Selasa, 17 Februari 2026

CTF - Chapter 246

Consort of A Thousand Faces

Chapter 246 : Persiapannya Siap


Tangan Ning Lian Chen membeku sewaktu ia mencoba menyelimutinya lagi. Menghajar Yang Mulia?

"Apa kau mengenal Yang Mulia?" Liu Yin Yin menarik tangannya lagi, menggoyang-goyangkannya ke depan dan belakang dengan tatapan tulus di matanya.

Ning Lian Chen melepaskan tangannya dan menjawab lirih, "Iya."

"Bagus, saat kau senggang, bawa aku menemui Yang Mulia. Aku pasti akan menghajarnya karena membawa pergi Ayahku, dan bernyali sekali mengirimkan orang tuaku ke provinsi di pinggiran desa. Ia bahkan tidak memastikan kapan mereka akan kembali." Liu Yin Yin cemberut, kesedihan di wajahnya entah mengapa tampak menggemaskan.

"Baiklah, aku akan membawamu menemui Yang Mulia saat aku sempat. Ia sudah bersalah padamu karena membawa pergi ayahmu, dan pantas untuk dihajar olehmu." Suara Ning Lian Chen terdengar halus dan lembut sewaktu ia menyelimutinya lagi.

Liu Yin Yin merasa puas dan berbaring dengan patuh. Kemudian, ia menoleh menatap Ning Lian Chen. "Siapa namamu? Kau adalah orang yang sangat baik. Namaku Liu Yin Yin."

"Aku bukanlah orang yang baik, dan aku tidak bisa memberitahukan nama lengkapku untuk sekarang. Namun, huruf terakhir dari namaku adalah 'Chen'. Karena aku lebih tua darimu, kau boleh memanggilku Da Ge saja." Ning Lian Chen tidak memberitahu namanya secara langsung, tetapi malah menyuruhnya memanggilnya Da Ge.

Liu Yin Yin terkikik. "Chen Da Ge." Ia mendongakkan kepalanya setelah mengucapkannya. "Chen Da Ge, matahari masih belum terbit. Kau tidak mengantuk? Aku akan memberikan separuh dari ranjangnya untukmu; kemari dan tidurlah."

Ning Lian Chen kaget. Meskipun aku sedikit lebih tua darinya, kami masih anak-anak. Aku tidak terbiasa dengan pemikiran untuk berbagi ranjang dengan orang lain.

"Chen Da Ge, kemari dan tidurlah." Liu Yin Yin bergeser masuk ke bagian dalam ranjangnya sewaktu ia berbicara, menepuk-nepuk ruang di sebelahnya. "Aku baru saja tidur di sini, jadi rasanya nyaman dan hangat."

Ning Lian Chen menggelengkan kepalanya. "Kau tidurlah; ada yang harus kulakukan."

Liu Yin Yin dapat melihat tampang cemas di matanya dan hanya bisa bertanya, "Apa yang sedang kau pikirkan? Keluargamu? Dulunya aku punya ekspresi yang sama saat memikirkan tentang Ayah, jadi kau pasti sedang merindukan keluargamu."

Memang, Ning Lian Chen sedang memikirkan tentang Kakak Perempuannya. Ia mengkhawatirkannya, tetapi tidak bisa meninggalkan kamar.

"Chen Da Ge, kalau kau merindukan keluargamu, maka kau bisa berbicara dengannya secara diam-diam dari hatimu. Ayah bilang, karena keluarga terikat oleh darah, mereka mampu saling mendengarkan satu sama lain apabila kau memanggil mereka dari dasar harimu. Bukankah itu ajaib?" Liu Yin Yin kembali ke dalam selimut setelah ia selesai bicara, terkikik pelan pada diri sendiri sewaktu ia mundur.

"Chen Da Ge, kau harus bicara pada keluargamu dari dasar hatimu, jadi aku tidak akan mengganggumu lagi. Kalau kau mengantuk, maka naik dan tidurlah. Di dalam selimut sangat hangat." Setelah ia selesai bicara, Liu Yin Yin memejamkan matanya dengan patuh. Ia tidak tahu kalau orang yang ingin dihajarnya sedang berdiri di depan matanya, Chen Da Ge-nya.

Ning Lian Chen memandangi Liu Yin Yin dan ekspresinya jadi serius. Kepalanya dipenuhi dengan kata-kata Liu Yin Yin. Kalau kau merindukan keluargamu, maka kau bisa berbicara pada mereka melalui hatimu. Keluarga terikat oleh darah, sehingga mereka akan mendengarkan kata-katamu.

Perlahan-lahan, Ning Lian Chen berjalan menuju ke jendela Kapal Naga, meletakkan tangannya di sebelah dadanya dan mulai berbicara dalam diam dari dasar hatinya. Apabila Kakak Perempuan dapat merasakannya ....

Liu Yin Yin membuka matanya dan memandangi Ning Lian Chen. Ia benar-benar melakukannya, tetapi aku tidak akan bilang bahwa itu tidak bekerja. Saat Ayah berada di istana kekaisaran, aku sering berbicara secara diam-diam dari hati, berharap agar ia bisa merasakan seberapa besar aku merindukannya. Namun, Ayah tetap tidak kembali setelah sekian lama.

Tidak gampang baginya untuk pulang ke rumah, tetapi sekarang ia sedang istirahat dan harus pergi ke provinsi di pinggiran desa besok. Aku bahkan tidak tahu kapan ia akan kembali. Tiba-tiba saja, Liu Yin Yin merasa sedih. Namun, ia berpikir, tak peduli seberapa sedihnya, ia tidak bisa memberitahukan Chen Da Ge kalau cara ini tidak bekerja.

***

Sementara itu, Guan Xiang sudah menuliskan sebuah surat pemakzulan dan menyerahkannya pada Su Xi-er untuk diperiksa.

Setelah membacanya beberapa kali, ia mengangguk. "Mmm, tidak buruk. Bawakan surat yang dituliskan Guru Agung Liu juga besok. Kita akan menuju ke Sungai Air Caltrop dalam kelompok terpisah, tetapi ...."

Yu Xiao segera bertanya, "Tetapi apa? Apa kita melewatkan sesuatu?"

Su Xi-er menjawab perlahan, "Yun Ruo Feng ahli dalam memimpin tentara, dan sebagian dari keahlian itu adalah memprediksi gerakan musuh. Jika ia bersedia mengirimkan Wei Mo Hai untuk bergerak ke Asosiasi Sastra, itu berarti kalau ia sudah menyiapkan serangan balasan sebelum ia membunuh Guru Agung Liu. Sesuatu seperti bukti palsu yang menunjukkan bahwa Guru Agung Liu pantas untuk mati."

Semua sastrawannya pun marah. "Guru Agung Liu loyal pada Nan Zhao, bukan hanya Pangeran Yun membunuhnya karena alasan yang egois, ia bahkan berencana untuk memfitnahnya setelah kematiannya!"

Su Xi-er melambaikan tangannya dan mengisyaratkan agar mereka tetap tenang. "Yu Xiao, ikat para Pasukan Tentara Kekaisaran yang terkena obatmu dan bawa mereka kemari."

"Mmm, para Pasukan Tentara Kekaisaran itu sekarang ini sedang dikerumuni oleh warga. Aku akan segera kembali." Yu Xiao segera pergi menuju ke pintu keluar dari ruang rahasianya.

Guan Xiang tidak mengerti; ia ingin meminta Su Xi-er untuk menjelaskannya, tetapi melihat ia melambaikan tangannya. "Guan Xiang, cukup dengarkan apa yang kukatakan. Tidak ada cukup waktu untuk menjelaskannya sekarang, tetapi aku pasti akan memberikanmu alasan yang memuaskan setelah kita mengecam Pangeran Yun di depan umum. Aku butuh kau untuk mengumpulkan semua sastrawan dan menuju ke Sungai Air Caltrop besok. Beritahu Yu Xiao untuk membawa serta tentara-tentara itu juga. Aku sendiri juga akan bersembunyi di antara kerumunan."

Guan Xiang mengangguk. "Aku akan mendengarkan instruksimu, Nona."

"Guan Xiang, jika kita gagal besok, ada kemungkinan kalau kau akan mati. Apa kau takut?" Tiba-tiba saja, Su Xi-er bertanya.

"Tidak, sebagai seorang sastrawan, kata 'takut' tidak ada dalam tulangku. Karena aku telah memutuskan untuk mencari keadilan demi Guru Agung Liu, aku tidak memedulikan tentang mempertaruhkan hidup tua ini lagi. Namun, Yu Xiao ...."

"Yu Xiao terampil, ia akan baik-baik saja." Suara Su Xi-er tenang sewaktu ia memberikan janji secara tersirat pada Guan Xiang.

"Kehidupan anak itu menyedihkan." Guan Xiang menghela napas dan setelahnya memandangi semua orang. "Semuanya, siapkan jubah biru kalian; kita tidak bisa mengenakan jubah sarjana kita besok. Saat kita mulai menuju ke Sungai Air Caltrop, kita akan pergi dalam lima kelompok terpisah. Kelompoknya akan sama dengan bagaimana kita berkelompok untuk kompetisi hari ini."

Semua sastrawan pun membungkuk dan segera mulai kembali ke kamar mereka masing-masing.

Bagi mereka, besok akan menjadi pertarungan yang keras, meskipun jika tidak ada belati yang terlibat!

Su Xi-er keluar dari ruang rahasia dan berjalan ke aula utama Asosiasi Sastra. Ia bisa melihat kalau beberapa Pasukan Tentara Kekaisaran yang terikat masih tertidur pulas.

Beberapa warga juga ikut masuk ke dalam. Mereka mengangkat tangan dan menunjuk-nunjuk ke arah Pasukan Tentara Kekaisaran sembari membicarakan tentang betapa sulitnya ini dipercaya.

Su Xi-er menatap Yu Xiao. "Besok, tentara-tentara ini mungkin mencoba untuk bunuh diri dengan menggigit lidah mereka saat mereka bangun. Aku perlu kau untuk ...." Ia memelankan suaranya sebelum melanjutkan, ".... membuat sebuah obat halusinasi dari herba yang akan membingungkan Pasukan Tentara Kekaisaran ini, sehingga mereka tidak bisa mengenali siapakah majikan mereka."

Mata Yu Xiao melengkung membentuk senyuman. "Kau sangat cerdas; bagaimana kau tahu kalau aku bisa membuat obat semacam itu?"

"Kau adalah tipe yang tidak akan menghabiskan waktu membuat bubuk obat biasa." Su Xi-er berbicara perlahan sebelum menatap seorang pria paruh baya yang berdiri di tengah-tengah kerumunan. "Keluargamu punya toko obat, kan? Bisakah kau menolong kami?"

Kebingungan jelas tertera di wajah pria itu selagi ia mengangkat lengan jubahnya untuk mengendusnya. "Nona, aku baru saja mengganti pakaianku, jadi semestinya tidak akan ada bau obat-obatan lagi pada diriku. Bagaimana kau bisa mengetahui kalau keluargaku memiliki sebuah toko obat?"

"Di keliman celana dan pinggiran sepatumu, ada beberapa serpihan dari herba."

Semua orang memandangi celana dan sepatu si pria paruh baya. Itu benar, ada beberapa serpihan!

Si pria paruh baya sangat terkesan. "Keluargaku memang punya sebuah toko obat kecil. Nona, cukup katakan saja padaku, apa pun yang kalian butuhkan."

Di saat ini, Yu Xiao mendadak membuka mulutnya. "Beberapa ramuan obat biasa yang tidak berharga banyak. Aku akan membayarmu sepenuhnya saat aku datang untuk mengambil mereka."

0 comments:

Posting Komentar