Kamis, 05 Februari 2026

CTF - Chapter 236

Consort of A Thousand Faces

Chapter 236 : Kehilangan Harapan


Melihat bahwa sasarannya sudah tercapai, Su Xi-er menarik ujung keliman lengan jubah Pei Qian Hao dan mengusulkan dengan lembut, "Pangeran Hao, kita harus kembali karena Perjamuan Malam Kapal Naga telah dibatalkan."

Ning Lian Chen tertegun setelah melihat tindakan Su Xi-er; ia bertingkah seperti seorang wanita yang pemalu. Kakak Perempuan tidak pernah bertingkah seperti ini dengan Yun Ruo Feng, bahkan saat ia mencintai pria itu. Tetapi, di depan Pangeran Hao, ia benar-benar .... Ning Lian Chen tidak tahan untuk melirik beberapa kali ke arah Pei Qian Hao.

Selama salah satu dari lirikan yang diberikan Ning Lian Chen, secara kebetulan bertemu dengan tatapan Pei Qian Hao, menangkap sejejak kesombongan yang tersembunyi di bola mata gelap orang itu.

"Baiklah, mari kembali," Pei Qian Hao mengangguk, dan berbalik, berjalan keluar dari kapal.

"Pangeran Hao, sudah larut. Kau bisa istrirahat di kapal, daripada kembali ke rumah pos." Suara datar Yun Ruo Feng terdengar.

Pei Qian Hao tidak berbalik saat ia membalas. "Boleh juga."

Sebelum ia bahkan menyelesaikan kalimatnya, sosok Pei Qian Hao sudah menghilang dari aula utama.

Tanpa adanya Pei Qian Hao dan Su Xi-er, atmosfernya menjadi lebih canggung. Ning An Lian sendiri tidak mau memecah keheningannya, bibirnya terus terkatup rapat.

Yun Ruo Feng melihat ke arah Wei Guang, menyebabkan orang itu gemetaran diam-diam. Ia tidak bisa mengelak dari tanggung jawab karena Perjamuan Malam Kapal Naga yang berakhir sebelum waktunya.

"Wei Mo Hai, tidak pantas bagi Pangeran ini untuk menangani kerabatmu ini, jadi aku akan serahkan dia padamu. Sementara untuk kasus Nona-Nona Wei, kau akan bertanggung jawab dalam penyelidikannya." Ekspresi lembut Yun Ruo Feng tetap ada, sementara ia menurunkan perintah ini, tetapi nada serius dalam suaranya, yang membuat hati Wei Guang jadi terasa acak-acakan.

Wei Mo Hai membungkuk dan menerima perintah. "Bawahan ini mengerti." Kemudian, ia menggesturkan pada Wei Guang untuk mengikutinya. Tidak berani membantah, Wei Guang cepat-cepat bangkit dan mengikuti Wei Mo Hai keluar dari aula utama.

Di dalam aula utama, Ning Lian Chen memandangi Ning An Lian. "Kakak Perempuan, apa kau takut menjaga Makam Kekaisaran selama tiga tahun? Kaisar ini harus bilang bahwa jika kau tidak datang malam ini, tidak akan ada satu pun dari hal ini yang akan terjadi. Apabila kau sungguh berakhir di Makam Kekaisaran, kau hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri."

Yun Ruo Feng melambaikan tangannya. "Cukup, kau boleh pergi. Yang Mulia bisa berhenti merasa cemas; Pangeran ini akan mengatasi masalah ini."

"Bahkan, Kaisar ini saja tidak sanggup mengatasi masalah ini, tetapi itu menarik, melihat bagaimana kau akan menangani amukan Kakak Pertama, Pangeran Yun." Kata-kata Ning Lian Chen dipenuhi makna yang tersirat, tetapi tidak ada yang meresponsnya sewaktu ia berjalan keluar dari aula utama, wajahnya penuh dengan senyuman.

Tepat saat ia baru saja akan turun dari Kapal Naga, Ning Lian Chen menangkap pemandangan, ada pasangan yang sedang berdiri dan berciuman di haluan kapal di kejauhan.

Cahaya bulan menyinari pasangan itu, memperlihatkan wajah rupawan dari pasangan itu. Ning Lian Chen melihatnya dengan jelas. Itu adalah Kakak Perempuan dan Pei Qian Hao!

Ia melihat lengan Pei Qian Hao melingkar di pinggang Kakak Perempuannya, dan bukannya menolaknya, tangan gadis itu melingkari leher Pei Qian Hao.

Mata Ning Lian Chen dengan cepat menyipit sebelum kembali normal. Kakak Perempuan, apakah kau sungguh telah jatuh cinta di kehidupan ini? Mampukah Pangeran Hao melindungimu dari angin dan hujan? Saat dipaksa untuk membuat pilihan, akankah Pangeran Hao memilihmu, atau mempertahankan kekuasaannya?

Ning Lian Chen mengepalkan tangannya dengan erat. Kakak Perempuan, aku akan mendukungmu, dalam apa pun yang membuatmu bahagia; tetapi ketika itu tentang memilih seorang suami, ia harus melangkahiku dulu. Memikirkan ini, Ning Lian Chen hanya bisa menghela napas. Meskipun jika aku ingin menyaring Pei Qian Hao, pengaruhku saat ini begitu rendah, sampai-sampai itu hanya akan membuat Pei Qian Hao mengabaikanku.

Itulah mengapa, bila aku ingin melakukan apa pun, aku harus menjadi kuat. Dipenuhi dengan tekad, mata Ning Lian Chen tampak cerah sementara ia berjalan perlahan-lahan, menuruni kapal.

Tepat saat Ning Lian Chen turun dari kapal, ia melihat Guru Agung Liu yang menghampirinya dengan buru-buru, sebelum membungkuk dan menyampaikan hormatnya.

Kelihatannya, ini bukanlah suatu kebetulan; Guru Agung Liu sudah menunggu di sini selama beberapa waktu sekarang.

Pemikiran tentang lukisan yang digunakan Guru Agung Liu untuk menentang Yun Ruo Feng secara terbuka, membuat Ning Lian Chen merasa terharu juga cemas di waktu bersamaan untuk pria berumur itu.

"Guru Agung Liu, tidak perlu terlalu sopan; ayo, cepat bangun."

Guru Agung Liu bangkit berdiri. Pria yang biasanya selalu serius dalam pidato dan sikapnya, terdapat air mata yang menggenangi matanya. "Yang Mulia, pejabat tua ini takut kalau waktuku sudah hampir habis. Pejabat tua ini tidak akan bisa berada di sisi Anda, dan harus meninggalkan Anda untuk menghalau Pangeran Yun sendirian ...."

Ning Lian Chen mengangkat tangannya, menghapus air mata dari sudut mata guru yang dihormatinya. "Kau adalah guru yang Kaisar ini hormati, dan seperti kata mereka, seorang guru selama satu hari, adalah seorang ayah seumur hidup. Ayahanda Kaisar ini mangkat lebih awal. Di mata Kaisar ini, kau lebih mirip seperti ayah yang tegas daripada seorang guru. Jika kau yakin waktumu sudah akan habis, jangan katakan hal seperti ini lagi; aku akan menyelamatkamu."

Ning Lian Chen memahami apa yang sedang Guru Agung Liu coba untuk katakan. Ia sudah menentang Yun Ruo Feng secara terbuka selama Perjamuan Malam Kapal Naga; itu secara praktis akan membuat Yun Ruo Feng mengeksekusinya.

Namun, meskipun aku lemah, aku bertekad untuk menyelamatkan Guru Agung Liu.

"Yang Mulia, Pangeran Yun memiliki banyak sekali trik di tangannya. Ia mengendalikan kekuasaan kekaisaran, menggunakannya untuk memanipulasi mahkamah, dan memfitnah Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu. Ia bahkan sampai memberlakukan pajak yang berat, dan mengalokasikan kekayaan kerajaan ke militer. Anda tidak boleh terkena amarahnya sementara Anda masih belum membentangkan sayap Anda. Anda harus mengalami penderitaan hingga waktunya tiba, Anda dapat membangun pengaruh Anda sendiri; hanya dengan begitu, Pangeran Yun akan tewas. Apabila Nan Zhao terus seperti ini, kerajaan ini pasti akan runtuh." Kata-kata Guru Agung Liu diutarakan dengan nada yang hampir seperti percakapan biasa, namun tidak diragukan lagi, makna dingin dan muram di balik ucapannya.

Jantung Ning Lian Chen serasa diremas. Kedengarannya seolah Guru Agung Liu mencoba menyampaikan kata-kata terakhirnya. Tidak, aku tidak boleh membiarkan Guru Agung Liu mati!

"Yang Mulia, pejabat tua ini memiliki seorang putri berusia sepuluh tahun. Apabila terjadi musibah, mohon jaga dirinya, menggantikan pejabat tua ini. Saat ia cukup umur, Anda bisa membiarkannya pergi." Kemudian, Guru Agung Liu berlutut. "Yang Mulia hanya perlu menjaga putri pejabat tua ini selama lima tahun. Lima tahun, sudah lebih dari cukup."

Ning Lian Chen mengatupkan bibirnya. Guru Agung Liu sudah bertekad untuk mati ....

"Guru Agung Liu, putrimu sedang menunggumu di Kediaman Liu. Kau akan baik-baik saja; Kaisar ini akan memikirkan solusi." Ning Lian Chen membantu Guru Agung Liu bangkit, suaranya penuh tekad.

Guru Agung Liu mengangguk, "Terima kasih, Yang Mulia. Pejabat tua ini sudah mengaturkan buku-buku di rak buku. Tingkat pertama—memerintah kerajaan; yang kedua—menempatkan pasukan; yang ketiga—penggunaan personel. Buku-buku ini jumlah totalnya sekitar selusin jilid lebih. Meksipun tidak ada banyak, setiap bukunya mengandung intisari dari prinsip-prinsip panduan. Pejabat tua ini sudah menaruh teh bunga favorit Yang Mulia, dan kacang kastanye goreng ala orang biasa di kabinet bagian bawah di sebelah rak bukunya. Yang Mulia dapat menikmati mereka saat Anda lelah membaca."

"Guru Agung Liu, Kaisar ini pasti akan menyelamatkanmu." Ning Lian Chen dapat merasakan kepahitan di dalam hatinya.

Guru Agung Liu membungkuk dengan hormat. "Terima kasih banyak, Yang Mulia. Pejabat tua ini akan undur diri dulu. Sudah larut dan dingin, tetapi mohon istirahatlah dengan baik." Kemudian, Guru Agung Liu berbalik dan pergi. Di saat ketika ia berbalik, terdapat jejak tekad yang kuat di matanya.

Guru Agung Liu mencibir, rambut putih keabu-abuannya tampak sepi di bawah cahaya bulan. Sebenarnya, bawahan Wei Mo Hai, Qin Ling, sudah mendatangi Guru Agung Liu, dengan secangkir anggur setelah ia keluar dari aula utama. Mana mungkin ia tidak mengetahui kalau anggur itu dipenuhi dengan racun?

Ia tahu bahwa, ketika ia menentang Pangeran Yun secara terbuka, tak diragukan lagi, ia akan berakhir mati, tetapi ia tidak punya penyesalan. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun sewaktu ia menenggak isi cangkir itu.

Qin Ling mengatakan bahwa, dibutuhkan empat jam sebelum racunnya berpengaruh. Ini artinya, aku masih bisa menemani putriku dengan baik selama empat jam ini.

Empat jam. Ia sudah menghabiskan satu jam menunggu Yang Mulia untuk keluar. Setelah tiba di kediamannya, ia masih harus menuliskan sepucuk surat dan menyuruh pelayannya mengirimkan surat itu ke Asosiasi Sastra. Setelah mereka menerima surat itu, sudah pasti akan membuat pukulan yang besar bagi Pangeran Yun.

Akan tetapi, konsekuensi dari surat semacam ini adalah eksekusi dari seluruh keluarganya. Ia tidak sanggup memikirkan tentang putrinya menderita takdir semacam ini, dan hanya bisa memercayakannya pada Ning Lian Chen untuk sekarang ini.

***

Di kapal yang lain, Su Xi-er mendorong Pei Qian Hao. Ia sedikit menolehkan kepalanya dan melihat Guru Agung Liu.

Ia mengangkat kepalanya dan mencium Pei Qian Hao atas kemauannya sendiri. "Pangeran Hao, mohon izinkan hamba untuk pergi ke kediaman Guru Agung Liu." 

0 comments:

Posting Komentar