Sabtu, 10 Januari 2026

CTF - Chapter 211

 Consort of A Thousand Faces

Chapter 211 : Memesona


Pei Qian Hao melihat ke hutan di sebelah jalur istana dan terkekeh. Dengan dirinya yang diam saja hingga sekarang, tawa mendadak Pei Qian Hao membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka padanya.

Takut membuat lebih banyak kesalahan, Yun Ruo Feng segera berkata, "Pangeran Hao, akan ada kereta kuda yang menunggumu. Kita akan mengunjungi sungai induk Nan Zhao, Sungai Air Caltrop."

"Pangeran Yun, Pangeran ini mengetahui soal Sungai Air Caltrop dan tidak perlu kau untuk memberitahukan padaku soal itu. Namun, sepertinya, peraturan istana Nan Zhao tidak begitu ketat."

Penyebutan tiba-tiba soal peraturan istana membingungkan semua orang. terutama bagi si pecinta drama, Chu Ling Long; semakin kacau situasinya, semakin besar pula kenikmatannya.

Oleh sebab itu, sebelum Yun Ruo Feng bisa membuka mulut, Chu Ling Long pun tertawa hingga membuat bulu kuduk merinding dan membalas, "Bagi Pangeran Hao untuk menyebut-nyebut soal peraturan istana secara mendadak, tampaknya kau juga melihat apa yang dilihat oleh Putra Mahkota ini; seorang dayang istana menyelinap ke dalam hutan di samping. Karena peraturan istana Nan Zhao tidak terlalu ketat, maka, hari ini ...."

Yun Ruo Feng tidak membiarkan Chu Ling Long seenaknya dan langsung membalas, "Nan Zhao selalu menjadi kerajaan yang diperintah dengan peraturan yang berbudi luhur. Terlalu kejam untuk menghukum seorang dayang istana hanya karena satu kesalahan kecil. Kami hanya akan menghukum seseorang apabila mereka melakukan kesalahan lebih dari tiga kali."

Ia berujar lembut sambil tersenyum, membuat orang lain memercayai kalau Yun Ruo Feng adalah seseorang yang mudah diajak bergaul.

Saat Su Xi-er mendengarkan ini, alisnya tertaut. Itu adalah kebijakan baru yang kurancang dan tetapkan. Kesalahan kecil seperti melanggar peraturan istana hanya akan dihukum setelah mereka melakukan kesalahan lebih dari tiga kali. Tentu saja, hukumannya akan tergantung pada situasinya.

Bagi seseorang yang telah menggantikan kebijakan baruku, ia memang gesit sekali, mengungkitnya sekarang.

Pei Qian Hao juga mengetahui soal ini, sehingga ia tidak mempermudahnya. "Pangeran Yun, jika Pangeran ini benar, kebijakan itu ditetapkan oleh Putri Pertama Kekaisaran terdahulu. Apa kau masih mengikutinya meskipun ia sudah wafat?"

Putri Pertama Kekaisaran terdahulu adalah topik terlarang di Nan Zhao, tetapi Pangeran Hao baru saja menyebutkan soal dirinya di hadapan begitu banyak orang. Adegan ini .... Chu Ling Long mendadak bersemangat. Semakin kacau jadinya, itu akan semakin baik.

Mata panjang seperti phoenix merahnya agak menyipit selagi ia bermain-main dengan kuku-kukunya yang dicat berwarna ungu. Tepat saat Chu Ling Long baru saja akan berbicara, Hua Zi Rong yang biasanya pendiam pun membuka mulutnya. "Kebijakan baru yang ditetapkan oleh Putri Pertama Kekaisaran terdahulu sangat dihormati oleh Kaisar ini. Kaisar ini ingin meminta beberapa saran darinya tentang bagaimana memerintah kerajaan, tetapi langit cemburu akan orang berbakat, dan ia mati muda. Pangeran Yun, baguslah karena kau tidak sepenuhnya menghapus kebijakan baru."

Meskipun terdengar menyenangkan, kata-kata ini pada dasarnya memberitahukan Yun Ruo Feng bahwa ia tidak bisa memerintah sebaik seorang wanita. Semua orang dapat merasakan suasana jadi lebih tegang.

Saat Pei Qian Hao melihat situasinya menguntungkan, ia mengubah topik pembicaraannya, malah memperburuk keadaannya. "Apabila seorang wanita terlalu berkuasa, ia pasti tidak akan ditoleransi di Nan Zhao. Jika ia adalah seorang pria, ia pasti akan diletakkan di posisi yang penting." Kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada Ning Lian Chen. "Yang Mulia, Anda harus belajar memerintah kerajaan dari Kakak Perempuan Anda."

Pei Qian Hao telah mendeskripsikan Ning Ru Lan secara tulus. Ketika Ning Lian Chen mendengar ini, ia segera membalas, "Kaisar ini pasti akan melakukan begitu; aku juga berharap agar Pangeran Yun akan belajar bersama-sama denganku."

Kata-katanya seperti tamparan di wajah Yun Ruo Feng! Saat Su Xi-er mendengar ini, tatapannya melewati rombongan dan mendarat pada Yun Ruo Feng. Ia memerhatikan ekspresinya dengan saksama. Ia masih selembut biasanya; kalian tidak akan menemukan kelemahannya sama sekali.

Yun Ruo Feng tertawa hangat dan menatap Pei Qian Hao. "Pangeran Hao, Pangeran ini pasti akan mempelajari apa yang ada untuk dipelajari; kau tidak perlu mengingatkanku. Bagaimanapun juga, kita harus bergegas. Semuanya sudah diatur dan di Sungai Air Caltrop, dan hari jelas sudah tidak pagi lagi." Ia memberi sinyal dengan tangannya agar semua orang terus bergerak tanpa adanya cacat dalam tingkah lakunya.

Pei Qian Hao tidak banyak bicara dan melihat Su Xi-er yang berada di bagian belakang rombongan. Bagaimana ia bisa berakhir ada di belakang?

Oleh sebab itu, ia memanggil ke arah Su Xi-er. "Kemari." Ucapannya sederhana dan singkat, sekaligus tenang dan kuat. Ia tidak memedulikan reaksi orang lain, hanya memintanya untuk langsung mendatanginya.

Dalam sekejap, tatapan semua orang teralih pada Su Xi-er. Mereka sudah menyadari Su Xi-er saat ia muncul. Dayang ini begitu kurang ajar, mengenakan warna merah selama perjamuan kerajaan. Namun, mereka tidak menambahkan komentar lainnya. Satu-satunya cara ia akan berani melakukan ini adalah, jika Pangeran Hao mendukung keputusannya.

Su Xi-er berjalan mendekat pelan-pelan, keanggunannya sungguh terlihat dalam pergerakan lembutnya. Gaun yang dikenakannya jatuh di mata kakinya, sementara benang emas dan perak menjuntai di ujungnya dengan motif bunga.

Pangeran Hao sangat memedulikan dayangnya, bahkan menghadiahinya gaun seindah ini. Apakah mereka tidak tahu bahwa hanya seorang istri sah saja yang boleh mengenakan gaun warna merah?

Su Xi-er berjalan di belakang Pei Qian Hao dan membungkuk untuk memberi salam sebelum tersenyum pada semua orang untuk menunjukkan kesopanan yang sama.

Chu Ling Long tertawa. "Mengapa Putra Mahkota ini berpikir kalau dayang Pangeran Hao ini jauh lebih baik ketimbang Putri Pertama Kekasiaran dari kerajaan tertentu?"

Kata-kata itu merupakan tamparan lainnya di wajah Nan Zhao. Terlebih lagi, ekspresi Kaisar Nan Zhao, bahkan tidak berubah.

Tiba-tiba saja, atmosfernya terasa berat dan canggung lagi.

Su Xi-er tertawa dan membalas, "Kata-kata yang kuat sekali. Bagaimana mungkin pelayan ini bisa dibandingkan dengan Putri?"

"Tsk, tsk, rendah hati sekali. Apabila kau bukanlah dayang Pangeran Hao, Putra Mahkota ini akan mempertimbangkan untuk mengambilmu." Sudut mulut Chu Ling Long melengkung membentuk senyuman.

Pei Qian Hao dongkol. Ia sedang merayu dayangku di depanku. Ia berniat untuk menyanggah, tetapi Su Xi-er mengalahkannya lebih dulu.

"Hamba tidak pantas untuk seseorang seperti Putra Mahkota kerajaan. Selain itu, jika hamba tidak melihat jakun Anda, aku akan mengira kalau Anda adalah seorang wanita. Dengan seberapa cantiknya Anda, hamba tidak mungkin memiliki perasaan romantis terhadap Anda."

Ekspresi Chu Ling Long membeku. Ia terang-terangan mengatakan aku tampak seperti seorang wanita! Aku juga bukannya bisa mengubah wajahku sejak lahir ini.

Chu Ling Long tertawa dan menatap Pei Qian Hao. "Pangeran Hao, Putra Mahkota ini belum pernah mendengar siapa pun mendeskripsikanku seperti itu. Kau pasti telah mendisiplinkan dayang yang menarik ini dengan baik."

Tidak kehilangan iramanya, Su Xi-er langsung membalas lagi. "Tidak pernah mendengarnya? Putra Mahkota, apakah Anda belum pernah mendengar gosip yang beredar di jalanan? Ada banyak sekali warga yang mengatakan Anda terlihat seperti seorang wanita yang cocok untuk ...." Ia berhenti. Aku tidak bisa melanjutkannya. Tetapi, ia tahu kalau Chu Ling Long memahami maksudnya.

Putra Mahkota Chu selalu memiliki lidah yang jahat. Bahkan, saat aku adalah Ning Ru Lan, ia sering sekali mencoba memprovokasiku dengan kata-kata.

Ekspresi Chu Ling Long membeku lagi. Kali ini, Pei Qian Hao menyeret Su Xi-er ke belakangnya. "Ada beberapa hal yang tidak boleh kau ucapkan. Jangan membuat orang lain berpikir kalau Pangeran ini tidak mendisiplinkanmu dengan baik."

Su Xi-er mengangguk dan tidak banyak bicara, tetapi ada jejak dingin dalam tatapannya saat ia memandang Chu Ling Long hingga membuat jantungnya berdebar-debar.

Dayang kecil ini tidak sesederhana itu!

Di sebelahnya, Ning Lian Chen mencatat tingkah laku Su Xi-er. Kakak Perempuan biasa bertengkar dengan Putra Mahkota Chu dan mengomentari tentang penampilannya juga. Aspek lainnya lagi, dimana mereka sangat mirip.

Yun Ruo Feng juga menyadari hal yang sama. Ia merasakan kegelisahan yang aneh saat Pei Qian Hao melindungi Su Xi-er, seolah-olah semestinya gadis itu berdiri di belakangnya.

Saat ini, Yun Ruo Feng tiba-tiba teringat akan apa yang dikatakan oleh si biksu senior padanya di kuil. "Waktunya untuk melepaskannya." Apanya yang tidak bisa kulepaskan? Mengapa dadaku terasa sesak saat aku melihat Su Xi-er berdiri di belakang Pei Qian Hao?

Orang yang kucintai harusnya adalah Ning An Lian ... .

Tiba-tiba saja, Yun Ruo Feng merasa jantungnya berdetak kencang sebelum ia kembali dari keterguncangannya. Ia mengingatkan Ning Lian Chen, "Yang Mulia, sudah waktunya pergi ke Sungai Air Caltrop."

0 comments:

Posting Komentar