Minggu, 22 Februari 2026

CTF - Chapter 260

Consort of A Thousand Faces

Chapter 260 : Perasaan yang Hangat


Melihat bagaimana ginseng itu akan tergelincir dari bibir Su Xi-er, Pei Qian Hao memutuskan untuk membuka saja mulutnya dan meletakkan potongan ginseng itu di bawah lidahnya.

Namun, ketika ia mengulurkan tangannya untuk melakukan itu, ia menyadari kalau bibirnya dingin, mendorong Pei Qian Hao meraih ke bawah selimut, merasakan tangan gadis itu. Barulah kemudian, ia menyadari kalau tangan Su Xi-er juga kedinginan.

Setelah tidak mendapatkan pengobatan karena luka pedang beracun selain dari mengeluarkan darah, Su Xi-er juga terpaksa menghabiskan malam di dalam ruang bawah tanah yang dingin. Mana mungkin hal seperti ini tidak akan memperburuk kesehatannya?

Jika ini terus berlanjut, Su Xi-er bukannya mati karena racun, tetapi akibat kedinginan. Membiarkan udara dingin memasuki tubuh, sangat tidak baik bagi seorang wanita.

Oleh sebab itu, Pei Qian Hao menatap Guan Xiang dan memerintahkan, "Pilihkan satu kamar yang nyaman dan siapkan penghangat di dalamnya. Cepat."

"Racun di dalam tubuhnya masih belum sepenuhnya keluar, dan satu-satunya hal yang menghentikannya adalah dingin. Jika ia tinggal di dalam kamar yang hangat, dan darahnya mulai mengalir, maka ...."

Pei Qian Hao menyelanya sebelum ia bisa selesai. "Dingin ini akan membunuhnya sebelum racunnya, jika ia terus berada di sini lebih lama lagi."

Guan Xiang mencoba membuka mulut, tetapi pada akhirnya menyerah di bawah pelototan dingin Pei Qian Hao dan meninggalkan ruangan itu, dengan cepat mempersiapkan sebuah kamar.

Pernapasan Su Xi-er begitu lemah, hingga kau hanya bisa mendengarnya jika kau mencondong mendekat. Pei Qian Hao menyelimutinya lagi dan menggendongnya dalam pelukannya.

Merasakan Su Xi-er yang menggigil akibat kedinginan, Pei Qian Hao menggenggam tangannya, dan mendekapnya lebih erat lagi dalam pelukannya. Ia berkata pelan, "Tidak akan dingin lagi, bertahanlah."

Sepertinya, Su Xi-er mendengar kata-katanya. Ia berhenti menggigil dan menekankan dirinya ke bagian terhangat dari tubuh Pei Qian Hao.

Segala reaksi Su Xi-er terlahir dari insting alami manusia. Walaupun sebagian racun telah dikeluarkan untuk mengurangi efeknya, dingin itu menyebabkan bibir dan wajahnya jadi pucat.

Saat mereka sudah setengah jalan menuju ke pintu, tiba-tiba saja, Pei Qian Hao berbalik dan menurunkan Su Xi-er di atas meja. Dalam hatinya, ia merasa tidak yakin, dan melepaskan jubah luarannya sebelum membungkuskan jubah itu di sekitar Su Xi-er. Barulah kemudian, akhirnya ia menggendong Su Xi-er lagi dalam pelukannya.

Guan Xiang berdiri di luar. Segera setelah ia melihat Pei Qian Hao, ia memberitahukan, "Kamar yang kami persiapkan ada di sebelah sana. Kami juga mempersiapkan pemanas, dan akan membawakannya ke sana sebentar lagi." Ia menunjuk ke satu kamar yang ada dekat sana sewaktu ia berbicara. Kamarnya sangat kecil, yang mana akan membuatnya cepat hangat ketika penghangatnya tiba. Ditambah lagi, kamar itu juga kamar yang paling dekat dengan dapur.

Pei Qian Hao mengangguk dan mempercepat langkahnya menuju ke kamar itu.

Ia mengangkat kakinya, menendang pintu kamar itu karena kedua tangannya terpakai. Kemudian, ia menekuk kakinya ke pintu dan mendorongnya hingga tertutup setelah ia masuk.

Sampai di sisi ranjang, dengan hati-hati, Pei Qian Hao menurunkan Su Xi-er sebelum menarik selimut untuk menyelimutinya.

Takut kalau ia akan kedinginan, Pei Qian Hao kemudian hanya duduk di pinggir ranjang dan mengulurkan satu tangan ke bawah selimut untuk menggenggam tangan Su Xi-er yang membeku, menggunakan tangan lainnya untuk memijat titik akupuntur di sebelah telinga gadis itu. Melakukan itu, akan membuat tubuh seseorang perlahan-lahan jadi hangat.

Su Xi-er yang tak sadarkan diri, merasakan sumber panas dan segera bersandar ke arahnya. Tiba-tiba saja, Pei Qian Hao merasa bahwa gadis itu sangat bergantung padanya.

"Pemanasnya ada di sini." Suara Guan Xiang terdengar dari luar kamar.

Pei Qian Hao menjawab, "Bawa masuk."

Segera setelah ia menjawab, dua sastrawan membuka pintu dan membawakan pemanas ke dalam sebelum pergi.

Lalu, Guan Xiang masuk dan menatap Su Xi-er selagi ia menutup pintu di belakangnya. "Aku harap, Nona akan baik-baik saja."

Pei Qian Hao membalas pelan, "Dengan adanya Pangeran ini, ia akan baik-baik saja. Pangeran ini tidak akan membiarkan apa pun terjadi padanya."

"Pangeran Hao, apa yang kurang dari kita sekarang ini adalah ramuan obat. Pangeran Yun telah menutup semua toko obat dan pegunungan. Wilayah di sekitar Asosiasi Sastra juga telah ditutup. Dengan kedatangan Anda, aku takut kalau Pangeran Yun akan segera muncul."

"Tentunya, biarkan saja dia muncul. Apa kau pikir Pangeran ini takut padanya?"

Guan Xiang tertegun sejenak sebelum ia meneruskan, "Karena kita tidak berada di Bei Min, sudah pasti Anda akan dibatasi dalam beberapa cara, Pangeran Hao."

Pei Qian Hao tetap diam, tetapi kilat dingin melintas di matanya. Dan itu memberinya hak untuk menyerang dayangku?

"Pangeran ini tidak berencana untuk ikut campur dalam urusan Nan Zhao, tetapi itu tidak berarti Pangeran ini tidak berani melakukannya," Pei Qian Hao menyatakan dengan tenang. Tatapannya kemudian tertuju pada Su Xi-er; tangannya tidak pernah berhenti memijat titik akupuntur di dekat telinganya.

Mungkin, karena efek obat dari potongan ginsengnya, atau pijatan di titik akupunturnya, tetapi Su Xi-er membuka matanya, bengong, dan melihat wajah tampan Pei Qian Hao yang membesar di hadapannya.

"Mengapa Anda di sini?" Su Xi-er bertanya pelan sebelum memindai sekelilingnya.

"Mengapa Pangeran ini tidak bisa ada di sini? Jika Pangeran ini tidak di sini, kau mungkin sudah kehilangan nyawamu."

"Dengan Pangeran Hao yang menjagaku, mana mungkin hamba mati semudah itu?" Su Xi-er memaksakan seulas senyuman, tetapi bibirnya sangat pucat dan kering hingga menyakitkan untuk dilihat.

Pei Qian Hao mengerutkan kening. "Tidak ada yang memaksamu, jadi jangan memasang senyuman jika kau merasa sakit. Tampak lebih buruk daripada saat kau menangis; jelek sekali."

"Apakah hamba jelek?" Su Xi-er mendadak bertanya, kata-katanya memberikan Pei Qian Hao perasaan kalau gadis ini sedang tidak berpikiran lurus.

Hanya orang-orang yang sedang tidak berpikiran lurus yang akan mendadak mengoceh tentang hal-hal aneh.

Oleh sebab itu, reaksi pertama Pei Qian Hao adalah mengulurkan satu tangan, menyentuh keningnya. Kemudian, ia menyadari kalau Su Xi-er demam.

Tubuhnya dingin, tetapi keningnya panas. Tertimpa begini banyak kemalangan setelah menjauh dariku. Kalau aku tahu ia akan berakhir dalam keadaan seperti ini, aku tidak akan memberikannya waktu dua hari.

Pei Qian Hao menatap Guan Xiang. "Bawakan satu baskom air panas dan handuk bersih."

"Baiklah, aku akan mengambilkannya sekarang juga." Guan Xiang menjawab dan segera berbalik menuju ke pintu keluar kamar, menutup pintu saat ia keluar.

Dengan adanya pemanas, kamar itu berangsur menjadi lebih hangat. Ini akhir musim gugur, dan biasanya belum waktunya memakai pemanas. Merasakan ia sudah tidak lagi dingin, Su Xi-er mencoba bangun dari bawah selimut, tetapi dihentikan oleh satu tangan yang besar.

"Jangan nakal," Pei Qian Hao menceramahinya dengan suara yang rendah.

"Pangeran Hao, hamba sudah dalam keadaan begini, tetapi Anda masih begitu galaknya?" Su Xi-er menatapnya, sementara matanya mendadak melengkung jadi bulan sabit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.

Pei Qian Hao merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres saat ia melihat keadaan Su Xi-er saat ini. "Kapan Pangeran ini galak padamu? Kaulah orang yang selalu pemberani selama ini."

"Tidak galak pada hamba? Mengikat tangan hamba dan ingin menyeret hamba di belakang kereta kuda. Di Provinsi Bulan, Anda menyuruh hamba memegangi satu baskom kayu dan berlutut di tanah. Dan ...."

"Pandai bicara. Kalau kau tidak membuat Pangeran ini marah, mengapa Pangeran ini akan menghukummu? Pangeran ini tidak menyadari kalau kau pandai sekali mendendam."

Mata berbentuk bulan sabit Su Xi-er pun kembali normal, dan senyumannya perlahan-lahan lenyap. "Pangeran Hao, hamba ini pandai dalam mendendam. Hamba akan mengingat siapa saja yang menindasku dalam hati, dan memastikan untuk membalas mereka berkali-kali lipat di masa depan."

"Ini boleh juga. Pangeran ini bisa menindasmu dengan keras; lalu kau bisa membalasnya dengan mengikuti Pangeran ini kemana pun dari dekat." Pei Qian Hao terkekeh sementara tangannya yang ada di bawah selimut menyelimuti tangannya dengan erat, menghangatkan mereka.

Su Xi-er tidak menduga reaksinya. "Saat kita kembali ke Bei Min, hamba ingin kembali ke Istana Samping, dan tidak bisa melayani Anda lagi, Pangeran Hao."

Pei Qian Hao bertanya kalem, "Apa kau sebegitu sukanya menggosok pispot?"

Continue reading CTF - Chapter 260

CTF - Chapter 259

Consort of A Thousand Faces

Chapter 259 : Bertemu Dengannya


Pengawal itu mengesampingkan keraguan dalam hatinya dan mengangguk sebelum dengan cepat mengikuti Yu Xiao, mengawasi orang itu dari kegelapan.

Pei Qian Hao melihat ke salah satu toko obat di samping. Ia membutuhkan ginseng untuk mempertahankan pernapasannya, dan aku teringat kalau ada akar ginseng berumur seribu tahun di antara hadiah-hadiah yang Bei Min persiapkan untuk Nan Zhao. Beruntungnya, pengawal lupa membawakannya, meninggalkannya tergeletak di rumah pos.

Pei Qian Hao segera berbalik dan menuju kembali ke rumah pos. Tak lama setelahnya, ia memerintahkan kusir untuk bergegas sewaktu mereka melakukan perjalanan menuju ke Asosiasi Sastra dengan ginseng di tangannya.

Untuk menghindari deteksi, Pei Qian Hao memerintahkan si kusir untuk berhenti di jalan dekat sana, daripada langsung menuju ke Asosiasi Sastra. Meskipun ia sedang cemas, ia masih harus menjaga pikiran tetap tenang.

Suara pengawal terdengar pelan dari luar kereta kuda, "Pangeran Hao, setiap jalan dipenuhi pengawal kekaisaran. Semakin dekat kita ke Asosiasi Sastra, semakin banyak mereka. Dilihat dari baju mereka, mereka berasal dari Kediaman Pangeran Yun."

Pei Qian Hao mengangguk. Sekitar Asosiasi Sastra telah ditutup oleh Yun Ruo Feng. Ia mengangkat tirai kereta kuda dan melihat para pengawal yang telah membuat barikade di pintu masuk jalannya dan memeriksa setiap penduduk.

Seluruh jalan dipenuhi pengawal dari Kediaman Pangeran Yun, begitu pula dengan Pasukan Tentara Kekaisaran dari istana. Tampaknya, Yun Ruo Feng yakin bahwa pembunuh Wei Mo Hai ada hubungannya dengan Asosiasi Sastra. Mungkin ia bahkan mulai mencurigai Su Xi-er.

Kilat tajam melintas di mata Pei Qian Hao. Jika kau tidak mengutus Wei Mo Hai untuk membunuh dayang Pangeran ini, ia tidak akan mati. Walaupun Pei Qian Hao tidak yakin apakah Su Xi-er yang membunuh Wei Mo Hai, ia tahu kalau gadis itu entah bagaimana, pasti ada hubungannya.

"Pangeran Hao, apa yang harus kita perbuat sekarang?" Suara si pengawal pun terdengar lagi.

Pei Qian Hao membalas dengan suara rendah, "Kembalilah dulu. Pangeran ini akan turun." Kemudian, Pangeran Hao meletakkan ginseng ribuan tahunnya ke dalam lengan jubahnya, mengangkat tirai, dan melangkah keluar dari kereta.

"Kembali ke rumah pos sesegera mungkin." Pei Qian Hao memberikan perintah sebelum ia berbalik menuju ke Asosiasi Sastra. Daripada menyelinap masuk ke dalam Asosiasi Sastra, akan lebih baik bagiku untuk langsung masuk ke dalam.

Pengawal itu memerhatikan sewaktu Pangeran Hao menghilang di kejauhan sebelum ia mengangkat cemeti dan memecutnya, mengendarai kereta kuda kembali ke rumah pos.

Pei Qian Hao ditemukan oleh seorang pengawal dari Kediaman Pangeran Yun tak lama setelahnya. Mengetahui kalau ia sedang berbicara pada Pangeran Hao, pengawal itu menyapanya dengan hormat, tetapi memastikan untuk menyampaikan perintah Pangeran Yun juga. "Pangeran Hao, perjamuan kerajaan Nan Zhao telah berakhir, dan para tamu dari berbagai kerajaan juga sudah pulang. Apabila Anda ingin terus menikmati pemandangan indah Nan Zhao, mengapa tidak biarkan Pangeran Yun sendiri yang memandu Anda?"

Pei Qian Hao membubarkan si pengawal dengan lambaian tangannya, "Tidak perlu. Pangeran ini paling benci saat orang lain mengikutiku kemana-mana ketika aku menikmati pemandangan."

Pengawal itu mengerti kata-kata Pei Qian Hao, tetapi ia masih tidak bisa membiarkan Pangeran Hao mendekati Asosiasi Sastra. "Pangeran Hao, sebenarnya adalah, Pangeran Yun telah memerintahkan agar orang luar tidak diizinkan untuk mendekati sekitar Asosiasi Sastra. Hanya penduduk yang tinggal di dalam wilayah ini saja yang boleh keluar-masuk. Silakan lihat; bawahan ini harus melakukan pemeriksaan yang ketat pada mereka setiap hari. Bawahan ini berharap agar Anda dapat mengerti bahwa Nan Zhao ...."

Sebelum si pengawal bisa selesai, ia disela oleh Pei Qian Hao yang tampak santai, namun nada bicaranya mengesankan. "Pangeran ini mengagumi keberanian orang-orang dari Asosiasi Sastra setelah mereka melakukan protes di Sungai Air Caltrop. Hari ini, Pangeran ini secara khusus datang kemari untuk mengunjungi Asosiasi Sastra."

Pei Qian Hao mengungkapkan tujuannya secara blak-blakan. Pangeran ini bertekad untuk pergi ke Asosiasi Sastra hari ini. Apa yang dapat kalian perbuat tentang itu?

Pengawal itu dapat merasakan kekuasaan Pei Qian Hao. Ini membuatku dalam kesulitan. Apa yang harus kulakukan?

Tepat saat Pei Qian Hao baru akan menerobos masuk, Qin Ling tiba. Ia telah mendengar dari bawahannya bahwa Pei Qian Hao datang dan bergegas kemari secepat yang ia bisa. Setelah memberikan hormatnya, ia mulai berbicara sungguh-sungguh. "Karena Pangeran Hao bertekad untuk masuk, kami, para pengawal sudah pasti tidak akan sanggup menghentikan Anda." Setelah mengatakan itu, Qin Ling menoleh pada si pengawal di sebelahnya. "Biarkan ia masuk."

"Pengawal Kekaisaran Qin, ini ...."

"Pangeran Yun menutup jalanan ini untuk menemukan siapa pembunuh Komandan Wei. Apa kau pikir, Pangeran Hao adalah pembunuhnya? Cepat biarkan ia masuk." Kemudian, dengan cermat, Qin Ling mempelajari ekspresi Pei Qian Hao dan menemukan mata orang itu tampak cerah, ekspresinya tenang.

Pei Qian Hao melemparkan lirikan pada Qin Ling dan masuk ke area itu, menuju ke Asosiasi Sastra.

Setelahnya, Qin Ling segera memerintahkan bawahan yang ada di sebelahnya, "Segera pergi ke Kediaman Pangeran Yun dan beritahukan Pangeran Yun bahwa Pangeran Hao sedang menuju ke Asosiasi Sastra."

"Baik, bawahan ini akan pergi sekarang juga." Lalu, pengawal itu menaiki kudanya dan melecutkan cemetinya sebelum bergegas.

Tepat saat ia memerhatikan kuda yang menghilang ke kejauhan, bawahan lainnya menghampiri Qin Ling dan berujar pelan, "Bawahan ini pantas mati. Suami wanita itu telah dibunuh, tetapi karena kelalaian bawahan ini, anaknya sudah dibawa kabur di tengah-tengah kekacauan."

Bahkan tanpa ia menyatakan secara eksplisit siapa yang tengah dibicarakannya, Qin Ling tahu siapa yang dimaksud oleh bawahannya itu—si wanita yang dicintai Komandan Wei.

"Bagaimana dengan wanita itu? Apakah ia bersedia menjaga makam Komandan Wei?"

"Akhirnya ia bersedia setelah diancam dengan nyawa dari keluarga gadisnya. Namun .... Jenazah Komandan Wei dibawa pulang ke kampung halamannya kemarin. Wanita itu setuju menjaga makamnya pagi ini, hanya untuk menumburkan kepalanya ke tembok dan bunuh diri di depan jasad Komandan Wei."

Mendengarkan kata-kata pengawal itu, Qin Ling merasakan sakit di hatinya. Arwah Komandan Wei pasti tidak akan tenang jika ia mendengar tentang ini di alam baka. Namun, kami tidak bisa menentang perintah Pangeran Yun.

"Haruskah kita melaporkan ini pada Pangeran Yun?"

Menghadapi pertanyaan bawahannya, Qin Ling pun mengambil keputusannya sendiri. "Jangan laporkan padanya soal ini. Cukup katakan saja kalau anaknya sudah dibunuh. Jangan beritahukan padanya tentang kematian wanita itu juga. Masalah ini akan jadi rahasia di antara kau dan aku."

(T/N : kan, Qin Ling ini masih baik u.u kasian dapat atasan modelan si yunyun =___=)

"Bawahan ini pasti akan menjaga mulutku tetap tertutup."

Qin Ling membubarkannya dengan lambaian tangannya. "Teruskan menjaga jalan."

Bawahannya mengiyakan dan berjaga di pinggir jalan.

***

Sementara itu, Pei Qian Hao sudah sampai di depan Asosiasi Sastra dan mengetuk pintu depannya. Pria tua yang membukakan pintunya tidak mengenali Pei Qian Hao dan seketika itu juga memberitahukannya, "Hari ini, Asosiasi Sastra tidak buka. Datanglah lagi lain hari."

Kesabaran Pei Qian Hao sudah hampir habis sebelum sampai di Asosiasi Sastra. Ia harus menemui Su Xi-er sesegera mungkin. Dengan demikian, ia mengangkat satu tangan dan mendorong pintunya dengan cukup tenaga untuk membuat si pria tua itu mundur.

Tidak mengetahui siapa orang yang ada di hadapannya, pria tua itu merasa cemas selagi ia cepat-cepat mengunci pintu asosiasi dan mengikuti di belakang Pei Qian Hao.

Memasuki aula bagian dalam, pria tua itu berteriak, "Cepatlah kemari, ada orang yang menerobos masuk!"

Langsung saja, banyak sastrawan yang bermunculan di aula bagian dalam, memandangi Pei Qian Hao dengan berbagai tingkat kewaspadaan.

Tak lama setelahnya, Guan Xiang muncul juga. Setelah melihat Pei Qian Hao, Guan Xiang terkejut sejenak sebelum membungkuk untuk menyapanya. "Orang biasa ini memberi hormat pada Pangeran Hao dari Bei Min."

Nilai keterkejutan dari kata-kata, 'Pangeran Hao dari Bei Min', sangatlah tinggi. Kewaspadaan di mata para sastrawan pun dengan cepat menjadi kaget.

"Dimana dayang Pangeran ini?"

Mendengar kata-kata 'dayang Pangeran ini', mata Guan Xiang diliputi dengan keraguan. "Nona adalah dayang Pangeran Hao?"

"Dimana dia?" Kesabaran Pei Qian Hao sudah berada di ujung tanduk sewaktu ia mengarahkan sikap mengancamnya pada Guan Xiang.

"Di ruang rahasia. Pangeran Hao, silakan ikuti orang biasa ini." Guan Xiang dapat melihat kegelisahan di kedalaman mata Pei Qian Hao. Karena ia datang kemari, ia pasti punya suatu cara untuk menyelamatkan Nona!

Guan Xiang membubarkan sisa sastrawan lainnya dan membawa Pei Qian Hao masuk ke dalam ruang rahasia.

Banyak lilin yang menyala di dalam ruang rahasia, cahaya mereka menyinari seluruh terowongannya terang benderang.

Pei Qian Hao memasuki ruang rahasia, melihat sosok mungil yang berbaring di atas tempat tidur kayu, ditutupi dengan sehelai selimut abu-abu.

Dengan cepat ia berjalan menuju ke arah tempat tidur dan melihat wajah yang akrab itu di depannya. Wajah gadis itu yang semula berseri-seri, kini sepucat mayat, tanpa adanya sejejak pun warna merah muda di bibirnya.

Pei Qian Hao ingin mengangkat tangannya untuk mengelus wajahnya, tetapi ada hal yang lebih penting untuk dilakukannya sekarang. Ia segera mematahkan sepotong kecil ginseng, memasukkannya ke dalam mulut Su Xi-er.

Continue reading CTF - Chapter 259

CTF - Chapter 258

Consort of A Thousand Faces

Chapter 258 : Menunggu


Pei Qian Hao duduk di bangku utama di rumah pos dengan seteko teh di atas meja. Tadinya, ia ingin minum anggur, tetapi tiba-tiba saja teringat kata-kata Su Xi-er. "Pangeran Hao, jangan minum terlalu banyak."

Sebagai hasilnya, ia pun terjebak dalam minum teh. Su Xi-er akan kembali pukul lima sore hari ini, batas waktu yang kuberikan padanya.

Menyadari aura membekukan di sekeliling Pangeran Hao, para pengawal pun undur diri dari aula utama, tidak berani membuat suara sedikit pun; tiba-tiba saja, rumah pos jadi sangat senyap.

Pei Qian Hao tetap di tempat duduknya, mengutak-atik cangkir tehnya dan mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Lebih dari apa pun, ia sedang memerhatikan pintu masuk aula utama.

Tetapi, biarpun ketika pengawal datang untuk mengantarkan makanannya pukul lima sore, Su Xi-er masih belum menampakkan dirinya.

Wanita ini benar-benar lancang sekali, terlambat. Mungkin, ia menjalani kehidupan yang santai di luar sana hingga ia telah melupakanku.

Tepat saat ini, seorang pengawal berjalan masuk ke aula utama bersama sepucuk surat dan membungkuk dengan hormat. "Pangeran Hao, surat merpati pos Komandan Wu."

Pei Qian Hao mengambil surat itu dan membacanya sepintas. Wu Ling menyebutkan bahwa Tuan Pei dan Ibu Suri telah menghalangi percobaannya untuk menangkap Pei Yong. Ia berharap agar Pangeran Hao akan cepat-cepat kembali ke Bei Min demi mengatasi situasi ini.

Pei Qian Hao melipat surat itu dan menginstruksikan si pengawal yang berdiri di sisinya. "Bakar."

Pengawal itu mengambil suratnya dan bertanya dengan hati-hati, "Pangeran Hao, dengan berakhirnya perjamuan kerajaan Nan Zhao, apakah kita kembali ke Bei Min hari ini?"

Suara Pei Qian Hao tenang. "Su Xi-er belum kembali." Ia melirik ke pintu masuk aula utama. Aku akan berikan tambahan waktu satu jam. Jika ia masih belum kembali saat itu, ia siap untuk dipukuli!

Si pengawal mengamati ekspresi Pangeran Hao dengan cermat sebelum merenungi kata-katanya. Kami masih belum bisa kembali ke Bei Min karena Su Xi-er belum kembali. Berani sekali dia, dari semua orang, membuat Pangeran Hao menunggunya. Kemana perginya dia?

Tidak berani menyuarakan ini dengan lantang, si pengawal pun buru-buru membawa surat itu dan keluar dari aula, bersiap untuk membakar surat itu seperti yang diperintahkan. Tepat saat ia melangkah ke luar, ia melihat salah satu rekannya sedang masuk dengan jejak yang mendesak di sekelilingnya.

Setelah pengawal lainnya masuk, ia pun membungkuk dan melaporkan, "Pangeran Hao, Putri Pertama Kekaisaran tidak sadarkan diri. Berdasarkan diagnosis tabib kekaisaran, entah ia jadi gila atau akan menjadi mayat hidup. Komandan Wei-nya Nan Zhao juga meninggal secara misterius kemarin."

Tadinya, Pei Qian Hao tidak peduli, tetapi mengerutkan alisnya mendengarkan kabar yang kedua. "Kapan Komandan Wei meninggal? Dimana jasadnya ditemukan?"

Pengawal itu menjawab dengan hormat. "Aku dengar kalau ia meninggal semalam di dalam sebuah gang yang tak terpakai di ibu kota. Sementara untuk waktu spesifik kematiannya, bawahan ini tidak mengetahuinya."

Kilat yang kasar melintas di mata Pei Qian Hao. Saat para sastrawan dari Asosiasi Sastra melakukan celaan pada Pangeran Yun, Su Xi-er berada di dalam kerumunan warga. Apakah Yun Ruo Feng salah paham, mengira ia merupakan bagian dari kerusuhan itu dan mengutus Wei Mo Hai untuk membunuhnya? Tetapi, yang berakhir mati malah adalah Wei Mo Hai sendiri.

Pei Qian Hao mengikuti rentetan pemikiran ini sebentar lagi sebelum menghilangkannya. Setelah merenungi situasinya sedikit lagi, ia berhasil menata pemikirannya. Kematian Su Xi-er akan sama dengan kesepakatan yang dibatalkan. Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao tidak perlu pergi ke Makam Kekaisaran.

Wow, rencana yang hebat sekali, Yun Ruo Feng. Kau bahkan berani menyentuh dayang Pangeran ini.

Pei Qian Hao melambaikan tangannya. "Cepatlah pergi dan selidiki apakah Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao sungguh tidak sadarkan diri atau berpura-pura. Sebarkan kabar di antara para penduduk juga. Semakin banyak orang yang mengetahuinya, makin baik."

"Bawahan ini mematuhi perintah." Pengawal itu bergegas pergi.

Pei Qian Hao tak lagi tetap duduk di rumah pos. Barangkali, alasan Su Xi-er belum kembali, bukannya karena ia tidak ingin, tetapi karena ia tidak bisa. Bagaimanapun juga, orang yang dikirim untuk mengejarnya adalah Wei Mo Hai. Walaupun, orang itu mati, bukan berarti kalau Su Xi-er lepas tanpa terluka ....

Memikirkan ini, Pei Qian Hao segera berjalan keluar dari aula utama dan langsung menuju ke pintu masuk rumah pos. Pengawal yang berdiri di pintu masuk rumah pos bahkan tidak berani bernapas saat mereka melihat aura dingin yang menyelimuti Pei Qian Hao. Mereka saling melemparkan tatapan keheranan setelah sang pangeran pergi.

Akhirnya, salah satu dari mereka mengusulkan, "Aku akan pergi dan mengikuti Pangeran Hao, berjaga-jaga jika ia perlu menyuruh seseorang." Kemudian, ia cepat-cepat berlari untuk menyusul Pei Qian Hao.

Pei Qian Hao mengamati lingkungan sekitarnya dengan cermat selagi ia berjalan-jalan. Setelah beberapa waktu, ia menyadari kalau semua toko obat sudah dipaksa tutup.

"Haah, apa yang harus kulakukan dengan semua toko obatnya yang tutup saat istriku sakit?"

"Itu benar! Bahkan, pegunungannya saja ditutup, jadi aku bahkan tidak bisa memetik ramuan obat sendiri. Aku bisa menahan flu ringan yang kualami sekarang, tetapi tidak akan segampang itu jika aku menderita penyakit berat!"

"Benar sekali, mengapa Pangeran Yun menurunkan perintah semacam itu? Ia menyatakan kalau ia hanya akan membatalkan perintah itu setelah pembunuh Komandan Wei tertangkap."

Alis Pei Qian Hao tertaut, langkahnya jadi berat sekarang, karena ia memahami apa yang tengah terjadi.

Ada firasat buruk dalam hatinya. Semua toko obat ditutup, dan pegunungan disegel, mencegah siapa pun memetik tanaman obat sendiri. Jika Su Xi-er terluka parah tanpa adanya akses pada obat-obatan ....

Pei Qian Hao teringat apa yang diucapkan oleh salah satu warga barusan ini dan jadi tidak tenang. "Aku bisa menahan flu ringan yang kualami sekarang, tetapi tidak akan segampang itu jika aku mengalami penyakit yang berat!"

Pei Qian Hao menatap lurus ke depan, ada perasaan yang tak dapat dijelaskan dalam hatinya, yang memberitahukan padanya bahwa Su Xi-er berada di Asosiasi Sastra.

(T/N : yang bucinnya udah ngalahin suami-istri mah beda, pake feeling aja uda bener terus nebaknya wkwk.)

Pei Qian Hao mulai berjalan menuju ke Asosiasi Sastra segera setelah pemikiran ini muncul padanya, bahkan lupa untuk memanggil kereta kuda. Dikatakan bahwa Asosiasi Sastra berjarak cukup jauh—butuh dua jam dengan berjalan kaki kecuali kau melompat-lompat di atas atap.

Ketika pengawal yang mengikuti Pei Qian Hao melihat ia mempercepat langkahnya, ia segera mengusulkan, "Bawahan ini akan membawa sebuah kereta kuda kemari."

Kebetulan sekali, seorang pemuda dengan kendi anggur di pinggangnya berjalan mendekat; tak lain tak bukan, adalah Yu Xiao.

Pei Qian Hao teringat melihatnya ketika Asosiasi Sastra sedang mencela Pangeran Yun. Pria ini berada di sebelah Su Xi-er.

Pei Qian Hao melambaikan tangannya, memberi sinyal pada si pengawal untuk pergi. Kemudian, ia berjalan ke arah Yu Xiao dan menatapnya dingin.

"Kau adalah?" Ekspresi Yu Xiao serius. Aura dingin dan mengesankan pria itu membuatnya waspada.

"Wanita bergaun cyan. Ia memakai hiasan rambut hijau giok beruntai."

Yu Xiao segera memahaminya. Pria di hadapanku ini mengenal Nona. Hanya saja, hiasan rambut beruntainya sudah hilang.

Biar begitu, ia tetap tidak berani menurunkan kewaspadaannya. "Siapa kau? Mengapa kau memberitahukan ini padaku?"

"Ia adalah dayang Pangeran ini. Bagaimana keadaannya?" Pei Qian Hao merendahkan suara dinginnya.

Yu Xiao tertegun. Dayang Pangeran ini? Pria di depanku ini bukanlah Pangeran Yun tetapi .... Pangeran Hao dari Bei Min! Nona sebenarnya adalah dayang Pangeran Hao.

Yu Xiao tidak yakin tentang kepribadian Pangeran Hao, tetapi, kekuatan nasional Bei Min di peringkat pertama. Sebagai Prince Regent dari suatu bangsa yang kuat seperti Bei Min, paling tidak, kepribadiannya sopan.

"Nona ada di Asosiasi Sastra. Ia terluka parah, dan masih tidak sadarkan diri. Aku membantunya mengeluarkan darah beracunnya kemarin, tetapi aku membutuhkan sejenis tanaman obat. Sekarang ini, aku sedang dalam perjalanan ke gunung untuk memetiknya, tetapi aku takut kalau Nona tidak akan sanggup bertahan. Ia harus mengemut sepotong ginseng di mulutnya hanya untuk bertahan."

Alis Pei Qian Hao mengerut. Terluka parah dan membutuhkan ginseng untuk mempertahankan hidupnya ....

"Pangeran Hao, aku akan serahkan masalah ginseng padamu. Aku akan pergi memetik tanaman obatnya sekarang." Yu Xiao pun memutar kepalanya ke pinggiran kota.

Pei Qian Hao segera menginstruksikan pengawal. "Ikuti ia diam-diam dan lindungi dia, untuk memastikan kalau ia bisa berhasil mendapatkan ramuan obatnya."

Continue reading CTF - Chapter 258

CTF - Chapter 257

Consort of A Thousand Faces

Chapter 257 : Bila Ia Tidak Kembali


Mata Ning An Lian jadi kabur setelah mendengarkan kata-kata terakhir Piao Xu, benaknya jadi kosong di waktu yang bersamaan. Kematian pelayannya akhirnya cukup mengguncang Ning An Lian menjadi benar-benar terperangah.

Aku sudah akan dibawa ke Makam Kekaisaran, martabatku sebagai Putri Pertama Kekaisaran tidak ada artinya. Dan apa yang kudapatkan setelah merencanakan siasat untuk waktu yang sangat lama?

Aku kira kalau aku telah mendapatkan cinta Yun Ruo Feng, sesuatu yang kudambakan untuk waktu yang paling lama. Pada akhirnya, aku hanya tengah membohongi diriku sendiri.

Ia menatap kosong ke arah Piao Xu yang sudah mati sebelum mendongakkan kepalanya untuk menatap Ning Lian Chen. Suaranya tak lagi terdengar tajam, sebaliknya, mengandung sejejak melankolis. "Karma. Baru sekarang aku memahami bagaimana perasaan Ning Ru Lan ketika ia dipenjarakan."

Tidak ada air mata. Kesedihan Ning An Lian tidak bisa diungkapkan hanya dengan air mata belaka. Perasaan di dalam hatinya tertekan sesak di dalam dadanya, tidak memberinya jalan untuk melampiaskannya.

Tiba-tiba saja, Ning An Lian bangkit berdiri dan tertawa suram. "Ning Ru Lan, aku semenyedihkan dirimu. Haha, bahkan setelah kematianmu, hari-hariku tidak jadi lebih baik. Karma, semuanya karma!" Kedengkian terpancar di mata Ning An Lian sewaktu ia menyelesaikan kalimatnya; tidak ada yang mampu menghentikannya, dengan cepat ia menumburkan kepalanya lebih dulu ke pilar merah tebal di dalam istana peristirahatan tersebut.

Suara tabrakan yang kencang terdengar sewaktu Ning An Lian jatuh ke lantai seperti sebuah boneka yang rusak, tangannya jatuh tak berdaya di sampingnya, sementara darah mengalir layaknya sungai dari kepalanya. Itu merupakan pemandangan yang mengerikan.

Ning An Lian melepaskan dua tawa kosong dan bergumam di bawah napasnya, "Ibunda Kekaisaran benar. Pria, semuanya tidak setia dan kejam." Suaranya berangsur melemah sebelum akhirnya ia menutup kedua matanya, tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pergerakan.

Dengan dingin Ning Lian Chen menonton adegan tersebut sebelum menggesturkan pengawal yang ada di sebelahnya. "Panggil Tabib Kekaisaran Fang."

Pengawal itu segera menerima perintahnya sebelum berbalik menuju Biro Tabib Kekaisaran. Sementara itu, Ning Lian Chen berjalan ke arah Ning An Lian dan meletakkan satu tangan di lehernya. "Tidak cukup kuat. Masih ada denyut nadinya."

Tak lama setelahnya, Tabib Kekaisaran Fang bergegas datang bersama kotak obat, ekspresinya jadi kaku saat ia melihat pemandangan di depannya. Butuh sesaat sebelum ia sanggup menenangkan dirinya sendiri dan menyapa Ning Lian Chen. "Pejabat rendahan ini memberi hormat kepada Yang Mulia."

Ning Lian Chen berdiri dan melambaikan tangannya. "Kemari dan periksa Putri Pertama. Masih ada denyut nadinya."

Tabib Kekaisaran Fang menerima perintah tersebut dan bergegas pergi ke sisi Ning An Lian. Ekspresinya tampak berat selagi ia mengulurkan tangan untuk memeriksa denyut nadinya, mengeluarkan beberapa jarum perak tak lama setelahnya. Menancapkan jarum-jarum itu ke philtrumnya dan beberapa titik akupuntur lainnya di kepala Ning An Lian, ia berhasil menghentikan pendarahannya, bahkan pernapasannya pun jadi stabil.

"Pelayan, bawa Putri Pertama ke ranjangnya untuk istirahat. Kirim ia ke Makam Kekaisaran setelah kesehatannya pulih." Ning Lian Chen memerintahkan bawahannya.

Tabib Kekaisaran Fang memerhatikan Putri Pertama dibawa pergi untuk sesaat sebelum memindai sekitarnya. Tampaknya, Yang Mulia telah menggantikan semua pengawal kekaisaran yang ada di dalam istana peristirahatan ini. Ini sama saja dengan bawahan Yang Mulia sedang menahan Putri Pertama Kekaisaran.

"Bagaimana keadaan Putri Pertama?"

Berhadapan dengan pertanyaan dadakan Ning Lian Chen, Tabib Kekaisaran Fang tidak berani lengah. Aku sudah mendengar bahwa Yang Mulia sekarang sudah mengendalikan tiga kementerian. Ia bukan lagi seorang boneka seperti sebelumnya.

"Menjawab pada Yang Mulia, Putri Pertama Kekaisaran emosional. Meskipun lukanya tidak berujung pada kematian, kondisinya tidak begitu optimis. Jika ia tidak dapat mengatasinya, kondisi mentalnya akan kacau, dan ia bahkan bisa jadi gila karena keresahannya. Kalau ia tidak terbangun, maka ia hampir tidak ada bedanya dari mayat hidup dengan denyut nadi dan raut wajah yang kemerahan."

Setelah mempertimbangkan semuanya, Putri Pertama Kekaisaran tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.

Ning Lian Chen mengangguk dan berujar dengan suara yang tenang. "Aku akan serahkan Putri Pertama di tanganmu." Kemudian, Ning Lian Chen pun berbalik dan menginstruksikan bawahannya, "Seret mayat Piao Xu keluar dan buang ke hutan belantara."

Nada bicara Ning Lian Chen dingin, kejam, dan tanpa ampun. Aku tidak tahu dimana Pangeran Yun menyembunyikan jasad Kakak Perempuanku. Banyak orang yang berspekulasi bahwa, mungkin saja ia telah membuangnya ke hutan belantara atau membuangnya ke makam massal yang tak bertanda.

Memikirkan ini, Ning Lian Chen hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat di bawah lengan jubahnya. Benaknya baru tertarik kembali saat pengawal kekaisaran itu menjawab perintahnya.

"Bawahan ini mengerti."

Ning Lian Chen melirik ke arah istana peristirahatan itu sebelum akhirnya ia mengangkat kakinya dan berlalu. Ia tidak mengambil jalan utama kembali ke istananya, sebaliknya, memilih untuk berjalan di rute yang lebih kecil dan jarang digunakan. Beberapa dayang istana dan kasim yang lewat pun menyapanya dengan hormat.

Dulu, semua orang yang memperlakukannya dengan hormat hanyalah berpura-pura; ia akan selalu melihat jejak penghinaan dalam mata mereka. Jelas sekali, semuanya telah berubah. Rasa hormat mereka terhadapnya kini datang dari lubuk hati mereka. Sekarang, karena Ning Lian Chen telah mendapatkan kendali dari tiga kementerian, tidak ada orang di Istana Kekaisaran yang akan berani memandang rendah dirinya. Berpikir bahwa ini semua diberikan kepadanya oleh Kakak Perempuannya, bibir Ning Lian Chen tersungging membentuk senyuman. Aku akan memenuhi harapanmu dengan bekerja keras untuk mengkonsolidasikan kekuasaan yang telah kau berikan padaku.

Namun, Ning Lian Chen tidak tahu bahwa Wei Mo Hai sudah terbunuh oleh Su Xi-er, dan sudah pasti tidak mengetahui bahwa orang itu terkena racun selagi melakukannya.

***

Dengan cepat Yu Xiao membawa Su Xi-er kembali ke Asosiasi Sastra. Seorang tabib senior dan berpengalaman di Asosiasi Sastra segera memeriksa denyut nadinya.

Setelah merasakan denyut nadinya, si tabib senior pun menggelengkan kepalanya, "Racun di dalam tubuhnya bahkan lebih mematikan daripada bisa ular Krait Emas. Takutnya, tidak ada cara untuk menyelamatkan nyawanya." Ia menghela napas.

Mata Yu Xiao dipenuhi kecemasan. Pasti ada cara untuk menyelamatkannya! Ia segera mengacungkan belati pendek di pinggangnya sebelum merendamnya di dalam anggur dari kendi di pinggangnya. Kemudian, ia mendesinfeksikannya di api yang menyala.

Berhenti di depan Su Xi-er, ia cepat-cepat bergumam, "Maafkan aku, Nona." Kemudian, Yu Xiao mengangkat lengan baju Su Xi-er, memperlihatkan lengan langsingnya.

Belatinya meluncur di lukanya. Kondisinya yang memburuk hanya bisa ditunda sementara waktu dengan mengeluarkan darahnya. Hanya dengan memperlambat penyebaran racunnya barulah mereka akan punya cukup waktu untuk memikirkan sebuah solusi.

Darah berwarna hitam pun mengalir. Si tabib senior memahami niat Yu Xiao dan segera pergi mengambilkan beberapa tanaman obat yang dapat menunda pendarahannya.

Ketika ia melihat darah berwarna merah terang mulai mengalir keluar dari tangan Su Xi-er, Yu Xiao segera mengambil ramuan obat dari si tabib senior dan membalut luka tusukan itu. Gadis yang dipertanyakan ini sedari tadi ekspresinya dingin dan kosong sepanjang prosesnya.

Si tabib senior pun menggelengkan kepalanya. "Ini tidak kelihatan baik. Proses mengeluarkan darahnya sangat menyakitkan, dan si pasien biasanya akan merasakan sakit. Namun, sepertinya, ia tidak merasakan apa-apa sama sekali. Kau harus bersiap-siap, apa artinya ini."

Yu Xiao mengatupkan bibirnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti seseorang; bagaimana bisa ia mati begitu saja?! Ia sudah melihat orang tuanya mati di depan matanya, kemudian menyaksikan kematian teman terdekatnya. Aku tidak akan membiarkannya kali ini! Ia tidak boleh mati!

Guan Xiang mempelajari ekspresi Yu Xiao. Setelah membesarkannya bertahun-tahun, ia lebih memahami orang itu daripada siapa pun. "Yu Xiao, Langit memberkati orang-orang yang baik. Nona di hadapan kita ini, sudah pasti adalah orang yang baik."

"Ada sebuah cara, itu mungkin bekerja!" Yu Xiao jadi cerah dan segera keluar dari rumah. Ia ingin mencari satu tanaman obat tertentu.

Namun, di saat ia berjalan keluar dari Asosiasi Sastra, ia menemukan bahwa pengawal kekaisaran sedang memaksa toko-toko obat untuk tutup satu per satu.

"Pengawal Kekaisaran Qin telah memerintahkan agar setiap toko obat di ibu kota untuk ditutup. Ditambah dengan itu, ia juga mengatakan bahwa pegunungan di dekat pinggiran kota harus ditutup juga. Meski tidak ada yang tahu mengapa."

Ekspresi Yu Xiao berubah serius. Walaupun ia sudah menduga kekejaman Yun Ruo Feng, ia tidak menyangka orang itu akan bertindak secepat ini. Cepat sekali!

Kabar mengenai toko obat dan pegunungan yang disegel pun menyebar dengan cepat. Faktanya, kabar itu sampai pada Pei Qian Hao sebelum matahari bahkan terbit di pagi berikutnya.

Ekspresinya tampak tenang, dan suaranya acuh tak acuh. "Aneh sekali, menutup toko obat dan pegunungan tanpa alasan."

"Pangeran Hao, haruskah kita menyelidikinya?"

Pei Qian Hao melambaikan tangannya. "Tidak perlu."

Masih ada sepuluh jam lagi hingga matahari tenggelam. Su Xi-er semestinya sudah kembali saat itu. Aku akan menunggunya, tetapi jika ia tidak kembali .... Memikirkan ini, Pei Qian Hao menggenggam cangkir teh di tangannya dengan kencang.

Continue reading CTF - Chapter 257

CTF - Chapter 256

Consort of A Thousand Faces

Chapter 256 : Penyakit Jiwa

Si pengawal penjaga pintu dengan cepat masuk dan kembali; menatap Piao Xu, ia memberitahukan, "Pangeran Yun sedang tidak dalam kondisi untuk memedulikan tentang apa pun sekarang ini. Ia mengatakan agar menyuruh Nona Piao Xu kembali ke istana kekaisaran, dan apa pun yang terjadi, tetap berada di sisi Putri Pertama Kekaisaran. Pangeran Yun punya pengaturannya sendiri untuk apa yang akan terjadi nanti."

Kata-kata pengawal itu membuat hati Piao Xu tenggelam. Maksud Pangeran Yun adalah bahwa, tidak pantas baginya untuk ikut campur dalam urusan Putri Pertama Kekaisaran sekarang. Ia hanya bisa menunggu tak berdaya jika Yang Mulia bersikeras untuk mengirimkannya ke Makam Kekaisaran.

Mendengarkan kata-kata si pengawal, Qin Ling pun kaget. Bukankah Pangeran Yun mencintai Putri Pertama Kekaisaran? Mengapa ia tidak memedulikan dirinya? Tiba-tiba saja, Qin Ling merasa bahwa ia tidak dapat memahami Yun Ruo Feng.

Ekspresi Piao Xu suram selagi ia memandangi Kediaman Pangeran Yun, bolak-balik melirik ke arah pintu dan pengawal yang memegang tombak kekaisaran mereka di depannya. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengepalkan tangannya dan mengatupkan bibirnya, berjalan pergi tanpa kata.

Sebelumnya, aku mencoba melihat segalanya dari sudut pandang Pangeran Yun untuk menghibur Putri Pertama Kekaisaran bahwa Pangeran Yun mencintainya, tetapi sekarang ... dikirimkan ke Makam Kekaisaran, pada dasarnya sama saja dengan mengeksekusi dirinya!

Di saat Anda membutuhkannya, Pangeran Yun tidak menghiraukan tangisan permintaan tolong Anda, dan menggunakan suasana hatinya yang buruk sebagai alasan. Putri Pertama, Piao Xu salah. Seharusnya, aku tidak boleh menghibur Anda dengan cara seperti itu. Aku tahu sekarang bahwa ia tidak benar-benar mencintai Anda, dan barangkali tidak pernah mencintai Anda sejak awal; sementara untuk siapakah yang dicintainya, barangkali, ia hanya mencintai dirinya sendiri.

Qin Ling memerhatikan Piao Xu selagi ia menghilang di kejauhan. Ia dapat membayangkan adegan saat ini di istana peristirahatan Putri Pertama Kekaisaran. Sudah pasti kacau balau.

***

Di dalam istana peristirahatan Putri Pertama Kekaisaran, ada pecahan vas bunga dan teko teh dimana-mana. Bahkan bangku pun dijungkirbalikkan.

Ning An Lian menunjuk Ning Lian Chen, matanya terbuka dengan tatapan yang tajam. "Apa kau menganggap Putri ini sebagai orang tolol? Putri ini tidak akan pergi ke Makam Kekaisaran selama tiga tahun. Aku tidak akan pernah bisa kembali sekalinya aku pergi. Dipaksa untuk tinggal di tempat sedingin dan sesepi itu, aku lebih baik mati! Apabila kau menginginkan Putri ini pergi, kau bisa menganugerahkan kematian pada Putri ini dan membawa jasadku ke Makam Kekaisaran!"

Ning An Lian sengaja mengatakan ini untuk membuat Ning Lian Chen terganggu. Kakak Perempuanmu, Ning Ru Lan, diusir dari rumah tangga kekaisaran, dan tidak berkesempatan untuk dimakamkan di Makam Kekaisaran!

Namun, sikap Ning Lian Chen sebagai seorang Kaisar sangatlah kuat, suaranya diliputi dengan otoritas yang khidmat selagi ia berbicara. "Karena kau berani bertaruh dengan orang lain, kau harus bersedia untuk mengakui kekalahan. Kau belum pernah pergi ke Makam Kekaisaran, dan selalu ingin pergi, jadi Kaisar ini akan mengabulkan harapanmu hari ini. Pelayan, cepat bawa Putri Pertama Kekaisaran ke Makam Kekaisaran. Tidak boleh ada penundaan."

"Dimengerti." Pengawal kekaisaran membungkuk dan menerima perintah tersebut. Para pengawal kekaisaran ini, tadinya loyal kepada Ning Ru Lan. Setelah kematian Ning Ru Lan, Ning Lian Chen mengambil mereka ke bawah sayapnya dan diam-diam membesarkan mereka. Biarpun mereka menjalankan perintah dari Yun Ruo Feng, kesetiaan mereka yang sebenarnya terletak pada sang Kaisar. Meskipun hanya ada beberapa ratus orang dari mereka, mereka adalah yang terbaik.

Ning An Lian menatap dua pengawal bertubuh tinggi dan kuat yang berjalan ke arahnya dan mulai merasa tidak tenang. Ia melihat sekitar dalam kepanikan, mencari-cari Piao Xu dengan gelisah. Piao Xu pergi di tengah kekacauan—ia pasti sudah pergi mencari Feng. Kenapa ia masih belum kembali? Feng pasti punya solusinya; ia akan menyelamatkanku!

Ning An Lian mundur beberapa langkah dan mencoba untuk menghentikan pengawal yang mendekatinya dengan otoritasnya sebagai Putri Pertama Kekaisaran. Tetapi semua itu sia-sia. Ning Lian Chen yang sekarang, mengendalikan tiga kementerian; sepenuhnya berubah haluan dari beberapa hari yang lalu.

Tanpa adanya pilihan lain, Ning An Lian hanya mampu mengungkit soal Yun Ruo Feng. "Yang Mulia, sudahkah kau memberitahukan Pangeran Yun tentang mengirimkan Putri ini ke Makam Kekaisaran malam ini juga? Komandan Wei masih belum menyelesaikan investigasinya, tetapi kau mengatakan bahwa kenyataannya telah terungkap?"

Ning Lian Chen menjawab dengan serius, "Kebenaran di balik kasus Nona-Nona Wei telah terungkap. Surat ini merupakan bukti bahwa mereka dibunuh oleh seorang pelajar dari Provinsi Bulan, dan bukan oleh dayang Pangeran Hao. Dengan bagaimana kau telah menuduh dayang Pangeran Hao, sudah pasti ia tidak akan membiarkan masalah ini begitu saja apabila kau tidak dikirimkan ke Makam Kekaisaran selama tiga tahun. Kaisar ini menyarankan padamu agar segera pergi ke Makam Kekaisaran. Kekuatan Nan Zhao saat ini tidak dapat dibandingkan dengan Bei Min."

"Tidak, Putri ini tidak akan pergi!" Ning An Lian merasa sesak dalam dadanya, dan mencoba untuk melepaskan diri dari para pengawal seperti seorang wanita gila.

Aku tidak boleh pergi ke Makam Kekaisaran. Makam-makam itu hanya berisi dengan orang-orang mati. Kondisi hidupnya keras dan tidak akan ada orang di sana yang akan memedulikan diriku. Terlebih lagi, Makam Kekaisaran sangat jauh. Jika aku pergi ke sana, aku tidak akan bisa berjumpa dengan Feng selama tiga tahun!

Aku tidak mau! Tidak! Ada yang salah dengan tatapan Ning An Lian, seolah-olah ia akan jadi histeris.

Ning Lian Chen memberikan sinyal pada para pengawal untuk segera bertindak.

Pengawal mengerti dan mempercepat langkah mereka. Mereka langsung menangkap Ning An Lian dan mengikat kedua tangannya dengan seutas tali.

Ning An Lian belum pernah mengalami penghinaan semacam ini. Ia menjerit gila-gilaan, "Ning Lian Chen, kau hanyalah sebuah boneka! Putri ini tidak akan melepaskanmu karena memperlakukanku dengan cara seperti ini!"

"Begitukah? Kakak Perempuan, bila kau tidak ingin pergi ke Makam Kekaisaran, maka Kaisar ini punya sebuah solusi yang sederhana. Kaisar ini akan menganugerahkan secangkir anggur beracun untukmu. Kau hanya perlu meminumnya untuk bebas," Ning Lian Chen mengusulkan dengan tampang lembut di wajahnya.

Ning An Lian menatap Ning Lian Chen. Raut wajahnya persis seperti Ning Ru Lan, dan berhadapan dengannya dengan cara seperti ini hanya mengingatkannya akan Ning Ru Lan.

"Kau ...." Ning An Lian kehabisan kata-kata, hanya tersisa satu kalimat di ujung lidahnya. Aku membenci Ning Ru Lan sampai ke akarnya!

"Lancang sekali!" Suara ganas seorang wanita terdengar selagi Piao Xu masuk dan berhenti secara buru-buru di sebelah Ning An Lian. "Sekumpulan pelayan anjing! Ia adalah Putri Pertama Kekaisaran, dan kalian semua tidak diizinkan untuk bertindak lancang!"

(T/N : cara menghina yang biasanya ditujukan pada pelayan.)

Ning Lian Chen menatap Piao Xu dan terkekeh. "Kau harus memeriksa tuannya sebelum kau memukul seekor anjing. Memarahi mereka, sama saja tidak menganggap Kaisar ini."

"Piao Xu, dimana Pangeran Yun? Bukankah kau pergi ke Kediaman Pangeran Yun—kenapa kau di sini sendirian?" Ning An Lian melihat ke arah pintu istana dengan resah. Yun Ruo Feng tidak kemari! Kemana dia? Apa yang terjadi? Kenapa ia tidak kemari?

Piao Xu berupaya keras mengendalikan ekspresi sakitnya. Pertama-tama, ia memutuskan untuk menyembunyikan kenyataannya dari Ning An Lian dan menjawab pelan. "Putri Pertama, Pangeran Yun harus mengatasi masalah yang merepotkan, dan tidak akan bisa datang kemari malam ini. Tetapi jangan cemas, pelayan ini akan mengikuti Yang Mulia Putri selamanya."

"Masalah yang merepotkan? Tidak akan bisa datang? Putri ini sudah akan dibawa menuju Makam Kekaisaran, dan ia sungguh tidak datang!" Ning An Lian dapat merasakan sakit berdenyut di hatinya. Di saat genting ini, ia tidak muncul.

Ning Lian Chen memandang Piao Xu. "Ada masalah merepotkan apa memangnya? Pangeran Yun seharusnya baik-baik saja. Terlebih lagi, Putri Pertama akan pergi sendirian ke Makam Kekaisaran. Tidak ada yang diizinkan untuk menemaninya."

Piao Xu segera berlutut, "Pelayan ini melayani Putri Pertama seumur hidup, dan tidak akan pernah melarikan diri ataupun meninggalkanya."

Ning An Lian merasa sedikit tersentuh. "Piao Xu ...."

"Pelayan yang setia sekali. Kalau begitu ...." Ning Lian Chen menjeda dan memerintahkan pengawal di belakangnya, "Bawakan secangkir anggur beracun."

Pengawal itu membungkuk dan memutar tumitnya untuk menjalankan perintah tersebut.

Mendengar Ning Lian Chen menyebut-nyebut soal anggur beracun, Ning An Lian mengecam, "Apa yang mau kau lakukan?!"

"Pergi ke Makam Kekaisaran, sama saja dengan menghabiskan sepanjang sisa hidupmu di sana hingga kau menua. Mana mungkin Kaisar ini hanya akan membiarkanmu tinggal di sana selama tiga tahun? Karena Piao Xu bukanlah seorang pelayan yang menjaga Makam Kekaisaran, mana mungkin Kaisar ini mengizinkannya untuk menemanimu? Biar begitu, karena ia bersedia untuk melayanimu seumur hidupnya, Kaisar ini menganugerahkan secangkir anggur beracun untuknya." Ning Lian Chen melafalkan kata-katanya sehingga setiap katanya perlahan-lahan menusuk ke dalam hati Ning An Lian.

Pengawal yang pergi mengambilkan secangkir anggur beracun pun kembali. Sebelum siapa pun dapat mengatakan apa-apa, ia sudah tiba di depan Piao Xu dan memaksanya menenggak isi cangkir tersebut.

"Tidak, tidak!" Ning An Lian berusaha keras untuk menghentikannya, tetapi tangannya terikat di belakang punggung. Ia hanya mampu menonton tak berdaya selagi Piao Xu jatuh ke lantai, darah mengalir keluar dari lubang-lubang di tubuhnya.

Piao Xu berjuang keras menggunakan napas terakhirnya untuk berbicara pada Ning An Lian. "Putri Pertama, pelayan ini minta maaf karena pergi duluan. Putri Pertama .... Jangan memercayai Pangeran Yun. Ia sangat mengerikan. Ia tidak akan menyelamatkan Anda. Anda harus ... menyelamatkan diri Anda sendiri."

Setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya, Piao Xu menutup matanya, tangannya jatuh ke lantai sewaktu napasnya terhenti.

Mendengarkan kata-kata Piao Xu, Ning An Lian merasa seolah napasnya membeku di tempat. Jantungnya berdebar dengan begitu kuatnya hingga terasa mencekik.


Continue reading CTF - Chapter 256

CTF - Chapter 255

Consort of A Thousand Faces

Chapter 255 : Dimana Ia Dimakamkan


Yun Ruo Feng memerhatikan sewaktu Qin Ling membawa Wei Mo Hai, melihat jenazah orang itu di atas kereta kuda. Saudara tersumpahku sudah tak lagi bernapas, dan tidak akan pernah ada lagi.

Yun Ruo Feng menengadahkan kepalanya dan memandangi bulan sabit di langit malam. Biasanya, selalu bulan purnama di perjamuan-perjamuan kerajaan sebelumnya, tetapi keadaan sekarang ini bertahan selama tiga hari terakhir, tak lebih dari sebuah pertanda kesialan. Aku bertanggung jawab atas kematian Wei Mo Hai.

Alis Yun Ruo Feng terus tertaut, dan melankolis di matanya tidak bisa dikendalikan. Ia tidak menunggangi kuda ataupun menaiki kereta, dan malah memilih untuk menyeret kakinya di dalam malam yang hening. Cahaya bulan memberikan bayangan yang panjang dan kesepian, meninggalkan Yun Ruo Feng, tanpa ekspresi, berjalan kembali ke Kediaman Pangeran Yun-nya.

Para pengawal di Kediaman Pangeran Yun terkejut melihat Yun Ruo Feng dalam keadaan begini. Mereka belum pernah melihat Pangeran Yun seperti ini, dan mereka tidak berani menanyakan apa yang terjadi. Mereka hanya bisa membungkuk dengan hormat dan cepat-cepat membukakan pintu Kediaman Pangeran Yun.

Yun Ruo Feng masuk dalam diam; dan biarpun setiap pengawal merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tidak ada yang cukup berani untuk mengutarakan sepatah kata pun. Mereka hanya bisa memerhatikan selagi Yun Ruo Feng menghilang di kejauhan.

Yun Ruo Feng berjalan lurus menuju ke halaman utama di kediaman tersebut dan memasuki kamarnya, meraih ke kolong tempat tidurnya dengan mata yang mengerlip. Apa yang dikeluarkannya adalah sebuah kotak kayu dari bawah papan tempat tidurnya.

Kotak itu berukuran sedang, dan terbuat dari rosewood. Membukanya, Yun Ruo Feng menyipitkan matanya selagi ia memandangi kotak hitam kecil yang berada di dalamnya.

Akhirnya, ia menutup kotak yang lebih besar dan mengembalikannya ke posisinya semula; namun kotak hitam kecil itu tetap berada di tangannya. Perlahan-lahan, sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyuman sementara ia menyentuh lembut kotak tersebut, seolah-olah ia tengah mengelus wajah seseorang.

Tak lama kemudian, Yun Ruo Feng terkekeh pelan. "Semua orang berpikir bahwa jasadmu telah dibuang ke pemakaman masal tak bertanda atau dibuang ke dalam hutan belantara. Tidak ada yang mengetahui bahwa diam-diam, aku telah membakar jasadmu, dan menyimpan abunya di bawah tempat tidurku. Bahkan, adik lelaki kekaisaran kesayanganmu itu tidak punya firasat apa pun. Ning Ru Lan, karena rohmu sudah kembali, mengapa kau tidak datang mencariku? Kau berencana untuk menyingkirkan semua orang yang ada di sekelilingku, dan membiarkan aku untuk yang terakhir, kan?"

(T/N : Ternyata abu Ru Lan disimpen di kolong ranjang donk. Satu kata yang kepikiran untuk YunYun. Sinting.)

Yun Ruo Feng tertawa dengan kerasnya selagi genggamannya di kotak itu mengencang, jejak kekejaman sampai di matanya. "Apabila kau memiliki keluhan dan dendam di hatimu, kau bisa datang, mencariku secara langsung. Ning Ru Lan, kenapa kau tidak mencariku? Kapan kau akan datang mencariku?"

Tawanya yang gila itu jadi semakin menyedihkan, hingga akhirnya, tawa itu mereda, membawa serta kilat dingin di mata Yun Ruo Feng. "Kau begitu bersemangat untuk membalaskan dendammu, Ning Ru Lan. Tetapi, kau semestinya tahu bahwa semua orang harus mati. Seharusnya, kau cukup menungguku di Jembatan Naihe; pada saat itu, kau boleh melampiaskan segala kebencianmu padaku. Aku tidak menyesali apa yang kuutangkan padamu dalam kehidupan ini, tetapi jika aku bisa memutar waktu kembali ....”

(T/N : sebuah jembatan yang harus diseberangi semua roh sebelum mereka dapat bereinkarnasi dan berpindah ke kehidupan mereka yang selanjutnya.)

Yun Ruo Feng menatap kotak hitam itu dan mulai mengelusnya dengan lembut. "Ning Ru Lan, aku tetap akan membunuhmu. Kita akan bisa menjadi rekan seperjuangan yang saling memercayai jika kau adalah seorang pria—bahkan saudara. Namun, kau adalah seorang wanita, dan terlalu tidak terkendali. Kau ingin memiliki andil dalam segala hal, dan aku tidak dapat membiarkanmu hidup."

Berkata demikian, secara hati-hati Yun Ruo Feng membawa kotak hitam tersebut, dan menuju ke danau yang ada di kediaman.

Lima belas menit kemudian, Yun Ruo Feng berdiri tegak di depan danau. Dedalu ditanam di sepanjang tepiannya, warna dedauan mereka berubah dari hijau menjadi kekuningan seiring dengan perubahan musim.

Yun Ruo Feng mengeluarkan kotak hitam itu dan menempatkannya di dadanya sebelum membukanya. "Ning Ru Lan, kau selalu tampak begitu menyilaukan, bahkan, kau saja hanya jadi segenggam abu setelah dilalap api. Aku dengar, dengan menaburkan abu seseorang di dalam danau yang dingin, jiwa mereka akan dikekang oleh air yang dingin di danau musim dingin. Bahkan kemudian, akankah rohmu tetap kembali?" Yun Ruo Feng berbisik pelan selagi ia mempertahankan roman wajahnya yang lembut.

Ia mengambil segenggam penuh abu di tangannya dan menaburkannya ke dalam danau. "Kau paling menyukainya saat aku tersenyum dengan lembut padamu. Sekarang, aku akan tersenyum selagi aku menguburmu di kedalaman danau Kediaman Pangeran Yun."

Nada bicara Yun Ruo Feng tenang, dan senyuman di wajahnya tampak lembut. Abu di tangannya berjatuhan ke permukaan danau seperti pasir di dalam jam pasir. Ia melakukannya lagi dan lagi, menaburkan abu itu hingga jari-jarinya hanya bisa menemukan kayu dingin di kotak hitam yang kosong itu.

Yun Ruo Feng terkekeh dan melemparkan kotak kayu itu ke dalam danau, memerhatikan sewaktu kotak itu mengapung sejenak sebelum terendam di dalam air dan tenggelam.

Yun Ruo Feng masih berdiri di dekat danau, bahkan setelah kotak itu tenggelam, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Senyuman di wajahnya berangsur lenyap, dan sekali lagi, matanya menjadi sehitam tinta.

Tepat saat itu, langkah kaki datang dari belakangnya diikuti dengan suara yang hormat. Itu adalah Qin Ling. "Pangeran Yun."

Setelah menyapa Yun Ruo Feng, Qin Ling segera berlutut. "Mohon tarik kembali perintah Anda, dan izinkan wanita itu untuk hidup. Ini adalah sepucuk surat yang bawahan ini temukan di Kediaman Komandan Wei."

Kemudian, Qin Ling mempersembahkan surat yang ada di tangannya. Tadinya, ia akan mengikuti perintah Yun Ruo Feng, dan membunuh wanita itu. Namun, setelah membaca surat Wei Mo Hai, ia tidak tahan untuk mengubah pikirannya dan datang memohon pengampunan pada Yun Ruo Feng.

Yun Ruo Feng mengambil surat itu dan dengan hati-hati memeriksa surat itu di bawah cahaya bulan.

Tintanya gelap dan kusam, mengindikasikan bahwa surat itu telah dituliskan untuk waktu yang lama. Ketika wanita itu menikah, Wei Mo Hai menuliskan sepucuk surat, mengatakan bahwa kebahagiaan wanita itu adalah hal yang paling penting. Namun, surat itu, bersama dengan perasaan dan juga ucapan selamat dari Wei Mo Hai, tetap terkunci di dalam kediamannya, tidak pernah diketahui.

Yun Ruo Feng mencibir dan menyerahkan surat itu kembali pada Qin Ling. "Pangeran ini tidak akan menarik kembali perintahku. Wei Mo Hai tidak punya penerus, dan memerlukan seseorang untuk menjaga makamnya seumur hidup. Cepat laksanakan."

Jantung Qin Ling berdebar-debar di dalam dadanya. Ia ingin bicara lebih jauh, tetapi melihat dingin yang ada di mata Yun Ruo Feng. Ia belum pernah melihat Yun Ruo Feng dalam keadaan begini. Tak peduli betapa enggan dirinya untuk melakukannya, ia hanya bisa menanggungnya, berbalik, dan pergi menjalankan perintah Yun Ruo Feng.

Qin Ling mengepalkan tangannya erat-erat. Sebagai seorang prajurit, aku sudah banyak membunuh orang, tetapi hati nuraniku jernih, karena aku bertarung demi membela kerajaanku. Tetapi kini, Pangeran Yun ingin aku turun tangan pada seorang wanita tak berdosa dan keluarganya. Apabila wanita itu menolak melaksanakan perintahnya, maka ia harus membunuh suami, anak, begitu pula dengan keluarga gadisnya.

Mereka semua tidak bersalah, jadi bagaimana mungkin aku tega melakukan hal semacam itu! Tetapi, walaupun aku tidak menginginkannya, pilihan lain apa yang kumiliki?

Untuk yang pertama kalinya, Qin Ling merasa tidak yakin akan dirinya sendiri. Ia terjebak di antara sebongkah batu dan tempat yang keras. Jika ia tidak mengindahkan perintah Yun Ruo Feng, sudah pasti ia akan dihukum untuk itu. Di lain pihak, ia tidak akan pernah bisa menghindari hati nuraninya yang akan terus merundung selama sisa hidupnya apabila ia mengikuti perintahnya.

Ketika Qin Ling sampai di pintu Kediaman Pangeran Yun, ia kebetulan melihat Piao Xu yang sangat gelisah berdiri di luar sana.

Setelah melihat Qin Ling, Piao Xu segera berteriak, "Aku harus menemui Pangeran Yun tentang sesuatu. Pengawal Kekaisaran Qin, suruh mereka membiarkanku masuk!"

Penjaga di pintu memegangi tombak mereka, menghadang Piao Xu masuk.

Qin Ling menatap Piao Xu. "Ada apa? Sedang tidak mudah untuk Pangeran Yun menemuimu sekarang karena kondisinya."

"Terjadi sesuatu pada Putri Pertama Kekaisaran! Yang Mulia baru saja menurunkan titah kekaisaran untuk menangkap Putri Pertama Kekaisaran dan mengirimkannya ke Makam Kekaisaran malam ini juga."

Mendengar perkataan Piao Xu, Qin Ling merasa bahwa ini bukanlah masalah kecil. Oleh sebab itu, ia menatap dua pengawal pintu itu sebelum menurunkan sebuah perintah. "Segera laporkan ini pada Pangeran Yun. Ia sedang berdiri di depan danau di taman kediaman."

Dengan posisinya sebagai pengikut kepercayaan Wei Mo Hai, tidak ada yang meragukan tentang Qin Ling yang sementara ini memerintah, dan kata-katanya mengandung banyak arti.

Karenanya, pengawal pintu itu segera pergi untuk memenuhi perintahnya.

Piao Xu menunggu dengan cemas, tangannya mencengkeram lengan bajunya dengan erat. Ia tidak mengerti, mengapa Kaisar memiliki kekuasaan sebesar itu. Bukan hanya ia merebut tiga dari enam kementerian dan mengurangi pajak, ia bahkan memerintahkan agar Putri Pertama Kekaisaran ditangkap!

Continue reading CTF - Chapter 255

CTF - Chapter 254

Consort of A Thousand Faces

Chapter 254 : Apakah Manusia Punya Roh?


Ekspresi Yun Ruo Feng suram, dengan garis kekejaman berlarian di matanya. Ia menatap ke arah Qin Ling dan memerintahkan dengan tegas, "Geledah setiap jalanan di ibu kota Nan Zhao; jangan lupa untuk mencari pinggiran kota juga."

Ia terdiam sebelum menambahkan, "Berikan perhatian khusus pada jalan-jalan di sekitar Asosiasi Sastra."

Qin Ling tidak tahu apa misi Wei Mo Hai. Namun, ia bisa mengetahui kalau itu adalah sesuatu yang berbahaya hanya dengan fakta bahwa kuda perang orang itu kembali tanpa dirinya. Melihat ekspresi Pangeran Yun, Qin Ling yakin bahwa, apa pun yang tengah diselidiki oleh Komandan Wei pastinya serius.

Karena itu, Qin Ling segera membungkuk, "Bawahan ini akan segera mengumpulkan lebih banyak orang untuk mencari dengan teliti di setiap jalanan." Kemudian, ia naik ke atas kuda sebelum menyabetkan cemetinya, pergi terburu-buru.

Si kusir kereta menatap Yun Ruo Feng dengan hormat. "Pangeran Yun, apa kita akan kembali ke Kediaman Pangeran Yun?"

Yun Ruo Feng menautkan alisnya dan melambai pada si kusir. "Tidak, Pangeran ini akan memeriksa ini secara pribadi. Kau bisa membawa keretanya kembali ke Kediaman Pangeran Yun." Lalu, Yun Ruo Feng dengan gesit turun dari kereta kuda.

Wei Mo Hai adalah tangan kanannya, seseorang yang telah menjalankan perintah apa pun tanpa kegagalan selama bertahun-tahun ini. Mungkinkah telah terjadi sesuatu kali ini?

Wei Mo Hai bukan hanya bawahannya yang setia, tetapi merupakan saudara tersumpahnya juga. Pemikiran kalau sesuatu terjadi padanya, membuat Yun Ruo Feng menautkan alisnya, langkahnya jadi lebih cepat sewaktu ia menuju ke Asosiasi Sastra.

Tepat saat ia melewati gang lainnya, ia mendengar jeritan melengking dari seorang wanita. "Ada mayat di jalan!"

Yun Ruo Feng segera menelusuri sumber jeritan dan menemukan wanita itu. Mayat? Ia bertanya pada wanita itu, "Dimana mayatnya?"

Karena itu di tengah malam, wanita itu tidak bisa melihat wajah Yun Ruo Feng dengan jelas, dan menganggapnya sebagai warga biasa. Karena itu, ia hanya menunjuk ke arah jalan yang ada di belokan berikutnya. "Ada seorang pria kekar, mati tergeletak di jalan di depan."

Mendengarkan kata-katanya, Yun Ruo Feng segera ke sana, meninggalkan si wanita itu ketakutan. Aku tidak akan pernah meninggalkan rumahku di malam hari lagi.

Mempercepat langkahnya, Yun Ruo Feng dengan cepat sampai di jalan yang disebutkan oleh wanita itu. Dari posisinya di jalan masuk, ia bisa melihat samar-samar dari cahaya bulan, sosok manusia yang berbaring tak bergerak di tanah.

Mirip sekali dengan Wei Mo Hai.

Dengan alis yang mengerut begitu rapatnya, langkah Yun Ruo Feng yang tadinya cepat pun berangsur melambat seperti rangkakkan sewaktu ia berjalan mendekat. Ketika Yun Ruo Feng berada tiga langkah jauhnya dari sosok itu, matanya melebar, dadanya naik-turun, dan tangannya terkepal erat di bawah lengan jubahnya.

Wei Mo Hai. Sesuatu sungguh terjadi padanya. Tangannya terkulai tak berdaya di tanah, matanya tertutup, dan pedangnya terhunus di sisinya; jelas bahwa kematiannya tidak alami.

Tiba-tiba saja, Yun Ruo Feng bisa merasakan emosi yang melonjak dalam dirinya. Persaudaraan selama dua puluh tahun. Ia tidak punya saudara kandung ataupun kerabat, dan Wei Mo Hai adalah yang paling dekat dengannya dalam hal keluarga. Hanya setelah mengalami kesulitan di militer, barulah mereka berakhir dengan posisi mereka hari ini.

Tadinya, Yun Ruo Feng ingin menunggu hingga iklim politik Nan Zhao stabil sebelum mempromosikan Wei Mo Hai, mengizinkan orang itu membawakan kejayaan pada leluhurnya. Tetapi, Wei Mo Hai sudah mati sebelum itu dapat terjadi.

Tiba-tiba saja, suara ringkikan kuda datang dari jalan masuk gang. Qin Ling segera menarik tali kekangnya dan turun dari kudanya.

Ketika ia melihat Wei Mo Hai yang tak bergerak di tanah bersama dengan pedangnya, mata Qin Ling pun membelalak tak percaya. Komandan Wei benar-benar mati ....

Qin Ling memandang Pangeran Yun, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya bisa memerhatikan selagi Pangeran Yun berjalan ke arah Komandan Wei sebelum berjongkok dan memeriksa jenazahnya dengan cermat.

"Qin Lin, simpan pedang Komandan Wei." Suara Yun Ruo Feng lambat dan tenang.

Qin Ling membungkuk dan menerima perintah, memeriksa pedangnya dengan saksama sebelum menunjukkan, "Pangeran Yun, ada darah hitam di pedangnya."

Yun Ruo Feng berbalik dan melihat ke arah darah hitam di pedang itu sebelum memeriksa jenazah Wei Mo Hai lagi. Tidak ada luka pedang pada dirinya. Darah hitam itu pasti milik pembunuhnya!

Darah hitam berarti kalau pembunuhnya pasti sudah terkena racun. Wei Mo Hai sengaja melumuri racun mematikan di pedangnya sebelum menjalankan perintahku.

Orang yang membunuhnya adalah ... Su Xi-er? Yun Ruo Feng kaget, tubuhnya membeku. Sudah pasti Su Xi-er, atau setidaknya, seseorang yang berhubungan dengannya.

"Pastikan kau menjaga pedangnya," Yun Ruo Feng memerintahkan lagi sebelum ia memeriksa jenazah Wei Mo Hai secara detail. Tidak ada luka-luka pada dirinya. Apa yang menyebabkan kematiannya?

Seolah-olah dengan sihir, awan menyebar, dan bulan pun memperlihatkan wajahnya; cahayanya menyinari tempat kejadian pembunuhan.

Di bawah cahaya bulan, Yun Ruo Feng melihat tiga jarum perak di kepala Wei Mo Hai. Setiap jarum itu tertancap di satu dari tiga titik akupuntur mematikan manusia. Tancapkan satu, tidak sadar. Tancapkan dua, lumpuh. Tancapkan tiga, kematian.

Tatapan Yun Ruo Feng jatuh pada tiga jarum perak itu. Untuk sanggup mengenai tiga titik itu dengan seketika, pembunuhnya pasti sangat akrab dengan titik akupuntur di tubuh manusia, ditambah dengan sangat handal dalam melemparkan jarum. Kemampuan orang ini ....

Beberapa saat setelahnya, napas Yun Ruo Feng jadi mengeras selagi matanya menggelap. Jantungnya berdebar-debar dalam dadanya. Menggunakan jarum perak, itu mirip sekali dengan seseorang! Ning Ru Lan! Metode membunuhnya adalah mengincar titik akupuntur; setiap gerakannya, adalah gerakan yang mematikan.

Bagaimana bisa ada seseorang dengan metode membunuh yang sama? Itu .... Tanpa sadar, Yun Ruo Feng mengepalkan dan membuka kepalan tangannya, tatapan di matanya berubah-ubah.

Apakah roh Ning Ru Lan telah kembali? Tak diragukan lagi kalau ia membenciku saat aku membunuhnya dan Lü Liu. Ia mati penuh penderitaan, dan sudah datang mencariku untuk balas dendam ....

Qin Ling merasa hatinya jatuh saat ia melihat sisi Yun Ruo Feng yang ini. Aku sangat mengetahui persaudaraan di antara Pangeran Yun dan Komandan Wei. Pangeran Yun hanya seperti ini karena ia tidak bisa menerima kematian Komandan Wei.

"Pangeran Yun, turut berduka." Qin Ling menangkupkan kepalan tangannya dan berujar pelan.

"Katakan, bisakah arwah membunuh seseorang setelah mereka mati?" Yun Ruo Feng mendadak mengajukan pertanyaan ini. Senyum melintas di wajahnya, tetapi senyuman itu tidak lembut maupun kejam—itu dipenuhi dengan kesunyian yang suram.

Qin Ling tidak mengerti alasan di balik pertanyaan Pangeran Yun. Merenunginya sebentar, ia membalas, "Bawahan ini tidak memercayai hal gaib. Orang tidak bisa membunuh dari balik kuburan, sama seperti orang tidak dapat kembali dari kematian."

"Kembali dari kematian." Yun Ruo Feng menggumamkan di bawah napasnya, sebelum akhirnya berdiri. Kedengkian melintas di matanya sebelum sikap tenangnya kembali. "Sampaikan perintah Pangeran ini: tutup semua toko obat di ibu kota Nan Zhao. Matikan pegunungan di pinggiran ibu kota Nan Zhao dimana tanaman obat dikumpulkan dan jaga pegunungan dengan ketat. Perintah ini akan tetap ada sampai hari dimana pembunuh Komandan Wei tertangkap."

Kata-kata Yun Ruo Feng tegas. Kemudian, ia melihat ke jenazah Wei Mo Hai. "Bawa jenazah Komandan Wei kembali ke kampung halamannya dan makamkan dia. Adakan pemakaman yang terperinci untuknya, dan suruh wanita dari perjodohan pernikahan masa kecil Komandan Wei untuk datang menjaga makamnya selama sisa hidupnya."

Qin Ling tertegun. Ia merupakan seorang pengikut kepercayaan Wei Mo Hai, dan mengetahui soal perjodohan tersebut. Namun, ia juga mengetahui kalau wanita itu tidak menyukai Wei Mo Hai, dan sudah memutuskan pertunangan untuk menikahi orang lain.

Qin Ling mengira kalau Pangeran Yun tidak mengetahui tentang ini. "Pangeran Yun, wanita yang memiliki perjodohan dengan Komandan Wei jatuh hati pada seorang guru desa. Ia telah memutuskan pertunangan dengan Komandan Wei, dan menikah tahun lalu. Sekarang, karena ia pasti sudah melahirkan seorang anak, mana mungkin ia menjaga makam Komandan Wei?"

Yun Ruo Feng tanpa ekspresi. Dengan nada bicara yang acuh tak acuh, ia memerintahkan, "Bunuh suami dan anak wanita itu. Suruh dia menjaga makamnya selamanya. Jika ia mencoba bunuh diri, maka bunuh keluarga gadisnya secara diam-diam juga."

Qin Ling menahan napas. Komandan Wei sungguh menyukai wanita itu, dan sudah pasti tidak akan mengharapkan hal semacam itu terjadi. Namun, mustahil bagiku untuk menentang Pangeran Yun!

(T/N : Qin Ling, kayaknya kamu masih ada bibit baik, buruan udahan deh jadi anak buah Yun. Bisa ketiban sial -___-)

Continue reading CTF - Chapter 254