Sabtu, 07 Maret 2026

CTF - Chapter 261

Consort of A Thousand Faces

Chapter 261 : Seteguk Demi Seteguk


"Tidak ada yang suka menggosok pispot. Saat musim dingin tiba, hamba tidak ingin menjadi orang yang melakukannya." Su Xi-er menjelaskan pelan-pelan sewaktu tangannya yang tidak digenggam Pei Qian Hao merayap keluar dari bawah selimut.

Pei Qian Hao menarik tangannya dan memasukkannya lagi ke dalam selimut. "Jangan nakal. Kau tidak mau menggosok pispot, tetapi jarang-jarang bagimu untuk memohon pada Pangeran ini. Katakan, jika kau tidak ingin melakukan itu, kemana kau akan pergi?"

Meski ia yang mengajukan pertanyaan, Pei Qian Hao sudah merasakan kalau ia memiliki sebuah jawaban yang ingin didengarkannya.

Tetapi, apa yang dikatakan Su Xi-er membungkam keegoisan kecil Pei Qian Hao. "Aku tidak keberatan tetap berada di Istana Samping, selama apa pun yang kulakukan tidak berkaitan dengan air."

Pei Qian Hao mengangkat tangannya untuk mengelus wajahnya; sudah jauh lebih hangat daripada sebelumnya. "Kau benar-benar punya ekspektasi yang rendah. Kenapa kau tidak mengatakan kau ingin melayani di Kediaman Pangeran Hao?"

"Hamba mendengar bahwa tidak ada wanita di Kediaman Pangeran Hao. Apabila hamba masuk ke kediaman, itu akan memunculkan kecemburuan dari orang lain."

Pei Qian Hao terkekeh. "Dengan adanya Pangeran ini, untuk apa kau merasa takut?" Siapa yang akan berani menentangnya jika aku mengizinkannya? Belum lagi, sepertinya, orang-orang yang cemburu padanya sekarang tidaklah kurang, tetapi ia hanya memilih untuk memedulikannya setelah kami kembali ke Bei Min?

Su Xi-er tidak menjawab; kecemasan utamanya adalah menjadi terlalu bergantung pada sokongan seorang pria. Setelah itu menjadi kebiasaan, tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi jika ada perselisihan di antara Pei Qian Hao dan diriku di masa yang akan datang.

Melihatnya kurang merespons, Pei Qian Hao paham. Ia menekan aura mendominasinya dan berbicara dengan nada yang acuh tak acuh, "Pangeran ini tidak akan memaksamu. Suatu hari, kau sendiri yang akan datang memohon pada Pangeran ini untuk melayani di Kediaman Pangeran Hao."

Tubuh Su Xi-er berangsur menghangat, warna wajahnya juga jadi lebih memerah sehat. Dengan senyuman di wajahnya, ia bersenda gurau, "Pangeran Hao, apabila Anda tidak peduli dengan menyimpan wanita cantik, kenapa Anda masih mempertahankan Istana Kecantikan?"

Pei Qian Hao tidak tahan dan sedikit mencubiti pipinya. "Bagimu, mengungkit-ungkit sendiri soal Istana Kecantikan, mungkinkah kau merasa cemburu? Apa kau menolak masuk ke Kediaman Pangeran Hao, hanya karena adanya Istana Kecantikan?"

Su Xi-er memalingkan kepalanya, melepaskan diri dari tangan besar yang tengah mencubiti pipinya. "Hamba hanya penasaran, Pangeran Hao. Anda tidak mempertahankan orang-orang yang tidak berguna, jadi apa gunanya para wanita itu? Hanya untuk dikagumi, atau demi memperkeruh suasana? Jika memang demikian, mengapa Anda harus melakukan hal semacam itu?"

Kilat iseng muncul di kedalaman mata Pei Qian Hao. "Pangeran ini sedang memandangimu, hanya untuk mengagumi, tetapi aku benar-benar tidak bisa mengagumi penampilan pucatmu sebelumnya. Jadi, demi membiarkan Pangeran ini sepenuhnya mengagumimu luar dalam, kau harus pastikan untuk sembuh sesegera mungkin."

Su Xi-er paham; Pei Qian Hao secara halus mengalihkan topiknya. Karena itu kasusnya, aku tidak akan menyebut Istana Kecantikan lagi.

"Kenapa? Kau kesal? Pangeran ini tidak pernah memperlakukan wanita mana pun sebaik aku memperlakukan dirimu." Pei Qian Hao menariknya ke bawah selimut. "Meskipun kau merasa panas, jangan coba-coba untuk keluar dari selimut. Kau mungkin merasa panas di luar, tetapi udara dingin masih belum sepenuhnya hilang dari tubuhmu."

Tepat saat kata-kata itu meninggalkan mulut Pei Qian Hao, ekspresi Su Xi-er tiba-tiba saja berubah. Matanya tampak sayu, dan kepalanya mendadak terasa berat. Wajahnya jadi merona, tetapi itu mirip seperti orang yang terserang demam. "Hamba mengantuk." Ia hanya berhasil mengeluarkan beberapa kata sebelum kembali tertidur, tak sadarkan diri.

Baginya mendadak tertidur, pasti ada yang salah. Pei Qian Hao segera mengangkat selimutnya untuk melihat perban putih di tangan Su Xi-er yang terluka, basah oleh darah yang berwarna hitam. Darahnya harus segera dikeluarkan.

Pei Qian Hao membungkuk dan dengan lembut melepaskan perban putih itu, memperlihatkan lukanya. Setelah ditikam oleh sebilah pedang dan disayat terbuka untuk mengeluarkan darahnya, daging di sekitar lukanya sudah melingkar. Satu-satunya alasan, itu belum mulai membusuk adalah karena tanaman obat yang ditaburkan.

Pei Qian Hao merasa hatinya terpilin dengan kencang. Bila aku menggunakan belati untuk menyayat lukanya lagi, daging di sekitar lukanya harus dipotong untuk mencegah infeksi. Memotong dagingnya akan terlalu menyakitkan bagi seorang wanita, meski jika Su Xi-er dapat menoleransi rasa sakit dengan baik.

Melihat kalau Guan Xiang belum datang membawakan air panas, Pei Qian Hao meninggalkan kamar dan menuju ke dapur di sebelah untuk mengambil sebaskom air panas dan saputangan.

Membasahi saputangan di dalam air panas, Pei Qian Hao mengelap lukanya sampai bersih. Ketika ia melihat darah hitam itu mulai merembes dari luka tusukan di tangan Su Xi-er lagi, Pei Qian Hao menyipitkan matanya sebelum menundukkan kepala dan mulai menyedot racunnya keluar.

Seteguk demi seteguk, Pei Qian Hao meludahkan darah hitam itu ke lantai.

Setelah beberapa lama, Guan Xiang masuk ke dalam kamar dan menutup pintu di belakangnya sebelum segera melaporkan, "Pangeran Yun ada di luar Asosiasi Sastra ...."

Sebelum Guan Xiang dapat melengkapi kalimatnya, ia melihat darah hitam di lantai dan setelahnya melihat bibir Pei Qian Hao, menyadari bahwa bibirnya sudah berubah keungunan. Guan Xiang jadi resah. "Pangeran Hao, bagaimana bisa Anda menyedot racun yang kuat itu? Aku akan mencari tabib senior."

Lalu, Guan Xiang buru-buru pergi memanggil si tabib senior kemari, datang kembali dalam beberapa menit. Si tabib membawakan ramuan obat bersih di tangannya sebelum menaburkannya di tangan Su Xi-er, membalutnya dengan kain putih lagi.

Setelah memilah semuanya, si tabib senior pun memasang wajah yang serius. Ia tidak tahu bahwa orang yang berdiri di depannya adalah Pangeran Hao dari Bei Min, dan memarahinya seperti seorang tabib akan menceramahi pasiennya. "Ini adalah racun yang mematikan, bagaimana bisa kau menyedotnya begitu saja?"

Tabib senior itu menghela napas dan mengambilkan beberapa ramuan obat. "Ramuan obat ini tidak berguna untuk menyelamatkan nona ini. Sementara untukmu, semestinya kau akan baik-baik saja setelah mengunyah ini di mulutmu dan minum secangkir air. Cukup ingat, jangan melakukan hal bodoh semacam ini lagi, atau kau mungkin tidak akan seberuntung ini!"

Pei Qian Hao menerima ramuan obat itu dan mematuhi instruksi si tabib senior. Tak lama sebelum warna keunguan yang sakit itu menghilang dari bibirnya. Lalu, ia membungkuk dan menyelimuti Su Xi-er dengan hangat.

Kemudian, Pei Qian Hao berbalik dan memerintahkan Guan Xiang, "Jaga dia." Setelah mengatakan kata-kata itu, ia meninggalkan kamar tersebut.

Kamar itu berada di halaman bagian dalam, dan aula utama tempat Yun Ruo Feng sedang menunggu berada di halaman bagian depan.

Setelah melihat Pei Qian Hao, Yun Ruo Feng tersenyum. "Pangeran Hao, ada begitu banyak pemandangan indah di Nan Zhao, tetapi dari semua tempatnya, kau memilih datang ke Asosiasi Sastra." Yun Ruo Feng memasang senyuman di wajahnya, tetapi ada nada berlebih dalam perkataannya.

Namun, Pei Qian Hao tidak secara langsung menjawabnya. "Pangeran ini memberikan dayangku dua hari untuk bersenang-senang di ibu kota Nan Zhao, tetapi sampai hari ini, ia bahkan belum kembali. Apakah tidak ada yang ingin kau jelaskan, Pangeran Yun?"

Pei Qian Hao tidak suka bertele-tele, dan langsung bicara terus terang. Tujuan Yun Ruo Feng kemari sudah jelas: ia ingin bertemu Su Xi-er. Daripada itu, ia ingin melihat apakah Su Xi-er masih hidup.

Yun Ruo Feng berpura-pura kaget. "Nona Xi-er menghilang?"

"Sekarang ia sudah ditemukan. Pangeran ini tidak menduga kalau ia akan datang kemari untuk bermain-main. Terlebih lagi, Pangeran ini tidak menyangka kau tiba tepat setelah dirku, Pangeran Yun." Pei Qian Hao berbicara dengan tenang, dengan keagungannya yang meluap.

"Jika ia berada di Asosiasi Sastra, mengapa ia tidak keluar? Apakah ia merasa tidak sehat?" Yun Ruo Feng terus bertanya, wajahnya diliputi kelembutan.

"Ia memang merasa tidak sehat."

Yun Ruo Feng segera berpura-pura memasang tampang terkejut sebelum ia bertanya dengan gaya yang cemas, "Kenapa ia tidak sehat? Pangeran ini akan pergi melihatnya." Kemudian, ia melangkah ke depan.

Namun, sebelum Yun Ruo Feng bisa mengambil langkah ketiganya, ia dihadang oleh satu tangan yang besar dan suara pria yang rendah pun terdengar. "Pangeran Yun, kau tidak perlu masuk. Sebagai seorang pria, tidak semestinya kau sembarangan memasuki kamar tidur seorang wanita."

"Pangeran ini hanya cemas karena sesuatu terjadi padanya di Nan Zhao. Juga, bukankah kau baru saja keluar dari kamar Nona Xi-er, Pangeran Hao?"

Pei Qian Hao mencibir sewaktu Yun Ruo Feng menggigit lebih daripada yang mampu dikunyahnya. "Berbeda untuk Pangeran ini. Sebagai dayang Pangeran ini, sudah pasti aku boleh masuk ke dalam kamarnya."

(T/N : berkata/bertindak melampaui batasan/kapasitasnya.)

"Itu benar. Seorang majikan boleh masuk ke kamar dayangnya. Pangeran inilah yang tidak memikirkannya dengan saksama." Yun Ruo Feng membalas tenang sebelum tiba-tiba saja ia tersenyum dan bertanya, "Pangeran Hao, dapatkah kau menganugerahkan Nona Xi-er pada Pangeran ini? Anggap saja itu sebagai hadiah untuk Pangeran ini atas perjalananmu ke Nan Zhao kali ini."

(T/N : Yun asadjfgdfashfeya ... *mengoleskan krim anti mengumpat level 30-nya boncabe*)

 

0 comments:

Posting Komentar