Selasa, 17 Februari 2026

CTF - Chapter 244

Consort of A Thousand Faces

Chapter 244 : Mengikuti Nona


Setelah mendengar segala kericuhan itu, warga lainnya dari jalan-jalan dekat sana pun ikut berdatangan. Setelah mendengar apa yang terjadi, sebuah hipotesis yang berani pun terbentuk. "Kediaman Liu terbakar rata dengan tanah bahkan tanpa ada seorang pun yang berhasil lolos. Sekarang, karena Pasukan Tentara Kekaisaran sudah menyerang Asosiasi Sastra, sepertinya ini mustahil suatu kebetulan."

Su Xi-er tidak ikut campur, membiarkan para warga bergosip. Yun Ruo Feng, reputasimu ditakdirkan untuk menerima pukulan setelah rumor ini menyebar di seluruh kota esok hari.

Yu Xiao mengeluarkan kendi anggur dari pinggangnya dan mendongakkan kepala untuk menyesapnya, memerhatikan Su Xi-er selagi ia melakukannya. Wanita ini jadi semakin aneh saja. Bukan hanya ia misterius, ia juga sangat pintar.

Su Xi-er berbalik dan kembali menuju ke Asosiasi Sastra setelah ia melihat kalau rencananya bekerja, mendorong Yu Xiao menyimpan kendi anggurnya dan mengikuti di belakangnya.

"Nona, siapa sebenarnya kau?" Yu Xiao gigih.

"Aku? Hanya seorang wanita lemah yang belum pernah kau dengar sebelumnya." Su Xi-er terus menuju ke kamar rahasia sewaktu ia berbicara.

Yu Xiao menutup pintu dengan benar, menguncinya, dan terus mengikuti Su Xi-er. Mengapa wanita aneh ini bahkan jauh lebih familier dengan Asosiasi Sastra daripada aku?

Haruskah aku menyebutnya sesuatu yang berbeda? Setidaknya, ia bukanlah seorang wanita kecil yang lemah. Ia bahkan terpikirkan tindakan balasan setelah mengetahui kalau obat biusku tidak akan bisa menghentikan Wei Mo Hai. Faktanya, orang yang menghentikan Wei Mo Hai bukan aku, tetapi dia! Yu Xiao pun kaget setelah menyadari ini, merasakan kalau gadis ini bukanlah seorang karakter yang sederhana.

Su Xi-er memasuki Paviliun Etiket dan menuju ke pegangan lilin di dinding, memutarnya searah jarum jam satu kali. Rak buku di sebelahnya mendadak terpisah, memperlihatkan sebuah pintu rahasia.

Segera setelahnya, ia mendorong sebuah buku di rak kedua, menyebabkan pintu itu terbuka dengan sendirinya.

Su Xi-er berjalan masuk ke dalam tanpa memedulikan ekspresi kebingungan Yu Xiao. Rak buku itu kembali ke posisi mereka semula setelah keduanya berjalan masuk ke dalam, sekali lagi, meninggalkan ruangan itu hening lagi.

Setelah berada di dalam ruangan yang diterangi cahaya lilin, Su Xi-er mendengar beberapa helaan napas lega. Ia menemukan segerombolan sastrawan yang berlutut di lantai, terdapat campuran kesedihan dan amarah di wajah mereka.

Salah satu sastrawan itu menanyai Guan Xiang, yang sudah tersadar setelah dibuat pingsan, "Apakah Guru Agung Liu sungguh dibunuh oleh Pangeran Yun?"

Ia mengangguk dan membalas, "Surat tersebut ditulis sendiri oleh Guru Agung Liu. Aku yakin kalau itu adalah dirinya." Setelah ia selesai bicara, ia melirik sekitar dan melihat Su Xi-er dan Yu Xiao.

Tampaknya sudah aman di luar sana, jika mereka berdua telah kembali. Guan Xiang menghela napas lega dan membungkuk dengan kedua tangan yang dilipat di depannya, berterima kasih pada Su Xi-er. Namun, seperti yang bisa diduga setelah dibuat pingsan tanpa peringatan, nada bicaranya tidak benar-benar ramah. "Nona, terima kasih atas bantuanmu, tetapi kau tidak ada hubungannya dengan Asosiasi Sastra. Sementara untuk Guru Agung Liu, aku akan menegakkan keadilan untuknya."

Su Xi-er membalas dengan sopan, "Guan Xiang, aku harap kau mengerti kalau aku tidak punya pilihan selain membuatmu pingsan sebelumnya. Biar begitu, meskipun aku bukanlah seorang pelajar dan tidak terkait dengan Asosiasi Sastra, aku menyaksikan Guru Agung Liu mati di depan mataku. Ia sendiri yang menyerahkan surat ini padaku, bersama dengan harapan terakhirnya, jadi aku tidak bisa membiarkan masalah ini begitu saja. Aku akan membantu kalian untuk mencarikan keadilan bagi Guru Agung Liu."

Semua orang terkejut dengan kata-katanya, bahkan Yu Xiao membeku setengah jalan saat mengambil kendi anggurnya.

Setelah waktu yang lama, Guan Xiang menyembah untuk memberikan hormatnya. "Nona, kau adalah seseorang yang dipercayai oleh Guru Agung Liu. Karenanya, Asosiasi Sastra akan memercayai Guru Agung Liu, dan mengikuti perintahmu demi menegakkan keadilan untuknya!"

Ketika segerombolan sastrawan itu mendengar ini, mereka juga menyembah untuk memberi hormat mereka. "Kami akan mengikuti perintahmu, Nona."

Semua orang setuju, hanya meninggalkan Yu Xiao satu-satunya yang tidak ikut serta meskipun sudah berganti ke ekspresi main-mainnya yang biasa.

Guan Xiang meliriknya. "Yu Xiao, sekarang bukan waktunya bertindak gegabah."

Yu Xiao mengangkat bahu. "Nona ini sangat cakap, tetapi aku penasaran tentang mengapa Guru Agung Liu akan sangat memercayaimu. Nona, kau harusnya paham, bahwa tidak ada banyak orang yang bisa mendapatkan kepercayaan Guru Agung Liu, terlebih lagi seseorang yang baru kelihatan sepertinya mereka berusia lima belas atau enam belas tahun."

"Kau memiliki kemampuan bertarung yang hebat, terutama tinju mabukmu." Su Xi-er tidak menjawab pertanyaannya, bahkan mendadak mengubah topiknya.

Yu Xiao tidak paham kenapa Su Xi-er melakukan begitu, tetapi kata-katanya sendiri sudah cukup membuatnya terdiam.

Ia bahkan ....

"Ada lubang di samping sepatumu, tetapi jubah biru lautmu bersih dan rapi. Sepasang sepatu ini pastinya telah menemanimu selama bertahun-tahun, tetapi ukuran kakimu belum berubah selama itu, meskipun kau bertambah dewasa. Jika aku benar, kau pastinya terlahir di Desa Tanduk Lama. Namun, dengan tiadanya kedua orang tuamu, kau dibesarkan oleh Guan Xiang. Sementara untuk minum anggur, kau tidak sungguh menikmatinya. Yang ada, sebenarnya kau benci minum anggur."

Su Xi-er berhenti bicara di titik ini dan memandang Yu Xiao sambil tersenyum.

Yu Xiao begitu terkejut hingga ia nyaris berhenti bernapas. Setelah sesaat, ia menyembah menyampaikan hormatnya seperti semua orang lainnya. "Nona, kau sangat cerdas dan jeli. Mulai dari sekarang, Yu Xiao bersedia mengikuti perintahmu."

"Cukup ingat saja kalau kau sudah setuju untuk mendengarkan perintahku." Senyuman Su Xi-er menghilang selagi ia berujar dengan tenang.

Guan Xiang mendongakkan kepalanya, melirik ke arah Yu Xiao sebelum membalas, "Ia akan mengikuti perintahmu, seperti yang dijanjikan. Aku mengantisipasi kalau ia akan belajar banyak dengan mengikutimu, Nona."

Yu Xiao menyembah lagi untuk memberi hormatnya. "Nona, sebagai orang pertama yang bisa menebak diriku, aku bersedia mengikuti perintahmu. Kemampuan bertarungku tidak buruk; aku juga berbakat dalam membuat obat-obatan dan mengintai."

Su Xi-er mengulurkan tangannya untuk membantu pria itu bangun. "Aku akan menerimamu. Kemampuan seperti ini sangat berguna bagiku sekarang ini."

Yu Xiao bangkit berdiri dengan tambahan keseriusan dan rasa hormat dalam suaranya. "Nona, kapan dan bagaimana kita akan menghadapi Pangeran Yun?"

"Hari ketiga dari perjamuan kerajaan akan dimulai besok pada pukul lima pagi. Sesuai tradisi, akan ada penabuhan genderang di Sungai Air Caltrop untuk mendemonstrasikan kekuatan Nan Zhao. Guan Xiang, tuliskan selembar surat untuk pemakzulan malam ini. Pukul lima esok hari, aku ingin kalian semua berbaur bersama dengan para warga dan menyampaikan surat ini sebelum penabuhan genderang dimulai!"

Keramaiannya akan berada di puncaknya pada pukul lima pagi besok, membuatnya menjadi waktu terbaik untuk menghadapi Pangeran Yun.

"Kabar bahwa Pangeran Yun membunuh Guru Agung Liu dan turun tangan pada Asosiasi Sastra akan keluar malam ini, membuat perang salib besok akan lebih efektif!" Mendadak Yu Xiao berseru, dengan kilat senyuman yang menyala di matanya.

Su Xi-er menyadari kalau senyuman itu bercampur dengan jejak kesedihan. Yun Ruo Feng selalu lembut dan hangat di depan orang-orang, tetapi Yu Xiao memiliki sejenis kebencian aneh terhadap dirinya. Mungkinkah ....

Yu Xiao melihat kebingungan di mata Su Xi-er, sehingga ia mulai menjelaskan. "Aku tidak mengenal orang tuaku, tetapi aku punya seorang sahabat yang sangat akrab. Ia beberapa tahun lebih tua dariku, dan pergi ke barak tentara untuk berlatih. Ia melayani Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu, dan ketika Putri Pertama dimasukkan ke dalam penjara, ia adalah salah satu tentara yang dikirimkan ke gerbang samping istana kekaisaran untuk menjemputnya. Siapa yang sangka, setelah kematian Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu, Pangeran Yun akan memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh sesama prajurit mereka juga?"

Nada bicara Yu Xiao pelan, tetapi kata-katanya berat.

Guan Xiang menghela napas. Aku tahu tentang itu. Tadinya, aku mengira kalau Pangeran Yun membunuh Putri Pertama Kekaisaran terdahulu karena ia ikut campur dalam politik mahkamah yang mana bertentangan dengan peraturan nasional. Tetapi sekarang, ia mendadak membunuh Guru Agung Liu, aku tidak punya pilihan selain memberontak melawannya.

Su Xi-er menepuk pundak Yu Xiao sebelum berbalik pada Guan Xiang dan menginstruksikan, "Tuliskan suratnya. Pukul lima pagi besok, kita akan pergi dan menentang Yun Ruo Feng di Sungai Air Caltrop!"

"Mengikuti Nona dan menentang Pangeran Yun!" Semua orang serempak dengan emosi yang bergejolak.

0 comments:

Posting Komentar