Minggu, 22 Februari 2026

CTF - Chapter 260

Consort of A Thousand Faces

Chapter 260 : Perasaan yang Hangat


Melihat bagaimana ginseng itu akan tergelincir dari bibir Su Xi-er, Pei Qian Hao memutuskan untuk membuka saja mulutnya dan meletakkan potongan ginseng itu di bawah lidahnya.

Namun, ketika ia mengulurkan tangannya untuk melakukan itu, ia menyadari kalau bibirnya dingin, mendorong Pei Qian Hao meraih ke bawah selimut, merasakan tangan gadis itu. Barulah kemudian, ia menyadari kalau tangan Su Xi-er juga kedinginan.

Setelah tidak mendapatkan pengobatan karena luka pedang beracun selain dari mengeluarkan darah, Su Xi-er juga terpaksa menghabiskan malam di dalam ruang bawah tanah yang dingin. Mana mungkin hal seperti ini tidak akan memperburuk kesehatannya?

Jika ini terus berlanjut, Su Xi-er bukannya mati karena racun, tetapi akibat kedinginan. Membiarkan udara dingin memasuki tubuh, sangat tidak baik bagi seorang wanita.

Oleh sebab itu, Pei Qian Hao menatap Guan Xiang dan memerintahkan, "Pilihkan satu kamar yang nyaman dan siapkan penghangat di dalamnya. Cepat."

"Racun di dalam tubuhnya masih belum sepenuhnya keluar, dan satu-satunya hal yang menghentikannya adalah dingin. Jika ia tinggal di dalam kamar yang hangat, dan darahnya mulai mengalir, maka ...."

Pei Qian Hao menyelanya sebelum ia bisa selesai. "Dingin ini akan membunuhnya sebelum racunnya, jika ia terus berada di sini lebih lama lagi."

Guan Xiang mencoba membuka mulut, tetapi pada akhirnya menyerah di bawah pelototan dingin Pei Qian Hao dan meninggalkan ruangan itu, dengan cepat mempersiapkan sebuah kamar.

Pernapasan Su Xi-er begitu lemah, hingga kau hanya bisa mendengarnya jika kau mencondong mendekat. Pei Qian Hao menyelimutinya lagi dan menggendongnya dalam pelukannya.

Merasakan Su Xi-er yang menggigil akibat kedinginan, Pei Qian Hao menggenggam tangannya, dan mendekapnya lebih erat lagi dalam pelukannya. Ia berkata pelan, "Tidak akan dingin lagi, bertahanlah."

Sepertinya, Su Xi-er mendengar kata-katanya. Ia berhenti menggigil dan menekankan dirinya ke bagian terhangat dari tubuh Pei Qian Hao.

Segala reaksi Su Xi-er terlahir dari insting alami manusia. Walaupun sebagian racun telah dikeluarkan untuk mengurangi efeknya, dingin itu menyebabkan bibir dan wajahnya jadi pucat.

Saat mereka sudah setengah jalan menuju ke pintu, tiba-tiba saja, Pei Qian Hao berbalik dan menurunkan Su Xi-er di atas meja. Dalam hatinya, ia merasa tidak yakin, dan melepaskan jubah luarannya sebelum membungkuskan jubah itu di sekitar Su Xi-er. Barulah kemudian, akhirnya ia menggendong Su Xi-er lagi dalam pelukannya.

Guan Xiang berdiri di luar. Segera setelah ia melihat Pei Qian Hao, ia memberitahukan, "Kamar yang kami persiapkan ada di sebelah sana. Kami juga mempersiapkan pemanas, dan akan membawakannya ke sana sebentar lagi." Ia menunjuk ke satu kamar yang ada dekat sana sewaktu ia berbicara. Kamarnya sangat kecil, yang mana akan membuatnya cepat hangat ketika penghangatnya tiba. Ditambah lagi, kamar itu juga kamar yang paling dekat dengan dapur.

Pei Qian Hao mengangguk dan mempercepat langkahnya menuju ke kamar itu.

Ia mengangkat kakinya, menendang pintu kamar itu karena kedua tangannya terpakai. Kemudian, ia menekuk kakinya ke pintu dan mendorongnya hingga tertutup setelah ia masuk.

Sampai di sisi ranjang, dengan hati-hati, Pei Qian Hao menurunkan Su Xi-er sebelum menarik selimut untuk menyelimutinya.

Takut kalau ia akan kedinginan, Pei Qian Hao kemudian hanya duduk di pinggir ranjang dan mengulurkan satu tangan ke bawah selimut untuk menggenggam tangan Su Xi-er yang membeku, menggunakan tangan lainnya untuk memijat titik akupuntur di sebelah telinga gadis itu. Melakukan itu, akan membuat tubuh seseorang perlahan-lahan jadi hangat.

Su Xi-er yang tak sadarkan diri, merasakan sumber panas dan segera bersandar ke arahnya. Tiba-tiba saja, Pei Qian Hao merasa bahwa gadis itu sangat bergantung padanya.

"Pemanasnya ada di sini." Suara Guan Xiang terdengar dari luar kamar.

Pei Qian Hao menjawab, "Bawa masuk."

Segera setelah ia menjawab, dua sastrawan membuka pintu dan membawakan pemanas ke dalam sebelum pergi.

Lalu, Guan Xiang masuk dan menatap Su Xi-er selagi ia menutup pintu di belakangnya. "Aku harap, Nona akan baik-baik saja."

Pei Qian Hao membalas pelan, "Dengan adanya Pangeran ini, ia akan baik-baik saja. Pangeran ini tidak akan membiarkan apa pun terjadi padanya."

"Pangeran Hao, apa yang kurang dari kita sekarang ini adalah ramuan obat. Pangeran Yun telah menutup semua toko obat dan pegunungan. Wilayah di sekitar Asosiasi Sastra juga telah ditutup. Dengan kedatangan Anda, aku takut kalau Pangeran Yun akan segera muncul."

"Tentunya, biarkan saja dia muncul. Apa kau pikir Pangeran ini takut padanya?"

Guan Xiang tertegun sejenak sebelum ia meneruskan, "Karena kita tidak berada di Bei Min, sudah pasti Anda akan dibatasi dalam beberapa cara, Pangeran Hao."

Pei Qian Hao tetap diam, tetapi kilat dingin melintas di matanya. Dan itu memberinya hak untuk menyerang dayangku?

"Pangeran ini tidak berencana untuk ikut campur dalam urusan Nan Zhao, tetapi itu tidak berarti Pangeran ini tidak berani melakukannya," Pei Qian Hao menyatakan dengan tenang. Tatapannya kemudian tertuju pada Su Xi-er; tangannya tidak pernah berhenti memijat titik akupuntur di dekat telinganya.

Mungkin, karena efek obat dari potongan ginsengnya, atau pijatan di titik akupunturnya, tetapi Su Xi-er membuka matanya, bengong, dan melihat wajah tampan Pei Qian Hao yang membesar di hadapannya.

"Mengapa Anda di sini?" Su Xi-er bertanya pelan sebelum memindai sekelilingnya.

"Mengapa Pangeran ini tidak bisa ada di sini? Jika Pangeran ini tidak di sini, kau mungkin sudah kehilangan nyawamu."

"Dengan Pangeran Hao yang menjagaku, mana mungkin hamba mati semudah itu?" Su Xi-er memaksakan seulas senyuman, tetapi bibirnya sangat pucat dan kering hingga menyakitkan untuk dilihat.

Pei Qian Hao mengerutkan kening. "Tidak ada yang memaksamu, jadi jangan memasang senyuman jika kau merasa sakit. Tampak lebih buruk daripada saat kau menangis; jelek sekali."

"Apakah hamba jelek?" Su Xi-er mendadak bertanya, kata-katanya memberikan Pei Qian Hao perasaan kalau gadis ini sedang tidak berpikiran lurus.

Hanya orang-orang yang sedang tidak berpikiran lurus yang akan mendadak mengoceh tentang hal-hal aneh.

Oleh sebab itu, reaksi pertama Pei Qian Hao adalah mengulurkan satu tangan, menyentuh keningnya. Kemudian, ia menyadari kalau Su Xi-er demam.

Tubuhnya dingin, tetapi keningnya panas. Tertimpa begini banyak kemalangan setelah menjauh dariku. Kalau aku tahu ia akan berakhir dalam keadaan seperti ini, aku tidak akan memberikannya waktu dua hari.

Pei Qian Hao menatap Guan Xiang. "Bawakan satu baskom air panas dan handuk bersih."

"Baiklah, aku akan mengambilkannya sekarang juga." Guan Xiang menjawab dan segera berbalik menuju ke pintu keluar kamar, menutup pintu saat ia keluar.

Dengan adanya pemanas, kamar itu berangsur menjadi lebih hangat. Ini akhir musim gugur, dan biasanya belum waktunya memakai pemanas. Merasakan ia sudah tidak lagi dingin, Su Xi-er mencoba bangun dari bawah selimut, tetapi dihentikan oleh satu tangan yang besar.

"Jangan nakal," Pei Qian Hao menceramahinya dengan suara yang rendah.

"Pangeran Hao, hamba sudah dalam keadaan begini, tetapi Anda masih begitu galaknya?" Su Xi-er menatapnya, sementara matanya mendadak melengkung jadi bulan sabit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.

Pei Qian Hao merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres saat ia melihat keadaan Su Xi-er saat ini. "Kapan Pangeran ini galak padamu? Kaulah orang yang selalu pemberani selama ini."

"Tidak galak pada hamba? Mengikat tangan hamba dan ingin menyeret hamba di belakang kereta kuda. Di Provinsi Bulan, Anda menyuruh hamba memegangi satu baskom kayu dan berlutut di tanah. Dan ...."

"Pandai bicara. Kalau kau tidak membuat Pangeran ini marah, mengapa Pangeran ini akan menghukummu? Pangeran ini tidak menyadari kalau kau pandai sekali mendendam."

Mata berbentuk bulan sabit Su Xi-er pun kembali normal, dan senyumannya perlahan-lahan lenyap. "Pangeran Hao, hamba ini pandai dalam mendendam. Hamba akan mengingat siapa saja yang menindasku dalam hati, dan memastikan untuk membalas mereka berkali-kali lipat di masa depan."

"Ini boleh juga. Pangeran ini bisa menindasmu dengan keras; lalu kau bisa membalasnya dengan mengikuti Pangeran ini kemana pun dari dekat." Pei Qian Hao terkekeh sementara tangannya yang ada di bawah selimut menyelimuti tangannya dengan erat, menghangatkan mereka.

Su Xi-er tidak menduga reaksinya. "Saat kita kembali ke Bei Min, hamba ingin kembali ke Istana Samping, dan tidak bisa melayani Anda lagi, Pangeran Hao."

Pei Qian Hao bertanya kalem, "Apa kau sebegitu sukanya menggosok pispot?"

0 comments:

Posting Komentar