3L3W Lotus Step 1
Chapter 4 part 1
Kaisar Dinasti Da Xi saat ini, Cheng Yun, adalah seorang kaisar muda. Dikarenakan ayahandanya adalah orang yang romantis, jadi saat beliau mangkat, bukan hanya ia memberikannya sebuah kerajaan, tetapi juga banyak sekali saudari yang belum menikah.
Dulu, harem ayahandanya pernah memiliki tiga ribu wanita cantik, semuanya adalah wanita milik ayahandanya. Sekarang, haremnya juga ada tiga ribu wanita cantik, semuanya adalah para wanita ayahandanya, para wanita yang melayani para wanita ayahandanya, sekaligus saudari-saudari yang dilahirkan oleh para wanita ayahandanya.
(T/N: Saya perhatiin, TangQi ini sepertinya suka membuat kalimat yang mirip dan agak diulang-ulang, sepertinya untuk menekankan sesuatu, atau hanya untuk menimbulkan sedikit efek komedi sih.)
Ketika ia bermimpi di malam hari, Cheng Yun kerap merasa bahwa dirinya adalah Kaisar yang sangat amat menyedihkan. Ia mengambil alih kerajaan ayahandanya, ingin membesarkan jutaan rakyat Dinasti Da Xi. Ia sudah mempelajari seni pemerintahan semenjak kanak-kanak, yang dirasanya tidak begitu sulit. Tetapi, guru kaisar tidak pernah mengajarinya bagaimana cara mengurusi setumpuk gadis yang ditinggalkan oleh ayahandanya. Ia harus menikahkan mereka satu per satu, menikahkan satu orang setiap harinya, akan memakan waktu hingga setengah tahun lamanya.
Ini bukan perkara besar. Ada pula beberapa bait populer yang tidak takut mati yang dibuat di kalangan rakyat, untuk mengungkapkan utang romantis yang ditinggalkan oleh ayahandanya: "Si gagak tua berbunyi di atas pohon, putri berlarian kemana-mana, sang kaisar menderita setiap hari, kecemasan sampai naik ke ujung alisnya. Ada seratusan saudari, kapan bisa dinikahkan, tiga ribu mahar, dan habislah perbendaharaan nasional."
Oleh sebab itulah, segera setelah Cheng Yun melihat para putri, ia akan sakit kepala. Dibandingkan dengan saudari-saudari tirinya, ia menganggap putri seperti Cheng Yu, yang merupakan putri dari anggota keluarga kekaisaran, lebih enak dipandang mata. Jadi, para putri di dinasti ini, sebagian besarnya, hanya membawa nama palsu seorang putri dengan sia-sia.
Namun, ada pengecualian untuk semuanya. Putri Yan Lan, putri kesembilan belas, adalah sebuah pengecualian bagi keluarga kekaisaran. Bahkan Cheng Yun saja, yang memiliki kesan buruk terhadap saudari-saudari putrinya, melihat Yan Lan dengan pandangan yang berbeda.
Putri Yan Lan, putri kesembilan belas, terlahir luar biasa. Dikatakan bahwa, pada tahun kelahirannya, Dinasti Da Xi menghadapi bencana banjir. Sungai dan gunung hujan deras, sungai meluap, bahkan banjirnya saja memasuki kota Ping An. Namun, tangisan Putri Kesembilan belas ketika ia lahir, tiba-tiba menghentikan hujan lebat yang tak berkesudahan. Meski jika banjirnya tidak teratasi, banjirnya akan secara alami mereda. Semenjak Putri Yan Lan memulai pendidikannya di Kai Meng pada usia tiga atau empat tahun, ia sudah berulang kali menghasilkan karya yang menakjubkan. Contohnya, Putri Yan Lan suka melukis dan pada usia enam tahun, ia melukiskan sebuah gambar istana di langit. Waktu itu, Guru Nasional Dinasti, Su Ji Yi menilai, itu sungguh adalah sebuah istana di langit. Sejak saat itu, terbukti bahwa Putri Yan Lan adalah orang yang diberkati dengan takdir ilahi. Di hari yang sama, mendiang kaisar menganugerahkannya gelar Tai'an, memujinya sebagai simbol keberuntungan dinasti.
Yan Lan memang diberkati, tetapi tidak semuanya terberkati. Ibu kandungnya meninggal dunia hanya setahun setelah ia dilahirkan karena sakit, menandakan bahwa tidak ada keberuntungan dalam hal ini. Dan semenjak ia lahir, ia sudah menderita penyakit kaki, membuatnya sulit untuk menggerakkan kakinya, satu hal lagi yang tidak beruntung.
Meskipun ibu Yan Lan, Selir Lian Shu meninggal dunia lebih awal, keluarga pihak ibunya tidak boleh dipandang remeh. Ibunya adalah adik kandung resmi dari Marquis Lao Zhong Yong. Selama lebih dari dua ratus tahun semenjak pendirian Dinasti Da Xi, selama masa pemerintahan kaisar pendiri, kediaman remsi seperti Kediaman Marquis, Kediaman Count diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Sebagian besarnya di pemerintahan Cheng Jun, hanya cangkang saja yang tersisa dengan gelar kosong. Namun, Kediaman Marquis Zhong Yong tidak sama. Selama masa ini, seorang jenderal berusia dua puluh lima tahun, Jenderal Lian Song Lian, ditunjuk oleh keluarga pihak ibu Yan Lan.
Benar, Putri Tai'an, Yan Lan, tetap menjadi putri yang populer di seluruh dinasti, bahkan selama pemerirntahan Cheng Yun. Sebagai seorang putri tanpa ayah, ibu, kakak lelaki, ia tetaplah putri dengan fobia saudara. Sebenarnya, pendukung terbesarnya adalah biao ge-nya yang menjadi seorang jenderal.
(T/N: biao ge—sepupu lelaki yang lebih tua dari pihak ibu.)
Pagi-pagi sekali tanggal 28 Mei, Lian Song dan Yan Lan sedang minum teh pagi di Menara Timur Xiao Jiang.
Paviliun Zhu Zi di Menara Timur Xiao Jiang menghadap ke Jalan Zheng Dong, dan di seberang jalannya, semua adalah toko buku dan toko kuas serta tinta yang sering dikunjungi para sastrawan. Di belakang toko kuas dan tinta itu adalah Danau Fang You, dengan dedalu yang bersandar di tepinya. Ada pulau kecil di tengahnya, yang bernama Pulau Bai Ping saat itu. Kadang-kadang, beberapa ekor angsa liar dan bangau yang menyendiri pun bertengger di Pulau Bai Ping.
Menara Timur Xiao Jiang dibangun cukup tinggi, dan Paviliun Zhu Zi merupakan paviliun paling elegan yang indah di menara tersebut. Sebagai simbol keberuntungan dinasti, Yan Lan merupakan satu-satunya putri Dinasti Da Xi yang tidak dilarang keluar istana. Oleh karena itu, Lian Song pun akan membawanya kemari untuk minum teh pagi sebanyak dua atau tiga kali sebulan. Tian Bu melihat bahwa Yan Lan menyukai pemandangan keempat musim di sini, jadi ia pun memtuskan untuk memesan Paviliun Zhu Zi selama 365 hari dalam setahun.
Itu tiga menit mendekati pukul enam, dan Lian San membantu Yan Lan memecahkan sebuah permainan Zhen Long di Paviliun Zhu Zi. Tiba-tiba saja ada kehebohan di jalanan, dan pelayan perempuan di sebelah Yan Lan sudah hendak menutup jendelanya. Melihat bahwa tatapan Lian San masih tertuju ke luar jendela, dengan ragu-ragu, Yan Lan pun mengikuti tatapan Lian Song, melihat ke luar.
Sebenarnya, tidak ada yang istimewa, hanya beberapa remaja yang datang berbondong-bondong dengan berisik dari sudut utara jalan. Sekitar selusinan atau lebih remaja, mengenakan busana Cu ju berlengan sempit dengan rambut yang terikat dan kening yang dilindungi. Sepintas lihat, jelas bahwa tim itu hendak berpartisipasi dalam kompetisi Cu ju remaja.
Pelayan baru yang menambahkan kue baru menjadi seorang pelayan selama beberapa hari dan tidak begitu paham dengan aturan. Mengikuti tatapan kedua bangsawan di dalam ruangan itu, ia melihat sekelompok remaja di luar jendela dan tidak tahan untuk banyak omong: "Itu adalah Ri Jin Shi Dou Jin, ah!"
Si pelayan perempuan sudah akan menegur ketika Yan Lan mengangkat tangannya dan menghadangnya. Yan Lan berbisik kepada si pelayan, "Ri Jin Shi Dou Jin?"
Si pelayan akhirnya teringat untuk mengamati ucapan dan ekspresinya. Ia melihat ke arah dua pelayan perempuan di dalam ruangan. Si pelayan perempuan pendek yang melayani nona itu agak galak, tetapi pelayan perempuan yang melayani si tuan muda tampak sangat lembut. Dan si nona, yang merupakan majikannya, memiliki suara yang lemah lembut padahal berbicara kepada orang-orang rendahan seperti mereka, dan temperamennya pasti bagus. Pemuda di depan meja catur sedang bermain-main dengan sebuah bidak di tangannya, dan ia terus saja melihat keluar jendela. Ia hanya bisa melihat sisi samping wajahnya, tetapi ketika ia banyak omong, ia bahkan tidak memerhatikan apa yang dikatakan si tuan muda. Menurutnya, temperamennya juga pasti sangat baik.
Ia pun menoleh ke arah nona yang ada di depannya dan membungkuk: "Menjawab Nona, Nona pasti berasal dari keluarga yang kaya, jadi Anda tidak mengetahui kegembiraan kami para warga biasa. Di setiap petak Kota Ping An memiliki tim Cu ju, dan Ri Jin Dou Jin di An Le Fang dengan Ri Jin Shi Dou Jin di Kai Yuan Fang kami selalu bermusuhan. Dulu, ketika bos kami, Tuan Muda Kecil Yu, yang membuat Ri Jin Shi Dou Jin, ada di ibu kota, setiap bulannya mereka akan bertanding dengan kami."
(T/N: 日进斗金 Rì jìn dòu jīn dan 日进十斗金 Rì jìn shí dòu jīn—di sini adalah nama-nama tim cu ju-nya ya. Ri jin dou jin kalau diartikan secara harfiah bisa jadi bisnis yang berkembang pesat. Kalau ri jin shi dou jin, penghasilan sebanyak sepuluh gantang emas.)
Kalau soal idolanya, Raja Kecil Cu ju, Tuan Muda Kecil Yu, pelayan itu tidak bisa berhenti barang sejenak pun: "Kemudian, Tuan Muda Kecil Yu meninggalkan ibu kota untuk perjalanan wisata. Ri Jin Shi Dou Jin-nya jadi membosankan tanpa Tuan Muda Kecil Yu, dan kompetisi bulanan pun berakhir. Kudengar bahwa Tuan Muda Kecil Yu telah kembali ke ibu kota beberapa hari yang lalu, dan aku menduga bahwa mereka langsung menandatangi perjanjian perang dengan kami, jadi hari ini Ri Jin Shi Dou Jin kami akan menerima tantangannya!"
Yan Lan mengerutkan alisnya, dan suara lembutnya berbisik agak ragu, "Ri Jin Dou Jin? Apa itu? Ri Jin Shi Dou Jin? Apa pula itu?"
Pelayan itu pun menampar kakinya sendiri dan berkata, "Nama tim kami adalah Ri Jin Shi Dou Jin!" Pelayan wanita pendek di belakang Yan Lan memberinya tatapan jijik, ia anggap saja tidak melihatnya: "Ketika berbagai tim Cu ju diberi nama, tim lainnya entah disebut macan ganas atau serigala jahat. Ketua Kai Yuan Fang kami, Tuan Muda Kecil Yu, berpikir bahwa nama-nama ini terlalu biasa dan tidak menarik, sehingga ia pun menamai tim kami Ri Jin Dou Jin. Nama ini bagus sekali dan sangat berharga! Namun, Hu Chang'an, ketua An Le Fang, ingin menekan kami, Kai Yuan Fang, dalam segala hal. Tanpa diduga, ia mencuri nama ini dan pergi ke klub Cu ju untuk mendaftarkannya lebih dulu. Tuan Muda Kecil Yu sangat marah dan kami menyebutnya Ri Jin Shi Dou Jin. Ri Jin Shi Dou Jin, lebih banyak sembilan gantang daripada An Le Fang!" Ia dengan jelas mengacungkan sembilan jarinya.
Tuan Muda itu, yang tak banyak bicara sebelumnya, mengangkat kipasnya dan berkata, "Tuan Muda Kecil Yu yang kau bicarakan ini," pelayan itu melihat kipas hitam di tangannya dengan entengnya menunjuk ke arah para remaja di jalanan, "Apakah gadis yang memimpin itu?"
Pelayan itu mendongak dan berkata: "Itu adalah Tuan Muda Kecil Yu." Ia langsung meledak dan berkata, "Meskipun Tuan Muda Kecil Yu kami terlalu tampan, ia sama sekali bukanlah seorang gadis. Tuan Muda, bagaimana bisa Anda mengatakan bahwa Tuan Muda Kecil Yu kami adalah seorang gadis? Tuan Muda Kecil, ia menendang bola dengan sangat garang," ia berkata sembari mengacungkan jempol, dengan resah membela idolanya, ia berkata, "Pria sejati! Pria di antara pria! Tuan Muda, Anda akan tahu dengan menontonnya bertanding. Anda bahkan tidak akan percaya bahwa ada pria seperti itu di dunia ini."
Tuan Muda itu tidak bicara lagi. Tiba-tiba, tuan muda itu, ia tersenyum dan menyimpan kipasnya, berkata, "Kalau begitu, aku akan menemuinya."
Semua orang tidak percaya bahwa ia bukanlah seorang lelaki. Tuan Muda Kecil Yu, berpapasan dengan Lian San di bawah Menara Timur Xiao Jiang. Selagi ia berjalan, ia mendiskusikan dengan serius taktik Cu ju bersama seorang pemuda tinggi dan kurus yang berdiri di sebelahnya, yang tampak seperti tiang bambu: "Hu Chang'an, meskipun ia kuat, jangan bertanding dengannya menggunakan kekerasan. Semuanya kan orang-orang beradab, untuk apa kau bertanding dengan kekerasan? Kemarin, aku pergi menyelidiki Ri Jin Dou Jin mereka. Oh, tak peduli bagaimana cara aku mengetahuinya, kaki Hu Chang'an masih tidak cukup stabil, bukan hanya itu saja ... permisi, beri jalan ...."
Sosok berpakaian putih di depannya tidak memberi jalan. Cheng Yu pun berinisiatif untuk memberi jalan dan menundukkan kepalanya untuk lanjut membahas taktik dengan si tiang bambu di sebelahnya. Namun, sewaktu bahunya bergesekan dengan sosok berpakaian putih itu, lengannya mengencang dan ia dicengkeram.
Cheng Yu jadi sedikit kesal dan mendongak untuk melihat siapakah yang memegangi lengannya. Ia pun berseru kaget, "Kakak Lian San!"
Anak-anak muda yang mengikutinya, melihat si bos berhenti, juga ikut berhenti. Mereka kaget karena melihat bosnya memanggil seorang pemuda tampan sebagai kakak lelakinya. Mereka pun berpikir sendiri bahwa orang-orang dari keluarga bos benar-benar rupawan, secara serempak mereka memanggil dengan hormat: "Kakak Lian San!"
Cheng Yu langsung berbalik dan memelototi mereka, "Ini kakakku, bukan kakak kalian." Para remaja pun menggaruk bagian belakang kepala mereka dan saling berpandangan. Cheng Yu melambaikan tangannya dan menyuruh mereka berdiri agak jauh, menenggelamkan dirinya dalam suara Kakak Lian San.
Ia tidak punya kakak lelaki kandung, sebenarnya ia tidak punya banyak sepupu. Terlebih lagi, ia tidak terlalu dekat dengan mereka, dan bahkan dalam hal panggilan saja, ia selalu memanggil mereka sepupu itu atau si anu. Belum pernah terjadi sebelumnya untuk memanggil seseorang dengan sebutan kakak lelaki dengan begitu penuh kasih sayang. Bahkan panggilan Kakak Lian San, ia sendiri merasa sangat segar dan ada sedikit rasa menyenangkan yang tersisa, dan tidak tahan untuk memanggil lagi dengan gembira: "Kakak Lian San."
Lian Song melepaskan lengannya dan melihat ke arahnya dari atas ke bawah: "Aku tidak melihatmu di Lin Lang Ge belakangan ini."
Cheng Yu pun memikirkannya. Belakangan, ia sibuk bersiap-siap untuk kompetisi, ditambah dengan fakta bahwa terakhir kali setelah Hua Fei Wu berkomplot melawan Lian San di depan Yao Huang, Yao Huang merasa sadar diri bahwa ia harus bisa menjernihkan pikirannya setidaknya selama tiga bulan setelah disakiti seperti itu. Dan dengan senang hati mengatakan bahwa ia tidak ingin melihat Hua Fei Wu lagi selama tiga bulan. Jadi Cheng Yu memang tidak pernah ke Lin Lang Ge selama beberapa hari.
Akan tetapi, terlalu ruwet untuk mengatakan sesuatu tentang Hua Fei Wu dan Yao Huang, jadi ia pun beralasan sendiri: "Karena aku mulai bersikap dengan benar demi memperbaiki karakterku, aku tidak pergi ke rumah bordil lagi untuk bersenang-senang."
"Oh." Lian Song berkata: "Tetapi kudengar dari Hua Fei Wu bahwa kau menjanjikannya akan mengajakku mengunjungi Lin Lang Ge setidaknya delapan kali sebulan." Ia tersenyum dan berkata, "Aku sudah menunggumu untuk membuat janji."
"Kapan aku berbicara dengan Hua Fei Wu ...." Cheng Yu mandek. Ia hanya agak membenci ingatannya yang baik.
Ia mengingat-ingat, samar-samar ... itulah yang terjadi.
Pada hari itu, setelah mengucapkan selamat tinggal pada Lian San di toko kerajinan, ia membawa peri gading berukir kembali untuk menemui Hua Fei Wu, menjemput Yao Huang dalam perjalanan, dan secara umum memberi tahu mereka bahwa ia telah gagal dalam tugasnya, dan bahwa urusan itu tidak berhasil. Tetapi ia telah mengakui Lian San sebagai saudaranya, tanpa mengetahui bagaimana hal itu bisa terjadi. Pada saat itu, Yao Huang menerima hasil ini dengan sangat tenang, mengatakan bahwa semuanya sesuai dengan yang ia duga. Hanya Hua Fei Wu yang kecewa untuk waktu yang lama, dan membuka sebotol anggur bunga osmanthus berusia lima belas tahun dan mengancam akan menggunakan anggur itu untuk menenggelamkan kesedihannya.
Satu orang dan dua bunga menuangkan anggur untuk menenggelamkan kesedihan mereka. Saat ia merasa pusing setelah minum-minum, mata Xiao Hua berbinar dan ia mengatakan sesuatu padanya. Pada saat ini, fokus pada ingatannya, Cheng Yu ingat bahwa Xiao Hua sepertinya mengatakan, "Aku tidak menyangka, bahwa kau, Master Bunga, telah menjadi adik perempuan Jenderal Lian. Ini adalah kebahagiaan yang tak terduga, ah. Bukankah pas sekali, kau bisa mengundangnya secara terbuka untuk ke rumah bordil dan minum anggur bunga bersamamu? Pergi saja ke Lin Lang Ge dan carilah aku!"
Pada saat itu, ia mungkin telah kehilangan akal sehatnya dan dengan bodohnya mengatakan bahwa itu adalah rencana yang luar biasa, dan ia juga bertanya dengan serius kepada Xiao Hua, "Kalau begitu, berapa kali dalam sebulan aku harus mengajaknya keluar?"
Jadi Hua Fei Wu pun menghitung dengan serius dan berkata, "Delapan kali."
Cheng Yu bertanya lagi pada Xiao Hua, "Kenapa delapan kali?"
Xiao Hua juga dengan serius menjawab, "Karena angka delapan itu sangat menguntungkan, hahahahaha."
Semua yang terjadi pada hari itu begitu jelas dalam benaknya, ia bahkan melihat Yao Huang di sampingnya memejamkan mata karena tidak tega menyaksikannya.
Cheng Yu, yang teringat semua ini, juga memejamkan mata pada saat ini karena tidak tahan menyaksikannya. Kemudian ia mendengar Lian San samar-samar: "Alhasil, aku menunggu lama dan tidak sampai-sampai. Lalu kupikir kau mungkin lupa lagi." Suara yang samar-samar dingin itu bergema di dekatnya, dan ia tidak tahu emosi apa itu, tetapi Cheng Yu secara naluriah merasa tidak dapat mengakui bahwa dirinyalah yang sudah lupa lagi. Namun, ia juga sedikit skeptis: "Kakak Lian San, apakah kau benar-benar menungguku?"
Ia melihat pemuda itu mengangkat matanya, "Apa?"
Ia berkata dengan pelan, "Karena mengajakmu mengunjungi rumah bordil atau semacamnya terdengar seperti omongan orang yang sedang mabuk."
"Oh, jadi itu adalah kata-kata saat mabuk." Ia berkata tanpa komitmen: "Tetapi aku memercayainya," ia melirik Cheng Yu dan berkata, "Jika hari ini aku tidak bertemu denganmu, juga tidak tahu bahwa ini adalah kata-kata saat mabuk, masih menunggu dengan bodoh. Hal ini, bagaimana cara memperhitungkannya?"
Cheng Yu merasa bahwa empat kata "masih menunggu dengan bodoh" tidak cocok dengan Lian San, dan seseorang dengan bodohnya menunggu orang lain mengajaknya pergi ke rumah bordil untuk minum anggur, hal ini tidak terdengar benar. Tetapi ia sedikit tidak yakin, berpikir bahwa, bahkan jika Lian San, apa yang ia katakan itu benar, apakah ia benar-benar menunggunya sekian lama?
Cheng Yu menendang batu kecil di samping, menendangnya ke depan dengan ujung jari kakinya, dan memundurkannya lagi dengan tumitnya, gelisah: "Satu bulan mengunjungi Lin Lang Ge delapan kali, bukankah sudah cukup .... Kita bersau ... bersaudara pergi ke rumah bordil bersama-sama. Rasanya seolah-olah anak-anak lelaki dari leluhur kedua telah menghilang. Bahkan para leluhur di alam baka pun tidak bisa tenang."
Lian San mengingatkannya: "Kita berdua tidak memiliki leluhur yang sama."
Cheng Yu perlahan-lahan membalikkan batu itu kembali, meliriknya cepat, ber-mmm, dan berujar dengan sungguh-sungguh, "Jadi leluhur dari kedua keluarga tidak bisa tenang."
Lian Song menundukkan tatapannya dan sudut mulutnya melengkung, "Jadi, maksudmu adalah bahwa, apabila kita pergi berjalan-jalan bersama, leluhur kita tidak akan tenang, tetapi kalau kita pergi berjalan-jalan secara terpisah, mereka akan bisa tenang, kan?"
Cheng Yu langsung merasa sakit kepala. Tentu saja, ini tak ada hubungannya dengan para leluhur. Ia tidak dapat memenuhi janjinya untuk menemani Lian San mengunjungi Lin Lang Ge, alasan mendasarnya adalah, sebulan menyelinap untuk pergi sekali atau dua kali masih oke, jika ia berani mengunjungi rumah bordil delapan kali sebulan, Zhu Jin bisa-bisa memukulinya delapan kali sehari.
Akan tetapi, alasan semacam ini bagaimana bisa dikatakan, ia harus menggigit pelurunya: "Maksudku adalah, aku telah melepaskan diri dari hal-hal buruk dan kembali ke jalan yang benar, tidak baik menemani Kakak Lian San, kau untuk berjalan-jalan di sekitar rumah bordil untuk mendengarkan lagu kecil, atau, atau aku .... Aku akan mengajakmu makan makanan lezat itu!"
(T/N: menggigit peluru—melakukan sesuatu yang tidak mengenakkan atau menyakitkan yang diperlukan meski sebenarnya ingin menghindarinya.)
Terpikirkan solusi ini, ia merasa bahwa dirinya terlalu cerdik, "Aku akan mengajak Kakak Lian San berjalan-jalan delapan kali sebulan, tidak, sepuluh kali untuk menebusnya padamu, oke?" Dalam kegembiraannya, ia menunjukkan sembilan jari, melihat tatapan Lian San tertuju ke jari-jarinya, ia sendiri juga melihat dari sudut matanya, dan segera menambahkan satu jari lagi.
Lian San tampaknya sedang berpikir, tetapi sikapnya terhadap usulan ini tidak tampak di wajahnya.
Ia mengamati ekspresinya, merasa ia harus berusaha lebih jauh, dan langsung menambahkan: "Kalau tidak, aku akan membawamu jalan-jalan hari ini, oke?"
Mata Lian San meluncur turun dari keningnya ke pinggang rampingnya yang berbalut busana Cu ju, dan kemudian ke sekelompok remaja yang berada beberapa langkah di belakangnya. "Kau tidak akan pergi ke kompetisi hari ini?" Tanpa menunggu reaksinya, ia pun mengulurkan tangan dan menarik lengannya dan berkata, "Itu bagus. Kalau begitu, ayo kita pergi."
Cheng Yu tercengang: "Aku, aku, aku, aku, aku masih harus pergi ke kompetisinya."
Lian Song berhenti dan menatapnya. Tangan kanannya dengan longgar memegang lengan kecilnya, Cheng Yu meronta, gagal melepaskan diri. Ia berusaha keras untuk meronta, tetapi ia masih tidak bisa melepaskan diri. Pada saat yang sama, ia merasakan tatapan Lian Song ke kepalanya menjadi kian menekan.
Cheng Yu segera memahami bahwa ia telah membuat kesalahan, namun ia juga sedikit mengeluh. Tetapi suaranya lembut dan genit sewaktu ia mengeluh, "Karena jika aku tidak mengikuti kompetisi ini, nantinya aku tidak akan ada di Kai Yuan Fang lagi, ah!"
Saat ini, ada matahari terik yang dengan bangganya menerobos cahaya pagi di langit yang jauh, menyinari plakat Menara Timur Xiao Jiang di depannya, dengan beberapa huruf besar berlapis emas yang bersinar terang. "Ini bagus!" Ia tiba-tiba punya ide: "Kakak Lian San, pertama-tama kau minum secangkir teh di Menara Timur Xiao Jiang, tunggu aku. Dalam beberapa waktu, aku akan menyelesaikan kompetisinya. Setelah pertandingan aku akan datang mencarimu, oke?"
Ia sepenuh hati ingin meyakinkannya: "Menara Timur Xiao Jiang itu bagus! Saat aku ada di ibu kota, Paviliun Zhu Zi di Menara Timur Xiao Jiang masih bisa dipesan, dan pemandangan dari Paviliun Zhu Zi sangat bagus. Kadang-kadang, aku akan datang ke Paviliun Zhu Zi untuk minum teh. Pada saat itu duduk di dalamnya, larut dalam pemandangan di luar jendela, aku merasa sebebas seorang dewa, dan waktu pun, swish, berlalu dalam sekejap!" Sewaktu ia mengatakan swish ia mengangkat tangan kosongnya, dengan cepat menggeserkan telunjuknya yang berdiri dari kiri ke kanan, menandakan bahwa itu benar-benar cepat.
Ia menyipitkan matanya untuk mengintip Lian Song diam-diam, dan melihat bahwa ia sepertinya sedang berpikir lagi. Jadi, ia menjilat bibirnya, dan mengulangi tindakan yang sama barusan, dan di mulutnya, ia juga mengulangi dirinya sendiri lagi dalam jangka waktu tertentu, "Swissh~~"
Yang Mulia Ketiga akhirnya mengendurkan cengkeramannya dan melepaskan tangannya, "Kalau begitu aku akan menunggumu di Paviliun Zhu Zi."
Cheng Yu menghela napas lega, tetapi sebelum ia bisa sepenuhnya rileks, ia mendadak teringat bahwa Paviliun Zhu Zi sudah lama tidak bisa dipesan lagi.
"Paviliun Zhu Zi tidak bisa," ia berkata dengan hati-hati, "Karena Paviliun Zhu Zi sudah ditempati oleh apa itu orang bangsawan, orang luar tidak diizinkan lagi untuk memesannya." Memikirkan ini, ia mau tak mau diliputi dengan kemarahan akan keadilan, "Sebenarnya, orang seperti apa yang menghabiskan uang sebanyak ini secara sembrono? Iya kan, Kakak Lian San, tempat yang bagus harusnya dibagikan dengan orang-orang!" Ketika ia mengatakan ini, ia sepertinya telah melupakan bahwa, pada awalnya, mengenai menjadi yang paling handal menghambur-hamburkan uang secara sembrono, jika dirinya, Tuan Muda Kecil Yu adalah peringkat kedua, tidak akan ada yang bisa menjadi peringkat pertamanya.
Lian San menatapnya dengan seringaian di wajahnya dan berkata, "Tetapi, bukankah kau bilang Paviliun Zhu Zi adalah yang terbaik? Aku hanya menginginkan yang terbaik."
Cheng Yu berkepala satu dan dua kali lebih besar. Lian San terlalu sulit untuk ditangani, tetapi ia juga sulit.
(T/N: 一个头两个大 yīgè tóu liǎng gè dà—berkepala satu, dua kali lebih besar ini hanya penafsiran saya yah biar kebacanya agak nyambung—maksudnya kepalanya besar karena ada begitu banyak hal yang sulit ditangani sampai-sampai tidak tahu apa yang harus dilakukan.)
"Pada waktu itu, aku sangat menyukai Paviliun Zhu Zi, tetapi aku juga sangat menyukai Paviliun Mei Zi. Kakak Lian San, sebaiknya kau menunggu di sana." Ia menguatkan diri dan membujuk Lian San, dan demi membuktikan bahwa Paviliun Mei Zi itu bagus, ia pun melambai dan menyuruh para remaja itu mengelilinginya. Sembari berdeham, ia mengedip ke anak-anak muda itu, ia menanyai mereka, "Apakah aku sering membawa kalian ke Menara Timur Xiao Jiang untuk minum-minum dan minum teh? Selain Paviliun Zhu Zi waktu itu, bukankah aku benar-benar menyukai Paviliun Mei Zi?"
Sayangnya, pemahaman tanpa kata semua orang tidak cukup dan anak-anak muda itu tidak memahami tujuannya. Si anak lelaki pendek di sampingnya pun ragu-ragu dan berkata, "Kami semua mengikuti ketua ke Paviliun Mei Lan, Zhu Ju, dan Shi Ya di Menara Timur Xiao Jiang. Seperti apakah Paviliun Mei Zi, kami tidak memerhatikannya. Akan tetapi, ketua, kau memang paling menyukai Paviliun Zhu Zi. Kau juga menuliskan sebuah puisi istimewa untuk mengagumi pemandangan dari Pavilun Zhu Zi. Mengatakan bahwa angsa-angsa liar bernyanyi di tepi pulau Bai Ping ...." Berpikir keras, menolehkan kepalanya dan menabrak pemuda berpakaian putih di sebelahnya, dan berkata, "Apa bunyi angsa-angsa liar di tepi pulau Bai Ping?"
Cheng Yu membenci besi karena tidak menjadi baja, dan berkata, "Aku selalu menyukai Paviliun Mei Zi."
(T/N: Membenci besi karena tidak bisa menjadi baja—merasakan kebencian terhadap seseorang karena gagal memenuhi harapan dan tidak sabar untuk melihat perkembangannya.)
Si anak lelaki pendek masih mendorong-dorong keras si pemuda berkulit putih: "Cepat pikirkan, apa suara angsa liar di tepi Pulau Bai Ping?" Dan ia berkata kepada semua orang, "Oh, kalian juga harus mengingat-ingat!"
Cheng Yu harus mengatakan, "Aku ingat membawa kalian untuk minum anggur dan teh, tetapi semestinya aku belum pernah membuat puisi sebelumnya."
Pemuda berkulit putih itu yang duluan teringat, dan ia menyambung omongan si anak lelaki pendek, ia menambahkan beberapa kata terakhir sekaligus: "Angsa bernyanyi di tepi Pulau Bai Ping, bulan bersinar di Menara Timur Xiao Jiang, angin sepoi-sepoi membeli kemabukan untuk menghilangkan kekhawatiran, dan pohon-pohon dedalu hijau menutupi kesedihan musim semi. Bos, memang inilah yang kau lakukan."
Cheng Yu menolak, "Ini bukan aku, kan ...."
Remaja berkulit putih itu berujar serius, "Bos, di penghujung tahun saat kau berusia tiga belas tahun, kau mengundang kami untuk minum-minum di Paviliun Zhu Zi, menghela napas dan mengatakan bahwa tidak akan ada hari-hari mewah untuk dijalani di masa depan. Akhirnya, meminta semua orang untuk bermurah hati dan meninggalkan kenangan untuk kita. Coba pikirkan, kau meminum tiga guci anggur Zui Qing Feng yang dibuat sendiri oleh pemilik Menara Timur Xiao Jiang itu sendirian, dan setelah meminumnya, kau mulai menangis dan melantunkan puisi ...."
Cheng Yu sepenuhnya tidak mengingat kejadian seperti itu dan masih membantah, "Aku tidak kan ...."
Si anak lelaki pendek menahan senyumannya dan menunjuk ke sebatang pohon berumur ratusan tahun yang ada di samping Paviliun Zhu Zi, mengatakan, "Bos, kau bahkan memanjat pohon itu. Insiden ini bahkan diketahui Kakak Zhu Jin. Kakak Zhu Jin datang untuk membawamu kembali, tetapi kau mati-matian tidak mau turun. Kau menangis dan mengatakan bahwa kau tidak bisa menjadi tuan muda paling kaya di Kota Ping An, kau akan tumbuh di atas pohon selamanya. Dan Kakak Zhu Jin bilang bahwa kau tumbuh saja di atas pohon, setelahnya pergi dengan marah."
Cheng Yu bergetar sedikit, berdiri dengan mantap dan berkata, "Aku tidak akan ...."
Pemuda berkulit putih bersih itu menambahkan: "Lalu kau memeluk pohon itu sambil menangis dan meneriakkan angin sepoi-sepoi untuk membeli kemabukan untuk meredakan kekhawatiranmu. Dedalu hijau menutupi kesedihan musim semi. Satu kesedihan, dua kesedihan, tiga kesedihan, kesedihan yang dalam seperti lautan, ada dimana-mana. Kami ingin menurunkanmu, tetapi kami tidak memiliki keterampilan seperti Kakak Zhu Jin. Hu Sheng, yang memanjat pohon dengan baik, hanya memanjat sampai setengah jalan ke bagian tengah, jauh dari bos yang berjongkok di atas memegang puncak pohon sambil melantunkan satu kesedihan dua kesedihan yang sedalam lautan."
Topiknya jadi semakin bias gara-gara para remaja, dan Cheng Yu juga benar-benar lupa bahwa tujuan awal ia merekrut para remaja adalah untuk membujuk Lian San ke Paviliun Mei Zi. Telinganya memerah, satu tangan menekan keningnya dan berkata kepada Lian Song, "Aku, aku harus pergi."
Yang Mulia Ketiga mengabaikannya, seolah-olah ia telah mendengar omong kosong anak-anak muda itu, sedikit menurunkan alisnya. Ia tak lagi kelihatan begitu dingin dan menanyai anak-anak muda itu dengan penuh minat: "Jadi kalian membiarkannya tetap di atas pohon sepanjang malam?"
Melihat bahwa si pemuda tampan yang sedari tadi diam dan tak mudah diajak bicara semenjak mereka mendekat sebenarnya tertarik dengan percakapan mereka, para remaja semakin bersemangat, berebut untuk menjadi yang pertama menjawab: "Bukan begitu, kami mengucapkan semua kata-kata yang baik, tetapi bos tidak mau turun."
"Tetapi tidak lama kemudian, Liu An, yang merupakan anggota Ri Jin Dou Jin, membawa jangkriknya, Zi Tou Jiang Jun, kepada Hu Sheng kami. Dan bos, yang ingin melihat adu jangkrik, turun sendiri dari pohon itu."
(T/N: 紫头将军 Zǐ tóu jiāngjūn--Nama jangkriknya si Liu An. Kalau diartikan jadi Jenderal Berkepala Ungu.)
"Kakak Zhu Jin kemungkinan masih tidak tenang. Kemudian, ia kembali, melihat di pohon tidak ada bos, ia sangat gelisah. Alhasil, langsung memasuki menara, melihat bos dengan gembira berbaring di atas meja sambil menonton adu jangkrik, dan wajahnya pun berubah menghijau di tempat."
Bagian atas kepala Cheng Yu hampir berasap, dan ia berujar tak berdaya, "Oh, aku ingat itu. Kau sudah selesai bicara? Ayo pergi sekarang. Kompetisinya sudah mau dimulai."
Lian San menatanya sembari setengah tersenyum dan berkata, "Lautan kesedihan mendalammu datang dan pergi dengan cepat."
Wajah Cheng Yu langsung memerah, tetapi ia tetap berpura-pura tenang: "Waktu itu, aku baru berumur tiga belas tahun," dan mendesak para remaja: "Ayo, ayo, ayo, pertandingannya sudah mau terlambat."
Tetapi ia dihentikan oleh Lian San dan berkata, "Sebelum kau pergi, bukankah seharusnya kau memberitahukanku, dimana tepatnya janji temu kita?"
Cheng Yu dibuat pusing oleh remaja-remaja ini dan tidak bereaksi untuk sesaat. Ia mendengar Lian San tertawa kecil dan berkata, "Ini berarti akulah yang membuat keputusannya." Lian San tersenyum, pembawaannya mirip bulan yang jernih yang melelehkan ombak sejauh ribuan mil, atau awal musim semi yang mewarnai bunga dengan ribuan warnanya. Cheng Yu langsung terpesona akan senyuman sekilas itu. Yang Mulia Ketiga telah membuat keputusan, "Kalau begitu, putuskan di Que Lai Lou, aku akan menunggumu di Que Lai Lou."
"Que Lai Lou." Cheng Yu mendadak tersadar, "Apakah itu Que Lai Lou yang paling mahal di Kota Ping An?"
"En. Que Lai Lou yang paling mahal."
Lima ratus emas yang dihasilkan dari menjual gaun pengantin sudah lama dihabiskan. Putri Cheng Yu, yang kini sangat amat miskin, merasakan kesusahan hidup. Ia memegangi kepalanya dan merenung sebentar. Ia teringat bahwa ia telah memercayakan temannya, Li Mu Zhou untuk membeli taruhan atas kemenangannya di pasar bola hari ini. Apabila ia memenangkan pertandingan ini, ia akan punya uang untuk mengajak Lian San makan di Que Lai Lou. Ia menggertakkan giginya dan berkata, "Kalau begitu ... baiklah. Kakak Lian San, kau pergilah duluan ke Que Lai Lou untuk menungguku." Ia dengan garang menarik pelindung dahi di kepalanya dan berkata, "Jika aku tidak bisa memenangkan pertandingannya, aku tidak akan bergaul di Kota Ping An!" Dengan semangat yang menggebu-gebu, ia memimpin para remaja itu menuju ke lapangan Cu ju di selatan kota dan bergegas ke sana.
Ketika Lian Song berdiri di tempat yang sama dan memerhatikan mereka pergi, ia mendengar Cheng Yu mengubah nada bicaranya selagi ia berjalan dan menceramahi anak-anak muda itu. Ia lumayan persuasif, "Kalian melakukan sesuatu yang sangat salah barusan ini, kalian tidak boleh melakukan itu lagi di masa depan."
Para remaja pun kebingungan dan bertanya, "Tidak boleh melakukan apa?"
Ia berkata dengan sangat bersungguh-sungguh, "Kenapa kalian dengan santainya memberitahu orang lain tentang sikapku yang memalukan? Mukaku yang hilang. Memangnya, yang hilang juga bukannya muka kalian?"
(T/N: 丢脸 Diūliǎn--kehilangan muka. Malu-maluin. Bikin malu, dan sejenisnya.)
Ada remaja yang bingung dan menyanggah, "Tetapi, bukankah itu adalah kakak lelakimu, Bos?"
Cheng Yu kemudian berhenti berbicara. Saat sosok mereka berbelok di tikungan, Lian Song mendengarnya mendesah dengan suara pelan dan berkata, "Baiklah, boleh menceritakannya pada kakak lelakiku. Jangan ceritakan pada orang luar di masa depan, ah."
Lian Song berdiri di bawah plakat Menara Timur Xiao Jiang untuk beberapa saat lebih lama, dengan santai memainkan kipas lipat di tangannya untuk sementara waktu, lalu berbalik dan berjalan ke toko buku, tidak segera kembali ke Paviliun Zhu Zi.
- Bersambung -
Tang Qi mengomel: Yang Mulia Ketiga, teruskanlah menggodanya.
Cheng Yu yang belum berpengalaman: Sangat sulit bagiku untuk menjadi Xiao Yu.

0 comments:
Posting Komentar