Consort of A Thousand Faces
Chapter 244 : Mengikuti Nona
Setelah
mendengar segala kericuhan itu, warga lainnya dari jalan-jalan dekat sana pun
ikut berdatangan. Setelah mendengar apa yang terjadi, sebuah hipotesis yang
berani pun terbentuk. "Kediaman Liu terbakar rata dengan tanah bahkan
tanpa ada seorang pun yang berhasil lolos. Sekarang, karena Pasukan Tentara
Kekaisaran sudah menyerang Asosiasi Sastra, sepertinya ini mustahil suatu
kebetulan."
Su
Xi-er tidak ikut campur, membiarkan para warga bergosip. Yun Ruo Feng,
reputasimu ditakdirkan untuk menerima pukulan setelah rumor ini menyebar di
seluruh kota esok hari.
Yu
Xiao mengeluarkan kendi anggur dari
pinggangnya dan mendongakkan kepala untuk
menyesapnya, memerhatikan Su Xi-er selagi ia melakukannya. Wanita ini
jadi semakin aneh saja. Bukan hanya ia misterius, ia juga sangat pintar.
Su
Xi-er berbalik dan kembali menuju ke Asosiasi Sastra setelah ia melihat kalau
rencananya bekerja, mendorong Yu Xiao menyimpan kendi
anggurnya dan mengikuti di belakangnya.
"Nona,
siapa sebenarnya kau?" Yu Xiao gigih.
"Aku?
Hanya seorang wanita lemah yang belum pernah kau dengar sebelumnya." Su
Xi-er terus menuju ke kamar rahasia sewaktu ia berbicara.
Yu
Xiao menutup pintu dengan benar, menguncinya, dan terus mengikuti Su
Xi-er. Mengapa wanita aneh ini bahkan jauh lebih familier dengan
Asosiasi Sastra daripada aku?
Haruskah
aku menyebutnya sesuatu yang berbeda? Setidaknya, ia bukanlah seorang wanita
kecil yang lemah. Ia bahkan terpikirkan tindakan balasan setelah mengetahui
kalau obat biusku tidak akan bisa
menghentikan Wei Mo Hai. Faktanya, orang yang menghentikan Wei Mo Hai bukan
aku, tetapi dia! Yu Xiao pun kaget setelah menyadari ini, merasakan
kalau gadis ini bukanlah seorang karakter yang sederhana.
Su
Xi-er memasuki Paviliun Etiket dan menuju ke pegangan lilin di dinding,
memutarnya searah jarum jam satu kali. Rak buku di sebelahnya mendadak
terpisah, memperlihatkan sebuah pintu rahasia.
Segera
setelahnya, ia mendorong sebuah buku di rak kedua, menyebabkan pintu itu
terbuka dengan sendirinya.
Su
Xi-er berjalan masuk ke dalam tanpa memedulikan ekspresi kebingungan Yu Xiao.
Rak buku itu kembali ke posisi mereka semula setelah keduanya berjalan masuk ke
dalam, sekali lagi, meninggalkan ruangan itu hening lagi.
Setelah
berada di dalam ruangan yang diterangi cahaya lilin, Su Xi-er mendengar
beberapa helaan napas lega. Ia menemukan segerombolan sastrawan yang berlutut
di lantai, terdapat campuran kesedihan dan amarah di wajah mereka.
Salah
satu sastrawan itu menanyai Guan Xiang, yang sudah tersadar setelah dibuat
pingsan, "Apakah Guru Agung Liu sungguh dibunuh oleh Pangeran Yun?"
Ia
mengangguk dan membalas, "Surat tersebut ditulis sendiri oleh Guru Agung
Liu. Aku yakin kalau itu adalah dirinya." Setelah ia selesai bicara, ia
melirik sekitar dan melihat Su Xi-er dan Yu Xiao.
Tampaknya
sudah aman di luar sana, jika mereka berdua telah kembali. Guan Xiang
menghela napas lega dan membungkuk dengan kedua tangan yang dilipat di
depannya, berterima kasih pada Su Xi-er. Namun, seperti yang bisa diduga
setelah dibuat pingsan tanpa peringatan, nada bicaranya tidak benar-benar
ramah. "Nona, terima kasih atas bantuanmu, tetapi kau tidak ada
hubungannya dengan Asosiasi Sastra. Sementara untuk Guru Agung Liu, aku akan
menegakkan keadilan untuknya."
Su
Xi-er membalas dengan sopan, "Guan Xiang, aku harap kau mengerti kalau aku
tidak punya pilihan selain membuatmu pingsan sebelumnya. Biar begitu, meskipun
aku bukanlah seorang pelajar dan tidak terkait dengan Asosiasi Sastra, aku
menyaksikan Guru Agung Liu mati di depan mataku. Ia sendiri yang menyerahkan
surat ini padaku, bersama dengan harapan terakhirnya, jadi aku tidak bisa
membiarkan masalah ini begitu saja. Aku akan membantu kalian untuk mencarikan
keadilan bagi Guru Agung Liu."
Semua
orang terkejut dengan kata-katanya, bahkan Yu Xiao membeku setengah jalan saat
mengambil kendi anggurnya.
Setelah
waktu yang lama, Guan Xiang menyembah untuk memberikan hormatnya. "Nona,
kau adalah seseorang yang dipercayai oleh Guru Agung Liu. Karenanya, Asosiasi
Sastra akan memercayai Guru Agung Liu, dan mengikuti perintahmu demi menegakkan
keadilan untuknya!"
Ketika
segerombolan sastrawan itu mendengar ini, mereka juga menyembah untuk memberi
hormat mereka. "Kami akan mengikuti perintahmu,
Nona."
Semua
orang setuju, hanya meninggalkan Yu Xiao satu-satunya yang tidak ikut serta
meskipun sudah berganti ke ekspresi main-mainnya yang biasa.
Guan
Xiang meliriknya. "Yu Xiao, sekarang bukan waktunya bertindak
gegabah."
Yu
Xiao mengangkat bahu. "Nona ini sangat cakap, tetapi aku penasaran tentang
mengapa Guru Agung Liu akan sangat memercayaimu. Nona, kau harusnya paham,
bahwa tidak ada banyak orang yang bisa mendapatkan kepercayaan Guru Agung Liu,
terlebih lagi seseorang yang baru kelihatan sepertinya mereka berusia lima
belas atau enam belas tahun."
"Kau
memiliki kemampuan bertarung yang hebat, terutama tinju mabukmu." Su Xi-er
tidak menjawab pertanyaannya, bahkan mendadak mengubah topiknya.
Yu
Xiao tidak paham kenapa Su Xi-er melakukan begitu, tetapi kata-katanya sendiri
sudah cukup membuatnya terdiam.
Ia
bahkan ....
"Ada
lubang di samping sepatumu, tetapi jubah biru lautmu bersih dan rapi. Sepasang
sepatu ini pastinya telah menemanimu selama bertahun-tahun, tetapi ukuran
kakimu belum berubah selama itu, meskipun kau bertambah dewasa. Jika aku benar,
kau pastinya terlahir di Desa Tanduk Lama. Namun, dengan tiadanya kedua orang
tuamu, kau dibesarkan oleh Guan Xiang. Sementara untuk minum anggur, kau tidak
sungguh menikmatinya. Yang ada, sebenarnya kau benci minum anggur."
Su
Xi-er berhenti bicara di titik ini dan memandang Yu Xiao sambil tersenyum.
Yu
Xiao begitu terkejut hingga ia nyaris berhenti bernapas. Setelah sesaat, ia
menyembah menyampaikan hormatnya seperti semua orang lainnya. "Nona, kau
sangat cerdas dan jeli. Mulai dari sekarang, Yu Xiao bersedia mengikuti
perintahmu."
"Cukup
ingat saja kalau kau sudah setuju untuk mendengarkan perintahku." Senyuman
Su Xi-er menghilang selagi ia berujar dengan tenang.
Guan
Xiang mendongakkan kepalanya, melirik ke arah Yu Xiao sebelum membalas,
"Ia akan mengikuti perintahmu, seperti yang dijanjikan. Aku mengantisipasi
kalau ia akan belajar banyak dengan mengikutimu, Nona."
Yu
Xiao menyembah lagi untuk memberi hormatnya. "Nona, sebagai orang pertama
yang bisa menebak diriku, aku bersedia mengikuti perintahmu. Kemampuan
bertarungku tidak buruk; aku juga berbakat dalam membuat obat-obatan dan
mengintai."
Su
Xi-er mengulurkan tangannya untuk membantu pria itu bangun. "Aku akan
menerimamu. Kemampuan seperti ini sangat berguna bagiku sekarang ini."
Yu
Xiao bangkit berdiri dengan tambahan keseriusan dan rasa hormat dalam suaranya.
"Nona, kapan dan bagaimana kita akan menghadapi Pangeran Yun?"
"Hari
ketiga dari perjamuan kerajaan akan dimulai besok pada pukul lima pagi. Sesuai
tradisi, akan ada penabuhan genderang di Sungai Air Caltrop untuk
mendemonstrasikan kekuatan Nan Zhao. Guan Xiang, tuliskan selembar surat untuk
pemakzulan malam ini. Pukul lima esok hari, aku ingin kalian semua berbaur
bersama dengan para warga dan menyampaikan surat ini sebelum penabuhan genderang
dimulai!"
Keramaiannya
akan berada di puncaknya pada pukul lima pagi besok, membuatnya menjadi waktu
terbaik untuk menghadapi Pangeran Yun.
"Kabar
bahwa Pangeran Yun membunuh Guru Agung Liu dan turun tangan pada Asosiasi
Sastra akan keluar malam ini, membuat perang salib besok akan lebih
efektif!" Mendadak Yu Xiao berseru, dengan kilat senyuman yang menyala di
matanya.
Su Xi-er menyadari kalau senyuman itu bercampur
dengan jejak kesedihan. Yun Ruo Feng selalu lembut dan hangat di depan
orang-orang, tetapi Yu Xiao memiliki sejenis kebencian aneh terhadap dirinya.
Mungkinkah ....
Yu
Xiao melihat kebingungan di mata Su Xi-er, sehingga ia mulai menjelaskan.
"Aku tidak mengenal orang tuaku, tetapi aku punya seorang sahabat yang
sangat akrab. Ia beberapa tahun lebih tua dariku, dan pergi ke barak tentara
untuk berlatih. Ia melayani Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu, dan ketika
Putri Pertama dimasukkan ke dalam penjara, ia adalah salah satu tentara yang
dikirimkan ke gerbang samping istana kekaisaran untuk menjemputnya. Siapa yang sangka, setelah kematian Putri Pertama
Kekaisaran yang terdahulu, Pangeran Yun akan memerintahkan orang-orangnya untuk
membunuh sesama prajurit mereka juga?"
Nada
bicara Yu Xiao pelan, tetapi kata-katanya berat.
Guan
Xiang menghela napas. Aku tahu tentang itu. Tadinya, aku mengira kalau
Pangeran Yun membunuh Putri Pertama Kekaisaran terdahulu karena ia ikut campur
dalam politik mahkamah yang mana bertentangan dengan peraturan nasional. Tetapi
sekarang, ia mendadak membunuh Guru Agung Liu, aku tidak punya pilihan selain
memberontak melawannya.
Su
Xi-er menepuk pundak Yu Xiao sebelum berbalik pada Guan Xiang dan
menginstruksikan, "Tuliskan suratnya. Pukul lima pagi besok, kita akan
pergi dan menentang Yun Ruo Feng di Sungai Air Caltrop!"
"Mengikuti
Nona dan menentang Pangeran Yun!" Semua orang serempak dengan emosi yang
bergejolak.

0 comments:
Posting Komentar