Kamis, 05 Februari 2026

CTF - Chapter 238

Consort of A Thousand Faces

Chapter 238 : Sudah Mati


Ekspresi Guru Agung Liu mendadak berubah setelah ledakan singkatnya. "Aku tidak mengira kalau aku bahkan tidak akan sanggup bertahan selama empat jam. Putri Pertama, tolong tutup pintu kamarnya agar Yin Yin tidak masuk kemari."

Memahami keadaannya, Su Xi-er segera menutup pintunya.

Warna wajah Guru Agung Liu mulai berubah kehijauan, dan napasnya jadi tidak stabil. Berjuang keras, bergantung pada napas terakhirnya, ia menyerahkan surat itu pada Su Xi-er. "Putri Pertama, sampaikan surat ini pada Asosiasi Sastra, dan lakukan perang salib melawan Pangeran Yun!"

Ekspresinya jadi sedih. "Pangeran Yun adalah orang yang kejam dan licik, membuat banyak orang mati di tangannya. Putri Pertama ... ia harus dibinasakan."

Napas Guru Agung Liu jadi semakin sangat tidak stabil. "Putri Pertama, mantan bawahan Anda, Feng Chang Qing, ia ... belum mati. Pangeran Yun gagal saat mencoba membunuhnya. Walaupun ia cacat dan terluka parah, ia masih hidup. Putri Pertama, Anda harus pergi mencari Feng Chang Qing ...." Ia harus mengucapkan kata-kata terakhirnya melalui gertakan giginya.

Su Xi-er maju ke depan, menggenggam tangannya. "Guru Agung Liu, terima kasih karena memberitahukanku ini."

Feng Chang Qing, aku mengingatnya. Ia adalah seorang tentara biasa di bawah komandoku dulu. Latar belakangnya menyedihkan, dan penampilannya sefeminin Chu Ling Long. Dikarenakan penampilannya inilah, ia mengalami banyak sekali pelecehan verbal saat ia masuk ke dalam ketentaraan.

Guru Agung Liu sekarang ini di ambang kematian. Saat ini, ketukan di pintu terdengar, dan suara renyah Liu Yin Yin bisa terdengar. "Ayah, Yin Yin sudah datang. Aku sudah lama tidak bertemu Ayah. Cepatlah bukakan pintunya, Ayah, Yin Yin mau makan permen."

Sudut mulut Guru Agung Liu terangkat, tetapi, ia tidak sanggup mengutarakan sepatah kata pun, sewaktu ia membuka mulutnya tak berdaya. Ia menunjuk ke pintu dan menggambarkan sebuah lingkaran, melambangkan sebuah permen.

"Guru Agung Liu, jangan cemas; aku akan menjaga Yin Yin baik-baik."

Guru Agung Liu mengangguk. Aku bisa tenang dengan adanya Putri Pertama. Ia tersenyum seraya memejamkan matanya, warna ungu kehijauan menghilang dari roman mukanya. Wajahnya berangsur kembali ke warna kemerahan, seolah-olah ia meninggal karena penyebab alami.

Tatapan Su Xi-er menggelap. Yun Ruo Feng, sungguh menggunakan racun yang terlarang di dalam istana, kejam sekali!

Ketukan di pintu berlanjut selagi Su Xi-er membaringkan Guru Agung Liu di dipan, sambil menyimpan suratnya di dalam jubahnya sebelum membukakan pintu.

Liu Yin Yin berusia sepuluh tahun dan sangat naif. Saat ia melihat Su Xi-er, ia tersenyum. "Ibu, aku melihat seorang peri."

Nyonya Liu melihat ke dalam ruang baca. Di saat ia melihat Guru Agung Liu berbaring tak bergerak di atas dipan empuk itu, ia merasa hatinya sudah mati. Tetapi, dengan putrinya di sebelahnya, ia hanya bisa memaksakan diri untuk tersenyum.

"Yin Yin, Ayah kelelahan karena mengurusi beberapa urusan penting di istana kekaisaran, dan butuh istirahat. Bagaimana kalau kau datang mengunjungi Ayahmu besok saja?"

Liu Yin Yin melihat Guru Agung Liu yang berbaring di dipan empuk dan sungguh mengira kalau ayahnya sudah tidur. Tidak peduli betapa ia merindukan ayahnya, ia tetap tidak mau mengganggu istirahatnya.

Karenanya, ia cemberut. "Aku akan mendengarkan Ibu dan tidak akan mengganggu Ayah. Aku akan datang mengunjunginya lagi besok, tetapi Ibu, berapa lama Ayah akan tinggal di rumah kali ini? Aku sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengannya, tetapi ia terus saja tinggal bersama Yang Mulia, meskipun aku lebih muda dari Yang Mulia." Saat Yin Yin menyebutkan Kaisar, ketidakpuasannya tampak jelas.

Su Xi-er memerhatikan raut wajah penuh senyuman polos dan tulus Liu Yin Yin. Jika ia mengetahui kalau ayahnya sudah meninggal, ia ....

Nyonya Liu mengelus kepala putrinya dan berbalik pada pelayan tua di sebelahnya. "Bawa Yin Yin pergi."

Si pelayan tua mendengarkan nada bicara menyedihkan dalam kata-katanya, tetapi saat ia melihat Nona masih tersenyum, ia juga merasakan sakit di hatinya.

"Baik, Nyonya. Nona, silakan ikuti pelayan tua ini ke kamar. Kita akan datang dan mengunjungi Tuan Besar lagi besok."

"Baiklah kalau begitu, kita akan datang lagi besok." Liu Yin Yin mengecilkan suaranya, takut kalau ia akan membangunkan ayahnya. Sebelum ia pergi, ia sengaja mengedipkan matanya pada Su Xi-er.

Hanya setelah Liu Yin Yin pergi, barulah Nyonya Liu akhirnya membiarkan air matanya berjatuhan. Ia memandangi Su Xi-er dan berkomentar, "Nona, Yin Yin sangat menyukaimu."

Nyonya Liu mendadak berlutut. "Nona, sebagai dayang Pangeran Hao, Pangeran Yun tidak akan melakukan apa pun terhadapmu. Karena Tuan Besar sudah tiada, aku ingin mengikutinya. Perasaan di antara kami dalam, dan sudah menyatu di dalam darah kami. Aku tidak mungkin bisa terus hidup tanpa dirinya, jadi tolong jangan coba-coba meyakinkanku sebaliknya. Nona, aku hanya bisa memohon padamu agar menjaga Yin Yin."

Su Xi-er segera membantu Nyonya Liu bangun, tetapi saat ia melihat tatapan kehilangan harapan milik orang itu, ia tahu kalau ia tidak akan bisa lagi mengubah pikirannya. Perasaan sedalam ini akan mengikutimu sampai hari dimana kau mati.

Akhirnya, Su Xi-er mengangguk. "Aku janji padamu."

Nyonya Liu mengangguk, dan melirik sekali lagi ke arah kamar putrinya sebelum masuk ke dalam ruang baca.

Krek. Pintu ruangan tertutup, dan di dalamnya sunyi senyap.

Su Xi-er mencengkam surat di lengan bajunya dengan sangat erat sewaktu ia pelan-pelan berjalan maju ke depan. Tak lama kemudian, ia mendengarkan bunyi keras dari dalam ruang baca, diikuti keheningan.

Nyonya Liu telah menumburkan kepalanya ke tembok dan mati, pergi bersama-sama dengan Guru Agung Liu. Ia telah menggunakan kematiannya untuk menjadikan surat ini jauh lebih bermakna.

Su Xi-er mengangkat kepalanya, memandang bulan yang terang. Jangan khawatir; memiliki keberanian untuk pergi dengan cara seperti ini .... Aku menghormati kalian.

***

Setelahnya, Su Xi-er berjalan menuju kamar tidur Liu Yin Yin.

Liu Yin Yin belum tidur, dan sedang duduk di atas kursi sementara ia mendengarkan inang pengasuhnya mendongeng. Inang pengasuh itu adalah si wanita tua yang membawa Liu Yin Yin kembali ke kamarnya.

Saat si inang pengasuh itu melihat Su Xi-er, ia paham kalau Nyonya Liu telah meninggal, dan kesulitan sekali untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia tahu kalau gadis di depannya sudah datang untuk membawa pergi sang Nona.

"Yin Yin," Su Xi-er memanggil dengan lembut.

Liu Yin Yin tersenyum, dan segera melompat dari kursinya. "Peri, apa Ayah memintamu untuk bermain denganku?"

"Itu benar, Guru Agung Liu menyuruhku untuk membawamu keluar makan permen."

"Permen? Tetapi, kenapa bukan Ayah yang membawaku keluar?"

Su Xi-er berjongkok dan menjawil hidungnya. "Ayahmu terlalu sibuk, dan sudah harus kembali ke istana kekaisaran besok, pagi-pagi sekali. Tetapi, setelah beberapa waktu, ia bisa pergi dan menemanimu di rumah."

Setelah mendengarkan itu, Liu Yin Yin tersenyum. "Ayah bisa menemaniku setelah beberapa waktu? Itu bagus! Karena Yang Mulia jauh lebih tua dariku, ia tidak akan membutuhkan orang lain untuk menemaninya, jadi Ayah bisa tinggal bersamaku! Nona Peri, kapan kita akan pergi keluar untuk makan permen?"

Su Xi-er menarik tangannya, dan menginstruksikan si inang pengasuh, "Bawakan beberapa baju Yin Yin dan kemasi dengan benar. Aku akan membawa pakaiannya bersamaku."

Si inang pengasuh paham dan segera pergi berkemas.

Liu Yin Yin keheranan. "Kenapa kau membawa bajuku? Peri, apakah kau akan membawaku pergi jauh? Kalau memang begitu, aku harus memberitahukan Ibu, kalau tidak, ia akan cemas saat ia tidak melihatku."

Liu Yin Yin masih tidak mengetahui bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

"Ibumu sudah menyetujuinya. Apa, apakah Yin Yin tidak mau pergi main keluar?" Su Xi-er tersenyum sumringah sewaktu ia berbicara dengan lembut.

Liu Yin Yin merenunginya sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Aku mau pergi bermain keluar. Kalau Kakak Peri sudah memberitahukan mereka, maka itu lebih menghemat waktu."

Saat ini, si inang pengasuh berjalan keluar dari kamar bagian dalam bersama satu buntalan baju, dan menyerahkannya pada Su Xi-er. "Ini adalah baju-baju Nona."

Totalnya ada dua belas set, masing-masing empat set untuk empat musim.

Su Xi-er menerimanya, kemudian lanjut menggandeng tangan Liu Yin Yin sementara mereka berjalan keluar.

Liu Yin Yin melambaikan tangan pada inang pengasuhnya. "Ibu Pengasuh, beritahu Ayah besok, kalau aku tidak menyalahkannya karena pergi ke istana kekaisaran. Setelah ia mengurusi semuanya, akhirnya ia bisa pulang ke rumah dan bermain bersamaku!"

Semakin Liu Yin Yin memikirkan soal itu, semakin bahagia pula dirinya. Akhirnya, ia mengikuti Su Xi-er keluar dari Kediaman Liu.

Sewaktu mereka berdua keluar dari Kediaman Liu, Su Xi-er menyadari satu sosok berjubah biru. Namun, ia hanya melihatnya sejenak sebelum sosok itu menghilang.

(T/N : walau hanya muncul bentaran aja, tapi kasian betul sama nasib keluarga Liu 😭)

0 comments:

Posting Komentar