Minggu, 22 Februari 2026

CTF - Chapter 255

Consort of A Thousand Faces

Chapter 255 : Dimana Ia Dimakamkan


Yun Ruo Feng memerhatikan sewaktu Qin Ling membawa Wei Mo Hai, melihat jenazah orang itu di atas kereta kuda. Saudara tersumpahku sudah tak lagi bernapas, dan tidak akan pernah ada lagi.

Yun Ruo Feng menengadahkan kepalanya dan memandangi bulan sabit di langit malam. Biasanya, selalu bulan purnama di perjamuan-perjamuan kerajaan sebelumnya, tetapi keadaan sekarang ini bertahan selama tiga hari terakhir, tak lebih dari sebuah pertanda kesialan. Aku bertanggung jawab atas kematian Wei Mo Hai.

Alis Yun Ruo Feng terus tertaut, dan melankolis di matanya tidak bisa dikendalikan. Ia tidak menunggangi kuda ataupun menaiki kereta, dan malah memilih untuk menyeret kakinya di dalam malam yang hening. Cahaya bulan memberikan bayangan yang panjang dan kesepian, meninggalkan Yun Ruo Feng, tanpa ekspresi, berjalan kembali ke Kediaman Pangeran Yun-nya.

Para pengawal di Kediaman Pangeran Yun terkejut melihat Yun Ruo Feng dalam keadaan begini. Mereka belum pernah melihat Pangeran Yun seperti ini, dan mereka tidak berani menanyakan apa yang terjadi. Mereka hanya bisa membungkuk dengan hormat dan cepat-cepat membukakan pintu Kediaman Pangeran Yun.

Yun Ruo Feng masuk dalam diam; dan biarpun setiap pengawal merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tidak ada yang cukup berani untuk mengutarakan sepatah kata pun. Mereka hanya bisa memerhatikan selagi Yun Ruo Feng menghilang di kejauhan.

Yun Ruo Feng berjalan lurus menuju ke halaman utama di kediaman tersebut dan memasuki kamarnya, meraih ke kolong tempat tidurnya dengan mata yang mengerlip. Apa yang dikeluarkannya adalah sebuah kotak kayu dari bawah papan tempat tidurnya.

Kotak itu berukuran sedang, dan terbuat dari rosewood. Membukanya, Yun Ruo Feng menyipitkan matanya selagi ia memandangi kotak hitam kecil yang berada di dalamnya.

Akhirnya, ia menutup kotak yang lebih besar dan mengembalikannya ke posisinya semula; namun kotak hitam kecil itu tetap berada di tangannya. Perlahan-lahan, sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyuman sementara ia menyentuh lembut kotak tersebut, seolah-olah ia tengah mengelus wajah seseorang.

Tak lama kemudian, Yun Ruo Feng terkekeh pelan. "Semua orang berpikir bahwa jasadmu telah dibuang ke pemakaman masal tak bertanda atau dibuang ke dalam hutan belantara. Tidak ada yang mengetahui bahwa diam-diam, aku telah membakar jasadmu, dan menyimpan abunya di bawah tempat tidurku. Bahkan, adik lelaki kekaisaran kesayanganmu itu tidak punya firasat apa pun. Ning Ru Lan, karena rohmu sudah kembali, mengapa kau tidak datang mencariku? Kau berencana untuk menyingkirkan semua orang yang ada di sekelilingku, dan membiarkan aku untuk yang terakhir, kan?"

(T/N : Ternyata abu Ru Lan disimpen di kolong ranjang donk. Satu kata yang kepikiran untuk YunYun. Sinting.)

Yun Ruo Feng tertawa dengan kerasnya selagi genggamannya di kotak itu mengencang, jejak kekejaman sampai di matanya. "Apabila kau memiliki keluhan dan dendam di hatimu, kau bisa datang, mencariku secara langsung. Ning Ru Lan, kenapa kau tidak mencariku? Kapan kau akan datang mencariku?"

Tawanya yang gila itu jadi semakin menyedihkan, hingga akhirnya, tawa itu mereda, membawa serta kilat dingin di mata Yun Ruo Feng. "Kau begitu bersemangat untuk membalaskan dendammu, Ning Ru Lan. Tetapi, kau semestinya tahu bahwa semua orang harus mati. Seharusnya, kau cukup menungguku di Jembatan Naihe; pada saat itu, kau boleh melampiaskan segala kebencianmu padaku. Aku tidak menyesali apa yang kuutangkan padamu dalam kehidupan ini, tetapi jika aku bisa memutar waktu kembali ....”

(T/N : sebuah jembatan yang harus diseberangi semua roh sebelum mereka dapat bereinkarnasi dan berpindah ke kehidupan mereka yang selanjutnya.)

Yun Ruo Feng menatap kotak hitam itu dan mulai mengelusnya dengan lembut. "Ning Ru Lan, aku tetap akan membunuhmu. Kita akan bisa menjadi rekan seperjuangan yang saling memercayai jika kau adalah seorang pria—bahkan saudara. Namun, kau adalah seorang wanita, dan terlalu tidak terkendali. Kau ingin memiliki andil dalam segala hal, dan aku tidak dapat membiarkanmu hidup."

Berkata demikian, secara hati-hati Yun Ruo Feng membawa kotak hitam tersebut, dan menuju ke danau yang ada di kediaman.

Lima belas menit kemudian, Yun Ruo Feng berdiri tegak di depan danau. Dedalu ditanam di sepanjang tepiannya, warna dedauan mereka berubah dari hijau menjadi kekuningan seiring dengan perubahan musim.

Yun Ruo Feng mengeluarkan kotak hitam itu dan menempatkannya di dadanya sebelum membukanya. "Ning Ru Lan, kau selalu tampak begitu menyilaukan, bahkan, kau saja hanya jadi segenggam abu setelah dilalap api. Aku dengar, dengan menaburkan abu seseorang di dalam danau yang dingin, jiwa mereka akan dikekang oleh air yang dingin di danau musim dingin. Bahkan kemudian, akankah rohmu tetap kembali?" Yun Ruo Feng berbisik pelan selagi ia mempertahankan roman wajahnya yang lembut.

Ia mengambil segenggam penuh abu di tangannya dan menaburkannya ke dalam danau. "Kau paling menyukainya saat aku tersenyum dengan lembut padamu. Sekarang, aku akan tersenyum selagi aku menguburmu di kedalaman danau Kediaman Pangeran Yun."

Nada bicara Yun Ruo Feng tenang, dan senyuman di wajahnya tampak lembut. Abu di tangannya berjatuhan ke permukaan danau seperti pasir di dalam jam pasir. Ia melakukannya lagi dan lagi, menaburkan abu itu hingga jari-jarinya hanya bisa menemukan kayu dingin di kotak hitam yang kosong itu.

Yun Ruo Feng terkekeh dan melemparkan kotak kayu itu ke dalam danau, memerhatikan sewaktu kotak itu mengapung sejenak sebelum terendam di dalam air dan tenggelam.

Yun Ruo Feng masih berdiri di dekat danau, bahkan setelah kotak itu tenggelam, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Senyuman di wajahnya berangsur lenyap, dan sekali lagi, matanya menjadi sehitam tinta.

Tepat saat itu, langkah kaki datang dari belakangnya diikuti dengan suara yang hormat. Itu adalah Qin Ling. "Pangeran Yun."

Setelah menyapa Yun Ruo Feng, Qin Ling segera berlutut. "Mohon tarik kembali perintah Anda, dan izinkan wanita itu untuk hidup. Ini adalah sepucuk surat yang bawahan ini temukan di Kediaman Komandan Wei."

Kemudian, Qin Ling mempersembahkan surat yang ada di tangannya. Tadinya, ia akan mengikuti perintah Yun Ruo Feng, dan membunuh wanita itu. Namun, setelah membaca surat Wei Mo Hai, ia tidak tahan untuk mengubah pikirannya dan datang memohon pengampunan pada Yun Ruo Feng.

Yun Ruo Feng mengambil surat itu dan dengan hati-hati memeriksa surat itu di bawah cahaya bulan.

Tintanya gelap dan kusam, mengindikasikan bahwa surat itu telah dituliskan untuk waktu yang lama. Ketika wanita itu menikah, Wei Mo Hai menuliskan sepucuk surat, mengatakan bahwa kebahagiaan wanita itu adalah hal yang paling penting. Namun, surat itu, bersama dengan perasaan dan juga ucapan selamat dari Wei Mo Hai, tetap terkunci di dalam kediamannya, tidak pernah diketahui.

Yun Ruo Feng mencibir dan menyerahkan surat itu kembali pada Qin Ling. "Pangeran ini tidak akan menarik kembali perintahku. Wei Mo Hai tidak punya penerus, dan memerlukan seseorang untuk menjaga makamnya seumur hidup. Cepat laksanakan."

Jantung Qin Ling berdebar-debar di dalam dadanya. Ia ingin bicara lebih jauh, tetapi melihat dingin yang ada di mata Yun Ruo Feng. Ia belum pernah melihat Yun Ruo Feng dalam keadaan begini. Tak peduli betapa enggan dirinya untuk melakukannya, ia hanya bisa menanggungnya, berbalik, dan pergi menjalankan perintah Yun Ruo Feng.

Qin Ling mengepalkan tangannya erat-erat. Sebagai seorang prajurit, aku sudah banyak membunuh orang, tetapi hati nuraniku jernih, karena aku bertarung demi membela kerajaanku. Tetapi kini, Pangeran Yun ingin aku turun tangan pada seorang wanita tak berdosa dan keluarganya. Apabila wanita itu menolak melaksanakan perintahnya, maka ia harus membunuh suami, anak, begitu pula dengan keluarga gadisnya.

Mereka semua tidak bersalah, jadi bagaimana mungkin aku tega melakukan hal semacam itu! Tetapi, walaupun aku tidak menginginkannya, pilihan lain apa yang kumiliki?

Untuk yang pertama kalinya, Qin Ling merasa tidak yakin akan dirinya sendiri. Ia terjebak di antara sebongkah batu dan tempat yang keras. Jika ia tidak mengindahkan perintah Yun Ruo Feng, sudah pasti ia akan dihukum untuk itu. Di lain pihak, ia tidak akan pernah bisa menghindari hati nuraninya yang akan terus merundung selama sisa hidupnya apabila ia mengikuti perintahnya.

Ketika Qin Ling sampai di pintu Kediaman Pangeran Yun, ia kebetulan melihat Piao Xu yang sangat gelisah berdiri di luar sana.

Setelah melihat Qin Ling, Piao Xu segera berteriak, "Aku harus menemui Pangeran Yun tentang sesuatu. Pengawal Kekaisaran Qin, suruh mereka membiarkanku masuk!"

Penjaga di pintu memegangi tombak mereka, menghadang Piao Xu masuk.

Qin Ling menatap Piao Xu. "Ada apa? Sedang tidak mudah untuk Pangeran Yun menemuimu sekarang karena kondisinya."

"Terjadi sesuatu pada Putri Pertama Kekaisaran! Yang Mulia baru saja menurunkan titah kekaisaran untuk menangkap Putri Pertama Kekaisaran dan mengirimkannya ke Makam Kekaisaran malam ini juga."

Mendengar perkataan Piao Xu, Qin Ling merasa bahwa ini bukanlah masalah kecil. Oleh sebab itu, ia menatap dua pengawal pintu itu sebelum menurunkan sebuah perintah. "Segera laporkan ini pada Pangeran Yun. Ia sedang berdiri di depan danau di taman kediaman."

Dengan posisinya sebagai pengikut kepercayaan Wei Mo Hai, tidak ada yang meragukan tentang Qin Ling yang sementara ini memerintah, dan kata-katanya mengandung banyak arti.

Karenanya, pengawal pintu itu segera pergi untuk memenuhi perintahnya.

Piao Xu menunggu dengan cemas, tangannya mencengkeram lengan bajunya dengan erat. Ia tidak mengerti, mengapa Kaisar memiliki kekuasaan sebesar itu. Bukan hanya ia merebut tiga dari enam kementerian dan mengurangi pajak, ia bahkan memerintahkan agar Putri Pertama Kekaisaran ditangkap!

0 comments:

Posting Komentar