Sabtu, 10 Januari 2026

CTF - Chapter 220

 Consort of A Thousand Faces

Chapter 220 : Hanya Boleh Menyukai Pangeran Ini


Chu Ling Long mengangkat cangkir anggurnya dan menuangkan secangkir untuk dirinya sendiri, sengaja memasang tampang iri. "Putra Mahkota ini lebih dari iri, aku bahkan berharap untuk meminjam dayangmu. Mengapa kau tidak menuangkan secangkir untuk Putra Mahkota ini?" Kemudian, ia mengakhiri permintaannya sambil tersenyum. Bagi banyak orang luar, sepertinya seakan-akan ia sungguh cemburu.

"Ada begitu banyak selir di Kediaman Putra Mahkota Chu, bahkan beberapa pria tampan. Mengapa kau tidak membawa mereka ke Nan Zhao dan menyelamatkan dirimu dari kerepotan untuk iri pada Pangeran ini." Pei Qian Hao meletakkan cangkir anggurnya kembali ke atas meja dan menoleh untuk menatap Su Xi-er, memberi isyarat agar ia mengisi cangkirnya lagi.

Su Xi-er mengangkat guci anggur itu dan mengisi cangkir anggurnya sampai meluap lagi. Namun, apa yang tidak disangka Pei Qian Hao adalah, Su Xi-er langsung berjalan ke arah Chu Ling Long setelahnya. Ia merasa sangat tidak senang. Aku hanya sedang memberitahu Chu Ling Long agar tidak merasa iri, dan kini ia berjalan ke sana atas keinginannya sendiri!

Senyuman Chu Ling Long sampai di dasar matanya sewaktu mereka melengkung jadi dua bulan sabit. Ia pikir Su Xi-er akan mengisikan cangkir anggurnya dan langsung menghabiskan anggur yang masih tersisa di dalamnya.

Namun, Su Xi-er hanya menurunkan guci anggurnya di depan Chu Ling Long. "Pangeran Hao tidak boleh minum terlalu banyak anggur, jadi dua cangkir saja sudah cukup. Sementara untuk sisanya, silakan nikmati sendiri, Putra Mahkota Chu. Anda tidak perlu berterima kasih pada Pangeran Hao." Kemudian, ia memutar tumitnya dan dengan cepat berjalan kembali ke tempat duduknya di sebelah Pangeran Hao.

Sosok berbaju merah itu sepertinya sangat tidak terkekang dan bebas.

Bibir Ning Lian Chen mau tak mau melengkung jadi senyuman saat melihat adegan di depannya. Sudah lama sekali sejak ia merasa sebahagia ini.

Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, ia terus dalam suasana hati yang baik yang tidak bisa dijelaskan setelah bertemu dengan Su Xi-er, terutama matanya.

Oleh karena itu, Ning Lian Chen mengangkat cangkir anggurnya yang kosong. "Nona Xi-er, kau cerdas dan pandai sampai bisa terpikirkan soal roti kukus berbagai macam warna. Kaisar ini sangat mengagumimu. Bagaimana kalau kau minum secangkir dengan Kaisar ini? Di Nan Zhao, meminum anggur adalah untuk menunjukkan rasa hormat." Ia takut kalau Su Xi-er tidak akan meminumnya, atau kalau Pangeran Hao akan merasa tersinggung. Sebagai hasilnya, ia sengaja menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya adalah sebagai bentuk rasa hormat.

Pei Qian Hao berdeham ringan sebelum ia menoleh pada Su Xi-er. Ia tidak bicara sepatah kata pun, tetapi memperingatkan dengan matanya agar gadis itu tidak minum.

Namun, Su Xi-er bahkan tidak meliriknya sama sekali. Ia bangkit berdiri dan membungkuk dengan hormat pada Ning Lian Chen. "Apabila Yang Mulia menawarkan hamba satu sulangan dengan setulus itu, mana mungkin hamba bilang tidak? Hanya saja, cangkir anggur ini ...."

Ning Lian Chen segera memberi gestur tangannya. "Seseorang, datang tuangkan secangkir Embun Madu Bunga Giok untuk Nona Xi-er. Kaisar ini ingin minum secangkir dengannya." Ada kegembiraan yang tak tertahankan dalam suaranya.

Su Xi-er mengetahui bahwa Lian Chen sekarang ini sangat senang. Matanya dipenuhi senyuman, bayangan akan dirinya yang dulu. Lian Chen seharusnya seperti ini, bebas dan hidup sesukanya, selalu tersenyum.

Kasim Fu segera menuangkan secangkir anggur dan menyerahkannya dengan hormat pada Su Xi-er. Sialnya baginya, kebetulan ia menangkap sedikit ekspresi Pei Qian Hao selagi melakukannya. Tatapan orang itu begitu dingin hingga membuat orang merinding, membuatnya buru-buru mundur.

Pei Qian Hao memandangi Su Xi-er. Selama ia melirik sekali saja ke arahku, ia akan menyadari kalau aku merasa sangat amat tidak senang! Tetapi, bukan hanya ia tidak memerhatikanku sedikitpun, ia bahkan dengan senang hati minum bersama Kaisar kecil Nan Zhao sambil memasang senyuman di wajahnya!

"Nona Xi-er, menyegarkan sekali. Kaisar ini merasa gembira sekali hari ini!" Ning Lian Chen tersenyum samar sebelum ia menoleh ke arah Yun Ruo Feng. "Pangeran Yun, apakah kau merasa senang hari ini?"

Perjamuan kerajaan tahun ini sepenuhnya mempermalukan Yun Ruo Feng; mana mungkin ia merasa bahagia? Tetapi kini, mata semua orang tertuju padanya, ia hanya bisa memasang senyuman lembut dan membalas, "Pangeran ini senang melihat Yang Mulia bahagia. Melihat Yang Mulia, tampaknya seolah Anda sudah menyukai Nona Xi-er. Sayang sekali karena ia sudah menjadi milik Pangeran Hao. Tentu saja, kecuali kalau, Pangeran Hao cukup bermurah hati untuk mempersembahkannya pada Anda sebagai hadiah."

Saat ini, suara mantap dan kuat pun terdengar; itu adalah Pei Qian Hao. "Dayang Pangeran ini bukanlah benda yang dapat diberikan dengan entengnya. Bahkan, meski Pangeran ini ingin memberikannya, temperamen dayang Pangeran ini berbeda dari wanita lainnya. Apabila ia tidak bersedia, tidak akan ada gunanya meskipun jika Pangeran ini mendorongnya kepada Kaisar Nan Zhao." Kali ini, ia tidak bertanya pada Su Xi-er apakah perkataannya benar.

Ia takut kalau gadis itu akan menganggukkan kepalanya dan memberitahunya, "Hamba berharap untuk melayani Kaisar Nan Zhao." Aku masih belum melupakan kalau wanita ini pergi ke istana peristirahatan kaisar muda Nan Zhao sendirian semalam!

Kami baru saja menuntaskan utang itu kemarin, dan sekarang ia mulai lagi. Mungkinkah Su Xi-er mau tidur bersamaku lagi malam ini?

Mendengarkan kata-kata Pei Qian Hao, Ning Lian Chen menatap Yun Ruo Feng, matanya dipenuhi dengan sarkasme. "Pangeran Hao benar. Entah apa pun status mereka, wanita bukanlah benda. Kau tidak boleh memutuskan kalau mereka 'milik' seseorang dengan komentar sambil lalu seperti itu. Pangeran Yun, Kaisar ini selalu mengingat ajaranmu dalam hati, tetapi aku tidak bisa setuju dengan apa yang baru saja kau katakan."

Su Xi-er memerhatikan selagi Ning Lian Chen mengambil pendirian yang jelas dan logis, seakan ia sedang memberi Yun Ruo Feng pelajaran dalam moral dan etika. Ia merasakan suka cita di dalam hatinya selagi sudut bibirnya agak terangkat.

Tepat saat Su Xi-er merasa sangat puas, tangan besar terulur dan menariknya ke tempat duduknya. Pei Qian Hao mencondongkan diri ke arahnya seolah tidak ada orang lain di sekitar, dan memelankan suaranya supaya hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. "Apa kau sangat menyukai kaisar muda Nan Zhao itu?"

Kalau ia berani bilang iya, aku akan segera memerintahkan seseorang untuk membawanya pergi!

Su Xi-er menjawab pelan, "Hamba hanya melakukannya karena sopan-santun, apa hubungannya dengan menyukainya atau tidak? Hamba tidak menyukai Kaisar Nan Zhao."

Lian Chen dan aku adalah saudara dari ayah dan ibu yang sama. Aku sudah menyaksikannya tumbuh besar, dan meski jika aku menyukainya, itu akan menjadi perasaan dari seorang kakak perempuan terhadap adik lelakinya.

Pei Qian Hao mendengus. "Kau tidak diizinkan untuk menyukainya; kau hanya boleh ...." Ia tiba-tiba saja terdiam, ekspresinya berubah selagi ia menyadari apa yang ingin dikatakannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kalau ia agak ... tidak tahu malu.

"Pangeran Hao, apa Anda ingin bilang kalau aku hanya boleh menyukai Anda?"

Pei Qian Hao tidak menduga bahwa Su Xi-er akan melepaskan semua formalitas, secara langsung mengeksposnya.

Ia menatap Su Xi-er, tetapi tidak bisa memaksa dirinya mengatakan kata 'iya'. Ia terbiasa dingin dan menyendiri, dengan orang lain yang secara patuh menerima perintahnya. Ia tidak pernah berada dalam belas kasihan orang lain sebelumnya.

Di mata Pei Qian Hao, Su Xi-er harus mematuhinya. Karena aku sudah menyukainya, ia harus melakukan hal yang sama. Begitulah cara kerjanya!

Su Xi-er melanjutkan pelan, melihat bahwa Pei Qian Hao tidak menanggapi. "Hamba tidak akan menyukai orang lain. Terlebih lagi, Pangeran Hao memperlakukan hamba dengan baik. Hamba sangat menyukai gaun merah ini."

Di perjamuan kerajaan, hanya Putri Pertama Kekaisaran yang diperbolehkan untuk mengenakan gaun merah. Pei Qian Hao memberikannya gaun merah, tetapi tidak ada yang tahu apakah itu disengaja.

"Kalau kau meyukainya, pakai saja. Saat kau sedang mempersembahkan tarian di atas panggung yang tinggi kemarin malam, Pangeran ini sedang berpikir kalau kau mungkin akan tampak lebih baik dalam gaun merah. Setelah melihat penampilanmu hari ini, Pangeran ini bisa melihat bahwa aku benar."

Sudut bibir Su Xi-er terangkat membentuk senyuman. "Terima kasih banyak, Pangeran Hao."

"Terima kasih? Rasa terima kasih tidak ada artinya jika itu hanyalah basa-basi." Intonasi Pei Qian Hao meninggi saat ia mengangkat sebelah alisnya. "Bagaimana kalau tidur dengan Pangeran ini lagi, seperti semalam?"

"Tentu saja ...." Su Xi-er tersenyum dan setelahnya menggelengkan kepalanya, "tidak."

Tangan Pei Qian Hao tidak pernah meninggalkan tempatnya tadi malam. Di pertengahan malamnya, tangannya bahkan mulai mengelus-elus Su Xi-er di banyak tempat. Beruntungnya, pria itu tidak melakukan hal lain, dan hanya membuat Su Xi-er tersentak sebelum ia tertidur lagi.

"Pangeran ini tidak peduli apa yang kau pikirkan. Hari ini, kau minum bersama Kaisar Nan Zhao tanpa izin dari Pangeran ini. Itu saja sudah pantas mendapatkan hukuman, dan hukumanmu kali ini adalah tidur bersama Pangeran ini."

Lumayan aneh, Su Xi-er dapat mengetahui kalau pria itu benar-benar bermaksud tidur dan bukan yang lainnya yang melebihi batasan.

"Hamba suka tidur sendirian, dan tidak suka ditindih atau dipeluk." Su Xi-er mengakui, matanya tampak berbinar terang.

"Baik, kalau begitu, Pangeran ini akan dipeluk olehmu saat kita tidur; bagaimana?" Ia tersenyum dan berbisik sebelum kembali ke posisi yang tegak. 

0 comments:

Posting Komentar