bisa membuka mulut, Chu Ling Long pun tertawa
hingga membuat bulu kuduk merinding dan membalas, "Bagi Pangeran Hao
untuk menyebut-nyebut soal peraturan istana secara mendadak, tampaknya kau juga
melihat apa yang dilihat oleh Putra Mahkota ini; seorang dayang istana
menyelinap ke dalam hutan di samping. Karena peraturan istana Nan Zhao tidak
terlalu ketat, maka, hari ini ...."
Yun
Ruo Feng tidak membiarkan Chu Ling Long seenaknya dan langsung membalas,
"Nan Zhao selalu menjadi kerajaan yang diperintah dengan peraturan yang
berbudi luhur. Terlalu kejam untuk menghukum seorang dayang istana hanya karena
satu kesalahan kecil. Kami hanya akan menghukum seseorang apabila mereka
melakukan kesalahan lebih dari tiga kali."
Ia
berujar lembut sambil tersenyum, membuat orang lain memercayai kalau Yun Ruo
Feng adalah seseorang yang mudah diajak bergaul.
Saat
Su Xi-er mendengarkan ini, alisnya tertaut. Itu adalah kebijakan baru
yang kurancang dan tetapkan. Kesalahan kecil seperti melanggar peraturan istana
hanya akan dihukum setelah mereka melakukan kesalahan lebih dari tiga kali.
Tentu saja, hukumannya akan tergantung pada situasinya.
Bagi
seseorang yang telah menggantikan kebijakan baruku, ia memang gesit sekali, mengungkitnya
sekarang.
Pei
Qian Hao juga mengetahui soal ini, sehingga ia tidak mempermudahnya.
"Pangeran Yun, jika Pangeran ini benar, kebijakan itu ditetapkan oleh
Putri Pertama Kekaisaran terdahulu. Apa kau masih mengikutinya meskipun ia
sudah wafat?"
Putri
Pertama Kekaisaran terdahulu adalah topik terlarang di Nan Zhao, tetapi
Pangeran Hao baru saja menyebutkan soal dirinya di hadapan begitu banyak orang.
Adegan ini .... Chu Ling Long
mendadak bersemangat. Semakin kacau jadinya, itu akan semakin baik.
Mata
panjang seperti phoenix merahnya agak menyipit selagi ia
bermain-main dengan kuku-kukunya yang dicat berwarna ungu. Tepat saat Chu Ling
Long baru saja akan berbicara, Hua Zi Rong yang biasanya pendiam pun membuka
mulutnya. "Kebijakan baru yang ditetapkan oleh Putri Pertama Kekaisaran
terdahulu sangat dihormati oleh Kaisar ini. Kaisar ini ingin meminta beberapa
saran darinya tentang bagaimana memerintah kerajaan, tetapi langit cemburu akan
orang berbakat, dan ia mati muda. Pangeran Yun,
baguslah karena kau tidak sepenuhnya menghapus kebijakan baru."
Meskipun
terdengar menyenangkan, kata-kata ini pada dasarnya memberitahukan Yun Ruo Feng
bahwa ia tidak bisa memerintah sebaik seorang wanita. Semua orang dapat
merasakan suasana jadi lebih tegang.
Saat
Pei Qian Hao melihat situasinya menguntungkan, ia mengubah topik
pembicaraannya, malah memperburuk keadaannya. "Apabila seorang wanita
terlalu berkuasa, ia pasti tidak akan ditoleransi di Nan Zhao. Jika ia adalah
seorang pria, ia pasti akan diletakkan di posisi yang penting." Kemudian,
ia mengalihkan pandangannya pada Ning Lian Chen. "Yang Mulia, Anda harus
belajar memerintah kerajaan dari Kakak Perempuan Anda."
Pei
Qian Hao telah mendeskripsikan Ning Ru Lan secara tulus. Ketika Ning Lian Chen
mendengar ini, ia segera membalas, "Kaisar ini pasti akan melakukan
begitu; aku juga berharap agar Pangeran Yun akan belajar bersama-sama
denganku."
Kata-katanya
seperti tamparan di wajah Yun Ruo Feng! Saat Su Xi-er mendengar ini, tatapannya
melewati rombongan dan mendarat pada Yun Ruo Feng. Ia memerhatikan ekspresinya
dengan saksama. Ia masih selembut biasanya; kalian tidak akan menemukan
kelemahannya sama sekali.
Yun
Ruo Feng tertawa hangat dan menatap Pei Qian Hao. "Pangeran Hao, Pangeran
ini pasti akan mempelajari apa yang ada untuk dipelajari; kau tidak perlu
mengingatkanku. Bagaimanapun juga, kita harus bergegas. Semuanya sudah diatur
dan di Sungai Air Caltrop, dan hari jelas sudah
tidak pagi lagi." Ia memberi sinyal dengan tangannya agar semua orang
terus bergerak tanpa adanya cacat dalam tingkah lakunya.
Pei
Qian Hao tidak banyak bicara dan melihat Su Xi-er yang berada di bagian
belakang rombongan. Bagaimana ia bisa berakhir ada di belakang?
Oleh
sebab itu, ia memanggil ke arah Su Xi-er. "Kemari." Ucapannya
sederhana dan singkat, sekaligus tenang dan kuat. Ia tidak memedulikan reaksi
orang lain, hanya memintanya untuk langsung mendatanginya.
Dalam
sekejap, tatapan semua orang teralih pada Su Xi-er. Mereka sudah menyadari Su
Xi-er saat ia muncul. Dayang ini begitu kurang ajar, mengenakan warna
merah selama perjamuan kerajaan. Namun, mereka tidak menambahkan
komentar lainnya. Satu-satunya cara ia akan berani melakukan ini
adalah, jika Pangeran Hao mendukung keputusannya.
Su
Xi-er berjalan mendekat pelan-pelan, keanggunannya sungguh terlihat dalam
pergerakan lembutnya. Gaun yang dikenakannya jatuh di mata kakinya, sementara
benang emas dan perak menjuntai di ujungnya dengan motif bunga.
Pangeran
Hao sangat memedulikan dayangnya, bahkan menghadiahinya gaun seindah ini.
Apakah mereka tidak tahu bahwa hanya seorang istri sah saja yang boleh
mengenakan gaun warna merah?
Su
Xi-er berjalan di belakang Pei Qian Hao dan membungkuk untuk memberi salam
sebelum tersenyum pada semua orang untuk menunjukkan kesopanan yang sama.
Chu
Ling Long tertawa. "Mengapa Putra Mahkota ini berpikir kalau dayang
Pangeran Hao ini jauh lebih baik ketimbang Putri Pertama Kekasiaran dari
kerajaan tertentu?"
Kata-kata
itu merupakan tamparan lainnya di wajah Nan Zhao. Terlebih lagi, ekspresi
Kaisar Nan Zhao, bahkan tidak berubah.
Tiba-tiba
saja, atmosfernya terasa berat dan canggung lagi.
Su
Xi-er tertawa dan membalas, "Kata-kata yang kuat sekali. Bagaimana mungkin
pelayan ini bisa dibandingkan dengan Putri?"
"Tsk,
tsk, rendah hati sekali. Apabila kau bukanlah dayang Pangeran Hao, Putra
Mahkota ini akan mempertimbangkan untuk mengambilmu." Sudut mulut Chu Ling
Long melengkung membentuk senyuman.
Pei
Qian Hao dongkol. Ia sedang merayu dayangku di depanku. Ia
berniat untuk menyanggah, tetapi Su Xi-er mengalahkannya lebih dulu.
"Hamba tidak pantas untuk seseorang seperti Putra Mahkota kerajaan.
Selain itu, jika hamba tidak melihat jakun Anda, aku akan mengira kalau
Anda adalah seorang wanita. Dengan seberapa cantiknya Anda, hamba tidak mungkin memiliki perasaan romantis terhadap
Anda."
Ekspresi
Chu Ling Long membeku. Ia terang-terangan mengatakan aku tampak seperti
seorang wanita! Aku juga bukannya bisa mengubah wajahku sejak lahir ini.
Chu
Ling Long tertawa dan menatap Pei Qian Hao. "Pangeran Hao, Putra Mahkota
ini belum pernah mendengar siapa pun
mendeskripsikanku seperti itu. Kau pasti telah mendisiplinkan dayang yang
menarik ini dengan baik."
Tidak
kehilangan iramanya, Su Xi-er langsung membalas lagi. "Tidak pernah
mendengarnya? Putra Mahkota, apakah Anda belum pernah mendengar gosip yang
beredar di jalanan? Ada banyak sekali warga yang mengatakan Anda terlihat
seperti seorang wanita yang cocok untuk ...."
Ia berhenti. Aku tidak bisa melanjutkannya. Tetapi, ia tahu kalau
Chu Ling Long memahami maksudnya.
Putra
Mahkota Chu selalu memiliki lidah yang jahat. Bahkan, saat aku adalah Ning Ru
Lan, ia sering sekali mencoba memprovokasiku dengan kata-kata.
Ekspresi
Chu Ling Long membeku lagi. Kali ini, Pei Qian Hao menyeret Su Xi-er ke
belakangnya. "Ada beberapa hal yang tidak boleh kau ucapkan. Jangan
membuat orang lain berpikir kalau Pangeran ini tidak mendisiplinkanmu dengan
baik."
Su
Xi-er mengangguk dan tidak banyak bicara, tetapi ada jejak dingin dalam
tatapannya saat ia memandang Chu Ling Long hingga membuat jantungnya
berdebar-debar.
Dayang
kecil ini tidak sesederhana itu!
Di
sebelahnya, Ning Lian Chen mencatat tingkah laku Su Xi-er. Kakak
Perempuan biasa bertengkar dengan Putra Mahkota Chu dan mengomentari tentang
penampilannya juga. Aspek lainnya lagi, dimana mereka sangat mirip.
Yun
Ruo Feng juga menyadari hal yang sama. Ia merasakan kegelisahan yang aneh saat
Pei Qian Hao melindungi Su Xi-er, seolah-olah semestinya gadis itu berdiri di
belakangnya.
Saat
ini, Yun Ruo Feng tiba-tiba teringat akan apa yang dikatakan oleh si biksu
senior padanya di kuil. "Waktunya untuk melepaskannya." Apanya
yang tidak bisa kulepaskan? Mengapa dadaku terasa sesak saat aku melihat Su
Xi-er berdiri di belakang Pei Qian Hao?
Orang
yang kucintai harusnya adalah Ning An Lian ... .
Tiba-tiba
saja, Yun Ruo Feng merasa jantungnya berdetak kencang sebelum ia kembali dari
keterguncangannya. Ia mengingatkan Ning Lian Chen, "Yang Mulia, sudah
waktunya pergi ke Sungai Air Caltrop."

0 comments:
Posting Komentar