Kamis, 05 Februari 2026

CTF - Chapter 239

Consort of A Thousand Faces

Chapter 239 : Identitas Dari Pria Berbaju Biru


Liu Yin Yin menarik lengan baju Su Xi-er dan bertanya, "Nona Peri, kita mau pergi kemana? Di luar sana sudah gelap, dan Yin Yin takut." Setelah mengatakan itu, tubuh kecilnya bergerak semakin dekat lagi pada Su Xi-er.

"Jangan takut, Yin Yin. Sekarang sudah gelap, jadi aku akan membawamu keluar makan permen besok." Su Xi-er mengelus kepala Yin Yin.

"Nona Peri akan melindungi Yin Yin. Aku mau pergi melihat gulali orang-orangan, dan makan permen hawthorn Cina. Ibu tidak mengizinkanku makan terlalu banyak permen, karena ia pikir, itu akan merusakkan gigiku. Aku tidak akan tampak cantik nantinya kalau itu terjadi." Liu Yin Yin tersenyum sembari ia berbicara.

Su Xi-er meraih tangannya dan berbicara dengan lembut sementara mereka berjalan ke depan.

"Nona Peri, apa kau mengenal Yang Mulia? Kenapa Ayah berada di istana kekaisaran bersamanya, lama sekali? Ibu bilang padaku, dalam lima tahun, aku akan berusia lima belas tahun, dan itu sudah waktunya untuk memikirkan tentang mencari seorang suami. Karena Yang mulia berusia enam belas tahun, tidak bisakah ia cari permaisuri saja untuk tinggal bersamanya?" Liu Yin Yin mengeluh lagi, merasa bahwa itu tidak adil bagi ayahnya, menghabiskan lebih banyak waktu bersama Kaisar daripada bersama putrinya sendiri.

Su Xi-er tertawa. "Pria berbeda dari wanita. Seorang wanita menjadi orang dewasa di usia lima belas tahun, tetapi seorang pria hanya menjadi orang dewasa setelah mereka berusia delapan belas tahun. Yang Mulia masih harus menunggu hingga, setidaknya, ia berusia delapan belas tahun, sebelum ia bisa mengambil permaisuri."

Saat Su Xi-er memikirkan ini, matanya jadi jauh. Lian Chen harus mengambil permaisuri dalam waktu dua tahun. Setelah ia berusia delapan belas tahun, ia masih harus memperoleh kembali kekuasaan kekaisarannya.

Keduanya terus berjalan sebentar, sebelum seorang pria muncul di depan mereka. Su Xi-er memfokuskan matanya dalam cahaya remang-remang di malam hari, dan berhasil mengenali siapa itu. Itu adalah Lian Chen, ia di sini. Baginya, Lian Chen sudah banyak bertumbuh; ia bahkan jauh lebih tinggi dari dirinya sendiri.

Ning Lian Chen membeku sedetik saat ia melihat Su Xi-er. Mengapa Kakak Perempuan di sini, dan siapakah gadis kecil di sebelahnya? Mungkinkah, Kakak Perempuan menduga kalau ada sesuatu yang terjadi pada Guru Agung Liu dan datang untuk menjemput putrinya?

Ning Lian Chen berjalan mendekati Su Xi-er. Ketika ia melihat kalau tidak ada siapa pun di sekitar mereka, ia membuka mulutnya, memanggil lirih, "Kakak Perempuan."

Su Xi-er mengangguk dan menepuk kepala Yin Yin. "Ini adalah putri Guru Agung Liu, Liu Yin Yin. Sementara untuk Guru Agung Liu sendiri ...." Ia tidak meneruskan, tetapi Ning Lian Chen memahami sisanya.

Ekspresi Ning Lian Chen berubah dan tangannya mengepal erat. Aku tidak bisa melindungi Guru Agung Liu. Aku tidak percaya kalau Yun Ruo Feng bertindak secepat ini; apakah ....

"Yin Yin, aku akan membawamu pergi makan permen besok. Kemari, aku akan membawamu kembali ke kamarmu untuk istirahat." Su Xi-er mengangkat tangannya pelan-pelan, dan menekankan jarinya di titik akupuntur tidur Liu Yin Yin.

Titik akupuntur seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun sangat sensitif, dan mata Liu Yin Yin langsung terpejam setelah titik itu ditekan.

Baru setelahnya, Su Xi-er membuka mulutnya untuk memberitahukan kenyataannya. "Yun Ruo Feng bertindak kelewat cepat. Guru Agung Liu sudah dipaksa untuk minum secangkir anggur beracun saat ia baru saja meninggalkan aula utama Kapal Naga. Saat aku tiba, racunnya sudah menyebar dalam di tubuhnya."

Tatapan Ning Lian Chen berkedip, sementara perasaan pahit timbul di hatinya. Guru Agung Liu, adalah seorang guru dan ayah yang tegas bagiku. Kini, ia mati demi diriku.

Guru Agung Liu sudah meminum anggur beracun itu sebelum ia menungguku di luar Kapal Naga. Ia memilih untuk menggunakan sedikit waktu yang ia miliki untuk menungguku ...Ning Lian Chen merasa sangat tidak tenang.

"Lian Chen, Kakak Perempuan ada di sini. Jika kau ingin menangis, maka menangislah." Su Xi-er mengangkat tangannya dan dengan lembut menepuk pundaknya.

Ning Lian Chen melambaikan tangannya. "Kakak Perempuan, dua tahun lagi, aku akan berusia delapan belas tahun. Tidak peduli seberapa sedihnya diriku, aku tidak boleh menangis. Guru Agung Liu telah memintaku untuk menjaga putrinya, dan aku akan menjaganya. Serahkan Yin Yin padaku."

Selagi ia bicara, ia mengulurkan tangannya untuk menggendong Yin Yin.

Su Xi-er memikirkannya dengan saksama. Akan sulit bagiku untuk menjaga Liu Yin Yin sekalinya aku kembali ke Bei Min.

"Kakak Perempuan, aku akan menjaganya baik-baik, dan memperlakukannya seperti seorang adik perempuan."

Su Xi-er mengangguk dan menyerahkan Liu Yin Yin padanya. "Lian Chen, aku masih punya urusan penting untuk dikerjakan, jadi aku tidak bisa berlama-lama. Apa yang bisa kukatakan adalah, kau harus bersabar; akan sulit untuk mengatasi Yun Ruo Feng."

"Aku akan mengingatnya. Jangan cemas," Ning Lian Chen menenangkan.

Su Xi-er mengangguk mengiyakan dan mulai berjalan maju. Saat ini, Ning Lian Chen mendadak bertanya, "Kapan kau akan kembali ke Bei Min, dan kapan kau akan kembali lagi? Sementara untuk Pangeran Hao, kau ...."

Su Xi-er berbalik. "Lian Chen, kali berikutnya aku kembali, akan menjadi hari kematian Yun Ruo Feng. Meskipun aku tidak akan berada di Nan Zhao, aku punya caraku. Kau harus menyerang dari dalam mahkamah, dan serahkan yang di luar padaku. Bagaimanapun juga, kau akan segera memiliki kekuasaan yang akan diberikan padamu juga."

Setelah ia selesai bicara, Su Xi-er berjalan pergi.

Ning Lian Chen membeku di tempat. Beberapa kekuasaanku. Ia menundukkan kepalanya, melihat Liu Yin Yin. Kekuasaan ini dibeli menggunakan kematian Guru Agung Liu. Yin Yin, jangan takut. Karena Kaisar ini telah berjanji pada Guru Agung Liu, kau bisa tenang, karena kau tidak perlu merasa cemas dalam kehidupan ini. Saat kau dewasa, Kaisar ini pasti akan mencarikanmu seorang suami yang baik.

(T/N : maaf dedek kaisar, cece penerjemah ini mikirnya malah kamu yang bakal jadi suaminya hahaha, sotoy lah saya ini.)

***

Ning Lian Chen menggendong Liu Yin Yin dan melihat Kediaman Liu untuk yang terakhir kalinya sebelum mulai kembali menuju Kapal Naga. Setelah di sana, ia membaringkan Yin Yin di atas ranjang dan menyelimutinya dengan sehelai selimut, takut kalau ia akan terserang flu.

Tepat saat selimut menyelimutinya, Liu Yin Yin menendangnya dan mulai mengigau. "Ayah, Ayah, bisakah kau tidak usah tinggal dengan Yang Mulia? Yin Yin merindukanmu. Yang Mulia adalah orang yang jahat! Ia merebut Ayah dariku."

Ada beberapa tetes air mata yang mengalir turun dari mata Liu Yin Yin, terisak beberapa kali sebelum akhirnya ia tenang dan kembali tidur.

Ekspresi Ning Lian Chen membeku. Aku .... Aku memang merebut Ayah Liu Yin Yin .... Akulah orang yang paling berutang padanya melebihi apa pun.

***

Sementara itu, Su Xi-er membawa surat tersebut ke Asosiasi Sastra, tempat berkumpul paling ternama bagi para pelajar/sarjana di ibu kota. Guru Agung Liu adalah seorang otoritas pemimpin yang langka dalam dunia sastra.

Namun, tak lama, ia menyadari kalau seseorang mengikutinya. Sengaja berpura-pura bodoh, ia berbelok masuk ke dalam sebuah gang di samping.

Setelah memasuki gang, ia menyadari kalau langkah kaki di belakangnya jadi semakin keras. Saat ia melihat ada bayangan kurus yang tampak di tanah di depannya, ia pun berbalik dan mengangkat tangannya untuk menyerang siapa pun yang berada di belakangnya.

Tepat saat ia baru saja akan memukul orang yang ada di belakangnya, Su Xi-er menghentikan gerakannya. Yang berdiri di depannya adalah ... si pria berbaju biru.

Wajah pria itu tampak serius sewaktu ia menatap wajahnya diam-diam.

Su Xi-er juga menatapnya. Misterius sekali, setiap kali ia muncul, aku merasakan ada perasaan akrab.

Ia ....

Pria berbaju biru sudah mendengarkan seluruh percakapan di antara Ning Lian Chen dan Su Xi-er, membuatnya sangat amat kebingungan. Mengapa Ning Lian Chen memanggilnya Kakak Perempuan? Keduanya bahkan berkomplot untuk menangani Yun Ruo Feng. Wanita ini, siapakah ia sebenarnya ....?

"Kebetulan sekali; kita selalu bertemu satu sama lain secara kebetulan. Katakan padaku, siapa namamu?" Wajah Su Xi-er khidmat, dan suaranya penuh otoritas.

Pria berbaju biru pun tertegun. Ia terpikirkan beberapa jurus yang pernah diadunya dengan gadis ini sebelumnya, dan fakta bahwa Ning Lian Chen memanggilnya Kakak Perempuannya!

"Mengapa Ning Lian Chen memanggilmu Kakak Perempuan? Di matanya, dan secara pribadi, hanya ada satu orang yang pantas dengan gelar itu." Matanya menyala dengan harapan samar, sementara ia melanjutkan tanpa menunggu respons.

"Dapatkah seseorang yang sudah mati, bertahan hidup di tubuh orang lain?" Sepertinya, ia tidak yakin apakah ia sedang menanyai Su Xi-er, atau menanyai dirinya sendiri.

Su Xi-er menatapnya dengan tenang sebelum tatapannya perlahan-lahan beralih ke cadar di wajah pria itu. Tiba-tiba saja, ia mengangkat tangannya, untuk melepaskan cadar itu.

Kali ini, pria berbaju biru tidak menghindar, dan membiarkannya mengangkat cadarnya.

Wajah yang dipenuhi dengan bekas luka yang dalam dan mengerikan pun terlihat.

Segera saja, Su Xi-er teringat kata-kata Guru Agung Liu. Terluka parah dan cacat.

0 comments:

Posting Komentar