Sabtu, 10 Januari 2026

CTF - Chapter 214

 Consort of A Thousand Faces

Chapter 214 : Itu Dia


"Kau tidak mau menjadi pelayan, tetapi jadi majikan?" Pei Qian Hao meninggikan suaranya, matanya terpaku padanya, seolah ia ingin melihat ke kedalaman jiwa Su Xi-er.

"Pangeran Hao, hamba pernah mendengar bahwa seorang tentara yang tidak mau menjadi jenderal adalah tentara yang buruk." Su Xi-er membalas dengan tenang. Pepatah ini sangat lumrah, dan banyak anak-anak yang pernah mendengarnya.

"Jadi, pelayan yang tidak mau menjadi majikan adalah pelayan yang buruk?" Pei Qian Hao tertawa kecil, senyuman mencapai kedalaman matanya. "Pangeran ini harus melihat kinerjamu jika kau ingin menjadi majikan."

Berkata demikian, Pei Qian Hao terus tersenyum. Bagaimana seorang dayang menjadi majikan? Dengan bagaimana ia mengungkit masalah di antara pria dan wanita, mungkinkah ia sedang berpikir untuk mencoba menjilatku dan menaiki tangga?

Kalau saja itu adalah wanita lain, Pei Qian Hao sudah akan mengangkat hidungnya mendengarkan gagasan seperti itu. Namun, bukan ini kasusnya dengan Su Xi-er. Ia merasa itu menarik, bagaimana gadis itu berani secara blak-blakan mengakui kalau ia tidak berencana untuk melayaninya selamanya, bahkan berniat menjadi seorang majikan.

Entah apakah Su Xi-er naik ke posisi semacam itu atau tidak, itu tergantung padanya. Hanya dibutuhkan satu kata dari Pei Qian Hao untuk menjadikannya seorang majikan; dan dalam nada yang sama, menjadikannya pelayan selamanya.

Pawai kereta kuda itu perlahan-lahan mendekati Sungai Air Caltrop, sungai induk Nan Zhao yang mengalir dari utara ke selatan. Banyak kapal dagang yang akan menemukan diri mereka di sana, melakukan perjalanan di salah satu dari tiga distributor yang sudah dibagi. Namun, hari ini, sepuluh mil dari sungai itu, yang mengalir melewati ibu kota, sepenuhnya ditutup. Hanya kapal kerajaan yang indah dan luas saja yang diperbolehkan, sementara yang lainnya hanya bisa mengambil jalan memutar.

Masa paling hidup di Nan Zhao adalah selama perjamuan kerajaan, yang mana menimbulkan lebih banyak hiruk-pikuk daripada perayaan akhir tahun. Warganya, entah apakah mereka itu kaya atau miskin, bangun pagi-pagi sekali untuk berdiri di dua sisi jalanan dan menunjukkan sambutan mereka.

Para warga sangat gembira sementara mereka menonton pawai kereta kuda yang mendekat, dengan beberapa orang pendek yang berjinjit untuk mendapatkan pemandangan yang lebih baik.

Perjamuan kerajaan tahun ini memang luar biasa. Selain dari tamu-tamu yang biasa, Pangeran Hao dari Bei Min juga ada di sini! Belum lagi Putri Pertama Kekaisaran yang sekarang, yang biasanya tetap berada di dalam istana peristirahatannya, akan muncul! Tidak ada orang yang pernah melihatnya sebelumnya, tetapi berdasarkan dari catatan putri-putri cantik dari Keluarga Kekaisaran Ning, ia pastinya juga berparas cantik!

Karena pengetahuan yang mereka miliki hanya berdasarkan rumor, orang-orang ingin mengetahui dengan pasti: apakah Ning An Lian lebih cantik atau lebih jelek dari Ning Ru Lan?

Tidak ada yang mengetahui bahwa Ning An Lian sekarang ini sedang berada di dalam istana peristirahatannya, ditahan oleh pengawal dari Kediaman Pangeran Yun dan Pasukan Tentara Kekaisaran.

"Lihat, pawai keretanya sudah berhenti! Orang yang duduk di dalam kereta kuda emas pasti Yang Mulia. Pangeran Yun duduk di kereta kuda yang ada di sebelahnya! Dimana kereta Pangeran Hao?" Orang-orang mengangkat kepala mereka dan berdiskusi secara terus-menerus, wajah mereka dipenuhi dengan kegembiraan.

Pengawal kekaisaran istana di depan kerumunan membentuk sebuah jalan, memegang tombak secara horizontal untuk menghadang orang-orang yang bergegas maju ke depan dalam kegirangan mereka.

Ning Lian Chen mengenakan jubah kekaisaran emasnya. Meskipun usianya baru lima belas tahun, tingginya telah memuncak, dan tampang kekanak-kanakannya sudah menghilang. Ia memancarkan aura kedewasaan yang samar.

Di dalam kerumunan, mata beberapa wanita berseri-seri, telinga mereka jadi memerah. Yang Mulia sangat tampan!

Pangeran Yun yang berikutnya muncul, mengenakan jubah bersulam awan putihnya. Sebuah ikat pinggang hitam polos melingkari pinggangnya, tidak memakai aksesoris lainnya.

Para pejabat dari kerajaan lain juga turun dari kereta, membuat mata kerumunan berkilauan penuh pengakuan setelah melihat mereka.

Pria yang kukunya bercat ungu dan dikelilingi oleh aura menggoda, sudah pasti adalah Putra Mahkota Dong Ling. Sementara, pria yang selalu pendiam itu, ia sudah pasti adalah penguasa Xi Liu.

Satu-satunya yang tersisa adalah Pangeran Hao dari Bei Min. Rasa penasaran semua orang pun meningkat.

"Mengapa Pangeran Hao masih belum turun juga? Apa ia ada di kereta itu?" Seseorang di kerumunan mengangkat tangannya dan menujuk ke kereta besar di paling kanan.

Setelah mendengarkan suara pria itu, semua pejabat asing bersatu dengan kerumunan, menatap ke kereta yang ditunjuk.

Seseorang dengan kemampuan mengamati di dalam kerumunan langsung menyadari bahwa Kaisar dan Pangeran Yun juga melihat ke arah kereta yang ada di kanan. Ia menahan napas dan menanti dalam diam.

Satu tangan panjang memegang ujung tirai kereta dan perlahan-lahan mengangkatnya. Seorang pria yang tinggi dan ramping turun dari kereta, membawa serta kehadiran yang mengagumkan bersamanya, dan kekuatan seorang penguasa.

Mereka yang bisa melihatnya tidak bisa mengalihkan tatapan mereka darinya, sementara mereka yang tidak bisa melihatnya, mencoba untuk mendorong-dorong agar bisa melihat sepintas. Untuk sesaat, para pengawal harus memaksa kerumunan untuk mundur demi mencegah keributan yang meletus.

Semua orang mengira bahwa Pangeran Hao adalah satu-satunya orang yang ada di dalam kereta, hanya untuk melihatnya berbalik, dan mengulurkan tangan ke arah tirai kereta lagi. Satu tangan bak giok terjulur keluar dari balik tirai untuk menyambut tangannya, segera membuat orang-orang bungkam. Satu-satunya suara yang bisa terdengar adalah angin yang bertiup.

Ada seorang wanita ... duduk di dalam kereta Pangeran Hao! Wanita yang dipertanyakan pun melangkah keluar berbalutkan jubah merah terang. Berdiri di sebelah kereta bersama Pangeran Hao, keanggunan wanita itu meluap.

Tidak ada kata-kata yang mampu sepenuhnya mendeskripsikan garis besar wanita yang berbaju merah yang menyilaukan itu, menyebabkan pergerakan semua orang jadi kaku selagi mereka terus menatapnya.

Pangeran Hao menawarkan untuk membantu wanita itu turun dari kereta kuda, dan ia adalah wanita yang sangat cantik!

Bagaimana mungkin ini bukan kabar yang menggemparkan!

Orang-orang yang berdiri di depan kerumunan tidak mampu mengalihkan pandangan mereka darinya. Setiap gerakan dan tatapannya mampu menggiurkan hati para pria.

Dengan sedikit pergerakan tangannya, Pei Qian Hao mendorong Su Xi-er ke belakangnya agar tidak ada orang lain yang bisa melihatnya.

Gerakannya disadari oleh si mata elang Chu Ling Long. "Pangeran Hao, jika kau mau memiliki simpanan, maka tidak seharusnya kau membawa keluar dayangmu, apalagi membuatnya mengenakan jubah merah. Karena kau sudah membawanya keluar, kau mestinya bersiap-siap dirinya dilihat oleh orang lain."

Chu Ling Long sudah menebak pemikiran Pei Qian Hao dengan sempurna, tetapi karena orang itu selalu bertindak atas kemauannya, ia tidak kebingungan.

Saat itu juga, suara Pangeran Yun terdengar. "Dek untuk melihat-lihatnya sekarang sudah siap untuk kita menikmati pemandangan di Sungai Air Caltrop."

Pei Qian Hao mengangguk kecil dan melirik Su Xi-er. Rombongan itu kemudian mulai bergerak maju.

Semua orang terpesona oleh Su Xi-er, bahkan Hua Zi Rong yang pendiam pun tidak terkecuali.

Dek mengamati yang diatur di sebelah Sungai Air Caltrop sangat luas, dan menampung kilang anggur Nan Zhao yang paling terkenal, orkestra, dan rombongan penari. Sebuah panggung yang mengambang diletakkan di depan dek pengamatan itu, nyaris seperti sebuah kapal raksasa. Tidak ada seorang pun yang menduga akan melihat pemandangan seunik ini tahun ini.

Kerumunan memerhatikan para petinggi itu menghampiri dek pengamatan, ingin menemani mereka, tetapi tidak bisa. Bagaimanapun juga, mereka hanyalah rakyat jelata, sementara semua orang di dek pengamatan itu adalah tokoh-tokoh berkuasa dan berpengaruh.

Tetapi, tepat saat ini, seseorang di kerumunan tersadar.

Orang itu berseru dengan keras. "Nona muda itu tampak sangat familier! Apakah ada yang lain yang mengingatnya? Ia adalah wanita yang maju dan memberikan pelajaran pada Nona-Nona Wei hari itu!"

Sekarang, karena orang itu sudah menyebutkannya, orang lainnya di dalam kerumunan pun ikut tersadar. Satu orang menampar pahanya sendiri dan sependapat. "Itu dia! Tidak heran ia tidak takut pada keluarga Wei. Dengan Pangeran Hao sebagai penyokongnya, bahkan, Pangeran Yun saja tidak akan bisa menyinggungnya dengan enteng! Apa itu, keluarga Wei yang tidak penting, dibandingkan dengannya?!"

0 comments:

Posting Komentar