Minggu, 22 Februari 2026

CTF - Chapter 258

Consort of A Thousand Faces

Chapter 258 : Menunggu


Pei Qian Hao duduk di bangku utama di rumah pos dengan seteko teh di atas meja. Tadinya, ia ingin minum anggur, tetapi tiba-tiba saja teringat kata-kata Su Xi-er. "Pangeran Hao, jangan minum terlalu banyak."

Sebagai hasilnya, ia pun terjebak dalam minum teh. Su Xi-er akan kembali pukul lima sore hari ini, batas waktu yang kuberikan padanya.

Menyadari aura membekukan di sekeliling Pangeran Hao, para pengawal pun undur diri dari aula utama, tidak berani membuat suara sedikit pun; tiba-tiba saja, rumah pos jadi sangat senyap.

Pei Qian Hao tetap di tempat duduknya, mengutak-atik cangkir tehnya dan mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Lebih dari apa pun, ia sedang memerhatikan pintu masuk aula utama.

Tetapi, biarpun ketika pengawal datang untuk mengantarkan makanannya pukul lima sore, Su Xi-er masih belum menampakkan dirinya.

Wanita ini benar-benar lancang sekali, terlambat. Mungkin, ia menjalani kehidupan yang santai di luar sana hingga ia telah melupakanku.

Tepat saat ini, seorang pengawal berjalan masuk ke aula utama bersama sepucuk surat dan membungkuk dengan hormat. "Pangeran Hao, surat merpati pos Komandan Wu."

Pei Qian Hao mengambil surat itu dan membacanya sepintas. Wu Ling menyebutkan bahwa Tuan Pei dan Ibu Suri telah menghalangi percobaannya untuk menangkap Pei Yong. Ia berharap agar Pangeran Hao akan cepat-cepat kembali ke Bei Min demi mengatasi situasi ini.

Pei Qian Hao melipat surat itu dan menginstruksikan si pengawal yang berdiri di sisinya. "Bakar."

Pengawal itu mengambil suratnya dan bertanya dengan hati-hati, "Pangeran Hao, dengan berakhirnya perjamuan kerajaan Nan Zhao, apakah kita kembali ke Bei Min hari ini?"

Suara Pei Qian Hao tenang. "Su Xi-er belum kembali." Ia melirik ke pintu masuk aula utama. Aku akan berikan tambahan waktu satu jam. Jika ia masih belum kembali saat itu, ia siap untuk dipukuli!

Si pengawal mengamati ekspresi Pangeran Hao dengan cermat sebelum merenungi kata-katanya. Kami masih belum bisa kembali ke Bei Min karena Su Xi-er belum kembali. Berani sekali dia, dari semua orang, membuat Pangeran Hao menunggunya. Kemana perginya dia?

Tidak berani menyuarakan ini dengan lantang, si pengawal pun buru-buru membawa surat itu dan keluar dari aula, bersiap untuk membakar surat itu seperti yang diperintahkan. Tepat saat ia melangkah ke luar, ia melihat salah satu rekannya sedang masuk dengan jejak yang mendesak di sekelilingnya.

Setelah pengawal lainnya masuk, ia pun membungkuk dan melaporkan, "Pangeran Hao, Putri Pertama Kekaisaran tidak sadarkan diri. Berdasarkan diagnosis tabib kekaisaran, entah ia jadi gila atau akan menjadi mayat hidup. Komandan Wei-nya Nan Zhao juga meninggal secara misterius kemarin."

Tadinya, Pei Qian Hao tidak peduli, tetapi mengerutkan alisnya mendengarkan kabar yang kedua. "Kapan Komandan Wei meninggal? Dimana jasadnya ditemukan?"

Pengawal itu menjawab dengan hormat. "Aku dengar kalau ia meninggal semalam di dalam sebuah gang yang tak terpakai di ibu kota. Sementara untuk waktu spesifik kematiannya, bawahan ini tidak mengetahuinya."

Kilat yang kasar melintas di mata Pei Qian Hao. Saat para sastrawan dari Asosiasi Sastra melakukan celaan pada Pangeran Yun, Su Xi-er berada di dalam kerumunan warga. Apakah Yun Ruo Feng salah paham, mengira ia merupakan bagian dari kerusuhan itu dan mengutus Wei Mo Hai untuk membunuhnya? Tetapi, yang berakhir mati malah adalah Wei Mo Hai sendiri.

Pei Qian Hao mengikuti rentetan pemikiran ini sebentar lagi sebelum menghilangkannya. Setelah merenungi situasinya sedikit lagi, ia berhasil menata pemikirannya. Kematian Su Xi-er akan sama dengan kesepakatan yang dibatalkan. Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao tidak perlu pergi ke Makam Kekaisaran.

Wow, rencana yang hebat sekali, Yun Ruo Feng. Kau bahkan berani menyentuh dayang Pangeran ini.

Pei Qian Hao melambaikan tangannya. "Cepatlah pergi dan selidiki apakah Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao sungguh tidak sadarkan diri atau berpura-pura. Sebarkan kabar di antara para penduduk juga. Semakin banyak orang yang mengetahuinya, makin baik."

"Bawahan ini mematuhi perintah." Pengawal itu bergegas pergi.

Pei Qian Hao tak lagi tetap duduk di rumah pos. Barangkali, alasan Su Xi-er belum kembali, bukannya karena ia tidak ingin, tetapi karena ia tidak bisa. Bagaimanapun juga, orang yang dikirim untuk mengejarnya adalah Wei Mo Hai. Walaupun, orang itu mati, bukan berarti kalau Su Xi-er lepas tanpa terluka ....

Memikirkan ini, Pei Qian Hao segera berjalan keluar dari aula utama dan langsung menuju ke pintu masuk rumah pos. Pengawal yang berdiri di pintu masuk rumah pos bahkan tidak berani bernapas saat mereka melihat aura dingin yang menyelimuti Pei Qian Hao. Mereka saling melemparkan tatapan keheranan setelah sang pangeran pergi.

Akhirnya, salah satu dari mereka mengusulkan, "Aku akan pergi dan mengikuti Pangeran Hao, berjaga-jaga jika ia perlu menyuruh seseorang." Kemudian, ia cepat-cepat berlari untuk menyusul Pei Qian Hao.

Pei Qian Hao mengamati lingkungan sekitarnya dengan cermat selagi ia berjalan-jalan. Setelah beberapa waktu, ia menyadari kalau semua toko obat sudah dipaksa tutup.

"Haah, apa yang harus kulakukan dengan semua toko obatnya yang tutup saat istriku sakit?"

"Itu benar! Bahkan, pegunungannya saja ditutup, jadi aku bahkan tidak bisa memetik ramuan obat sendiri. Aku bisa menahan flu ringan yang kualami sekarang, tetapi tidak akan segampang itu jika aku menderita penyakit berat!"

"Benar sekali, mengapa Pangeran Yun menurunkan perintah semacam itu? Ia menyatakan kalau ia hanya akan membatalkan perintah itu setelah pembunuh Komandan Wei tertangkap."

Alis Pei Qian Hao tertaut, langkahnya jadi berat sekarang, karena ia memahami apa yang tengah terjadi.

Ada firasat buruk dalam hatinya. Semua toko obat ditutup, dan pegunungan disegel, mencegah siapa pun memetik tanaman obat sendiri. Jika Su Xi-er terluka parah tanpa adanya akses pada obat-obatan ....

Pei Qian Hao teringat apa yang diucapkan oleh salah satu warga barusan ini dan jadi tidak tenang. "Aku bisa menahan flu ringan yang kualami sekarang, tetapi tidak akan segampang itu jika aku mengalami penyakit yang berat!"

Pei Qian Hao menatap lurus ke depan, ada perasaan yang tak dapat dijelaskan dalam hatinya, yang memberitahukan padanya bahwa Su Xi-er berada di Asosiasi Sastra.

(T/N : yang bucinnya udah ngalahin suami-istri mah beda, pake feeling aja uda bener terus nebaknya wkwk.)

Pei Qian Hao mulai berjalan menuju ke Asosiasi Sastra segera setelah pemikiran ini muncul padanya, bahkan lupa untuk memanggil kereta kuda. Dikatakan bahwa Asosiasi Sastra berjarak cukup jauh—butuh dua jam dengan berjalan kaki kecuali kau melompat-lompat di atas atap.

Ketika pengawal yang mengikuti Pei Qian Hao melihat ia mempercepat langkahnya, ia segera mengusulkan, "Bawahan ini akan membawa sebuah kereta kuda kemari."

Kebetulan sekali, seorang pemuda dengan kendi anggur di pinggangnya berjalan mendekat; tak lain tak bukan, adalah Yu Xiao.

Pei Qian Hao teringat melihatnya ketika Asosiasi Sastra sedang mencela Pangeran Yun. Pria ini berada di sebelah Su Xi-er.

Pei Qian Hao melambaikan tangannya, memberi sinyal pada si pengawal untuk pergi. Kemudian, ia berjalan ke arah Yu Xiao dan menatapnya dingin.

"Kau adalah?" Ekspresi Yu Xiao serius. Aura dingin dan mengesankan pria itu membuatnya waspada.

"Wanita bergaun cyan. Ia memakai hiasan rambut hijau giok beruntai."

Yu Xiao segera memahaminya. Pria di hadapanku ini mengenal Nona. Hanya saja, hiasan rambut beruntainya sudah hilang.

Biar begitu, ia tetap tidak berani menurunkan kewaspadaannya. "Siapa kau? Mengapa kau memberitahukan ini padaku?"

"Ia adalah dayang Pangeran ini. Bagaimana keadaannya?" Pei Qian Hao merendahkan suara dinginnya.

Yu Xiao tertegun. Dayang Pangeran ini? Pria di depanku ini bukanlah Pangeran Yun tetapi .... Pangeran Hao dari Bei Min! Nona sebenarnya adalah dayang Pangeran Hao.

Yu Xiao tidak yakin tentang kepribadian Pangeran Hao, tetapi, kekuatan nasional Bei Min di peringkat pertama. Sebagai Prince Regent dari suatu bangsa yang kuat seperti Bei Min, paling tidak, kepribadiannya sopan.

"Nona ada di Asosiasi Sastra. Ia terluka parah, dan masih tidak sadarkan diri. Aku membantunya mengeluarkan darah beracunnya kemarin, tetapi aku membutuhkan sejenis tanaman obat. Sekarang ini, aku sedang dalam perjalanan ke gunung untuk memetiknya, tetapi aku takut kalau Nona tidak akan sanggup bertahan. Ia harus mengemut sepotong ginseng di mulutnya hanya untuk bertahan."

Alis Pei Qian Hao mengerut. Terluka parah dan membutuhkan ginseng untuk mempertahankan hidupnya ....

"Pangeran Hao, aku akan serahkan masalah ginseng padamu. Aku akan pergi memetik tanaman obatnya sekarang." Yu Xiao pun memutar kepalanya ke pinggiran kota.

Pei Qian Hao segera menginstruksikan pengawal. "Ikuti ia diam-diam dan lindungi dia, untuk memastikan kalau ia bisa berhasil mendapatkan ramuan obatnya."

0 comments:

Posting Komentar