Selasa, 17 Februari 2026

CTF - Chapter 245

Consort of A Thousand Faces

Chapter 245 : Menghajarnya


Wei Mo Hai memerintahkan bawahannya untuk menunggu di Sungai Air Caltrop sebelum menuju ke Kapal Naga seorang diri. Berhenti di depan kamar Yun Ruo Feng, ia mengetuk pintu.

Yun Ruo Feng sedang duduk di atas kursi di dalam kamar sambil menyesap secangkir teh, diam-diam mengamati selagi Ning An Lian tertidur di ranjang. Ketika ia mendengar ketukan di pintu, ia menurunkan cangkir teh di tangannya ke atas meja sebelum membuka pintu, menemukan Wei Mo Hai memasang ekspresi gelisah.

Yun Ruo Feng menautkan alis dan menutup pintu. "Kau gagal?"

"Bawahan ini sudah gagal. Mohon hukum aku, Pangeran Yun." Wei Mo Hai menyatukan kedua kepalan tangannya dan membungkuk.

Yun Ruo Feng melambaikan tangannya dan menengadahkan kepalanya untuk menatap bulan sabit di langit. "Bulannya selalu purnama selama perjamuan kerajaan tahun-tahun sebelumnya. Mengingat tahun ini adalah bulan sabit, kita harusnya menduga sesuatu jadi tidak biasa. Tidak mungkin semuanya berjalan dengan lancar."

Di saat ini, Yun Ruo Feng terkekeh. "Besok akan menjadi hari ketiga perjamuan kerajaan. Pasti akan ada orang-orang yang mencoba membuat masalah selama prosesi penabuhan genderang berlangsung. Utus lebih banyak pengawal di Sungai Air Caltrop besok, dan pastikan kalau siapa pun dengan aura pelajar dilarang mendekat."

"Bawahan ini akan mematuhinya. Sementara untuk Asosiasi Sastra, semuanya akan berjalan dengan lancar, hanya saja sepertinya seseorang sudah memperingatkan mereka lebih dulu. Mereka sudah siap, dan seorang pemuda handal yang suka minum-minum menghadang jalan kami; tinju mabuknya sangat hebat. Akhirnya, ada orang lain yang bersembunyi dalam kegelapan, membangunkan warga sekitar segera setelah kami tiba."

Ada kilatan melintas di mata Yun Ruo Feng. "Seperti apa rupa orang yang bersembunyi itu? Pria atau wanita?"

"Bawahan ini tidak melihatnya; situasinya kacau, dan mustahil untuk menentukan penampilan dan jenis kelamin mereka. Bawahan ini bahkan tidak mendengar suara mereka." Wei Mo Hai menyatakan perlahan-lahan dengan ekspresi yang serius.

Sudut mulut Yun Ruo Feng terangkat. "Menarik, siapa pun yang mencoba menyembunyikan suara dan penampilan mereka darimu pastinya memang hebat. Orang seperti ini pasti akan muncul besok, dan Pangeran ini akan mencari tahu siapa mereka sebenarnya."

Kilatan jahat melintas di mata Yun Ruo Feng sewaktu ia berbicara, menghilang tak lama setelahnya dan digantikan dengan aura lembutnya yang biasa.

"Pergi dan segera sebarkan beberapa pengawal di Sungai Air Caltrop. Selain dari ini, jalanan di dekat sini juga harus diperiksa dengan cermat."

"Baik, bawahan ini mengerti." Wei Mo Hai membungkuk dan meninggalkan kapal.

Ditinggal seorang diri, Yun Ruo Feng menoleh ke arah kapal tempat Ning Lian Chen beristirahat, sebelum perlahan-lahan bangkit dan mulai berjalan ke arah sana.

Saat Yun Ruo Feng sampai di kamar Ning Lian Chen, ia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu. Tidak ada suara dari dalam sana, tetapi ia tahu bahwa Ning Lian Chen tidak tidur.

Tak lama setelahnya, langkah kaki terdengar dari balik pintu sebelum perlahan-lahan terbuka. "Pangeran Yun, apa yang kau lakukan, mengunjungi Kaisar ini di tengah malam?"

Yun Ruo Feng mengangkat tangannya dan mencoba mendorong Ning Lian Chen ke samping untuk masuk ke dalam kamar; sebagai balasannya, orang itu segera berdiri kokoh dan menghadangnya. "Pangeran Yun, kita akan bicara di luar."

"Apa, apa kau menyembunyikan seseorang di sini?" Yun Ruo Feng melihat ke arah tirai ranjang yang sudah terangkat dan meninggikan nada suaranya, niatannya terpampang nyata.

Suara Ning Lian Chen menjadi lebih pelan. "Putri Guru Agung Liu sedang ada di ranjang. Pangeran Yun, semestinya kau tahu mengapa ia berada di dalam kamar Kaisar ini." Saat ini, Ning Lian Chen berbalik dan berjalan keluar dari ruangan. Karena Yun Ruo Feng perlu membicarakan sesuatu denganku, ia pasti akan mengikutiku jika aku keluar dari kamar.

Tampaknya menyetujui, Yun Ruo Feng menutup pintu di belakangnya. "Kediaman Liu terbakar habis hari ini, dan tidak ada seorang pun yang lolos. Yang Mulia, tidakkah seharusnya kau menjelaskan mengapa putri Guru Agung Liu bersamamu, dan mengapa kau meninggalkan kapal naga seorang diri?"

Ning Lian Chen tidak ragu melepaskan kepura-puraan setelah ia mendengar nada interogasi Yun Ruo Feng, membalas dingin. "Pangeran Yun, kau turun tangan pada guru yang Kaisar ini hormati, Guru Agung Liu. Meskipun Kaisar ini tidak bisa melindungi Guru Agung Liu, aku masih bisa melindungi putrinya."

"Pangeran ini turun tangan pada Guru Agung Liu demi Nan Zhao. Karena ia adalah guru yang kau hormati, Pangeran ini tidak mau memberitahukanmu tentang itu." Yun Ruo Feng berbicara secara perlahan dengan mata tenang dan ekspresi yang terlalu tenang untuk menyamai kata-katanya sekarang ini.

"Guru Agung Liu sudah tinggal di istana kekaisaran bersama Kaisar ini. Pangeran Yun, mengapa kau tidak berbagi denganku, dengan cara apakah ia menyinggungmu hingga mendorongmu untuk membunuhnya?"

Yun Ruo Feng mengeluarkan sepucuk surat dengan tulisan darah dari lengan jubahnya. "Kau familier dengan tulisan tangan gurumu yang kau hormati itu; surat ini merupakan bukti bahwa ia melakukan pengkhianatan. Mengapa kita harus membiarkan orang seperti ini? Yang Mulia, kau masih muda dan tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas."

(T/N : surat yang tertulis menggunakan darah seseorang, sering kali untuk mengungkapkan harapan atau tekad terakhir seseorang dan biasanya tidak ada tinta di saat seperti itu, karenanya, biasanya orang itu akan menggigit jarinya untuk mengeluarkan darah sebagai tintanya.)

Alis Ning Lian Chen mengerut selagi ia pergi mengambil surat itu dari Yun Ruo Feng, tetapi orang itu dengan cepat menyimpannya ke lengan jubahnya. "Yang Mulia, apakah Pangeran ini sungguh harus menjelaskan apakah tulisan tangan di surat itu sungguh milik Guru Agung Liu?"

Dada Ning Lian Chen mengencang. Guru Agung Liu sudah pasti bukanlah seseorang yang akan melakukan pengkhianatan. Surat bertulisan darah itu sudah jelas palsu! Meskipun tulisan tangan Guru Agung Liu sulit untuk ditiru, pasti ada seseorang di luar sana yang sanggup melakukannya.

Tidak peduli apa pun itu, aku tidak akan memercayai bahwa Guru Agung Liu melakukan pengkhianatan. Yun Ruo Feng pasti telah mempersiapkannya sebelum ia bertindak!

Aku harus memberitahukan Kakak Perempuan soal ini, kalau tidak, mungkin akan berbahaya jika para sastrawan berkumpul besok!

"Yang Mulia, Guru Agung Liu hanya diberkahi dengan seorang anak setelah ia sudah berumur. Bagimu untuk menjaga putri satu-satunya adalah caramu untuk membalas budinya mengajarimu; karena itulah, Pangeran ini tidak akan melakukan apa pun pada putrinya. Namun, Pangeran ini tidak senang tentang kepergian Yang Mulia dari Kapal Naga seorang diri. Seseorang, kemari." Yun Ruo Feng melambaikan tangannya, dan seorang pengawal kekaisaran dari Kediaman Pangeran Yun berjalan ke atas, menunggu perintahnya.

"Jaga Yang Mulia dengan benar, dan jangan biarkan ia meninggalkan kamarnya malam ini."

"Bawahan ini mengerti." Si pengawal membungkuk dan menerima perintah, kemudian menggesturkan pada Ning Lian Chen untuk kembali ke kamarnya.

Ning Lian Chen tidak berbicara, hanya melirik sekali lagi pada Yun Ruo Feng sebelum memutar tumitnya.

Setelah kembali ke kamarnya, Ning Lian Chen merasa cemas. Yun Ruo Feng sudah lama mempersiapkan situasi ini, tetapi Kakak Perempuan tidak mungkin tahu tentang ini, dan aku tidak punya cara untuk memberitahukan padanya. Apa yang harus kulakukan?

Di saat inilah, Liu Yin Yin tiba-tiba bangun di ranjang. Ia menggerakkan matanya, dan memandangi tirai ranjang dengan kebingungan. Ini asing, dimana aku?

Ketika Ning Lian Chen mendengarkan suara datang dari arah ranjang, ia berjalan mendekati dan mengangkat tirai ranjang. "Matahari masih belum terbit; tidurlah sebentar lagi."

Liu Yin Yin menarik tangan Ning Lian Chen. "Siapa kau? Dimana Nona Peri? Kenapa ia menghilang?"

"Nona Peri harus melakukan sesuatu, jadi ia meninggalkanmu padaku. Mulai dari sekarang, aku akan menjagamu."

Liu Yin Yin segera bangkit dari ranjang. "Aku tidak mau kau menjagaku. Aku punya Ayah, Ibu, dan Nona Peri."

Ekspresi Ning Lian Chen berubah. Ayah dan ibunya sudah tiada, sesuatu yang harus diketahuinya suatu hari nanti.

"Ayahmu diutus ke provinsi di pinggiran desa, dan ibumu ikut serta. Sebelum orang tuamu kembali, aku akan menjagamu." Ning Lian Chen tidak tega memberitahukannya kenyataannya. Meski ia tidak pernah berbohong sebelumnya, ia terpaksa melakukannya sekarang.

Liu Yin Yin kaget dan mulutnya menganga lebar. "Apa! Mereka pergi ke provinsi? Mengapa mereka tidak membawaku? Aku mau pergi juga." Ia mau bangun dan mengenakan sepatunya.

Ning Lian Chen menghentikannya. "Kau masih anak-anak, dan tidak diizinkan untuk ikut serta. Ini adalah titah kekaisaran yang tidak bisa ditentang ayahmu."

"Titah kekaiasaran lagi, kenapa Yang Mulia begitu menyebalkan!" Liu Yin Yin begitu frustrasi hingga ia hampir mulai menangis.

"Yin Yin, jangan menangis.Yang Mulia memang tidak baik, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Yin Yin, kau harus menjaga sikapmu agar orang tuamu bisa kembali dengan selamat."

Liu Yin Yin berhenti menangis. "Apa kau mengenal Yang Mulia? Aku mau bertemu Yang Mulia dan menghajarnya." 

0 comments:

Posting Komentar