Minggu, 10 Mei 2026

CTF - Chapter 364

Consort of A Thousand Faces

Chapter 364 : Panik dalam Menghadapi Bahaya yang Akan Datang


Tan Ge sudah gelisah mengenai apa pun yang ingin diberikan Xie Yun kepadanya, tetapi ia tidak punya pilihan dalam masalah ini. Dipaksa berdiri, ia memerhatikan selagi Xie Yun mengambil sebuah botol porselen putih kecil dari dalam lengan jubahnya.

Xie Yun mengangkat tangan kanannya dan melingkarkannya di pinggang langsing Tan Ge. Selagi ia menariknya lebih dekat, aroma menyegarkan wanita pun melayang masuk ke dalam hidungnya, dan sambil tersenyum, ia berbisik di telinganya. "Tan Ge, apa kau tahu apa yang ingin Pangeran ini berikan padamu?"

Napasnya yang hangat itu mengenai telinga Tan Ge dan membuatnya tidak nyaman, tetapi ia tidak berani mendorongnya. Commandery Prince Xie memasang topeng lembut di muka umum, tetapi benar-benar mengerikan secara pribadi.

"Hamba tidak mau mengetahuinya, juga hamba tidak menginginkannya." Tan Ge menggelengkan kepalanya dengan keras, suaranya bergetar selagi rasa takut membengkak dalam hatinya.

Jam sebelas malam besok akan menjadi tenggat waktu terakhirku. Aku sudah menduga ia akan datang mencariku.

Tangan Xie Yun perlahan-lahan berkeliaran naik dari pinggangnya, dan dengan hati-hati mengelus wajah halus Tan Ge. "Wajahmu ini halus dan cerah. Kau bisa menjadi salah satu dari tiga wanita paling cantik di Bei Min, tetapi apa gunanya cantik apabila Kediaman Tan sudah kehilangan kejayaannya yang dulu?"

Kemudian, Xie Yun melepaskannya dan membuka botol porselen putih itu, menyebabkan aroma obat-obatan herba menyerang lubang hidung Tan Ge. Sayangnya, ia tidak punya pengetahuan tentang obat-obatan, dan tidak bisa mengetahui bubuk apa yang ada di dalam botol tersebut.

Sudut mulut Xie Yun terangkat sewaktu ia menggulung lengan baju di tangan kiri Tan Ge.

Tan Ge mundur dan menatap Xie Yun ketakutan. Ini pertama kalinya tanganku dilihat seorang pria.

"Tan Ge, beritahukan Pangeran ini tentang pilihanmu setelahnya." Xie Yun tersenyum dengan lembut sebelum menuangkan sedikit isi botol itu di tangannya.

Bubuk obat putih itu meresap dengan cepat, awalnya menyebabkan sensasi terbakar hingga membuat Tan Ge ngeri, itu benar-benar mulai membakar kulitnya.

Tan Ge hampir berteriak kesakitan. Ia menahan rasa sakitnya dan menyaksikan kulitnya yang semula halus itu membusuk. Ini adalah bubuk obat yang digunakan untuk membuat orang cacat!

Xie Yun menyimpan botol porselen putih itu sebelum tersenyum padanya. "Menjeritlah kalau sakit. Kenapa kau harus menahannya? Menuangkannya ke tanganmu, hanyalah sebuah hadiah kecil. Jika kau menginginkan hadiah yang besar, Pangeran ini tidak akan pelit. Tan Ge, sudahkah kau memikirkan kembali apa yang ingin kau lakukan?"

Butiran keringat dingin keluar di keningnya selagi penderitaan, rasa sakit, kebencian, dan keputusasaan melintas di matanya.

"Tan Ge, jangan kira kalau kematianmu akan menyelesaikan segalanya. Ada banyak nyawa di Kediaman Tan yang bergantung padamu."

Saat ini, Tan Ge sedang menyesali dirinya yang pergi keluar bersama Cui-er hari itu. Apabila kami tidak keluar, kami mungkin tidak akan bertemu Xie Yun. Ia mungkin sudah menyelamatkan kami dari para preman itu, tetapi ia mendorongku ke dalam jurang lainnya.

"Commandery Prince Xie, mengapa Anda mencariku secara khusus? Mengapa Kediaman Tan?" Tan Ge tak lagi memusingkan untuk menyebut dirinya sendiri sebagai 'hamba'.

"Salahkan dirimu yang cantik. Salahkan dirimu yang pintar. Dan di atas segalanya, salahkan dirimu karena mirip dengan Su Xi-er dalam beberapa aspeknya." Xie Yun berkata perlahan.

Tan Ge tercengang. Su XI-er tenang, pintar, dan memahami gambaran besarnya. Apakah Commandery Prince Xie mencariku karena ia merasa bahwa kepribadianku mirip dengan Su Xi-er?

"Simpan obatnya dan jalankan rencananya. Selama kau melakukan apa yang seharusnya, Pangeran ini tidak akan menyalahkanmu meskipun itu gagal. Namun, jangan salahkan Pangeran ini bersikap tak berperasaan jika kau menolak bertindak." Xie Yun memperingatkan selagi ia menarik turun lengan baju Tan Ge.

"Cuacanya dingin; kau harus mengenakan lebih banyak pakaian untuk menjaga dirimu tetap hangat." Ia menepuk puncak kepala Tan Ge dan meninggalkan Perpustakaan Kekaisaran.

(T/N : gigimu lah mas. Sok2 baek, padahal mah preeet juga.)

Xie Yun tahu bahwa Tan Ge diam-diam sudah setuju ketika ia tidak menolaknya. Wanita yang tidak berbahaya seperti ini akan membuat semua orang lengah, dan akan membuatnya lebih mudah ketika ia bergerak.

Selagi ia pergi, Xie Yun melirik ke kamar Su Xi-er. Seorang wanita cantik yang pintar seperti ini mungkin tak akan ada lagi besok.

Sungguh, ia sedikit enggan untuk menghilangkan bakat seperti itu. Tetapi, siapa yang menyuruhnya untuk melibatkan dirinya di dalam konflik? Ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.

***

Di dalam kamarnya, Tan Ge sedang memandangi bungkusan kecil obat di tangannya. Tak sanggup menekan kesedihan dan konflik emosi di dalam hatinya, ia tak bisa menghentikan dirinya yang menangis.

Melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraniku akan menghasilkan ganjaran ilahi! Betapa aku berharap kematianku dapat menyelesaikan segalanya, tetapi ....

***

Keesokan harinya, Su Xi-er baru saja terbangun ketika ia mendengar sejumlah pergerakan di luar kamarnya. Ia langsung membuka pintu, dengan gesit mengelak ke samping selagi ia melihat batu yang terbang ke arahnya.

Berbalik untuk memungut batu di tanah, Su Xi-er memeriksa sekelilingnya, tetapi tidak menemukan siapa-siapa. Ia langsung menutup pintu sebelum membentangkan catatan yang membungkus batu itu.

Pangeran Hao diam-diam memindahkan pasukan masuk ke ibu kota Bei Min. Hamba belum melihat Qin Ling lagi; ia sudah mundur dari ibu kota.

Bagian pojok kanan bawah catatan itu ditandatangani oleh Feng Chang Qing.

Feng Chang Qing sudah masuk istana pagi-pagi sekali untuk mengantarkan surat. Su Xi-er merasa itu aneh. Mengapa ia tidak datang kemarin, tetapi malah pagi ini? Mungkinkah Pangeran Hao sudah memasuki istana, dan Feng Chang Qing mengikutinya?

Sebelum ia dapat memikirkannya, ia mendengar seseorang menggedor pintunya. Su Xi-er cepat-cepat membakar catatan itu di atas lilin sebelum mematikan apinya.

Di saat ia membukakan pintu, Chao Mu sudah gelisah akibat menunggu.

"Su Xi-er, mengapa kau lama sekali? Cepatlah bersihkan diri dan sarapan. Guru Agung Kong sedang menunggumu di aula utama. Ia tampak serius, seolah-olah ada sesuatu yang penting." Desak Chao Mu selagi ia mendorong Su Xi-er supaya membersihkan diri.

Su Xi-er mengambil satu baskom dari kamarnya dan dengan cepat membersihkan diri. Hanya satu jam berlalu di saat ia tiba di aula utama.

Guru Agung Kong duduk di kursi tertinggi di aula utama sembari membolak-balikkan sebuah buku Aksara Lan.

"Guru Agung Kong, hamba sudah beberapa hari tidak melihat Anda. Mengapa Anda memanggil hamba pagi-pagi sekali?" tanya Su Xi-er setelah ia memberikan hormat.

Walaupun ia adalah seorang court lady yang berpangkat, ia masihlah seorang dayang di hadapan seorang pejabat mahkamah.

Guru Agung Kong tampak serius selagi ia mengumumkan, "Su Xi-er, terlahir pada tanggal delapan di bulan kedua, di antara pukul sebelas hingga dua belas siang. Kebetulan orang tua ini kekuarangan air dalam Lima Elemenku. Tanggal kelahiranmu penuh dengan air." Ia terdiam dan bangkit berdiri dari kursi.

(T/N : Mengacu pada lima elemen dalam filosofi Cina: Api, Air, Kayu, Logam, dan Tanah.)

Su Xi-er tiba-tiba saja menyadari ia tengah memegangi sebuah mutiara putih yang tampak akrab di tangannya, matanya berbinar. Bukankah itu adalah yang diberikan Pei Qian Hao dulu sekali? Kapan itu berakhir di tangan Guru Agung Kong?

Satu lubang sudah dibuat menembus mutiaranya, dan kini tergantung pada seutas benang merah.

"Orang tua ini merasa kualifikasimu sangat baik, dan aku tidak menikahi istri ataupun punya anak. Su Xi-er, apakah kau bersedia untuk menjadi putri angkat orang tua ini?" Guru Agung Kong bertanya selagi ia menyerahkan mutiara putih itu kepada Su Xi-er.

Memandangi mutiara itu, Su Xi-er tahu bahwa teorinya tepat sasaran. Status yang diatur Pei Qian Hao untukku adalah putri angkat Guru Agung Kong. Guru Agung Kong merupakan sarjana terkemuka di Dunia Literatur, dan dengan Bei Min yang semakin mementingkan seni sastra, status ini cukup untukku memasuki Kediaman Pangeran Hao dan menjadi Hao Wang Fei.

"Su Xi-er, mengapa kau masih belum menerima mutiaranya?" Guru Agung Kong memasang ekspresi yang lebih khidmat lagi sementara ia mendesak.

Alis Su Xi-er melengkung membentuk senyuman selagi ia menerima mutiara tersebut. "Terima kasih banyak, Guru Agung Kong. Hanya penasaran saja, darimana Anda mendapatkan mutiara ini?"

Guru Agung Kong berdeham ringan. "Panggil aku Ayah Angkat saat tidak ada orang. Orang tua ini sudah menjalani gaya hidup yang hemat semenjak aku masih muda. Bagaimana mungkin aku memiliki mutiara yang seberharga ini? Tentu saja, Pangeran Hao yang memberikannya kepadaku."

Guru Agung Kong terdiam selagi mendadak ia menyadari bahwa ia sudah keceplosan. Bukankah ini sama saja dengan memberitahu Su Xi-er bahwa aku mengambilnya sebagai putri angkatku karena keinginan Pangeran Hao, dan bukan atas kemauanku sendiri?

0 comments:

Posting Komentar