Minggu, 22 Februari 2026

CTF - Chapter 257

Consort of A Thousand Faces

Chapter 257 : Bila Ia Tidak Kembali


Mata Ning An Lian jadi kabur setelah mendengarkan kata-kata terakhir Piao Xu, benaknya jadi kosong di waktu yang bersamaan. Kematian pelayannya akhirnya cukup mengguncang Ning An Lian menjadi benar-benar terperangah.

Aku sudah akan dibawa ke Makam Kekaisaran, martabatku sebagai Putri Pertama Kekaisaran tidak ada artinya. Dan apa yang kudapatkan setelah merencanakan siasat untuk waktu yang sangat lama?

Aku kira kalau aku telah mendapatkan cinta Yun Ruo Feng, sesuatu yang kudambakan untuk waktu yang paling lama. Pada akhirnya, aku hanya tengah membohongi diriku sendiri.

Ia menatap kosong ke arah Piao Xu yang sudah mati sebelum mendongakkan kepalanya untuk menatap Ning Lian Chen. Suaranya tak lagi terdengar tajam, sebaliknya, mengandung sejejak melankolis. "Karma. Baru sekarang aku memahami bagaimana perasaan Ning Ru Lan ketika ia dipenjarakan."

Tidak ada air mata. Kesedihan Ning An Lian tidak bisa diungkapkan hanya dengan air mata belaka. Perasaan di dalam hatinya tertekan sesak di dalam dadanya, tidak memberinya jalan untuk melampiaskannya.

Tiba-tiba saja, Ning An Lian bangkit berdiri dan tertawa suram. "Ning Ru Lan, aku semenyedihkan dirimu. Haha, bahkan setelah kematianmu, hari-hariku tidak jadi lebih baik. Karma, semuanya karma!" Kedengkian terpancar di mata Ning An Lian sewaktu ia menyelesaikan kalimatnya; tidak ada yang mampu menghentikannya, dengan cepat ia menumburkan kepalanya lebih dulu ke pilar merah tebal di dalam istana peristirahatan tersebut.

Suara tabrakan yang kencang terdengar sewaktu Ning An Lian jatuh ke lantai seperti sebuah boneka yang rusak, tangannya jatuh tak berdaya di sampingnya, sementara darah mengalir layaknya sungai dari kepalanya. Itu merupakan pemandangan yang mengerikan.

Ning An Lian melepaskan dua tawa kosong dan bergumam di bawah napasnya, "Ibunda Kekaisaran benar. Pria, semuanya tidak setia dan kejam." Suaranya berangsur melemah sebelum akhirnya ia menutup kedua matanya, tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pergerakan.

Dengan dingin Ning Lian Chen menonton adegan tersebut sebelum menggesturkan pengawal yang ada di sebelahnya. "Panggil Tabib Kekaisaran Fang."

Pengawal itu segera menerima perintahnya sebelum berbalik menuju Biro Tabib Kekaisaran. Sementara itu, Ning Lian Chen berjalan ke arah Ning An Lian dan meletakkan satu tangan di lehernya. "Tidak cukup kuat. Masih ada denyut nadinya."

Tak lama setelahnya, Tabib Kekaisaran Fang bergegas datang bersama kotak obat, ekspresinya jadi kaku saat ia melihat pemandangan di depannya. Butuh sesaat sebelum ia sanggup menenangkan dirinya sendiri dan menyapa Ning Lian Chen. "Pejabat rendahan ini memberi hormat kepada Yang Mulia."

Ning Lian Chen berdiri dan melambaikan tangannya. "Kemari dan periksa Putri Pertama. Masih ada denyut nadinya."

Tabib Kekaisaran Fang menerima perintah tersebut dan bergegas pergi ke sisi Ning An Lian. Ekspresinya tampak berat selagi ia mengulurkan tangan untuk memeriksa denyut nadinya, mengeluarkan beberapa jarum perak tak lama setelahnya. Menancapkan jarum-jarum itu ke philtrumnya dan beberapa titik akupuntur lainnya di kepala Ning An Lian, ia berhasil menghentikan pendarahannya, bahkan pernapasannya pun jadi stabil.

"Pelayan, bawa Putri Pertama ke ranjangnya untuk istirahat. Kirim ia ke Makam Kekaisaran setelah kesehatannya pulih." Ning Lian Chen memerintahkan bawahannya.

Tabib Kekaisaran Fang memerhatikan Putri Pertama dibawa pergi untuk sesaat sebelum memindai sekitarnya. Tampaknya, Yang Mulia telah menggantikan semua pengawal kekaisaran yang ada di dalam istana peristirahatan ini. Ini sama saja dengan bawahan Yang Mulia sedang menahan Putri Pertama Kekaisaran.

"Bagaimana keadaan Putri Pertama?"

Berhadapan dengan pertanyaan dadakan Ning Lian Chen, Tabib Kekaisaran Fang tidak berani lengah. Aku sudah mendengar bahwa Yang Mulia sekarang sudah mengendalikan tiga kementerian. Ia bukan lagi seorang boneka seperti sebelumnya.

"Menjawab pada Yang Mulia, Putri Pertama Kekaisaran emosional. Meskipun lukanya tidak berujung pada kematian, kondisinya tidak begitu optimis. Jika ia tidak dapat mengatasinya, kondisi mentalnya akan kacau, dan ia bahkan bisa jadi gila karena keresahannya. Kalau ia tidak terbangun, maka ia hampir tidak ada bedanya dari mayat hidup dengan denyut nadi dan raut wajah yang kemerahan."

Setelah mempertimbangkan semuanya, Putri Pertama Kekaisaran tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.

Ning Lian Chen mengangguk dan berujar dengan suara yang tenang. "Aku akan serahkan Putri Pertama di tanganmu." Kemudian, Ning Lian Chen pun berbalik dan menginstruksikan bawahannya, "Seret mayat Piao Xu keluar dan buang ke hutan belantara."

Nada bicara Ning Lian Chen dingin, kejam, dan tanpa ampun. Aku tidak tahu dimana Pangeran Yun menyembunyikan jasad Kakak Perempuanku. Banyak orang yang berspekulasi bahwa, mungkin saja ia telah membuangnya ke hutan belantara atau membuangnya ke makam massal yang tak bertanda.

Memikirkan ini, Ning Lian Chen hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat di bawah lengan jubahnya. Benaknya baru tertarik kembali saat pengawal kekaisaran itu menjawab perintahnya.

"Bawahan ini mengerti."

Ning Lian Chen melirik ke arah istana peristirahatan itu sebelum akhirnya ia mengangkat kakinya dan berlalu. Ia tidak mengambil jalan utama kembali ke istananya, sebaliknya, memilih untuk berjalan di rute yang lebih kecil dan jarang digunakan. Beberapa dayang istana dan kasim yang lewat pun menyapanya dengan hormat.

Dulu, semua orang yang memperlakukannya dengan hormat hanyalah berpura-pura; ia akan selalu melihat jejak penghinaan dalam mata mereka. Jelas sekali, semuanya telah berubah. Rasa hormat mereka terhadapnya kini datang dari lubuk hati mereka. Sekarang, karena Ning Lian Chen telah mendapatkan kendali dari tiga kementerian, tidak ada orang di Istana Kekaisaran yang akan berani memandang rendah dirinya. Berpikir bahwa ini semua diberikan kepadanya oleh Kakak Perempuannya, bibir Ning Lian Chen tersungging membentuk senyuman. Aku akan memenuhi harapanmu dengan bekerja keras untuk mengkonsolidasikan kekuasaan yang telah kau berikan padaku.

Namun, Ning Lian Chen tidak tahu bahwa Wei Mo Hai sudah terbunuh oleh Su Xi-er, dan sudah pasti tidak mengetahui bahwa orang itu terkena racun selagi melakukannya.

***

Dengan cepat Yu Xiao membawa Su Xi-er kembali ke Asosiasi Sastra. Seorang tabib senior dan berpengalaman di Asosiasi Sastra segera memeriksa denyut nadinya.

Setelah merasakan denyut nadinya, si tabib senior pun menggelengkan kepalanya, "Racun di dalam tubuhnya bahkan lebih mematikan daripada bisa ular Krait Emas. Takutnya, tidak ada cara untuk menyelamatkan nyawanya." Ia menghela napas.

Mata Yu Xiao dipenuhi kecemasan. Pasti ada cara untuk menyelamatkannya! Ia segera mengacungkan belati pendek di pinggangnya sebelum merendamnya di dalam anggur dari kendi di pinggangnya. Kemudian, ia mendesinfeksikannya di api yang menyala.

Berhenti di depan Su Xi-er, ia cepat-cepat bergumam, "Maafkan aku, Nona." Kemudian, Yu Xiao mengangkat lengan baju Su Xi-er, memperlihatkan lengan langsingnya.

Belatinya meluncur di lukanya. Kondisinya yang memburuk hanya bisa ditunda sementara waktu dengan mengeluarkan darahnya. Hanya dengan memperlambat penyebaran racunnya barulah mereka akan punya cukup waktu untuk memikirkan sebuah solusi.

Darah berwarna hitam pun mengalir. Si tabib senior memahami niat Yu Xiao dan segera pergi mengambilkan beberapa tanaman obat yang dapat menunda pendarahannya.

Ketika ia melihat darah berwarna merah terang mulai mengalir keluar dari tangan Su Xi-er, Yu Xiao segera mengambil ramuan obat dari si tabib senior dan membalut luka tusukan itu. Gadis yang dipertanyakan ini sedari tadi ekspresinya dingin dan kosong sepanjang prosesnya.

Si tabib senior pun menggelengkan kepalanya. "Ini tidak kelihatan baik. Proses mengeluarkan darahnya sangat menyakitkan, dan si pasien biasanya akan merasakan sakit. Namun, sepertinya, ia tidak merasakan apa-apa sama sekali. Kau harus bersiap-siap, apa artinya ini."

Yu Xiao mengatupkan bibirnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti seseorang; bagaimana bisa ia mati begitu saja?! Ia sudah melihat orang tuanya mati di depan matanya, kemudian menyaksikan kematian teman terdekatnya. Aku tidak akan membiarkannya kali ini! Ia tidak boleh mati!

Guan Xiang mempelajari ekspresi Yu Xiao. Setelah membesarkannya bertahun-tahun, ia lebih memahami orang itu daripada siapa pun. "Yu Xiao, Langit memberkati orang-orang yang baik. Nona di hadapan kita ini, sudah pasti adalah orang yang baik."

"Ada sebuah cara, itu mungkin bekerja!" Yu Xiao jadi cerah dan segera keluar dari rumah. Ia ingin mencari satu tanaman obat tertentu.

Namun, di saat ia berjalan keluar dari Asosiasi Sastra, ia menemukan bahwa pengawal kekaisaran sedang memaksa toko-toko obat untuk tutup satu per satu.

"Pengawal Kekaisaran Qin telah memerintahkan agar setiap toko obat di ibu kota untuk ditutup. Ditambah dengan itu, ia juga mengatakan bahwa pegunungan di dekat pinggiran kota harus ditutup juga. Meski tidak ada yang tahu mengapa."

Ekspresi Yu Xiao berubah serius. Walaupun ia sudah menduga kekejaman Yun Ruo Feng, ia tidak menyangka orang itu akan bertindak secepat ini. Cepat sekali!

Kabar mengenai toko obat dan pegunungan yang disegel pun menyebar dengan cepat. Faktanya, kabar itu sampai pada Pei Qian Hao sebelum matahari bahkan terbit di pagi berikutnya.

Ekspresinya tampak tenang, dan suaranya acuh tak acuh. "Aneh sekali, menutup toko obat dan pegunungan tanpa alasan."

"Pangeran Hao, haruskah kita menyelidikinya?"

Pei Qian Hao melambaikan tangannya. "Tidak perlu."

Masih ada sepuluh jam lagi hingga matahari tenggelam. Su Xi-er semestinya sudah kembali saat itu. Aku akan menunggunya, tetapi jika ia tidak kembali .... Memikirkan ini, Pei Qian Hao menggenggam cangkir teh di tangannya dengan kencang.

0 comments:

Posting Komentar