Consort of A Thousand Faces
Chapter 239 : Identitas Dari Pria Berbaju Biru
Liu
Yin Yin menarik lengan baju Su Xi-er dan bertanya, "Nona Peri, kita mau
pergi kemana? Di luar sana sudah gelap, dan Yin Yin takut." Setelah
mengatakan itu, tubuh kecilnya bergerak semakin dekat lagi pada
Su Xi-er.
"Jangan
takut, Yin Yin. Sekarang sudah gelap, jadi aku akan membawamu keluar makan
permen besok." Su Xi-er mengelus kepala Yin Yin.
"Nona
Peri akan melindungi Yin Yin. Aku mau pergi melihat gulali orang-orangan, dan
makan permen hawthorn Cina. Ibu tidak mengizinkanku makan
terlalu banyak permen, karena ia pikir, itu akan merusakkan gigiku. Aku tidak
akan tampak cantik nantinya kalau itu terjadi." Liu Yin Yin tersenyum
sembari ia berbicara.
Su
Xi-er meraih tangannya dan berbicara dengan lembut sementara mereka berjalan ke
depan.
"Nona
Peri, apa kau mengenal Yang Mulia? Kenapa Ayah berada di istana kekaisaran
bersamanya, lama sekali? Ibu bilang padaku, dalam lima tahun, aku akan berusia
lima belas tahun, dan itu sudah waktunya untuk memikirkan tentang mencari
seorang suami. Karena Yang mulia berusia enam belas tahun, tidak bisakah ia
cari permaisuri saja untuk tinggal bersamanya?" Liu Yin Yin mengeluh lagi,
merasa bahwa itu tidak adil bagi ayahnya, menghabiskan lebih banyak waktu bersama
Kaisar daripada bersama putrinya sendiri.
Su
Xi-er tertawa. "Pria berbeda dari wanita. Seorang wanita menjadi orang
dewasa di usia lima belas tahun, tetapi seorang pria hanya menjadi orang dewasa
setelah mereka berusia delapan belas tahun. Yang Mulia masih harus menunggu
hingga, setidaknya, ia berusia delapan belas tahun, sebelum ia bisa mengambil
permaisuri."
Saat
Su Xi-er memikirkan ini, matanya jadi jauh. Lian Chen harus mengambil
permaisuri dalam waktu dua tahun. Setelah ia berusia delapan belas tahun, ia
masih harus memperoleh kembali kekuasaan kekaisarannya.
Keduanya
terus berjalan sebentar, sebelum seorang pria muncul di depan mereka. Su Xi-er
memfokuskan matanya dalam cahaya remang-remang di malam hari, dan berhasil
mengenali siapa itu. Itu adalah Lian Chen, ia di sini. Baginya,
Lian Chen sudah banyak bertumbuh; ia bahkan jauh lebih tinggi dari dirinya
sendiri.
Ning
Lian Chen membeku sedetik saat ia melihat Su Xi-er. Mengapa Kakak
Perempuan di sini, dan siapakah gadis kecil di sebelahnya? Mungkinkah, Kakak
Perempuan menduga kalau ada sesuatu yang terjadi pada Guru Agung Liu dan datang
untuk menjemput putrinya?
Ning
Lian Chen berjalan mendekati Su Xi-er. Ketika ia melihat kalau tidak ada siapa pun
di sekitar mereka, ia membuka mulutnya, memanggil lirih, "Kakak
Perempuan."
Su
Xi-er mengangguk dan menepuk kepala Yin Yin. "Ini adalah putri Guru Agung
Liu, Liu Yin Yin. Sementara untuk Guru Agung Liu sendiri ...."
Ia tidak meneruskan, tetapi Ning Lian Chen memahami
sisanya.
Ekspresi
Ning Lian Chen berubah dan tangannya mengepal erat. Aku tidak bisa
melindungi Guru Agung Liu. Aku tidak percaya kalau Yun Ruo Feng bertindak
secepat ini; apakah ....
"Yin
Yin, aku akan membawamu pergi makan permen besok. Kemari, aku akan membawamu
kembali ke kamarmu untuk istirahat." Su Xi-er mengangkat tangannya
pelan-pelan, dan menekankan jarinya di titik akupuntur tidur Liu Yin Yin.
Titik
akupuntur seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun sangat sensitif, dan mata
Liu Yin Yin langsung terpejam setelah titik itu ditekan.
Baru
setelahnya, Su Xi-er membuka mulutnya untuk memberitahukan kenyataannya.
"Yun Ruo Feng bertindak kelewat cepat. Guru Agung Liu sudah dipaksa untuk
minum secangkir anggur beracun saat ia baru saja meninggalkan aula utama Kapal
Naga. Saat aku tiba, racunnya sudah menyebar dalam di tubuhnya."
Tatapan
Ning Lian Chen berkedip, sementara perasaan pahit timbul di hatinya. Guru
Agung Liu, adalah seorang guru dan ayah yang tegas bagiku. Kini, ia mati demi
diriku.
Guru
Agung Liu sudah meminum anggur beracun itu sebelum ia menungguku di luar Kapal
Naga. Ia memilih untuk menggunakan sedikit waktu yang ia miliki untuk
menungguku .... Ning Lian Chen
merasa sangat tidak tenang.
"Lian
Chen, Kakak Perempuan ada di sini. Jika kau ingin menangis, maka
menangislah." Su Xi-er mengangkat tangannya dan dengan lembut menepuk
pundaknya.
Ning
Lian Chen melambaikan tangannya. "Kakak Perempuan, dua tahun lagi, aku
akan berusia delapan belas tahun. Tidak peduli seberapa sedihnya diriku, aku
tidak boleh menangis. Guru Agung Liu telah memintaku untuk menjaga putrinya,
dan aku akan menjaganya. Serahkan Yin Yin padaku."
Selagi
ia bicara, ia mengulurkan tangannya untuk menggendong Yin Yin.
Su
Xi-er memikirkannya dengan saksama. Akan sulit bagiku untuk menjaga Liu
Yin Yin sekalinya aku kembali ke Bei Min.
"Kakak
Perempuan, aku akan menjaganya baik-baik, dan memperlakukannya seperti seorang
adik perempuan."
Su
Xi-er mengangguk dan menyerahkan Liu Yin Yin padanya. "Lian Chen, aku
masih punya urusan penting untuk dikerjakan, jadi aku tidak bisa berlama-lama.
Apa yang bisa kukatakan adalah, kau harus bersabar; akan sulit untuk mengatasi
Yun Ruo Feng."
"Aku
akan mengingatnya. Jangan cemas," Ning Lian Chen menenangkan.
Su
Xi-er mengangguk mengiyakan dan mulai berjalan maju. Saat ini, Ning Lian Chen mendadak
bertanya, "Kapan kau akan kembali ke Bei Min, dan kapan kau akan kembali
lagi? Sementara untuk Pangeran Hao, kau ...."
Su
Xi-er berbalik. "Lian Chen, kali berikutnya aku kembali, akan menjadi hari
kematian Yun Ruo Feng. Meskipun aku tidak akan berada di Nan Zhao, aku punya
caraku. Kau harus menyerang dari dalam mahkamah, dan serahkan yang di luar
padaku. Bagaimanapun juga, kau akan segera memiliki kekuasaan yang akan
diberikan padamu juga."
Setelah
ia selesai bicara, Su Xi-er berjalan pergi.
Ning
Lian Chen membeku di tempat. Beberapa kekuasaanku. Ia
menundukkan kepalanya, melihat Liu Yin Yin. Kekuasaan ini dibeli
menggunakan kematian Guru Agung Liu. Yin Yin, jangan takut. Karena Kaisar ini
telah berjanji pada Guru Agung Liu, kau bisa tenang, karena kau tidak perlu
merasa cemas dalam kehidupan ini. Saat kau dewasa, Kaisar ini pasti akan
mencarikanmu seorang suami yang baik.
(T/N
: maaf dedek kaisar, cece penerjemah ini mikirnya malah kamu yang bakal jadi
suaminya hahaha, sotoy lah saya ini.)
***
Ning
Lian Chen menggendong Liu Yin Yin dan melihat Kediaman Liu untuk yang terakhir
kalinya sebelum mulai kembali menuju Kapal Naga. Setelah di sana, ia
membaringkan Yin Yin di atas ranjang dan menyelimutinya dengan sehelai selimut,
takut kalau ia akan terserang flu.
Tepat
saat selimut menyelimutinya,
Liu Yin Yin menendangnya dan mulai mengigau. "Ayah, Ayah, bisakah kau
tidak usah tinggal dengan Yang Mulia? Yin Yin merindukanmu. Yang Mulia adalah
orang yang jahat! Ia merebut Ayah dariku."
Ada
beberapa tetes air mata yang mengalir turun dari mata Liu Yin Yin, terisak
beberapa kali sebelum akhirnya ia tenang dan kembali tidur.
Ekspresi
Ning Lian Chen membeku. Aku ....
Aku memang merebut Ayah Liu Yin Yin ....
Akulah orang yang paling berutang padanya melebihi apa pun.
***
Sementara
itu, Su Xi-er membawa surat tersebut ke Asosiasi Sastra, tempat berkumpul
paling ternama bagi para pelajar/sarjana di ibu kota. Guru Agung
Liu adalah seorang otoritas pemimpin yang langka dalam dunia sastra.
Namun,
tak lama, ia menyadari kalau seseorang mengikutinya. Sengaja berpura-pura
bodoh, ia berbelok masuk ke dalam sebuah gang di samping.
Setelah
memasuki gang, ia menyadari kalau langkah kaki di belakangnya jadi semakin
keras. Saat ia melihat ada bayangan kurus yang tampak di tanah di depannya, ia
pun berbalik dan mengangkat tangannya untuk menyerang siapa pun
yang berada di belakangnya.
Tepat
saat ia baru saja akan memukul orang yang ada di belakangnya, Su Xi-er
menghentikan gerakannya. Yang berdiri di depannya adalah ... si pria berbaju
biru.
Wajah
pria itu tampak serius sewaktu ia menatap wajahnya diam-diam.
Su
Xi-er juga menatapnya. Misterius sekali, setiap kali ia muncul, aku
merasakan ada perasaan akrab.
Ia
....
Pria
berbaju biru sudah mendengarkan seluruh percakapan di antara Ning Lian Chen dan
Su Xi-er, membuatnya sangat amat kebingungan. Mengapa Ning Lian Chen
memanggilnya Kakak Perempuan? Keduanya bahkan berkomplot untuk menangani Yun
Ruo Feng. Wanita ini, siapakah ia sebenarnya ....?
"Kebetulan
sekali; kita selalu bertemu satu sama lain secara kebetulan. Katakan padaku,
siapa namamu?" Wajah Su Xi-er khidmat, dan suaranya penuh otoritas.
Pria
berbaju biru pun tertegun. Ia terpikirkan beberapa jurus
yang pernah diadunya dengan gadis ini sebelumnya, dan fakta bahwa Ning
Lian Chen memanggilnya Kakak Perempuannya!
"Mengapa
Ning Lian Chen memanggilmu Kakak Perempuan? Di matanya, dan secara pribadi,
hanya ada satu orang yang pantas dengan gelar itu." Matanya menyala dengan
harapan samar, sementara ia melanjutkan tanpa menunggu respons.
"Dapatkah
seseorang yang sudah mati, bertahan hidup di tubuh orang lain?"
Sepertinya, ia tidak yakin apakah ia sedang menanyai Su Xi-er, atau menanyai
dirinya sendiri.
Su
Xi-er menatapnya dengan tenang sebelum tatapannya perlahan-lahan beralih ke
cadar di wajah pria itu. Tiba-tiba saja, ia mengangkat tangannya, untuk
melepaskan cadar itu.
Kali
ini, pria berbaju biru tidak menghindar, dan membiarkannya mengangkat cadarnya.
Wajah
yang dipenuhi dengan bekas luka yang dalam dan mengerikan pun terlihat.
Segera
saja, Su Xi-er teringat kata-kata Guru Agung Liu. Terluka parah dan
cacat.

0 comments:
Posting Komentar