Consort of A Thousand Faces
Chapter 237 : Sangat Terkejut
Baru
beberapa saat yang lalu, Pei Qian Hao gembira sekali karena wanita di
hadapannya berinisiatif untuk menciumnya.
Tetapi
sekarang, setelah mengerti tujuannya, wajahnya pun menggelap. Ia hanya
menciumku karena ia punya permintaan.
Su
Xi-er memerhatikan wajahnya yang menggelap. Huh? Ia tidak senang karena
aku menciumnya? "Pangeran Hao, Pangeran Yun barangkali tidak akan
membiarkan Guru Agung Liu lepas hari ini setelah menentangnya secara terbuka
dengan lukisan Ning Ru Lan. Akan disayangkan jika seorang otoritas terkemuka
dalam dunia sastra seperti Guru Agung Liu meninggal."
"Ini
tidak ada hubungannya denganmu. Kalau Guru Agung Liu mati, maka itu adalah kerugian Nan Zhao." Kemudian, Pei Qian Hao mengulurkan
tangannya dan melingkarkannya di pinggang Su Xi-er, ingin membawanya kembali ke
dalam kamar.
"Pangeran
Hao, hamba mengagumi Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao yang terdahulu, dan
merasa bahwa ia akan merasa tidak tenang apabila Guru Agung Liu mati begitu
saja karena ini."
Pei
Qian Hao terhenti di jalurnya dan memerhatikannya dalam diam. Maksudmu
adalah, kau ingin memberitahuku
kalau kau mau ikut campur dalam segalanya karena kau mengagumi Ning Ru Lan?
Bahkan, kekaguman saja bisa sejauh ini?
Kalau
aku tidak membantu Su Xi-er, apa yang dapat diperbuatnya? Apakah dirinya tanpa
diriku?
Pei
Qian Hao mengerutkan alisnya sementara kilat halus terpancar di matanya, sebuah
ide yang sepertinya brilian terbentuk dalam benaknya. Karena ia mau
ikut campur, maka biarkan saja. Aku tidak akan ikut campur dengan masalah Guru
Agung Liu. Mari kita lihat, bagaimana ia bisa berhasil melakukan apa pun
tanpa diriku.
Semakin
Pei Qian Hao memikirkan soal itu, semakin ia merasa kalau idenya ini sangat
jenius. Alhasil, ia melepaskan Su Xi-er. "Kau keras kepala, dan akan salah
bagi Pangeran ini untuk memaksamu tetap tinggal. Pangeran ini akan memberikanmu
waktu dua hari. Jika kau tidak kembali dalam waktu dua hari itu, jangan muncul
di hadapan Pangeran ini lagi. Ditambah lagi, Pangeran ini tidak akan ikut
campur dalam urusanmu. Apa kau mengerti?"
Su
Xi-er membeku sejenak sebelum ia mengangguk. "Terima kasih banyak,
Pangeran Hao." Ia membungkuk dengan hormat sekali lagi dan turun dari
kapal, mengikuti Guru Agung Liu.
Pei
Qian Hao memerhatikan siluetnya yang berangsur menghilang, sudut bibirnya
terangkat membentuk senyuman. Su Xi-er, dari apa yang Pangeran ini
lihat, kau akan kembali sebelum waktu dua hari itu habis. Kekuasaan mungkin
bukan selalu menjadi jawabannya, tetapi terkadang, kau tidak punya pilihan lain
selain bergantung padanya.
Pangeran
ini akan melihat apa yang dapat kau capai tanpa diriku.
Pei
Qian Hao begitu yakinnya bahwa Su Xi-er akan tidak berdaya untuk bahkan
mengambil satu pun langkah maju seorang diri. Namun, jika ia mengetahui apa
yang akan terjadi, ia sudah pasti tidak akan membiarkannya pergi sendirian
malam itu.
Su
Xi-er ditakdirkan untuk meluaskan pandangan Pei Qian Hao, dan memberikan
pukulan telak pada kepercayaan dirinya.
***
Su
Xi-er yang pergi, melihat Guru Agung Liu menaiki kereta kuda Kediaman Liu. Ia
segera melambaikan tangannya untuk memberhentikan kereta lainnya, menyuruh
kusirnya untuk berhenti di jalanan terdekat dengan Kediaman Liu.
Su
Xi-er mengangkat tirai kereta, firasat buruk sudah bercokol di dalam perutnya
saat ia melihat langkah buru-buru Guru Agung Liu. Mungkin, Yun Ruo Feng
sudah bertindak pada Guru Agung Liu!
Dengan
tiadanya Guru Agung Liu, pengaruh Lian Chen di mahkamah kekaisaran akan
terpengaruh besar. Tanpa adanya pejabat sipil
di bawah bendera Guru Agung Liu, mahkamah
akan berada sepenuhnya dalam kendali Yun Ruo Feng!
Dalam
waktu kurang dari tujuh menit, kereta kuda berhenti. Su Xi-er menyerahkan
beberapa koin tembaga pada kusirnya sewaktu ia turun, berjalan kaki di sepanjang sisa perjalanannya menuju ke Kediaman
Guru Agung Liu.
Di
pintu masuk Kediaman Liu, pelayan berdiri dengan hormat di sebelah gerbang
depan yang tertutup rapat.
Su
Xi-er maju ke depan, tetapi dihentikan oleh para pelayan. "Nona, apa yang
membawamu ke Kediaman Liu selarut ini?"
"Aku
mencari Guru Agung Liu; ini penting."
Pelayan-pelayan
itu jelas sekali merasa ragu. Salah satu dari mereka meminta masuk ke dalam
kediaman untuk mengabari Guru Agung Liu. Dihimpit waktu, Su Xi-er segera
membuat satu pelayannya pingsan dan mengancam yang satunya untuk membukakan
pintu.
Pelayan
itu ketakutan dengan aura dingin dan membekukan yang terpancar dari Su Xi-er,
dan hanya bisa membukakan pintu masuknya dengan tangan yang gemetaran.
Su
Xi-er masuk dengan segera dan langsung menuju ke aula utama Kediaman Liu,
tetapi Guru Agung Liu tidak ada di sana.
Tepat
saat ia baru saja akan berpindah, sekelompok pelayan membanjir dari segala
arah, mengepung Su Xi-er.
Tanpa
memberikan kesempatan Su Xi-er untuk bicara, seorang pelayan langsung
mengangkat gada di tangannya dan mengayunkan itu padanya. Su Xi-er bersandar ke
satu sisi, menghindari serangannya sebelum menendangnya.
Segera,
Nyonya Liu muncul di aula utama dan menatap Su Xi-er dengan pelototan yang
membekukan. "Bahkan seorang bawahan wanita Pangeran Yun saja sekuat ini.
Pangeran Yun sudah memberikan suamiku minum anggur beracun dan setuju untuk
memberikannya waktu empat jam. Kini, ia bahkan tidak bisa mengampuni empat jam
itu, dan ingin segera membungkamnya?"
Keterkejutan
meliputi mata Su Xi-er. "Guru Agung Liu meminum anggur beracun itu?"
Rasa
sakit di mata Nyonya Liu tampak nyata, sebelum ia jadi ragu-ragu. "Kalau
kau bukan bekerja untuk Pangeran Yun, maka, siapa kau?"
"Dayang
Pangeran Hao, Su Xi-er. Dimana Guru Agung Liu? Aku punya cara untuk
menyelamatkannya!"
Mendengarkan
perkataan Su Xi-er, Nyonya Liu teringat tentang insiden dimana dayang Pangeran
Hao menegur kedua Nona Wei di jalanan. Memutuskan untuk bergantung pada
potongan harapan terakhir ini, Nyonya Liu melepaskan kecurigaannya dan membawa
Su Xi-er ke ruang baca. "Nona, apa kau sungguh punya cara untuk
menyelamatkan Tuan Besar? Tuan Besar sedang menuliskan sepucuk surat di ruang
baca. Bahkan, sebelum kematiannya, ia masih memikirkan tentang Yang
Mulia." Nyonya Liu tidak tahan, hanya bisa menyeka
air matanya selagi ia berbicara. Jika Tuan Besar meninggal, aku akan
mengikutinya. Meskipun aku tidak tega untuk meninggalkan putriku, aku lebih
tidak sanggup untuk meninggalkan Tuan Besar.
Nyonya
Liu dan Guru Agung Liu sudah saling mengenal semenjak mereka masih muda, dan
merupakan pasangan kekasih sejak kecil. Sepanjang hidupnya, Nyonya Liu adalah
satu-satunya wanitanya. Meskipun ia tidak bisa melahirkan seorang putra, dan
baru melahirkan seorang putri untuknya ketika ia berusia empat puluhan, Guru
Agung Liu tidak meninggalkannya, maupun mengambil seorang selir.
Su
Xi-er segera membuka pintu ruang baca setelah mereka sampai, tidak repot untuk
mengetuk pintunya sementara Nyonya Liu membuntuti di belakangnya.
Guru
Agung Liu baru saja selesai menulis surat, dan agak kaget setelah melihat Su
Xi-er. Aku tidak pernah menyangka kalau dayang Pangeran Hao akan
muncul!
"Guru
Agung Liu, tolong berbaring dan biarkan aku memeriksanya." Su Xi-er pernah
terkena racun yang mematikan di kehidupannya yang sebelumnya. Tabib Kekaisaran
sudah buntu, dan pada akhirnya, ia mempelajari sebuah cara dari seorang tabib
rakyat tua untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Kali
ini, ia ingin mencoba cara yang dipelajarinya itu
"Nyonya
Liu, bawakan sebuah pisau kecil untuk mengeluarkan darahnya yang beracun."
Tepat
saat itu, Guru Agung Liu melambaikan tangannya. "Tidak perlu; racunnya
akan bereaksi sejam lagi. Pejabat tua ini tidak akan bisa membantu Yang Mulia
secara hidup-hidup. Hanya dengan kematianku, barulah akan menjadi pukulan telak
bagi Pangeran Yun!"
Nyonya
Liu hanya bisa merengek. "Tuan Besar ...."
Guru
Agung Liu sudah menetapkan pikirannya. Hanya dengan kematianku, akan
membangkitkan para pelajar berpendidikan untuk memulai perang salib melawan
Pangeran Yun. Aku tahu itu tidak akan cukup untuk menjungkirbalikkan kapalnya,
tetapi perang salib dari kaum terpelajar akan menjadi pukulan telak terhadap
Pangeran Yun. Setidaknya, Pangeran Yun tidak akan bisa melakukan apa pun
terhadap Ning Lian Chen dalam waktu singkat ini. Faktanya, ia akan dipaksa
untuk menyerahkan sejumlah kekuasaan pada
Yang Mulia untuk menenangkan badai.
Sementara,
bagaimana kekuatan ini digunakan, semua akan tergantung pada Yang Mulia mulai
dari sekarang.
Guru
Agung Liu mengabaikan Su Xi-er dan langsung bicara pada Nyonya Liu. "Apa
Yin Yin sudah tidur? Gendong ia kemari pelan-pelan. Aku sudah tidak bisa
berjalan lagi dengan adanya racun ini di tubuhku."
Nyonya
Liu tidak bisa menghentikan air matanya mengalir dan mengangguk berulang-ulang.
Kemudian, ia berbalik dan keluar dari ruang baca untuk membawa putrinya.
Di
ruang baca, Su Xi-er sudah begitu terenyuh sementara ia memandangi pria di
depannya. "Guru Agung Liu, kau sudah menyerahkan terlalu banyak demi Nan
Zhao."
Mata
Guru Agung Liu menggelap. Mungkin karena ia menjelang ajalnya, ia bahkan
memiliki wawasan yang lebih tajam ketika ia menilai orang lain sekarang.
Su
Xi-er menatap lurus ke dalam mata Guru Agung Liu. Ia menggunakan matanya, dan
wataknya, untuk membiarkan pria itu mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.
Tiba-tiba
saja, Guru Agung Liu disambar oleh pencerahan yang mengejutkan. Jika bukan
karena fakta kalau ia tidak bisa menggerakkan kakinya, ia sudah akan mundur
beberapa langkah. Kata-katanya goyah sewaktu ia terbata-bata,
"Putri ....
Pertama?"
Su
Xi-er mengangguk. "Guru Agung Liu, kau sudah mengalami banyak sekali
kesulitan di dalam kehidupan ini. Lian Chen, maupun diriku, tidak akan pernah
melupakanmu."
"Putri
Pertama, ini sungguh dirimu!" Tiba-tiba saja, Guru Agung Liu mulai tertawa
terbahak-bahak, "Ini merupakan berkah langit untuk Nan Zhao! Ini adalah
berkah langit untuk Nan Zhao! Pangeran Yun tidak akan pernah menyangka bahwa Anda benar-benar hidup dengan
cara seperti ini! Putri Pertama ...."

0 comments:
Posting Komentar