Kamis, 05 Februari 2026

CTF - Chapter 226

Consort of A Thousand Faces

Chapter 226 : Sesuai Seleranya


Alis Ning Lian Chen tertaut sebentar sebelum kembali normal. Bila Pangeran Hao setuju dengan pengaturan Yun Ruo Feng, Kakak Perempuan masih harus mengikutinya, dan aku tidak akan bisa melihatnya lagi ....

Yun Ruo Feng benar-benar tahu bagaimana caranya memilih waktu yang tepat!

Berbanding dengan ketidaksenangan Ning Lian Chen, Pei Qian Hao merasa lega sewaktu ia melambaikan tangannya untuk memberi sinyal pada Kasim Fu agar bangun. "Itu bagus. Pangeran ini akan menuju ke kapal untuk istirahat." Kemudian, ia melihat ke arah Ning Lian Chen sebelum ia melanjutkan, "Taman Pemandangan Rumah Tangga Kekaisaran Nan Zhao memiliki pemandangan yang indah. Yang Mulia harus menyempatkan diri dan menikmatinya, tetapi Pangeran ini akan istirahat."

Ia melirik Su Xi-er setelah ia selesai, mengeluarkan perintah cepat selagi ia berbalik untuk berlalu. "Cepatlah."

Kali ini, ia menggunakan tatapan mengancam untuk mendorong Su Xi-er bersamanya daripada kekuatan fisik.

Sudah mengutarakan bagiannya, kemudian ia mengabaikan Su Xi-er dan meneruskan jalannya. Pei Qian Hao terbiasa dengan psikologi manusia. Jika mencoba memaksanya tidak bekerja, mengapa tidak mencoba 'sedikit mengendurkannya'? Ia yakin bahwa, meski Ning Lian Chen tidak tahu bagaimana cara menjadi bijaksana di situasi begini, Su Xi-er bisa.

Ning Lian Chen gembira saat ia melihat Pei Qian Hao pergi di jalannya, membolehkannya mencoba mengulurkan tangan pada Kakak Perempuannya. Namun, ia melupakan bahwa ada Kasim Fu.

Su Xi-er membungkuk dan berbicara, "Hamba akan undur diri." Diam-diam, ia memberikan tatapan bermakna pada Ning Lian Chen, memberi isyarat agar ia tenang dan mencari kesempatan lain di masa depan.

Dengan adanya Kasim Fu, tidak mudah baginya untuk berbicara pada Lian Chen. Meskipun mereka sudah berhasil saling mengenali, masih tetap sulit bagi mereka untuk berkomunikasi dengan adanya semua orang.

Ning Lian Chen memerhatikan sewaktu Su Xi-er menghilang di kejauhan, berharap agar ia bisa ikut. Namun, sudah jelas, bahwa Yun Ruo Feng mengirimkan Kasim Fu untuk mengacau.

"Yang Mulia, Pangeran Yun telah memerintahkan pelayan ini untuk menyampaikan pesan pada Anda. Su Xi-er adalah dayang Pangeran Hao, warga Bei Min. Yang Mulia harus menjaga jarak darinya. Nan Zhao yang sekarang ini sangat kurang ketika dibandingkan dengan Bei Min."

Ekspresi Ning Lian Chen jadi serius. "Kau memang adalah pelayan yang loyal. Urusan Kaisar ini tidak ada hubungannya dengan Pangeran Yun. Sebaliknya, sampaikan pesanku padanya: Karma." Kemudian, ia langsung berjalan. Tanpa Kakak Perempuan, segala jenis pemandangan indah, tak ada artinya.

Kasim Fu mengakar di tempat. Karma? Mengapa Yang Mulia mengatakan itu?

***

Sementara itu, Su Xi-er sudah menyusul Pei Qian Hao dan diam-diam mengikuti di belakangnya. 

Tiba-tiba saja, Pei Qian Hao menghentikan langkahnya. Dengan seberapa mendadaknya itu, Su Xi-er tidak bisa menghentikan diri tepat waktu, dan berakhir menabrak punggungnya.

Su Xi-er mengangkat satu tangan untuk mengusap-usap hidungnya selagi ia mengambil beberapa langkah mundur dan menatap pria itu.

Pei Qian Hao menghela napas sebelum ia mengangkat satu tangan dan menariknya ke dalam pelukannya. Ia mengangkat tangan kanannya dan mengusap hidung Su Xi-er tanpa berpikir. "Dari bagaimana Pangeran ini melihatnya, kau adalah yang paling bodoh. Aku takut kau akan jadi bodoh sepanjang hidupmu."

Su Xi-er tidak membalas dan hanya membiarkannya memeluknya dan mengusap-usap hidungnya sementara ia menatap ke mata cerah Pei Qian Hao. Entah bagaimana, untuk sesaat, jantungnya berdebar-debar. Pelukannya hangat, dan memberikan rasa aman.

Tetapi, itu hanya bertahan untuk sesaat sebelum ia dengan cepat mendapatkan kembali ketenangannya.

Pei Qian Hao melepaskannya. "Kaisar Nan Zhao memiliki pemikiran yang kotor terhadapmu, tidak bisakah kau melihatnya? Kapan kau akan mendapatkan kecerdasan?"

Su Xi-er mengizinkan Ning Lian Chen untuk mendekatinya. Ini saja, sudah membuat Pei Qian Hao kesal. Ia adalah dayangku; ia milikku.

"Pangeran Hao, apabila apa yang Anda katakan adalah benar, hamba tidak akan ada di sini, tetapi sebaliknya, berada di sisi Kaisar Nan Zhao. Tolong jangan ragukan hamba." Kata-kata Su Xi-er terdengar jelas dan nyata, membuat kata-katanya terdengar oleh Ning Lian Chen.

Dalam sekejap, Ning Lian Chen paham. Pangeran Hao tidak mengetahui jati diri Su Xi-er yang sebenarnya. Ia curiga bahwa ada perasaan romantis di antara Kakak Perempuan dan diriku.

Ia adalah Kakak Perempuanku, keluargaku! Mana mungkin aku memiliki perasaan seperti itu terhadapnya?

Namun, Ning Lian Chen menyadari sesuatu saat ia menatap wajah dan tubuh Su Xi-er. Meskipun aku hanya merasakan kasih sayang dan ketergantungan emosional secara kekeluargaan pada Kakak Perempuan, tubuhnya yang sekarang ini tidak berhubungan darah denganku. Tentu saja, harapanku adalah agar Kakak Perempuan bisa hidup tanpa kecemasan; tetapi jika tidak ada pria di dunia ini yang mampu memberikan kehangatan pada Kakak Perempuan, maka aku akan melakukannya. Aku tidak akan pernah menikah, dan menjaga Kakak Perempuan seumur hidupku. Demi melakukan itu, aku membutuhkan kekuasaan ....

Memikirkan ini, mata Ning Lian Chen menggelap.

Kasim Fu mendesak pelan, "Yang Mulia, ini waktunya pergi."

Ning Lian Chen tidak membalas. Tak lama setelahnya, ia berbicara. "Kaisar ini mengerti." Tanpa melirik lagi pada Su Xi-er, ia terus maju ke depan.

Kakak Perempuan sekarang ini berada di dalam kendali Pangeran Hao, dan tidak diizinkan untuk menentangnya. Aku tidak boleh membuatnya terkena masalah, dan hanya dapat melakukan yang terbaik untuk menjadi lebih berkuasa agar aku bisa mendekatinya selangkah demi selangkah.

Itu adalah proses yang mengerikan, tetapi Ning Lian Chen bertekad. Setelah menyadari bahwa anggota keluarga terdekatnya masih hidup, ia mendapatkan lagi tujuan dan motivasinya dalam hidup.

Kakak Perempuan, jangan takut. Lian Chen akan tumbuh dan menjadi lebih dewasa lagi. Tempat ini akan selamanya jadi rumahmu.

Su Xi-er memerhatikan saat Ning Lian Chen berjalan ke kejauhan. Untuk sesaat, ia merasa kalau sosoknya tampak sangat kesepian. Ia masih tampak sangat bahagia barusan ini, mengapa mendadak berubah? Ia tidak senang ....

"Lihat kemana kau?" Suara yang dalam dan gagah terdengar, menarik pikiran Su Xi-er kembali.

Tanpa adanya siapa pun di sekitar, aura dingin Pei Qian Hao meledak. Tidak mau menekannya lebih lama lagi, ia melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Su Xi-er, kilatan jahat berkilau di matanya. "Pangeran ini tidak senang."

Empat kata itu mengindikasikan suasana hatinya saat ini—sangat buruk. Ia menatap Su Xi-er lekat, atau lebih tepatnya, bibir merah mudanya.

Tatapan Pei Qian Hao menggelap selagi ia melihat bibir Su Xi-er yang terbuka dan menutup, aroma femininnya memenuhi hidungnya. Tiba-tiba saja, Pei Qian Hao menggunakan tangan yang ada di pinggang Su Xi-er untuk menariknya ke pohon terdekat.

Di belakang Su Xi-er ada pohon yang dingin, dan di depannya ada tubuh hangat Pei Qian Hao. Ia mengangkat kepalanya untuk memandang Pei Qian Hao, dan melihat tatapan dalam di matanya.

Wajah tampannya membesar dan secara akurat menangkap bibirnya. Lidah Pei Qian Hao sedikit terjulur maju, sewaktu ia memulai penaklukkannya.

Sekali lagi, Su Xi-er dicium secara paksa. Ciuman ini sangat dalam dan bergairah, seolah ada hujan badai musim semi yang lewat.

Itu adalah adegan yang mirip, saat Yun Ruo Feng pertama kali menciumnya di malam hari di hutan sebelah barak tentara. Perbedaannya sekarang adalah karena saat ini, dirinya, di siang bolong, terlebih berada di Taman Pemandangan Rumah Tangga Kekaisaran.

Su Xi-er meletakkan kedua tangannya di dada Pei Qian Hao, ingin menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorongnya pergi. Aku tidak suka ciuman ini, aku benar-benar tidak menyukainya!

Tepat di saat ia melakukannya, tangan besar Pei Qian Hao datang menjaring tangannya sendiri. Dengan lembut, ia mengelusnya saat ia berbicara. "Jangan takut, Pangeran ini tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin menciummu, tetapi tidak sanggup mengendalikan kekuatanku."

Su Xi-er merasakan lonjakan kehangatan di dalam hatinya, dan sungguh berhenti mendorongnya. Ia mengangkat kepalanya, bahkan membuka bibirnya untuk menyambut pria itu.

Perubahan kecil dalam respons Su Xi-er meliputi Pei Qian Hao dengan kebahagiaan. Ia memperdalam ciumannya bahkan dengan lebih bersemangat dan bergairah.

Napas Pei Qian Hao jadi tidak wajar, tetapi tangannya tetap terjalin dengan tangan Su Xi-er tanpa berkeliaran di tubuhnya.

Tidak diketahui berapa lama yang dibutuhkan sebelum Pei Qian Hao akhirnya melepaskannya. Tatapannya lekat selagi ia terkekeh. "Su Xi-er, kau memang memesona."

Pesona ini membuatnya kehilangan kendali di siang hari, terlebih, di tempat umum.

0 comments:

Posting Komentar