Minggu, 23 Januari 2022

3L3W TMOPB - Side Story : Ye Hua Part 3

Ten Miles of Peach Blossoms

Side Story : Ye Hua Part 3

Continue reading 3L3W TMOPB - Side Story : Ye Hua Part 3

3L3W TMOPB - Side Story : Ye Hua Part 2

Ten Miles of Peach Blossoms

Side Story : Ye Hua Part 2

Continue reading 3L3W TMOPB - Side Story : Ye Hua Part 2

3L3W TMOPB - Side Story : Ye Hua Part 1

Ten Miles of Peach Blossoms

Side Story : Ye Hua Part 1

Continue reading 3L3W TMOPB - Side Story : Ye Hua Part 1

3L3W TMOPB - EPILOG

Ten Miles of Peach Blossoms

Epilog

Continue reading 3L3W TMOPB - EPILOG

3L3W TMOPB - Chapter 23 Part 2

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 23 Part 2

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 23 Part 2

3L3W TMOPB - Chapter 23 Part 1

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 23 Part 1

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 23 Part 1

Senin, 17 Januari 2022

CTF - Chapter 160

Consort of A Thousand Faces

Chapter 160 : Tidak Akan Membiarkannya Dengan Mudah

Continue reading CTF - Chapter 160

CTF - Chapter 159

Consort of A Thousand Faces

Chapter 159 : Merundung

Continue reading CTF - Chapter 159

CTF - Chapter 158

Consort of A Thousand Faces

Chapter 158 : Salah Orang

Continue reading CTF - Chapter 158

CTF - Chapter 157

Consort of A Thousand Faces

Chapter 157 : Selesai Memberi Pelajaran

Continue reading CTF - Chapter 157

CTF - Chapter 156

Consort of A Thousand Faces

Chapter 156 : Su Xi-er Menunjukkan Kebolehannya

Continue reading CTF - Chapter 156

Selasa, 11 Januari 2022

CTF - Chapter 155

Consort of A Thousand Faces

Chapter 155 : Pasangan Zina

Continue reading CTF - Chapter 155

CTF - Chapter 154

Consort of A Thousand Faces

Chapter 154 : Sengaja Bersembunyi dari Pangeran Ini

Continue reading CTF - Chapter 154

CTF - Chapter 153

Consort of A Thousand Faces

Chapter 153 : Seorang Tokoh Penting

Continue reading CTF - Chapter 153

Senin, 10 Januari 2022

CTF - Chapter 152

Consort of A Thousand Faces

Chapter 152 : Hubungan Di Antara Keduanya


Sudah dimanfaatkan, Su Xi-er tak lagi ingin tinggal di Provinsi Bulan, meskipun ada bunga Ling Rui yang cantik dan kenangannya.

Berbalik seratus delapan puluh derajat, Pei Qian Hao terlihat segar. Ia sudah melupakan semuanya tentang ditampar dan dipanggil 'jalang kecil' oleh Su Xi-er. Bahkan hawa dingin abadi yang mengelilinginya telah digantikan oleh aura hangat dan lembut.

Pengawal kekaisaran yang menunggu di luar ladang bunganya tercengang ketika ia menyadari suasana hati Pei Qian Hao. Apa yang Yang Mulia lakukan bersama Su Xi-er di dalam ladang bunganya? Ia kembali agak senang, tetapi apakah Su Xi-er penyebabnya?

Setelah terpikirkan teori ini, pengawal tersebut mengembuskan napas lega dan tersenyum sesaat. Akhirnya Su Xi-er mengerti agar tidak memprovokasi Pangeran Hao lagi, dan sudah mulai menyenangkannya.

Ketika Su Xi-er melihat pandangan gembira si pengawal yang terarah pada Pei Qian Hao, mau tak mau ia pun melihat ke arahnya juga.

Pemandangan itu agak lucu. Si pengawal tersenyum dan memandangi Pangeran Hao, sedangkan Su Xi-er menatapnya kebingungan; sementara itu Pei Qian Hao memancarkan aura kehangatan.

Merasakan kalau ada sesuatu yang tidak beres, aura hangat di sekitar Pei Qian Hao segera menghilang, digantikan dengan ketidakpedulian dinginnya yang biasa seraya memelototi si pengawal. "Kau sudah berada di Kediaman Pangeran Hao sekian lama sekarang. Apakah Pangeran ini harus mengajarimu bagaimana caranya berdiri dan menunggu? Singkirkan senyum bodoh itu."

Si pengawal pun langsung menyingkirkan senyumannya, jantungnya berdebar dalam dadanya. "Pangeran Hao, maafkan aku. Bawahan ini tidak akan berani di masa mendatang." Diam-diam ia mengumpati dirinya sendiri sewaktu ia memohon ampun. Kenapa aku begitu bodoh? Kami, para pengawal kekaisaran semuanya mengetahui kepribadian Pangeran Hao dengan baik, tetapi aku masih tetap begitu bodohnya!

Setelah Pei Qian Hao menceramahi si pengawal, tatapannya beralih pada Su Xi-er dan melihatnya tengah menatapnya bingung.

Ketika ia melihat gadis itu memandanginya, mendadak ia teringat akan tamparan serta dipanggil 'jalang kecil' lagi olehnya. Pei Qian Hao merasa tidak senang dan mengangkat tangannya, memukul kepalanya ringan. "Kau juga mulai bertingkah bodoh; kau pantas dipukul." 

Si pengawal yang ada di samping pun ketakutan. Siapa yang tahu seberapa keras ia memukulnya barusan ini? Aku baru saja memuji Su Xi-er karena memahami situasinya, tetapi sekarang ....

Pei Qian Hao tidak mengerahkan tenaganya sama sekali dalam pukulan itu, dan Su Xi-er tidak merasakan sakit sama sekali. Ia hanya terkejut saja akan gerakan tiba-tibanya.

Ia tidak berniat menjelaskan, terlebih lagi memberitahukannya apa yang tengah dipikirkannya, jadi ia hanya berkata, "Hamba tahu kesalahanku."

Pei Qian Hao melihat bahwa ia tidak menjelaskan dirinya dan mendengus. "Pergi ke Toko Bunga Zhao." Kemudian ia pun naik ke atas kereta kuda tersebut.

Ekspresi si pengawal masih terguncang, tetapi ekspresi Su Xi-er biasa saja.

Ketika ia merasakan rasa takut si pengawal, ia tersenyum padanya. "Kemudikan keretanya dengan baik dan jangan memikirkan tentang hal lainnya." Setelah itu ia mengikuti Pei Qian Hao naik ke atas kereta.

Si pengawal mengatur emosinya sebelum melompat naik ke atas tempat duduk kusir, mengangkat cemetinya sewaktu keretanya mulai bergerak.

Saat Su Xi-er masuk ke dalam kereta kuda tersebut, ia memilih untuk duduk di tempat terjauh dari Pei Qian Hao. Kali ini, Pei Qian Hao memilih untuk menatapnya daripada beristirahat dengan mata terpejam.

Ia memperlihatkan sedikit emosi melalui ekspresinya, membuatnya sukar untuk membaca pikirannya.

"Duduk jauh sekali? Apakah kau takut kalau Pangeran ini akan melahapmu?" Pei Qian Hao mengalihkan pandangannya, meski ada setitik rasa main-main yang menari di matanya. Bersandar di dinding kereta kudanya, jubahnya yang sedikit terbuka membuatnya tampak malas dan nakal.

Jubahnya baik-baik saja ketika ia ada di luar, bagaimana bisa terbuka di sini? Su Xi-er tampak kebingungan. Apakah ia melonggarkannya dan membuka jubahnya sendiri saat ia masuk ke dalam kereta?

"Pangeran ini tidak akan memakanmu. Tidak nyaman melakukannya di dalam kereta kuda, dan Pangeran ini tidak pernah melakukan hal yang tidak nyaman." Pei Qian Hao terkekeh sebelum memejamkan matanya.

Ketika ia mendengar kata 'tidak nyaman', Su Xi-er pun mengerti. Ia membuka sedikit jubahnya agar merasa lebih nyaman. Hobi yang luar biasa sekali, ia hanya melakukan apa pun yang diinginkannya.

***

Si pengawal mengemudikan keretanya dengan cepat di perjalanan pulang. Dibutuhkan empat jam untuk sampai di ladang bunga, tetapi dua jam lebih untuk kembali.

Saat kereta kudanya sampai, Paman Zhao sedang memindahkan pot bunga yang berisi bunga Ling Rui. Ketika ia melihat kereta kudanya kembali, ia pun menurunkan pot bunga di tangannya dan tersenyum cerah.

Pei Qian Hao turun dari kereta dan melihat sekali ke arah bunga Ling Rui sebelum segera berujar, "Aku akan membawa semua bunga Ling Rui yang ada di toko ini."

Paman Zhao keherananMengapa ia menginginkan begitu banyak bunga Ling Rui? Ia bertanya padaku apakah mereka dapat ditransplantasikan ke kerajaan lain sebelumnya, membuktikan bahwa ia tidak tahu banyak mengenai bunga Ling Rui. Ia pasti berasal dari kerajaan lain.

Apakah ia berniat untuk mencoba dan mentransplantasikan Ling Rui? Saat ia memikirkan ini, Paman Zhao segera menginformasikan padanya, "Menurut apa yang kuketahui, tidak ada seorang pun yang berhasil mentransplantasikan Ling Rui. Tuan, Anda ...."

Sebelum ia selesai berbicara, ia diinterupsi oleh Pei Qian Hao. "Fokus saja dalam menjual mereka." Ia menekankan setiap kata-katanya.

Mendengar ini, Paman Zhao tidak mengatakan apa-apa lagi dan menyuruh penjaga toko di dalam toko untuk menghitung jumlah bunga Ling Rui-nya.

Sesudah itu, Pei Qian Hao menyuruh pengawal untuk mendapatkan satu gerobak sorong dan mulai memuat pot-pot bunga Ling Rui ke dalamnya.

"Tuan, Ling Rui tidak mahal. Semua ini hanya berharga lima tael perak. Apabila Anda membeli mereka dari kerajaan lain, bahkan lima puluh tael perak pun tidak akan cukup." Paman Zhao memberitahunya dengan riang gembira sementara ia menerima perak dari si pengawal kekaisaran.

Su Xi-er memandangi gerobak sorong penuh dengan Ling Rui dan menjadi semakin kebingungan. Sudah jelas ia bukannya membeli semua ini untuk membuat bubuk wangi untuk tubuh. Selama bunga ini dapat berhasil tumbuh dalam skala besar di Bei Min, kelopak bunga mereka dapat dipanen dua kali setahun. Hasil dari bubuk obatnya dapat digunakan untuk para tentara dan akan menghemat banyak sekali pengeluaran Bei Min.

Dulu, ketika Nan Zhao berada dalam keadaan kerusuhan sipil, tidak ada waktu bagi siapa pun untuk berpikir menanam Ling Rui. Sekarang, karena kerajaan berada dalam masa damai, Yun Ruo Feng tidak mungkin terpikirkan sesuatu seperti ini.

Hanya Pei Qian Hao yang punya perhatian pada detailnya untuk menyadari hal semacam ini dengan satu lirikan saja. Pria ini sungguh terlalu mengerikan dan tak terprediksi.

Ketika Pei Qian Hao menyadari tatapan di mata Su Xi-er, ia memukuli kepalanya lagi. "Kau memasang tampang bodoh di wajahmu sebelumnya, dan kini kau melakukannya lagi. Saat kau kembali, berlutut sebagai hukumanmu."

Hanya beberapa perkataan sederhana mengindikasikan kalau Su Xi-er akan segera menerima hukuman. Ia menarik kembali tatapannya, mengabaikan perkataannya, dan bertanya, "Tuan Muda, ada begitu banyak bunga di dalam toko ini, jadi mengapa Anda membeli Ling Rui?"

Pei Qian Hao melihatnya sambil lalu. "Ada begitu banyak bunga, tetapi kau menghabiskan waktu paling lama pada Ling Rui."

Di samping, Paman Zhao limbung. Apakah kedua orang ini majikan dan pelayan? Mengapa si majikan membelikan Ling Rui untuk pelayannya? Apakah si Tuan Muda menyukai pelayannya?

Su Xi-er pun angkat bicara lagi. "Apabila ini benar-benar karena hamba menyukai Ling Rui, maka Anda tidak perlu membelikan sebanyak ini. Satu pot saja sudah cukup."

"Aku bukannya menggunakan perakmu untuk membeli bunga-bunga ini, jadi kenapa kau mengatakan banyak sekali omong kosong? Setelah kita kembali, kau bisa memandangi mereka kapan saja. Jejerkan mereka, dan kau bahkan dapat membuat satu ranjang bunga Ling Rui menggunakan mereka."

Saat si pengawal mendengarkan ini, ia nyaris saja kehilangan kendali akan emosinya. Namun, pada akhirnya, memaksakan diri untuk menahan dirinya. Aku baru saja ditegur oleh Pangeran Hao. Aku harus serius, dan aku sudah pasti tidak boleh tertawa.

Paman Zhao tertawa canggung dan dengan sopan berkata, "Tuan, semua Ling Rui-nya telah dimuat ke dalam gerobak sorong Anda, dan dibayar dengan perak. Apabila kalian tidak tinggal terlalu jauh dari Provinsi Bulan, toko kecil kami bisa mengirimkan seorang penjaga toko untuk mengantarkan mereka. Dimanakah kalian tinggal?" 

Continue reading CTF - Chapter 152

CTF - Chapter 151

Consort of A Thousand Faces

Chapter 151 : Yun Ruo Feng Pergi Ke Provinsi Bulan


Kereta kudanya bukanlah yang berasal dari Kediaman Pangeran Yun; sebaliknya itu merupakan sebuah kereta kuda kayu biasa. Tidak menarik perhatian orang ketika berjalan di jalanan.

Saat keretanya mendekati gerbang kota, pengawal yang bertugas menghadang jalannya dengan tombak kerajaan dan menuntut dingin, "Perjamuan Kerajaan Nan Zhao sudah dekat, semua pejalan kaki dan kereta kuda yang berjalan harus diperiksa dengan ketat. Siapa yang sedang duduk di dalam kereta kudanya, dan kemana kalian akan pergi?"

(T/N : Sejenis senjata Tiongkok kuno dengan pedang batu atau perunggu yang ditempelkan pada sebatang tiang kayu.)

Tak lama setelahnya, satu lengan panjang terulur keluar dari dalam kereta memegangi satu tablet penanda pinggang dengan huruf 'Yun' terukir di atasnya. Setelah melihat itu, mata si pengawal yang bertugas mulai tersengat.

Jantungnya berdebar, dan ia langsung menurunkan tombak kerajaannya sebelum membungkuk untuk memberikan hormatnya. "Bawahan ini pantas mati. Aku tidak tahu ini adalah Pangeran Yun."

Suara lembut seorang pria datang dari dalam kereta kuda tersebut. "Jangan beritahukan pada siapa pun mengenai kepergian Pangeran ini dari ibu kota, dan biarkan kami lewat." Meskipun suaranya lembut bagaikan air, itu juga penuh dengan kekuatan.

Pengawal yang bertugas langsung mengiyakan dan mundur ke samping. Ia memerintahkan pengawal lainnya untuk mundur dan membiarkan kereta kudanya lewat.

Kusir keretanya mengangkat cemeti tersebut dan roda keretanya mulai berputar sekali lagi.

Selain dari kusir kereta, tak seorang pun yang tahu kemana perginya Pangeran Yun. Bahkan Komandan Wei, Wei Mo Hai pun tidak mengetahuinya.

Di dalam kereta kuda, mata Yun Ruo Feng terang dan jernih selagi ia bersandar di dindingnya. Ia tidak tahu mengapa ia terus-terusan memimpikan Ning Ru Lan beberapa malam terakhir ini. Wanita itu selalu menatapnya penuh nestapa dan dendam di dalam mimpi, mempertanyakannya, mengapa ia memperlakukannya seperti itu, dan mengapa ia melakukan hal semacam itu dengan Ning An Lian.

Setelah tatapan penuh nestapa itu berlalu, mata Ning Ru Lan akan dipenuhi kebencian. Ia mengambil sebatang tusuk rambut emas sebelum mengibaskan pergelangan tangannya, melemparkan ujung tajam tusuk rambut tersebut ke arah tenggorokannya. Selalu di saat itulah ia akan terbangun.

Aku bahkan tidak memimpikan Ning Ru Lan di malam kematiannya, jadi mengapa aku memimpikannya sekarang? Mata Yun Ruo Feng tak lagi terang dan jernih, sebaliknya berubah dalam dan tak terbaca. Aura hangatnya telah tergantikan oleh sesuatu yang lebih dingin, serius, dan memperhitungkan.

"Pangeran Yun, ada pengemis di depan kita." Saat si kusir melihat pengemis dari kejauhan, ia segera melaporkannya pada Yun Ruo Feng dan bersiap-siap menarik tali kekangnya untuk berhenti.

Perlahan, Yun Ruo Feng kembali normal setelah mendengarkan suara si pengawal. Ia membuka tirai jendela kereta untuk melihat ke kejauhan. Memang ada enam pengemis yang tengah membakar ubi jalar bersama-sama; pakaian mereka compang-camping, dan tongkat berjalan mereka tergeletak begitu saja di satu sisi.

Sewaktu keretanya semakin mendekati para pengemis, Yun Ruo Feng berujar, "Hentikan keretanya."

Pengawal tersebut mendengarkan dan menarik tali kekang kuda-kudanya, membuat keretanya berhenti.

Keenam pengemis itu tidak mengerti kenapa. Kami hanya sedang membakar ubi jalar; mengapa kereta kudanya mendadak berhenti? Ketika mereka melihat pria tampan yang mengenakan pakaian mahal keluar dari dalam kereta kuda tersebut, mereka semua terkejut.

Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita menghalangi jalannya? Ia tidak akan menghukum kita, para pengemis ini, dengan terlalu kasar, kan?

"Semua pengemis telah diberikan satu tempat untuk ditinggali selama perjamuan kerajaan Nan Zhao. Mengapa kalian masih di luar sini?" Yun Ruo Feng berjalan ke hadapan mereka. Nada suaranya hangat dan tidak sok.

Keenam pengemis tersebut pun menghela napas lega. Bangsawan terhormat ini mudah diajak bicara. Sehingga mereka memberitahunya segalanya. "Walaupun tempat itu cukup besar untuk ditinggali, tidak ada cukup makanan. Setiap hari hanya ada bubur, membuat semua orang masih kelaparan. Jadi, kami keluar untuk mencuri beberapa ubi jalar dari ladang orang dan membakar mereka, dijadikan makanan. Kami tidak bermaksud untuk mencuri, tetapi kami benar-benar sangat kelaparan!"

Yun Ruo Feng terus tersenyum. "Berapa banyak dari kalian yang menyelinap keluar?"

Ketua dari para pengemis itu berpikir hati-hati dan menjawab jujur. "Ada cukup banyak, tetapi kami telah mendiskusikannya dan membuat satu rencana. Agar menghindari orang-orang mengenali kami, ada pertukaran enam orang yang akan keluar setiap harinya."

Setelah Yun Ruo Feng mendengar ini, ia menyerahkan beberapa batangan perak pada para pengemis dengan senyuman terpatri di wajahnya. "Ambil ini untuk membeli makanan dan baju baru. Setelah itu, kalian harus segera kembali ke tempat dimana kalian harus tinggal."

Ada kilatan cahaya yang berkedip di mata pengemis tersebut kala ia melihat peraknya, dan ia langsung mengambilnya. "Terima kasih banyak, Tuan."

Yun Ruo Feng pun berbalik. Kilat dingin muncul di matanya, dan ia menginstruksikan salah satu kusirnya pelan. "Sisir kota dengan ketat, cari para pengemis, dan pindahkan siapa pun yang berpura-pura menjadi penjaja keliling. Tambahkan lebih banyak makanan bagi mereka yang telah dipindahkan, dan berikan daging untuk mereka secara berkala selain bubur. Apabila masih ada orang yang menyelinap keluar, bunuh mereka tanpa ampun."

Di saat ini, Yun Ruo Feng melihat ke arah keenam pengemis yang kini berada jauh di belakang mereka dan melanjutkan. "Suruh orang yang bertugas untuk membunuh keenam pengemis yang menyelinap keluar hari ini karena mencuri perak."

Dengan begitu, tidak akan ada lagi pengemis yang berani menyelinap keluar. Tidak boleh ada satu pun pengemis yang terlihat selama perjamuan kerajaan Nan Zhao. Namun, setelah perjamuannya berakhir, aku akan membuka gudang makanan dan menyuruh mereka bekerja.

Aku tidak percaya kalau aku tidak mampu memerintah suatu kerajaan tanpa adanya kebijakan baru ataupun Ning Ru Lan.

Si pengawal tidak berbicara, tetapi ia tidak pergi juga. Ia hanya memandangi Yun Ruo Feng. Apakah kita sungguh akan membunuh keenam pengemis itu? Ini ... bukankah ini terlalu kejam?

"Masih belum pergi juga?" Perkataan lembut mengalir keluar dari mulut Yun Ruo Feng.

Pengawal tersebut langsung mengindahkan perintah dan berjalan ke arah dimana adanya para pengemis.

Kini, hanya ada satu pengawal tersisa untuk mengendarai keretanya, dan ia berdiri di satu sisi. Pangeran Yun baik hati dan tidak pernah membunuh satu pun orang yang tidak berdosa. Mengapa ia ingin membunuh pengemis menyedihkan dan tak berbahaya itu sekarang?

Yun Ruo Feng menaiki kereta, menunggu setelah memberikan perintahnya, mengernyitkan alisnya sewaktu ia mulai berpikir.

Pei Qian Hao setuju datang ke Nan Zhao kali ini karena ia punya motifnya sendiri. Dengan ini menjadi tahun pertamaku, Yun Ruo Feng, bertindak sebagai Prince Regent, tak diragukan lagi, ia datang untuk mengamati kemampuanku. Ia ingin tahu apakah aku mampu memerintah kerajaan dengan baik, atau apakah aku hanya hebat dalam memimpin tentara.

Biarpun aku telah membuktikan kemampuanku sebagai seorang jenderal, bagi Pei Qian Hao, dan barangkali bagi para putra mahkota dari dua kerajaan lainnya, aku kalah dari seorang wanita dalam hal memerintah. Tentu saja, wanita ini adalah Ning Ru Lan.

Ia sudah mati, tetapi lingkaran cahaya dari kecemerlangannya masih tetap ada. Namun, lingkaran cahaya ini, melemparkan bayangan yang menutupi diriku. Untuk menghilangkannya, Nan Zhao hanya boleh menjadi lebih baik di bawah pemerintahanku.

Yun Ruo Feng memikirkan tentang mimpi yang sering mendatanginya lagi. Mimpi berasal dari dalam hati atau disebabkan oleh sesuatu yang kulihat setiap harinya.

Siapakah yang mampu mengingatkanku akan Ning Ru Lan? Saat ia memikirkan tentang itu, mata Yun Ruo Feng menggelap. Su Xi-er, dayang Pangeran Hao.

Aku mampu merasakan betapa berbedanya wanita itu dari pandangan pertama. Aura di sekitarnya, responnya, dan tatapan sambil lalunya, mereka semua mirip dengan Ning Ru Lan.

Setelah menghabiskan begitu banyak waktu bersama Ning Ru Lan, siang dan malam, ia sangat memahaminya. Itulah mengapa, ia begitu terkejut dan penasaran saat pertama kali ia melihat Su Xi-er.

Tepat ketika ia baru saja akan tenggelam lebih jauh dalam pikirannya, suara pengawal kekaisaran terdengar. "Melaporkan pada Pangeran Yun, keenam pengemis sudah dipenggal karena mencuri perak. Saat pengemis lainnya mengetahuinya, mereka semua tercengang. Tidak akan ada seorang pun yang berani menyelinap keluar setelah ini."

"Mmm, kerja bagus. Jalankan kereta kudanya." Yun Ruo Feng memberikan perintahnya dengan lembut.

Kedua pengawal tersebut langsung melompat naik ke atas kereta kuda dan menuju ke Provinsi Bulan. Walau mereka tidak tahu mengapa Pangeran Yun mendadak ingin pergi ke Provinsi Bulan, mereka menganggap orang itu sebagai langit, dan orang yang harus dipuja dalam hati mereka.

Apabila Pangeran Yun memerintahkan kami untuk pergi ke Provinsi Bulan, pasti ada alasannya. Kita hanya perlu memenuhi perintahnya.

Continue reading CTF - Chapter 151

3L3W TMOPB - Chapter 22 Part 4

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 22 Part 4

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 22 Part 4

3L3W TMOPB - Chapter 22 Part 3

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 22 Part 3

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 22 Part 3

3L3W TMOPB - Chapter 22 Part 2

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 22 Part 2

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 22 Part 2

3L3W TMOPB - Chapter 22 Part 1

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 22 Part 1

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 22 Part 1