Sabtu, 10 Januari 2026

CTF - Chapter 213

 Consort of A Thousand Faces

Chapter 213 : Untuk Seumur Hidup


Su Xi-er melihat bibir Pei Qian Hao dan berkata, "Kalau begitu, maka hamba tidak ingin tahu lagi." Kemudian, ia berpindah ke sisi lain kereta kuda, memerhatikan kerumunan di jalanan di bawah melalui celah antara tirai jendelanya.

Wajah Pei Qian Hao menggelap. Apa yang bisa dilihat di jalanan, pria tampan? Ia tidak tahan untuk mengikuti tatapan Su Xi-er setelah memikirkan itu.

Apa yang dilihatnya adalah, Su Xi-er sedang memandangi seorang pria bercadar dan berjubah biru!

Kereta kuda segera berlalu, dan pria berbaju biru menghilang dari pandangan mereka. Namun, Su Xi-er tidak menurunkan kewaspadaannya. Terlalu aneh untuk disebut kebetulan bagiku untuk melihat pria itu di sini dari semua tempat. Intuisiku tidak pernah salah, pria ini bukan pria biasa. Dan jika aku menebaknya dengan benar ... .

Tepat ketika ia jadi melamun, gerutuan rendah Pei Qian Hao mendadak muncul di telinganya. "Seorang pria dewasa mengenakan cadar biru. Apakah karena ia jelek, atau karena ia memiliki beberapa rahasia gelap sehingga ia harus menyembunyikan wajahnya?"

Su Xi-er berbalik dan menatapnya. "Pangeran Hao, Anda banyak sekali bicara hari ini. Menurut Anda, apa yang sedang hamba lihat? Aku hanya sedang melihat jalanannya. Pria apa yang sedang Anda bicarakan?"

Bukannya ia sedang menatap pria berbaju biru? Pei Qian Hao memandanginya dan menemukan bahwa tatapannya jernih. Apa aku yang salah?

"Pangeran Hao, mengapa hamba tidak melihat pria berbaju biru yang baru saja Anda bicarakan? Hamba hanya melihat sebuah kedai yang menjual gulali orang-orangan." Su Xi-er sengaja berbohong, mengetahui bahwa jika ia mengakui pernyataan Pei Qian Hao, pria itu sudah pasti tidak akan melepaskan si pria berbaju biru.

Ia menyadari bahwa setiap kali ia fokus pada pria lain, Pei Qian Hao akan .... Perasaan ini, ia ....

Kebingungan merasuki mata Su Xi-er. Seseorang sesombong dirinya, biasanya tidak akan pernah jatuh cinta pada siapa pun. Namun, ia sudah mengabaikan banyak akal sehat dari hubungan pelayan-majikan yang biasa.

Mendadak, Su Xi-er dipenuhi dengan keinginan untuk mengujinya. Apabila ia sungguh merasa demikian, maka, bagaimana aku harus mengatasinya? Bisakah aku bahkan memercayai seseorang di kehidupan ini, apalagi seorang pria?

Saat Pei Qian Hao melihat ekspresi Su Xi-er, matanya juga menggelap. Ia merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres, tetapi tidak tahu apa itu.

"Pangeran Hao, wanita macam apa yang Anda sukai?" Su Xi-er bertanya secara langsung. Beberapa hal perlu diucapkan secara langsung.

"Sukai?" Pei Qian Hao memandanginya dari atas ke bawah. "Pangeran ini menyukai wanita cantik."

Semua orang mengetahui itu.

Su Xi-er menggelengkan kepalanya dan menatapnya dengan hati-hati. "Pangeran Hao, Anda bukanlah seseorang yang hanya menghargai kecantikan. Apa yang kumaksud adalah seseorang yang Anda cintai. Seseorang yang dapat Anda ukir di dalam hati Anda dan tidak pernah melupakannya selama kehidupan ini. Seseorang yang membuat Anda hanya memikirkan tentang mereka saat Anda melihat mereka."

"Seseorang yang tidak bisa kulupakan? Seseorang yang membuatku hanya memikirkan mereka ketika aku melihat mereka? Seseorang yang berarti dunia bagiku, tetapi menyebabkan dunia kehilangan kemilaunya saat mereka tiada?" Suaranya terdengar dalam dan tenang, tetapi ia sungguh memahami maksud Su Xi-er, bahkan memberikan penjelasan akan cinta.

Tubuh Su Xi-er menegang setelah mendengar ini, ekspresinya membeku. Itu benar, tepat sekali, perasaan seperti itu. Tetapi, bagaimana bisa seorang pria seperti dirinya mengalami perasaan semacam itu?

Namun, mustahil baginya untuk mengucapkan kata-kata begitu kecuali ia sudah pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya.

Pei Qian Hao mendadak terkekeh. "Satu-satunya orang yang seperti itu adalah ibu kandung Pangeran ini, tetapi ia sudah lama sekali meninggal."

Su Xi-er tidak menyangka bahwa pertanyaannya akan membuat Pei Qian Hao terpikirkan soal ibunya. Ini ... masih bisakah aku meneruskan percakapannya?

Tatapan Pei Qian Hao sedikit berubah. Kalau Su Xi-er mendadak menghilang, akankah aku merasa bahwa dunia kehilangan kemilaunya? Saat ia terpikirkan ini, matanya tampak lebih dalam lagi.

"Pangeran Hao, hamba sedang membicarkan mengenai cinta di antara pria dan wanita. Anda ...." Su Xi-er tiba-tiba berhenti dan melambaikan tangannya. "Hamba sudah membuat kesalahan. Pangeran Hao, mohon berpura-pura saja kalau hamba tidak pernah mengatakan apa-apa."

"Kau mau bertanya apakah Pangeran ini mencintaimu?" Pei Qian Hao berbicara secara langsung dengan ekspresi serius di wajahnya.

Su Xi-er menatapnya. Sejujurnya, aku ingin mengetahui jawabannya. Jika ia memang memiliki perasaan seperti itu, maka aku harus melakukan sesuatu soal itu. Ia tidak mengetahui siapa aku sebenarnya.

"Pangeran ini tidak pernah berpikir kalau aku bisa mencintai seseorang di dalam kehidupan ini. Su Xi-er, apabila Pangeran ini jatuh cinta padamu, apa yang akan kau lakukan?" Mendadak, Pei Qian Hao mendekatinya, ekspresinya serius.

Su Xi-er menatapnya dan tiba-tiba berkata, "Pangeran Hao, jika Ning Ru Lan masih hidup, apakah Anda akan jatuh cinta padanya?"

"Mengapa Pangeran ini akan mencintai Ning Ru Lan? Mengapa kau mendadak menyebut-nyebut soal dirinya?"

"Status Pangeran Hao agung, sehingga hamba memikirkan bahwa hanya seorang wanita sekuat itu yang bisa menandingi Anda ...."

Sebelum ia bisa selesai, Pei Qian Hao menyelanya. "Pangeran ini tidak menyukai wanita yang terlalu kuat. Ning Ru Lan terlalu cerdas dan kuat, membuat semua pria jadi tidak handal dibandingkan dengannya. Semua orang bertanya-tanya mengapa Yun Ruo Feng dengan kejamnya membunuh Ning Ru Lan dan membantu si Putri Kedua Kekaisaran yang tak berguna itu untuk merebut posisinya; inilah alasannya."

Semua orang bilang bahwa pria paling bisa memahami satu sama lain. Kali ini, aku mau mendengar sudut pandang Pei Qian Hao.

"Pangeran Hao, hamba tidak memahami apa yang baru saja Anda katakan. Putri Pertama Kekaisaran terdahulu dikagumi oleh semua orang, tetapi mungkin saja ia terpaksa untuk melakukannya."

Pei Qian Hao menyingkirkan ekspresi seriusnya dan tertawa. "Kau bukan dirinya; bagaimana bisa kau mengetahui kalau ia terpaksa? Barangkali, ia sungguh adalah seorang wanita yang kuat dan keras kepala dalam hatinya. Yang perlu kau lakukan untuk melihat nasib dari wanita semacam itu adalah melihat keempat kerajaan di sekitar kita. Tidak ada pria yang mau lampu sorotnya dicuri oleh seorang wanita, terutama bukan untuk seseorang seambisius dan selicik Yun Ruo Feng."

Tatapan Su Xi-er melayang menjauh. Di mata Pei Qian Hao, aku terlalu kuat dan tidak membiarkan keputusanku untuk diubah oleh orang lain. Yun Ruo Feng membenciku karena mengekangnya dengan pengaruhku, dan membunuhku karena alasan itu.

"Saat Ning Ru Lan masih hidup, Pangeran ini tidak pernah menghadiri perjamuan kerajaan Nan Zhao. Bagaimana mungkin aku jatuh hati padanya?"

Tiba-tiba saja, Su Xi-er tertawa dengan kilat cerah di matanya. "Hamba mengerti. Pangeran Hao menyukai wanita berbudi luhur yang hanya mendukung suami mereka, mendidik anak-anak, dan tidak bertanya mengenai urusannya."

Alis Pei Qian Hao agak tertaut. Samar, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan jejak kepahitan dalam senyumnya dariku.

Mengapa senyumannya terlihat pahit? Apakah karena ia juga adalah wanita yang keras kepala dan tangguh dalam hatinya? Meskipun Su Xi-er pemberani dan cerdas, ia tidak seburuk itu ketika dibandingkan dengan Ning Ru Lan yang berpengaruh.

"Su Xi-er." Pei Qian Hao mendadak memanggilnya dengan lembut.

Su Xi-er mendongakkan kepalanya dan menjawab, "Hm?" Suaranya terdengar kecil dan senyumannya lembut; tidak memperlihatkan kepahitan lagi.

"Jangan terus membicarkan tentang cinta dengan Pangeran ini. Pangeran ini berprinsip saat memilih pelayan. Jika kau adalah dayang Pangeran ini, maka itulah dirimu seumur hidup ini." Suaranya tegas dan angkuh.

Itulah dirimu seumur hidup ini; jangan pernah berpikir untuk pergi.

Su Xi-er memandanginya. Karena aku adalah seorang pelayan, maka aku harus melayaninya seumur hidup. Ia begitu congkak, dan ingin mengendalikan semuanya.

"Apa kau mengerti?" Ia membuka mulutnya lagi, menginginkan Su Xi-er untuk berjanji.

Su Xi-er mengangguk. "Hamba mengerti, aku akan menjadi dayang Pangeran Hao dan melayani Anda seumur hidup."

Mengapa ini terdengar seolah ia dipaksa untuk menerima sebuah kompromi? Kilat kejengkelan melintas di mata Pei Qian Hao. "Pangeran ini ingin kau bersedia dengan sepenuh hatimu."

"Pangeran Hao, Anda benar-benar lucu. Siapa yang akan bahagia menjadi seorang pelayan seumur hidupnya?" Su Xi-er menjawab secara langsung tanpa menunjukkannya rasa hormat.

0 comments:

Posting Komentar