Kamis, 05 Februari 2026

CTF - Chapter 232

Consort of A Thousand Faces

Chapter 232 : Tamparan di Wajah


Chu Ling Long memutar tumitnya dan pergi setelah ia selesai bicara, tetapi tidak sebelum ia memberikan lirikan dingin pada Su Xi-er.

"Putra Mahkota Chu sudah mengatakan bahwa ia terjatuh ke dalam sungai, tidak ada hubungannya dengan Nona Xi-er, dan hanya suatu kecelakaan. Semuanya, perjamuan malam akan segera dimulai, silakan masuk ke dalam aula utama." Ning Lian Chen melambaikan tangannya dan berkata pada semua orang dengan sopan.

Saat ini, Su Xi-er berpikir kalau Lian Chen sungguh memiliki sikap seorang kaisar.

Yun Ruo Feng berdiri di samping, bertingkah seolah ini tidak ada kaitannya dengannya. Sementara ia melakukannya, tanpa terasa, tatapannya mendarat pada Su Xi-er. Tarian Jing Hong, Tarian Menekuk Ranting, bahkan Ning Lian Chen berbicara padaku tentang karma ....

Mungkinkah ...Pemikiran yang berani merasuki kepala Yun Ruo Feng.

Tidak, aku tidak memercayai kalau ada hal semacam itu di dunia ini. Perlahan-lahan, tatapan Yun Ruo Feng menjadi lebih dalam. Aku harus menguji Su Xi-er. Kalau tidak, hatiku tidak akan tenang.

Semua orang terdiam setelah Ning Lian Chen berbicara, meneruskan jalan mereka menuju aula utama.

Pei Qian Hao meraih tangan Su Xi-er, dan memeriksanya dengan hati-hati. "Apa kau terluka?"

"Hamba baik-baik saja. Tetapi, Pangeran Hao, sudah waktunya masuk ke aula utama." Su Xi-er menarik tangannya kembali dan menatapnya dengan wajah penuh senyuman.

Pei Qian Hao mengangkat tangannya saat ia melihat gadis itu tersenyum, menggetok keningnya ringan. "Kau seharusnya mendatangi Pangeran ini segera setelah kau naik ke kapal. Kenapa kau memutuskan untuk berdiri sendirian di buritan hanya karena Pangeran ini tidak pergi mencarimu? Jika tanpa sengaja kau jatuh ke dalam air dingin Sungai Air Caltrop, kau sudah pasti akan terserang flu, tidak peduli seberapa pandainya kau berenang."

"Anda membicarakan tentang begitu banyak kemungkinan, tetapi hamba masih berdiri di sini, sepenuhnya baik-baik saja." Su Xi-er terus tersenyum sementara ia menarik lengan jubah Pei Qian Hao dan mendesaknya memasuki aula utama.

Gerakan kecil ini disadari oleh Ning Lian Chen. Kakak Perempuan bertingkah seperti seekor burung kecil yang lemah. Mungkinkah karena ia telah membuka hatinya untuk Pangeran Hao? Kakak Perempuan, sudahkah kau memikirkannya dengan matang kali ini?

Ning Lian Chen mengatupkan bibirnya. Aku harus mencari waktu untuk berbicara dengan Kakak Perempuan mengenai ini sebelum ia meninggalkan Nan Zhao.

***

Aula utama Kapal Naga riuh rendah. Selain dari pejabat tinggi dari kerajaan lainnya, ada pula pejabat Nan Zhao yang hadir. Pejabat sipil mahkamah, dipimpin oleh Guru Agung Liu, sementara pejabat militer mahkamah dipimpin oleh Wei Mo Hai. Mereka duduk di masing-masing sisinya dengan pejabat tinggi dari kerajaan lain.

Su Xi-er berdiri di belakang Pei Qian Hao dan menuangkannya anggur. "Pangeran Hao, jangan minum terlalu banyak."

"Pangeran ini tahu. Aku hanya akan minum secangkir malam ini." Pei Qian Hao tidak menolak dan langsung saja menyetujuinya.

Tidak ada yang bernyali bicara dengan berani, terutama semenjak Chu Ling Long pergi berganti pakaiannya. Sementara untuk Hua Zi Rong, ia sediam biasanya, tidak berminat terhadap apa pun. Bahkan, percakapan di antara Pei Qian Hao dan Su Xi-er hanya menarik perhatiannya sejenak sebelum ia mengalihkan pandangannya.

Su Xi-er melihat ke arah Guru Agung Liu. Meksipun ia berusia lebih dari lima puluh tahun, ia masih seorang pria yang jujur. Sekarang ini, hanya Guru Agung Liu yang bisa membantu Lian Chen di dalam mahkamah kekaisaran Nan Zhao.

Walaupun Guru Agung Liu telah memancing banyak ketidakpuasan dari Yun Ruo Feng, orang ini adalah orang bereputasi dalam komunitas orang-orang terpelajar di Nan Zhao. Yun Ruo Feng hanya akan melukai dirinya sendiri apabila ia bertindak melawan Guru Agung Liu.

Su Xi-er dapat melihat kecemasan di mata Guru Agung Liu. Rambutnya berwarna putih keabu-abuan, ia bahkan tampak jauh lebih tua dari sebelumnya. Ia sudah berkorban banyak demi Lian Chen.

Seolah bagaikan takdir, Guru Agung Liu tiba-tiba saja bertatap mata dengan Su Xi-er, menyebabkan tangannya yang sedang memegang cangkir anggur itu terhenti. Tatapan wanita ini sangat berbeda.

Namun, kebingungan dalam mata Guru Agung Liu hanya bertahan selama sedetik. Yun Ruo Feng mendadak memanggilnya dari kursi teratas. "Guru Agung Liu, sebagai otoritas pemimpin dalam dunia sastra, bagaimana kalau kau menuliskan sebuah puisi atau menggambar lukisan sekarang juga?"

Setelah ia selesai bicara, pemimpin dari tiap kerajaan dan pejabat lainnya semua setuju secara serempak. Namun, Ning Lian Chen mengerutkan alisnya; ia bisa melihat dari mata Guru Agung Liu bahwa ia tidak mau melakukannya.

Guru Agung Liu menurunkan cangkir anggurnya dan berjalan ke tengah-tengah aula utama. Ia membungkuk ke arah Yun Ruo Feng untuk memberi hormatnya sebelum bicara. "Pejabat ini adalah orang tua dan tidak bisa menuliskan puisi yang menawan lagi. Sebaliknya, orang tua ini akan mempermalukan diriku sendiri dan menggambarkan lukisan. Namun, akankah Pangeran Yun menjanjikan pejabat rendahan ini sesuatu apabila aku melukis dengan baik?"

Yun Ruo Feng tersenyum. "Guru Agung Liu, katakan saja."

"Pangeran Yun, pejabat rendahan ini sudah terus berada di istana kekaisaran selama beberapa bulan. Putriku berusia sepuluh tahun, dan selalu memanggil-manggil pejabat rendahan ini setiap harinya. Pejabat rendahan ini hanya memiliki seorang putri yang dilahirkan ketika aku sudah tua, jadi aku sungguh merindukan dirinya. Apabila pejabat rendahan ini melukis dengan baik, akankah Anda mengizinkanku untuk kembali ke kediamanku untuk bertemu putriku. Aku berjanji akan kembali setelah beberapa hari."

Ketika Su Xi-er mendengar ini, tangannya yang memegang guci anggur pun membeku, dan bibirnya terkatup erat. Beraninya Yun Ruo Feng menahan Guru Agung Liu di dalam istana kekaisaran!

Saat ini, Pei Qian Hao berbicara. "Pangeran ini pernah mendengar bahwa Guru Agung Liu didewakan sebagai tokoh pemimpin dalam dunia sastra, bahkan di Bei Min. Sebagai seorang pejabat mahkamah, seharusnya, kau bisa pulang ke kediamanmu setiap hari. Mengapa kau menetap di dalam istana kekaisaran selama berbulan-bulan tanpa bertemu dengan putrimu yang berusia sepuluh tahun?"

Suaranya terdengar tenang, tetapi tiap katanya penuh dengan interogasi.

Yun Ruo Feng menatap Guru Agung Liu dengan tenang. Ia sengaja menunggu sampai sekarang untuk mengungkit ini. Bukankah kau selalu melindungi Ning Lian Chen? Bukankah Pangeran ini sudah cukup berbaik hati, mengizinkanmu untuk selalu tetap di dalam Istana Kekasiaran untuk menemani Yang Mulia?

Yun Ruo Feng tersenyum dan menjawab. "Guru Agung Liu selalu menemani Yang Mulia untuk mengajarinya cara memerintah. Pangeran ini begitu puas dengan kemajuan yang dibuat Yang Mulia hingga aku melupakan bahwa Guru Agung Liu memiliki seorang putri berusia sepuluh tahun. Kau boleh kembali ke kediamanmu besok. Jangan cemaskan tentang terburu-buru untuk kembali juga; nikmati saja waktumu dan tinggallah beberapa hari lagi di kediamanmu."

Setelah ia selesai bicara, Yun Ruo Feng mengangkat cangkir anggurnya. "Pangeran ini bersulang pada semua orang. Semuanya, silakan minum sebanyak yang kalian bisa malam ini; jangan pergi tanpa mabuk!"

Para pemimpin tiap kerajaan mengangkat cangkir mereka bersamaan dengan pejabat Nan Zhao, mengosongkan minuman mereka bersama Yun Ruo Feng.

Hanya Pei Qian Hao yang menyesap ringan. Ia menolehkan kepalanya, menatap Su Xi-er dan menurunkan cangkir anggurnya. "Apa kau lelah setelah berdiri begitu lama?"

Su Xi-er menggelengkan kepalanya dan menurunkan guci anggurnya. "Hamba tidak lelah."

Setelah Yun Ruo Feng menghabiskan sulangannya, ia menginstruksikan pada pengawal kekaisaran supaya membawakan kuas lukis, batang tinta, batu tinta, dan kertas untuk Guru Agung Liu untuk menggambar.

Pengawal itu membungkuk, menerima perintah, dan berjalan masuk ke ruangan lain di Kapal Naga. Tak lama setelahnya, ia kembali dengan sebuah meja kayu, kuas lukis, batang tinta, batu tinta, dan kertas.

Guru Agung Liu berjalan ke depan meja kayu dan mengambil kuas lukis. Ia berpikir dengan hati-hati sebentar dan mendadak mendapatkan sebuah ide.

Kuas di tangannya dengan cepat berputar dan menari di atas kertas, menarik tatapan penuh minat dari semua orang.

Hanya setelah lima belas menit, lukisannya selesai.

Ning Lian Chen menginstruksikan Kasim Fu untuk memperlihatkan lukisan itu pada semua orang.

Kasim Fu mematuhi perintah dan berjalan maju. Ketika ia melihat lukisan tersebut, ia memandangi Guru Agung Liu tak percaya. Ia berani melukiskan ....

"Kasim Fu, majulah ke kursi teratas dan bentangkan gulungan itu untuk diperlihatkan pada semua orang." Suara lembut Yun Ruo Feng bisa terdengar.

Ekspresi Kasim Fu berubah, tetapi ia hanya bisa menuruti perintah yang telah diberikan Yun Ruo Feng. Dengan keengganan di wajahnya, ia melangkah naik ke panggung dan membentangkan gulungan tersebut.

Semua orang menyaksikan sewaktu gulungannya terbuka, memperlihatkan sebuah gambar sederhana sekaligus luar biasa.

Itu adalah seorang wanita langsing, mengenakan jubah militer berwarna merah, sebilah pedang menggantung di pinggangnya sementara ia memasang postur yang heroik.

Wanita di dalam lukisan itu adalah Putri Pertama Kekaisaran terdahulu, Ning Ru Lan! Di dalam lukisan, ia sedang menyerbu garis musuh!

Semua orang memiliki ekspresi yang berbeda. Mata Pei Qian Hao sedikit menyipit, tatapan Su Xi-er agak tertegun, dan Ning Lian Chen langsung melihat ke arah Su Xi-er.

Tatapan Yun Ruo Feng juga berubah. Ia hanya mampu merasakan dadanya sesakBagi Guru Agung Liu, melukiskan sesuatu seperti ini selama Perjamuan Malam Kapal Naga, sepenuhnya merupakan tamparan di wajahku!

Wanita yang ada dalam lukisan itu menyerbu ke garis musuh .... Itu semua dikarenakan darah dan keringat Ning Ru Lan, makanya Nan Zhao mencapai apa yang dimiliki kerajaan ini hari ini. Aku, Yun Ruo Feng, telah menginjak seorang wanita untuk memanjat naik!

0 comments:

Posting Komentar