Selasa, 17 Februari 2026

CTF - Chapter 247

Consort of A Thousand Faces

Chapter 247 : Perang Salib Sedang Berlangsung


Pria paruh baya itu segera menjawab, "Rakyat jelata seperti kami tidak memahami trik licik Pangeran Yun, tetapi jika ia sungguh membunuh Guru Agung Liu dan melukai warga, maka hatiku juga akan jadi dingin karena kekecewaan. Ikuti aku ke toko obatku dan mengambil ramuan obat yang akan kau perlukan." Ia berjalan keluar dari aula utama, memberi isyarat pada Yu Xiao untuk ikut.

Setelah semuanya siap, Su Xi-er melambaikan tangannya untuk memberi sinyal pada warga agar pulang ke rumah. Kita akan melihat bagaimana jadinya besok.

Beberapa warga menunjukkan ekspresi enggan dan menghela napas sebelum mereka pergi.

Sementara Su Xi-er sedang bersiap-siap untuk besok, Wei Mo Hai juga bekerja dengan cepat untuk menempatkan lebih banyak pengawal. Dikarenakan masalah inilah makanya Wei Mo Hai masih belum menginvestigasi kasus kedua Nona Wei. Meskipun malam tampak tenang, justru kebalikannya di bawah permukaannya.

***

Hari berikutnya, para sastrawan dari Asosiasi Sastra sudah siap dan mengenakan baju kasar mereka saat mataharinya terbit. Mereka berbaur dengan kerumunan warga sipil dan berjalan ke Sungai Air Caltrop dalam kelompok mereka yang telah ditentukan. Su Xi-er, memakai gaun berwarna cyan, melakukan hal yang sama.

Namun, para pengawal bersenjata di ujung jalan dimana Asosiasi Sastra terletak sedang menginterogasi setiap warga yang berjalan melewati mereka.

Mereka mengajukan dua pertanyaan: 'Siapa namamu?' dan 'Dimana kau tinggal?' Mereka baru akan membiarkan orang lewat setelah mereka mengkonfirmasikan ini di dalam daftar warga mereka.

Su Xi-er menatap Yu Xiao dan memberitahunya pelan, "Sekarang adalah waktunya obat yang kau buat semalam jadi berguna."

Yu Xiao terkekeh dan mengangguk. "Aku mengujinya pada tentara dari Pasukan Tentara Kekaisaran pagi ini, untuk memastikan obatnya efektif. Lihat saja apa yang bisa kulakukan!" Ia segera berjalan maju dan mulai bergoyang-goyang, mengeluarkan kendi anggur dari pinggangnya dan berpura-pura mabuk.

Pengawal kekaisaran segera menghadangnya. "Seorang pemabuk tidak boleh pergi ke Sungai Air Caltrop." Beberapa pengawal lainnya segera mendatangi, dan tampaknya, mereka akan mengusir Yu Xiao.

Dengan terampil, Yu Xiao mengayunkan kendi anggurnya, mencipratkan anggur yang sudah diberi obat itu pada si pengawal yang memegang daftar nama.

Si pengawal pun mengerutkan alisnya. Tepat ketika ia baru saja akan memerintahkan bawahannya untuk menangkap Yu Xiao, ekspresi di matanya jadi berkabut.

Yu Xiao mengambil kesempatan dan memukul kepala si pengawal dengan guci anggur. "Aku mau pergi ke Sungai Air Caltrop untuk menonton penabuhan genderang. Aku sangat bersemangat untuk perjamuan kerajaan, jadi, kenapa kalian harus menghalangi? Lepaskan saja aku."

Si pengawal pun segera mengangguk dan mengesampingkan daftarnya. "Tidak masalah apabila untuk perjamuan kerajaan. Biarkan ia pergi."

Bawahannya tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, tetapi karena bos mereka sudah memberikan perintahnya, mereka hanya bisa mematuhinya.

Setelah Yu Xiao lewat, ia membuka mulutnya lagi. "Di saat kalian memeriksa seluruh daftar nama untuk semua orang, penabuhan genderang di Sungai Air Caltrop-nya mungkin sudah usai!"

Saat ini, Su Xi-er, yang sedang bersembunyi di keramaian, ikut menimpali. "Itu benar, kami mau pergi dan melihat penabuhan genderang. Apa kalian mengintimidasi kami hanya karena kami adalah warga sipil yang tidak berkuasa? Aku lihat kalau beberapa keluarga kaya sudah lewat; mengapa kalian tidak menghadang mereka?"

Kata-katanya membuat marah kerumunan, dan semua warga biasa mulai berbicara dengan lantang. "Kami sudah tinggal di jalan ini selama satu dekade. Sekarang, kami mau pergi dan menonton penabuhan genderang, kau meminta untuk memeriksa identitas kami? Itu belum pernah terjadi sebelumnya; ini intimidasi!"

Yu Xiao segera melihat ke arah si pengawal yang membiarkannya pergi. "Kau tidak boleh mengintimidasi orang, biarkan mereka pergi!"

Saat si pengawal yang bertugas mendengar ini, ia segera melambaikan tangannya kepadah bawahannya. "Mereka semua adalah warga yang jujur. Berhenti memeriksa dan biarkan mereka pergi!"

"Ini ...." Pengawal lain saling pandang kebingungan, tetapi setelah menerima pelototan keras dari bos mereka, mereka tak punya pilihan selain membiarkan semua orang pergi.

Jadi, semua warga sipil di jalan ini segera dilepaskan dan mulai menuju ke Sungai Air Caltrop.

Beberapa waktu setelah semua orang sudah pergi, si pengawal yang bertugas pun tersadar dari keadaan kelengarnya. Matanya berbinar sewaktu ia melihat ke jalanan yang kosong, kemudian ke daftar kosong di tangannya.

Ia menatap bawahannya dengan kesal. "Ada begitu banyak warga sipil barusan ini; kemana menghilangnya mereka semua?!"

Bawahannya bahkan lebih kaget lagi, masing-masing dari mereka memberikan tatapan kebingungan pada bos mereka. "Bos, kaulah yang menyuruh kami untuk berhenti memeriksa dan membiarkan mereka pergi!"

"Apa?! Mengapa aku akan melakukan sesuatu seperti itu padahal Komandan Wei telah memerintahkan kita untuk memeriksa semua orang? Berbuat begitu akan bodoh dan cari masalah tanpa alasan untuk diri sendiri!"

"Tetapi Bos, itu benar-benar apa yang kau lakukan. Si pemabuk itu menyuruhmu melepaskan semua orang, dan para warga mulai mengeluh juga, jadi kau membiarkan semua orang pergi."

Pengawal yang bertugas segera mengendus daftarnya, menyadari bahwa ada aroma anggur. Aku hanya akan membiarkan semua orang pergi jika aku kesurupan!

Ia memikirkannya dengan hati-hati, dan hanya menyadari apa yang terjadi setelah beberapa waktu berlalu. "Sialan, aku sudah ditipu! Aku harus segera memberitahu Komandan Wei bahwa ada yang lolos!" Ia segera bergegas, jantungnya berdetak kencang di dadanya.

***

Namun, itu sudah terlambat: Kelompok sastrawan itu sudah tiba di Sungai Air Caltrop dalam kelompok terpisah, dan Su Xi-er bersembunyi di dalam kerumunan warga.

Pukul lima pagi, sebelum mereka mulai penabuhan genderang, Guan Xiang akan membawakan suratnya dan menyalahkan Pangeran Yun di muka umum! Jika Yun Ruo Feng memainkan trik lagi dan memfitnah Guru Agung Liu, para tentara dari Pasukan Tentara Kekaisaran yang terikat akan digunakan sebagai bukti untuk menjungkirbalikkan dirinya!

Mendadak, Su Xi-er agak menyipitkan mata dan memandang ke arah Sungai Air Caltrop yang tenang. Akan ada angin besar yang datang sebentar lagi.

Semakin banyak warga sipil yang kini tiba di Sungai Air Caltrop. Mereka bersemangat untuk menonton penabuhan genderang, yang mana akan memamerkan kekuatan kerajaan mereka! Namun, para warga yang tinggal di dekat Asosiasi Sastra, merasa sangat khawatir. Mereka semua melihat ke arah Pangeran Yun, berharap agar pria yang berdiri di kepala Kapal Naga tidak akan mengecewakan mereka.

Waktu berlalu dengan cepat, dan segera saja, pukul lima pagi.

Lima belas menit sebelum jam lima pagi, barulah Wei Mo Hai menerima kabar tentang warga yang tinggal di jalanan dekat Asosiasi Sastra. Ketika ia mendengar tentang lelaki pemabuk, ekspresi Wei Mo Hai jadi lebih buruk, mendorongnya melirik Qin Ling. Qing Ling mengerti dan segera mematahkan leher si pengawal itu. Semua pengawal kekaiasaran yang bertingkah arogan di jalan dimana Asosiasi Sastra berada, kini sudah mati.

Selain dari Yun Ruo Feng, Ning Lian Chen dan para pejabat tinggi dari kerajaan lainnya juga berdiri di depan Kapal Naga.

Tatapan Pei Qian Hao memindai pinggiran Sungai Air Caltrop dan menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Tatapannya kemudian berpindah ke kelompok penabuh yang siap mulai. Tampaknya, kami tidak akan bisa mendengar penabuhan genderang kali ini.

Yun Ruo Feng membungkuk untuk memberikan hormatnya pada Ning Lian Chen. "Yang Mulia, ini waktunya untuk memberi sinyal agar penabuhan genderang dimulai."

Ning Lian Chen mengangguk, tetapi tatapannya memindai seseorang yang berada di dekat pinggiran sungai. Tak lama setelahnya, ia mengangkat tangannya dan memandangi kelompok penabuh tersebut, bersiap-siap untuk memberikan isyarat supaya para penabuhnya mulai.

Namun, sebelum ia bisa melakukannya, kericuhan pecah di dalam kerumunan di pinggiran sungai. Sekelompok besar orang mendadak berlutut di tanah, sementara pria tua yang ada di depan mereka semua mempunyai dua surat di tangannya. Kerumunan pun mendadak mendengarkannya menjerit emosional, "Guru Agung Liu dibunuh dengan kejamnya oleh Pangeran Yun. Semua orang di Asosiasi Sastra mencari keadilan untuknya hari ini. Kami telah menuliskan surat untuk Yang Mulia agar mendakwa Pangeran Yun!"

Terdapat jejak kesedihan dalam suaranya, dan kata-katanya lantang dan jelas.

Keheningan yang mematikan mengambil alih area tersebut, hingga akhirnya, ceretnya mendidih.

(T/N : ceretnya mendidih sepertinya bermakna akhirnya keadaannya dimengerti oleh orang-orang di sekitar.)

"Apa yang terjadi?"

"Kalian tidak tahu? Ada kebakaran besar di Kediaman Liu semalam. Aku kira itu adalah sebuah kecelakaan, tetapi sekarang kita tahu kalau itu adalah ulah Pangeran Yun!"

"Ada buktinya! Bagaimana bisa mereka membuktikan kalau Pangeran Yun-lah yang membunuhnya?"

Su Xi-er yang sedang bersembunyi di kerumunan, meneriakkan, "Surat di tangan Guan Xiang adalah bukti yang cukup. Kalau itu tidak cukup, Pangeran Yun juga mengirimkan Pasukan Tentara Kekaiasarannya untuk menyerang Asosiasi Sastra semalam, demi membungkam mereka!"

Dalam sekejap, semua warga beralih pada Guan Xiang, "Surat itu adalah buktinya! Pangeran Yun benar-benar membunuh Guru Agung Liu!"

Di waktu bersamaan, rombongan sastrawan itu menyembah serentak dan berujar dengan lantang, "Mencari keadilan untuk Guru Agung Liu, berantas Pangeran Yun. Cabut kekuasaannya, dan kembalikan pada Yang Mulia!"

0 comments:

Posting Komentar