Sabtu, 21 Agustus 2021

CTF - Chapter 130

Consort of A Thousand Faces

Chapter 130 : Anjing Jantan Menggila


Keduanya masuk ke dalam Rumah Aprikot Keberuntungan. Saat si pelayan melihat pemilik baru berkunjung lagi, ia langsung berubah hormat.

Su Xi-er berkata pada si pelayan, "Bawakan seteko teh lagi yang kuminum sebelumnya."

Si pelayan ragu-ragu, tetapi dengan cepat menurutinya saat ia melihat kalau pemilik baru tidak mengajukan keberatan.

Segera saja, seteko teh dibawakan ke meja tersebut.

Pria berbaju biru mengambil satu cangkir teh sambil lalu dan mulai mengisinya, tatapannya tak pernah lepas dari Su Xi-er.

Su Xi-er memelankan suaranya. "Aku merasa kalau kematian kedua Nona Wei mencurigakan. Bagaimana menurutmu?"

Aku melihatnya mengintai mencurigakan di hari dimana kedua Nona Wei mati. Walaupun akulah yang mengikat mereka sewaktu mereka masih hidup, kematian mereka sama sekali tak ada sangkut pautnya denganku.

Aku tidak sebaik itu hingga mencoba menegakkan keadilan demi mereka, tetapi aku benar-benar ingin mengetahui mengapa pria ini membunuh mereka.

Apakah karena kedua Nona Wei menyinggungnya? Atau mereka mengucapkan sesuatu yang menghina? Apa yang mungkin mereka katakan?

"Nona, apakah kau mencurigai orang rendahan ini?" Ia mengosongkan cangkir tehnya sebelum melanjutkan, tidak menunggu jawaban Su Xi-er.

"Nona, apakah menurutmu aku bodoh? Membeli Rumah Aprikot Keberuntungan setelah membunuh orang agar aku bisa menarik kecurigaan semua orang kepadaku? Apakah menurutmu, aku ingin menggali satu lubang agar aku bisa melompat masuk ke dalamnya?"

Ia benar. Meskipun ini juga adalah apa yang Su Xi-er pikirkan, ia tidak berkomentar apa-apa.

Membeli kedai teh setelah membunuh kedua Nona Wei sama saja dengan mencari masalah dengan menarik semua kecurigaan pada dirinya sendiri. Dikatakan begitu pun, ada pepatah mengatakan, bahwa tempat paling berbahaya juga adalah tempat yang paling aman.

Membeli Rumah Aprikot Keberuntungan serupa dengan berjalan masuk ke dalam jebakannya sendiri, tetapi sebaliknya, ini juga membantunya lepas dari kecurigaan.

Ada kilatan terpancar di mata Su Xi-er. Ia bangun, menuangkan pria itu secangkir teh lagi selagi berkomentar, "Kau adalah orang yang pandai."

Ia tidak menjelaskannya, tetapi ia yakin bahwa satu kalimat ini sudah cukup untuk membuatnya menebak tujuannya.

"Nona, kau sangat cantik. Kalau kau benar-benar takut tidak bisa menikah, kau bisa mencariku." Pria berbaju biru sekali lagi menghabiskan teh di cangkirnya sebelum bangkit, beranjak tanpa kata lainnya.

Saat kepalanya berpaling dari Su Xi-er, pria itu memperlihatkan ekspresi kebencian di bawah cadarnya. Kematian kedua Nona Wei itu sama sekali bukan hal yang patut dikasihani; mereka pantas mati. Semua orang yang terus bergosip, memfitnah, dan menyakitinya, pantas mati.

Mungkin, satu-satunya orang yang akan memahami pemikiran pria ini hanya dirinya sendiri.

Su Xi-er memerhatikannya selagi ia pergi, jadi semakin mencurigainya.

Tetapi, ini waktunya bagiku untuk pulang ke rumah pos. Setelah ia membayarkan tagihannya, ia langsung bergegas menuju ke rumah pos.

***

Ia sampai di kamarnya, dan baru saja akan menghapus pemerah pipi di wajahnya saat suara satu pengawal terdengar dari luar.

"Su Xi-er, Pangeran Hao menyuruhmu membawakan teh."

Bagaimana ia bisa tahu kalau aku sudah pulang? Apakah ia menyuruh orang untuk mengawasiku sepanjang waktu?

Su Xi-er mengelap kesepuluh bintik di wajahnya dan menjawab, "Baik, aku akan segera ke sana."

Su Xi-er tidak sempat memikirkannya, meletakkan pemerah pipi yang dijatuhkan oleh Piao Xu sebelum menuju ke dapur belakang. Mengambil satu teko teh, ia cepat-cepat menuju ke arah kamar Pei Qian Hao.

Pintu kamarnya tidak tertutup, membuat Pei Qian Hao melihat Su Xi-er bahkan sebelum ia masuk.

"Pergi kemana kau hari ini?"

Su Xi-er berjalan masuk dan meletakkan tehnya di atas meja. "Hamba hanya berjalan-jalan santai saja."

Ia berani menjawabku acuh tak acuh begitu .... Mata Pei Qian Hao menyipit.

"Oh? Berjalan-jalan santai? Jadi, apakah kau membeli baju, perhiasan, pemerah pipi, dan alas bedak? Berapa banyak perak yang diberikan Pangeran ini yang telah kau habiskan?"

"Melapor pada Yang Mulia, hamba tidak membeli baju, perhiasan, pemerah pipi, maupun alas bedak." Su Xi-er mengeluarkan sisa peraknya dan menyerahkannya pada Pei Qian Hao.

Kamarnya mendadak jadi hening. Su Xi-er mengulurkan sekantong uang itu, tetapi Pei Qia Hao tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengambilnya.

Pemandangannya canggung. Pei Qian Hao benar-benar ingin menyeret Su Xi-er keluar untuk dipukuli. Aku adalah Pangeran Hao dari Bei Min yang bermartabat. Mungkinkah aku kekurangan tael perak yang tak seberapa ini?

Tiba-tiba saja, suara ribut-ribut terdengar dari arah halaman sewaktu seorang pengawal kekaisaran yang kebingungan masuk sembari terhuyung.

"Melapor pada Pangeran Hao, seekor anjing jantan yang dipelihara di halaman belakang menjadi gila dan menggigiti semua orang."

Melihat ke arah pengawal yang berlutut di tanah, tatapan mendalam di mata Pei Qian Hao menghilang. "Kau memerlukan Pangeran ini untuk mengurusi seekor anjing gila yang mengigiti orang?"

Di bawah tatapan tak ramah Pei Qian Hao, napas si pengawal pun jadi semakin pendek.

"Anjingnya mendadak menggila setelah keluar dari kamar Su Xi-er. Sebagai hasilnya, bawahan ini mengira, mungkin akan pantas datang dan melaporkannya." Si pengawal bicara begitu cepat, tidak berani berhenti sewaktu ia menyelesaikan kalimatnya dalam satu tarikan napas.

Mata Pei Qian Hao menyipit. Ini aneh. Ia melirik ke arah Su Xi-er sebelum berjalan keluar dari kamar.

Dengan canggung Su Xi-er menarik lagi tangan yang memegangi kantong uang peraknya dan mengikuti di belakang Pei Qian Hao? Bagaimana anjingnya jadi gila setelah masuk ke kamarku ....?

Masuk ke halaman, acuh tak acuh, Pei Qian Hao melihat ke arah anjing yang diikatkan ke sebatang tiang dan masih menyalak tanpa pandang bulu. "Apakah kau menemukan penyebabnya?"

"Yang Mulia, investigasi awal menunjuk pada sekotak pemerah pipi di kamar Su Xi-er," jawab salah satu pengawal.

Karena sekotak pemerah pipi! Ekspresi Su Xi-er sedikit berubah. Mungkinkah ada yang salah dengan pemerah pipi itu?

Aku tahu kalau pemerah pipi yang kubeli tertukar dengan pemerah pipi Piao Xu, tetapi aku belum sempat memeriksa apa yang sebenarnya dibeli olehnya. Su Xi-er terkejut karena insiden ini berhubungan dengan pemerah pipi dari kamarnya.

Kalau ternyata sungguh ada masalah dengan pemerah pipinya, akankah Pei Qian Hao mencurigai sesuatu dan menggali lebih dalam?

Kalau begitu, maka aku benar-benar tidak bisa menghindari ini. Selain itu, aku baru saja memberitahunya kalau aku tidak membeli pemerah pipi ataupun alas bedak.

"Karena sekotak pemerah pipi? Apa yang sebenarnya terjadi?" Wajah Pei Qian Hao menggelap sewaktu ia mengalihkan tatapannya pada Su Xi-er. Bukankah ia bilang kalau ia tidak membeli pemerah pipi atau alas bedak? Wanita ini berbohong lagi padaku.

Semua pengawal merasa kalau suhunya menurun selagi mereka melihat kemarahan Pei Qian Hao terhadap Su Xi-er yang terlihat jelas. Haaahh. Pangeran Hao marah lagi gara-gara Su Xi-er, dan kita, para bawahannya sekali lagi terjebak dalam baku hantamnya.

Pei Qian Hao menunjuk satu pengawal. "Lebih spesifik."

Si pengawal yang ditunjuk langsung menjawab, tidak berani menunda. "Yang Mulia, kotak pemerah pipinya sangat berbeda, mengandung aroma yang unik. Hidung tajam anjing tersebut membawanya ke kamar Su Xi-er dimana di sana, ia menjatuhkan kotak pemerah pipinya ke tanah. Setelah tanpa sengaja terkena pemerah pipi itu di hidungnya, anjingnya jadi seperti ini ...."

Setelah mendengarkan penjelasan si pengawal, Su Xi-er tertegun sejenak. Secara kasar, aku bisa menebak tipe pemerah pipi apakah itu.

Tidak banyak pemerah pipi dengan wangi yang spesial; lebih sedikit lagi yang bisa membuat seekor anjing menggila dan mulai menggigiti orang. Dengan semua yang dikatakan, itu hanya mungkin adalah pemerah pipi wewangian pekasih!

Dalam konsentrasi rendah, pemerah ini tidak berbahaya, dan bisa digunakan untuk meningkatkan suasana di kamar tidur. Tetapi, jika digunakan pada seekor anjing, sulit menebak apa yang akan terjadi. Hanya menggila saja masih bisa dianggap masalah kecil ....

Namun, apa yang ingin kuketahui sekarang adalah, mengapa Ning An Lian meminta Piao Xu untuk membeli wewangian pekasih. Mungkinkah ia berencana menggunakannya pada Yun Ruo Feng?

Yun Ruo Feng sangat mencintainya, bahkan sampai menghamilinya, meski tak ada satu pun bayi yang bertahan. Bagaimana bisa keduanya membutuhkan wewangian pekasih?

Continue reading CTF - Chapter 130

CTF - Chapter 129

Consort of A Thousand Faces

Chapter 129 : Membeli Rumah Aprikot Keberuntungan


Piao Xu menjeda sejenak sebelum menjawab. "Hamba bertumburan dengan seorang gadis jelek saat kita berada di restoran. Ia juga membawa sekotak pemerah pipi waktu itu. Ia pasti tidak bisa membedakan kotaknya dan salah mengambilnya. Wewangian pekasihnya pasti ada pada si gadis jelek itu."

Si gadis jelek yang dimaksudkan oleh Piao Xu, tepatnya adalah Su Xi-er.

Ning An Lian duduk tegak, nada suaranya agak dingin. "Salah mengambil?" Bagaimana bisa sesuatu seperti ini salah diambilnya? Mengapa juga kebetulan sekali ia punya sekotak pemerah pipi?!

***

Sementara kedua orang ini mendiskusikan Su Xi-er, orangnya sudah berdiri di pintu masuk Rumah Aprikot Keberuntungan.

Kedua Nona Wei terbunuh di Rumah Aprikot Keberuntungan. Kantor provinsi sudah menyelidiki insiden tersebut dan menyimpulkan bahwa baik pengurus dan si pelayan adalah pelakunya.

Informasi ini sudah menyebar di jalanan, memberikan pukulan besar pada bisnis di Rumah Aprikot Keberuntungan.

"Apakah kau tahu, karena insiden Nona-nona Wei, Rumah Aprikot Keberuntungan jadi bangkrut?"

"Aku mendengar ini juga. Rumah Aprikot Keberuntungan dijual, tetapi tidak ada seorang pun yang mau membelinya, mengklaim kalau feng shui di sini tidak bagus karena ada yang mati di sini."

(T/N : fengshui : geomansi China.)

Dengan cepat, ini terdengar oleh mereka yang berdiri di depan Rumah Aprikot Keberuntungan. Walaupun kabar ini sudah jadi rahasia umum, semua orang masih berbisik-bisik mendiskusikannya.

Seperti kata pepatah, 'Unta ceking tetap lebih besar daripada seekor kuda'! Terlebih lagi, Rumah Aprikot Keberuntungan merupakan kedai teh nomor satu di ibu kota!

Tiba-tiba saja, seorang pria berjubah biru dan bercadar memasuki pandangan Su Xi-er.

Ada aura tajam tetapi tidak terlukiskan di sekeliling pria ini.

Pria berbaju biru juga menyadari kehadiran Su Xi-er. Mereka saling berpandangan, tetapi tidak bicara apa-apa.

Kemudian, pria itu berbalik dan masuk ke dalam Rumah Aprikot Keberuntungan. Aku kemari bukan untuk melihat wanita!

Su Xi-er tersenyum dan ikut masuk. Itu dia, orang yang kucurigai.

"Nona, apa yang bisa kubantu?" Su Xi-er baru saja memasuki Rumah Aprikot Keberuntungan saat ada satu pelayan mendekatinya, tersenyum ramah dan penuh antusiasme.

"Camilan sederhana saja." Su Xi-er memilih satu meja dan duduk, memejamkan matanya.

Pria berbaju biru itu naik ke lantai dua, suatu tempat yang hanya terbuka untuk beberapa tamu khusus.

"Baiklah. Mohon tunggu sebentar, Nona. Hidanganmu akan segera datang."

Si pelayan menanggapi dengan suara lantang sebelum undur diri. Setelah itu, Su Xi-er tidak perlu menanti lama, makanannya pun dihidangkan.

Beberapa camilan khas Rumah Aprikot Keberuntungan.

Su Xi-er menggigit kecil, merasakan kuenya ringan, sekaligus manis dan lezat. Kemudian, ia mengambil kue lainnya, memesan seteko teh di pertengahannya.

Walaupun Rumah Aprikot Keberuntungan sudah nyaris dijual, standar kue dan teh mereka tetap terjaga. Kokinya tidak menganggap enteng soal kualitas makanannya. Daun tehnya terkenal dan mengambang di permukaan, dengan keseluruhan warna tehnya juga bagus.

Su Xi-er menghirup wangi teh menyegarkannya, pelan-pelan menyesapnya sementara mengamati apa yang terjadi di lantai dua. Mengapa pria berbaju biru itu muncul lagi di Rumah Aprikot Keberuntungan?

Saat tehnya sudah setengah habis, Su Xi-er melihat pria berbaju biru turun dari lantai dua.

Ia bangkit perlahan dan mengeluarkan satu tael perak, meletakkannya di atas meja.

Anehnya, pelayan yang melayani pria tersebut sepertinya memperlakukan orang itu dengan sangat baik. Jauh dari apa yang harus mereka lakukan untuk tamu lain. Sepertinya, pria itu sudah membeli kedai tehnya.

"Ah, pria yang barusan berjalan keluar sudah membeli Rumah Aprikot Keberuntungan!" Beberapa pria kekar yang masuk ke dalam kedai teh sebelum Su Xi-er, duduk dekat dengannya, memperbolehkan Su Xi-er mendengarkan percakapan mereka dengan jelas.

"Bagaimana kau tahu? Bukannya tadi kau bilang kalau tidak ada seorang pun yang bersedia membeli kedai tehnya?"

"Seorang kerabatku adalah anggota staf Rumah Aprikot Keberuntungan. Mana mungkin informasi yang diberitahukannya padaku itu palsu?" Si pria berotot berbicara bangga.

Seorang kerabat memberitahuku kalau satu tamu penting mungkin akan membeli Rumah Aprikot Keberuntungan hari ini.

Mendengar ini, Su Xi-er merenungkannya. Si pria berbaju biru sungguh telah membeli kedai tehnya. Tetapi, siapa yang akan melakukan hal semacam ini di waktu seperti ini?

Matanya menyipit. Ia jadi semakin curiga atas keterkaitan pria tersebut dengan kematian kedua Nona Wei.

Siapa sebenarnya pria ini? Kalau ialah yang membunuh kedua Nona Wei, apa motifnya?

Mungkinkah, ia sudah tahu kalau si pengurus dan pelayan kedai teh ini akan dijadikan kambing hitam, memperbolehkannya membeli Rumah Aprikot Keberuntungan dengan harga terendah?

Kalau memang benar seperti itu kasusnya, ia agak gila.

Su Xi-er melirik pria berbaju biru sebelum berjalan keluar dari kedai tehnya.

"Hati-hati di jalan, Nona. Silakan datang lagi." Si pelayan menghampiri untuk mengambil peraknya dengan wajah tersenyum.

Karena busana Su Xi-er tidak begitu mencolok, ia bahkan sengaja membuat dirinya jadi jelek dengan riasan, meskipun ia berjalan di jalanan, ia akan tampak seperti rakyat jelata biasa.

***

Setelah keluar dari Rumah Aprikot Keberuntungan, Su Xi-er menghampiri satu kios kecil di sebelah kedai teh dan berpura-pura melihat-lihat barang.

Aku bisa melihat setiap orang yang keluar-masuk Rumah Aprikot Keberuntungan dari sini.

"Gadis kecil ...." Seorang paman beruban dengan wajah keriput memanggilnya.

Dengan senyuman di wajahnya, Su Xi-er mengambil satu tusuk rambut kayu. "Paman, tusuk rambut kayu ini cantik sekali."

"Mempertimbangkan usiamu, seleramu cukup bagus. Istriku yang mengukir tusuk rambut kayu ini dari kayu persik. Walaupun tidak bisa dibandingkan dengan aksesoris emas dan perak, ukirannya jauh lebih detail."

(T/N : kayu persik biasa digunakan untuk mengusir setan.)

Su Xi-er mengikuti arah jari paman itu yang teracung dan melihat ke arah ukirannya, dimana tiap kelopak bunga persiknya bermekaran. Ukirannya memang tidak buruk.

Hanya saja, tidak pantas bagiku untuk memakai tusuk rambut kayu persik lagi.

"Paman, aku tidak membawa uang, tetapi aku pasti akan membelinya lain kali." Su Xi-er tersenyum dan menurunkan tusuk rambut kayu persiknya.

"Istriku hanya membuat tiga tusuk rambut kayu persik dalam sehari, dan para gadis selalu datang membeli mereka. Kau harus datang lebih awal jika kau ingin membeli satu."

Su Xi-er mengangguk. "Aku akan ingat untuk datang lebih awal."

Si pria tua pun menghela napas. Setiap wanita berharap jadi cantik, termasuk si gadis jelek ini. Bintik-bintik di wajahnya .... mungkin sudah tak ada harapan.

Tepat saat itu, Su Xi-er kebetulan melihat pria berbaju biru berjalan keluar dari kedai teh. Menunggu hingga ia agak jauh, setelahnya Su Xi-er berjalan mengikutinya.

Namun, pria berbaju biru itu mendadak berhenti seolah ia menunggu dirinya.

Baru setelah Su Xi-er muncul di hadapannya, ia berbalik dan berkata, "Nona, kau sudah mengikutiku sedari tadi. Apakah kau takut kalau kau tidak bisa menikah? Tetapi, mana mungkin? Kesepuluh bintik di wajahmu digambar dengan baik."

Pria itu hanya perlu sekali lirik untuk mengetahui kalau bintik di wajah Su Xi-er digambar menggunakan pemerah pipi berwarna gelap.

Su Xi-er tersenyum. "Kau punya mata yang jeli. Namun, kau hanya setengahnya benar. Aku mengikutimu bukan karena aku menyukaimu, tetapi karena aku mencurigaimu."

Si pria berbaju biru terkekeh. "Apa yang kau curigai dariku?"

"Karena insidennya terjadi di Rumah Aprikot Keberuntungan, bagaimana kalau kita bicarakan tentang itu di sana? Kau masuk ke sana untuk mendiskusikan tentang pembelian kedai tehnya, tetapi tidak menikmati teh maupun kuenya, kan?"

Bibir pria itu agak bergetar di bawah cadarnya. Gadis ini bukan gadis biasa. Ia bilang kalau ia mencurigaiku, tetapi ia masih mengundangku minum teh.

Aku selalu teliti dalam apa yang kulakukan, jadi, bagaimana ia bisa mengetahuinya? Aku ingin tahu apa yang ingin dikatakannya tentang itu.

Continue reading CTF - Chapter 129

CTF - Chapter 128

Consort of A Thousand Faces

Chapter 128 : Bagaimana Mungkin


Ning An Lian melihat ke arah kotak pemerah pipi di tangannya sebelum darah di wajahnya terkuras habis. Perbedaan warnanya cukup untuk memberitahukan kalau pemerah pipi ini hanyalah pemerah pipi yang biasa.

"Mungkinkah Piao Xu salah membeli barangnya?" Ning An Lian bergumam sendiri.

Wewangian pekasih punya aroma dan warna yang jelas berbeda; tidak mungkin Piao Xu salah membeli barangnya. Kalau begitu, maka kotaknya pasti sudah tertukar di tengah jalan.

Yun Ruo Feng menatap Ning An Lian saat ia memegangi kotak pemerah pipi itu di tangannya, matanya terpaku ke sana.

Dengan tenang Yun Ruo Feng berjalan menghampiri dan bertanya lembut, "An Lian, apakah kau merasa tidak sehat? Kenapa kau begitu pucat?"

Melihat Ning An Lian masih belum tersadar, Yun Ruo Feng pun terus memanggil namanya beberapa kali tetapi tak ada hasilnya.

Karena itulah, Yun Ruo Feng menepuk bahunya.

"Ah!"

Ning An Lian terkesiap dan mundur selangkah seolah ia ketakutan.

Melihat responnya, Yun Ruo Feng bertanya, "Ada masalah apa?"

Mendapatkan kembali ketenangannya, Ning An Lian memaksakan seulas senyuman untuk menjawab pertanyaan Yun Ruo Feng. "Aku baik-baik saja, kau tidak perlu cemas. Omong-omong, Feng, apa yang barusan ini kau tanyakan padaku?"

Yun Ruo Feng menatap Ning An Lian tetapi tidak menanggapi.

Terus tersenyum, Ning An Lian melanjutkan, "Feng, ada apa? Apakah ada sesuatu di wajahku?"

"Bukan sesuatu yang serius; aku hanya melihat kalau kau sangat pucat. Beritahu aku jika kau merasa tidak sehat."

Suaranya lembut dan membersitkan perhatian mendalam, dan itu bekerja sangat ampuh pada Ning An Lian.

Sudah pasti, Ning An Lian mengangguk sembari tersenyum, menurunkan kepalanya, dan berujar pelan, "Bukan apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu ...."

Walaupun Ning An Lian membeli wewangian pekasih itu, ia tidak ingin Yun Ruo Feng mengetahuinya.

Yun Ruo Feng menatapnya dengan senyum terpatri di wajahnya. "Tidak apa-apa, asalkan kau baik-baik saja; kalau tidak, kau harus beristirahat jika kau merasa kurang sehat. Tetapi, kulihat, kau terus saja menatap kotak pemerah pipi itu. Apakah ada masalah dengannya?"

Yun Ruo Feng menyembunyikan perasaan sesungguhnya di balik senyum di wajahnya, dan Ning An Lian tak akan mampu membacanya.

Setelah mendengar Yun Ruo Feng mempertanyakan soal si kotak pemerah pipi, ekspresi Ning An Lian membeku selama beberapa detik. Tidak ingin menjawab, ia terpikirkan satu alasan. "Tidak ada, aku hanya merasa kalau pemerah pipi ini tercium lebih baik, tetapi kurang dalam hal warna dan kilaunya."

Aku tidak boleh membiarkan Yun Ruo Feng merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Setelahnya, Ning An Lian tertawa beberapa kali.

"Mmm, selama kau menyukainya," ujar Yun Ruo Feng enteng.

Ning An Lian merasa lega karena Yun Ruo Feng tidak mengajukan pertanyaan lagi tentang pemerah pipi itu.

Yun Ruo Feng melepaskan tangan Ning An Lian dan berjalan menuju ke rak buku, menarik satu buku taktik peperangan sebelum mengambil tempat di mejanya dan mulai membaca.

Ning An Lian duduk di bangku terdekat dan mengamatinya diam-diam, merasa agak bosan memerhatikannya membaca buku sendirian.

Aku datang ke kediaman Pangeran Yun hari ini untuk bertemu dengan Yun Ruo Feng; bukannya untuk menggunakan wewangian pekasih padanya. Aku tidak boleh membiarkannya mencium aroma itu sementara tubuhnya masih memulihkan diri.

Di saat ini, Ning An Lian hanya bisa memikirkan soal si wewangian pekasih. Aku jelas-jelas membeli pemerah pipi wewangian pekasih, jadi bagaimana bisa itu berubah menjadi sekotak pemerah pipi berwarna gelap biasa?

Ning An Lian terserang sakit kepala, mencoba memikirkan penjelasannya. Membaringkan kepalanya di atas satu meja kecil, ia sudah tertidur sebelum ia menyadarinya.

Tak lama setelahnya, Yun Ruo Feng mengerakkan matanya dari buku dan melihat Ning An Lian tertidur di samping.

Ia ragu-ragu sejenak, tetapi tetap berjalan ke arahnya. Mengguncangkannya agar terbangun, ia berkata pelan, "An Lian, kembalilah ke istana peristirahatanmu untuk tidur. Di sini dingin. Tubuhmu lemah, jadi kau harus berhati-hati agar tidak terserang flu."

Tanpa diduga, Ning An Lian tidak memperdebatkan untuk tetap tinggal, sebaliknya menjawab, "Baiklah, aku akan kembali ke istana peristirahatanku dulu. Jaga kesehatanmu juga."

Setelahnya, Ning An Lian berjalan keluar dari ruang baca. Diam-diam Yun Ruo Feng memerhatikan sosoknya yang keluar dari ruangan dan menutup pintu.

Ning An Lian begitu siap untuk pergi karena ia gelisah, ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan pemerah pipinya.

***

Setelah memberi makan kuda di halaman belakang, Piao Xu sudah memerintahkan seseorang agar membawa kereta kudanya kembali ke pintu masuk untuk menunggu Ning An Lian keluar.

Saat Piao Xu melihat Ning An Lian, ia segera menyapanya, "Pelayan ini memberi hormat pada Putri Pertama Kekaisaran. Apakah kita akan kembali ke istana sekarang?"

Ning An Lian menatap Piao Xu dan mendengus kasar. Kita ada di luar sekarang; bukan tempatnya untuk membicarakan tentang wewangian pekasih.

Tak ada pilihan lain, ia hanya bicara dengan nada dingin. "Aku akan mengurusmu setelah kita kembali ke istana."

Piao Xu gugup di sepanjang perjalanan pulang karena hal itu. Apa sebenarnya kesalahan yang kuperbuat?

***

Mencapai istana peristirahatannya, Piao Xu tidak tahan lagi dan langsung berlutut. "Apakah kesalahan yang telah hamba perbuat? Putri Pertama Kekaisaran, bisakah Anda memberitahukannya secara langsung pada hamba?"

Nada Ning An Lian menurun. "Kau bahkan tidak tahu apa kesalahan yang kau perbuat."

Berlutut di lantai, Piao Xu berujar dengan suara bergetar, "Hamba ... tidak tahu. Mohon Anda berbaik hati menerangkannya pada hamba, Putri Pertama Kekaisaran?"

Aku paling mengetahui trik Ning An Lian. Kalau aku membuatnya marah, ia tidak akan menunjukkan belas kasihan.

Di saat ini, hati Ning An Lian diliputi ketidaksenangan, nada suaranya merefleksikan emosinya. "Menerangkannya padamu? Pikirkan baik-baik sebelum kau menjawab pertanyaan Putri ini. Selain dirimu, apakah ada orang lain yang menyentuh pemerah pipi Putri ini?"

Piao Xu berpikir sejenak dan membalas, "Menjawab pada Putri Pertama Kekaisaran, tidak ada orang lain selain hamba yang pernah menyentuh kotak pemerah pipinya."

Tidak ada? Ning An Lian mengerutkan keningnya.

"Kalau tidak ada orang lain yang pernah menyentuh kotak pemerah pipinya, mengapa wewangian pekasih pemerah pipi Putri ini, yang kau belikan, berubah menjadi pemerah pipi biasa tanpa alasan? Mungkinkah tanpa sengaja, kau salah mengambilnya?"

Piao Xu gemetar ketakutan. "Menjawab Putri Pertama Kekaisaran, hamba tidak berani. Hamba tidak pernah memberikan kotak pemerah pipinya pada orang lain. Tidak mungkin hamba salah mengambil kotaknya. Mohon selidiki masalah ini dengan jelas, Putri Pertama."

"Kalau begitu katakan, kemana perginya wewangian pekasih yang Putri ini beli? Jangan bilang padaku, wewangian itu bisa berjalan sendiri? Wewangian pekasih pemerah pipi itu jelas-jelas berwarna merah muda pucat dengan konsentrasi rendah. Mana mungkin bisa berubah menjadi pemerah pipi biasa? Atau, apakah Putri ini buta?"

Piao Xu begitu ketakutan dan sudut matanya berubah merah. "Hamba sungguh tidak berani." Piao Xu menanggapi selagi bersujud putus asa. "Mohon selidiki masalah ini dengan jelas, Putri Pertama Kekaisaran," ulangnya.

Menatap Piao Xu yang telah melayaninya selama bertahun-tahun menyembah di tanah, Ning An Lian masih bisa mengetahui apakah ia berbohong atau tidak.

Tetapi apabila apa yang diucapkan Piao Xu adalah benar, maka, kemana perginya wewangian pekasih pemerah pipinya? Mungkinkah tertukar dengan yang lain tanpa diketahui?

"Bangunlah. Gunakan sekotak pemerah pipi ini sebagai hadiah atas bertahun-tahun kau melayani di sisiku. Namun, karena keteledoranmu hari ini, kau akan dihukum!"

Dengan mata merahnya, Piao Xu mengiyakan selagi ia bangkit berdiri dan maju menerima pemerah pipinya.

Dengan satu lambaian tangannya, Ning An Lian menginstruksikan, "Kau boleh pergi dan menerima hukumanmu."

Piao Xu undur diri dengan hormat dan menutup pintunya.

Ning An Lian berjalan masuk ke kamar dalam dan berbaring di atas tempat tidur, memikirkan tentang wewangian pekasih yang tertukar tanpa diketahui.

Di waktu bersamaan, Piao Xu juga memikirkan tentang apa yang salah. Pemerah pipinya terus berada di tanganku sepanjang waktu, mana mungkin bisa tertukar?

Akhirnya, ia mengetahuinya tepat ketika ia baru saja akan dicambuk. Ia langsung menghentikan kasim yang baru saja akan mencambukinya sebelum bergegas kembali pada Ning An Lian.

"Apa? Kau sudah selesai menerima hukumanmu dan kembali?" Ning An Lian membuka matanya saat ia mendengar Piao Xu masuk.

Piao Xu merespon dengan bersemangat, "Putri Pertama Kekaisaran, hamba akhirnya mengingat apanya yang salah."

Mendengar ini, Ning An Lian langsung merasa bersemangat. Menopang dirinya dengan satu tangan, ia memanggil Piao Xu agar masuk dan melanjutkan perkataannya.

Continue reading CTF - Chapter 128

CTF - Chapter 127

Consort of A Thousand Faces

Chapter 127 : Meningkatkan Suasana


Ning An Lian menyentuh kotak pemerah pipi itu dengan lembut, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Dengan hati-hati memasukkan kotak tersebut ke dalam lengan bajunya, ia berkata, "Putri ini akan menuju ke Kediaman Pangeran Yun untuk memeriksa kesehatannya." Kemudian, ia berjalan keluar dari restoran.

Ning An Lian tidak menaiki kereta kuda yang mencolok saat ia meninggalkan istana hari ini, sebaliknya, memilih naik kereta kuda kayu biasa.

Dengan hati-hati, Piao Xu membantu Ning An Lian naik ke atas kereta sebelum berjalan di sampingnya saat melaju ke depan dengan mantap. Menghadap ke arah tirai kereta, Piao Xu menyanjungnya, "Putri Pertama Kekaisaran, Anda tampak sangat cantik hari ini."

Tawa riang datang dari dalam keretanya sebelum menjadi hening lagi. "Jangan panggil aku Putri Pertama Kekaisaran ketika ada begitu banyak orang di jalanan. Panggil saja aku Nona."

Piao Xu segera merespon, "Nona, hamba akan mengingatnya."

Ning An Lian duduk di dalam kereta sementara ia memainkan kuku berwarna merah menyalanya yang baru saja dicat pagi ini. Ia mengenakan gaun kuning muda, sama seperti pertama kali ia bertemu pria itu.

Feng, karena kau tidak sempat datang menemuiku sementara kau sedang memulihkan diri di Kediaman Pangeran Yun, aku yang akan keluar dari istana untuk menemuimu. Tidak perlu kau meluangkan waktu untuk menemaniku, selama kau senggang saat aku pergi mencarimu.

Ning An Lian membawa perasaan semacam ini sepanjang jalan menuju ke Kediaman Pangeran Yun.

***

Piao Xu membantu Ning An Lian turun dari kereta. Pengawal kekaisaran di Kediaman Pangeran Yun melihat Piao Xu membawa plakat pinggang Putri Pertama Kekaisaran di tangannya dan segera menyambutnya sembari membungkuk. "Bawahan ini memberi hormat pada Putri Pertama Kekaisaran."

Ning An Lian melihat mereka sepintas dan bertanya, "Apakah Pangeran Yun di dalam?"

Beberapa pengawal mengangguk. "Pangeran Yun sedang berada di halaman belakang Kediaman Pangeran Yun. Hanya saja, ia memerintahkan agar tidak mengizinkan siapa pun mengganggunya hari ini."

"Tidak mengizinkan orang luar mengganggunya. Apakah Putri ini adalah orang luar?" Mata Ning An Lian melemparkan tatapan menusuk layaknya belati ke arah pengawal itu seraya melangkah masuk ke dalam Kediaman Pangeran Yun.

Para pengawal saling berpandangan tak berdaya sewaktu Ning An Lian berjalan masuk, tidak berani menghentikannya.

Namun, Piao Xu tidak masuk. Ia tersenyum dan mengeluarkan beberapa tael perak dari dalam lengan bajunya. "Ini diberikan oleh Putri Pertama Kekaisaran. Gunakan untuk membeli anggur."

Beberapa pengawal itu ragu sejenak sebelum menggelengkan kepala mereka. "Bawahan ini tidak berani menerimanya."

Senyum di wajah Piao Xu pun menghilang saat ia menjejalkan perak itu ke dalam tangan salah satu pengawal. "Bagaimana bisa kau membiarkan Putri Pertama Kekaisaran mengambil kembali apa yang telah diberikannya? Simpan baik-baik."

Piao Xu kemudian ikut masuk ke dalam Kediaman Pangeran Yun. Namun, tidak seperti Ning An Lian, ia tidak berani langsung menuju ke lokasi Pangeran Yun. Ia hanya mengarahkan si kusir kereta kekaisaran agar menarik keretanya ke dalam kandang kuda.

Ning An Lian langsung menuju ke halaman belakang Kediaman Pangeran Yun. Ia tahu tempat yang disukainya. Kalau ia berada di suatu tempat di halaman belakang, ia pasti berada di dalam hutan bambunya.

Tetapi, ketika Ning An Lian sampai di hutan bambu, ia tidak menemukan Yun Ruo Feng di sana. Pengawal bilang ia ada di halaman belakang, tetapi kenapa ia tidak ada di hutan bambu?

Ning An Lian memikirkannya serius dan akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa pria itu pasti ada di halaman utama. Masih terlalu awal baginya untuk beristirahat, jadi kemungkinan besar ia ada di ruang baca yang terletak di sana.

Ia tidak bisa istirahat di dalam rumah di siang bolong sekarang ini, barangkali ia berada di dalam ruang baca di halaman utama.

Dengan pemikiran ini, cepat-cepat ia menuju ke sana.

Dalam keadaan normal, tidak akan ada dayang ataupun pengawal di luar halaman utama, diluar waktu pembersihan di pagi, siang, dan malam hari.

Tetapi, ada seorang dayang sedang menyapu halamannya sekarang, setengah jam sebelum tengah hari.

Dayang tersebut baru saja selesai membersihkannya ketika Ning An Lian masuk. Dayang ini baru dan belum pernah melihat Ning An Lian, tetapi aura jahat yang mengelilingi orang itu sudah cukup membuatnya sangat ketakutan.

"Karena kau sudah selesai membersihkannya, cepatlah pergi." Dengan satu kibasan lengan bajunya, Ning An Lian melontarkan perintahnya dingin.

Dayang itu tidak repot-repot bertanya-tanya siapakah gerangan dirinya dan menggumamkan satu kata 'baik' sembari menggigil sebelum melesat keluar dari halaman.

Ning An Lian mendengus dingin. Dasar tidak berguna. Bagaimana bisa orang seperti itu cocok untuk membersihkan halaman utama kediaman pangeran?

Kemudian, Ning An Lian cepat-cepat menuju ke arah ruang baca, sengaja meringankan langkahnya selagi ia mendekati pintunya.

Setelahnya, Ning An Lian mendekatkan telinganya ke pintu dan mendengarkan. Ia ingin tahu apa yang dilakukan Yun Ruo Feng saat ia sedang tidak ada.

Tidak mendengarkan apa pun sewaktu ia mendengarkan, akhirnya Ning An Lian kehabisan kesabaran dan langsung membuka pintu, masuk ke dalam ruang baca. Kebetulan ia melihat Yun Ruo Feng berdiri di depan satu rak buku dengan satu buku di tangannya sewaktu ia masuk.

Setelah melihat Ning An Lian, Yun Ruo Feng meletakkan kembali buku itu ke atas rak, senyum terlintas di wajah tampannya. "Perjamuan kerajaan Nan Zhao sudah sangat dekat. Kenapa kau tidak menurut? Ini bukan waktunya meninggalkan istana."

Ning An Lian maju ke depan, berdiri berjinjit selagi menghampirinya. Lalu, melingkarkan tangannya di sekeliling lehernya, cemberut seraya mencondongkan diri untuk mencium bibir Yun Ruo Feng.

Tepat saat ia baru akan menyentuhnya, pria itu memalingkan kepalanya ke samping dan mendorongnya dengan tangan kanannya. "An Lian, bersikap sopan dan jangan membuat keributan."

"Apa maksudmu dengan membuat keributan? Sudah berapa lama semenjak kau menciumku? Aku merindukanmu dan aku ingin menciummu." Ning An Lian tampak kesal.

Yun Ruo Feng meliriknya. "Selama bertahun-tahun, harapanmu adalah agar bisa menari di perjamuan kerajaan Nan Zhao. Sekarang, karena akhirnya sudah hampir jadi kenyataan ...."

Ning An Lian menyela, "Aku tahu soal tarian itu, kau tidak perlu terus-terusan mengingatkanku. Aku sudah lama melakukan persiapan yang pantas untuk tarian itu."

"Apa kau merasa lebih baik, Feng? Apakah kakimu masih sakit?" Ning An Lian mengalihkan topiknya dan sekali lagi memeluknya.

Yun Ruo Feng tidak mendorongnya dan mengangkat tangan untuk menepuk kepalanya. "Tidak sakit. Cuma, ular krait bukanlah ular biasa, butuh waktu beberapa hari bagiku untuk bisa pulih."

Ning An Lian mengedipkan bulu matanya selagi ekspresinya berubah. Malu-malu, ia mengusapkan kepalanya ke dada pria itu. "Bagaimana kalau tinggal di istana peristirahatanku selama beberapa hari setelah kesehatanmu pulih dan perjamuan kerajaannya berakhir? Kita sudah lama sekali tidak melakukan itu."

Ning An Lian tersipu akibat pernyataannya sendiri. Demi menghidupkan suasananya, aku sengaja mencari wewangian pekasih. Jenis wewangian semacam ini digunakan untuk meningkatkan suasananya, dan bukanlah zat perangsang. Tidak akan menyebabkan kerusakan tubuh.

"An Lian, berpandanganlah jauh ke depan. Sekarang ini, bukan waktunya memikirkan soal itu."

Ekspresi di wajah Ning An Lian berubah. "Feng, kenapa aku merasa kalau kau telah berubah? Dulunya kau tidak begini. Apakah kau takut kalau aku akan mengandung? Kau sama sekali tidak berniat menikahiku, kan?"

Pemikiran seorang wanita yang merasa tidak aman kerap kali seperti ini. Semakin mereka merasa tidak percaya diri, semakin menggila pula kecurigaan mereka jadinya.

Yun Ruo Feng memandanginya dalam diam, sudut bibirnya membentuk senyuman. "Aku akan menikahimu."

"Kalau kau akan menikahiku, kenapa kau takut membuatku hamil? Terlebih lagi, masih bisakah aku mengandung di kehidupan ini?" Ning An Lian mengayunkan tangannya gelisah sewaktu berbicara, menyebabkan kotak pemerah pipi di dalam lengan bajunya jatuh ke lantai.

Ning An Lian sedikit panik ketika ia melihat kotak pemerah pipinya di tanah. Tepat saat ia baru saja akan berjongkok untuk memungutnya kembali, Yun Ruo Feng sudah membungkukkan tubuhnya dan memungutnya.

"Pemerah pipi ini bukan dari istana. Kau membelinya di luar?" Yun Ruo Feng bertanya sementara ia membuka kotak pemerah pipi tersebut.

Ning An Lian ingin segera merampas kotak itu darinya. Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Aku membeli ini untuk meningkatkan suasananya di masa mendatang, untuk membuatnya lebih mendambakan tubuhku.

Biar begitu, sekarang ini, tubuh Feng masih terlalu lemah. Meskipun konsentrasi dari wewangiannya tidak akan menyebabkan kerusakan apa pun padanya, sekarang bukan waktunya.

Kotak pemerah pipinya terbuka dengan bunyi dentingan, membiarkan sejejak aroma bunga persik menguar masuk ke dalam hidung Yun Ruo Feng.

Ia membauinya sebelum menutup tutup kotaknya dan menyerahkannya pada Ning An Lian. "Aromanya wangi. Kenapa sekarang kau jadi suka pemerah pipi berwarna gelap?"

Berwarna gelap? Ning An Lian merasa ada yang salah segera setelah ia mendengar itu. Mungkinkah ini adalah wewangian pekasih yang baru saja dirilis? Bukankah semestinya berwarna merah muda pucat atau merah menyala?

Continue reading CTF - Chapter 127

CTF - Chapter 126

Consort of A Thousand Faces

Chapter 126 : Salah Ambil


Si pengurus mengambil pemerah pipinya, meletakkannya di atas rak, dan tersenyum. "Nona, takutnya, ini adalah toko pemerah pipi, bukannya toko rempah. Aku minta maaf, tetapi, jika kau keluar dan berbelok ke kiri, akan ada satu toko rempah berjarak satu jalan dari sini."

"Tidak, kau punya itu di sini." Suara Piao Xu jadi semakin pelan selagi tubuhnya condong ke depan; ia menggulung lengan bajunya bersamaan dengan kilat halus yang berkedip di matanya.

Su Xi-er tidak tahu apa yang dilihat si pengurus, tetapi senyumnya mendadak berubah sebelum ia mulai bertingkah misterius. Namun, setelah beberapa waktu, satu-satunya perbedaan yang bisa dilihat dari pengamat adalah, ia jadi bertingkah lebih sopan terhadap Piao Xu.

"Nona, kenapa kau tidak bilang kalau kau menginginkan jenis pemerah pipi yang itu sebelumnya? Itu eksklusif; ikutlah ke halaman belakang bersamaku." Si pengurus membawa Piao Xu menuju halaman belakang.

Saat mereka hampir masuk ke pintu bertirai, si pengurus melihat Su Xi-er dan segera menginstruksikan seorang wanita muda. "Pergi dan lihat apa yang dibutuhkan Nona itu."

Si pengurus sudah menjalankan bisnis dalam waktu yang lama, dan akrab dengan berbagai macam pemerah pipi berbeda, alas bedak, dan baju wanita. Ia bisa tahu dengan sekali lihat kalau gaun merah muda panjang yang dikenakan Su Xi-er terbuat dari bahan yang bagus, pertanda kalau mereka harus memperlakukannya dengan baik.

Mengikuti tatapan si pengurus, Piao Xu melirik beberapa kali ke arah Su Xi-er saat ia menyadari kalau orang itu sangat cantik.

"Nona, silakan, sebelah sini." Pengurus itu mengangkat tirainya dan membentangkan tangannya untuk mengundang Piao Xu masuk.

Piao Xu cepat-cepat mengembalikan perhatiannya pada si pengurus dan mengangguk sebelum mengikutinya masuk ke dalam.

Kembali ke ruang depan tokonya, si penjaga toko, tersenyum sumringah dan sangat ramah. "Nona, apakah ini pertama kalinya kau kemari? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Jenis alas bedak apa yang kau butuhkan?"

Su Xi-er sengaja menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sudah pernah kemari beberapa kali, juga sudah pernah membeli beberapa barang." Ucapannya separuhnya benar. Aku pernah kemari sebagai Ning Ru Lan, tetapi tidak pernah sebagai Su Xi-er.

Si penjaga toko tampak terkejut. "Mana mungkin? Kau begitu cantik sampai aku bisa mengingatmu dengan sekali lihat saja. Kalau kau sudah pernah kemari beberapa kali, kenapa kau tampak asing bagiku?"

"Barangkali, kau sedang tidak ada di toko saat aku kemari. Omong-omong, aku hanya membutuhkan bubuk pemerah pipi berwarna gelap hari ini."

Si penjaga toko jadi kian terkejut saat ia mendengar ini. "Warna gelap? Kau muda dan cantik, kenapa menggunakan warna yang ketinggalan zaman? Warna gelap untuk wanita yang berusia empat puluhan. Mereka tidak cocok untukmu."

"Bawakan saja mereka kemari." Nada suara Su Xi-er yakin, menghentikan semua pertanyaan si penjaga toko.

Aku tidak punya pilihan jika ia begitu bersikeras ingin warna gelap, walaupun mereka tidak cocok untuknya.

"Nona, toko kami hanya punya satu jenis pemerah pipi berwarna gelap. Coba lihat dan cium aromanya untuk memeriksa apakah ini bagus?" Si penjaga toko berujar seraya mengeluarkan satu kotak kecil.

Su Xi-er mengambilnya, membukanya. Ada sedikit wangi bunga persik yang tak akan kau sadari jika tidak kau cium dengan saksama. Warnanya juga sesuai untuk tujuanku. "Aku akan mengambil kotak ini. Berapa harganya?"

Si penjaga toko tersenyum. "Satu tael perak murni."

Di toko nomor satu Nan Zhao, pemerah pipi paling biasa dan alas bedaknya bisa berharga satu tael perak. Namun, toko pemerah pipi semuanya punya ciri khas masing-masing—mereka akan menambahkan bunga-bunga khusus di setiap pemerah pipi dan alas bedaknya, bahkan termasuk bunga Ungu Harum dari Kerajaan Xi Liu.

Oleh karena itu, toko pemerah pipi biasanya hanya punya pelanggan orang-orang kaya. Bagi keluarga biasa, mereka hanya akan menggunakan hadiah lamaran dari pengantin pria untuk membelikan pemerah pipi apabila putri mereka akan menikah.

Su Xi-er mengeluarkan satu tael perak dari dompetnya dan menyerahkannya pada si penjaga toko, yang kemudian tersenyum dan menerimanya sebelum menyerahkannya kotak yang telah dibungkus.

"Apakah kau butuh yang lainya?"

Su Xi-er sengaja bertingkah kebingungan dan berkata, "Aku akan pergi membeli sekotak pemerah pipi dan setelahnya menuju ke toko rempah-rempah. Barusan ini, aku dengar si pengurus bilang kalau ada rempah di sini. Kenapa aku tidak sekalian saja membelinya di sini?"

"Nona, itu bukan rempah, melainkan sebuah pemerah pipi beraroma spesial. Namun, jenis pemerah pipi semacam itu hanya dibuat untuk putri-putri dari keluarga bangsawan. Bolehkah aku bertanya, apakah kau adalah ..." Si penjaga toko berbaik hati menjelaskan dengan nada ragu. Hanya jika ia mengumumkan dari keluarga manakah ia berasal, baru ia bisa membeli jenis pemerah pipi spesial ini.

"Aku bukanlah putri dari keluarga bangsawan; keluargaku hanya kaya. Aku ingin tahu apakah tipe pemerah pipi khusus itu bisa membuatku wangi dari dalam keluar?"

Si penjaga toko mengangguk. "Benar, kombinasi dari berbagai macam aroma bunga berbeda membuatnya lain dari pemerah pipi biasanya. Sayang sekali Nona, kalau kau bukan putri dari keluarga bangsawan, kami tidak bisa menjual jenis pemerah pipi itu padamu. Maafkan aku."

Su Xi-er berpura-pura tidak peduli. "Tidak apa-apa, lagipula, kami juga tidak akan sanggup membelinya; aku hanya asal bertanya saja. Silakan teruskan pekerjaanmu. Aku hanya akan melihat-lihat di sekitar, kalau-kalau ada sesuatu yang cocok untuk beberapa saudariku. Kalau aku menemukan apa pun yang cocok untuk mereka, aku akan menyuruh mereka datang kemari dan membelinya di lain hari."

"Baiklah, silakan melihat-lihat. Apa pun yang diletakkan di ruang depan bisa dibeli selama kau punya perak."

Su Xi-er mengiyakan dan mulai melihat sekeliling. Sebenarnya, ia menggunakan ini sebagai alasan untuk menunggu Piao Xu. Kalau ia berada di dalam sana terlalu lama, pasti ada yang mencurigakan tentang pemerah pipi yang dibelinya.

Melihat kalau Piao Xu tidak kunjung keluar setelah sekian lama, kecurigaan Su Xi-er pun meningkat, meski ekspresinya tetap netral.

Tetapi, demi menghindari kecurigaan orang-orang di toko pemerah pipi padaku, aku tidak bisa tinggal di sini lagi.

Su Xi-er menyimpan pemerah pipinya dan pergi keluar. Ia masuk ke dalam satu ruangan pribadi di sebuah restoran dan memesan makanan, makan sampai kenyang sebelum membuka pemerah pipi dan membuat bintik-bintik di wajahnya.

Warna gelapnya mirip dengan warna tahi lalat. Ia mencolek sedikit dengan satu jari, menepukkannya dalam bentuk lingkaran ringan, dan satu tahi lalat pun muncul. Su Xi-er melanjutkan hingga terdapat lima 'tahi lalat' gelap di tiap sisi wajahnya.

Su Xi-er menutup kotaknya puas sebelum berjalan keluar dari restoran. Benar-benar kebetulan, ia melihat Piao Xu berjalan kemari dari seberang jalannya.

Piao Xu terburu-buru dengan kepala yang tertunduk, dan tidak melihat kalau ada orang di depannya.

Keduanya bertabrakan, menyebabkan dua kotak serupa jatuh dari lengan baju Su Xi-er dan Piao Xu. Piao Xu mengutuk, "Apa kau buta?!" Setelahnya, ia cepat-cepat memungut kotak kecil terdekat dengannya dan pergi tergesa.

Su Xi-er memerhatikan sosok Piao Xu yang menjauh dengan hawa dingin di matanya sebelum ia membungkuk untuk memungut kotak yang tersisa.

Ketika tangannya menyentuh kotaknya, ia tahu ada yang tidak benar. Kotak ini bukan punyaku. Piao Xu terburu-buru dan salah mengambil kotaknya.

Kotakku hanyalah pemerah pipi biasa, tetapi kotak ini ... Su Xi-er langsung memasukkan pemerah pipi tersebut ke dalam lengan bajunya dan mulai berjalan keluar dari restoran.

***

Di dalam restoran, ada satu wanita mengenakan gaun kuning terang sedang duduk di bangku utama di ruangan pribadi kelas satu, pelan-pelan menggoyangkan cangkir anggur di tangannya.

Tak lama setelahnya, suara orang mengetuk pintu pun terdengar.

Wanita itu menurunkan cangkir anggurnya dan menyuruh orang itu masuk.

Pintunya langsung terbuka, memperlihatkan Piao Xu, yang cepat-cepat masuk dan menutup pintu di belakangnya.

"Putri Pertama Kekaisaran, pelayan ini telah membawakan apa yang Anda inginkan." Piao Xu mengeluarkan kotak tersebut dari dalam lengan bajunya dan menyerahkannya pada Ning An Lian.

Ning An Lian mengambil kotaknya dan menyentuh permukaan tutupnya perlahan. "Kau tidak ketahuan di tengah perjalanan, kan?" Sudut mulut Ning An Lian naik, membentuk senyum yang nyaris tak terlihat ketika ia berbicara.

Piao Xu langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan cemas, Putri Pertama Kekaisaran, tidak ada seorang pun yang mengetahui hal ini. Pelayan ini menyimpannya di lengan bajuku sepanjang waktu." 

Continue reading CTF - Chapter 126

CTF - Chapter 125

Consort of A Thousand Faces

Chapter 125 : Tidak Akan Mengambil Keuntungan


Su Xi-er memerhatikan sewaktu si juru masak dengan cepat meninggalkan kamar bersama dengan baju kasar yang belum dijahit. Ia pasti ketakutan oleh Pei Qian Hao dilihat dari ekspresi gugupnya itu.

Su Xi-er menengadahkan kepalanya untuk menatap Pei Qian Hao dan melihat kalau alisnya sekarang sudah santai, tetapi tatapannya masih dalam dan tak terbaca.

"Pangeran Hao, si juru masak itu adalah warga Nan Zhao, dan sangat disayangkan, putrinya meninggal bertahun-tahun yang lalu. Saat ia melihat hamba, ia teringat akan putrinya. Apabila putrinya masih di sini, usianya kurang lebih sama dengan hamba." Su Xi-er menyebutkan semua ini dengan jelas untuk menghentikannya mempersulit si juru masak wanita.

"Apa hubungan putrinya denganmu? Apakah kau pikir Pangeran ini mempersulitnya barusan ini?" Pei Qian Hao berujar lambat, tatapannya terus bergerak maju-mundur di tubuh Su Xi-er.

Su Xi-er menggelengkan kepalanya. "Tidak, Anda mempersulit hamba. Si juru masak wanita itu hanya terkena getahnya."

"Mempersulitmu?" Pei Qian Hao terkekeh. Ini termasuk dalam mempersulitnya? Kalau aku ingin melakukan itu, mana mungkin ia masih berdiri di sini dalam keadaan utuh?

"Pangeran Hao, jika Anda tidak suka hamba menjahit baju kasar, maka hamba tidak akan melakukannya lagi. Apa yang ingin Anda perintahkan pada hamba sekarang ini?" Su Xi-er membungkuk dengan ekspresi hormat.

Pei Qian Hao tidak tahan ia bertingkah seperti ini. Wajahnya yang dipenuhi rasa hormat itu semuanya hanyalah akting, dengan ketulusan palsu yang melengkapinya.

Namun, karena ia sudah mengatakan itu, maka aku harus melakukan sesuatu.

"Jadi, apa pun yang Pangeran ini instruksikan padamu agar kau lakukan, kau akan melakukannya? Tak peduli apa pun itu?"

Su Xi-er memikirkannya hati-hati dan menambahkan, "Apabila itu bukanlah sesuatu yang mengerikan dan jahat, dan apabila itu tidak ... mengambil keuntungan dari hamba."

"Mengambil keuntungan darimu? Apakah menurutmu Pangeran ini perlu melakukan itu?" Pei Qian Hao berjalan ke depannya, mengangkat tangannya untuk merapikan beberapa helaian rambut yang terurai di sekitar pipinya.

Su Xi-er tidak bilang apa-apa. Bukannya memang begitu? Ia menyuruhku menciumnya, membuka bajuku dan berbaring di atas ranjang, bahkan menghimpitku di dinding. Masih ada begitu banyak contohnya sampai-sampai aku bahkan tidak bisa lagi mencatat mereka satu per satu.

"Ini sudah pasti bukanlah sesuatu yang sangat jahat, dan tidak akan mengambil keuntungan darimu. Sangat mudah; bawa satu baskom kayu dan setengah berjongkok di dalam kamarmu. Kalau kau tidak bisa bertahan bahkan hanya selama sejam, kau akan langsung dipukuli dua puluh kali."

Su Xi-er bertanya, "Dan kalau hamba menahannya?"

"Kalau kau menahannya selama dua jam, Pangeran ini tidak akan menghukummu."

"Kalau lebih dari dua jam, akankah Anda memberikan hadiah pada hamba?"

Kilatan berminat melintas di mata Pei Qian Hao. "Pangeran ini bahkan tidak langsung menghukummu, tetapi kau sungguh ingin tawar-menawar dengan Pangeran ini?"

"Ini bukan tawar-menawar. Ada satu pepatah yang dikatakan dengan baik—'Hadiah dan hukuman datang beriringan'. Pangeran Hao, apabila aku menahannya lebih dari dua jam, akankah Anda mengizinkan hamba untuk keluar berjalan-jalan?"

"Kau sangat suka berjalan-jalan? Yang terakhir kali itu tidak cukup?"

Su Xi-er mengangguk. "Hamba merasa gelisah terakhir kali karena aku menyelinap keluar. Harap Anda akan mengizinkan hamba keluar dan berjalan-jalan santai di sekitar seorang diri kali ini, Pangeran Hao."

Apa sebenarnya tujuannya, secara khusus memberitahuku ia ingin jalan-jalan sendirian? Apakah ia mengenal seseorang di Nan Zhao?

Pei Qian Hao bingung, tetapi tidak ingin memperlihatkannya di roman wajahnya. Ia hanya langsung mengangguk. "Baiklah, Pangeran ini berjanji padamu." Tatapannya kemudian jatuh pada si baskom kayu, memberi isyarat pada Su Xi-er untuk mulai sekarang.

Su Xi-er mengerti dan membungkuk untuk mengambil baskom kayunya, mengangkatnya di atas kepalanya selagi ia menekuk lututnya dan memejamkan matanya.

Dalam upayanya mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan lebih baik pada kehidupan di barak tentara, Su Xi-er pernah melakukan latihan ini di kehidupan sebelumnya guna meningkatkan kekuatan fisiknya. Ia berlatih bersama Lü Liu setiap malam, mengawasi dan saling mendukung satu sama lain. Ketika ia berlatih, ia suka memejamkan matanya dan membayangkan kehidupannya di masa mendatang.

Tetapi sekarang, meskipun ia memejamkan kedua matanya seperti sebelumnya, keadaan pemikirannya tidak akan pernah sama.

Orang-orang di sekitarnya telah berubah. Bukannya Lü Liu, sekarang adalah Pei Qian Hao.

Pei Qian Hao memandangi penampilan tenangnya dengan ekspresi kontempelasi. Ia tampak familier menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat baskom kayu ke atas dengan posisi setengah berjongkok. Mungkinkah ia sering melakukan ini? Melihat betapa baik ia mengendalikan keseimbangannya, barangkali ia benar-benar bisa menahannya selama dua jam.

Pei Qian Hao terus memfokuskan matanya pada Su Xi-er saat waktu perlahan-lahan berlalu, hanya menyadari kalau satu jam telah lewat ketika ia mendengar jamnya berdentang.

Mata Su Xi-er masih terpejam, napasnya stabil, dan ia hanya sedikit berkeringat di keningnya.

Pei Qian Hao bangkit berdiri dari atas kursi kayu, berjalan mendekatinya, dan mengulurkan tangan mengambil baskom kayunya. "Kau sudah menahannya; Pangeran ini akan mengizinkanmu pergi keluar, tetapi harus besok, tidak hari ini."

Ia meletakkan baskomnya di atas meja setelah berbicara, berbalik meninggalkan kamar.

Su Xi-er berdiri, seluruh tubuhnya kaku dan tegang. Pelan-pelan ia berjalan ke dekat kursi kayu dan mengulurkan tangannya untuk perlahan memijat betisnya.

Sudah lama aku tidak berlatih setengah jongkok. Dengan betapa kurangnya persiapan yang kulakukan terhadap tubuh ini, sungguh tidak mampu bertahan dengan latihan semacam ini.

Su Xi-er menatap ke arah meja sambil terus memijat pahanya.

Aku akan pergi dari rumah pos secara terbuka dan jujur besok. Namun, aku tetap harus menggunakan riasan untuk tampak jelek; mungkin aku hanya akan menambahkan tahi lalat di wajahku.

Setelah itu, Su Xi-er makan sedikit, membersihkan diri, dan pergi tidur. Selama masa itu, tak ada satu pun yang memintanya pergi menemui Pei Qian Hao lagi. Akan tetapi, saat ia terbangun di pagi hari, paha Su Xi-er sangat sakit.

Tubuh ini sangat lemah. Aku harus berupaya lebih keras untuk melatihnya kalau sampai setengah berjongkok saja cukup membuatnya jadi begini.

Melihat ke arah matahari di luar sana dan menyadari bahwa ia sudah kesiangan, Su Xi-er segera bangun dan berpakaian. Cepat-cepat ia membersihkan diri dan makan sedikit sarapan sebelum menuju ke pintu masuk rumah pos, seorang pengawal memanggilnya ketika ia mendekat.

"Pangeran Hao menginstruksikan agar kau cepat pergi dan cepat kembali. Ini ada sekantong perak, ambillah." Si pengawal menyodorkan sekantong perak ke dalam tangannya selagi berbicara.

Pei Qian Hao menyuruh seseorang untuk memberikannya uang, membuatnya teringat akan apa yang diucapkannya, "Apanya yang menyenangkan dari berjalan-jalan tanpa perak?"

"Cepat pergi dan cepat kembali." Si pengawal mengingatkan sebelum ia berbalik pergi menjauh.

Su Xi-er mengencangkan ikatan sekantong perak itu di sekeliling pinggangnya dan berjalan melewati pintu depan, sama sekali tidak menghadapi perlawanan dari para penjaga di gerbangnya.

Rumah posnya terletak di sebuah jalan yang sepi, memperbolehkan Su Xi-er meregangkan tangannya selagi ia menarik napas dalam-dalam, gaun merah muda yang dikenakannya berkibar terkena angin sewaktu ia melakukannya.

Ia berencana untuk pergi ke toko riasan pemerah pipi untuk memakai riasan jelek, ketimbang mengoleskan abu di tembok ke wajahnya lagi.

Sebenarnya, Su Xi-er berharap agar ia punya tampang yang biasa-biasa saja agar ia bisa menghindari masalah.

Tokonya terletak tak jauh dari rumah posnya, hanya berjarak dua jalanan saja. Karena tidak ada banyak pejalan kaki di jam segini, ia cepat-cepat menuju ke arah toko pemerah pipi.

Setelah berjalan sebentar, Su Xi-er melihat papan penanda toko pemerah pipi yang dilapisi dengan sigil emas. Tepat saat ia akan berjalan masuk, satu kereta kuda kayu berhenti di depan toko pemerah pipi, memperlihatkan seorang wanita mengenakan gaun biru tua turun dari sana.

Su Xi-er melihat lebih jelas. Ia adalah ... kepala dayang Ning An Lian, Piao Xu. Apa yang dilakukannya di toko pemerah pipi? Istana kekaisaran memiliki berbagai jenis pemerah pipi, jadi mengapa ia pergi dari istana dan datang kemari?

Su Xi-er berjalan masuk ke dalam toko pemerah pipi dan berpura-pura melihat-lihat barang sementara mendengarkan percakapan Piao Xu dengan si pengurus. Namun, apa yang didengarnya, hanya membuatnya semakin bingung.

"Pemerah pipi ini tidak wangi; bukan seperti apa yang kuinginkan. Aku ingin jenis yang akan tercium wanginya dari dalam keluar." 

Continue reading CTF - Chapter 125