Selasa, 17 Februari 2026

CTF - Chapter 242

Consort of A Thousand Faces

Chapter 242 : Asosiasi Sastra


Wei Mo Hai membungkuk dan menjawab mengiyakan sebelum berbalik pergi, hanya untuk kembali setelah mengambil beberapa langkah. "Pangeran Yun, Guru Agung Liu memiliki posisi yang dihormati di dunia sastra. Jika kita membakar Kediaman Liu, Asosiasi Sastra ...."

Ia mendongakkan kepalanya untuk mengamati ekspresi Yun Ruo Feng. Karena kita sudah bertindak pada Guru Agung Liu, kami juga harus menangani Asosiasi Sastra. Membiarkan mereka sendiri hanya akan menimbulkan masalah di masa depan.

"Kita akan menyingkirkan Asosiasi Sastra malam ini. Jika kita menunggu hingga besok, pasti akan muncul beberapa komplikasi." Nada bicara Yun Ruo Feng datar, tetapi kata-katanya sangat brutal.

"Bawahan ini mematuhi perintah." Wei Mo Hai membungkuk dengan sopan sebelum berangkat.

Malam ini ditakdirkan menjadi apa saja, kecuali tenang. Biarpun perjamuan kerajaan masih berlangsung, ada beberapa masalah yang harus ditangani.

Akhirnya sendirian, aura kelembutan yang selalu mengelilingi Yun Ruo Feng menghilang, digantikan dengan tampang yang dingin. Tatapannya terpaku pada permukaan sungai, angin dingin menyebabkan riak bermunculan di atas permukaan yang masih murni itu.

Terkadang, kau harus bersedia mengorbankan sesuatu demi maju ke depan. Yun Ruo Feng merilekskan kepalan tangannya dan berjalan ke atas kapal. Di dalam kamar, Ning An Lian sudah melepaskan baju luarannya, dan sedang berbaring di atas ranjang.

***

Sementara itu, Su Xi-er sudah tiba di Asosiasi Sastra, tetapi pintu masuknya tertutup rapat. Ia melihat ke atas ke lantai dua dan menyadari adanya kedipan lemah cahaya lilin.

Ia mengetuk pintu, tetapi tidak ada respons dari dalam asosiasi. Ia harus mencoba beberapa kali sebelum seorang paman tua dengan rambut beruban membukakan pintunya.

Suara paman tua itu serak, dan punggungnya bungkuk. Ia hanya melirik Su Xi-er sekilas sebelum berbicara. "Nona, sudah larut malam. Asosiasi Sastra sudah lama tutup. Silakan kembali lagi besok."

Si paman tua mencoba menutup pintunya, hanya untuk ditahan terbuka lagi oleh Su Xi-er yang memasang ekspresi serius. "Aku punya urusan penting untuk didiskusikan dengan Guan Xiang."

Si paman tua sempat kaget. Guan Xiang adalah orang yang memegang posisi tertinggi di Asosiasi Sastra, dan bertanggung jawab untuk menjalankan lembaga ini. Tetapi, gadis muda ini meminta bertemu dengannya di saat ia tiba.

"Sudah larut malam, dan semua orang sudah beristirahat. Nona, kau harus kembali lagi besok."

Su Xi-er mengerahkan lebih banyak tenaga di tangannya yang sedang menahan pintu terbuka, memaksa paman tua itu mundur beberapa langkah. Ia hanya bisa memerhatikan sewaktu Su Xi-er berjalan masuk, tiap langkahnya terisi dengan kekhidmatan.

Baru setelah itulah si paman tua sedikit menghormati Su Xi-er. "Nona, mengapa kau mencari Guan Xiang?"

"Aku akan menemuinya di aula utama. Katakan padanya bahwa Asosiasi Sastra akan segera menghadapi musibah." Su Xi-er berbicara dengan cepat sebelum menuju ke aula utama.

Napas paman tua itu tertahan. Melihat bagaimana ia sudah mengetahui dimana letak aula utama, dapat dikatakan bahwa nona ini sudah akrab dengan Asosiasi Sastra. Kepercayaan diri dalam langkahnya merupakan indikator lainnya dari ini. Tetapi, meski sudah menjadi penjaga di Asosiasi Sastra, aku tidak punya kesan sebelumnya tentang nona ini. Menyingkirkan keraguannya untuk sekarang, ia tergesa-gesa pergi mencari Guan Xiang.

Tidak ada perdana menteri di Nan Zhao, membuat Yun Ruo Feng bertanggung jawab dalam keenam kementerian dan fungsi-fungsi mereka. Guan Xiang merupakan seorang pria berusia lebih dari lima puluhan, dan merupakan sahabat karib Guru Agung Liu.

Tidak ada perbedaan status atau formalitas di antara para sastrawan, sehingga si paman tua penjaga itu langsung berhenti di depan kamarnya sebelum mengetuk pintu dan memanggil namanya.

"Guan Xiang, ada seorang gadis yang mencarimu. Ia bilang kalau kau tidak pergi, Asosiasi Sastra akan menghadapi musibah."

Guan Xiang sedang membaca buku tentang ritual di kamarnya. Ketika ia mendengar kata-kata si paman tua, ia segera menurunkan bukunya dan pergi untuk membukakan pintu. "Kita para sastrawan tidak punya konflik dengan dunia luar, juga tidak berpartisipasi dalam perebutan kekuasaan. Mengapa kita akan menghadapi musibah?"

Si paman tua menggelengkan kepalanya. "Aku juga merasa itu aneh, tetapi nona itu tidak kelihatan seperti orang biasa. Lebih baik agar kau pergi dan menemuinya." Si paman tua itu kemudian berpindah untuk memberi jalan pada Guan Xiang.

Guan Xiang mengangguk. "Aku akan pergi sekarang juga."

Segera, Su Xi-er melihat Guan Xiang datang ke aula utama, mengenakan jubah warna biru lautnya. Ia pernah bertemu sekali dengannya saat ia masih Ning Ru Lan, dan si pria tua tetap sama sampai sekarang, tepat hingga ke desain pakaiannya.

Saat Su Xi-er melihatnya, ia mengeluarkan surat di dalam lengan bajunya dan menyerahkan itu padanya. "Guan Xiang, bacalah surat ini."

Guan Xian tidak mengerti, tetapi tetap menerima surat itu, membaca empat kata yang tertulis di bagian depannya—'Ditujukan pada Guan Xiang'. Tulisan tangannya sudah lama terlatih, dan mengandung pesona tersendiri.

Mengenalinya dengan sepintas lihat bahwa surat itu berasal dari Guru Agung Liu, ekspresinya seketika menjadi serius. Ia melihat ke arah Su Xi-er sementara ia membuka suratnya. "Apakah Guru Agung Liu yang mengirimmu kemari?"

Ia mengeluarkan surat itu dan membacanya sekilas, matanya dipenuhi ketidakpercayaan. Semakin ia membacanya, semakin muramlah ekspresinya, berubah dari keheranan menjadi kasihan, sebelum akhirnya jadi terdiam.

Ia mencengkeram surat itu dengan erat. Tulisan tangan di dalam surat ini milik Guru Agung Liu. Tidak ada orang yang bisa menirunya. Siapa yang mengira kalau Guru Agung Liu telah dianugerahi kematian dengan secangkir anggur beracun dari Pangeran Yun! Biarpun Guru Agung Liu memegang posisi yang dihormati di dunia sastra, Pangeran Yun masih tetap membunuhnya begitu saja!

Ini benar-benar mengecewakan dengan pahit, dan sudah cukup untuk menyebabkan semua sastrawan jadi kecewa.

Melihatnya berdiri tak bergerak, Su Xi-er pelan-pelan memperingatkan, "Cepatlah instruksikan semua orang di lembaga ini untuk menuju ke ruang rahasia. Orang-orang Pangeran Yun akan segera sampai di sini."

Guan Xiang tertegun. Inilah malapetaka yang disebutkan olehnya sebelumnya. Ia merenunginya sejenak sebelum berbalik kepada si paman tua. "Pergi dan segera bunyikan lonceng. Semua orang harus segera menuju ke ruang rahasia."

Ada sejejak ketakutan yang melintas di mata si paman tua sebelum ia pergi untuk mengumpulkan yang lainnya.

Asosiasi Sastra sangat besar, dan merupakan tempat dimana para sastrawan berkumpul, terutama selama perjamuan kerajaan.

Tiba-tiba saja, Guan Xiang teringat akan sesuatu selagi ia memerhatikan si paman tua penjaga itu menghilang di kejauhan. Bagaimana bisa nona ini mengetahui bahwa ada sebuah ruang rahasia di dalam Asosiasi Sastra?! Kewaspadaan Guan Xiang segera meningkat, nada bicaranya mendadak berubah menjadi curiga sewaktu ia berbicara. "Nona, sepertinya kau sangat akrab dengan Asosiasi Sastra. Siapa sebenarnya dirimu?"

Su Xi-er menjawab dengan gaya yang mantap. "Guru Agung Liu loyal pada Yang Mulia hingga akhir, bahkan sampai mengorbankan nyawanya. Guru Agung Liu dan aku sama dalam aspek ini; kami bersedia melakukan apa saja jika itu demi Yang Mulia, demi rumah tangga kekaisaran Ning, dan demi Nan Zhao."

Nada bicaranya tenang, namun serius. Guan Xiang mencengkeram surat itu erat-erat sebelum menyimpannya.

Saat lonceng dibunyikan, semua sastrawan di Asosiasi Sastra melompat. Lonceng itu akan berbunyi setiap kali ada kejadian besar, tetapi ...Perjamuan kerajaan seharusnya adalah saat yang paling damai, jadi mengapa loncengnya berbunyi selarut ini?

Semua orang menuju ke aula utama, membentuk segerombolan warna hitam.

Si paman tua penjaga menampar pahanya. "Masih ada satu orang yang hilang—Yu Xiao! Ia suka minum-minum, dan belum kembali sampai sekarang."

Guan Xiang melambaikan tangannya. "Kita tidak akan menunggunya. Semuanya, menuju ke ruang rahasia. Ini keadaan darurat, jadi akan kujelaskan nanti."

Semua orang menjadi serius dalam seketika dan mengikuti si paman tua menuju ke ruang rahasia.

Su Xi-er menoleh pada Guan Xiang. "Kau juga harus pergi. Serahkan tempat ini untuk kutangani."

"Aku akan hidup dan mati bersama-sama dengan Asosiasi Sastra. Terima kasih banyak karena telah menyampaikan kabarnya, Nona." Kekhawatiran terukir di wajah Guan Xiang. Kenapa Yu Xiao harus keluar minum-minum sekarang?!

"Aku bisa mengatasi situasinya, tetapi satu-satunya orang yang bisa menjelaskan pada semua sastrawan adalah kau. Selama kita bertahan malam ini, kau akan bisa mengumpulkan semua sastrawan dan mengirimkan memorial untuk perang salib melawan Pangeran Yun." Su Xi-er berbicara perlahan-lahan, menyampaikan maksudnya. Ia tahu bahwa, jika Yun Ruo Feng tidak berhasil malam ini, ia harus membuat persiapan untuk pemakzulan.

Guan Xiang merasa bahwa apa yang dikatakannya masuk akal sekali. Apabila Yun Ruo Feng mengutus orang kemari, mampukah gadis ini benar-benar mengatasinya?

"Tidak ada banyak waktu tersisa, jadi kau harus buru-buru dan pergi. Kematian Guru Agung Liu bukanlah suatu kecelakaan, dan Pangeran Yun tahu dengan jelas apa yang akan terjadi apabila Asosiasi Sastra mengetahui soal ini. Sudah pasti ia akan menghancurkan Asosiasi Sastra untuk mencegah kejadian apa pun, dan dengan semua orang yang tertidur di larut malam, ini merupakan kesempatan terbaik untuk bertindak."

Tiba-tiba saja, pintu utama Asosiasi Sastra dibuka, menampilkan seorang pemuda yang berjalan terhuyung-huyung sambil membawa kendi anggur.

Mengenakan jubah biru kehijauan, rambutnya dibiarkan longgar dengan santainya, dan ada jejak kemalasan yang bisa terlihat dari roman mukanya.

0 comments:

Posting Komentar