Selasa, 17 Februari 2026

CTF - Chapter 248

Consort of A Thousand Faces

Chapter 248 : Penuh dengan Lika-Liku


Ning Lian Chen menurunkan tangannya yang terangkat dan menatap Yun Ruo Feng. "Pangeran Yun, banyak sastrawan yang menyerahkan surat ini. Kau harus memberikan penjelasan untuk kematian Guru Agung Liu, dan tindakanmu terhadap Asosiasi Sastra." Suaranya berkumandang dan penuh otoritas, sepenuhnya memamerkan sikap seorang kaisar.

Para tokoh penting dari kerajaan lain, semuanya memandangi Yun Ruo Feng. Bahkan, yang biasanya pencinta drama, Chu Ling Long hanya bisa jadi serius.

Pei Qian Hao adalah satu-satunya orang yang menatap ke kerumunan di pinggiran sungai; lebih spesifiknya, ia sedang melihat Guan Xiang. Pria ini adalah pengurus Asosiasi Sastra, dan sepertinya sedikit kuno. Seseorang seperti dirinya biasanya tidak fleksibel, jadi aku merasa sulit untuk memercayai bahwa ialah orang yang terpikirkan ide mengkonfrontasi Pangeran Yun.

Pei Qian Hao kemudian mengalihkan pandangannya kepada seorang pemuda yang menggantungkan kendi anggur di pinggangnya. Pria ini menarik. Tangannya berotot, dan sepertinya ia sering memanjat pohon dan lereng gunung. Ia pasti sangat lincah, dan bahkan mungkin hebat dalam pengintaian.

Pei Qian Hao lanjut melihat menembus kerumunan, tatapannya terhenti saat ia melihat satu sosok mengenakan gaun berwarna cyan. Sosok ini tampak akrab. Su Xi-er?

Ia mencoba melihat lebih dekat, tetapi wanita itu sepertinya mengetahui niatnya, dengan sengaja memunggunginya, sehingga Pei Qian Hao tidak bisa melihat wajahnya.

Pei Qian Hao terkekeh sendiri, dan ujung mulutnya sedikit terangkat. Itu Su Xi-er. Aku memberikannya waktu dua hari, tetapi di sinilah dirinya, dekat Sungai Air Caltrop hanya dalam satu malam.

Para sastrawan kemari untuk melakukan perang salib melawan Pangeran Yun, tetapi, apa yang Su Xi-er lakukan di dalam keramaian itu? Ia mengatakan kalau ia akan pergi ke Kediaman Liu kemarin; mungkinkah ia berada di sini untuk alasan yang sama?

Tiba-tiba saja, Pei Qian Hao merasa bahwa Su Xi-er terlalu banyak ikut campur. Para sastrawan menyebabkan gelombang dalam dunia sastra, menyerahkan surat mereka pada sang Kaisar, tetapi itu juga memengaruhi kekuasaan Yun Ruo Feng. Su Xi-er tidak memiliki alasan maupun hak untuk ikut campur dalam urusan kerajaan lain.

Di saat ini, suara acuh tak acuh Yun Ruo Feng dapat terdengar selagi pelan-pelan ia mengeluarkan sepucuk surat bertulisan darah dari lengan jubahnya. "Surat bertulisan darah ini adalah bukti bahwa Guru Agung Liu telah melakukan pengkhianatan dengan menyerahkan informasi kerajaan kita. Ia dibunuh karena ia mengkhianati Nan Zhao. Pangeran ini tadinya berniat melindungi reputasi Guru Agung Liu, dan menyimpan ini sebagai rahasia. Namun, karena Asosiasi Sastra tidak ingin membiarkan masalah ini berlalu, Pangeran ini akan membuat semuanya paham akan situasinya."

Setelah itu, Yun Ruo Feng melambaikan tangannya dan menginstruksikan Wei Mo Hai untuk menyerahkan surat bertulisan darah itu kepada Guan Xiang.

Wei Mo Hai mematuhi perintah dan naik ke atas tangga Kapal Naga, mengambil surat bertulisan darah tersebut sebelum kembali ke pinggiran sungai.

Tubuh Guan Xiang gemetaran. Pangeran Yun bahkan mempersiapkan sepucuk surat bertulisan darah untuk memfitnah Guru Agung Liu! Aku tahu dengan pasti orang macam apakah Guru Agung Liu, dan tidak mungkin ia akan mengkhianati Nan Zhao!

Su Xi-er mengetahui kalau Yun Ruo Feng sudah mempersiapkan sesuatu. Sudah siap sebelumnya, ia pun melirik Yu Xiao.

Yu Xiao mengerti dan diam-diam meninggalkan kerumunan, tidak menyadari bahwa mata Pei Qian Hao mengikuti lekat sosoknya sewaktu ia melangkah pergi.

Saat ini, Yun Ruo Feng memerintahkan, "Bawakan bukti yang disebut-sebut itu dari tangan Guan Xiang dan biarkan Pangeran ini melihatnya."

Ning Lian Chen membalas. "Pangeran Yun, dengan begitu banyaknya pejabat penting dari kerajaan berbeda, dimanakah rasa hormatmu pada Kaisar ini? Semestinya tidak hanya kau saja yang memutuskan bagaimana untuk menyelidiki kasus Guru Agung Liu."

Yun Ruo Feng tersenyum samar. "Guru Agung Liu telah mengajari Anda selama bertahun-tahun, dan Anda sangat menghormati guru Anda. Pangeran ini cemas kalau Anda akan memihak, sehingga lebih baik apabila Yang Mulia tidak ikut campur dengan ini."

"Lucu sekali. Yang Mulia ini tidak diizinkan untuk ikut campur dalam peristiwa sebesar pengkhianatan? Putra Mahkota ini tidak mengerti, apakah karena Pangeran Yun tidak ingin mengembalikan otoritasnya pada Yang Mulia?" Chu Ling Long yang duluan mempertanyakan. Sejejak minat bangkit di matanya sementara ia bersiap-siap untuk menonton drama tersebut.

Yun Ruo Feng sudah datang dengan persiapan; dengan semua tentara dan jenderal di tempatnya, ia merasa kalau tidak ada yang mampu menggoyahkan kepercayaan dirinya dan menghancurkan rencananya.

Oleh sebab itu, ekspresinya tetap tidak berubah ketika berhadapan dengan interogasi Chu Ling Long. "Yang Mulia masih belum mencapai kedewasaannya, dan masih belum berpengalaman. Dengan mendiang Kaisar yang memercayakan Yang Mulia kepada Pangeran ini, aku akan tidak menghormati harapannya apabila aku tidak mengurus Yang Mulia. Selain itu, sebagai seseorang yang berasal dari Dong Ling, aku harap Anda tidak ikut campur dengan urusan Nan Zhao, Putra Mahkota Chu."

Ia sudah membungkam Chu Ling Long dengan satu kalimat. Memang tidak pantas bagiku untuk ikut campur dalam urusan internal Nan Zhao.

Semua orang di Kapal Naga menatap Wei Mo Hai dan surat bertulisan darah di tangannya. Tak lama setelahnya, surat itu diberikan ke tangan Guan Xiang.

Guan Xiang mengambil surat bertulisan darah itu dan meliriknya. Bagaimana mungkin ... ini juga adalah tulisan tangan Guru Agung Liu! Bagaimana bisa, kedua suratnya memiliki tulisan tangan Guru Agung Liu?!

Yun Ruo Feng melihat kalau Guan Xiang menundukkan kepalanya dan tidak bicara sama sekali. "Guan Xiang, selama kau membawa pergi semua orang dari Asosiasi Sastra, Pangeran ini tidak akan menghukummu untuk saat ini. Kalau tidak, kau akan menanggung kejahatan karena telah mengganggu jalannya penabuhan genderang perjamuan kerajaan. Apa kau sanggup menanggung itu?"

Guan Xiang menggenggam surat bertulisan darah itu dengan erat di tangannya dan berteriak, "Orang biasa ini tidak percaya kalau Guru Agung Liu akan melakukan pengkhianatan. Seseorang sudah meniru tulisan tangan Guru Agung Liu dan menuliskan surat bertulisan darah ini!"

"Omong kosong, tidak ada orang yang bisa meniru tulisan tangan Guru Agung Liu." Suara Yun Ruo Feng keras, dan matanya berkilat sewaktu ia memandang ke arah Guan Xiang.

Bersembunyi di dalam kerumunan, mata Su Xi-er sedikit menyipit; ia menyerahkan sehelai saputangan pada Yu Xiao selagi mereka berpapasan. "Bawa para tentara dari Pasukan Tentara Kekaisaran yang terikat, kemudian serahkan saputangannya pada Guan Xiang. Guan Xiang akan mengerti setelah ia melihatnya."

Yu Xiao mengangguk dan menyimpan saputangan itu di dalam lengan jubahnya. Segera setelahnya, ia memaksa dua tentara yang terikat dari Pasukan Tentara Kekaisaran untuk bangkit.

Para warga sipil kebingungan saat mereka melihat beberapa pria kekar yang terikat mendadak dibawa masuk.

Alis Wei Mo Hai tertaut. Ini adalah bawahanku dari yang semalam. Mengapa mereka tidak menggigit lidah dan bunuh diri setelah tertangkap?

Yu Xiao membuat para tentara itu berlutut dan dengan lantang mengumumkan, "Pangeran Yun memerintahkan Komandan Wei untuk menyerang Asosiasi Sastra tengah malam semalam. Jika bukan karena tindakan cepat Guan Xiang, takutnya, Asosiasi Sastra sudah menjadi bola api seperti Kediaman Liu!"

Kerumunan gempar lagi, terutama para warga yang tinggal di dekat Asosiasi Sastra. "Itu benar, aku ada di sana semalam. Ada banyak tanda di bahu para pengawal kekaisaran ini. Tentara dari Pasukan Tentara Kekaisaran sungguh mengayunkan pisau dan pedang mereka terhadap Asosiasi itu!"

Yun Ruo Feng tidak menyangka ini terjadi. Ekspresinya sedikit berubah sebelum kembali normal.

Namun, sebelum Yun Ruo Feng bisa membela diri, salah satu tentara dari Pasukan Tentara Kekaisaran meneriakkan, "Komandan Wei, bawahan ini sudah gagal membunuh orang-orang dari Asosiasi Sastra. Bawahan ini akan memberikan nyawaku sebagai hukumannya!" Setelah itu, si tentara pun menggigit lidahnya dan seketika berhenti bernapas.

Tentara lainnya yang diberi obat juga mengikuti, menyebabkan jantung Yun Ruo Feng serasa tenggelam dengan kuatnya.

Wei Mo Hai juga bingung. Mereka tidak bunuh diri, maupun memutuskan untuk mati nanti. Tidak, mereka memilih saat ini untuk menusuk punggung tuan mereka sebelum bunuh diri!

Yu Xiao mencibir sendiri. Obatku benar-benar bekerja dengan baik! Setelah itu, ia menyerahkan saputangannya pada Guan Xiang.

Guan Xiang meliriknya. Saputangan itu adalah sesuatu yang digunakan oleh seorang wanita, sehingga itu pasti berasal dari Nona! Tulisan tangan di atasnya sama persis dengan tulisan tangan Guru Agung Liu! Bahkan, tinta di atas saputangannya masih segar. Tidak mungkin ini ditulis lebih dari beberapa jam yang lalu. Nona begitu cerdas hingga ia bahkan memprediksikan langkah Pangeran Yun!

Guan Xiang segera menyembah dan membalas dengan lantang, "Pangeran Yun, tulisan tangan Guru Agung Liu bisa ditiru oleh orang lain. Tulisan tangan di atas saputangan ini jelas sekali dituliskan baru-baru ini oleh seseorang. Ini sama persis dengan tulisan tangan Guru Agung Liu!" 

0 comments:

Posting Komentar