Kamis, 05 Februari 2026

CTF - Chapter 237

Consort of A Thousand Faces

Chapter 237 : Sangat Terkejut


Baru beberapa saat yang lalu, Pei Qian Hao gembira sekali karena wanita di hadapannya berinisiatif untuk menciumnya.

Tetapi sekarang, setelah mengerti tujuannya, wajahnya pun menggelap. Ia hanya menciumku karena ia punya permintaan.

Su Xi-er memerhatikan wajahnya yang menggelap. Huh? Ia tidak senang karena aku menciumnya? "Pangeran Hao, Pangeran Yun barangkali tidak akan membiarkan Guru Agung Liu lepas hari ini setelah menentangnya secara terbuka dengan lukisan Ning Ru Lan. Akan disayangkan jika seorang otoritas terkemuka dalam dunia sastra seperti Guru Agung Liu meninggal."

"Ini tidak ada hubungannya denganmu. Kalau Guru Agung Liu mati, maka itu adalah kerugian Nan Zhao." Kemudian, Pei Qian Hao mengulurkan tangannya dan melingkarkannya di pinggang Su Xi-er, ingin membawanya kembali ke dalam kamar.

"Pangeran Hao, hamba mengagumi Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao yang terdahulu, dan merasa bahwa ia akan merasa tidak tenang apabila Guru Agung Liu mati begitu saja karena ini."

Pei Qian Hao terhenti di jalurnya dan memerhatikannya dalam diam. Maksudmu adalah, kau ingin memberitahuku kalau kau mau ikut campur dalam segalanya karena kau mengagumi Ning Ru Lan? Bahkan, kekaguman saja bisa sejauh ini?

Kalau aku tidak membantu Su Xi-er, apa yang dapat diperbuatnya? Apakah dirinya tanpa diriku?

Pei Qian Hao mengerutkan alisnya sementara kilat halus terpancar di matanya, sebuah ide yang sepertinya brilian terbentuk dalam benaknya. Karena ia mau ikut campur, maka biarkan saja. Aku tidak akan ikut campur dengan masalah Guru Agung Liu. Mari kita lihat, bagaimana ia bisa berhasil melakukan apa pun tanpa diriku.

Semakin Pei Qian Hao memikirkan soal itu, semakin ia merasa kalau idenya ini sangat jenius. Alhasil, ia melepaskan Su Xi-er. "Kau keras kepala, dan akan salah bagi Pangeran ini untuk memaksamu tetap tinggal. Pangeran ini akan memberikanmu waktu dua hari. Jika kau tidak kembali dalam waktu dua hari itu, jangan muncul di hadapan Pangeran ini lagi. Ditambah lagi, Pangeran ini tidak akan ikut campur dalam urusanmu. Apa kau mengerti?"

Su Xi-er membeku sejenak sebelum ia mengangguk. "Terima kasih banyak, Pangeran Hao." Ia membungkuk dengan hormat sekali lagi dan turun dari kapal, mengikuti Guru Agung Liu.

Pei Qian Hao memerhatikan siluetnya yang berangsur menghilang, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Su Xi-er, dari apa yang Pangeran ini lihat, kau akan kembali sebelum waktu dua hari itu habis. Kekuasaan mungkin bukan selalu menjadi jawabannya, tetapi terkadang, kau tidak punya pilihan lain selain bergantung padanya.

Pangeran ini akan melihat apa yang dapat kau capai tanpa diriku.

Pei Qian Hao begitu yakinnya bahwa Su Xi-er akan tidak berdaya untuk bahkan mengambil satu pun langkah maju seorang diri. Namun, jika ia mengetahui apa yang akan terjadi, ia sudah pasti tidak akan membiarkannya pergi sendirian malam itu.

Su Xi-er ditakdirkan untuk meluaskan pandangan Pei Qian Hao, dan memberikan pukulan telak pada kepercayaan dirinya.

***

Su Xi-er yang pergi, melihat Guru Agung Liu menaiki kereta kuda Kediaman Liu. Ia segera melambaikan tangannya untuk memberhentikan kereta lainnya, menyuruh kusirnya untuk berhenti di jalanan terdekat dengan Kediaman Liu.

Su Xi-er mengangkat tirai kereta, firasat buruk sudah bercokol di dalam perutnya saat ia melihat langkah buru-buru Guru Agung Liu. Mungkin, Yun Ruo Feng sudah bertindak pada Guru Agung Liu!

Dengan tiadanya Guru Agung Liu, pengaruh Lian Chen di mahkamah kekaisaran akan terpengaruh besar. Tanpa adanya pejabat sipil di bawah bendera Guru Agung Liu, mahkamah akan berada sepenuhnya dalam kendali Yun Ruo Feng!

Dalam waktu kurang dari tujuh menit, kereta kuda berhenti. Su Xi-er menyerahkan beberapa koin tembaga pada kusirnya sewaktu ia turun, berjalan kaki di sepanjang sisa perjalanannya menuju ke Kediaman Guru Agung Liu.

Di pintu masuk Kediaman Liu, pelayan berdiri dengan hormat di sebelah gerbang depan yang tertutup rapat.

Su Xi-er maju ke depan, tetapi dihentikan oleh para pelayan. "Nona, apa yang membawamu ke Kediaman Liu selarut ini?"

"Aku mencari Guru Agung Liu; ini penting."

Pelayan-pelayan itu jelas sekali merasa ragu. Salah satu dari mereka meminta masuk ke dalam kediaman untuk mengabari Guru Agung Liu. Dihimpit waktu, Su Xi-er segera membuat satu pelayannya pingsan dan mengancam yang satunya untuk membukakan pintu.

Pelayan itu ketakutan dengan aura dingin dan membekukan yang terpancar dari Su Xi-er, dan hanya bisa membukakan pintu masuknya dengan tangan yang gemetaran.

Su Xi-er masuk dengan segera dan langsung menuju ke aula utama Kediaman Liu, tetapi Guru Agung Liu tidak ada di sana.

Tepat saat ia baru saja akan berpindah, sekelompok pelayan membanjir dari segala arah, mengepung Su Xi-er.

Tanpa memberikan kesempatan Su Xi-er untuk bicara, seorang pelayan langsung mengangkat gada di tangannya dan mengayunkan itu padanya. Su Xi-er bersandar ke satu sisi, menghindari serangannya sebelum menendangnya.

Segera, Nyonya Liu muncul di aula utama dan menatap Su Xi-er dengan pelototan yang membekukan. "Bahkan seorang bawahan wanita Pangeran Yun saja sekuat ini. Pangeran Yun sudah memberikan suamiku minum anggur beracun dan setuju untuk memberikannya waktu empat jam. Kini, ia bahkan tidak bisa mengampuni empat jam itu, dan ingin segera membungkamnya?"

Keterkejutan meliputi mata Su Xi-er. "Guru Agung Liu meminum anggur beracun itu?"

Rasa sakit di mata Nyonya Liu tampak nyata, sebelum ia jadi ragu-ragu. "Kalau kau bukan bekerja untuk Pangeran Yun, maka, siapa kau?"

"Dayang Pangeran Hao, Su Xi-er. Dimana Guru Agung Liu? Aku punya cara untuk menyelamatkannya!"

Mendengarkan perkataan Su Xi-er, Nyonya Liu teringat tentang insiden dimana dayang Pangeran Hao menegur kedua Nona Wei di jalanan. Memutuskan untuk bergantung pada potongan harapan terakhir ini, Nyonya Liu melepaskan kecurigaannya dan membawa Su Xi-er ke ruang baca. "Nona, apa kau sungguh punya cara untuk menyelamatkan Tuan Besar? Tuan Besar sedang menuliskan sepucuk surat di ruang baca. Bahkan, sebelum kematiannya, ia masih memikirkan tentang Yang Mulia." Nyonya Liu tidak tahan, hanya bisa menyeka air matanya selagi ia berbicara. Jika Tuan Besar meninggal, aku akan mengikutinya. Meskipun aku tidak tega untuk meninggalkan putriku, aku lebih tidak sanggup untuk meninggalkan Tuan Besar.

Nyonya Liu dan Guru Agung Liu sudah saling mengenal semenjak mereka masih muda, dan merupakan pasangan kekasih sejak kecil. Sepanjang hidupnya, Nyonya Liu adalah satu-satunya wanitanya. Meskipun ia tidak bisa melahirkan seorang putra, dan baru melahirkan seorang putri untuknya ketika ia berusia empat puluhan, Guru Agung Liu tidak meninggalkannya, maupun mengambil seorang selir.

Su Xi-er segera membuka pintu ruang baca setelah mereka sampai, tidak repot untuk mengetuk pintunya sementara Nyonya Liu membuntuti di belakangnya.

Guru Agung Liu baru saja selesai menulis surat, dan agak kaget setelah melihat Su Xi-er. Aku tidak pernah menyangka kalau dayang Pangeran Hao akan muncul!

"Guru Agung Liu, tolong berbaring dan biarkan aku memeriksanya." Su Xi-er pernah terkena racun yang mematikan di kehidupannya yang sebelumnya. Tabib Kekaisaran sudah buntu, dan pada akhirnya, ia mempelajari sebuah cara dari seorang tabib rakyat tua untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Kali ini, ia ingin mencoba cara yang dipelajarinya itu

"Nyonya Liu, bawakan sebuah pisau kecil untuk mengeluarkan darahnya yang beracun."

Tepat saat itu, Guru Agung Liu melambaikan tangannya. "Tidak perlu; racunnya akan bereaksi sejam lagi. Pejabat tua ini tidak akan bisa membantu Yang Mulia secara hidup-hidup. Hanya dengan kematianku, barulah akan menjadi pukulan telak bagi Pangeran Yun!"

Nyonya Liu hanya bisa merengek. "Tuan Besar ...."

Guru Agung Liu sudah menetapkan pikirannya. Hanya dengan kematianku, akan membangkitkan para pelajar berpendidikan untuk memulai perang salib melawan Pangeran Yun. Aku tahu itu tidak akan cukup untuk menjungkirbalikkan kapalnya, tetapi perang salib dari kaum terpelajar akan menjadi pukulan telak terhadap Pangeran Yun. Setidaknya, Pangeran Yun tidak akan bisa melakukan apa pun terhadap Ning Lian Chen dalam waktu singkat ini. Faktanya, ia akan dipaksa untuk menyerahkan sejumlah kekuasaan pada Yang Mulia untuk menenangkan badai.

Sementara, bagaimana kekuatan ini digunakan, semua akan tergantung pada Yang Mulia mulai dari sekarang.

Guru Agung Liu mengabaikan Su Xi-er dan langsung bicara pada Nyonya Liu. "Apa Yin Yin sudah tidur? Gendong ia kemari pelan-pelan. Aku sudah tidak bisa berjalan lagi dengan adanya racun ini di tubuhku."

Nyonya Liu tidak bisa menghentikan air matanya mengalir dan mengangguk berulang-ulang. Kemudian, ia berbalik dan keluar dari ruang baca untuk membawa putrinya.

Di ruang baca, Su Xi-er sudah begitu terenyuh sementara ia memandangi pria di depannya. "Guru Agung Liu, kau sudah menyerahkan terlalu banyak demi Nan Zhao."

Mata Guru Agung Liu menggelap. Mungkin karena ia menjelang ajalnya, ia bahkan memiliki wawasan yang lebih tajam ketika ia menilai orang lain sekarang.

Su Xi-er menatap lurus ke dalam mata Guru Agung Liu. Ia menggunakan matanya, dan wataknya, untuk membiarkan pria itu mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.

Tiba-tiba saja, Guru Agung Liu disambar oleh pencerahan yang mengejutkan. Jika bukan karena fakta kalau ia tidak bisa menggerakkan kakinya, ia sudah akan mundur beberapa langkah. Kata-katanya goyah sewaktu ia terbata-bata, "Putri .... Pertama?"

Su Xi-er mengangguk. "Guru Agung Liu, kau sudah mengalami banyak sekali kesulitan di dalam kehidupan ini. Lian Chen, maupun diriku, tidak akan pernah melupakanmu."

"Putri Pertama, ini sungguh dirimu!" Tiba-tiba saja, Guru Agung Liu mulai tertawa terbahak-bahak, "Ini merupakan berkah langit untuk Nan Zhao! Ini adalah berkah langit untuk Nan Zhao! Pangeran Yun tidak akan pernah menyangka bahwa Anda benar-benar hidup dengan cara seperti ini! Putri Pertama ...."

0 comments:

Posting Komentar