Consort of A Thousand Faces
Chapter 242 : Asosiasi Sastra
Wei
Mo Hai membungkuk dan menjawab mengiyakan sebelum berbalik pergi, hanya untuk
kembali setelah mengambil beberapa langkah. "Pangeran Yun, Guru Agung Liu
memiliki posisi yang dihormati di dunia sastra. Jika kita membakar Kediaman
Liu, Asosiasi Sastra ...."
Ia
mendongakkan kepalanya untuk mengamati ekspresi Yun Ruo Feng. Karena
kita sudah bertindak pada Guru Agung Liu, kami juga harus menangani Asosiasi Sastra. Membiarkan mereka
sendiri hanya akan menimbulkan masalah di masa depan.
"Kita
akan menyingkirkan Asosiasi Sastra malam ini. Jika kita menunggu hingga besok,
pasti akan muncul beberapa komplikasi." Nada bicara Yun Ruo Feng datar,
tetapi kata-katanya sangat brutal.
"Bawahan
ini mematuhi perintah." Wei Mo Hai membungkuk dengan sopan sebelum
berangkat.
Malam
ini ditakdirkan menjadi apa saja, kecuali tenang. Biarpun perjamuan kerajaan
masih berlangsung, ada beberapa masalah yang harus ditangani.
Akhirnya
sendirian, aura kelembutan yang selalu mengelilingi Yun Ruo Feng menghilang,
digantikan dengan tampang yang dingin. Tatapannya terpaku pada permukaan
sungai, angin dingin menyebabkan riak bermunculan di atas permukaan yang masih
murni itu.
Terkadang,
kau harus bersedia mengorbankan sesuatu demi maju ke depan. Yun Ruo
Feng merilekskan kepalan tangannya dan berjalan ke atas kapal. Di dalam kamar,
Ning An Lian sudah melepaskan baju luarannya, dan sedang berbaring di atas
ranjang.
***
Sementara
itu, Su Xi-er sudah tiba di Asosiasi Sastra, tetapi pintu masuknya tertutup
rapat. Ia melihat ke atas ke lantai dua dan menyadari adanya kedipan lemah cahaya lilin.
Ia
mengetuk pintu, tetapi tidak ada respons dari dalam
asosiasi. Ia harus mencoba beberapa kali sebelum seorang paman tua dengan
rambut beruban membukakan pintunya.
Suara
paman tua itu serak, dan punggungnya bungkuk. Ia hanya melirik Su Xi-er sekilas
sebelum berbicara. "Nona, sudah larut malam. Asosiasi Sastra sudah lama
tutup. Silakan kembali lagi besok."
Si
paman tua mencoba menutup pintunya, hanya untuk ditahan terbuka lagi oleh Su
Xi-er yang memasang ekspresi serius. "Aku punya urusan penting untuk
didiskusikan dengan Guan Xiang."
Si
paman tua sempat kaget. Guan Xiang adalah orang yang memegang posisi
tertinggi di Asosiasi Sastra, dan bertanggung jawab untuk menjalankan lembaga
ini. Tetapi, gadis muda ini meminta bertemu dengannya di saat ia tiba.
"Sudah
larut malam, dan semua orang sudah beristirahat. Nona, kau harus kembali lagi besok."
Su
Xi-er mengerahkan lebih banyak tenaga di tangannya yang sedang menahan pintu
terbuka, memaksa paman tua itu mundur beberapa langkah. Ia hanya bisa memerhatikan
sewaktu Su Xi-er berjalan masuk, tiap langkahnya terisi dengan kekhidmatan.
Baru
setelah itulah si paman tua sedikit menghormati Su Xi-er. "Nona, mengapa
kau mencari Guan Xiang?"
"Aku
akan menemuinya di aula utama. Katakan padanya bahwa Asosiasi Sastra akan
segera menghadapi musibah." Su Xi-er berbicara dengan cepat sebelum menuju
ke aula utama.
Napas
paman tua itu tertahan. Melihat bagaimana ia sudah mengetahui dimana
letak aula utama, dapat dikatakan bahwa nona ini sudah
akrab dengan Asosiasi Sastra. Kepercayaan diri dalam langkahnya merupakan
indikator lainnya dari ini. Tetapi, meski sudah menjadi penjaga di Asosiasi
Sastra, aku tidak punya kesan sebelumnya tentang nona ini. Menyingkirkan
keraguannya untuk sekarang, ia tergesa-gesa pergi mencari Guan Xiang.
Tidak
ada perdana menteri di Nan Zhao, membuat Yun Ruo Feng bertanggung jawab dalam
keenam kementerian dan fungsi-fungsi mereka. Guan Xiang merupakan seorang pria
berusia lebih dari lima puluhan, dan merupakan sahabat karib
Guru Agung Liu.
Tidak
ada perbedaan status atau formalitas di antara para sastrawan, sehingga si
paman tua penjaga itu langsung berhenti di depan kamarnya sebelum mengetuk
pintu dan memanggil namanya.
"Guan
Xiang, ada seorang gadis yang mencarimu. Ia bilang kalau kau tidak pergi,
Asosiasi Sastra akan menghadapi musibah."
Guan
Xiang sedang membaca buku tentang ritual di kamarnya. Ketika ia mendengar
kata-kata si paman tua, ia segera menurunkan bukunya dan pergi untuk membukakan
pintu. "Kita para sastrawan tidak punya konflik dengan dunia luar, juga
tidak berpartisipasi dalam perebutan kekuasaan. Mengapa kita akan menghadapi
musibah?"
Si
paman tua menggelengkan kepalanya. "Aku juga merasa itu aneh, tetapi nona
itu tidak kelihatan seperti orang biasa. Lebih baik agar kau pergi dan
menemuinya." Si paman tua itu kemudian berpindah untuk memberi jalan pada
Guan Xiang.
Guan
Xiang mengangguk. "Aku akan pergi sekarang juga."
Segera,
Su Xi-er melihat Guan Xiang datang ke aula utama, mengenakan jubah warna biru
lautnya. Ia pernah bertemu sekali dengannya saat ia masih Ning Ru Lan, dan si
pria tua tetap sama sampai sekarang, tepat hingga ke desain pakaiannya.
Saat
Su Xi-er melihatnya, ia mengeluarkan surat di dalam lengan bajunya dan
menyerahkan itu padanya. "Guan Xiang, bacalah surat ini."
Guan
Xian tidak mengerti, tetapi tetap menerima surat itu, membaca empat kata yang
tertulis di bagian depannya—'Ditujukan pada Guan Xiang'. Tulisan tangannya
sudah lama terlatih, dan mengandung pesona tersendiri.
Mengenalinya
dengan sepintas lihat bahwa surat itu
berasal dari Guru Agung Liu, ekspresinya seketika menjadi serius. Ia melihat ke
arah Su Xi-er sementara ia membuka suratnya. "Apakah Guru Agung Liu yang
mengirimmu kemari?"
Ia
mengeluarkan surat itu dan membacanya sekilas, matanya dipenuhi
ketidakpercayaan. Semakin ia membacanya, semakin muramlah ekspresinya, berubah
dari keheranan menjadi kasihan, sebelum akhirnya jadi terdiam.
Ia
mencengkeram surat itu dengan erat. Tulisan tangan di dalam surat ini
milik Guru Agung Liu. Tidak ada orang yang bisa menirunya. Siapa yang mengira
kalau Guru Agung Liu telah dianugerahi kematian dengan secangkir anggur beracun
dari Pangeran Yun! Biarpun Guru Agung Liu memegang posisi yang dihormati di
dunia sastra, Pangeran Yun masih tetap membunuhnya begitu saja!
Ini
benar-benar mengecewakan dengan pahit, dan sudah cukup untuk menyebabkan semua sastrawan
jadi kecewa.
Melihatnya
berdiri tak bergerak, Su Xi-er pelan-pelan memperingatkan, "Cepatlah
instruksikan semua orang di lembaga ini untuk menuju ke ruang rahasia.
Orang-orang Pangeran Yun akan segera sampai di sini."
Guan
Xiang tertegun. Inilah malapetaka yang disebutkan olehnya sebelumnya. Ia
merenunginya sejenak sebelum berbalik kepada si paman tua. "Pergi dan
segera bunyikan lonceng. Semua orang harus segera menuju ke ruang
rahasia."
Ada
sejejak ketakutan yang melintas di mata si paman tua sebelum ia pergi untuk
mengumpulkan yang lainnya.
Asosiasi
Sastra sangat besar, dan merupakan tempat dimana para sastrawan berkumpul,
terutama selama perjamuan kerajaan.
Tiba-tiba
saja, Guan Xiang teringat akan sesuatu selagi ia memerhatikan si paman tua penjaga
itu menghilang di kejauhan. Bagaimana bisa nona ini mengetahui bahwa
ada sebuah ruang rahasia di dalam Asosiasi Sastra?! Kewaspadaan Guan
Xiang segera meningkat, nada bicaranya mendadak berubah menjadi curiga sewaktu
ia berbicara. "Nona, sepertinya kau sangat akrab dengan Asosiasi Sastra.
Siapa sebenarnya dirimu?"
Su
Xi-er menjawab dengan gaya yang mantap. "Guru Agung Liu loyal pada Yang
Mulia hingga akhir, bahkan sampai mengorbankan nyawanya. Guru Agung Liu dan aku
sama dalam aspek ini; kami bersedia melakukan apa saja jika itu demi Yang
Mulia, demi rumah tangga kekaisaran Ning, dan demi Nan Zhao."
Nada
bicaranya tenang, namun serius. Guan Xiang mencengkeram surat itu erat-erat
sebelum menyimpannya.
Saat
lonceng dibunyikan, semua sastrawan di Asosiasi Sastra melompat. Lonceng itu
akan berbunyi setiap kali ada kejadian besar, tetapi .... Perjamuan
kerajaan seharusnya adalah saat yang paling damai, jadi mengapa loncengnya
berbunyi selarut ini?
Semua
orang menuju ke aula utama, membentuk segerombolan warna hitam.
Si
paman tua penjaga menampar pahanya. "Masih ada satu orang yang hilang—Yu
Xiao! Ia suka minum-minum, dan belum kembali sampai sekarang."
Guan
Xiang melambaikan tangannya. "Kita tidak akan menunggunya. Semuanya,
menuju ke ruang rahasia. Ini keadaan darurat, jadi akan kujelaskan nanti."
Semua
orang menjadi serius dalam seketika dan mengikuti si paman tua menuju ke ruang
rahasia.
Su
Xi-er menoleh pada Guan Xiang. "Kau juga harus pergi. Serahkan tempat ini
untuk kutangani."
"Aku
akan hidup dan mati bersama-sama dengan Asosiasi Sastra. Terima kasih banyak
karena telah menyampaikan kabarnya, Nona." Kekhawatiran terukir di wajah
Guan Xiang. Kenapa Yu Xiao harus keluar minum-minum sekarang?!
"Aku
bisa mengatasi situasinya, tetapi satu-satunya orang yang bisa menjelaskan pada
semua sastrawan adalah kau. Selama kita bertahan malam ini, kau akan bisa
mengumpulkan semua sastrawan dan mengirimkan memorial untuk perang salib
melawan Pangeran Yun." Su Xi-er berbicara perlahan-lahan, menyampaikan
maksudnya. Ia tahu bahwa, jika Yun Ruo Feng tidak berhasil malam ini, ia harus
membuat persiapan untuk pemakzulan.
Guan
Xiang merasa bahwa apa yang dikatakannya masuk akal sekali. Apabila
Yun Ruo Feng mengutus orang kemari, mampukah gadis ini benar-benar
mengatasinya?
"Tidak
ada banyak waktu tersisa, jadi kau harus buru-buru dan pergi. Kematian Guru
Agung Liu bukanlah suatu kecelakaan, dan Pangeran Yun tahu dengan jelas apa
yang akan terjadi apabila Asosiasi Sastra mengetahui soal ini. Sudah pasti ia
akan menghancurkan Asosiasi Sastra untuk mencegah kejadian apa pun,
dan dengan semua orang yang tertidur di larut malam, ini merupakan kesempatan
terbaik untuk bertindak."
Tiba-tiba
saja, pintu utama Asosiasi Sastra dibuka, menampilkan seorang pemuda yang
berjalan terhuyung-huyung sambil membawa kendi anggur.
Mengenakan
jubah biru kehijauan, rambutnya dibiarkan longgar dengan santainya, dan ada
jejak kemalasan yang bisa terlihat dari roman mukanya.

0 comments:
Posting Komentar