Kamis, 05 Februari 2026

CTF - Chapter 228

Consort of A Thousand Faces

Chapter 228 : Keputusan


Untuk mengatakan bahwa ia akan meninggalkan tandanya lagi jika cupang ini menghilang ... ini bukan 'hanya tidur sekali dengannya', ia jelas-jelas mau aku tidur bersamanya, lagi dan lagi. Su Xi-er meliriknya dan mengangkat tangannya untuk mencoba menarik baju dalamannya yang berantakan, tetapi dihentikan di tengah-tengah.

"Biarkan Pangeran ini melihatnya lagi." Pei Qian Hao berbicara selagi ia menatap cupang di bahu Su Xi-er. Ia tidak tahan untuk tidak meletakkan tangannya di atas sana. "Bagaimana kalau aku mencetakkan satu lagi padamu?"

Su Xi-er menggeser tubuhnya. "Tidak, dengan seberapa banyaknya Anda terus saja bermain-main dengan hamba, aku merasa lelah." Kemudian, ia berbalik ke samping untuk menghadap ke dinding dalam.

"Kau sebut ini dengan bermain-main? Jika aku sungguh bermain-main denganmu, kau bahkan tidak akan punya tenaga untuk bicara." Pei Qian Hao terkekeh, tetapi ia tidak menghentikan Su Xi-er yang berbalik.

Melihat ke punggung rampingnya, mata Pei Qian Hao menggelap sementara jakunnya bergerak naik turun. Lalu, ia bangkit berdiri dan mengenakan pakaiannya, mengetahui bahwa ia tidak akan sanggup melawan untuk menginginkan Su Xi-er bila ia di sana lebih lama.

Su Xi-er mendengar bunyi gemerisik pakaian di belakangnya, tetapi saat ia memutar kepalanya, Pei Qian Hao sudah meninggalkan kamar.

Ada bunyi derak, dan kamarnya jadi sunyi senyap kecuali bunyi angin di sungai.

Mata Su Xi-er menggelap; ia tidak bodoh, dan tahu dengan pasti mengapa Pei Qian Hao meninggalkan kamar. Ia sudah menyadari tadi, saat pria itu menciumnya. Tubuhnya bukannya terasa hangat, tetapi terbakar penuh gairah. Apabila ia tidak menghentikan mereka, tidak akan mengejutkan apabila sesuatu terjadi.

Su Xi-er menarik selimut di sebelahnya dan mencengkeramnya dengan erat. Pei Qian Hao, kau tidak tahu siapa aku. Kau tidak menyukai wanita yang kuat. Kau menginginkan seorang wanita yang bisa berbudi luhur dan lembut, berdiri di sisimu dan mendukungmu dari belakang sambil membesarkan anak-anakmu. Bagi seseorang sekuat dan sekeras kepala diriku, itu mustahil.

***

Setelah meninggalkan kamar, alis Pei Qian Hao mengerut sementara ia menatap ke danau yang tenang, memberikan rasa kesepian. Para dayang dan kasim, semuanya akan cepat-cepat mundur saat mereka melihatnya dalam keadaan begini, ngeri dengan aura mengintimidasinya.

Mata Pei Qian Hao jadi tampak lebih gelap lagi saat ketegangan yang tak terlihat itu memuncak, tangannya terkepal dengan erat di bawah lengan jubahnya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja ia rileks, stres sepertinya sudah menghilang dari pundak dan tangannya, sewaktu cerah kembali ke matanya. Sudut bibirnya terangkat seolah ia sedang mendeklarasikan, ia sudah membuat suatu keputusan.

Su Xi-er, selama sisa hidupmu, kau adalah milik Pangeran ini.

Kenangan akan Su Xi-er dan dirinya terus muncul di dalam benaknya. Pertama kali kita bertemu, pertama kali ia menarik perhatianku, caranya menahan diri dalam diam saat aku menghukumnya, tatapan nakalnya saat ia sedang mabuk. Aku akan kesal, tetapi kadang-kadang masih tidak berdaya untuk menghentikannya.

Setelah membuat keputusan, aura dingin di sekitar Pei Qian Hao pun lenyap. Selagi tatapannya mendarat ke pintu kamar di belakangnya, ada garis-garis kelembutan yang tidak terlalu mencolok di dalam ceruk matanya. Su Xi-er, Pangeran ini akan membuatmu melupakan tentang penderitaanmu dan membiarkanmu bebas secara perlahan-lahan dari rasa takutmu akan lelaki. Namun, kau hanya boleh seperti itu terhadapku. Kau masih harus merasa kalau pria lain itu menjijikkan!

Pei Qian Hao yang sekarang, mengira bahwa alasan Su Xi-er membenci pria adalah dikarenakan kemalangannya saat ia masih kecil.

***

Sementara itu, di kapal Yun Ruo Feng.

Ketika Ning Lian Chen masuk ke dalam ruangan, Chu Ling Long dan Hua Zi Rong sudah pergi. Ia menuju ke satu kursi untuk duduk, menyadari kalau Yun Ruo Feng sedang minum teh di sebelahnya.

"Pangeran Yun, minum teh lagi?"

Yun Ruo Feng menurunkan cangkir tehnya. "Yang Mulia, kau tidak menampilkan sikap dari seorang Kaisar hari ini. Bagaimana bisa kau mengikuti di belakang Pangeran Hao tepat di depan semua tamu-tamu lainnya? Apabila Pangeran ini tidak mengirimkan Kasim Fu untuk membawamu kembali, kapan kau baru berencana untuk kembali?"

"Pangeran Yun, Kaisar ini tidak memiliki sikap seperti seorang Kaisar, mungkinkah kau yang memilikinya?" Ning Lian Chen tertawa kecil dan melanjutkan, "Kaisar ini membawa Pangeran Hao pergi melihat pemandangan karena rasa sopan-santun. Apakah aku salah melakukan ini?"

"Yang Mulia, tidak bisakah kau melihat bahwa tindakanmu akan membuat Pangeran Hao tidak senang? Pangeran Hao jelas-jelas sangat menyukai Su Xi-er. Jelas sekali ia mau menghabiskan waktu berduaan dengannya, dan kau membuntuti mereka ...."

Sebelum Yun Ruo Feng bisa melengkapi kalimatnya, Ning Lian Chen menyelanya. "Pangeran Yun, Kaisar ini tidak punya perasaan romantis terhadap Su Xi-er. Selama garis batasan ini ada, Pangeran Hao tidak akan marah."

Apalagi, itu adalah Kakak Perempuanku, satu-satunya keluargaku. Aku hanya mengikutinya karena aku mencemaskannya. Aku tidak yakin apakah Pangeran Hao bisa melindungi Kakak Perempuan.

Sementara Pangeran Hao sudah pasti punya kekuasaan dan pengaruh untuk melindunginya, siapa yang tahu apakah ia masih akan melakukan begitu saat ia mengetahui kalau dayangnya adalah Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao yang terdahulu?

Akankah perasaannya tetap sama, bahkan di saat itu? Pemikiran ini membuat Ning Lian Chen cemas.

"Kau menganggapnya terlalu sederhana." Yun Ruo Feng membuka bibirnya dan berujar dengan tenang. Aura kelembutannya telah digantikan dengan keseriusan.

"Kaisar ini tidak suka memperumit masalah seperti dirimu, Pangeran Yun. Apakah kau menerima pesan yang Kaisar ini perintahkan Kasim Fu untuk sampaikan?" Ning Lian Chen terkekeh dan melanjutkan. "Sudah melelahkan bagi Pangeran Yun, jadi Kaisar ini tidak akan mengganggumu lebih jauh. Istirahat yang baik, hemat tenaga untuk Perjamuan Malam Kapal Naga malam ini."

Dengan itu, Ning Lian Chen berdiri dan meninggalkan ruangan.

Memerhatikan punggung Ning Lian Chen, Yun Ruo Feng menautkan alisnya. Karma.

Yun Ruo Feng merasa bahwa ia paham dengan makna dari perkataan Ning Lian Chen. Dengan diketahuinya secara luas bahwa akulah yang membunuh Ning Ru Lan, mana mungkin Ning Lian Chen tidak membenciku? Untuk itu, demi mencegah masalah di masa depan, yang paling masuk akal bagi Yun Ruo Feng adalah untuk menyingkirkan Ning Lian Chen juga, tidak peduli seberapa mati-matiannya para pejabat sipil itu menentangnya.

Tetapi, setiap kali ia ingin membunuh Ning Lian Chen, ia akan mengubah pikirannya.

Saat ini, Wei Mo Hai masuk ke dalam ruangan, membungkuk dan menyapa sebelum melaporkan, "Pangeran Yun, Putri Pertama Kekaisaran menghilang dari istana."

Nada suara Yun Ruo Feng meninggi, suaranya jadi lebih keras, "Apa?! Ia tidak ada di istana?"

"Benar, Qin Ling sudah menerima hukuman atas kemauannya sendiri, mengakui itu adalah kelalaiannya karena tidak menjaga Putri Pertama Kekaisaran dengan baik."

Ketika pengawal datang, mereka membuatnya jelas bahwa Putri Pertama Kekaisaran kemungkinan besar telah menghilang saat mereka berganti giliran jaga.

"Sampaikan perintah Pangeran ini, cari Putri Pertama Kekaisaran secepatnya, terutama di sekitaran Sungai Air Caltrop. Saat kau menemukannya, segera bawa ia kembali ke istana dan jaga ia dengan ketat." Alis Yun Ruo Feng mengerut. Dengan temperamen sepertinya, menyelinap keluar sekarang hanya bisa berarti bahwa ia berniat untuk hadir di perjamuan. Itu akan jadi bencana, kemunculannya hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Ia sudah pasti tidak sama tenang dan perhitungannya seperti Ning Ru Lan.

"Bawahan ini mengerti." Wei Mo Hai membungkuk lagi. "Pangeran Yun, semua orang di jalan membicarakan tentang dayang Pangeran Hao. Mereka membicarakan tentang betapa memikatnya dirinya, dan bahwa Putri Pertama Kekaisaran yang sekarang ini bahkan tidak bisa dibandingkan dengan seorang dayang. Beberapa orang bahkan sampai membawa-bawa soal Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu."

Mendiskusikan Su Xi-er saja tidak masalah. Namun, mengungkit soal Ning Ru Lan, itu beda lagi.

Alis Yun Ruo Feng jadi rileks saat ia menenangkan dirinya. "Kumpulkan sekelompok pengawal dan suruh mereka berjalan di jalanan dengan baju biasa. Jika mereka mendengar siapa saja yang mengungkit soal dirinya, tangkap orang yang berdosa itu diam-diam. Diskusi semacam ini harus segera dibungkam."

Wei Mo Hai membungkuk. "Bawahan ini akan segera mengerjakannya." Kemudian, ia keluar dari ruangan.

Yun Ruo Feng mengepalkan tangannya, tersembunyi di bawah lengan jubahnya. Ning Ru Lan, kau sudah mati; mengapa kau masih harus menyusahkan Pangeran ini? Orang-orang membicarakan soal dirimu, dan sekarang bahkan ada Su Xi-er yang memiliki sikap yang mirip denganmu. Seharusnya kau istirahat dengan tenang karena kau sudah mati. Sementara untuk kebencianmu, Pangeran ini akan membayarmu di kehidupan yang selanjutnya.

Tetapi, kabar menjelajah paling cepat dari mulut ke mulut. Satu ke sepuluh, sepuluh ke seratus. Meskipun jika orang-orang ditangkap secara rahasia, itu tidak akan cukup untuk menghentikan kabarnya menyebar.

Para warga menghentikan diskusi mereka saat malam turun, tetapi pedagang yang sering melewati rute Nan Zhao dan Bei Min yang menyebarkan omongannya.

Beberapa pedagang dari Bei Min bahkan mengungkit soal ini dalam surat untuk keluarga mereka.

Karena itulah, kabar ini menyapu Bei Min seperti embusan angin dan masuk ke telinga Pei Ya Ran.

0 comments:

Posting Komentar