Minggu, 22 Februari 2026

CTF - Chapter 253

Consort of A Thousand Faces

Chapter 253 : Pangeran Yun Dipaksa Menyerah


Bola mata Wei Mo Hai mengerut ketakutan sewaktu tangannya mulai jatuh, pemiliknya tak lagi mempunyai tenaga untuk mempertahankannya tetap terangkat.

Ning Ru Lan sudah sangat ganas. Kini, karena ia terlahir kembali dengan segala kebenciannya terhadap Pangeran Yun .... Ia benar-benar ingin bangkit dan memberitahu Pangeran Yun bahwa Su Xi-er adalah Ning Ru Lan!

Namun, kematian dengan cepat menghampiri, dan tenaganya pun lenyap. Pada akhirnya, ia hanya bisa berkata dengan napas sekaratnya, "Kau akan menemui ajal yang mengerikan." Setelah itu, tangan Wei Mo Hai terjatuh ke tanah dan mati dengan matanya yang terbuka lebar.

Su Xi-er mencibir dan membantunya menutup matanya yang garang itu. "Bagaimana bisa kau tidak memejamkan matamu setelah mati? Bahkan, membiarkanmu mati adalah membiarkanmu lepas dengan mudah. Pergi dan temani Lü Liu di kehidupanmu yang berikutnya; berlutut dan bertobatlah padanya. Di kehidupanmu yang selanjutnya, selamanya kau akan menjadi seorang pelayan."

(T/N : Orang yang mati dengan mata terbuka, dianggap mati penuh penyesalan.)

Su Xi-er bangkit dan merapikan gaun berwarna cyannya meski tangannya sakit.

Tiba-tiba saja, Yu Xiao lewat di gang tersebut dan kebetulan menangkap pemandangan sosok Su Xi-er. Ia sedang dalam perjalanan pulang dari membeli anggur di restoran dekat Sungai Air Caltrop. Ia tidak mengira kalau ia akan secara kebetulan berpapasan dengannya di sini.

Namun, ada yang salah dengan situasinya. Yu Xiao pun ke sana, tetapi terhenti kaku di jalan saat ia melihat Wei Mo Hai tergeletak, mati di tanah, ekspresi yang tidak biasa melintas di ceruk matanya.

Yu Xiao mengepalkan tangannya. Wei Mo Hai sudah mati, tetapi ia mati terlalu mudah! Itu tidak cukup untuk melampiaskan kebencian yang kumiliki karena ia membunuh temanku!

"Segera mundur. Tidak baik jika warga lain melihat ini." Su Xi-er mengingatkan sebelum berjalan maju ke depan dengan terburu-buru.

Namun, sebelum ia bisa sangat jauh, ia mulai merasa pusing. Melihat ke bawah ke tangannya, ia melihat kalau darah yang mengalir dari lukanya sudah berubah dari warna merah menjadi hitam.

Ada racun di pedangnya! Wei Mo Hai sungguh berupaya keras merencanakan hingga ke depan agar memastikanku mati.

Senyuman yang mendadak muncul di wajah Su Xi-er dipenuhi dengan niatan dingin yang bahkan membuat Yu Xiao kaget. Apakah ia juga mendendam pada Wei Mo Hai? Kalau tidak, tidak mungkin baginya menunjukkan ekspresi semacam itu.

Yu Xiao terdiam dan mengikuti di belakangnya, tetapi ketika ia melihat warna darah yang menghitam di tangan Su Xi-er, ia pun segera berlutut di depannya.

"Aku akan menggendongmu ke Asosiasi Sastra. Kau pasti akan mati kalau kau berjalan ke sana!" Yu Xiao mendesaknya dengan resah.

Su Xi-er merasa pening, dan kesadarannya perlahan-lahan menghilang. Akhirnya, Yu Xiao menggendongnya di punggungnya tanpa menunggu jawabannya dan bergegas menuju ke Asosiasi Sastra.

Dengan fisiknya yang kencang, Yu Xiao dengan cepat menuju ke Asosiasi Sastra.

Sementara itu, Wei Mo Hai terbaring di jalanan, mati. Di saat ini, tidak ada yang mengetahui bahwa komandan dari Pasukan Tentara Kekaisaran Nan Zhao, dan tangan kanan Yun Ruo Feng, sudah mati.

***

Tak perlu dikatakan lagi, Yun Ruo Feng juga tidak merasa baik sekarang ini. Semua orang berkumpul di depan Kediaman Wei, dan penampakan dari surat di lengan jubah si pelajar hanya membuat jantungnya tenggelam.

Ning Lian Chen berkomentar, "Tampaknya, pelajar inilah yang membunuh kedua Nona Wei, dan bukannya dayang Pangeran Hao. Pangeran Yun, jadi, apa yang kita lakukan dengan perjanjiannya?"

Yun Ruo Feng menenangkan dirinya sendiri. "Pelajar ini sudah mati. Kita tidak bisa menyimpulkan kalau ialah pembunuhnya hanya karena beberapa lembar surat. Apalagi, orang mati tidak bisa bercerita. Kita tidak bisa meneruskan penyelidikan."

Kilat terang melintas di mata Pei Qian Hao, dan ia terkekeh. "Pangeran ini tidak peduli siapa pembunuh yang sebenarnya. Yang penting adalah, orang yang membunuh Nona-Nona Wei bukanlah dayang Pangeran ini. Putri Pertama Kekaisaran menggunakan teguran dayang Pangeran ini pada dua Nona Wei sebagai pembenaran untuk menuduhnya, tetapi, katakan padaku, siapa yang punya motivasi yang lebih besar untuk membunuh di sini? Dayang Pangeran ini, atau si pelajar?"

Alasannya sangat masuk akal. Dalam perjanjian mereka, Su Xi-er dan Ning An Lian telah menyetujui kalau Ning An Lian akan pergi ke Makam Kekaisaran selama itu terbukti kalau Su Xi-er bukanlah pembunuhnya. Perjanjian itu tidak menyebutkan apa-apa soal mengetahui pelaku yang sebenarnya.

Ning Lian Chen bersorak dalam hatinya. Pintar sekali Pangeran Hao! Ia menggenggam titik kuncinya dan segera membuat Yun Ruo Feng tidak bisa membantah.

"Kaisar ini berpikir kalau si pelajar ini memiliki motif yang lebih besar untuk membunuh. Sementara untuk bagaimana si pelajar ini mati, tidak akan mengejutkan jika ia mengakhiri hidupnya sendiri karena rasa bersalah. Setelah membunuh Nona-Nona Wei yang sangat mencintainya, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari, dan memutuskan untuk mengakhirinya sekali untuk selamanya. Tidakkah kau berpikir ia memutuskan untuk melakukan itu daripada menderita hidup dalam rasa bersalah, Pangeran Yun?" Ning Lian Chen menatap Yun Ruo Feng, kata-katanya dilapisi dengan makna tersirat yang ia tahu orang itu akan memahaminya.

Napas Yun Ruo Feng tercekat sejenak selagi ia mengencangkan kepalan tangan di bawah lengan jubahnya.

Pei Qian Hao melambaikan tangannya. "Perjanjiannya harus dihormati. Karena hari ini adalah hari terakhir perjamuan kerajaan Nan Zhao, Yang Mulia harus mendiskusikan dengan Pangeran Yun, kapan kalian akan mengirimkan Putri Pertama Kekaisaran ke Makam Kekaisaran selama tiga tahun."

Ia sengaja meninggikan volume suaranya sehingga para warga yang mengerumuni dapat mendengarnya. Beberapa penjaja keliling yang cerdas pun seketika mengerti.

"Rupanya, dayang Pangeran Hao sudah membuat sebuah taruhan dengan Putri Pertama Kekaisaran."

"Bagaimana bisa Putri Pertama memfitnah orang?"

"Itu benar. Namun, itu juga benar bagi Putri Pertama Kekaisaran untuk pergi ke Makam Kekaisaran. Pergi ke sana akan menunjukkan rasa baktinya."

Semua orang di sekitar mulai bergosip. Tampaknya, Ning An Lian tidak punya pilihan selain pergi ke Makam Kekaisaran.

Pei Qian Hao membuka mulutnya lagi dan berbicara dengan suara yang penuh otoritas. "Pangeran Yun, Pangeran ini tidak suka orang yang menghancurkan kepercayaanku dan mengingkari ucapan mereka. Entah apakah itu memerintah kerajaan atau memimpin pasukan, kepercayaan adalah hal yang paling penting."

Pei Qian Hao berbalik dan naik ke atas kereta kuda di belakangnya.

Tak lama setelahnya, kereta kudanya mulai bergerak, Pei Qian Hao duduk tegak dan menyipitkan matanya. Su Xi-er akan segera kembali. Bagaimanapun juga, dua hari sudah hampir habis.

Aku sudah membiarkan Su Xi-er bebas sepenuhnya selama dua hari. Walaupun Su Xi-er masih punya waktu satu hari, ada perasaan tak terjelaskan dalam hati Pei Qian Hao yang membuatnya tidak nyaman dan merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres, menyebabkan alisnya, secara tak disadari, jadi tertaut.

Setelah Pei Qian Hao pergi, jalanan dimana Kediaman Wei terletak perlahan-lahan jadi sunyi. Yun Ruo Feng masih mempertahankan aura lembutnya yang biasa di depan semua orang.

"Pangeran Yun, kau harus kembali duluan karena kau merasa tidak sehat sebelumnya hari ini dan minum banyak anggur di perjamuan malam ini. Kaisar ini akan menangani sisanya." Ning Lian Chen melambaikan tangannya, menampilkan sikap seorang Kaisar.

Yun Ruo Feng mengangguk dan berpikir pada dirinya sendiri. Ning Lian Chen jadi semakin tidak terkendali. Aku harus bergerak untuk membuatnya dalam kendali setelah para pejabat penting dari berbagai kerajaan pergi.

"Yang Mulia menjadi semakin berbakat. Pangeran ini sangat senang karena Anda telah belajar untuk memedulikanku. Pangeran ini memang minum terlalu banyak anggur malam ini, dan akan undur diri lebih dulu." Yun Ruo Feng memberikan hormatnya dengan sopan dan berbalik pergi.

Aku harus menghormati Ning Lian Chen di depan para warga. Bagaimanapun juga, ia bahkan memberitahu mereka kalau ia akan mengurangi pajak sebelumnya hari ini.

Yun Ruo Feng naik ke atas kereta kudanya. Sebelum kereta kudanya berjalan terlalu lama, Qin Ling datang dengan menunggangi kuda. "Pangeran Yun, Komandan Wei masih belum kembali setelah menjalankan perintah Anda."

Alis Yun Ruo Feng tertaut. Tak peduli seberapa ganasnya Su Xi-er, ia hanyalah seorang wanita yang lemah. Mengapa Wei Mo Hai masih belum kembali?

"Tidak perlu panik, kita hanya akan menunggu."

Ekspresi Qin Ling sangat resah. "Pangeran Yun, Komandan Wei belum kembali, tetapi kuda perangnya telah kembali!"

Yun Ruo Feng segera mengangkat tirai kereta kudanya. Seorang komandan akan selalu bersama dengan kuda perangnya. Jika kuda perangnya kembali tanpa mereka, komandan itu, entah menghilang ... atau sudah mati.

0 comments:

Posting Komentar