Kamis, 05 Februari 2026

CTF - Chapter 221

Consort of A Thousand Faces

Chapter 221 : Memakai Hiasan Rambut Beruntai


Hampir semua orang bisa melihat kalau Pei Qian Hao dan Su Xi-er sedang berbisik satu sama lain, tetapi tidak ada dari mereka yang dapat mendengarkan detail percakapannya. Meski demikian, mereka tidak bisa menghentikan diri untuk menganggap keduanya sedang 'mengungkapkan rasa cinta mereka'.

Yun Ruo Feng mengangkat cangkir anggur di depannya dan menggoyangkannya perlahan, ada kilat cahaya yang melintasi matanya sebelum jadi tersesat di kejauhan. Angin sepoi-sepoi bertiup di permukaan danau, menciptakan riak di air yang murni ini; kejadian itu membuat Yun Ruo Feng mendadak merasa seakan hatinya hampa.

Ning Lian Chen menatap ke arahnya. "Pangeran Yun, mengapa kau tidak meminum Embun Madu Bunga Giok ini? Sebagai anggur nasional Nan Zhao, bukankah dulunya ini adalah favoritmu?"

"Terlalu banyak minum akan menghalangi urusan penting." Yun Ruo Feng tersenyum sebelum menurunkan cangkir anggurnya di atas meja dan menonton pertunjukan di atas panggung.

"Pangeran Yun, mana mungkin itu bisa memengaruhi seseorang dengan toleransi alkohol setinggi dirimu? Mungkinkah kalau seleramu sudah berubah dan kau tidak menyukainya lagi?"

Ning Lian Chen menanggapi menggantikan Yun Ruo Feng. "Pangeran Yun, seleramu sudah berubah. Kau sudah tidak lagi suka minum anggur, tetapi malah minum teh."

Suaranya cukup kencang untuk didengar oleh Chu Ling Long. "Pangeran Yun, kau suka minum teh? Jenis teh macam apa yang kau sukai?"

Yun Ruo Feng tidak membantahnya, dan sebaliknya, menjawab sambil memasang senyuman di wajahnya. "Tai Ping Hou Kui. Rasa menyegarkannya sesuai dengan seleraku."

"Yang terbaik dari Empat Teh Ternama memang memiliki rasa yang sangat enak. Hanya saja, Putra Mahkota ini tidak suka meminumnya, karena aku merasa itu tidak semenyenangkan anggur. Anggur digunakan untuk menghidupkan suasana, sementara teh digunakan untuk menenangkan hati. Pangeran Yun, mungkinkah ada simpul di hatimu yang ingin kau buka?"

Para penguasa dari wilayah yang lebih kecil di tempat duduk lebih di bawah pun tidak tahan untuk tidak mengalihkan perhatian mereka pada percakapan itu. Mana mungkin Pangeran Yun merasa depresi dan gelisah?

Yun Ruo Feng menggelengkan kepalanya. "Ini menyangkut masa lalu Pangeran ini. Ketika aku masih seorang tentara kecil, aku bertemu seseorang yang sangat menyukai minum Tai Ping Hou Kui. Dulu, Pangeran ini heran, dan memiliki pemikiran yang sama seperti Putra Mahkota Chu. Bagaimana bisa teh begitu enak? Namun, seiring berjalannya waktu, Pangeran ini perlahan-lahan mulai memahami perasaan mereka, terutama menyangkut Tai Ping Hou Kui."

Saat penguasa dari kerajaan lain mendengarkan kisahnya, mereka hanya bisa menghela napas. Biarpun sekarang Pangeran Yun memegang posisi yang tinggi, ia tidak melupakan akarnya. Ia bisa mengingat dan mengakui kenalan dari masa lalunya, sesuatu yang tak banyak orang bisa melakukannya.

Alis ramping Su Xi-er agak mengerut. Tai Ping Hou Kui adalah teh favoritku. Yun Ruo Feng sedang mengenang pertemuan pertama kami saat aku diam-diam menyelinap masuk ke dalam barak tentara, dan ketika ia hanyalah seorang tentara kecil.

Ia tahu mengapa aku suka meminum Tai Ping Hou Kui. Ia bahkan sampai bertanya padaku mengapa aku menyukainya, dan aku hanya menjawabnya dengan, "Rasanya enak." Aku benar-benar menikmati menghabiskan waktu bersamanya saat itu.

Pei Qian Hao menyadari bahwa pikiran Su Xi-er sudah melayang dan mendengus ringan untuk mengingatkannya. Saat ia tersadar dari keterguncangannya, pria itu bertanya, "Mengapa kau sering sekali melamun beberapa hari ini?"

"Pangeran Hao, hamba hanya sedang bertanya-tanya, orang macam apakah yang begitu penting bagi Pangeran Yun sehingga ia masih mengingat mereka sampai sekarang." Suara renyahnya mengalir masuk ke telinga semua orang.

Chu Ling Long menyetujuinya. "Putra Mahkota ini juga penasaran. Teman lama ini, bisa dianggap sebagai orang yang berselera sama dengan Pangeran Yun, kan? Kalau memang demikian, mereka pasti mengikuti Pangeran Yun, bukan?"

"Teman lama ini sudah meninggal dunia." Pangeran Yun masih mempertahankan senyuman lembut dan nada bicara yang tenang.

"Oh, begitu, jadi, Pangeran Yun sedang mengenang tentang sahabat lamanya setiap kali ia meminum teh." Chu Ling Long terkekeh sebelum berpaling pada Ning Lian Chen. "Yang Mulia, Pangeran Yun tidak benar-benar suka meminum teh, tetapi hanya menggunakannya untuk memecahkan kerinduannya pada temannya. Meski itu sangat menarik, tidak mendiskusikan soal teh dengan temannya ini saat mereka masih hidup, tetapi 'suka' meminumnya setelah mereka tiada." Chu Ling Long mulai tertawa semakin ia berbicara, nada mengejeknya membuat para penonton tidak nyaman.

Ada sedikit perubahan dalam eskpresi Yun Ruo Feng sebelum cepat-cepat kembali normal. Teman lama itu sudah meninggal dunia, dan baru sekaranglah aku pelan-pelan mulai minum teh. Perlahan-lahan, tangan yang tersembunyi di dalam lengan jubahnya mengepal, dan tatapan di matanya menjadi lebih dalam.

Su Xi-er menolehkan kepalanya untuk menatap Yun Ruo Feng. Ia tahu bahwa pria itu merasa tertindas, bahkan merasa agak sedih di dalam hatinya, tetapi ia tidak mengasihaninya sama sekali. Sebaliknya, ia merasa Yun Ruo Feng agak menggelikan.

Atmosfernya menjadi lebih berat, sampai suasana canggung itu akhirnya dihancurkan oleh suara seorang pengawal kekaisaran.

"Yang Mulia, hiasan rambut beruntainya ada di sini." Si pengawal menyerahkan sebuah kotak kayu panjang.

Ning Lian Chen menerimanya dan membukanya untuk memeriksanya. Inilah hiasan rambut yang sangat disayangi oleh Kakak Perempuan. Meskipun sudah lama waktu berlalu, dan kilaunya sudah memudar, pesona tenang yang dimilikinya tidak akan menghilang, tetapi malah semakin kuat.

Dengan keengganan di matanya, ia menutup kotak kayu itu. "Nona Xi-er, hiasan rambut hijau giok beruntai ini memiliki banyak arti, menjadi hiasan favorit dari Kakak Perempuan Kaisar ini ketika ia masih hidup. Kini, karena ia sudah tiada, menyimpan ini di dalam istana hanya akan menyebabkanku merasa sedih. Maju ke depan dan terimalah hadiahmu."

Su Xi-er bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah Ning Lian Chen, membungkuk setelah ia sampai di hadapannya. "Terima kasih, Yang Mulia."

Ning Lian Chen menyerahkan kotak kayu itu padanya. "Dengan tiadanya Kakak Perempuan, Kaisar ini menganggap bahwa hanya kau yang akan mampu mengeluarkan daya tariknya. Kaisar ini merasa bahwa aku bisa tenang setelah memberikannya padamu."

Kata-katanya mendorong banyak spekulasi dari orang banyak. Kaisar Nan Zhao sangat merindukan Ning Ru Lan yang sudah mati, sampai berbicara dengan cara seperti ini pada Su Xi-er sekarang. Apakah karena ia merasa kalau aura Su Xi-er mirip dengan Ning Ru Lan?

Tak perlu dikatakan lagi, Yun Ruo Feng juga merasakan hal yang sama. Ia merasa hatinya terpilin saat memikirkannya, sejejak rasa sakit muncul di matanya.

Setiap kali Su Xi-er muncul, ia akan teringat pada Ning Ru Lan, membuatnya mengenang masa-masa yang mereka habiskan bersama-sama.

Su Xi-er cepat-cepat menerima kotak kayu itu dan membungkuk pada Ning Lian Chen. "Terima kasih, Yang Mulia."

Kemudian, ia berbalik dan berjalan kembali ke sisi Pei Qian Hao sebelum pelan-pelan mendudukkan diri.

Tangan Pei Qian Hao terulur ke arah kotak kayu itu, tetapi secara waspada, Su Xi-er mengesampingkannya. Tindakannya ini membuat pria itu sangat tidak senang.

Ia begitu menyukai hiasan rambut ini?

Melihat tampang waspadanya, Pei Qian Hao berkata, "Pangeran ini tidak berminat dengan hiasan rambut wanita, tetapi, kalau kau sebegitu menyukainya, Pangeran ini akan membantumu memakaikannya sekarang."

Jadi, itulah tujuannya.

Su Xi-er membuka kotak kayu dan mengeluarkan hiasan rambut hijau giok beruntai itu. "Pangeran Hao, mohon bantu hamba memakaikannya." Suaranya bergema, dan sikapnya anggun, menarik perhatian dari orang banyak. Mereka memerhatikan sewaktu Pangeran Hao mengambil aksesoris itu dan dengan hati-hati membantu Su Xi-er memakainya.

Segera setelah hiasan rambut itu dipakaikan di sanggul rambut Su Xi-er, semua orang merasa ada perubahan aura yang dipancarkannya. Auranya tenang dan elegan, tetapi lebih bangsawan daripada apa pun juga. Cocok dengan tatapan cerdiknya itu, tanpa disadari, menggerakkan hati semua orang untuk sesaat.

Saat Hua Zi Rong melihat Su Xi-er yang seperti itu, ia langsung memahami mengapa Pangeran Hao yang angkuh akan menyayanginya. Perasaan yang diberikan Su Xi-er pada orang-orang sangat mirip dengan Ning Ru Lan, tetapi sedikit lebih terkendali. Ia seperti Bunga Ungu Harum, mekar dengan tenang dan memancarkan kemilaunya di dalam sebuah lembah yang sepi.

Yun Ruo Feng merasakan sakit menyerang hatinya lagi. Tatapannya jadi kabur, dan ketika ia menyaksikan Pei Qian Hao memakaikan hiasan rambut itu pada Su Xi-er, sosoknya perlahan-lahan berubah menjadi Ning Ru Lan.

Benak Yun Ruo Feng langsung jadi kosong, dan pasang surut kenangan pun datang membanjiri.

"Feng, ini adalah apa yang diberikan ibuku padaku sebelum ia wafat. Aku belum pernah memakainya, karena orang pertama yang membantuku memakaikannya haruslah suamiku. Jika kau bersedia untuk menikahiku di masa yang akan datang, bantu aku untuk memakainya."

0 comments:

Posting Komentar