Pearl Light
Extra : Xie Wu Chen
Aku membenci Li Zhen Zhu.
Bukan hanya karena kebodohannya, tetapi juga karena Guruku mengatakan ia adalah cobaan cintaku.
Guruku mengatakan, aku kurang memahami perasaan dan tidak mengasihi seluruh makhluk hidup, jadi Tao Surgawi tidak akan mengakuiku.
Lima tahun yang lalu, Zhen Zhu menemukanku saat aku tidak sadarkan diri.
Pertama kali melihatnya, aku mendadak mengerti kenapa murid-murid seperguruanku bilang bahwa cinta itu tidak masuk akal.
Aku tahu ia murni dan baik hati, aku tahu ia polos.
Namun aku harus memberitahu diriku sendiri bahwa kemurniaan dan kebaikan hati itu hanyalah kebodohan, dan kepolosan hanyalah ketololan.
Aku adalah Xie Wu Chen, kultivator pedang terbaik di Puncak Ling Chen, dikagumi oleh ribuan orang, dan aku tidak boleh terjerat oleh cobaan cinta.
Apalagi, seseorang yang pantas untuk Xie Wu Chen seharusnya, setidaknya, seperti Shi Yu—pintar, cantik, dan berbakat.
Namun Li Zhen Zhu sangat bodoh.
Ia tidak bisa melihat tipuan orang lain atau rasa jijikku.
Akan tetapi ia masih saja bekerja keras untuk menutup-nutupiku, menipu orang lain dan dirinya sendiri.
Bibi Liu mengejekku karena makan gratis, dan ia berbohong demi menyelamatkan mukaku.
Kenapa repot-repot berbohong?
Aku tidak peduli dengan gosip tak berguna manusia biasa.
"Xie Wu Chen, kenapa aku tidak menceritakan kisahku padamu?"
"Apa hubungannya kisahmu denganku?"
Aku sudah tahu apa yang hendak dikatakannya.
Ia akan bilang bahwa ia tidak terlahir sebodoh ini, membicarakan soal ayam, bebek, angsa, dan Da Huang, dan betapa ia menginginkan sebuah keluarga.
Aku tidak mau mendengarkan, tidak ingin ada hubungan apa pun dengannya.
Sarung pedang dan rumbai-rumbai buatannya, aku memotongnya jadi beberapa bagian.
Roti pipih manis dan makanan yang dibuatnya, aku menyebutnya kotor dan bau.
Terlepas dari kekasaranku, ia masih bersedia membantuku mencapai Tao-ku, bahkan jika itu berarti menjadi pasangan suami-istri palsu.
Ia menyentuh gaun pengantin itu dengan iri, tetapi uangnya hanya cukup untuk membeli segulung kain merah.
Ia menggunakan semua kain merah itu untuk membuat pakaianku, hanya meminta kerudung merah untuk dirinya sendiri.
Pemilik toko kain melihatnya mendambakan dan mencoba membujuknya agar membeli gaun pengantin lain.
Li Zhen Zhu menundukkan matanya dan berbohong lagi, "Aku ... aku tidak menyukainya."
Kultivator paling membenci berbohong.
Aku memiliki alasan lain untuk tidak menyukai Li Zhen Zhu.
Ketika ia sadar ia telah ditipu oleh pengemis, kesedihan di wajahnya tanpa terduga membuat hatiku sakit.
Tetapi Li Zhen Zhu, bagaimanapun juga, adalah orang bodoh. Ia cepat-cepat menghibur dirinya sendiri, "Tidak apa-apa, selama ia tidak sakit, kalau tidak, itu akan sangat menyakitkan."
Ada pemikiran usil yang memberitahuku bahwa jika aku menghiburnya saja, segalanya masih bisa diperbaiki.
Tetapi aku membuka mulutku dan berkata, "Bodoh."
Ia tercengang.
Aku tahu ia menangis di belakangku.
Aku tahu bahwa, jika aku menghiburnya, ia akan melupakan semua kekasaranku.
Suami biasa Li Zhen Zhu bisa saja menghiburnya, tetapi Xie Wu Chen tidak akan.
Bahkan jika emosi melonjak bagaikan laut tak berujung, aku memiliki kekuatan untuk memindahkan gunung dan menjinakkan air.
Bahkan jika Bintang Phoenix Merah seperti nyala api yang membakar segalanya, aku pasti bisa memadamkannya.
Guruku-lah yang melihat tembus diriku, "Wu Chen, kau takut."
"Aku tidak takut."
Takut? Benar, aku takut.
Perasaan yang tak diketahui ini bagaikan Tao Surgawi yang tak bisa diprediksi, menanamkan ketakutan pada manusia.
"Tanpa memahami perasaan, tanpa belas kasih kepada semua makhluk hidup, Wu Chen, kau tidak bisa memperoleh pencerahan."
Kenapa aku tidak bisa mendapatkan pencerahan?
Bukankah itu hanya karena aku berutang lima tahun kebaikan Li Zhen Zhu?
Aku bisa saja membalas budinya!
"Guru bilang bahwa kau membantuku. Janji seorang abadi tak ternilai harganya. Apa pun yang kau pinta, akan kukabulkan."
Sejujurnya, aku sedikit mengharapkannya.
Aku tahu ia selalu ingin aku untuk tetap bersamanya.
Jika ia meminta, aku bisa dengan enggan dan dengan alasan yang tepat untuk tetap tinggal.
Namun, ia sudah tak menginginkanku lagi.
Ia berpikir sekian lama dan saat ia mendongak ke arahku lagi, obsesi itu telah sirna.
"Sembuhkan saja penyakit Da Huang, dan kau tidak berutang apa-apa padaku."
Aku menatapnya linglung.
Bagaimana bisa hatiku sakit padahal tidak ada lukanya?
Namun, Shen Tong Guang juga bukan orang baik.
Membelah kayu bakar, memberi makan ayam, bahkan sutra dan satin itu, semuanya hanyalah mantra biasa.
Ia memperlakukan Li Zhen Zhu dengan baik hanya karena ia ingin memperdayanya dan menyantap jantungnya.
Tetapi Li Zhen Zhu bodoh; ia tidak mengetahuinya.
Aku menggunakan artefak sihir dari guruku untuk menekan kekuatan Shen Tong Guang.
Tanpa sihirnya, Shen Tong Guang tidak bisa menggunakan trik-trik itu untuk menipunya.
Aku berpikir dengan begini, Li Zhen Zhu akan melihat sifat aslinya.
Tetapi kenapa sepertinya, ini membuat mereka semakin dekat?
Shen Tong Guang mengajarinya hitung-hitungan, membawakan barang-barang untuknya.
Namun, bagaimanapun juga, tanpa sihirnya, Shen Tong Guang tidak punya cara untuk membelanya.
Shen Tong Guang yang dipukuli sangat memalukan dan dalam keadaan yang menyedihkan.
Aku hanya mengucapkan sepatah kata kepada Zhang Ma Zi, dan ia, dalam ketakutan dan kegelisahan, mengkompensasikanku dengan telur.
Membawa sekeranjang telur itu, aku kira Li Zhen Zhu pasti akan menyukaiku, membenci Shen Tong Guang karena bersikap bodoh dan membuatnya hilang muka.
Kemudian, melihat aku mencari keadilan untuknya, ia akan meninggalkan kegelapan untuk cahaya dan memilihku.
Tetapi ia tidak memilihku.
Ia memapah Shen Tong Guang, dan mereka berdua berjalan tertatih-tatih bersama.
Terlepas dari luka-luka di wajah mereka, meskipun terhina akibat dipukuli.
Bagaimana bisa mereka masih tetap tersenyum dengan begitu bahagianya?
Apa yang diinginkan Li Zhen Zhu itu sederhana, tetapi aku tidak pernah memahaminya.
Zhen Zhu tidak mendendam; ia dengan mudahnya memaafkanku.
Namun, aku tidak sanggup memaafkan diriku sendiri.
Aku menetap di Desa Keluarga Li, memberikan bantuan pengobatan kepada penduduk desa yang telah berbaik hati kepada Li Zhen Zhu.
Rasa syukur di mata murni mereka menonjolkan betapa dangkal dan arogannya Xie Wu Chen yang dulu.
Aku tiba-tiba mengerti kenapa Li Zhen Zhu menjadi cobaan cintaku.
Ternyata, kepolosan murni yang dimiliki orang bodoh semenjak lahir adalah sesuatu yang harus dipahami orang bijak menggunakan seumur hidupnya.

0 comments:
Posting Komentar