Kamis, 05 Februari 2026

CTF - Chapter 233

Consort of A Thousand Faces

Chapter 233 : Mengenali


Ning Lian Chen adalah yang pertama pulih dari kekagetannya, dengan cepat mengangkat tangannya. "Guru Agung Liu melukis dengan baik. Hadiah akan diberikan secara sepatutnya."

Meskipun Yun Ruo Feng dipermalukan, ia tidak bisa mengatakan apa-apa di hadapan semua orang. Itu adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, bahwa Ning Ru Lan bertarung di medan perang. Sudah jelas, Guru Agung Liu berencana untuk melukiskan Ning Ru Lan di acara semacam ini.

Guru Agung Liu membungkuk menyampaikan hormatnya, berujar dengan lantang, "Terima kasih banyak, Yang Mulia."

Kasim Fu melihat ke arah Pangeran Yun sebelum segera berpindah untuk menutup gulungannya.

Namun, sebelum ia bisa melakukannya, suara melengking seorang wanita pun dapat terdengar dari luar pintu. Saat gordennya diangkat, menampilkan seorang wanita muda yang mengenakan gaun merah, memakai tusuk rambut emas yang berkilauan di bawah cahaya lilin.

Wanita ini, tak lain tak bukan adalah Ning An Lian, orang yang semestinya sedang beristirahat di istana peristirahatan sekarang ini.

Mata Yun Ruo Feng menggelap. Kenapa ia tidak tetap berada di dalam istana peristirahatan? Bukankah ia tahu bahwa situasi ini sudah cukup kacau?

Ning An Lian mengabaikan Yun Ruo Feng dan menatap ke arah gulungan yang setengah tertutup di tangan Kasim Fu dan mencemooh. "Melukis wanita penuh dosa itu, tidak menghormati Nan Zhao. Yang Mulia, bukannya menghukum Guru Agung Liu, tetapi malah memberinya hadiah?"

Target ucapannya jelas, menyebabkan semua orang mulai berbisik-bisik. Ning An Lian sangat membenci Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu, cukup hingga ia mulai menginterogasi Kaisar di hadapan semua orang. Bahkan, matanya saja menunjukkan kalau ia merasa kesal.

Wajah Ning Lian Chen tampak serius. "Bagaimana bisa ia adalah seorang wanita yang penuh dosa? Kakak Perempuan, jangan bicara omong kosong." Meskipun aku tidak menerima Ning An Lian dari dasar hatiku, aku masih harus memanggilnya 'Kakak Perempuan' di depan orang lain.

Aku harap .... Tatapan Ning Lian Chen menyapu ke arah Su Xi-er. Aku harap supaya kau tidak menyalahkanku karena memanggil Ning An Lian dengan 'Kakak Perempuan'. Dalam hatiku, kaulah satu-satunya Kakak Perempuanku.

Ning An Lian mencibir, berlagak seperti seorang Putri Pertama Kekaisaran. "Putri ini tidak pernah bicara omong kosong. Ning Ru Lan mengganggu hukum mahkamah, menyebabkan dirinya diusir dari rumah tangga keluarga kekaisaran. Lalu, nama Ning Ru Lan dilarang di Nan Zhao, mencegahnya untuk disebut-sebut lagi. Tetapi, sekarang Anda mengatakan Anda akan memberikan hadiah pada Guru Agung Liu, bukannya menghukumnya?"

Saat ini, mata Su Xi-er agak menyipit. Ia baru saja akan bicara saat Pei Qian Hao secara sadar mengangkat satu tangan, memberi sinyal padanya untuk tetap diam sekarang ini.

Segera setelahnya, Pei Qian Hao bertanya dengan ekspresi yang serius. "Putri Pertama Kekaisaran, cederamu sudah membaik? Bagaimana kau keluar dari Istana Kekaisaran?"

Perhatian Ning An Lian segera tertuju pada Su Xi-er, yang sedang berdiri di belakang Pei Qian Hao. Ia mengangkat tangannya dan menunjuk ke hiasan rambut hijau giok beruntai itu. "Mengapa aksesoris Putri ini ada di atas kepala seorang dayang?" Suaranya menjadi melengking sewaktu ia menunjuk Su Xi-er.

"Nona Xi-er telah melakukan sebuah jasa, sehingga Kaisar ini menghadiahinya." Ning Lian Chen bangkit dari kursinya dan berjalan turun dari kursi teratas menuju ke arah Ning An Lian.

Walaupun Ning Lian Chen baru berusia enam belas tahun, ia sudah bertubuh tinggi. Perawakannya menjulang tinggi melebihi Ning An Lian sementara ia menatap ke bawah ke arahnya, memperingatkannya agar tidak mengacau dengan tatapan yang berkuasa.

Ning An Lian melihat Yun Ruo Feng, yang sedang duduk di kursi teratas dan tidak bergerak sama sekali, sebelum mengejek. "Lucu sekali, bagaimana bisa Yang Mulia dengan seenaknya menganugerahkan benda milik Putri ini pada orang lain? Hiasan rambut beruntai ini mengandung banyak makna bagi Putri ini, dan tidak bisa diberikan seenaknya.”

Aku harus mendapatkan kembali hiasan rambut beruntai itu malam ini, tidak peduli apa pun. Aku juga akan membuat Su Xi-er mati dengan mengenaskan!

Tiba-tiba saja, suara jernih dan merdu dari wanita lainnya terdengar, sementara Su Xi-er maju dari belakang Pei Qian Hao, menatap lurus ke arah Ning An Lian. "Makna apa yang dimilikinya pada Anda? Ini adalah miliki Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu."

Ning An Lian mengatupkan bibirnya dengan erat. "Siapa bilang itu adalah milik Ning Ru Lan? Itu adalah milik Putri ini. Segera lepaskan hiasan rambut beruntai itu, dan Putri ini akan mengampunimu dari kematian. Kalau tidak ...."

"Kalau tidak, apa?" Suara dalam seorang pria dapat terdengar—itu adalah Pei Qian Hao. Cangkir anggur di tangannya bergoyang pelan, dan ekspresinya tidak berubah. Namun, tidak ada yang akan kelewatan melihat kilat halus yang menyala di matanya sementara ia memandangi cangkir itu.

Tak lama setelahnya, Pei Qian Hao mendongakkan kepalanya, dan melirik Ning An Lian.

Hanya satu lirikan saja, cukup untuk membuat Ning An Lian menyadari aura otoritas dan kekuasaan yang memancar darinya. Aura Pangeran Hao benar-benar .... Ia membeku di tempat, tidak mengerti bagaimana caranya mengatasi situasinya.

Ketika Yun Ruo Feng melihat kalau Pei Qian Hao terlibat, ia bangkit berdiri dari kursinya dan pelan-pelan berjalan ke sebelah Ning An Lian. "Lukamu pasti sudah jauh lebih baik jika kau bisa datang kemari, tetapi, tidak perlu bertengkar tentang sebuah hiasan rambut beruntai, bukan? Bahkan, tanpa hiasan rambut hijau giok itu, masih ada banyak lagi yang dapat dipilih oleh Putri Pertama Kekaisaran."

Ia menatap Ning An Lian sementara ia bicara, memberi sinyal padanya agar tidak mengacau dan memahami gambaran besarnya.

Tampang terluka muncul di mata Ning An Lian. Su Xi-er baru saja menindasku; bagaimana bisa Yun Ruo Feng menyuruhku untuk tidak memedulikannya! Hiasan rambut beruntai itu tadinya adalah milikku, setelah menghabiskan banyak usaha untuk mendapatkannya dari Ning Ru Lan. Bagaimana bisa ia menyuruhku menelan amarahku setelah Su Xi-er merebutnya begitu saja!

Ning An Lian mendengus dingin dan tidak fokus pada Yun Ruo Feng lagi. Ia menghadap Su Xi-er. "Kau adalah seorang pembunuh, dan tidak pantas mengenakan hiasan rambut beruntai Putri ini!"

Kata 'pembunuh' terlantun dengan jelas. Seluruh ruangan mendadak berubah menjadi obrolan bisik-bisik. Dayang Pangeran Hao membunuh seseorang? Mengapa Putri Pertama Kekaisaran menyebutnya sebagai seorang pembunuh?

Su Xi-er tidak panik dan menjawab tidak peduli. "Putri Pertama Kekaisaran, bolehkah pelayan ini bertanya, siapakah yang kubunuh? Bagaimana bisa Anda mengetahui sesuatu yang bahkan, pelayan ini saja tidak mengetahuinya?"

"Humph, kau akan segera mengetahui siapa yang sudah kau bunuh."

Ning An Lian menatap ke arah Ning Lian Chen. "Yang Mulia, mohon panggilkan Tuan Tanah Wei ke aula utama."

Ketika Pei Qian Hao mendengar kata-kata 'Tuan Tanah Wei', alisnya sedikit mengerut. Biarpun Nona-Nona Wei bukan dibunuh oleh Su Xi-er, ia masih ada kaitannya.

Ning Lian Chen memandang Su Xi-er dan melihat matanya tampak cerah dan jernih. Aku yakin pada Kakak Perempuanku; ia bukanlah seorang pembunuh.

"Panggilkan Tuan Tanah Wei untuk masuk ke aula utama." Ning Lian Chen melambaikan tangannya ke arah pengawal dan memerintahkan.

Pengawal yang ada di sebelahnya segera menerima perintah dan pergi.

Tak lama setelahnya, Wei Guang memasuki aula utama dan berlutut dengan bunyi gedebuk. "Yang Mulia, aku mohon pada Anda untuk menegakkan keadilan bagi orang desa ini." Wei Guang mengangkat kepalanya dan diam-diam melirik ke arah Wei Mo Hai setelah berbicara.

Suara Ning An Lian terdengar serius. "Komandan Wei, kau adalah kerabat jauh Tuan Tanah Wei. Meskipun jauh, kalian tetap terikat oleh darah. Putri-putri Tuan Tanah Wei bisa dianggap sebagai sepupu dari garis keturunan ayahmu. Bagaimana bisa kau tidak menyelidikinya, padahal sepupumu mati tanpa penjelasan?"

Wei Mo Hai bangkit berdiri dan membungkuk, menyampaikan hormatnya. "Pembunuhnya sudah tertangkap, dan kasusnya ditutup."

"Siapa bilang kalau pembunuhnya tertangkap? Pembunuhnya adalah dayang Pangeran Hao, Su Xi-er." Mata phoenix Ning An Lian berkedip sedikit sewaktu ia melihat ke arah Su Xi-er.

Su Xi-er tersenyum. "Bagaimana dengan buktinya?"

"Kau mencerca kedua Nona Wei di jalanan, di hari pertama kau sampai di Nan Zhao. Karena rasa permusuhanmu terhadap mereka setelah insiden itu, kau meninggalkan rumah pos dan membunuh mereka di dalam Rumah Aprikot Keberuntungan."

"Aku yang menegur mereka di jalanan adalah bukti nyata bahwa aku membunuh mereka? Tidakkah Anda pikir kalau itu terlalu menggelikan? Selain itu, apakah Anda bahkan mengetahui mengapa mulanya aku menegur mereka?" Su Xi-er perlahan-lahan menghampiri Ning An Lian, bertingkah seolah ia hanya sedang berjalan-jalan saja. Suaranya terdengar mantap, dan ekspresinya sangat tenang.

Jarak jauh di antara keduanya perlahan-lahan berkurang hingga akhirnya, pada dasarnya, Ning An Lian dapat merasakan aura tenang Su Xi-er. Itu membuatnya merasakan déjà vu. Adegan semacam ini sangat mirip dengan sebelumnya, ketika Ning Ru Lan biasanya mencaci-maki diriku ....

0 comments:

Posting Komentar