Kamis, 05 Februari 2026

CTF - Chapter 240

Consort of A Thousand Faces

Chapter 240 : Itu Dia

Ekspresi terluka muncul di mata Su Xi-er sewaktu ia melihat wajah Feng Chang Qing. Wajahnya sampai secacat ini ... bagaimana ia sanggup menanggung rasa sakit seperti ini? Chu Ling Long, seseorang dengan tampang memikat yang mirip dengannya, pasti akan lebih memilih mati daripada jadi seperti ini. Feng Chang Qing, bagaimana bisa, kau masih hidup ....?

Saat ia memikirkan tentang ini, mata Su Xi-er jadi terasa basah. Mengangkat tangan untuk menyentuh bekas luka di wajahnya dengan lembut, ia pelan-pelan membuka mulutnya dan memanggil namanya. "Feng Chang Qing."

Kata-kata itu seperti jarum di hatinya, dan suaranya dipenuhi rasa simpati.

Kilatan kegembiraan melintas di mata Feng Chang Qing. Ini benar-benar Putri Pertama Kekaisaran! Semua orang mengira ia sudah mati, tetapi siapa sangka kalau ia akan bereinkarnasi ke tubuh lain.

Ia tidak menyangka kalau ia akan sekaget ini dan bergembira sekali. Bahkan, seseorang seperti dirinya, yang tidak pernah menangis sebelum saat ini, tidak bisa menahan air mata tanpa suaranya yang menetes menuruni wajahnya.

Air mata lembut itu berjatuhan di jari Su Xi-er sebelum ia mengangkat tangan, dengan lembut mengusap mereka. "Feng Chang Qing, wajahmu, apakah ...."

Sebelum ia bisa menyelesaikannya, Feng Chang Qing menyelanya. "Putri Pertama, bawahan ini tidak pernah menyukai wajahku yang tampak genit itu; tidak masalah bila dibuat cacat." Emosinya meliar, dan ia tidak memedulikan sama sekali mengenai penampilannya saat ini. Bagiku, fakta bahwa Putri Pertama Kekaisaran masih hidup, sudah merupakan suatu hadiah dari langit.

Aku hanya hidup karena aku telah bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Aku tidak menduga kalau ia akan berdiri di depanku dengan wajah yang berbeda. Meski begitu, aura dan nada bicaranya sama seperti sebelumnya.

"Aku bukan lagi Putri Pertama Kekaisaran, dan kau bukan lagi bawahanku. Kita setara, jadi kau tidak perlu terlalu sopan padaku." Su Xi-er menurunkan tangannya, dan memasangkan lagi cadar biru itu untuknya.

Ia menatap Su Xi-er dengan mata yang cerah, seolah ia takut kalau ini adalah sebuah mimpi, dan bahwa Putri Pertama Kekaisaran akan menghilang apabila ia mengedipkan matanya.

"Tidak peduli apa pun yang Anda katakan, Anda tetaplah Putri Pertama Kekaisaran dari bawahan ini. Bawahan ini tidak sanggup melupakan kebaikan Anda. Jika bukan karena Anda, bawahan ini pasti sudah lama mati di barak tentara." Mata Feng Chang Qing dipenuhi rasa hormat, segera menyembah selagi ia berbicara.

"Bawahan ini tidak mengetahui bahwa Anda adalah Putri Pertama Kekaisaran, dan bersikap tidak sopan. Mohon maafkan aku."

Su Xi-er segera membantunya bangkit. "Feng Chang Qing, sekarang ini, aku adalah Su Xi-er, dan bukan Ning Ru Lan. Kau bertingkah terlalu formal dengan seperti ini. Kau harus segera bangun."

Feng Chang Qing tadinya tetap tidak bergerak di tanah. Hanya setelah ia mendengar perintah Su Xi-er, barulah ia bangkit berdiri.

Sekali lagi, ia membungkuk pada Su Xi-er. "Putri Pertama, Anda masih memiliki empat ratus tentara yang sebelumnya berada di bawah Anda. Bawahan ini telah melatih mereka menjadi tentara pengorbanan. Mulai dari sekarang, mereka akan mengikuti perintah Anda."

Su Xi-er mengangguk. Mantan bawahanku, semuanya adalah tentara yang bertarung berdampingan denganku selama peperangan. Semuanya ada sepuluh ribu pasukan tentara elit; kini, hanya tersisa empat ratus orang dari mereka.

"Putri Pertama, saat Anda dikurung di penjara, Nona Lü Liu telah membentangkan sebuah rencana yang cermat. Bawahan ini sedang menunggu di pintu samping istana kekaisaran, tetapi tanpa diduga, dikepung oleh Yun Ruo Feng. Dengan jumlah orang yang jauh lebih sedikit, bawahan ini berada dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan. Beberapa hari setelahnya, Yun Ruo Feng mulai membunuh sepuluh ribu pasukan hingga akhirnya, hanya tersisa empat ratus orang dari kami." Suara Feng Chang Qing jadi semakin dingin seiring tiap kata yang meninggalkan mulutnya.

Angin malam yang dingin bertiup melewati mereka, menyebarkan perasaan menyendiri atas kehilangan di antara pasangan itu. Su Xi-er mampu membayangkan para mantan bawahannya, bertarung sampai mati dalam kekacauan yang berdarah. Mereka semua bertarung dengan berani selama peperangan, hanya untuk mati di tangan seseorang yang mereka semua hormati, Yun Ruo Feng!

"Putri Pertama ...."

Su Xi-er melambaikan tangannya dan menyingkirkan ekspresi kesakitannya. "Tangan Yun Ruo Feng ternoda oleh darah, dan aku pasti tidak akan melepaskannya. Namun, sekarang ini bukanlah waktu yang tepat. Yun Ruo Feng jauh lebih berkuasa daripada sebelumnya, dengan beberapa ratus ribu pasukan elit. Saat dibandingkan dengan empat ratus orang kita yang remeh, kita harus mengakui kalau sekarang ini kita bukanlah tandingannya, sehingga kita harus mempersiapkan strategi jangka panjang."

Feng Chang Qing membungkuk menyampaikan hormatnya. "Bawahan ini akan mengikuti perintah Anda, Putri Pertama."

"Bagi empat ratus bawahan menjadi empat kelompok, dengan seratus orang di masing-masing kelompoknya. Dua kelompok akan menetap di Nan Zhao, dan dua kelompok lainnya akan pergi ke Bei Min. Selain dari pelatihan militer, mereka juga harus menjalankan bisnis, berladang, membuka kedai teh dan restoran, dan menyewa wanita untuk orkestra dan rombongan tarian mereka." Su Xi-er menginstruksikan secara perlahan; ia ingin mengimplementasikan rencananya secara bertahap.

"Putri Pertama, kita juga harus mengirimkan orang ke Bei Min?"

"Mmm, kita tidak bisa hanya tinggal di Nan Zhao. Membuat pasukan membutuhkan uang, dan itu hanya bisa tercapai dengan melakukan bisnis dan berladang. Feng Chang Qing, kau melakukan pekerjaan yang bagus dengan membeli Rumah Aprikot Keberuntungan."

Feng Chang Qing tersenyum, alisnya melengkung. "Bawahan ini bodoh, dan hanya mengikuti apa yang sebelumnya Putri Pertama ajarkan padaku."

"Sebelum aku kembali ke Bei Min, aku akan mengalahkan Ning An Lian dan mengirimkannya untuk menjaga Makam Kekaisaran selama tiga tahun. Walaupun Guru Agung Liu sudah mati, pengorbanannya tidak akan sia-sia. Lian Chen akan mendapatkan sejumlah kekuasaan saat para pelajar kerajaan membaca suratnya, dan aku bisa bergerak dari luar mahkamah kekaisaran sementara Lian Chen bertindak dari dalam. Akan dibutuhkan waktu satu tahun jika kita cepat, dan tiga tahun jika kita lambat, dan kita bisa ...."

Saat ini, ekspresi Su Xi-er dipenuhi semangat yang heroik. "Kita bisa membunuh Yun Ruo Feng!"

"Putri Pertama, bawahan ini sudah mengetahui bahwa, putra mahkota lainnya dari rumah tangga kekaiasaran Ning, bukannya terbunuh selama peperangan, tetapi dibunuh oleh Yun Ruo Feng. Ia mengambil kesempatan dari kekacauan dan sudah mulai merebut kekuasaan sejak lama."

Tatapan Su Xi-er berkedip. Aku tidak pernah menyukai para putra mahkota dari rumah tangga kekaisaran. Kami tidak pernah dekat, dan mereka hanyalah seperti pengingat akan pengkhianatan Ayahanda Kaisar terhadap Ibunda Permaisuri.

Ini juga termasuk dengan Ning An Lian! Ibu Ning An Lian adalah seorang dayang istana bertampang biasa-biasa saja, yang berani-beraninya merangkak ke ranjang Ayahanda Kaisar saat ia sedang mabuk. Pada akhirnya, ia mengandung Ning An Lian.

Namun, apa yang paling dibencinya adalah fakta bahwa Yun Ruo Feng sudah memulai rencana merebut kekuasaan sejak lama. Sungguh lelucon! Aku membenci Yun Ruo Feng, tetapi aku lebih membenci betapa butanya aku dulu!

"Putri Pertama, bagaimana Anda akan mengirim Ning An Lian untuk menjaga Makam Kekaiasaran selama tiga tahun?"

Su Xi-er menatapnya. "Kaulah yang membunuh Nona-Nona Wei." Suaranya penuh percaya diri, sudah menebak semuanya.

Feng Chang Qing mengangguk, kilat jahat melintas di matanya. "Mereka menghina Putri Pertama dengan kata-kata mereka! Mereka harus mati!"

"Aku membuat sebuah taruhan dengan Ning An Lian, dimana aku akan dihukum mati apabila ia bisa menemukan bukti kalau pembunuhnya adalah aku. Sebagai gantinya, ia akan dikirimkan ke Makam Kekaisaran jika ia gagal melakukannya."

Tubuh Feng Chang Qing membeku setelah mendengar ini. Pembunuhnya adalah aku, jadi tidak mungkin pelakunya adalah Putri Pertama. Apa aku harus menyerahkan diriku supaya Ning An Lian bisa dikirim ke Makam Kekaisaran?

Su Xi-er terkikik saat ia melihat reaksi Feng Chang Qing. "Aku tidak akan memintamu untuk menyerahkan dirimu setelah kau begitu banyak menderita. Feng Chang Qing, Lian Chen harus merebut kembali kekuasaannya, tetapi kau harus memulihkan penampilanmu juga."

Mendengarkan kepercayaan diri dalam suaranya, Feng Chang Qing tidak lagi merasa curiga. Aku memercayai Putri Pertama. Ia selalu bersikap mulia dan bangsawan seperti seorang dewi, dan aku tidak pernah meragukan ucapannya.

Tetapi .... Feng Chang Qing tersenyum samar. "Putri Pertama, bawahan ini tidak ingin mengembalikan penampilanku yang sebelumnya. Aku tampak terlalu menawan, dan tidak punya semangat seperti seorang pria. Dibandingkan dengan itu, bawahan ini lebih memilih jelek seperti ini."

"Jelek? Feng Chang Qing tidak pernah jelek ataupun memikat seperti seorang wanita." Su Xi-er menatap ke dalam matanya sewaktu ia menyatakannya.

Su Xi-er tahu bahwa ia selalu merasa sadar diri akan statusnya, dan jauh lebih seperti itu dikarenakan penampilannya yang mirip perempuan. 

Continue reading CTF - Chapter 240

CTF - Chapter 239

Consort of A Thousand Faces

Chapter 239 : Identitas Dari Pria Berbaju Biru


Liu Yin Yin menarik lengan baju Su Xi-er dan bertanya, "Nona Peri, kita mau pergi kemana? Di luar sana sudah gelap, dan Yin Yin takut." Setelah mengatakan itu, tubuh kecilnya bergerak semakin dekat lagi pada Su Xi-er.

"Jangan takut, Yin Yin. Sekarang sudah gelap, jadi aku akan membawamu keluar makan permen besok." Su Xi-er mengelus kepala Yin Yin.

"Nona Peri akan melindungi Yin Yin. Aku mau pergi melihat gulali orang-orangan, dan makan permen hawthorn Cina. Ibu tidak mengizinkanku makan terlalu banyak permen, karena ia pikir, itu akan merusakkan gigiku. Aku tidak akan tampak cantik nantinya kalau itu terjadi." Liu Yin Yin tersenyum sembari ia berbicara.

Su Xi-er meraih tangannya dan berbicara dengan lembut sementara mereka berjalan ke depan.

"Nona Peri, apa kau mengenal Yang Mulia? Kenapa Ayah berada di istana kekaisaran bersamanya, lama sekali? Ibu bilang padaku, dalam lima tahun, aku akan berusia lima belas tahun, dan itu sudah waktunya untuk memikirkan tentang mencari seorang suami. Karena Yang mulia berusia enam belas tahun, tidak bisakah ia cari permaisuri saja untuk tinggal bersamanya?" Liu Yin Yin mengeluh lagi, merasa bahwa itu tidak adil bagi ayahnya, menghabiskan lebih banyak waktu bersama Kaisar daripada bersama putrinya sendiri.

Su Xi-er tertawa. "Pria berbeda dari wanita. Seorang wanita menjadi orang dewasa di usia lima belas tahun, tetapi seorang pria hanya menjadi orang dewasa setelah mereka berusia delapan belas tahun. Yang Mulia masih harus menunggu hingga, setidaknya, ia berusia delapan belas tahun, sebelum ia bisa mengambil permaisuri."

Saat Su Xi-er memikirkan ini, matanya jadi jauh. Lian Chen harus mengambil permaisuri dalam waktu dua tahun. Setelah ia berusia delapan belas tahun, ia masih harus memperoleh kembali kekuasaan kekaisarannya.

Keduanya terus berjalan sebentar, sebelum seorang pria muncul di depan mereka. Su Xi-er memfokuskan matanya dalam cahaya remang-remang di malam hari, dan berhasil mengenali siapa itu. Itu adalah Lian Chen, ia di sini. Baginya, Lian Chen sudah banyak bertumbuh; ia bahkan jauh lebih tinggi dari dirinya sendiri.

Ning Lian Chen membeku sedetik saat ia melihat Su Xi-er. Mengapa Kakak Perempuan di sini, dan siapakah gadis kecil di sebelahnya? Mungkinkah, Kakak Perempuan menduga kalau ada sesuatu yang terjadi pada Guru Agung Liu dan datang untuk menjemput putrinya?

Ning Lian Chen berjalan mendekati Su Xi-er. Ketika ia melihat kalau tidak ada siapa pun di sekitar mereka, ia membuka mulutnya, memanggil lirih, "Kakak Perempuan."

Su Xi-er mengangguk dan menepuk kepala Yin Yin. "Ini adalah putri Guru Agung Liu, Liu Yin Yin. Sementara untuk Guru Agung Liu sendiri ...." Ia tidak meneruskan, tetapi Ning Lian Chen memahami sisanya.

Ekspresi Ning Lian Chen berubah dan tangannya mengepal erat. Aku tidak bisa melindungi Guru Agung Liu. Aku tidak percaya kalau Yun Ruo Feng bertindak secepat ini; apakah ....

"Yin Yin, aku akan membawamu pergi makan permen besok. Kemari, aku akan membawamu kembali ke kamarmu untuk istirahat." Su Xi-er mengangkat tangannya pelan-pelan, dan menekankan jarinya di titik akupuntur tidur Liu Yin Yin.

Titik akupuntur seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun sangat sensitif, dan mata Liu Yin Yin langsung terpejam setelah titik itu ditekan.

Baru setelahnya, Su Xi-er membuka mulutnya untuk memberitahukan kenyataannya. "Yun Ruo Feng bertindak kelewat cepat. Guru Agung Liu sudah dipaksa untuk minum secangkir anggur beracun saat ia baru saja meninggalkan aula utama Kapal Naga. Saat aku tiba, racunnya sudah menyebar dalam di tubuhnya."

Tatapan Ning Lian Chen berkedip, sementara perasaan pahit timbul di hatinya. Guru Agung Liu, adalah seorang guru dan ayah yang tegas bagiku. Kini, ia mati demi diriku.

Guru Agung Liu sudah meminum anggur beracun itu sebelum ia menungguku di luar Kapal Naga. Ia memilih untuk menggunakan sedikit waktu yang ia miliki untuk menungguku ...Ning Lian Chen merasa sangat tidak tenang.

"Lian Chen, Kakak Perempuan ada di sini. Jika kau ingin menangis, maka menangislah." Su Xi-er mengangkat tangannya dan dengan lembut menepuk pundaknya.

Ning Lian Chen melambaikan tangannya. "Kakak Perempuan, dua tahun lagi, aku akan berusia delapan belas tahun. Tidak peduli seberapa sedihnya diriku, aku tidak boleh menangis. Guru Agung Liu telah memintaku untuk menjaga putrinya, dan aku akan menjaganya. Serahkan Yin Yin padaku."

Selagi ia bicara, ia mengulurkan tangannya untuk menggendong Yin Yin.

Su Xi-er memikirkannya dengan saksama. Akan sulit bagiku untuk menjaga Liu Yin Yin sekalinya aku kembali ke Bei Min.

"Kakak Perempuan, aku akan menjaganya baik-baik, dan memperlakukannya seperti seorang adik perempuan."

Su Xi-er mengangguk dan menyerahkan Liu Yin Yin padanya. "Lian Chen, aku masih punya urusan penting untuk dikerjakan, jadi aku tidak bisa berlama-lama. Apa yang bisa kukatakan adalah, kau harus bersabar; akan sulit untuk mengatasi Yun Ruo Feng."

"Aku akan mengingatnya. Jangan cemas," Ning Lian Chen menenangkan.

Su Xi-er mengangguk mengiyakan dan mulai berjalan maju. Saat ini, Ning Lian Chen mendadak bertanya, "Kapan kau akan kembali ke Bei Min, dan kapan kau akan kembali lagi? Sementara untuk Pangeran Hao, kau ...."

Su Xi-er berbalik. "Lian Chen, kali berikutnya aku kembali, akan menjadi hari kematian Yun Ruo Feng. Meskipun aku tidak akan berada di Nan Zhao, aku punya caraku. Kau harus menyerang dari dalam mahkamah, dan serahkan yang di luar padaku. Bagaimanapun juga, kau akan segera memiliki kekuasaan yang akan diberikan padamu juga."

Setelah ia selesai bicara, Su Xi-er berjalan pergi.

Ning Lian Chen membeku di tempat. Beberapa kekuasaanku. Ia menundukkan kepalanya, melihat Liu Yin Yin. Kekuasaan ini dibeli menggunakan kematian Guru Agung Liu. Yin Yin, jangan takut. Karena Kaisar ini telah berjanji pada Guru Agung Liu, kau bisa tenang, karena kau tidak perlu merasa cemas dalam kehidupan ini. Saat kau dewasa, Kaisar ini pasti akan mencarikanmu seorang suami yang baik.

(T/N : maaf dedek kaisar, cece penerjemah ini mikirnya malah kamu yang bakal jadi suaminya hahaha, sotoy lah saya ini.)

***

Ning Lian Chen menggendong Liu Yin Yin dan melihat Kediaman Liu untuk yang terakhir kalinya sebelum mulai kembali menuju Kapal Naga. Setelah di sana, ia membaringkan Yin Yin di atas ranjang dan menyelimutinya dengan sehelai selimut, takut kalau ia akan terserang flu.

Tepat saat selimut menyelimutinya, Liu Yin Yin menendangnya dan mulai mengigau. "Ayah, Ayah, bisakah kau tidak usah tinggal dengan Yang Mulia? Yin Yin merindukanmu. Yang Mulia adalah orang yang jahat! Ia merebut Ayah dariku."

Ada beberapa tetes air mata yang mengalir turun dari mata Liu Yin Yin, terisak beberapa kali sebelum akhirnya ia tenang dan kembali tidur.

Ekspresi Ning Lian Chen membeku. Aku .... Aku memang merebut Ayah Liu Yin Yin .... Akulah orang yang paling berutang padanya melebihi apa pun.

***

Sementara itu, Su Xi-er membawa surat tersebut ke Asosiasi Sastra, tempat berkumpul paling ternama bagi para pelajar/sarjana di ibu kota. Guru Agung Liu adalah seorang otoritas pemimpin yang langka dalam dunia sastra.

Namun, tak lama, ia menyadari kalau seseorang mengikutinya. Sengaja berpura-pura bodoh, ia berbelok masuk ke dalam sebuah gang di samping.

Setelah memasuki gang, ia menyadari kalau langkah kaki di belakangnya jadi semakin keras. Saat ia melihat ada bayangan kurus yang tampak di tanah di depannya, ia pun berbalik dan mengangkat tangannya untuk menyerang siapa pun yang berada di belakangnya.

Tepat saat ia baru saja akan memukul orang yang ada di belakangnya, Su Xi-er menghentikan gerakannya. Yang berdiri di depannya adalah ... si pria berbaju biru.

Wajah pria itu tampak serius sewaktu ia menatap wajahnya diam-diam.

Su Xi-er juga menatapnya. Misterius sekali, setiap kali ia muncul, aku merasakan ada perasaan akrab.

Ia ....

Pria berbaju biru sudah mendengarkan seluruh percakapan di antara Ning Lian Chen dan Su Xi-er, membuatnya sangat amat kebingungan. Mengapa Ning Lian Chen memanggilnya Kakak Perempuan? Keduanya bahkan berkomplot untuk menangani Yun Ruo Feng. Wanita ini, siapakah ia sebenarnya ....?

"Kebetulan sekali; kita selalu bertemu satu sama lain secara kebetulan. Katakan padaku, siapa namamu?" Wajah Su Xi-er khidmat, dan suaranya penuh otoritas.

Pria berbaju biru pun tertegun. Ia terpikirkan beberapa jurus yang pernah diadunya dengan gadis ini sebelumnya, dan fakta bahwa Ning Lian Chen memanggilnya Kakak Perempuannya!

"Mengapa Ning Lian Chen memanggilmu Kakak Perempuan? Di matanya, dan secara pribadi, hanya ada satu orang yang pantas dengan gelar itu." Matanya menyala dengan harapan samar, sementara ia melanjutkan tanpa menunggu respons.

"Dapatkah seseorang yang sudah mati, bertahan hidup di tubuh orang lain?" Sepertinya, ia tidak yakin apakah ia sedang menanyai Su Xi-er, atau menanyai dirinya sendiri.

Su Xi-er menatapnya dengan tenang sebelum tatapannya perlahan-lahan beralih ke cadar di wajah pria itu. Tiba-tiba saja, ia mengangkat tangannya, untuk melepaskan cadar itu.

Kali ini, pria berbaju biru tidak menghindar, dan membiarkannya mengangkat cadarnya.

Wajah yang dipenuhi dengan bekas luka yang dalam dan mengerikan pun terlihat.

Segera saja, Su Xi-er teringat kata-kata Guru Agung Liu. Terluka parah dan cacat.

Continue reading CTF - Chapter 239

CTF - Chapter 238

Consort of A Thousand Faces

Chapter 238 : Sudah Mati


Ekspresi Guru Agung Liu mendadak berubah setelah ledakan singkatnya. "Aku tidak mengira kalau aku bahkan tidak akan sanggup bertahan selama empat jam. Putri Pertama, tolong tutup pintu kamarnya agar Yin Yin tidak masuk kemari."

Memahami keadaannya, Su Xi-er segera menutup pintunya.

Warna wajah Guru Agung Liu mulai berubah kehijauan, dan napasnya jadi tidak stabil. Berjuang keras, bergantung pada napas terakhirnya, ia menyerahkan surat itu pada Su Xi-er. "Putri Pertama, sampaikan surat ini pada Asosiasi Sastra, dan lakukan perang salib melawan Pangeran Yun!"

Ekspresinya jadi sedih. "Pangeran Yun adalah orang yang kejam dan licik, membuat banyak orang mati di tangannya. Putri Pertama ... ia harus dibinasakan."

Napas Guru Agung Liu jadi semakin sangat tidak stabil. "Putri Pertama, mantan bawahan Anda, Feng Chang Qing, ia ... belum mati. Pangeran Yun gagal saat mencoba membunuhnya. Walaupun ia cacat dan terluka parah, ia masih hidup. Putri Pertama, Anda harus pergi mencari Feng Chang Qing ...." Ia harus mengucapkan kata-kata terakhirnya melalui gertakan giginya.

Su Xi-er maju ke depan, menggenggam tangannya. "Guru Agung Liu, terima kasih karena memberitahukanku ini."

Feng Chang Qing, aku mengingatnya. Ia adalah seorang tentara biasa di bawah komandoku dulu. Latar belakangnya menyedihkan, dan penampilannya sefeminin Chu Ling Long. Dikarenakan penampilannya inilah, ia mengalami banyak sekali pelecehan verbal saat ia masuk ke dalam ketentaraan.

Guru Agung Liu sekarang ini di ambang kematian. Saat ini, ketukan di pintu terdengar, dan suara renyah Liu Yin Yin bisa terdengar. "Ayah, Yin Yin sudah datang. Aku sudah lama tidak bertemu Ayah. Cepatlah bukakan pintunya, Ayah, Yin Yin mau makan permen."

Sudut mulut Guru Agung Liu terangkat, tetapi, ia tidak sanggup mengutarakan sepatah kata pun, sewaktu ia membuka mulutnya tak berdaya. Ia menunjuk ke pintu dan menggambarkan sebuah lingkaran, melambangkan sebuah permen.

"Guru Agung Liu, jangan cemas; aku akan menjaga Yin Yin baik-baik."

Guru Agung Liu mengangguk. Aku bisa tenang dengan adanya Putri Pertama. Ia tersenyum seraya memejamkan matanya, warna ungu kehijauan menghilang dari roman mukanya. Wajahnya berangsur kembali ke warna kemerahan, seolah-olah ia meninggal karena penyebab alami.

Tatapan Su Xi-er menggelap. Yun Ruo Feng, sungguh menggunakan racun yang terlarang di dalam istana, kejam sekali!

Ketukan di pintu berlanjut selagi Su Xi-er membaringkan Guru Agung Liu di dipan, sambil menyimpan suratnya di dalam jubahnya sebelum membukakan pintu.

Liu Yin Yin berusia sepuluh tahun dan sangat naif. Saat ia melihat Su Xi-er, ia tersenyum. "Ibu, aku melihat seorang peri."

Nyonya Liu melihat ke dalam ruang baca. Di saat ia melihat Guru Agung Liu berbaring tak bergerak di atas dipan empuk itu, ia merasa hatinya sudah mati. Tetapi, dengan putrinya di sebelahnya, ia hanya bisa memaksakan diri untuk tersenyum.

"Yin Yin, Ayah kelelahan karena mengurusi beberapa urusan penting di istana kekaisaran, dan butuh istirahat. Bagaimana kalau kau datang mengunjungi Ayahmu besok saja?"

Liu Yin Yin melihat Guru Agung Liu yang berbaring di dipan empuk dan sungguh mengira kalau ayahnya sudah tidur. Tidak peduli betapa ia merindukan ayahnya, ia tetap tidak mau mengganggu istirahatnya.

Karenanya, ia cemberut. "Aku akan mendengarkan Ibu dan tidak akan mengganggu Ayah. Aku akan datang mengunjunginya lagi besok, tetapi Ibu, berapa lama Ayah akan tinggal di rumah kali ini? Aku sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengannya, tetapi ia terus saja tinggal bersama Yang Mulia, meskipun aku lebih muda dari Yang Mulia." Saat Yin Yin menyebutkan Kaisar, ketidakpuasannya tampak jelas.

Su Xi-er memerhatikan raut wajah penuh senyuman polos dan tulus Liu Yin Yin. Jika ia mengetahui kalau ayahnya sudah meninggal, ia ....

Nyonya Liu mengelus kepala putrinya dan berbalik pada pelayan tua di sebelahnya. "Bawa Yin Yin pergi."

Si pelayan tua mendengarkan nada bicara menyedihkan dalam kata-katanya, tetapi saat ia melihat Nona masih tersenyum, ia juga merasakan sakit di hatinya.

"Baik, Nyonya. Nona, silakan ikuti pelayan tua ini ke kamar. Kita akan datang dan mengunjungi Tuan Besar lagi besok."

"Baiklah kalau begitu, kita akan datang lagi besok." Liu Yin Yin mengecilkan suaranya, takut kalau ia akan membangunkan ayahnya. Sebelum ia pergi, ia sengaja mengedipkan matanya pada Su Xi-er.

Hanya setelah Liu Yin Yin pergi, barulah Nyonya Liu akhirnya membiarkan air matanya berjatuhan. Ia memandangi Su Xi-er dan berkomentar, "Nona, Yin Yin sangat menyukaimu."

Nyonya Liu mendadak berlutut. "Nona, sebagai dayang Pangeran Hao, Pangeran Yun tidak akan melakukan apa pun terhadapmu. Karena Tuan Besar sudah tiada, aku ingin mengikutinya. Perasaan di antara kami dalam, dan sudah menyatu di dalam darah kami. Aku tidak mungkin bisa terus hidup tanpa dirinya, jadi tolong jangan coba-coba meyakinkanku sebaliknya. Nona, aku hanya bisa memohon padamu agar menjaga Yin Yin."

Su Xi-er segera membantu Nyonya Liu bangun, tetapi saat ia melihat tatapan kehilangan harapan milik orang itu, ia tahu kalau ia tidak akan bisa lagi mengubah pikirannya. Perasaan sedalam ini akan mengikutimu sampai hari dimana kau mati.

Akhirnya, Su Xi-er mengangguk. "Aku janji padamu."

Nyonya Liu mengangguk, dan melirik sekali lagi ke arah kamar putrinya sebelum masuk ke dalam ruang baca.

Krek. Pintu ruangan tertutup, dan di dalamnya sunyi senyap.

Su Xi-er mencengkam surat di lengan bajunya dengan sangat erat sewaktu ia pelan-pelan berjalan maju ke depan. Tak lama kemudian, ia mendengarkan bunyi keras dari dalam ruang baca, diikuti keheningan.

Nyonya Liu telah menumburkan kepalanya ke tembok dan mati, pergi bersama-sama dengan Guru Agung Liu. Ia telah menggunakan kematiannya untuk menjadikan surat ini jauh lebih bermakna.

Su Xi-er mengangkat kepalanya, memandang bulan yang terang. Jangan khawatir; memiliki keberanian untuk pergi dengan cara seperti ini .... Aku menghormati kalian.

***

Setelahnya, Su Xi-er berjalan menuju kamar tidur Liu Yin Yin.

Liu Yin Yin belum tidur, dan sedang duduk di atas kursi sementara ia mendengarkan inang pengasuhnya mendongeng. Inang pengasuh itu adalah si wanita tua yang membawa Liu Yin Yin kembali ke kamarnya.

Saat si inang pengasuh itu melihat Su Xi-er, ia paham kalau Nyonya Liu telah meninggal, dan kesulitan sekali untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia tahu kalau gadis di depannya sudah datang untuk membawa pergi sang Nona.

"Yin Yin," Su Xi-er memanggil dengan lembut.

Liu Yin Yin tersenyum, dan segera melompat dari kursinya. "Peri, apa Ayah memintamu untuk bermain denganku?"

"Itu benar, Guru Agung Liu menyuruhku untuk membawamu keluar makan permen."

"Permen? Tetapi, kenapa bukan Ayah yang membawaku keluar?"

Su Xi-er berjongkok dan menjawil hidungnya. "Ayahmu terlalu sibuk, dan sudah harus kembali ke istana kekaisaran besok, pagi-pagi sekali. Tetapi, setelah beberapa waktu, ia bisa pergi dan menemanimu di rumah."

Setelah mendengarkan itu, Liu Yin Yin tersenyum. "Ayah bisa menemaniku setelah beberapa waktu? Itu bagus! Karena Yang Mulia jauh lebih tua dariku, ia tidak akan membutuhkan orang lain untuk menemaninya, jadi Ayah bisa tinggal bersamaku! Nona Peri, kapan kita akan pergi keluar untuk makan permen?"

Su Xi-er menarik tangannya, dan menginstruksikan si inang pengasuh, "Bawakan beberapa baju Yin Yin dan kemasi dengan benar. Aku akan membawa pakaiannya bersamaku."

Si inang pengasuh paham dan segera pergi berkemas.

Liu Yin Yin keheranan. "Kenapa kau membawa bajuku? Peri, apakah kau akan membawaku pergi jauh? Kalau memang begitu, aku harus memberitahukan Ibu, kalau tidak, ia akan cemas saat ia tidak melihatku."

Liu Yin Yin masih tidak mengetahui bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

"Ibumu sudah menyetujuinya. Apa, apakah Yin Yin tidak mau pergi main keluar?" Su Xi-er tersenyum sumringah sewaktu ia berbicara dengan lembut.

Liu Yin Yin merenunginya sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Aku mau pergi bermain keluar. Kalau Kakak Peri sudah memberitahukan mereka, maka itu lebih menghemat waktu."

Saat ini, si inang pengasuh berjalan keluar dari kamar bagian dalam bersama satu buntalan baju, dan menyerahkannya pada Su Xi-er. "Ini adalah baju-baju Nona."

Totalnya ada dua belas set, masing-masing empat set untuk empat musim.

Su Xi-er menerimanya, kemudian lanjut menggandeng tangan Liu Yin Yin sementara mereka berjalan keluar.

Liu Yin Yin melambaikan tangan pada inang pengasuhnya. "Ibu Pengasuh, beritahu Ayah besok, kalau aku tidak menyalahkannya karena pergi ke istana kekaisaran. Setelah ia mengurusi semuanya, akhirnya ia bisa pulang ke rumah dan bermain bersamaku!"

Semakin Liu Yin Yin memikirkan soal itu, semakin bahagia pula dirinya. Akhirnya, ia mengikuti Su Xi-er keluar dari Kediaman Liu.

Sewaktu mereka berdua keluar dari Kediaman Liu, Su Xi-er menyadari satu sosok berjubah biru. Namun, ia hanya melihatnya sejenak sebelum sosok itu menghilang.

(T/N : walau hanya muncul bentaran aja, tapi kasian betul sama nasib keluarga Liu 😭)

Continue reading CTF - Chapter 238

CTF - Chapter 237

Consort of A Thousand Faces

Chapter 237 : Sangat Terkejut


Baru beberapa saat yang lalu, Pei Qian Hao gembira sekali karena wanita di hadapannya berinisiatif untuk menciumnya.

Tetapi sekarang, setelah mengerti tujuannya, wajahnya pun menggelap. Ia hanya menciumku karena ia punya permintaan.

Su Xi-er memerhatikan wajahnya yang menggelap. Huh? Ia tidak senang karena aku menciumnya? "Pangeran Hao, Pangeran Yun barangkali tidak akan membiarkan Guru Agung Liu lepas hari ini setelah menentangnya secara terbuka dengan lukisan Ning Ru Lan. Akan disayangkan jika seorang otoritas terkemuka dalam dunia sastra seperti Guru Agung Liu meninggal."

"Ini tidak ada hubungannya denganmu. Kalau Guru Agung Liu mati, maka itu adalah kerugian Nan Zhao." Kemudian, Pei Qian Hao mengulurkan tangannya dan melingkarkannya di pinggang Su Xi-er, ingin membawanya kembali ke dalam kamar.

"Pangeran Hao, hamba mengagumi Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao yang terdahulu, dan merasa bahwa ia akan merasa tidak tenang apabila Guru Agung Liu mati begitu saja karena ini."

Pei Qian Hao terhenti di jalurnya dan memerhatikannya dalam diam. Maksudmu adalah, kau ingin memberitahuku kalau kau mau ikut campur dalam segalanya karena kau mengagumi Ning Ru Lan? Bahkan, kekaguman saja bisa sejauh ini?

Kalau aku tidak membantu Su Xi-er, apa yang dapat diperbuatnya? Apakah dirinya tanpa diriku?

Pei Qian Hao mengerutkan alisnya sementara kilat halus terpancar di matanya, sebuah ide yang sepertinya brilian terbentuk dalam benaknya. Karena ia mau ikut campur, maka biarkan saja. Aku tidak akan ikut campur dengan masalah Guru Agung Liu. Mari kita lihat, bagaimana ia bisa berhasil melakukan apa pun tanpa diriku.

Semakin Pei Qian Hao memikirkan soal itu, semakin ia merasa kalau idenya ini sangat jenius. Alhasil, ia melepaskan Su Xi-er. "Kau keras kepala, dan akan salah bagi Pangeran ini untuk memaksamu tetap tinggal. Pangeran ini akan memberikanmu waktu dua hari. Jika kau tidak kembali dalam waktu dua hari itu, jangan muncul di hadapan Pangeran ini lagi. Ditambah lagi, Pangeran ini tidak akan ikut campur dalam urusanmu. Apa kau mengerti?"

Su Xi-er membeku sejenak sebelum ia mengangguk. "Terima kasih banyak, Pangeran Hao." Ia membungkuk dengan hormat sekali lagi dan turun dari kapal, mengikuti Guru Agung Liu.

Pei Qian Hao memerhatikan siluetnya yang berangsur menghilang, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Su Xi-er, dari apa yang Pangeran ini lihat, kau akan kembali sebelum waktu dua hari itu habis. Kekuasaan mungkin bukan selalu menjadi jawabannya, tetapi terkadang, kau tidak punya pilihan lain selain bergantung padanya.

Pangeran ini akan melihat apa yang dapat kau capai tanpa diriku.

Pei Qian Hao begitu yakinnya bahwa Su Xi-er akan tidak berdaya untuk bahkan mengambil satu pun langkah maju seorang diri. Namun, jika ia mengetahui apa yang akan terjadi, ia sudah pasti tidak akan membiarkannya pergi sendirian malam itu.

Su Xi-er ditakdirkan untuk meluaskan pandangan Pei Qian Hao, dan memberikan pukulan telak pada kepercayaan dirinya.

***

Su Xi-er yang pergi, melihat Guru Agung Liu menaiki kereta kuda Kediaman Liu. Ia segera melambaikan tangannya untuk memberhentikan kereta lainnya, menyuruh kusirnya untuk berhenti di jalanan terdekat dengan Kediaman Liu.

Su Xi-er mengangkat tirai kereta, firasat buruk sudah bercokol di dalam perutnya saat ia melihat langkah buru-buru Guru Agung Liu. Mungkin, Yun Ruo Feng sudah bertindak pada Guru Agung Liu!

Dengan tiadanya Guru Agung Liu, pengaruh Lian Chen di mahkamah kekaisaran akan terpengaruh besar. Tanpa adanya pejabat sipil di bawah bendera Guru Agung Liu, mahkamah akan berada sepenuhnya dalam kendali Yun Ruo Feng!

Dalam waktu kurang dari tujuh menit, kereta kuda berhenti. Su Xi-er menyerahkan beberapa koin tembaga pada kusirnya sewaktu ia turun, berjalan kaki di sepanjang sisa perjalanannya menuju ke Kediaman Guru Agung Liu.

Di pintu masuk Kediaman Liu, pelayan berdiri dengan hormat di sebelah gerbang depan yang tertutup rapat.

Su Xi-er maju ke depan, tetapi dihentikan oleh para pelayan. "Nona, apa yang membawamu ke Kediaman Liu selarut ini?"

"Aku mencari Guru Agung Liu; ini penting."

Pelayan-pelayan itu jelas sekali merasa ragu. Salah satu dari mereka meminta masuk ke dalam kediaman untuk mengabari Guru Agung Liu. Dihimpit waktu, Su Xi-er segera membuat satu pelayannya pingsan dan mengancam yang satunya untuk membukakan pintu.

Pelayan itu ketakutan dengan aura dingin dan membekukan yang terpancar dari Su Xi-er, dan hanya bisa membukakan pintu masuknya dengan tangan yang gemetaran.

Su Xi-er masuk dengan segera dan langsung menuju ke aula utama Kediaman Liu, tetapi Guru Agung Liu tidak ada di sana.

Tepat saat ia baru saja akan berpindah, sekelompok pelayan membanjir dari segala arah, mengepung Su Xi-er.

Tanpa memberikan kesempatan Su Xi-er untuk bicara, seorang pelayan langsung mengangkat gada di tangannya dan mengayunkan itu padanya. Su Xi-er bersandar ke satu sisi, menghindari serangannya sebelum menendangnya.

Segera, Nyonya Liu muncul di aula utama dan menatap Su Xi-er dengan pelototan yang membekukan. "Bahkan seorang bawahan wanita Pangeran Yun saja sekuat ini. Pangeran Yun sudah memberikan suamiku minum anggur beracun dan setuju untuk memberikannya waktu empat jam. Kini, ia bahkan tidak bisa mengampuni empat jam itu, dan ingin segera membungkamnya?"

Keterkejutan meliputi mata Su Xi-er. "Guru Agung Liu meminum anggur beracun itu?"

Rasa sakit di mata Nyonya Liu tampak nyata, sebelum ia jadi ragu-ragu. "Kalau kau bukan bekerja untuk Pangeran Yun, maka, siapa kau?"

"Dayang Pangeran Hao, Su Xi-er. Dimana Guru Agung Liu? Aku punya cara untuk menyelamatkannya!"

Mendengarkan perkataan Su Xi-er, Nyonya Liu teringat tentang insiden dimana dayang Pangeran Hao menegur kedua Nona Wei di jalanan. Memutuskan untuk bergantung pada potongan harapan terakhir ini, Nyonya Liu melepaskan kecurigaannya dan membawa Su Xi-er ke ruang baca. "Nona, apa kau sungguh punya cara untuk menyelamatkan Tuan Besar? Tuan Besar sedang menuliskan sepucuk surat di ruang baca. Bahkan, sebelum kematiannya, ia masih memikirkan tentang Yang Mulia." Nyonya Liu tidak tahan, hanya bisa menyeka air matanya selagi ia berbicara. Jika Tuan Besar meninggal, aku akan mengikutinya. Meskipun aku tidak tega untuk meninggalkan putriku, aku lebih tidak sanggup untuk meninggalkan Tuan Besar.

Nyonya Liu dan Guru Agung Liu sudah saling mengenal semenjak mereka masih muda, dan merupakan pasangan kekasih sejak kecil. Sepanjang hidupnya, Nyonya Liu adalah satu-satunya wanitanya. Meskipun ia tidak bisa melahirkan seorang putra, dan baru melahirkan seorang putri untuknya ketika ia berusia empat puluhan, Guru Agung Liu tidak meninggalkannya, maupun mengambil seorang selir.

Su Xi-er segera membuka pintu ruang baca setelah mereka sampai, tidak repot untuk mengetuk pintunya sementara Nyonya Liu membuntuti di belakangnya.

Guru Agung Liu baru saja selesai menulis surat, dan agak kaget setelah melihat Su Xi-er. Aku tidak pernah menyangka kalau dayang Pangeran Hao akan muncul!

"Guru Agung Liu, tolong berbaring dan biarkan aku memeriksanya." Su Xi-er pernah terkena racun yang mematikan di kehidupannya yang sebelumnya. Tabib Kekaisaran sudah buntu, dan pada akhirnya, ia mempelajari sebuah cara dari seorang tabib rakyat tua untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Kali ini, ia ingin mencoba cara yang dipelajarinya itu

"Nyonya Liu, bawakan sebuah pisau kecil untuk mengeluarkan darahnya yang beracun."

Tepat saat itu, Guru Agung Liu melambaikan tangannya. "Tidak perlu; racunnya akan bereaksi sejam lagi. Pejabat tua ini tidak akan bisa membantu Yang Mulia secara hidup-hidup. Hanya dengan kematianku, barulah akan menjadi pukulan telak bagi Pangeran Yun!"

Nyonya Liu hanya bisa merengek. "Tuan Besar ...."

Guru Agung Liu sudah menetapkan pikirannya. Hanya dengan kematianku, akan membangkitkan para pelajar berpendidikan untuk memulai perang salib melawan Pangeran Yun. Aku tahu itu tidak akan cukup untuk menjungkirbalikkan kapalnya, tetapi perang salib dari kaum terpelajar akan menjadi pukulan telak terhadap Pangeran Yun. Setidaknya, Pangeran Yun tidak akan bisa melakukan apa pun terhadap Ning Lian Chen dalam waktu singkat ini. Faktanya, ia akan dipaksa untuk menyerahkan sejumlah kekuasaan pada Yang Mulia untuk menenangkan badai.

Sementara, bagaimana kekuatan ini digunakan, semua akan tergantung pada Yang Mulia mulai dari sekarang.

Guru Agung Liu mengabaikan Su Xi-er dan langsung bicara pada Nyonya Liu. "Apa Yin Yin sudah tidur? Gendong ia kemari pelan-pelan. Aku sudah tidak bisa berjalan lagi dengan adanya racun ini di tubuhku."

Nyonya Liu tidak bisa menghentikan air matanya mengalir dan mengangguk berulang-ulang. Kemudian, ia berbalik dan keluar dari ruang baca untuk membawa putrinya.

Di ruang baca, Su Xi-er sudah begitu terenyuh sementara ia memandangi pria di depannya. "Guru Agung Liu, kau sudah menyerahkan terlalu banyak demi Nan Zhao."

Mata Guru Agung Liu menggelap. Mungkin karena ia menjelang ajalnya, ia bahkan memiliki wawasan yang lebih tajam ketika ia menilai orang lain sekarang.

Su Xi-er menatap lurus ke dalam mata Guru Agung Liu. Ia menggunakan matanya, dan wataknya, untuk membiarkan pria itu mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.

Tiba-tiba saja, Guru Agung Liu disambar oleh pencerahan yang mengejutkan. Jika bukan karena fakta kalau ia tidak bisa menggerakkan kakinya, ia sudah akan mundur beberapa langkah. Kata-katanya goyah sewaktu ia terbata-bata, "Putri .... Pertama?"

Su Xi-er mengangguk. "Guru Agung Liu, kau sudah mengalami banyak sekali kesulitan di dalam kehidupan ini. Lian Chen, maupun diriku, tidak akan pernah melupakanmu."

"Putri Pertama, ini sungguh dirimu!" Tiba-tiba saja, Guru Agung Liu mulai tertawa terbahak-bahak, "Ini merupakan berkah langit untuk Nan Zhao! Ini adalah berkah langit untuk Nan Zhao! Pangeran Yun tidak akan pernah menyangka bahwa Anda benar-benar hidup dengan cara seperti ini! Putri Pertama ...."

Continue reading CTF - Chapter 237

CTF - Chapter 236

Consort of A Thousand Faces

Chapter 236 : Kehilangan Harapan


Melihat bahwa sasarannya sudah tercapai, Su Xi-er menarik ujung keliman lengan jubah Pei Qian Hao dan mengusulkan dengan lembut, "Pangeran Hao, kita harus kembali karena Perjamuan Malam Kapal Naga telah dibatalkan."

Ning Lian Chen tertegun setelah melihat tindakan Su Xi-er; ia bertingkah seperti seorang wanita yang pemalu. Kakak Perempuan tidak pernah bertingkah seperti ini dengan Yun Ruo Feng, bahkan saat ia mencintai pria itu. Tetapi, di depan Pangeran Hao, ia benar-benar .... Ning Lian Chen tidak tahan untuk melirik beberapa kali ke arah Pei Qian Hao.

Selama salah satu dari lirikan yang diberikan Ning Lian Chen, secara kebetulan bertemu dengan tatapan Pei Qian Hao, menangkap sejejak kesombongan yang tersembunyi di bola mata gelap orang itu.

"Baiklah, mari kembali," Pei Qian Hao mengangguk, dan berbalik, berjalan keluar dari kapal.

"Pangeran Hao, sudah larut. Kau bisa istrirahat di kapal, daripada kembali ke rumah pos." Suara datar Yun Ruo Feng terdengar.

Pei Qian Hao tidak berbalik saat ia membalas. "Boleh juga."

Sebelum ia bahkan menyelesaikan kalimatnya, sosok Pei Qian Hao sudah menghilang dari aula utama.

Tanpa adanya Pei Qian Hao dan Su Xi-er, atmosfernya menjadi lebih canggung. Ning An Lian sendiri tidak mau memecah keheningannya, bibirnya terus terkatup rapat.

Yun Ruo Feng melihat ke arah Wei Guang, menyebabkan orang itu gemetaran diam-diam. Ia tidak bisa mengelak dari tanggung jawab karena Perjamuan Malam Kapal Naga yang berakhir sebelum waktunya.

"Wei Mo Hai, tidak pantas bagi Pangeran ini untuk menangani kerabatmu ini, jadi aku akan serahkan dia padamu. Sementara untuk kasus Nona-Nona Wei, kau akan bertanggung jawab dalam penyelidikannya." Ekspresi lembut Yun Ruo Feng tetap ada, sementara ia menurunkan perintah ini, tetapi nada serius dalam suaranya, yang membuat hati Wei Guang jadi terasa acak-acakan.

Wei Mo Hai membungkuk dan menerima perintah. "Bawahan ini mengerti." Kemudian, ia menggesturkan pada Wei Guang untuk mengikutinya. Tidak berani membantah, Wei Guang cepat-cepat bangkit dan mengikuti Wei Mo Hai keluar dari aula utama.

Di dalam aula utama, Ning Lian Chen memandangi Ning An Lian. "Kakak Perempuan, apa kau takut menjaga Makam Kekaisaran selama tiga tahun? Kaisar ini harus bilang bahwa jika kau tidak datang malam ini, tidak akan ada satu pun dari hal ini yang akan terjadi. Apabila kau sungguh berakhir di Makam Kekaisaran, kau hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri."

Yun Ruo Feng melambaikan tangannya. "Cukup, kau boleh pergi. Yang Mulia bisa berhenti merasa cemas; Pangeran ini akan mengatasi masalah ini."

"Bahkan, Kaisar ini saja tidak sanggup mengatasi masalah ini, tetapi itu menarik, melihat bagaimana kau akan menangani amukan Kakak Pertama, Pangeran Yun." Kata-kata Ning Lian Chen dipenuhi makna yang tersirat, tetapi tidak ada yang meresponsnya sewaktu ia berjalan keluar dari aula utama, wajahnya penuh dengan senyuman.

Tepat saat ia baru saja akan turun dari Kapal Naga, Ning Lian Chen menangkap pemandangan, ada pasangan yang sedang berdiri dan berciuman di haluan kapal di kejauhan.

Cahaya bulan menyinari pasangan itu, memperlihatkan wajah rupawan dari pasangan itu. Ning Lian Chen melihatnya dengan jelas. Itu adalah Kakak Perempuan dan Pei Qian Hao!

Ia melihat lengan Pei Qian Hao melingkar di pinggang Kakak Perempuannya, dan bukannya menolaknya, tangan gadis itu melingkari leher Pei Qian Hao.

Mata Ning Lian Chen dengan cepat menyipit sebelum kembali normal. Kakak Perempuan, apakah kau sungguh telah jatuh cinta di kehidupan ini? Mampukah Pangeran Hao melindungimu dari angin dan hujan? Saat dipaksa untuk membuat pilihan, akankah Pangeran Hao memilihmu, atau mempertahankan kekuasaannya?

Ning Lian Chen mengepalkan tangannya dengan erat. Kakak Perempuan, aku akan mendukungmu, dalam apa pun yang membuatmu bahagia; tetapi ketika itu tentang memilih seorang suami, ia harus melangkahiku dulu. Memikirkan ini, Ning Lian Chen hanya bisa menghela napas. Meskipun jika aku ingin menyaring Pei Qian Hao, pengaruhku saat ini begitu rendah, sampai-sampai itu hanya akan membuat Pei Qian Hao mengabaikanku.

Itulah mengapa, bila aku ingin melakukan apa pun, aku harus menjadi kuat. Dipenuhi dengan tekad, mata Ning Lian Chen tampak cerah sementara ia berjalan perlahan-lahan, menuruni kapal.

Tepat saat Ning Lian Chen turun dari kapal, ia melihat Guru Agung Liu yang menghampirinya dengan buru-buru, sebelum membungkuk dan menyampaikan hormatnya.

Kelihatannya, ini bukanlah suatu kebetulan; Guru Agung Liu sudah menunggu di sini selama beberapa waktu sekarang.

Pemikiran tentang lukisan yang digunakan Guru Agung Liu untuk menentang Yun Ruo Feng secara terbuka, membuat Ning Lian Chen merasa terharu juga cemas di waktu bersamaan untuk pria berumur itu.

"Guru Agung Liu, tidak perlu terlalu sopan; ayo, cepat bangun."

Guru Agung Liu bangkit berdiri. Pria yang biasanya selalu serius dalam pidato dan sikapnya, terdapat air mata yang menggenangi matanya. "Yang Mulia, pejabat tua ini takut kalau waktuku sudah hampir habis. Pejabat tua ini tidak akan bisa berada di sisi Anda, dan harus meninggalkan Anda untuk menghalau Pangeran Yun sendirian ...."

Ning Lian Chen mengangkat tangannya, menghapus air mata dari sudut mata guru yang dihormatinya. "Kau adalah guru yang Kaisar ini hormati, dan seperti kata mereka, seorang guru selama satu hari, adalah seorang ayah seumur hidup. Ayahanda Kaisar ini mangkat lebih awal. Di mata Kaisar ini, kau lebih mirip seperti ayah yang tegas daripada seorang guru. Jika kau yakin waktumu sudah akan habis, jangan katakan hal seperti ini lagi; aku akan menyelamatkamu."

Ning Lian Chen memahami apa yang sedang Guru Agung Liu coba untuk katakan. Ia sudah menentang Yun Ruo Feng secara terbuka selama Perjamuan Malam Kapal Naga; itu secara praktis akan membuat Yun Ruo Feng mengeksekusinya.

Namun, meskipun aku lemah, aku bertekad untuk menyelamatkan Guru Agung Liu.

"Yang Mulia, Pangeran Yun memiliki banyak sekali trik di tangannya. Ia mengendalikan kekuasaan kekaisaran, menggunakannya untuk memanipulasi mahkamah, dan memfitnah Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu. Ia bahkan sampai memberlakukan pajak yang berat, dan mengalokasikan kekayaan kerajaan ke militer. Anda tidak boleh terkena amarahnya sementara Anda masih belum membentangkan sayap Anda. Anda harus mengalami penderitaan hingga waktunya tiba, Anda dapat membangun pengaruh Anda sendiri; hanya dengan begitu, Pangeran Yun akan tewas. Apabila Nan Zhao terus seperti ini, kerajaan ini pasti akan runtuh." Kata-kata Guru Agung Liu diutarakan dengan nada yang hampir seperti percakapan biasa, namun tidak diragukan lagi, makna dingin dan muram di balik ucapannya.

Jantung Ning Lian Chen serasa diremas. Kedengarannya seolah Guru Agung Liu mencoba menyampaikan kata-kata terakhirnya. Tidak, aku tidak boleh membiarkan Guru Agung Liu mati!

"Yang Mulia, pejabat tua ini memiliki seorang putri berusia sepuluh tahun. Apabila terjadi musibah, mohon jaga dirinya, menggantikan pejabat tua ini. Saat ia cukup umur, Anda bisa membiarkannya pergi." Kemudian, Guru Agung Liu berlutut. "Yang Mulia hanya perlu menjaga putri pejabat tua ini selama lima tahun. Lima tahun, sudah lebih dari cukup."

Ning Lian Chen mengatupkan bibirnya. Guru Agung Liu sudah bertekad untuk mati ....

"Guru Agung Liu, putrimu sedang menunggumu di Kediaman Liu. Kau akan baik-baik saja; Kaisar ini akan memikirkan solusi." Ning Lian Chen membantu Guru Agung Liu bangkit, suaranya penuh tekad.

Guru Agung Liu mengangguk, "Terima kasih, Yang Mulia. Pejabat tua ini sudah mengaturkan buku-buku di rak buku. Tingkat pertama—memerintah kerajaan; yang kedua—menempatkan pasukan; yang ketiga—penggunaan personel. Buku-buku ini jumlah totalnya sekitar selusin jilid lebih. Meksipun tidak ada banyak, setiap bukunya mengandung intisari dari prinsip-prinsip panduan. Pejabat tua ini sudah menaruh teh bunga favorit Yang Mulia, dan kacang kastanye goreng ala orang biasa di kabinet bagian bawah di sebelah rak bukunya. Yang Mulia dapat menikmati mereka saat Anda lelah membaca."

"Guru Agung Liu, Kaisar ini pasti akan menyelamatkanmu." Ning Lian Chen dapat merasakan kepahitan di dalam hatinya.

Guru Agung Liu membungkuk dengan hormat. "Terima kasih banyak, Yang Mulia. Pejabat tua ini akan undur diri dulu. Sudah larut dan dingin, tetapi mohon istirahatlah dengan baik." Kemudian, Guru Agung Liu berbalik dan pergi. Di saat ketika ia berbalik, terdapat jejak tekad yang kuat di matanya.

Guru Agung Liu mencibir, rambut putih keabu-abuannya tampak sepi di bawah cahaya bulan. Sebenarnya, bawahan Wei Mo Hai, Qin Ling, sudah mendatangi Guru Agung Liu, dengan secangkir anggur setelah ia keluar dari aula utama. Mana mungkin ia tidak mengetahui kalau anggur itu dipenuhi dengan racun?

Ia tahu bahwa, ketika ia menentang Pangeran Yun secara terbuka, tak diragukan lagi, ia akan berakhir mati, tetapi ia tidak punya penyesalan. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun sewaktu ia menenggak isi cangkir itu.

Qin Ling mengatakan bahwa, dibutuhkan empat jam sebelum racunnya berpengaruh. Ini artinya, aku masih bisa menemani putriku dengan baik selama empat jam ini.

Empat jam. Ia sudah menghabiskan satu jam menunggu Yang Mulia untuk keluar. Setelah tiba di kediamannya, ia masih harus menuliskan sepucuk surat dan menyuruh pelayannya mengirimkan surat itu ke Asosiasi Sastra. Setelah mereka menerima surat itu, sudah pasti akan membuat pukulan yang besar bagi Pangeran Yun.

Akan tetapi, konsekuensi dari surat semacam ini adalah eksekusi dari seluruh keluarganya. Ia tidak sanggup memikirkan tentang putrinya menderita takdir semacam ini, dan hanya bisa memercayakannya pada Ning Lian Chen untuk sekarang ini.

***

Di kapal yang lain, Su Xi-er mendorong Pei Qian Hao. Ia sedikit menolehkan kepalanya dan melihat Guru Agung Liu.

Ia mengangkat kepalanya dan mencium Pei Qian Hao atas kemauannya sendiri. "Pangeran Hao, mohon izinkan hamba untuk pergi ke kediaman Guru Agung Liu." 

Continue reading CTF - Chapter 236

CTF - Chapter 235

Consort of A Thousand Faces

Chapter 235 : Pertikaian


Para tamu dari kerajaan lain segera mengerti bahwa mereka masih diberikan rasa hormat, mendorong mereka untuk berdiri dari tempat duduk mereka dan keluar dari aula utama, dan kembali ke kapal mereka masing-masing.

Setelah semuanya keluar, aula utama sunyi senyap. Melihat itu, bahkan Wei Mo Hai hanya bisa berdiri dengan hormat di samping, Wei Guang bahkan tidak berani menarik napas dalam-dalam sambil menyaksikan adegan di hadapannya.

Yun Ruo Feng menatap Su Xi-er, orang itu didekap di dalam pelukan Pei Qian Hao tanpa adanya pergerakan. Di dunia ini, hanya Pangeran Hao yang akan memeluk seorang wanita dalam pelukannya tanpa memedulikan situasinya.

Senyuman samar muncul di wajah Yun Ruo Feng meskipun dengan jejak sindiran. "Rumor mengenai Pangeran Hao yang mencintai wanita cantik, ternyata memang benar." Kemudian, ia berpaling melihat Su Xi-er dengan tatapan ambigu.

Su Xi-er meletakkan kedua tangannya di dada Pei Qian Hao dan mendorongnya, menegakkan dirinya sebelum menatap Yun Ruo Feng. "Bagaimana Pangeran Hao bersikap adalah urusannya, dan tidak ada hubungannya dengan Anda, Pangeran Yun. Yang lebih penting, bagaimana Anda berencana menangani Putri Pertama Kekaisaran yang sudah memfitnahku dalam kasus pembunuhan Nona-Nona Wei?"

Pei Qian Hao mengalihkan tatapannya pada Ning An Lian setelah mendengar ucapan Su Xi-er, menimpalinya, "Apabila Putri Pertama, kalau kau ingin melakukan investigasi mendalam pada kasus ini, Pangeran ini tidak keberatan untuk bekerja sama. Namun, lebih baik kau sudah memikirkan tentang konsekuensi dari memfitnah dayang Pangeran ini jika kau keliru?"

Pelototan membekukannya membuat Ning An Lian merasa tidak nyaman, menyebabkannya membuka bibirnya dan mendengus, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Putri ini tidak pernah sembarangan memfitnah seseorang. Kalau Putri ini bilang itu dia, sudah pasti dia!"

Pergelangan kaki Ning An Lian masih sakit, dan ketika Su Xi-er maju selangkah ke depan, secara tak sadar, ia mundur. Ketika ia menyadari apa yang diperbuatnya sendiri, ekspresi Ning An Lian jadi lebih buruk. Aku adalah Putri Pertama Kekaisaran suatu kerajaan; bagaimana bisa aku takut pada seorang dayang biasa?

"Putri Pertama pastinya benar-benar memiliki mata dan penilaian yang tajam. Jika apa yang Anda katakan itu benar, maka semestinya tidak ada kesalahan hukuman di Nan Zhao." Menghentikan langkahnya, Su Xi-er melafalkan setiap katanya dengan yakin.

Jantung Ning An Lian berdebar-debar. Su Xi-er jelas sekali sedang tersenyum, tetapi mengapa aku hanya merasakan dingin dari matanya? Perasaan pahit dan membekukan ini, semuanya terlalu familier.

Bahkan ada sesaat ketika Ning An Lian ingin memanggil Su Xi-er sebagai Ning Ru Lan ....

Yun Ruo Feng dapat melihat kalau ada sesuatu yang salah pada Ning An Lian dan menyatakan dengan gesit, "Apabila kau bukanlah pembunuhnya, Putri Pertama akan memperpanjang permintaan maaf resminya."

"Pangeran Yun, Anda memang suka sekali bergurau. Memfitnahku sebagai pembunuh, bukanlah sesuatu yang dapat diselesaikan hanya dengan sebuah permintaan maaf. Ia harus dihukum." Senyuman Su Xi-er tetap terpajang di wajahnya sepanjang waktu, tetapi tidak ada yang akan salah mendengarkan, nada bicara sombong yang digunakannya saat berbicara.

Keangkuhan semacam ini tidak segaris dengan jati dirinya, mengundang kecurigaan orang lain.

Takut kalau Yun Ruo Feng akan menyatukan keduanya, Ning Lian Chen langsung turun tangan. "Memfitnah seseorang adalah kejahatan besar, dan dapat menghancurkan reputasi si korban dengan parah. Selain dari permintaan maaf secara resmi, Putri Pertama Kekaisaran harus menerima hukuman."

"Yang Mulia bijaksana. Putri Pertama, apa Anda berani bertaruh denganku?" Su Xi-er memandang ke arah Ning An Lian yang terdiam. Aku sangat mengetahui kepribadiannya—sangat kejam ketika ia unggul, tetapi, ketika ia jatuh ke dalam posisi yang pasif, ia seperti seekor burung unta dengan kepala yang terkubur di dalam pasir. Itu, tentu saja, kecuali kalau garis batasan bawahnya ditantang.

Tatapan Ning An Lian berkedip sementara ia melihat Su Xi-er. "Taruhan apa?"

Pei Qian Hao mendengus, "Dari apa yang Pangeran ini lihat, Putri Pertama Kekaiasaran sepertinya kurang percaya diri. Setelah menuduh dayang Pangeran ini dengan tak lebih dari spekulasi dan tebak-tebakan, kau jadi pengecut setelah perjanjian resmi harus ditetapkan sebelum melakukan sebuah penyelidikan."

Pei Qian Hao menoleh, menatap Wei Guang, "Tuan Tanah Wei, Pangeran ini paham bahwa kau sangat sedih atas kematian putri-putrimu, tetapi, apakah kau tidak takut kalau putri-putrimu tidak akan bisa menyeberang dalam damai dan bereinkarnasi, jika kau menuduh orang yang tidak bersalah?"

Wei Guang kaget dan tercengang untuk berkata-kata, jantungnya berdebar-debar dengan kencang di dadanya. Pada akhirnya, ia jatuh ke tanah dan menyembah secara serentak. "Orang desa ini hanya ingin menemukan pembunuh yang sebenarnya. Pangeran Hao, orang desa ini penakut, mohon jangan menakutiku."

"Penakut? Pangeran ini tidak bisa melihat adanya rasa takut, melainkan keberanian darimu malam ini. Di perjamuan kerajaan Nan Zhao, kau ikut serta untuk mengacau di acara sepenting ini, Tuan Tanah Wei." Penghinaan Pei Qian Hao untuknya, terbukti dalam nada bicaranya.

Alis Yun Ruo Feng mengerut; ia hampir tidak bisa mempertahankan senyuman di wajahnya.

Ning An Lian menyadari ekspresi Yun Ruo Feng dan segera menjadi agak ketakutan. Apakah Feng membenciku sekarang? Bukannya membawakannya kejayaan, aku malah membawakannya aib.

Aku tidak melakukan apa pun yang salah. Aku hanya tidak menyukai Su Xi-er, dan tidak ingin melihatnya memakai hiasan rambut beruntai itu dengan ekspresi arogannya. Aku ingin Su Xi-er berada di bawah telapak kakiku, sama seperti Ning Ru Lan, dan setelahnya mencambukinya hingga kulit dan dagingnya koyak!

Aku tidak salah, tidak! Mengapa Feng marah?!

Tepat saat Ning An Lian larut dalam guncangan emosionalnya, Su Xi-er berujar secara perlahan, "Putri Pertama, tidak masalah Anda menyetujuinya atau tidak. Demi investigasi, kesepakatan ini akan dibuat. Kalau aku memang adalah pembunuhnya, Anda boleh menanganiku sesuka hati Anda. Kalau bukan, Putri Pertama, Anda harus menjaga Makam Kekaisaran selama tiga tahun."

Ning An Lian merasa sia-sia, dan apabila ia dikirimkan ke Makam Kekaisaran, ia tidak lagi bisa menikmati benda-benda materi. Ia juga menyukai Yun Ruo Feng, tetapi dengan kecintaan orang itu pada kekuasaan, mana mungkin baginya untuk mengikuti dirinya ke Makam Kekaisaran?

Mendengarkan kata-kata Su Xi-er, Ning An Lian segera menggelengkan kepalanya. "Tidak. Bahkan meski jika kau bukanlah pembunuhnya, Putri ini tidak akan pergi ke Makam Kekaisaran." Apalagi selama tiga tahun!

"Bagus, Kaisar ini berpikir kalau kesepakatan ini cukup adil. Jika Nona Xi-er bukanlah pembunuhnya ...." Ning Lian Chen menjeda dan menatap Ning An Lian sebelum ia melanjutkan, "Kakak Perempuan, kau akan pergi ke Makam Kekaisaran dan menjaganya selama tiga tahun, bagaimana? Kaisar ini tahu kalau kau tidak pernah pergi ke Makam Kekaisaran. Beberapa tahun yang lalu, saat para keturunan kekaisaran pergi ke Makam Kekaisaran untuk menyampaikan rasa hormat mereka, kau bahkan sampai mengamuk saat Ayahanda Kaisar tidak mengizinkanmu untuk pergi."

Ning An Lian mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ini berbeda dengan perjalanan ke Makam Kekaisaran beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun yang lalu, pergi ke Makam Kekaisaran merupakan suatu simbol dari posisi seseorang. Dari semua putri yang ada waktu itu, hanya Ning Ru Lan, satu-satunya yang diizinkan untuk pergi!

Tetapi kini, menjaga Makam Kekaisaran hanyalah pelembut kata dari ditahan; dan di tempat sedingin dan terpencil itu pula!

"Tidak, Putri ini tidak mau! Kalau Su Xi-er bukan pembunuhnya, Putri ini tidak akan melangkahkan kaki keluar dari istana peristirahatanku selama tiga bulan!"

Ning An Lian berkata pada dirinya sendiri. Ditahan di istana peristirahatanku selama tiga bulan adalah hukuman paling berat yang dapat kuterima.

Su Xi-er menggelengkan kepalanya, "Aku menempatkan nyawaku sebagai taruhannya. Aku akan membayar kejahatan itu dengan nyawaku apabila penyelidikannya menunjukkan kalau aku adalah pembunuhnya, tetapi Anda hanya akan dikurung selama tiga bulan? Pangeran Hao, tidakkah menurut Anda, hukuman ini terlalu ringan?"

Mana mungkin Pei Qian Hao tidak menyadari tujuan Su Xi-er? Akan tetapi, ia juga tidak suka dengan Ning An Lian yang agresif, dan mengizinkan Su Xi-er untuk bertingkah sesukanya kali ini. 

Oleh sebab itu, Pei Qian Hao berbalik untuk menatap Yun Ruo Feng, "Pangeran Yun, dayang Pangeran ini mempertaruhkan nyawaya demi ini. Sebagai gantinya, Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao harus menjaga Makam Kekaisaran selama tiga tahun. Bagaimana kedengarannya?"

Mata lembut Yun Ruo Feng bertatapan dengan mata membekukan Pei Qian Hao. Pertikaian ini sudah melampaui dua orang wanita, dan telah meluas menjadi pertarungan di antara kedua Prince Regent. Barangkali, ini bahkan merupakan sebuah kompetisi di antara kedua kerajaan.

Tidak peduli betapa enggannya Ning An Lian, panah telah terpasang dan harus ditembakkan. Ia tidak lagi memiliki hak istimewa untuk memilih jalannya saat menghadapi perselisihan semacam itu.

Yun Ruo Feng merenung sedikit sebelum ia mengangguk. "Pangeran ini tidak akan menentang apa yang diusulkan Nona Xi-er."

Mendengar kata-kata Yun Ruo Feng, hati Ning Lian Chen sedikit tergerak. Ning An Lian, kali ini, kau benar-benar hancur. Kaisar ini akan melihat, bagaimana kau mengatasi tiga tahun di Makam Kekaisaran yang sepi itu. Meski jika kau berhasil melalui tiga tahun itu, Kaisar ini akan memastikan kalau kau tidak akan pernah kembali.

Wajah Ning An Lian memucat. Jika pembunuhnya bukan Su Xi-er, aku sungguh harus pergi ke Makam Kekaisaran selama tiga tahun?

Tidak, aku tidak mau! Tetapi, tepat saat ia baru saja akan bicara, ia menangkap tatapan Yun Ruo Feng, dan jantungnya membeku.

Selama bertahun-tahun, ia pikir kalau tatapan Yun Ruo Feng hanya terisi dengan kelembutan. Untuk pertama kalinya, ia sungguh melihat sejejak kekejaman di dalam matanya.

(T/N : emang lemot ya, uda dari dulu-dulu si Yun kejamnnya mah. =_=)

Continue reading CTF - Chapter 235