Kamis, 05 Februari 2026

CTF - Chapter 227

Consort of A Thousand Faces

Chapter 227 : Meninggalkan Tandaku Lagi


"Pangeran Hao, kita masih berada di luar." Su Xi-er mencoba mengingatkannya selagi ia mengangkat kepalanya untuk menatap wajah pria itu. Ia masih merasa agak khawatir karena ia belum mendorongnya.

Seharusnya, Su Xi-er merasa jijik pada pria, tetapi ia tidak menolak cumbuan Pei Qian Hao barusan ini.

Senyum muncul di kedalaman mata Pei Qian Hao. "Apa kau malu? Baik, ayo naik ke kapal." Kemudian, ia menarik Su Xi-er maju, tangan besar dan hangatnya menggandeng tangan Su Xi-er, tidak mau melepaskannya.

Pei Qian Hao merasa bahwa menggenggam tangan Su Xi-er adalah hal yang alami. Gadis itu miliknya, dan karena itu, tidak ada yang boleh keberatan dengan ia menggandeng tangannya.

Hanya seperti itu, keduanya berjalan di pinggir Sungai Air Caltrop. Pengawal kekaisaran hanya bisa menatap dengan mata yang terbelalak melihat pemandangan itu. Pangeran Hao menyayangi dayang yang bergaun merah ini, dan kelihatannya, ia bukan hanya sekadar Dayang Selir Kamar.

Sewaktu Pangeran Hao menghampiri mereka, para pengawal menjaga ekspresi terkejut mereka dan membungkuk dengan hormat."Pangeran Yun berada di kapal di bagian kiri, dan ingin mengundang Pangeran Hao untuk minum teh."

Pei Qian Hao menolak dengan lambaian tangannya. "Pangeran ini merasa capek hari ini dan tidak akan pergi ke tempat Pangeran Yun. Apalagi, Pangeran ini tidak suka minum teh. Dimana kapal yang akan menjadi tempat istirahat Pangeran ini?"

Si pengawal mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah sebuah kapal di sebelah kanan. "Pangeran Yun telah menginstruksikan bahwa Anda boleh tidak hadir apabila Anda merasa lelah. Kapal yang paling kanan untuk Anda gunakan, Pangeran Hao."

Seluruh kapal kekaisaran yang indah itu dipersiapkan secara khusus untuk ditempati Pei Qian Hao. Orang bisa melihat banyak dayang istana dan kasim yang berdiri dengan hormat di atas kapal dari tepiannya.

Pei Qian Hao mengangguk sebelum membawa Su Xi-er naik ke kapal.

Para dayang istana dan kasim menyapa serentak, "Memberi hormat pada Pangeran Hao."

"Kalian semua, pergi ke ujung lain kapal. Tidak ada yang boleh mengganggu Pangeran ini sementara aku sedang istirahat." Lalu, Pei Qian Hao menatap Su Xi-er, matanya dipenuhi keambiguan. "Ikuti Pangeran ini." Ujarnya, sebelum berjalan menuju ke arah kamar pribadi di dalam kapal tersebut.

Ada beberapa kamar pribadi di atas kapal, masing-masingnya didekorasi secara berbeda—gaya Nan Zhao, gaya Bei Min, bahkan dengan gaya yang asing.

Pei Qian Hao mengekspresikan kepuasannya; setidaknya, Yun Ruo Feng sudah bijaksana tentang ini.

Pada akhirnya, ia memilih sebuah kamar yang didekorasi dengan gaya Bei Min. Kamar ini memberikan getaran seperti berada di Bei Min, juga sebagai pengingat secara tak langsung pada Su Xi-er agar tidak saling menggoda dengan Kaisar kecil Nan Zhao. Ia adalah warga Bei Min, dan akan segera kembali bersama Pangeran ini. Ia tidak boleh memiliki perasaan yang melekat untuk Nan Zhao.

Su Xi-er mengikuti setelah Pei Qian Hao dan masuk ke dalam kamar. Setelah menutup pintu, ia menghampiri pria itu untuk membantunya melepaskan pakaian luarannya.

Tidak buruk, setidaknya ia lebih sadar diri sekarang. Pei Qian Hao agak menyipitkan matanya sementara ia memerhatikan Su Xi-er melepaskan baju luarannya.

"Pangeran Hao, Anda bisa pergi tidur. Hamba akan berdiri di samping."

"Berdiri?" Suara Pei Qian Hao meninggi, "Apa kau sudah lupa apa yang kau janjikan pada Pangeran ini hari ini?"

"Ini siang hari, dan hamba jelas sekali menjanjikan 'malam hari'". Tangan Su Xi-er terus melepaskan jubah luaran Pei Qian Hao sebelum menggantungkan jubah itu di atas gantungan yang ada di samping.

"Pangeran ini bilang bahwa aku akan menikmati bayarannya dengan bonus. Jadi, daripada sekali, itu akan jadi dua kali—satu di siang hari, dan satu di malam hari." Tanpa menanti respons Su Xi-er, Pei Qian Hao melepaskan celana luarannya dan berbaring di atas ranjang.

Ia berbaring miring dengan satu tangan yang menopang kepalanya tinggi-tinggi, bulu matanya yang panjang membuat bayangan di matanya. Daya pikat yang seperti iblis, mendadak memancar darinya.

Ia menatap Su Xi-er, "Lepaskan pakaian luaranmu dan kemarilah." Suaranya terdengar rendah, kata-katanya terucap dengan jelas dan tidak tertahankan.

Su Xi-er mengatupkan bibirnya. 'Kebaikan dibayar dengan bonus', ia memang mengatakan itu.

Melihat bahwa Su Xi-er tidak merespons, ia mengulangi, "Kemarilah." Suaranya jadi satu oktaf lebih rendah, sebuah indikasi bahwa ia kehilangan kesabarannya.

Dengan enggan, Su Xi-er melepaskan sabuk pinggangnya dan gaun merahnya. Memerhatikannya, Pei Qian Hao merasa bahwa Su Xi-er dengan baju luarannya yang dilepaskan, sangatlah memikat, bahkan jauh lebih menawan dari biasanya.

Ia tidak tahan untuk merasa sedikit gembira. Hanya aku yang bisa menyaksikan pemandangan seperti ini, sementara orang lain hanya boleh melihat kecantikan luarnya yang dangkal.

Hanya ada satu gantungan di dalam ruangan, memaksa Su Xi-er untuk mengeser jubah Pei Qian Hao ke samping sebelum meletakkan gaun merahnya sendiri di sebelahnya.

Setelah menurunkan gaunnya, ia tersambar sebuah pemikiran setelah melihat bajunya yang bersebelahan dengan jubah hitam bermotif ular milik Pei Qian Hao. Mengapa Pei Qian Hao dan aku berlaku selayaknya suami istri?

"Kemarilah," suara rendah itu terdengar lagi, menarik pikiran Su Xi-er kembali.

Mata Su Xi-er melesat ke sana selagi ia berjalan ke pinggir ranjang. Dengan dirinya yang berbaring di bagian luar ranjang, bagaimana aku harus sampai ke bagian dalamnya?

Haruskah aku membalikkannya dan memintanya untuk tidur di bagian dalam, atau lewat bagian kaki ranjangnya?

Su Xi-er memilih untuk lewat kaki ranjang, tetapi saat ia baru saja akan melakukan itu, Pei Qian Hao berbicara, "Kau tidak boleh lewat kaki ranjang."

"Bagaimana lagi hamba akan sampai di bagian dalam ranjangnya jika aku tidak ke sana? Atau, apakah Anda akan tidur di bagian dalam, Pangeran Hao?" Keraguan memenuhi kedalaman mata Su Xi-er. Bahkan, aku saja mengetahui peraturan antara majikan dan pelayan.

Apabila seorang majikan tidur dengan seorang dayang, dayang itu hanya bisa sampai di bagian dalamnya dengan merangkak dari kaki tempat tidur. Hanya istri utama yang resmi saja yang diperbolehkan untuk sampai di sana dengan menyeberangi bagian tengah ranjangnya.

"Pangeran ini tidak bisa tidur di bagian dalam. Kemarilah." Pei Qian Hao duduk tegak dan meletakkan tangannya di sekitar pinggang Su Xi-er.

Dalam sekejap mata, Su Xi-er berada di atas dirinya. Dengan satu putaran pergelangan tangannya, Pei Qian Hao sudah membawa Su Xi-er ke bagian dalam ranjang.

Karena itulah, Su Xi-er sudah menyeberang ke bagian dalam, dengan melangkahi tubuh Pei Qian Hao. Dibandingkan dengan istri resmi, tindakan seperti ini bahkan jauh lebih ....

"Jangan membicarakan tentang peraturan mati itu di depan Pangeran ini. Sebaliknya, kau harus memperlakukan kata-kata Pangeran ini sebagai peraturannya." Pei Qian Hao memahami pemikiran Su Xi-er. Statusnya sebagai seorang dayang, berarti bahwa ia harus lewat kaki ranjang. Hanya saja ... aku tidak menginginkan itu.

Tangan Pei Qian Hao tidak meninggalkan pinggangnya. "Tidurlah dengan tenang," ucapnya dan memejamkan matanya.

Su Xi-er memerhatikannya selagi pria itu tertidur. Saat ini, segala kesombongan Pei Qian Hao sudah sirna. Aura dingin dan penyendiri yang selalu mengelilinginya telah lenyap, membuatnya tampak sama saja dengan manusia lainnya.

Tadinya, Su Xi-er berpikir bahwa pria itu akan tidur dengan tenang. Siapa yang tahu kalau tangannya yang semula memeluk pinggangnya akan perlahan-lahan menuju ke bawah. Tangan besarnya seperti api, menyalakan tempat-tempat yang disentuhnya; Su Xi-er merasa tidak nyaman.

"Pangeran Hao, berhenti menggerakkan tangan Anda."

Pei Qian Hao membuka matanya, kilat main-main berkilauan di dalamnya. "Apa yang Pangeran ini lakukan?" Ia bertanya sambil memindahkan tangannya.

"Anda menyentuh hamba." Su Xi-er menjawab dan menggoncangkan kakinya, mencoba melepaskan sentuhan pria itu.

"Hanya menyentuh, Pangeran ini tidak akan melakukan yang lainnya."

"Jangan sentuh." Su Xi-er menyatakan dengan tegas, nada bicaranya terdengar sangat mirip dengan Pei Qian Hao.

"Apa aku harus menurutinya hanya karena kau bilang tidak? Siapa majikannya di sini?" Pei Qian Hao mendengus dingin sebelum ia membangunkan dirinya sedikit dan menahannya.

Pei Qian Hao tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menangkup dagu Su Xi-er dengan satu tangan sementara yang lainnya menjelajah di seluruh tubuh Su Xi-er.

Mengambil keuntungan dari keadaan tertegunnya, Pei Qian Hao menundukkan kepalanya dan menangkap bibir merah mudanya.

Bibir mereka terkunci, dan napas mereka beradu.

Su Xi-er hanya mampu merasakan bahwa Pei Qian Hao sepenuhnya mengendalikan sekujur tubuhnya, aroma pria itu serasa bernapas di sekitarnya.

Tangan Pei Qian Hao meraih kerah baju dalaman Su Xi-er dan sengaja menariknya sampai tersingkap. Dalam sekejap, bibirnya sudah meninggalkan bibir Su Xi-er dan mendarat di bahunya.

Tubuh Su Xi-er sedikit terangkat selagi ia menarik napas tajam. Ia merasakan sakit dadakan di bahunya, sementara ada tanda merah terang yang muncul.

"Ini adalah tanda Pangeran ini; aku mencetaknya di tubuhmu." Suaranya terdengar rendah, menegaskan kekuatannya.

Su Xi-er memandanginya, "Pangeran Hao, ini bukanlah pengecapan besi. Akan menghilang dalam beberapa hari."

"Maka, Pangeran ini akan meninggalkan tandaku lagi." Jelas sekali apa yang dimaksudkannya dengan meninggalkan tandanya.

(T/N : hualah bisaan aja modus kau bambank hao 😏😏)

0 comments:

Posting Komentar