Rabu, 28 Juli 2021

CTF - Chapter 110

Consort of A Thousand Faces

Chapter 110 : Berjuang Keras Menemukan


Su Xi-er pergi menuju lantai pertama dan kebetulan berpapasan dengan si pelayan yang sebelumnya. Ia memandanginya cemas. "Apakah Nona-mu mempersulitmu? Pengurus menegurku, dan bilang kalau makanan pencuci mulut dari kedai teh kami ini harus diantarkan sendiri oleh pelayan kami, jadi aku kemari untuk menanyakan ...."

Su Xi-er mengerti niatnya dan mengangguk. "Tidak apa-apa, Nona bilang semuanya lezat. Kau tidak boleh mengganggu mereka, kalau tidak, kau akan menderita karena membuat mereka marah."

"Bagus, baguslah kalau semuanya baik-baik saja." Si pelayan mengangguk beberapa kali sebelum berjalan ke bagian belakang kedai teh untuk melaporkannya pada si pengurus yang tengah memeriksa makanan di dapur.

Su Xi-er berjalan keluar dari kedai teh yang ramai tersebut. Meskipun kehidupan malam di ibu kota Nan Zhao tidak bisa dibandingkan dengan yang ada di Bei Min, tetap saja ramai. Banyak lentera bunga bisa terlihat di kejauhan dan kios-kios pembuat permen gula pun tampak di dekatnya.

(T/N : banyak desain lentera bunga, ini beberapa contohnya :

Lentera Berbagai Variasi

Contoh permen gula.)

Permen Gula

Meskipun kebanyakan orang yang berjalan di sekeliling adalah pria, ada pula beberapa bibi. Namun, selain putri-putri dari keluarga miskin yang sedang membantu keluarga mereka merapikan kios, ada pula beberapa gadis yang muncul.

Kecuali diharuskan, selalu muncul di depan umum seperti kedua nona dari Keluarga Wei itu merupakan hal langka bagi gadis di Nan Zhao.

Jalanannya dipenuhi aroma yang familier. Su Xi-er menarik napas dalam-dalam dan memandangi bulan purnama di atas langit. Aku datang lagi kemari, dengan hati dipenuhi kebencian, tetapi itu sudah berubah sedikit. Meskipun kebencianku tidak berkurang, suasana hatiku sudah membaik.

Para wanita jalang itu akan diurus tepat waktu, pastinya akan terkena pukulan keras kala waktunya tiba.

Sudut mulut Su Xi-er terangkat saat ia melihat beberapa anak kecil sedang bermain-main dengan lentera bunga sewaktu ia berjalan menuruni jalanan.

Salah satu anak lelaki berteriak, "Jangan bergerak, adik perempuanku menginginkan lentera kelinci ini. Ia tidak boleh meninggalkan rumah, jadi aku akan membawakan ini untuknya."

Anak lelaki satunya pun langsung melepaskannya, beberapa bahkan bergumam, "Kau terus-terusan membicarakan soal adik perempuanmu, sombong hanya karena kau punya adik ... Aku akan meminta orang tuaku memberikanku adik perempuan juga."

Percakapan kekanakan ini, dipenuhi dengan kepolosan, membuat orang entah ingin tertawa atau menangis.

Si anak lelaki meminggirkan lenteranya dan berbalik pulang ke rumah, tetapi tanpa sengaja bertumburan dengan Su Xi-er. Ia mendenguskan hidung kecilnya, menatap Su Xi-er dan tiba-tiba saja bertanya, "Jie Jiekesulitan apa yang kau hadapi? Kenapa wajahmu kotor sekali?"

(T/N : Jie jie adalah panggilan untuk kakak perempuan.)

Su Xi-er tertawa. "Aku bekerja kasar, jadi wajar saja kalau wajahku kotor. Cepatlah pulang dan bawakan lentera bunganya untuk adik perempuanmu."

Anak lelaki itu pun terkikik. "Jie Jie, kalau kau menginginkan sebuah lentera bunga, pulang dan carilah kakak lelakimu." Ia tersenyum lagi sebelum berlari pulang ke rumahnya.

Pulang dan carilah kakak lelakimu ... Su Xi-er tertawa masam, Aku tidak punya kakak lelaki, hanya adik lelaki.

Namun, Lian Chen tidak pernah menyukai lentera bunga. Ia selalu bilang kalau mereka ada sesuatu yang disukai anak perempuan, dan ia akan menjadi seorang pria dewasa yang kuat. "Kakak, aku akan jadi orang yang melindungimu di masa depan."

Ia teringat, tepat setelah Lian Chen mengatakan ini, ia jatuh dan mematahkan satu giginya.

Sudut mulut Su Xi-er pun terangkat dengan sendirinya, ia baru tersadar lagi saat mendengar seorang penjaja menyebut kata-kata 'Ning Ru Lan'.

"Ning Ru Lan pantas mati. Para pria di Nan Zhao paling mempedulikan tentang reputasi mereka, tetapi ia menginjak-injak mereka semua di bawah kakinya. Tahu rasa dia."

"Sulit dikatakan; bukankah agak kelewatan, diusir keluar dari rumah tangga kekaisaran?"

"Kelewatan? Sama sekali tidak, jasadnya bahkan tidak dimakamkan di Makam Kekaisaran. Aku tidak tahu kemana jasadnya. Mungkinkah mereka menjadikannya makanan serigala?"

Penjaja lain langsung menggelengkan kepala mereka dan menghela napas, tetapi beberapa lagi terus mengatakan kalau ia pantas menerimanya.

Su Xi-er mendengarkan dalam diam, seolah ini tidak ada hubungan dengan dirinya.

Ia tenang—tenang hingga batas terasa ada aura mengerikan dingin mengelilinginya. Beberapa penjaja yang terlibat dalam diskusi panas itu berhenti bicara dan menatap Su Xi-er.

Wanita ini, apa yang terjadi padanya? Satu tatapan ke arahnya sudah membuat mereka panik.

Setelah beberapa waktu, para penjaja itu tak tahan lagi. Wanita ini punya aura mengerikan seperti mayat hidup. Walaupun mereka ingin meneruskan percakapan mereka, lidah mereka mendadak terasa seolah menempel di mulut mereka.

Su Xi-er menyadari kalau para penjaja itu bertingkah aneh dan langsung memandangi sekitar. Di ujung jalan di depannya, ia melihat sosok biru.

Pria berbaju biru? Apakah ia menyerang para penjaja? Mengapa ia melakukannya? Hanya karena mereka membicarakan Ning Ru Lan?

Pertanyaannya berputar-putar di kepalanya, Su Xi-er mengikutinya menuju jalan lain. Memang dirinya, pria dengan topi dan cadar biru.

Ia memperhatikan selagi pria itu masuk ke dalam toko obat, memutuskan menunggunya untuk keluar di luar. Akan tetapi, setelah menunggu sekian lama, ia tidak pernah melihat pria itu keluar.

Alhasil, Su Xi-er memutuskan masuk ke dalam toko obat, hanya menemukan seorang tabib tengah membungkus obat-obatan. Dimana si pria berbaju biru?

Saat si tabib melihat ia seperti sedang mencari seseorang, ia pun memanggilnya, "Nona, tidak ada siapa-siapa lagi di sini. Apakah kau sedang mencari obat-obatan?"

Su Xi-er menggelengkan kepalanya. "Ada seorang pria berbaju biru yang datang beberapa waktu lalu. Kemana perginya dia?"

"Nona, siapa dia bagimu? Suamimu?"

Su Xi-er menggelengkan kepala. "Bukan, kami tidak berhubungan, tetapi ia berutang uang padaku. Walaupun tidak banyak, tetap harus dikembalikan."

Si tabib pun mengerti. "Ia pergi lewat pintu belakang dan mengambil banyak obat bersamanya. Ia pasti meminjam uang darimu untuk membeli obat-obatan untuk mengobati luka akibat sayatan pedang."

Su Xi-er mengangguk dan bertanya, "Aku sedang terburu-buru ingin menagih utang tersebut, bolehkah aku pergi lewat pintu belakang toko obat ini?"

Si tabib mengangguk, menunjuk dengan jarinya. "Buka tirai itu dan berjalanlah ke belakang. Akan ada pintu kecil setelah kau melewati halamannya; keluar saja dari sana."

Mengikuti arahan si tabib, Su Xi-er langsung berjalan menuju pintu belakang.

Keluar dari bangunan tersebut, ia menemukan jalan yang ditemuinya sangatlah senyap, berbeda jauh dengan jalanan utama ramai tempatnya sebelumnya. Bahkan suara langkah kakinya bisa terdengar jelas sewaktu ia menginjak kerikil yang ada di jalannya.

Su Xi-er berjalan kesana-kemari, tak menemukan tanda-tanda dari orang yang dicarinya, hingga akhirnya ia menemukan beberapa sisa obat-obatan di atas tanah yang pastinya terjatuh dari buntalan yang dibawa si pria.

Mengikuti remahan obat, ia dibawa hingga menuju pintu masuk sebuah gang. Tepat saat ia akan masuk, suara seorang pria mendadak datang dari belakangnya.

"Nona, apa yang sedang kau rencanakan dengan berusaha keras menemukanku? Orang rendahan ini tidak pernah melihat seorang wanita yang mengejar-ngejar seorang pria tak dikenalnya."

Su Xi-er berbalik, menemukan si pria berbaju biru berdiri di hadapananya. Ia tidak berniat menyembunyikan apapun dan langsung bertanya, "Mengapa seorang pria dewasa mengenakan cadar? Hanya wanita yang akan memakainya."

Pria berbaju biru itu tertawa. "Nona, apa hubungannya denganmu, apakah orang rendahan ini memakai cadar atau tidak?"

"Apakah kau adalah orang yang melakukan sesuatu untuk menghentikan para penjaja tadi berbincang barusan ini?" Su Xi-er memandanginya saksama dan hanya bisa melihat matanya.

"Kau berusaha keras menemukanku, hanya untuk menanyaiku ini?" Suara pria berbaju biru itu murni terisi dengan sejejak aura yang dalam.

Tiba-tiba saja, Su Xi-er merasa kalau suara ini familier. Akan tetapi, ia tidak bisa mengingat dengan pasti dimana ia pernah mendengarkan suara ini sebelumnya, karena tidak ada pria spesial dalam kenangannya.

"Mengapa kau melakukan itu pada para penjaja? Itu hanya ...." Su Xi-er berhenti dan memandanginya cermat, tetapi ekspresinya tidak berubah.

"Nona, orang rendahan ini berkelana di seluruh empat kerajaan demi mengobati dan menolong orang. Mengapa aku melakukan sesuatu untuk menyakiti para penjaja? Bagaimana kalau kau beritahu aku, mengapa aku akan berbuat demikian?"

Continue reading CTF - Chapter 110

Senin, 26 Juli 2021

CTF - Chapter 109

Consort of A Thousand Faces

Chapter 109 : Kebenaran


Kebanyakan pelanggan yang berkumpul di lantai satu kedai teh di malam hari punya pekerjaan harian di siang hari, jadi para pelayannya tidak terkejut maupun jijik saat mereka melihat Su Xi-er dengan wajah penuh kotoran.

Su Xi-er menggelengkan kepalanya. "Aku sudah makan. Aku hanya melihat kedai teh ini tampak ramai dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat."

Si pelayan pun langsung mengerti dan mengangguk. "Kau kemari untuk melihat apa yang sedang ramai diperbincangkan, bukan? Dengarkan baik-baik, hari ini jauh lebih meledak dari biasanya karena urusan ini berhubungan dengan Putri Pertama Kekaisaran terdahulu!" Si pelayan pun pergi sembari tersenyum.

Semenjak Putri Pertama Kekaisaran terdahulu, Ning Ru Lan, diusir dari rumah tangga kekaisaran dan dibunuh, tidak ada seorang pun yang berani menyebut-nyebut namanya di depan umum. Tidak jelas siapa yang memulai rumor ini, tetapi itu tidak penting lagi. Apa yang penting sekarang adalah itu memberikan semua orang alasan untuk mendiskusikan topik itu dengan bersemangat, melepaskan rasa ingin tahu mereka yang membuncah dan haus akan gosip.

Semua orang terus bertukar omongan di dalam kedai tehnya, dengan topik seputar Ning Ru Lan. Beberapa bahkan menyebutkan tentang kinerjanya di medan perang, tentang bagaimana ia menyusun tipu muslihat dan bekerja sama dengan Pangeran Yun. Akan tetapi, segera setelahnya, semua orang mulai menghela napas.

"Apabila Ning Ru Lan melunakkan sedikit saja prestasi luar biasanya, barangkali menahan diri menampilkan keahliannya begitu awal, para menteri di mahkamah mungkin tidak akan menargetkannya. Aku pikir, Pangeran Yun masih punya perasaan terhadapnya, tetapi ia dipaksa membunuhnya karena tidak punya pilihan."

Su Xi-er memandang ke arah si pria paruh baya yang membagikan opininya. Ia sudah di usia segitu, tetapi ia cukup banyak berkontempelasi. Yun Ruo Feng sudah berencana membunuhku, jadi mana mungkin ia dipaksa hingga tidak punya pilihan?

"Aku ahlinya berpura-pura. Berpura-pura bahwa aku sangat mencintaimu." Aku akan selalu mengingat kata-kata ini. Akan tetapi, sekarang setelah aku datang ke Nan Zhao, ada hal yang tidak kumengerti. Bukankah semestinya Yun Ruo Feng dan Ning An Lian mempercepat pernikahan mereka? Mereka saling mencintai; belum lagi karena Ning An Lian sedang mengandung. Jika mereka terus menundanya, perutnya akan membesar. Di saat itu, meski jika mereka berniat bersama-sama, para menteri keras kepala itu bisa menghalangi mereka bersama-sama berdasarkan peraturan dasar Nan Zhao.

Itu akan memperlihatkan bahwa mereka tidak mematuhi peraturan, dan melanggar prinsip dasar kerajaan.

"Tepatnya, berapa banyak orang yang pernah melihat rupa si gadis cantik yang tak tertandingi itu? Apakah ia benar-benar mirip dengan Ning Ru Lan? Kalau aku tahu, aku tidak akan pergi bekerja, tetapi bergegas kemari, berjongkok di jalanan menantikannya."

Tepat setelah ia berbicara, terjadi kegemparan di seluruh kedai tehnya. Banyak orang tertawa terbahak-bahak dan berkata ia tidak punya keberuntungan melihat si cantik itu.

Beberapa bahkan langsung berkomentar, "Aku sudah pernah melihatnya sebelumnya. Apa ya, pepatahnya? 'Wanita ini begitu halus dan cantik hingga ia hanya mungkin ada di Kahyangan. Akan sulit menemukan yang seperti dirinya di dunia manusia'."

"Woah, bahkan seseorang seperti dirimu yang memelihara babi saja bisa mengutarakan kalimat ini."

"Memelihara babi juga butuh mempelajari sedikit dari guru pendongeng. Wanita zaman sekarang ini semuanya menyukai pria bermulut manis. Aku sudah berusia 30 tahun, dan ibu tuaku di rumah sudah mengomeliku. Ia tidak mengharapkan aku dapat menikahi seorang wanita cantik kelas atas, tetapi berharap agar paling tidak, aku dapat menikahi seorang istri yang berbudi luhur." Pria itu pun terkikik.

"Omong-omong tentang berbudi luhur, kita, para warga Nan Zhao menyukai wanita yang menjaga peranan mereka dan mengurusi urusan rumah tangga. Tak peduli seberapa berharganya kedua nona dari Keluarga Wei itu, siapa yang akan menikahi mereka? Bukan hanya wajah mereka lebih parah dari orang biasa, mereka bahkan bertemperamen sok dan suka memerintah."

Dalam sekejap, semua orang mendiskusikan kedua nona dari Keluarga Wei, bahkan mengemukakan tentang bagaimana si gadis cantik tiada tara memaksa mereka mundur dengan kebijaksanaannya.

Sementara Su Xi-er mendengarkan dalam diam, ia terus mengamati keadaan sekitarnya. Kedai teh ini merupakan yang terbesar di Nan Zhao, dengan total tiga lantai. Lantai pertama untuk menghibur orang-orang biasa, lantai kedua untuk putri-putri dari keluarga bangsawan, dan lantai ketiga khusus untuk melayani orang-orang berkuasa.

Orang yang memulai rumor itu pasti ada di sini. Aku hanya tidak yakin apakah mereka berada di lantai kedua ataukah ketiga.

Su Xi-er menatap ke lantai atas dan meneliti keadaan sekitarnya, menangkap sekelebat sosok biru di dekat tirai pintu di lantai kedua. Aku rasa, sepertinya aku pernah melihat orang ini dimana sebelumnya. Sewaktu ia terus berpikir, orang itu sudah menghilang dari pandangan.

Melihat ke arah tirai pintu yang bergoyang, Su Xi-er kembali tersadar. Orang itu benar-benar mirip dengan pria berbaju biru yang kulihat di pinggiran kota. Ia tidak meninggalkan jejak saat datang dan pergi secara misterius.

Kini, ia juga muncul di lantai kedua kedai teh. Apakah ia terkait dengan insiden ini?

Kebingungan, Su Xi-er ingin pergi ke lantai dua untuk menjelajah, tetapi pakaiannya saat ini tidak akan memperbolehkanya masuk.

Kebetulan, seorang pelayan membawakan nampan dan menuju ke lantai dua, berjalan melewatinya, mendorong Su Xi-er menarik lengan bajunya. "Kau membawakan ini untuk Nona-ku, kan?"

Si pelayan mencibir dan merendahkan suaranya. "Kau gadis pelayan dari Kediaman Wei?"

Jadi, ternyata, kedua nona dari Keluarga Wei berada di lantai dua kedai teh ini. Ini berarti, mereka juga sudah mendengar semua kritikan yang diarahkan pada mereka di lantai pertama barusan ini.

Menahan temperamen mereka dan menahannya sekian lama tidaklah mudah.

"Kepribadian Nona-mu sangat berbeda. Kenapa ia masuk dari pintu belakang kedai teh hari ini?" Si pelayan ini sederhana dan jujur, dan melihat kalau Su Xi-er hanya seorang pelayan, ia merasa tidak perlu untuk berbohong padanya.

Terlebih lagi, siapa yang akan dengan senang hati menyamar sebagai gadis pelayan dari wanita yang tak bisa dikendalikan!

Su Xi-er menggelengkan kepalanya. "Biarkan aku mengantarkannya. Nona sedang tidak dalam suasana hati yang baik hari ini. Kalau kau masuk, kau mungkin tidak akan bisa lolos dari pukulan."

Si pelayan pun ketakutan mendengarkan ucapan Su Xi-er dan segera menyerahkan nampan tersebut padanya. "Kalau begitu, kau pergi saja. Aku tidak ingin kena getahnya."

(T/N : kalimat aslinya adalah I'm not accepting this hot potato, yang kalau diartikan langsung menjadi : aku tidak akan menerima kentang panas ini. Ini semacam ungkapan, kalau ia tidak bersedia terlibat dalam hal merepotkan.)

Dengan demikian, Su Xi-er membawa nampannya ke lantai dua. Karena ia tidak tahu pasti ruangan mana tempat kedua wanita dari Keluarga Wei itu berada, ia memutuskan akan memeriksanya satu per satu saja.

Akan tetapi, tujuan utamanya adalah si pria berbaju biru.

Ketika ia mencapai ruangan di pojok, ia langsung mendengar seruan tajam suara seorang wanita sebelum suaranya segera turun jadi bisikan yang pelan.

"Tidakkah kita sudah membuat terlalu banyak kericuhan dengan ini? Biar bagaimanapun juga ...."

"Investigasi mereka tidak akan sampai pada kita. Ning An Lian pasti akan mencari masalah dengan si wanita penggoda itu. Selama kita bisa menghukum si penggoda itu, kita tidak perlu takut meski jika mereka mengetahui bahwa kitalah yang menyebarkan rumornya. Walaupun kita tidak terhubung darah, sebagai kerabat Kakak Wei, hal itu akan melindungi kita."

Su Xi-er menguping seluruh percakapan mereka. Jadi, kedua orang inilah yang menyebarkan kabarnya. Berani sekali.

Aku bisa mengambil kesempatan ini, memberikan mereka pelajaran malam ini, dan membiarkan mereka tahu bahwa, ada beberapa kata yang tak boleh sembarangan diucapkan.

Su Xi-er mengetuk pintunya, mendorong Wei Pan berkata, "Masuk."

Setelahnya, Su Xi-er membawakan nampan dengan kepala tertunduk. Kemudian, ia menggunakan kakinya untuk menutup pintu kamar.

Saat Wei Pan menyadari tingkahnya, seketika itu juga menghasilkan ketidakpuasannya. "Sungguh ada orang sepertimu yang tanpa sopan santun di kedai teh ini. Memangnya kau tidak tahu caranya menutup pintu menggunakan tanganmu? Sikap macam apa ini? Apa kau tahu siapa kami?"

Su Xi-er terus menundukkan kepalanya selagi menjawab sopan, "Tentu saja aku tahu Nona berdua berasal dari Keluarga Wei."

Ia menurunkan nampannya, mengambil semangkuk sup hangat, dan dengan cepat menyiramkannya ke atas kepala Wei Yue.

Sebelum Wei Yue bahkan bisa menangis, ia sudah dibuat pingsan oleh Su Xi-er.

Wei Pan mulai gemetaran, jarinya menunjuk ke arah Su Xi-er. "Siapa kau? Kita tidak pernah punya dendam terhadap satu sama lain ...."

Kepala Su Xi-er masih tertunduk seraya berbicara dengan suara rendah dan dalam yang dibanjiri dengan aura berbahaya. "Anggap saja dirimu beruntung karena aku bersikap lunak dengan tidak mencabut lidahmu. Ada beberapa kata yang tidak sepatutnya terucap."

Wei Pan langsung mengaitkannya dengan kabar itu. Ning An Lian tidak secerdas itu untuk menemukan kami dengan begitu cepatnya!

Jangan bilang kalau ....

Tepat saat Wei Pan ingin mengatakan sesuatu, ia merasakan sakit di bagian belakang lehernya dan pingsan.

Su Xi-er menepuk-nepuk keliman bajunya, kemudian menarik kain dekorasi di dalam ruangan, dan dengan cepat mengikat Wei Pan dan Wei Yue bersama-sama. Ia bahkan menggulung sepotong kain besar dan menjejalkan masing-masing satu gumpalan ke dalam mulut mereka.

Ini hanyalah hukuman ringan. Kalau mereka masih berani dengan sembarangan memulai rumor di masa mendatang, aku bahkan akan mencabut nyawa mereka.

Setelah semuanya beres, Su Xi-er mundur dari kamar dan melihat ke sekeliling lantai dua lagi. Akan tetapi, ia tidak menemukan sosok biru itu kali ini.

Oleh karenanya, ia menuju ke lantai pertama.

Tepat saat ia mencapai lantai pertama, tirai pintu di lantai dua bergerak. Seorang pria berbaju biru bersembunyi di baliknya, diam-diam memerhatikan Su Xi-er sebelum pandangannya beralih menuju ruangan tempat dimana kedua nona dari Keluarga Wei berada.

Continue reading CTF - Chapter 109

CTF - Chapter 108

Consort of A Thousand Faces

Chapter 108 : Kehebohan


Sepotong kabar ini membangkitkan banyak kehebohan, dan segera saja menyebar ke Kediaman Tuan Tanah Wei. Si putri pertama resmi, Wei Pan, tengah memandangi makanan mewah di atas meja. Tidak mampu menahan godaan, ia baru saja akan memakan beberapa suap saat mendengarkan angin dari kabar ini. Kemarahan pun meluap dalam dirinya, ia langsung melemparkan semua hidangan itu ke lantai.

Bukankah itu hanya karena ia cantik saja? Setelah aku mengurus, aku pasti akan jadi wanita cantik.

Di saat ini, adik perempuan kelahiran selir ayahnya, Wei Yue, berjalan mendekat, berbalutkan gaun berhias pola bunga peoni. "Jie jie, aku sudah memikirkannya baik-baik. Kita berdua tidak boleh bertengkar dan saling menyumpahi, kalau tidak, kita hanya akan membuat malu Keluarga Wei. Mulai dari sekarang, kita berada di perahu yang sama, dan harus mengerahkan tenaga dalam menghadapi wanita penggoda itu."

(T/N : jie jie : kakak perempuan.)

Wei Pan menatapnya tercengang. "Wanita penggoda apa?"

Wei Yue tertawa. "Orang yang kita jumpai pagi ini. Yang sangat cantik itu, memangnya kenapa kalau ia bukan penggoda? Semua orang berhak membunuh wanita penggoda! Kita harus menegakkan keadilan atas nama Langit dan menghancurkannya!" Kebencian terpancar di mata Wei Yue. Ia bahkan berani menyuruhku kembali dan mengobati penyakit tersembunyiku. Aku tidak punya penyakit tersembunyi!

"Apa yang kau katakan benar, tetapi kita tidak tahu siapa dia, dimana ia tinggal, maupun apa identitasnya. Bagaimana kita akan menghancurkannya?"

Wei Yue mencibir dan mencemooh sarkas, "Aku tidak percaya kalau para rakyat jelata itu sungguh mengatakan kalau penggoda itu adalah gadis cantik yang tiada tandingannya. Mereka anggap apa Putri Pertama Kekaisaran kita?"

Wei Pan langsung mengerti isyratnya. "Maksudmu adalah, kita harus meminjam tangan Putri Pertama Kekaisaran untuk menghukum si wanita penggoda itu?"

"Jie jie, akhirnya kau mengerti juga. Sebagai wanita tercantik Nan Zhao, Putri Pertama Kekaisaran terobsesi pada penampilannya. Kita hanya perlu sedikit mengubah kabar anginnya dan membumbuinya sebelum sampai ke telinga Putri Pertama Kekaisaran." Setelahnya, Wei Yue membisikkan sesuatu ke telinga Wei Pan.

Dalam sekejap, hawa dingin meliputi mata mereka. Wanita penggoda, tunggu saja kematianmu yang tak terhindarkan. Saat Putri Pertama Kekaisaran mengamuk, kau pasti akan habis!

Setelah satu sore penuh rumor berlebihan, kisahnya pada akhirnya menjadi : Seorang gadis cantik tak tertandingi datang ke Nan Zhao. Karena kecantikannya setara dengan Ning Ru Lan, Putri Pertama Kekaisaran yang sekarang sudah jelas bukan tandingannya.

Melibatkan Ning Ru Lan, seseorang yang telah diusir dari rumah tangga kekaisaran, urusan ini tak lagi sederhana.

***

Sementara itu, Su Xi-er sudah lama tiba di rumah pos ibu kota. Ia tidak bertemu dengan Pei Qian Hao, sebaliknya ditugaskan ke halaman belakang, mengerjakan pekerjaan kasar. Bukan mencuci pispot ataupun mencuci baju, tetapi sesuatu yang belum pernah dilakukannya—membelah kayu bakar.

Membelah kayu bakar biasanya adalah pekerjaan pria, jadi pengawal kekaisaran dari Kediaman Pangeran Hao tercengang karena Pangeran Hao menyuruh Su Xi-er melakukannya.

Su Xi-er memandangi kapak di samping dan mengangkatnya sebentar, merasa itu agak berat. Aku tidak punya pengalaman membelah kayu bakar, yang artinya, aku harus meminta panduan dari orang lain. Membelah kayu bakar butuh keterampilan. Sembarangan membelahnya hanya akan menghasilkan potongan-potongan yang tidak rata, atau bahkan bisa menghancurkan kakimu sendiri.

Oleh karena itu, Su Xi-er berjalan ke arah satu pengawal kekaisaran. "Tolong ajari aku caranya membelah kayu bakar. Kalau tidak, aku tak akan bisa menyelesaikan tugas yang diberikan Pangeran Hao."

Pengawal itu pun menggaruk kepalanya. Sulit menolak permintaan seorang gadis cantik, tetapi ... akan lebih baik untuk tidak ikut campur dalam urusan ini.

Melihat si pengawal tak bergerak, Su Xi-er pun tidak mempersulitnya. Selagi ia berjalan kembali ke kayu-kayu bakar itu, tanpa sadar ia teringat akan Ruo Yuan. Ia adalah ahlinya dalam membelah kayu bakar.

Tiba-tiba saja, ia mengerti kenapa Pangeran Hao menyuruhnya membelah kayu bakar. Ia ingin agar aku mengingat Ruo Yuan, memperingatkanku, apabila aku tidak mendengarkannya, baik Hong Li dan Ruo Yuan akan menanggung akibatnya.

Alis ramping Su Xi-er agak berkerut selagi ia mengambil kapaknya dan mengayunkannya, sepenuhnya melewatkan targetnya. Si pengawal yang ada di sisinya tak sanggup menonton lebih lama, dan memalingkan kepalanya. Apa yang tak diduganya adalah melihat kawannya berlari ke arahnya dengan tampang gelisah di wajahnya.

"Apabila Pangeran Hao melihat betapa bingungnya dirimu, ia akan menegurmu."

Saat si pengawal berhenti di jalannya, bahkan suaranya saja ikut jadi pelan. "Aku menangkap kabar yang belum diketahui Pangeran Hao. Ada sebuah rumor yang beredar, mengatakan kalau ada seorang gadis cantik tak tertandingi yang datang ke Nan Zhao. Mereka bilang ia sama cantiknya dengan Putri Pertama Kekaisaran terdahulu, Ning Ru Lan, dan berkali lipat lebih cantik ketimbang Putri Pertama Kekaisaran yang sekarang ini, Ning An Lian. Bagaimana menurutmu? Kita baru saja sampai di Nan Zhao, dan si gadis cantik ini juga sampai berbarengan setelah kita. Jika Pangeran Hao mengetahuinya, akankah ia ...."

Sebelum ia bisa menyelesaikannya, ia diinterupsi oleh pengawal lainnya. "Kau sebegitu waspadanya dan menghebohkan masalah kecil begini. Dari apa yang kulihat, kaulah yang diam-diam gatal ingin melakukan sesuatu, bukan? Apanya yang hebat dengan si cantik itu, bukankah ada—"

Si pengawal yang sedang berbicara menangkap Su Xi-er tengah memandanginya dan langsung menutup mulutnya. Hampir saja kukatakan dengan lantang.

Setelah pengawal yang panik itu melihat Su Xi-er, ia memahami situasinya dan langsung menarik kawannya pergi. "Kemari, pergi minum-minum. Aku dengar orang-orang bilang, ada satu jenis anggur di Nan Zhao yang lumayan enak."

Su Xi-er meletakkan kapaknya di atas sebuah meja kayu bundar. Bagaimana bisa ada kabar semacam ini? Siapa si cantik itu? Orang yang memulai rumor ini, pasti punya niat jahat. Lagipula, tak ada yang lebih jelas dariku bahwa nama 'Ning Ru Lan' sudah menjadi hal tabu di Nan Zhao. Semua orang dilarang mengucapkan kata-kata itu maupun mendiskusikannya.

Alasannya sangat sederhana. Diam-diam Su Xi-er mencemooh. Ning Ru Lan adalah seorang pendosa.

Dengan begitu, hanya Su Xi-er yang tertinggal di halaman belakang selagi ia membelah kayu bakar dalam diam hingga matahari terbenam, dan bulan yang bundar merayap naik ke langit.

Memandang ke atas ke bulan purnama di atas langit, Su Xi-er hanya bisa tertawa. Bulan purnama. Pertemuan kembali.

(T/N : Bulan purnama mencakup makna pertemuan kembali.)

"Su Xi-er, pergilah makan malam. Jatahmu sudah disisakan. Pangeran Hao telah masuk istana, dan kita tak akan tahu kapan ia akan kembali."

Ia sudah memasuki istana kekaisaran bahkan sebelum perjamuan kerajaan Nan Zhao dimulai.

Su Xi-er mengangguk ke arah si pengawal. Sebagai satu-satunya wanita di dalam rombongan, tak bisa dipungkiri lagi, ada banyak ketidaknyamanan dalam kehidupan sehari-harinya.

Sampai di aula makan, Su Xi-er menyendokkan semangkuk kecil nasi dan merenung sementara ia makan. Setelah Pei Qian Hao masuk istana, akan ada banyak formalitas sewaktu istana kekaisaran menyambutnya, menyebabkannya tak akan bisa kembali hingga larut sekali malam ini.

Aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menggali lebih banyak mengenai rumor itu. Sebenarnya siapa yang akan menyebarkan hal semacam itu? Dengan keputusan yang dibuatnya, tiba-tiba saja terpikirkan oleh Su Xi-er, ia tidak bisa keluaar dengan memakai baju ini.

Selain dari pengawal kekaisaran Kediaman Pangeran Hao, ada juga beberapa pesuruh dan juru masak wanita di rumah pos ini. Semua orang memanggilnya Bibi.

Karena bibi itu bertubuh kecil, aku bisa memberinya beberapa perak dan meminjam satu set pakaiannya untuk kupakai.

Menghabiskan makan malamnya, Su Xi-er pergi mencari Bibi. Yang tidak diduganya adalah si Bibi tidak ada, tetapi bajunya tergantung di luar. Karena waktunya sempit, Su Xi-er tak punya pilihan selain mengambil bajunya dan cepat-cepat kembali ke kamarnya, berganti pakaian.

Tidak ada seorang pun yang memperhatikan orang lain di malam hari, terlebih lagi seorang wanita. Semua pengawal mengira kalau ia adalah si juru masak wanita, dan tidak repot-repot memeriksanya dengan saksama sebelum membiarkannya pergi dari rumah pos.

Su Xi-er berjalan ke ujung tembok dan mengoleskan abu dari tembok ke wajahnya sebelum berjalan menuju arah kedai teh.

***

Sangat ramai di dalam kedai tehnya. Tidak ada banyak kursi kosong tersisa, jadi pelanggan baru hanya bisa memesan beberapa camilan dan berdiri di satu sisi untuk memakannya.

Dengan baju kasar Su Xi-er dan abu yang dipoles di wajahnya, ia tampak sangat suram. Ada pula beberapa pelanggan di kedai teh yang melakukan pekerjaan kasar; ucapan orang-orang ini bisa didengar melalui dengungan ramai percakapan sementara mereka menyantap hidangan di atas meja dengan lahapnya.

"Mungkinkah si gadis cantik tiada tara hari ini sungguh bisa dibandingkan dengan Ning Ru Lan? Aku bukan orang yang mengatakannya, tetapi Ning Ru Lan merupakan yang tercantik di Nan Zhao. Walaupun ia sudah mati, ia tetap yang paling cantik di hati kita." Seorang pria bertubuh kekar dengan kepala pusing datang dari kedai sebelah, terdapat bau alkohol pada dirinya.

Beberapa orang lain yang ada di sana pun melemparkan pandangan bermakna padanya. "Apa kau sudah bosan hidup? Si cantik nomor satu di Nan Zhao sekarang ini sudah jelas adalah Putri Pertama Kekaisaran, Ning An Lian. Darimana datangnya Ning Ru Lan ini?"

Su Xi-er mendengarkan dalam diam sementara ia berdiri di sudut kedai teh.

Seorang pelayan melihatnya dan segera mendekatinya. "Nona, apa yang ingin kau makan?"

Continue reading CTF - Chapter 108

CTF - Chapter 107

Consort of A Thousand Faces

Chapter 107 : Kecantikan yang Menakjubkan



Sebaris kereta kuda dan gerobak kerbau berhenti di atas rerumputan, tak lama diikuti oleh banyak pengawal kekaisaran yang mulai membawa pergi mayat-mayat tersebut.

Saat seorang pengawal melihatnya, ia langsung menunjuk ke arah kereta kuda di bagian depan. "Apakah kau adalah dayang Pangeran Hao, Su Xi-er?"

Su Xi-er mengangguk, mendorong pengawal itu terus berbicara, "Cepatlah naik ke kereta kuda itu dan menuju rumah pos ibu kota. Pangeran Hao tidak punya kesabaran sebanyak itu."

Pengawal lain langsung berjalan ke depan kereta kuda dan mengangkat cambuk kuda sebelum mendesaknya agar cepat-cepat naik. "Cepatlah."

Segera saja, Su Xi-er duduk di dalam kereta kuda, mulai menghilang ke kejauhan, menuju ibu kota Nan Zhao.

Di balik pepohonan, pria berbaju biru agak menyipitkan matanya. Namanya adalah Su Xi-er, dan ia adalah dayang Pangeran Hao dari Bei Min.

***

Dalam waktu kurang dari satu jam, kereta kudanya memasuki ibu kota Nan Zhao. Su Xi-er pun tak tahan untuk menyibakkan tirai kereta kuda, memandangi pemandangan di sepanjang jalannya. Tampak sama seperti yang diingatnya, dengan orang-orang berjalan mondar-mandir, penjaja dagangan berteriak, restoran dan kedai teh dipenuhi pengunjung, begitu pula dengan anak-anak kecil yang bersenda-gurau di depan kios-kios.

Akan tetapi, jalanan ini lebih lebar daripada yang dulu. Yun Ruo Feng pasti mengutus orang untuk merenovasi jalanan ibu kota sebelum perjamuan kerajaan untuk memamerkan kekuatan Nan Zhao.

Dengan kereta kuda yang melambat dikarenakan banyaknya warga sipil, Su Xi-er mengambil kesempatan untuk mengamati keadaan terkini di ibu kota. Biar bagaimanapun juga, ini adalah tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan, menghadirkan rasa nostalgia yang membuncah. Namun, perasaan ini ternoda oleh sejejak kebencian.

Tatapan Su Xi-er pelan-pelan melayang ke arah istana kekaisaran berada.

Tiba-tiba saja, kereta kudanya berhenti padahal masih belum sampai di rumah pos.

(T/N : rumah pos di sini adalah penginapan untuk para pelancong yang berpergian menggunakan kereta kuda, menunggang kuda, juga untuk tempat menginap bagi para pembawa surat.)

"Aku tidak yakin apa yang terjadi di depan sana, tetapi kereta kudanya tidak bisa lewat, jadi kita hanya bisa menunggu."

Su Xi-er mengangguk sebelum mengangkat tirai kuda dan turun. "Tunggu di sini. Aku akan ke depan melihatnya."

Sebelum pengawal bisa menghentikannya, Su Xi-er sudah mulai berjalan ke depan. Hanya setelah beberapa meter saja, ia menemukan segerombolan orang di jalanan. Jadi kerumunan orang-orang inilah yang menghalangi jalannya.

Su Xi-er menerobos maju ke bagian depan kerumunan, hanya melihat dua wanita saling mencerca satu sama lainnya di tepi jalanan. Akan tetapi, alasan keduanya saling melemparkan umpatan satu sama lain adalah ....

Seorang wanita paruh baya di samping menggelengkan kepalanya. "Pangeran Hao dari Bei Min baru saja tiba di Nan Zhao, dan mereka sudah memperebutkannya karena cemburu. Orang yang diperdebatkan saja tidak mengatakan akan membawa mereka."

Su Xi-er mengambil kesempatan untuk bertanya, "Apakah mereka sudah pernah melihat Pangeran Hao sebelumnya?" Suaranya sangat enak didengar, seperti kicauan burung kepodang kuning.

Si wanita paruh baya menilainya dengan hati-hati, matanya mendadak berbinar. Wanita ini sangat cantik! Begitu cantiknya sampai-sampai aku tidak punya kata-kata untuk menggambarkannya!

"Bibi, apakah mereka pernah melihat Pangeran Hao sebelumnya? Mengapa tiba-tiba mereka mulai melempar cercaan satu sama lain?" Su Xi-er bertanya lagi, menarik si wanita paruh baya kembali tersadar.

Wanita itu buru-buru menjawab, "Dengan begitu tinggi dan agungnya Pangeran Hao, mana mungkin mereka pernah melihatnya? Kedua wanita ini hanya melihat seorang pria tampan menunggang kuda yang melintas dengan cepat, dan bersikeras kalau ia adalah Pangeran Hao dari Bei Min. Mereka bertengkar mengenai siapa yang akan menikahinya semenjak saat itu. Seseorang sudah pergi memanggil petugas kehakiman."

Para wanita di Nan Zhao selalu berpegang pada rasa hormat, dan tidak pernah berani melanggar batasan. Tetapi, di sini, ada dua wanita saling mencerca satu sama lain di jalanan; dan itu bahkan hanya karena memperebutkan seorang pria.

Berdasarkan kepribadian Pei Qian Hao, ia tidak akan muluk-muluk menunggangi kuda melewati jalanan yang ramai. Ia pasti akan memilih gang sepi, atau naik ke kereta kuda menuju rumah pos.

Bahkan, kalaupun kedua wanita ini melihatnya, barangkali tak lebih dari sekelebat tampak sampingnya saja.

Para wanita itu jadi semakin terpancing dalam omelan-omelan mereka. "Untuk apa kau menyombongkan diri? Bukankah kau hanyalah putri pertama seorang pejabat? Pinggangmu mirip gentong air. Pangeran Hao tidak akan menerimamu kecuali matanya sudah buta!"

"Aku sanggup melewatkan makan jika itu yang diperlukan. Bagaimana denganmu? Kau ceking seperti papan dari kayu kering, bahkan punya penyakit tersembunyi."

Amarah salah satu wanita itu jadi lebih parah selagi ia berjalan mendekat beberapa langkah, berencana memukul wanita lainnya. "Omong kosong, bersihkan mulutmu itu! Siapa yang kau bilang punya penyakit tersembunyi itu?!"

Su Xi-er hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian, ia berjongkok dan memungut dua bongkah batu. Dengan kibasan pergelangan tangannya, batu-batu itu mengenai lutut keduanya.

Kedua wanita itu segera menangis kesakitan; langsung berlutut di tanah akibat rasa sakit di lutut mereka.

Semua orang tercengang. Keduanya bahkan belum mulai berkelahi. Mengapa mereka sudah berlutut duluan di tanah?

Adegan itu langsung mereda sekaligus, memperbolehkan Su Xi-er memecah keheningannya. "Aku dengar, Pangeran Hao dari Bei Min sangatlah kejam, dan paling membenci orang-orang yang membicarakannya di balik punggungnya. Mungkin saja, pengawal kekaisaran Pangeran Hao sudah lama mendengarkan percakapan kalian, dan akan menunggu sampai waktu yang tepat di malam hari untuk mencungkil mata kalian."

Tatapan semua orang mendarat pada Su Xi-er, tanpa sadar mata mereka pun melebar melihat kecantikannya yang menakjubkan.

Kedua wanita itu merangkak dari lantai, kemarahan mereka kini terkunci pada Su Xi-er. "Darimana munculnya kau? Kau benar-benar berani mengganggu urusanku. Aku lihat, sepertinya kau sudah bosan hidup."

Su Xi-er tersenyum. "Ucapanku hanya untuk menakuti kalian berdua. Akan tetapi, orang-orang yang berstatus memang faktanya membenci orang yang sembarangan berbicara tentang mereka. Aku sarankan agar kalian berdua segera pulang ke rumah dan meningkatkan postur tubuh kalian atau mengobati penyakit tersembunyi kalian."

Seseorang menimpali, "Itu benar! Dengan kalian berdua yang membuat keributan di sini dan menghalangi seluruh jalanan, bagaimana kami bisa menjalankan bisnis kami? Bukankah kalian ini hanyalah putri tuan tanah? Dan kalian juga kan hanya terkait dengan beberapa pejabat di mahkamah saja?"

"Akan tetapi, kerabat menteri kalian itu sama sekali tidak menganggap kalian penting. Kalian sudah lama melewatkan masa muda prima kalian, tetapi kenapa kerabat menteri itu masih belum juga mencarikan pernikahan untuk kalian?"

Kebencian terpancar di mata kedua wanita itu sewaktu suara meremehkan dari keadaan sekitar tak henti-hentinya melekat di telinga mereka. Mereka tahu kalau orang-orang ini menyukai wanita cantik. Mereka pasti membantu wanita yang tiba-tiba muncul ini hanya karena ia cantik!

Kami kalah. Kalah karena tidak cantik. Kedua wanita itu menggertakkan gigi mereka dan berbalik pergi. Hmph, kami akan membalasnya dan membuatnya menanggung akibatnya cepat atau lambat.

Bahkan setelah kedua wanita itu pergi, kerumunan masih belum menyebar, sebaliknya malah memandangi Su Xi-er. Si wanita paruh baya yang paling dekat dengan Su Xi-er pun memasang ekspresi cemas di wajahnya. "Nona, kau harus berhati-hati. Kedua wanita itu adalah putri resmi dan putri kelahiran selir dari Tuan Tanah Wei. Mereka punya kerabat jauh yang merupakan Komandan Pasukan Pengawal Kekaisaran di mahkamah."

Kebetulan sekali! Wanita-wanita ini 'berhubungan' dengan Wei Mo Hai. Dengan demikian, aku harus memperlakukan mereka dengan layak.

Pada saat ini, seorang pengawal mendesak kereta kudanya maju dan perlahan-lahan berjalan, memaksa kerumunan sedikit menyebar.

Su Xi-er tersenyum ke arah si wanita paruh baya sebelum berbalik naik ke atas kereta kuda. Walaupun kereta kudanya biasa, agak lebih luas daripada kereta biasa.

Kerumunannya terbagi jadi dua barisan dengan sendirinya, dan memerhatikan kereta kudanya berjalan menuju kejauhan. Hanya setelah benar-benar menghilang dari pandangan mereka, barulah mereka tersadar kembali.

"Apakah wanita itu adalah putri dari keluarga terkemuka?"

"Walaupun sikap dan penampilannya memang sesuai dengan putri seorang bangsawan, menurut peraturan Nan Zhao, para putri itu harus tinggal di dalam kamar mereka. Mana mungkin mereka bisa meninggalkan kediaman?"

"Mungkin saja ... ia baru datang ke Nan Zhao, dan keluarganya agak kaya."

Semua orang menerima teori yang terakhir. Entah apakah keluarganya kaya raya ataukah ia adalah putri dari keluarga terkenal, penampilannya sudah meninggalkan kesan mendalam di benak orang-orang ini.

Terlebih lagi, ia bahkan tidak menggunakan kekuatan fisik, tetapi mengandalkan kebijaksanaannya untuk membuat dua wanita tak tahu adat itu mundur, menghasilkan rasa hormat yang tanpa sadar muncul di mata semua orang.

Pada akhirnya, paling tidak, separuh warga di ibu kota Nan Zhao sudah mendengar tentang adanya gadis cantik tiada tara yang tiba di Nan Zhao. Bukan hanya ia cantik, tetapi ia pun seseorang yang cerdas, mampu menaklukkan dua wanita yang sangat sulit diatur.

Continue reading CTF - Chapter 107

Sabtu, 24 Juli 2021

CTF - Chapter 106

Consort of A Thousand Faces

Chapter 106 : Tanda


Berjalan keluar dari semak-semak, masuk ke padang rumput, Pei Qian Hao menyapukan pandangannya ke arah mayat-mayat pria berbaju hitam. Orang-orang ini melalui pelatihan yang keras. Setelah mereka gagal dalam misi, mereka akan bunuh diri. Bisa mengembangkan begini banyak prajurit pengorbanan. Aku penasaran, siapakah dalangnya, dan permusuhan macam apa yang mereka pendam terhadap Nan Zhao.

(T/N : mereka adalah prajurit yang mengorbankan nyawa demi memenuhi misi dan bersiap mati bunuh diri jika misinya gagal atau menjaga orang dengan mempertaruhkan nyawa mereka, bersiap mengorbankan nyawa jika diperlukan.)

Su Xi-er juga diam-diam mengamati prajurit pengorbanan itu ketika ia menyadari kalau kerah baju mereka tampak berbeda. Tepat saat ia ingin bergerak mendekat untuk memeriksa mereka lebih saksama, suara derap kaki kuda pun terdengar.

Pengawal kekaisaran dari Kediaman Pangeran Hao sudah kembali. Orang yang memimpin turun dari kudanya dan berlutut dengan satu lututnya. Kepalan tangannya tertutup menghormat, sementara kepalanya menunduk hormat.

"Melapor pada Pangeran Hao, para pria berbaju hitam memiliki pil beracun yang tersembunyi di mulut mereka, yang mereka gunakan untuk mengakhiri hidup mereka segera setelah mereka tertangkap. Orang mati tidak bisa berbicara, jadi kami tidak punya cara untuk menginvestigasinya. Terlebih lagi ...."

Pei Qian Hao bertampang tenang. "Lanjutkan."

"Selagi bawahan ini tengah memburu mereka, seorang pria dengan kemampuan luar biasa tiba-tiba saja muncul. Sebelum bawahan ini bahkan bisa melihat bagaimana ia bergerak, pandanganku sudah terhalang. Di saat aku membuka mataku lagi, semua pria berbaju hitam sudah menghilang."

Tampaknya, si pria hebat ini bisa saja dalang yang mengendalikan para prajurit pengorbanan.

Mata Pei Qian Hao pun memperlihatkan ketertarikannya. "Nan Zhao mengalami begitu banyak masalah dengan seseorang yang mampu menghilang di hadapan banyak orang dalam sekejap mata. Pangeran ini sudah membuat keputusan yang tepat dengan datang ke perjamuan kerajaan tahun ini."

Pei Qian Hao menarik pedang di pinggang si pengawal dan menyayatkannya ke arah pakaian salah satu pria berbaju hitam, menyebabkan mereka langsung terbelah.

Ada gambar lingkaran biru kehijauan yang sangat kecil di bagian bawah dadanya. Tidak mungkin terdeteksi jika tidak diperiksa lebih dekat. Su Xi-er sudah menyadari itu sebelumnya selagi memandangi kerah baju para prajurit. Gambaran di bagian bawah dada dan gambaran di bagian kerahnya persis sama. Tanda ini mungkin bisa membantu kita menemukan dalangnya.

Pei Qian Hao menyerahkan pedangnya pada si pengawal yang berdiri di samping. "Pangeran ini tidak akan ikut campur dalam urusan kerajaan lain. Aku hanya akan menikmati pertunjukannya dari samping saja."

Dengan begitu, mereka tak lagi bisa menaiki kereta berhujankan panah itu. Belum lagi, tali kekangnya sudah putus di tengah pertempuran tadi.

Dengan tepukan tangannya, seekor kuda coklat halus berderap mendekat dan dengan patuh berhenti di sampingnya. Ia menarik tali kekangnya dan terangkat dari tanah, menaiki kuda dalam sekejap.

Ia tersenyum seraya memandangi Su Xi-er. "Pilih sendiri kudamu."

Ia sama sekali tidak mempercayai apa yang dikatakannya. Bagi Pei Qian Hao, Su Xi-er adalah sebuah misteri. Ia mengetahui banyak hal, tetapi tak satu pun dari hal itu yang semestinya diketahui oleh orang yang berasal dari keluarga miskin.

Tepat saat ia akan menjawab, suara berisik datang dari arah semak. Su Xi-er berputar, hanya melihat Wei Mo Hai memapah Yun Ruo Feng sewaktu mereka berjalan mendekat. Keduanya berhasil keluar dengan selamat.

Bibir Yun Ruo Feng tampak kelabu, dan bagian belakang telinganya agak kehijauan, sepertinya dikarenakan ia tergigit oleh si ular krait dan menderita efek dari bisanya.

Menempatkan dirinya dalam bahaya demi memancing para pria berbaju hitam bahkan di saat ada peristiwa mendesak seperti perjamuan kerajaan Nan Zhao tepat di depan mata; ia bahkan bisa bertindak kejam pada dirinya sendiri.

Dengan tenang Su Xi-er memerhatikan selagi Wei Mo Hai menuntun Yun Ruo Feng ke atas seekor kuda sebelum membawanya maju.

Setelah mereka masuk ibu kota, mereka bisa langsung mencari seorang tabib dan memaksa bisa ularnya keluar.

Su Xi-er sengaja bicara di saat ini. "Tampaknya Pangeran Yun terkena racun. Mengapa Anda tidak mengeluarkan racunnya sekarang? Bagaimana kalau terlambat saat kita sampai di ibu kota?"

Alis Wei Mo Hai sedikit terangkat, tampak merenungi selagi menatap Yun Ruo Feng yang ada di punggung kuda. Kemudian, ia pun mengangkat celana panjang Pangeran Yun, berniat menghisap keluar sendiri racunnya.

Akan tetapi, Su Xi-er bicara lagi. "Anda sangat setia pada Pangeran Yun, tetapi jika Anda langsung mengisap keluar racunnya, Anda akan keburu pingsan sebelum racunnya bahkan bisa keluar."

Pei Qian Hao merasa kalau Su Xi-er sangat pandai bicara dan banyak omong saat ini. Mengapa seorang dayang mempedulikan urusan kerajaan lain?

"Pangeran Hao, apakah Anda punya caranya?" Su Xi-er bertanya dengan hormat padanya. Sebenarnya, ia juga tahu bagaimana caranya mengeluarkan bisa ular itu. Namun, ia tidak bisa memperlihatkan pengetahuan semacam itu karena akan dengan mudah meningkatkan kecurigaan Pei Qian Hao.

Pei Qian Hao menunjuk ke arah pedang di pinggang Wei Mo Hai. "Jika kau mengeluarkan darahnya untuk memaksa racunnya keluar, kita bisa bertahan sampai ibu kota."

Segera setelah Wei Mo Hai mendengar itu, ia mengeluarkan pedangnya dan membuat sebuah sayatan kecil di tempat di mana Yun Ruo Feng digigit, menyebabkan darah bercucuran keluar. Warna kehijauan di bagian belakang telinga Yun Ruo Feng pun sedikit memudar.

Dikarenakan bisa ular, Yun Ruo Feng agak grogi; dan dalam keadaan kaburnya, satu nama menyelinap keluar dari bibir tipisnya. "Lan-er ...."

Suaranya sangat kecil, tetapi Wei Mo Hai, Pei Qian Hao, dan Su Xi-er masih bisa mendengarkannya.

Su Xi-er mengangkat alisnya dan menatap ke arah Yun Ruo Feng. Mengapa kau memanggil nama itu? Kau membunuhnya dengan kejam, tetapi kini kau memanggil nama Lan-er.

Wei Mo Hai membungkuk ke arah Pei Qian Hao sebelum menarik kuda itu ke satu sisi kereta kuda biasa.

Beberapa tentara Nan Zhao dengan cekatan mengamankan tali kekang kereta kuda sementara Wei Mo Hai membawa Yun Ruo Feng ke dalam, dengan cepat mendesak kereta kudanya maju.

Saat Yun Ruo Feng diangkat masuk ke dalam kereta kuda, Su Xi-er masih bisa melihat pergerakan bibirnya sewaktu ia bicara pelan, "Lan-er."

"Kau mencemaskannya?" Ekspresi Pei Qian Hao tenang, nada suaranya stabil seolah ia menanyakannya tanpa sengaja.

Su Xi-er menggelengkan kepalanya. "Hamba bukan teman maupun keluarga Pangeran Yun. Mengapa aku harus mencemaskannya?"

"Pergi dan pilihlah seekor kuda. Pangeran ini akan menunggumu di rumah pos ibu kota." Lalu, Pei Qian Hao meraih cambuk kuda dan menunju ke ibu kota.

Sisa pengawal pun mengikuti, meninggalkan hanya Su Xi-er saja selagi ia memerhatikan kelompok itu menuju ke kejauhan. Ia yakin sekali kalau aku tahu caranya menunggang kuda. Bukankah itu artinya aku mengakuinya jika aku menunggang kuda ke sana?

Su Xi-er memutuskan kalau ia hanya akan tetap di sana. Dengan mayat bergelimpangan sebanyak ini, seseorang pasti akan datang membersihkan tempat ini. Pada saat itu, aku bisa mengikuti orang-orang itu pergi, dan paling tidak, akan ada keledai atau gerobak kerbau, meski tidak ada kereta kuda.

Akan tetapi, tetap tak seorang pun datang membereskan tempat itu bahkan setelah berdiri di sana selama satu jam. Ia memutuskan, ia duduk saja di tanah, dan mulai bersandar pada sebatang pohon.

Kurang dari lima belas menit, tubuh Su Xi-er jadi tegang. Ia langsung menyembunyikan dirinya di dalam semak-semak di samping, dan mengamati pemandangan di hadapannya.

Seorang pria bercadar, berbaju biru, berjalan ke arah padang rumput dan memandangi sejumlah besar mayat-mayat itu. Walaupun kebingungan terpancar dari matanya, dengan cepat pula lenyap, setelahnya ia berjongkok untuk memeriksa jasad-jasad itu dengan saksama.

Ia bahkan menggenggam pergelangan tangan para prajurit pengorbanan seolah tengah mencari sesuatu. Diam-diam Su Xi-er mengamati tingkah lakunya. Barangkali ia adalah tabib muda yang berkelana menjelajahi dunia? Jelas tidak ada yang perlu disembunyikan tentang itu, tetapi mengapa ia mengenakan topi dan cadar biru?

Tepat saat ia sedang merenunginya, batu kecil melayang berbarengan dengan bunyi desingan angin. Suara lembut pria itu pun segera mengikuti. "Siapa di sana?"

Batunya mendarat di tanah saat Su Xi-er mengelak ke samping. Ia berjalan keluar dari semak-semak, berhadapan tatap muka dengan pria itu.

Ketika pria berbaju biru menyadari orang yang ada di balik dedaunan sebenarnya adalah seorang wanita, ia tak lagi mempertanyakannya, sebaliknya, menurunkan pergelangan tangan prajurit pengorbanan dan bersiap pergi.

"Tunggu dulu." Suara Su Xi-er nyaring dan menggetarkan.

Pria berbaju biru pun berhenti di jalannya dan memberinya tatapan tercengang.

Su Xi-er menunjuk ke arah tentara pengorbanan di tanah. "Apakah kau bisa tahu jenis racun yang menyerang mereka dengan merasakan denyut nadi mereka?"

Pria berbaju biru menggelengkan kepalanya dan ingin bergerak maju. Sebelum Su Xi-er bisa bertanya lebih jauh, suara roda kereta kuda terdengar. Pria berbaju biru mengangkat kepalanya untuk mengecek, dan dengan gerak kaki yang cepat, ia langsung menghilang di depan matanya.

Su Xi-er merasa kalau orang ini sangat aneh dalam hal berpakaian juga tindak-tanduknya. Jika aku bisa mengetahui racun apakah itu, paling tidak, aku bisa mencari tahu dimana mereka membuatnya dan terus menyelidiki siapakah dalangnya.

Continue reading CTF - Chapter 106