Minggu, 23 Januari 2022
3L3W TMOPB - Side Story : Ye Hua Part 2
3L3W TMOPB - Side Story : Ye Hua Part 1
Senin, 17 Januari 2022
Selasa, 11 Januari 2022
Senin, 10 Januari 2022
CTF - Chapter 152
Consort of A Thousand Faces
Chapter 152 : Hubungan Di Antara Keduanya
Sudah
dimanfaatkan, Su Xi-er tak lagi ingin tinggal di Provinsi Bulan, meskipun ada
bunga Ling Rui yang cantik dan kenangannya.
Berbalik
seratus delapan puluh derajat, Pei Qian
Hao terlihat segar. Ia sudah melupakan semuanya tentang ditampar dan dipanggil
'jalang kecil' oleh Su Xi-er. Bahkan hawa dingin abadi
yang mengelilinginya telah digantikan oleh aura hangat dan lembut.
Pengawal
kekaisaran yang menunggu di luar ladang bunganya tercengang ketika ia menyadari
suasana hati Pei Qian Hao. Apa yang Yang Mulia lakukan bersama Su Xi-er
di dalam ladang bunganya? Ia kembali agak senang, tetapi apakah Su Xi-er
penyebabnya?
Setelah
terpikirkan teori ini, pengawal tersebut mengembuskan napas lega dan tersenyum
sesaat. Akhirnya Su Xi-er mengerti agar tidak memprovokasi Pangeran Hao
lagi, dan sudah mulai menyenangkannya.
Ketika
Su Xi-er melihat pandangan gembira si pengawal yang terarah pada Pei Qian Hao,
mau tak mau ia pun melihat ke arahnya juga.
Pemandangan itu agak lucu. Si pengawal tersenyum
dan memandangi Pangeran Hao, sedangkan Su Xi-er menatapnya kebingungan;
sementara itu Pei Qian Hao memancarkan aura kehangatan.
Merasakan
kalau ada sesuatu yang tidak beres, aura hangat di sekitar Pei Qian Hao segera
menghilang, digantikan dengan ketidakpedulian dinginnya yang biasa seraya
memelototi si pengawal. "Kau sudah berada di Kediaman Pangeran Hao sekian
lama sekarang. Apakah Pangeran ini harus mengajarimu bagaimana caranya berdiri
dan menunggu? Singkirkan senyum bodoh itu."
Si
pengawal pun langsung menyingkirkan senyumannya, jantungnya berdebar dalam
dadanya. "Pangeran Hao, maafkan aku. Bawahan ini tidak akan berani di masa
mendatang." Diam-diam ia mengumpati dirinya sendiri sewaktu ia memohon
ampun. Kenapa aku begitu bodoh? Kami, para pengawal kekaisaran semuanya
mengetahui kepribadian Pangeran Hao dengan baik, tetapi aku masih tetap begitu
bodohnya!
Setelah
Pei Qian Hao menceramahi si pengawal, tatapannya beralih pada Su Xi-er dan
melihatnya tengah menatapnya bingung.
Ketika
ia melihat gadis itu memandanginya, mendadak ia teringat akan tamparan serta
dipanggil 'jalang kecil' lagi olehnya. Pei Qian Hao merasa tidak senang dan
mengangkat tangannya, memukul kepalanya ringan. "Kau juga mulai bertingkah
bodoh; kau pantas dipukul."
Si
pengawal yang ada di samping pun ketakutan. Siapa yang tahu seberapa
keras ia memukulnya barusan ini? Aku baru saja memuji Su Xi-er karena memahami
situasinya, tetapi sekarang ....
Pei
Qian Hao tidak mengerahkan tenaganya sama sekali dalam pukulan itu, dan Su
Xi-er tidak merasakan sakit sama sekali. Ia hanya terkejut saja akan gerakan
tiba-tibanya.
Ia
tidak berniat menjelaskan, terlebih lagi memberitahukannya apa yang tengah
dipikirkannya, jadi ia hanya berkata, "Hamba tahu kesalahanku."
Pei
Qian Hao melihat bahwa ia tidak menjelaskan dirinya dan mendengus.
"Pergi ke Toko Bunga Zhao." Kemudian ia pun naik ke atas kereta kuda
tersebut.
Ekspresi
si pengawal masih terguncang, tetapi ekspresi Su Xi-er biasa saja.
Ketika
ia merasakan rasa takut si pengawal, ia tersenyum padanya. "Kemudikan
keretanya dengan baik dan jangan memikirkan tentang hal lainnya." Setelah
itu ia mengikuti Pei Qian Hao naik ke atas kereta.
Si
pengawal mengatur emosinya sebelum melompat naik ke atas tempat duduk kusir,
mengangkat cemetinya sewaktu keretanya mulai bergerak.
Saat
Su Xi-er masuk ke dalam kereta kuda tersebut, ia memilih untuk duduk di tempat
terjauh dari Pei Qian Hao. Kali ini, Pei Qian Hao memilih untuk menatapnya
daripada beristirahat dengan mata terpejam.
Ia
memperlihatkan sedikit emosi melalui ekspresinya, membuatnya sukar untuk
membaca pikirannya.
"Duduk
jauh sekali? Apakah kau takut kalau Pangeran ini akan melahapmu?" Pei Qian
Hao mengalihkan pandangannya, meski ada setitik rasa
main-main yang menari di matanya. Bersandar di dinding kereta kudanya, jubahnya
yang sedikit terbuka membuatnya tampak malas dan nakal.
Jubahnya
baik-baik saja ketika ia ada di luar, bagaimana bisa terbuka di sini? Su Xi-er tampak
kebingungan. Apakah ia melonggarkannya dan membuka jubahnya sendiri
saat ia masuk ke dalam kereta?
"Pangeran
ini tidak akan memakanmu. Tidak nyaman melakukannya di dalam kereta kuda, dan
Pangeran ini tidak pernah melakukan hal yang tidak nyaman." Pei Qian Hao
terkekeh sebelum memejamkan matanya.
Ketika
ia mendengar kata 'tidak nyaman', Su Xi-er pun mengerti. Ia membuka
sedikit jubahnya agar merasa lebih nyaman. Hobi yang luar biasa sekali, ia
hanya melakukan apa pun yang
diinginkannya.
***
Si
pengawal mengemudikan keretanya dengan cepat di perjalanan pulang. Dibutuhkan
empat jam untuk sampai di ladang bunga, tetapi dua jam lebih untuk kembali.
Saat
kereta kudanya sampai, Paman Zhao sedang memindahkan pot bunga yang berisi
bunga Ling Rui. Ketika ia melihat kereta kudanya kembali, ia pun menurunkan pot
bunga di tangannya dan tersenyum
cerah.
Pei
Qian Hao turun dari kereta dan melihat sekali ke arah bunga Ling Rui sebelum
segera berujar, "Aku akan membawa semua bunga Ling Rui yang ada di toko
ini."
Paman
Zhao keheranan. Mengapa ia menginginkan begitu banyak
bunga Ling Rui? Ia bertanya padaku apakah mereka dapat ditransplantasikan ke
kerajaan lain sebelumnya, membuktikan bahwa
ia tidak tahu banyak mengenai bunga Ling Rui. Ia pasti berasal dari kerajaan
lain.
Apakah
ia berniat untuk mencoba dan mentransplantasikan Ling Rui? Saat ia
memikirkan ini, Paman Zhao segera menginformasikan padanya, "Menurut apa
yang kuketahui, tidak ada seorang pun yang berhasil mentransplantasikan Ling
Rui. Tuan, Anda ...."
Sebelum
ia selesai berbicara, ia diinterupsi oleh Pei Qian Hao. "Fokus saja dalam
menjual mereka." Ia menekankan setiap kata-katanya.
Mendengar
ini, Paman Zhao tidak mengatakan apa-apa lagi dan menyuruh penjaga toko di
dalam toko untuk menghitung jumlah bunga Ling Rui-nya.
Sesudah
itu, Pei Qian Hao menyuruh pengawal untuk mendapatkan satu gerobak sorong dan
mulai memuat pot-pot bunga Ling Rui ke dalamnya.
"Tuan,
Ling Rui tidak mahal. Semua ini hanya berharga lima tael perak. Apabila Anda membeli mereka dari kerajaan lain, bahkan lima
puluh tael perak pun tidak akan cukup." Paman Zhao memberitahunya dengan
riang gembira sementara ia menerima perak dari si pengawal kekaisaran.
Su
Xi-er memandangi gerobak sorong penuh dengan Ling Rui dan menjadi semakin
kebingungan. Sudah jelas ia bukannya membeli semua ini untuk membuat
bubuk wangi untuk tubuh. Selama bunga ini dapat
berhasil tumbuh dalam skala besar di Bei Min, kelopak bunga mereka dapat
dipanen dua kali setahun. Hasil dari bubuk obatnya dapat digunakan untuk para
tentara dan akan menghemat banyak sekali pengeluaran Bei Min.
Dulu,
ketika Nan Zhao berada dalam keadaan kerusuhan sipil, tidak ada waktu bagi
siapa pun untuk berpikir menanam Ling Rui. Sekarang,
karena kerajaan berada dalam masa damai, Yun Ruo Feng tidak mungkin terpikirkan
sesuatu seperti ini.
Hanya
Pei Qian Hao yang punya perhatian pada detailnya
untuk menyadari hal semacam ini dengan satu lirikan saja. Pria ini sungguh
terlalu mengerikan dan tak terprediksi.
Ketika
Pei Qian Hao menyadari tatapan di mata Su Xi-er, ia memukuli kepalanya lagi.
"Kau memasang tampang bodoh di wajahmu sebelumnya, dan kini kau
melakukannya lagi. Saat kau kembali, berlutut sebagai hukumanmu."
Hanya
beberapa perkataan sederhana mengindikasikan kalau Su Xi-er akan segera
menerima hukuman. Ia menarik kembali tatapannya, mengabaikan perkataannya, dan
bertanya, "Tuan Muda, ada begitu banyak bunga di dalam toko ini, jadi
mengapa Anda membeli Ling Rui?"
Pei
Qian Hao melihatnya sambil lalu. "Ada begitu banyak bunga, tetapi kau
menghabiskan waktu paling lama pada Ling Rui."
Di
samping, Paman Zhao limbung. Apakah kedua orang ini majikan dan
pelayan? Mengapa si majikan membelikan Ling Rui untuk pelayannya? Apakah si
Tuan Muda menyukai pelayannya?
Su
Xi-er pun angkat bicara lagi. "Apabila ini benar-benar karena hamba
menyukai Ling Rui, maka Anda tidak perlu membelikan sebanyak ini. Satu pot saja
sudah cukup."
"Aku
bukannya menggunakan perakmu untuk membeli bunga-bunga ini, jadi kenapa kau
mengatakan banyak sekali omong kosong? Setelah kita kembali, kau bisa
memandangi mereka kapan saja. Jejerkan mereka, dan kau bahkan dapat membuat
satu ranjang bunga Ling Rui menggunakan mereka."
Saat
si pengawal mendengarkan ini, ia nyaris saja kehilangan kendali akan emosinya.
Namun, pada akhirnya, memaksakan diri untuk menahan
dirinya. Aku baru saja ditegur oleh Pangeran Hao. Aku harus serius, dan
aku sudah pasti tidak boleh tertawa.
Paman
Zhao tertawa canggung dan dengan sopan berkata, "Tuan, semua Ling Rui-nya
telah dimuat ke dalam gerobak sorong Anda, dan dibayar
dengan perak. Apabila kalian tidak tinggal terlalu jauh dari Provinsi Bulan,
toko kecil kami bisa mengirimkan seorang penjaga toko untuk mengantarkan
mereka. Dimanakah kalian tinggal?"
CTF - Chapter 151
Consort of A Thousand Faces
Chapter 151 : Yun Ruo Feng Pergi Ke Provinsi Bulan
Kereta
kudanya bukanlah yang berasal dari Kediaman Pangeran Yun; sebaliknya itu
merupakan sebuah kereta kuda kayu biasa. Tidak menarik perhatian orang ketika
berjalan di jalanan.
Saat
keretanya mendekati gerbang kota, pengawal yang bertugas menghadang jalannya
dengan tombak kerajaan dan menuntut dingin, "Perjamuan
Kerajaan Nan Zhao sudah dekat, semua pejalan kaki dan kereta kuda yang berjalan
harus diperiksa dengan ketat. Siapa yang sedang duduk di dalam kereta kudanya,
dan kemana kalian akan pergi?"
(T/N
: Sejenis senjata Tiongkok kuno dengan
pedang batu atau perunggu yang ditempelkan pada sebatang tiang kayu.)
Tak
lama setelahnya, satu lengan panjang terulur keluar dari dalam kereta memegangi
satu tablet penanda pinggang dengan huruf 'Yun' terukir di atasnya. Setelah
melihat itu, mata si pengawal yang bertugas mulai tersengat.
Jantungnya
berdebar, dan ia langsung menurunkan tombak kerajaannya
sebelum membungkuk untuk memberikan hormatnya. "Bawahan ini pantas mati.
Aku tidak tahu ini adalah Pangeran Yun."
Suara
lembut seorang pria datang dari dalam kereta kuda tersebut. "Jangan
beritahukan pada siapa pun
mengenai kepergian Pangeran ini dari ibu kota, dan
biarkan kami lewat." Meskipun suaranya lembut bagaikan air, itu juga penuh
dengan kekuatan.
Pengawal
yang bertugas langsung mengiyakan dan mundur ke samping. Ia memerintahkan
pengawal lainnya untuk mundur dan membiarkan kereta kudanya lewat.
Kusir keretanya mengangkat cemeti tersebut dan roda
keretanya mulai berputar sekali lagi.
Selain
dari kusir kereta, tak seorang pun yang tahu kemana perginya
Pangeran Yun. Bahkan Komandan Wei, Wei Mo Hai pun tidak mengetahuinya.
Di
dalam kereta kuda, mata Yun Ruo Feng terang dan jernih selagi ia bersandar di
dindingnya. Ia tidak tahu mengapa ia terus-terusan memimpikan Ning Ru Lan
beberapa malam terakhir ini. Wanita itu selalu menatapnya penuh nestapa dan
dendam di dalam mimpi, mempertanyakannya, mengapa ia memperlakukannya seperti
itu, dan mengapa ia melakukan hal semacam itu dengan Ning An Lian.
Setelah
tatapan penuh nestapa itu berlalu, mata Ning Ru Lan akan dipenuhi kebencian. Ia
mengambil sebatang tusuk rambut emas sebelum mengibaskan pergelangan
tangannya, melemparkan ujung tajam tusuk rambut tersebut ke arah tenggorokannya.
Selalu di saat itulah ia akan terbangun.
Aku
bahkan tidak memimpikan Ning Ru Lan di malam kematiannya, jadi mengapa aku
memimpikannya sekarang? Mata Yun Ruo Feng tak lagi terang dan jernih,
sebaliknya berubah dalam dan tak terbaca. Aura hangatnya telah tergantikan oleh
sesuatu yang lebih dingin, serius, dan memperhitungkan.
"Pangeran
Yun, ada pengemis di depan kita." Saat si kusir melihat pengemis dari
kejauhan, ia segera melaporkannya pada Yun Ruo Feng dan bersiap-siap menarik
tali kekangnya untuk berhenti.
Perlahan,
Yun Ruo Feng kembali normal setelah mendengarkan suara si pengawal. Ia membuka
tirai jendela kereta untuk melihat ke kejauhan. Memang ada enam pengemis yang
tengah membakar ubi jalar bersama-sama; pakaian mereka compang-camping, dan tongkat
berjalan mereka tergeletak begitu saja di satu sisi.
Sewaktu
keretanya semakin mendekati para pengemis, Yun Ruo Feng berujar, "Hentikan
keretanya."
Pengawal
tersebut mendengarkan dan menarik tali kekang kuda-kudanya, membuat keretanya
berhenti.
Keenam
pengemis itu tidak mengerti kenapa. Kami hanya sedang membakar ubi
jalar; mengapa kereta kudanya mendadak berhenti? Ketika mereka melihat
pria tampan yang mengenakan pakaian mahal keluar dari dalam kereta kuda
tersebut, mereka semua terkejut.
Apa
yang harus kita lakukan? Apakah kita menghalangi jalannya? Ia tidak akan
menghukum kita, para pengemis ini, dengan terlalu kasar,
kan?
"Semua
pengemis telah diberikan satu tempat untuk ditinggali selama perjamuan kerajaan
Nan Zhao. Mengapa kalian masih di luar sini?" Yun Ruo Feng berjalan ke
hadapan mereka. Nada suaranya hangat dan tidak sok.
Keenam
pengemis tersebut pun menghela napas lega. Bangsawan terhormat ini
mudah diajak bicara. Sehingga mereka memberitahunya segalanya.
"Walaupun tempat itu cukup besar untuk ditinggali, tidak ada cukup
makanan. Setiap hari hanya ada bubur, membuat semua orang masih kelaparan.
Jadi, kami keluar untuk mencuri beberapa ubi jalar dari ladang orang dan
membakar mereka, dijadikan makanan. Kami tidak bermaksud untuk mencuri, tetapi
kami benar-benar sangat kelaparan!"
Yun
Ruo Feng terus tersenyum. "Berapa banyak dari kalian yang menyelinap
keluar?"
Ketua
dari para pengemis itu berpikir hati-hati dan menjawab jujur. "Ada cukup
banyak, tetapi kami telah mendiskusikannya dan membuat satu rencana. Agar
menghindari orang-orang mengenali kami, ada pertukaran enam orang yang akan
keluar setiap harinya."
Setelah
Yun Ruo Feng mendengar ini, ia menyerahkan beberapa batangan perak pada para
pengemis dengan senyuman terpatri di wajahnya. "Ambil ini untuk membeli
makanan dan baju baru. Setelah itu, kalian harus segera kembali ke tempat
dimana kalian harus tinggal."
Ada
kilatan cahaya yang berkedip di mata pengemis tersebut kala ia melihat
peraknya, dan ia langsung mengambilnya. "Terima kasih banyak, Tuan."
Yun
Ruo Feng pun berbalik. Kilat dingin muncul di matanya, dan ia menginstruksikan
salah satu kusirnya pelan. "Sisir kota dengan ketat, cari para pengemis,
dan pindahkan siapa pun
yang berpura-pura menjadi penjaja keliling. Tambahkan lebih banyak makanan bagi
mereka yang telah dipindahkan, dan berikan daging untuk mereka secara berkala
selain bubur. Apabila masih ada orang yang menyelinap keluar, bunuh mereka
tanpa ampun."
Di
saat ini, Yun Ruo Feng melihat ke arah keenam pengemis yang kini berada jauh di
belakang mereka dan melanjutkan. "Suruh orang yang bertugas untuk membunuh
keenam pengemis yang menyelinap keluar hari ini karena mencuri perak."
Dengan
begitu, tidak akan ada lagi
pengemis yang berani menyelinap keluar. Tidak boleh ada satu pun pengemis yang
terlihat selama perjamuan kerajaan Nan Zhao. Namun, setelah perjamuannya
berakhir, aku akan membuka gudang makanan dan menyuruh mereka bekerja.
Aku
tidak percaya kalau aku tidak mampu memerintah suatu kerajaan tanpa adanya
kebijakan baru ataupun Ning Ru Lan.
Si
pengawal tidak berbicara, tetapi ia tidak pergi juga. Ia hanya memandangi Yun
Ruo Feng. Apakah kita sungguh akan membunuh keenam pengemis itu? Ini
... bukankah ini terlalu kejam?
"Masih
belum pergi juga?" Perkataan lembut mengalir keluar dari mulut Yun Ruo
Feng.
Pengawal
tersebut langsung mengindahkan perintah dan berjalan ke arah dimana adanya para
pengemis.
Kini,
hanya ada satu pengawal tersisa untuk mengendarai keretanya, dan ia berdiri di
satu sisi. Pangeran Yun baik hati dan tidak pernah membunuh satu pun
orang yang tidak berdosa. Mengapa ia ingin membunuh pengemis menyedihkan dan
tak berbahaya itu sekarang?
Yun
Ruo Feng menaiki kereta, menunggu setelah memberikan perintahnya, mengernyitkan
alisnya sewaktu ia mulai berpikir.
Pei
Qian Hao setuju datang ke Nan Zhao kali ini karena ia punya motifnya sendiri.
Dengan ini menjadi tahun pertamaku, Yun Ruo Feng, bertindak sebagai Prince
Regent, tak diragukan lagi, ia datang untuk mengamati kemampuanku. Ia ingin
tahu apakah aku mampu memerintah kerajaan dengan baik, atau apakah aku hanya
hebat dalam memimpin tentara.
Biarpun
aku telah membuktikan kemampuanku sebagai seorang jenderal, bagi Pei Qian Hao,
dan barangkali bagi para putra mahkota dari dua kerajaan lainnya, aku kalah
dari seorang wanita dalam hal memerintah. Tentu saja, wanita ini adalah Ning Ru
Lan.
Ia
sudah mati, tetapi lingkaran cahaya dari kecemerlangannya masih tetap ada.
Namun, lingkaran cahaya ini, melemparkan bayangan yang
menutupi diriku. Untuk menghilangkannya, Nan Zhao hanya boleh menjadi lebih
baik di bawah pemerintahanku.
Yun
Ruo Feng memikirkan tentang mimpi yang sering mendatanginya lagi. Mimpi
berasal dari dalam hati atau disebabkan oleh sesuatu yang kulihat setiap
harinya.
Siapakah
yang mampu mengingatkanku akan Ning Ru Lan? Saat ia
memikirkan tentang itu, mata Yun Ruo Feng menggelap. Su Xi-er, dayang
Pangeran Hao.
Aku
mampu merasakan betapa berbedanya wanita itu dari pandangan pertama. Aura di
sekitarnya, responnya, dan tatapan sambil lalunya, mereka semua mirip dengan
Ning Ru Lan.
Setelah
menghabiskan begitu banyak waktu bersama Ning Ru Lan, siang dan malam, ia
sangat memahaminya. Itulah mengapa, ia begitu terkejut dan penasaran saat
pertama kali ia melihat Su Xi-er.
Tepat
ketika ia baru saja akan tenggelam lebih jauh dalam pikirannya, suara pengawal
kekaisaran terdengar. "Melaporkan pada Pangeran Yun, keenam pengemis sudah
dipenggal karena mencuri perak. Saat pengemis lainnya mengetahuinya, mereka
semua tercengang. Tidak akan ada seorang pun yang berani menyelinap keluar
setelah ini."
"Mmm,
kerja bagus. Jalankan kereta kudanya." Yun Ruo Feng memberikan perintahnya
dengan lembut.
Kedua
pengawal tersebut langsung melompat naik ke atas kereta kuda dan menuju ke
Provinsi Bulan. Walau mereka tidak tahu mengapa Pangeran Yun mendadak ingin
pergi ke Provinsi Bulan, mereka menganggap orang itu sebagai langit, dan orang
yang harus dipuja dalam hati mereka.
Apabila Pangeran Yun memerintahkan kami untuk pergi ke Provinsi Bulan, pasti ada alasannya. Kita hanya perlu memenuhi perintahnya.
